Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 79


__ADS_3

Alissa duduk terdiam di taman belakang. Keputusan Ayah yang tidak mau tinggal bersama membuat tanda tanya yang sangat besar di dalam hatinya. Dia berpikir apa alasan Ayah tidak mau tinggal bersamanya. Dari tatapan Ayah, Alissa dapat melihat jika ada hal besar yang disembunyikan Ayah darinya. Namun, walaupun Alissa sudah berpikir keras, dia tidak dapat menemukan hal yang menciptakan ke ganjalan dalam pikirannya.


"Ternyata kau di sini. Padahal aku sudah mencarimu sekeliling mension," Ucap Axelle duduk di samping Alissa.


"Kau sudah keluar. Sudah aku katakan kau harus istirahat," Ucap Alissa membuang napasnya kesal.


"Bagaimana aku bisa istirahat dengan tenang. Jika kau saja tidak mau menemaniku," Ucap Axelle membaringkan tubuhnya dan menengelamkan wajahnya di perut Alissa.


"Perutmu semakin membuncit. Bagimana ya jika perutmu membesar nantinya," Ucap Axelle membayangkan bagaiamana tubuh Alissa saat hamil tua nantinya.


Membayangkannya saja, Axelle langsung terkekeh kecil. Seperti suami tidak takut dosa, dia membayangkan tubuh Alissa yang akan berubah seperti badut nantinya. Pasti Alissa akan bergerak seperti robot dan sulit melakukan apapun karena perutnya yang membesar. Padahal itu terjadi karena ulahnya yang menghamili Alissa di usia muda.


"Kenapa kakak tertawa?" Tanya Alissa mengerutkan keningnya bingung.


"Tidak ada!" Ucap Axelle tersenyum sambil berusaha menyembunyikan pikiran nakalnya.


"Setelah nanti anak kita lahir, dan umurnya sudah satu tahun. Kita langsung buat adik untuknya ya," Ucap Axelle menaik turunkan Alissa.


Mendengar ucapan suaminya yang mesum itu, Alissa langsung membulatkan matanya terkejut. Masa ia, setelah melahirkan satu tahun dia di suruh untuk hamil lagi. Memangnya Axelle kira mengandung dan melahirkan itu mudah. Ini saja Alissa sudah di buat pusing karena terus mabuk di pagi hari.


"Tentu saja!" Ucap Alissa tersenyum.


"Benarkah? Kalau begitu aku mau kita buat anak enam. Biar pas jadi tim sepak bola," Ucap Axelle terkekeh tanpa dosa.


"Tidak masalah! Bahkan kita bisa buat anak dia belas biar pas jadi satu lusin. Tapi, kakak yang melahirkan dan juga mengandungnya," Ucap Alissa penuh penekanan di kata-kata terakhirnya.


"Apa! Kalau aku yang mengandung. Dari mana keluarnya, Sayang?" Tanya Axelle dengan polosnya.


Mendengar pertanyaan polos Axelle, Alissa langsung terkekeh kecil. Dia menarik gemas hidung mancung Axelle sampai memerah. Melihat kelakuan istrinya, Axelle hanya diam sambil mengelus hidungnya yang memanas.

__ADS_1


"Sayang! Kau jahat. Teganya kau membuat hidung mancungku seperti ini," Ucap Axelle memanyunkan bibirnya menunjukkan mode ngambeknya.


"Cie! Yang gambek bikin gemes deh," Ucap Alissa malah kembali mencubit wajah Axelle dengan gemasnya.


"Aw! Sayang," Ucap Axelle kesal sambil bangkit dari baringannya.


"Sakit ya? Rasain," Ucap Alissa terkekeh kecil lalu berlari kecil meninggalkan Axelle.


"Sayang, jangan lari-lari. Nanti kau jatuh," Ucap Axelle perlahan melangkahkan kakinya mendekati Alissa.


Namun, Alissa tidak menghiraukannya. Dia tetap berlari kecil sambil mengejek Axelle. Melihat tingkah istrinya yang mengemaskan, Axelle hanya bisa tersenyum kecil sambil berjalan melangkahkan kakinya mendekati Alissa. Dia hanya berjalan dengan santai, karena dia tau jika dia berlari mengejar istrinya itu. Sudah di pastikan Alissa juga akan berlari menjauhinya. Dia terus berjalan dan memperhatikan setiap langkah Alissa. Dia memikirkan cara bagaimana dia bisa menangkap Alissa tanpa harus membuatnya berlarian di mension.


"Sayang! Berhenti ya, aku punya sesuatu untukmu," Ucap Axelle berusaha membujuk Alissa.


"Tidak! Aku tidak mau," Ucap Alissa tegas sambil terus berusaha menjauh dari Axelle.


"Itu, Ma! Kak Axelle duluan," Ucap Alissa melemparkan semua kesalahan kepada Axelle.


"Axelle! Istrimu lagi hamil muda. Kau tidak boleh seperti itu," Ucal Mirna mentap Axelle.


"Ia, Ma! Axelle minta maaf," Ucap Axelle menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap Alissa.


"Kau lihat saja nanti di kamar ya," Batin Alissa menatap kesal Alissa.


"Sudah! Sayang ini mama sudah buat kue untukmu. Kau makan ya," Ucap Mirna meletakkan mampan yang berisi kue dan susu untuk Alissa.


Selama hamil muda, Alissa memang tidak nafsu makan. Dia hanya mau makan buah-buahan dan juga cemilan. Melihat itu, Mirna selalu membuatkan berbagai jenis kue untuk Alissa setiap harinya, agar Alissa bisa tetap memenuhi nutrisi kandungannya. Mirna juga sangat memanjakan Alissa, sehingga membuat Alissa menjadi sangat nyaman bersamanya. Karena bagi sekarang Alissa adalah anak perempuannya yang harus dia manjakan.


"Em! Mentang-mentang sudah ada menantu, anak sendiri di lupakan," Ucap Axelle merasa cemburu kepadan istrinya sendiri, lalu melangkahkan kakinya meningalkan Alissa dan Mirna.

__ADS_1


"Ha... Ha... Sama istri sendiri malah cemburu," Ucap Askara sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Kebetulan Askara hari ini pulang lebih cepat, jadi dia memilih untuk pulang ke mension untuk beristirahat. Namun, saat memasuki pintu utama, dia melihat pemandangan yang sangat menenangkan hatinya. Dimana adik dan juga mamanya kini bisa akur dan saling menyayangi satu sama lain. Tidak seperti biasanya, setiap Axelle berdekatan dengan Mirna. Dia hanya melihat pertengkaran dan juga caci maki di antara keduanya. Kehadiran bayi dalam kandungan Alissa memang membawa kedamaian dalam keluarga mereka.


"Kakak!" Ucap Axelle kesal lalu berlari mengejar Askara.


Melihat kelakuan kakak beradik itu, Mirna dan Alissa hanya terkekeh kecil. Axelle memang memiliki sifat yang sangat dewasa, tetapi dia juga sangat manja ketika berhubungan dengan Askara. Apalagi mengingat usianya yang masih remaja, tentu saja dia masih butuh perhatian dari orang di sekitarnya.


"Sayang! Maafkan mama ya. Dulu mama tidak suka kepadamu, karena mama kira kau menikah dengan Axelle hanya untuk memanfaatkannya. Tapi setelah mengenalmu dengan dekat. Mama jadi sadar, ternyata dugaan mama selama ini salah besar. Ternyata kau adalah gadis yang sangat baik dan juga sangat tulus mencintai putra mama," Ucap Mirna mengengam tangan Alissa sambil menatapnya dengan penuh penyesalan.


"Jika aku berada di posisi mama, aku juga akan melakukan hal yang sama. Setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja, kadang cara penyampaiannya saja yang salah. Jadi mama tidak perlu minta maaf seperti itu," Ucap Alissa tersenyum manis sambil kembali mengengam tangan Mirna.


Mendengar ucapan Alissa yang begitu tulus, Mirna berlahan meneteskan air matanya. Dia sangat menyesal karena pernah membenci wanita sebaik Alissa. Padahal selama ini Alissa sudah sangat menderita dengan perlakukan ibu dan juga kakak tirinya itu.


"Kau memang menantu idaman, Sayang. Tapi maaf, mama tidak akan pernah mengagapmu sebagai menantu mama," Ucap Mirna dengan tegas.


Deg...


Jantung Alissa seperti ingin berhenti berdetak mendengar ucapan Mirna. Dia berpikir kesalahan apa yang telah dia lakukan, padahal baru saja ibu mertuanya itu memperlakukannya dengan baik.


"Karena mama mengangapmu seperti putri mama sendiri. Kau adalah putri mama yang paling manis dan mengemaskan," Ucap Mirna tersenyum sambil mencubit pipi Alissa yang mulai mengembul.


"Mama!" Ucap Alissa meneteskan air matanya lalu memeluk Mirna dengan penuh kasih sayang.


"Mulai sekarang kau jangan pernah merasa sendiri lagi ya. Kerena mulai sekarang mama akan selalu ada di sampingmu. Jangan pernah sungkan untuk bercerita kepada mama jika kau sedang ada masalah," Ucap Mirna membalas pelukan Alissa sambil membelai lembut rambut panjang menatunya itu.


Axelle dan Askara yang menyaksikan itu dari lantai dua hanya bisa meneteskan air mata mereka dengan penuh kebahagiaan. Axelle langsung memeluk Askara dan menatap kebersamaan Alissa dan mamanya dengan perasaan penuh syukur. Mereka terus saja berdoa agar keluarga mereka bisa hidup harmonis untuk selamanya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2