
Sejak subuh, Alissa terus bolak balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Melihat Alissa yang terus muntah, Axelle menjadi kebingungan sendiri. Bahkan dia juga tidak masuk kampus untuk merawat Alissa. Melihat tubuh Alissa yang begitu lemas dan juga wajahnya yang pucat, Axelle hanya bisa menatap keadaan istrinya itu dengan tatapan penuh iba.
"Sudah aku bilang. Kalau aku belum pulang kau tidur saja, tidak perlu menungguku. Pasti kau juga belum makan malam sebelum aku pulang 'kan?" tanya Axelle menatap Alissa dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu cemas seperti itu. Aku baik-baik saja. Mungkin hanya masuk angin saja," ucap Alissa tersenyum sambil mengusap lembut wajah Axelle.
"Bagaimana aku tidak cemas. Sedari tadi kau terus bolak balik kekamar mandi. Lihat tubuhmu, sangat lemas dan wajahmu juga sangat pucat," ucap Axelle menatap lekat wajah pucat Alissa.
"Kita ke rumah sakit saja ya. Aku panggil Kak Aksara dulu," ucap Axelle bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Alissa.
Baru saja Axelle membuka pintu kamarnya, dia langsung melihat Askara sudah berdiri di depan pintu. Dia menatap wajah bahagia sang kakak dengan tatapan penuh kebingungan. Dia bingung kenapa Askara bisa sebahagia itu, padahal saat ini Alissa sedang sakit. Bahkan tubuhnya terlihat begitu sangat lemas.
"Kenapa kakak sangat bahagia melihat istriku sakit?" tanya Axelle menatap tajam Askara.
"Tentu saja kakak bahagia. Jika kau tau alasannya kau juga akan bahagia nantinya," ucap Askara santai sambil menyandarkan tubuhnya di depan pintu.
"Hai, Al! karena kau hari ini sakit seperti itu, kakak akan memberi hadiah untukmu," ucap Askara tersenyum bahagia melihat keadaan Alissa.
"Maksud kakak apa?" tanya Axelle menatap tajam Askara.
"Seperti yang kakak bilang. Jika kau tau kenapa istrimu sakit, pasti kau juga akan sangat bahagia. Bahkan kau bisa jauh lebih bahagia dari kakak," ucap Askara santai.
"Tidak mungkin! tidak mungkin aku bahagia melihat istriku sakit. Kakak kira aku ini suami apaan," oceh Axelle kesal.
"Kau yakin? apa kau mau taruhan?" ucap Askara tersenyum penuh kelicikan.
__ADS_1
"Taruhan?" tanya Axelle mengerutkan keningnya binggung.
"Ia! jika nanti kau bahagia ketika mendapat hasil pemeriksaan Alissa. Maka kau harus menerima ini," ucap Askara memperlihatkan kartu debit pemberian Nando.
"Kartu debit?" tanya Axelle binggung.
"Ia! di dalam sini ada uang yang cukup besar. Aku rasa ini lebih dari cukup untukmu membuka usaha," ucap Askara tersenyum kecil.
"Jika aku tidak bahagia?" tanya Axelle kembali.
"Kau boleh meminta apa saja dari kakak," ucap Askara tersenyum lalu berjalan mendekati Alissa yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Itu sama saja," ucap Axelle membuang napasnya kesal.
"Aku belum setuju," ucap Axelle menatap kesal Askara.
"Aku tidak perduli. Pokoknya kita sudah sepakat. Jika aku menang taruhan, kau harus menerima ini," ucap Askara tegas lalu memeriksa suhu tubuh Alissa.
"Tubuhnya sangat dingin. Lebih baik kau bawa dia ke mobil secepatnya," ucap Askara sedikit panik, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Axelle.
"Baiklah!" ucap Axelle mengangguk patuh lalu membawa Alissa ke dalam gendongannya.
Dia berjalan keluar mengikuti Askara sambil mengendong Alissa. Di saat melewati ruang tamu, mereka melihat Mirna yang duduk termenung di sofa. Melihat Alissa yang berada di gendongan Axelle, Mirna langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia menatap wajah Alissa yang begitu pucat, bahkan dia dapat melihat dengan jelas raut kepanikan yang terpancar di wajah Axelle. Penasaran apa yang sedang terjadi kepada menantunya itu, Mirna langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Axelle dan Askara.
"Alissa kenapa?" tanya Mirna menatap Alissa yang berada di gendongan Axelle.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! untuk apa mama perdulikan kami. Lebih baik mama fokus saja kepada uang mama," ucap Axelle ketus sambil terus melangkahkan kakinya.
Mendengar ucapan Axelle, Mirna langsung terdiam sambil menatap Axelle dengan mata berkaca-kaca. Sakit, tentu saja sakit, bahkan hati Mirna langsung hancur berkeping-keping mendengar ucapan Axelle. Sejahat itukah dia di mata putranya itu, sehingga putra yang dia lahirkan dengan mengorbankan nyawanya sangat membencinya seperti ini. Melihat mata Mirna yang penuh kesedihan Askara langsung menghentikan langkahnya. Dia menatap Mirna dengan tatapan penuh rasa kebingungan. Karena setelah dua puluh tahun lalu, baru kali ini dia melihat tatapan penuh kesedihan kembali terpancar di mata Mirna.
"Kau bawalah Alissa ke mobil. Kakak ingin bicara dengan mama sebentar," ucap Askara menatap Axelle.
Mendengar ucapan Askara, Axelle langsung mengangguk kecil. Dia terus melangkahkan kakinya keluar dari mension sambil terus mengendong Alissa. Saat melewati pintu utama, dia berpas-pasan dengan Nando. Nando yang melihat tubuh lemas Alissa yang berada di gendongan Axelle, langsung mengerutkan keningnya binggung. Namun, Axelle terus melangkahkan kakinya tidak memperdulikan kehadiran Nando. Melihat Axelle yang tidak memperdulikannya sama sekali, Nando memilih diam dan menatap Askara yang berdiri di samping Mirna.
"Alissa kenapa?" tanya Nando mendekati Askara.
"Tidak apa-apa, Pa. Sepertinya sebentar lagi kita akan melihat Axelle junior lagi," ucap Askara tersenyum kecil.
"Apa! jadi papa akan jadi kakek, dan mama akan jadi nenek? ternyata papa dan mamamu sudah tua ya," ucap Nando tersenyum bahagia.
"Itu masih dugaan Askara, Pa. Tapi kita doakan saja semoga ini benar. Mudah-mudahan ini adalah jalan agar keluarga kita bisa utuh kembali," ucap Askara melirik Mirna hanya diam di sampingnya.
"Aamiin!" ucap Nando mengaminkan.
"Apa mama boleh ikut?" tanya Mirna ingin ikut meneriksa keadaan Alissa.
"Lebih baik mama di rumah saja. Askara akan memberitahu kabar baiknya nanti," ucap Askara tersenyum lalu mengusap punggung Mirna.
Setelah itu Askara perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Mirna hanya bisa terdiam sambil menatap punggung putranya yang telah menjauh. Melihat tatapan Mirna, Nando hanya bisa terdiam lalu membawa Mirna kedalam pelukannya. Dia tau apa yang di rasakan Mirna saat ini, di benci oleh putra kita sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi setiap orang tua. Walaupun kebencian itu tumbuh dari perbuatan mereka sendiri.
Bersambung.....
__ADS_1