Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 57


__ADS_3

Askara duduk di ruang tamu sambil menatap jam tangannya. Jam kini telah menunjuk ke pukul dua belas malam, akan tetapi Axelle belum pulang juga sampai sekarang. Melihat Axelle yang bekerja begitu keras tentu saja membuat Askara menjadi sangat cemas. Dia mengkhawatirkan keadaan adiknya yang harus membagi waktu sebaik mungkin. Di usianya yang masih sangat mudah Axelle harus memikul tanggung jawab yang begitu besar.


Hingga akhirnya dia mendengar suara motor Axelle yang memasuki perkarangan mension. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Axelle yang berjalan memasuki mension mereka. Dengan seketika mata Askara langsung berkaca-kaca ketika melihat keadaan Axelle yang begitu kelelahan. Penampilannya terlihat acak-acakan dan matanya juga terlihat sangat sayup.


"Axelle! kau kenapa?" tanya Askara langsung memeriksa suhu tubuh Axelle.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya kelelahan saja. Setelah istirahat pasti akan membaik," ucap Axelle tersenyum hangat.


"Kak! kakak sudah pulang?" tanya Alissa menghampiri Axelle dan Askara.


Seperti biasa, Alissa belum akan tidur jika Axelle belum pulang. Dia dengan setia menunggu kepulangan Axelle sambil belajar di kamarnya. Ketika mendengar suara motor Axelle, dia langsung turun untuk menyambut kedatangan suaminya. Hal itulah yang membuat Axelle semakin mencintainya, ketika melihat senyuman indahnya rasa lelah Axelle langsung sirna dengan seketika.


"Kau belum tidur? kau jangan terlalu sering begadang untuk menungguku," ucap Axelle mengacak-acak rambut Alissa.


"Aku tidak akan bisa tidur tenang jika kakak belum pulang. Kakak belum makan 'kan? aku tadi sudah masak untuk kakak," ucap Alissa tersenyum.


"Kak Askara sudah makan? jika belum, ayo kita makan bersama," ucap Alissa menatap Askara yang berdiri di samping Axelle.


"Baiklah! ayo, pasti kau sudah lapar 'kan?" tanya Askara mendengar perut Axelle yang berbunyi.


"Ayo!" ucap Axelle tersenyum lalu merangkul Alissa dengan mesra.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju ruang makan secara bersama-sama. Kebetulan Alissa masak bayak, jadi mereka bisa makan sepuasnya. Sesampainya di ruang makan Axelle langsung menarik kursi untuk Alissa terlebih dulu. Walaupun lelah, akan tetapi dia tetap memberikan perhatiannya kepada Alissa. Askara hanya bisa tersenyum kecil melihat kebahagiaan Axelle. Dia berharap jika Axelle dan Alissa bisa bahagia untuk selamanya. Dia juga berharap agar keadaan keluarganya juga semakin membaik, setelah kesadaran Nando akan kesalahannya.


Alissa melakukan tugasnya sebagai istri dan adik ipar yang baik. Dia melayani Axelle dan Askara dengan sangat baik. Setelah mengisi piring Axelle dan melengkapi semua keperluannya, Alissa juga mengisi piring Askara. Alissa adalah gadis yang sangat baik dan juga sopan. Namun, Askara merasa heran kenapa mamanya sangat membenci Alissa.


"Kau adalah gadis yang sangat baik. Aku harap mama bisa segera bisa menerima kehadiranmu," ucap Askara menatap iba Alissa.


Mendengar ucapan Askara, Alissa hanya tersenyum mengangguk. Setelah melayani Axelle dan Askara, dia langsung mengisi piringnya sendiri. Mereka makan malam bersama sambil berbincang-bincang kecil. Askara langsung berpikir jika ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah modal usaha untuk Axelle.


"Apa kau masih bekerja di cafe dan juga perusahaan papa Birma?" tanya Askara menatap Axelle.


"Ia, Kak!" ucap Axelle.


"Aku sedang mengumpulkan uang untuk itu, Kak. Tapi uangku belum cukup. Karena aku ingin menyewa ruko agar aku dan Alissa bisa hidup mandiri di sana. Lagi pula untuk membuka bengkel otomotif itu sangat mahal," ucap Axelle.


"Kenapa kau tidak bekerjasama dengan perusahaan papa saja?" tanya Askara memberikan ide.


Mendengar ide dari Askara, Axelle langsung terdiam. Dia memang tau jika papanya adalah orang kaya. Bahkan untuk membuka bengkel otomotif yang sangat besar pun sangat mudah untuknya. Namun, Axelle tidak mau terus di rendahkan oleh kedua orang tuanya. Jika Axelle bekerja sama dengan perusahaan papa nya sama saja dia mengali kuburannya sendiri. Karena dia tau jika kedua orang tuanya akan semakin semena-mena kepadanya.


"Tidak! jika aku melakukan itu, maka sama saja aku membuktikan jika perkataan mereka terhadapku selama ini benar. Aku bisa mencari modalku sendiri," ucap Axelle datar.


Mendengar ucapan Axelle, Askara memilih untuk diam. Dia akan memikirkan cara lain lagi untuk memberikan uang pemberian Nando kepada Axelle. Sedangkan Alissa hanya diam mendengar percakapan mereka. Dia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan suaminya itu.

__ADS_1


"Baiklah! kakak hanya tidak ingin kau bekerja seperti ini terus," ucap Askara menunduk lalu kembali melanjutkan makannya.


Di saat mereka sedang asik makan bersama, tiba-tiba perut Alissa terasa mual. Dia menatap Axelle yang sedang makan dengan lahapnya. Tidak mau melihat suaminya itu menghawatirkannya, Alissa berusaha untuk menahan dirinya. Dia berusaha terlihat sedang baik-baik saja. Namun, rasa mualnya semakin kuat, karena tidak tahan lagi. Alissa akhirnya bangkit dari duduknya lalu berlari ke kamar mandi belakang. Melihat itu, Askara dan Axelle langsung saling lempar tatapan. Mereka menghentikan makan mereka lalu berjalan mengikuti Alissa.


"Huekk.... Huekkk," Alissa memuntahkan seluruh isi perutnya di dalam kamar mandi.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Axelle memijit kecil leher Alissa.


"Coba kau kasih air hangat ini kepadanya," ucap Askara memberikan segelas air hangat kepada Axelle.


Axelle langsung mengangguk kecil dan menerima air hangat pemberian Askara. Dia memberikannya kepada Alissa, dan membantu Alissa untuk memegang gelasnya. Dia melihat wajah Alissa yang pucat dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Kau kenapa? apa kau sedang tidak enak badan?" tanya Axelle memeriksa suhu tubuh Alissa.


"Lebih baik kau bawa saja Alissa ke kamar. Besok kakak akan mengantarkan kalian ke rumah sakit," ucap Askara tersenyum.


"Terima kasih ya. Sebentar lagi aku akan menjadi paman," ucap Askara memeluk Axelle lalu pergi meninggalkan mereka sambil tersenyum bahagia.


Melihat itu, Axelle dan Alissa hanya menatap bingung ke arah Askara. Jujur mereka tidak mengerti dengan ucapan Askara. Axelle berpikir kenapa Askara bisa sebahagia itu, padahal istrinya sedang sakit.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2