
Axelle membaringkan tubuh Alissa di atas ranjang mereka. Dia dapat melihat rasa ketakutan yang masih terpencar di wajah Alissa. Axelle tidak bisa membayangkan jika sampai Alissa berhasil di bawa kabur oleh Niko dan para preman itu. Kali ini dia memang telah berhasil menolong Alissa, akan tetapi bagaimana di kemudian hari? bagaiamana jika Niko dan para preman itu kembali lagi.
Axelle berpikir keras, dia berpikir bagaiamana caranya agar dia bisa melindungi Alissa dari Niko. Dia tidak mau jika dia harus kehilangan Alissa. Dia harus mencari cara agar Niko tidak mengusik kehidupan Alissa lagi. Namun, dia harus melakukan apa? terlebih lagi status mereka yang masih menikah secara Sirih. Jika meminta bantuan kepada kedua orang tuanya, sudah di pastikan dia hanya akan mendapatkan hinaan yang bertubi-tubi.
Axelle hanya mampu mengusap wajahnya kasar sambil menatap wajah teduh Alissa dengan pikiran yang sangat kacau. Setelah dia menanangkannya akhirnya Alissa bisa tertidur dengan pulasnya. Axelle hanya mampu menatap wajah Alissa dan berharap agar cobaan ini bisa cepat selesai.
Tok... tok....
Saat sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Axelle mendengar suara pintu kamarnya yang di ketik dari luar. Karena penasaran siapa yang berani menganggu jam istirahatnya, Axelle langsung bangkit untuk memastikan. Axelle melihat Askara yang masih berpakaian kantor berdiri di depannya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Tanpa Axelle beritahu, ternyata kabar kejadian di kampus tadi ternyata sudah di dengar oleh Askara. Askara ternyata menyewa beberapa pengawal untuk mengawasi adiknya itu dari kejauhan. Sebagai seorang kakak, Askara selalu menghawatirkan keadaan adiknya itu. Terlebih lagi dengan pergaulan Axelle yang terlalu bebas membuat Askara khawatir jika terjadi sesuatu pada adik semata wayangnya itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Askara menatap Axelle dengan penuh kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa," ucap Axelle bingung.
__ADS_1
Tanpa meminta izin dari Axelle, Askara langsung masuk dan melihat keadaan Alissa. Dia menatap lekat wajah Alissa yang sedang tertidur dengan tatapan kosongnya. Tentu saja para pengawalnya telah menjelaskan semuanya kepada Askara. Selain menghawatirkan keadaan adiknya, ternyata Askara juga menghawatirkan keadaan adik iparnya itu. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu kepada Alissa. Karena jika terjadi sesuatu kepada Alissa, maka Axelle akan merasa sangat terpuruk.
"Kakak dengan dia hampir di culik oleh segerombolan preman," ucap Askara mengalihkan pandangannya kepada Axelle.
"Para preman itu adalah anak buah kakak tirinya," ucap Axelle membuang napasnya kasar lalu menghampaskan tububnya di sofa.
Mendengar ucapan Axelle, Askara langsung mengerutkan keningnya bingung lalu duduk di samping Axelle. Dia memang belum menyelidiki tentang kehidupan Alissa. Karena baginya wanita yang di pilih Axelle pasti wanita yang luar biasa. Lagi pula dia tidak bisa mencampuri terlalu jauh masalah rumah tangga adiknya itu.
"Kakak tirinya?" tanya Askara menatap Axelle bingung.
Mendengar ucapan Axelle, Askara hanya diam menunduk. Ternyata wanita yang telah berhasil meluluhkan hati adiknya itu adalah gadis yang sangat malang. Memiliki kehidupan yang begitu pilu dan di penuhi lika-liku kehidupan yang sangat mengerikan.
"Apa kakak ingat kejadian kami di tangkap oleh warga? waktu itu kami bukan melakukan hal yang tidak senonoh. Tapi aku menyelamatkan Alissa dari tangan pria hidung belang. Kakaknya telah menjualnya untuk melunasi hutangnya. Tapi untung saja aku datang tepat waktu, aku bisa menolongnya dan membawanya keluar dari lubang penderitaannya selama ini," ucap Axelle menunduk sedih.
"Apa kakak boleh tau informasi tentang kehidupan Alissa. Agar kakak bisa mencari solusi untuk masalah ini,"
__ADS_1
Mendengar ucapan Askara, Axelle langsung menatapnya binggung. Dia merasa aneh karena Askara mau membantunya. Karena selama ini yang Axelle tau jika Askara selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Askara selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja.
"Kakak adalah anak tertua di mension ini. Jadi sudah kewajiban kakak untuk membantumu sebagai adik kakak. Kau tenang saja, kakak akan mengurus semuanya secepatnya," ucap Askara memukul pelan bahu Axelle.
"Kakak dengar kau sudah bekerja. Lebih baik kau fokus saja kepada pekerjaan dan juga kuliahmu. Kakak akan mengirim beberapa pengawal untuk melindungi Alissa," ucap Askara tersenyum.
"Terima kasih ya, Kak," ucap Axelle menatap Askara dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama! jika kau ada masalah, kau jangan sungkan untuk membicarakannya kepada kakak. Kakak akan selalu bersedia untuk membantumu. Kau memang sudah besar dan sekarang sudah memiliki keluarga sendiri. Tapi bagi kakak kau tetap adik kecil kakak. Adik yang harus kakak lindungi dan kakak manja," ucap Askara tersenyum lalu memeluk Axelle.
Mendengar ucapan Askara, Axelle hanya mampu menitikkan air matanya sambil membalas pelukan Askara. Keduanya memejamkan matanya sambil merasakan hangatnya pelukan seorang saudara. Kehangatan yang telah lama tidak mereka rasakan, karena kedaaan keluarga mereka yang sangat kacau.
Bersambung....
__ADS_1