
"Ma! mama tau gak? ternyata Alissa menikah dengan putra dari keluarga Arvinando," ucap Niko langsung menghampiri mamanya yang sedang duduk santai di di sofa tamu.
"Arvinando! Arvinando keluarga kaya yang selalu tampil memukau di TV itu?" tanya Tini membulatkan matanya terkejut.
"Ia, Ma! tadi Niko melihat Alissa dan suaminya itu masuk ke mension keluarga itu,"
"Hanya masuk? nanti suami Alissa tukang kebunnya kali. Coba kau lihat ini, apa wajah suami Alissa sama seperti yang di foto ini?" tanya Tini memperlihatkan foto Askara yang selalu tampil di layar internet.
"Tidak! Waktu terakhir aku bertemu dengan Alissa sepertinya suami Alissa satu kampusnya. Karena waktu aku ingin membawanya pergi pria itu keluar dari kampus bersama teman-temannya. Bahkan dosen di sana langsung menghampirinya,"
"Yang mama tau putra keluarga Arvinando adalah pria ini. Coba kau lihat, di semua perbincangan panas tentang keluarga Arvinando pasti yang terlihat wajahnya. Bahkan kau lihat ini, foto keluarganya saja hanya bertiga," ucap Tini memperlihatkan foto Askara dan kedua orang tuanya.
Keluarga Arvinando memang hanya memperlihatkan wajah Askara di setiap berita tentang keluarga mereka. Karena baginya hanya Askara yang patut untuk di banggakan dan di perkenalkan ke seluruh dunia. Sedangkan Axelle hanyalah brandal yang akan membuat nama keluarga mereka semakin buruk.
Walaupun keadaan keluarga mereka yang sangat kacau. Namun, semua orang tau jika keluraga mereka sangatlah harmonis. Bahkan Nando sangat memanjakan istrinya dengan membiarkannya menghabiskan uang sesuka hatinya saja. Tidak ada yang tau keadaan keluarga mereka yang sebenarnya. Karena setiap ada acara penting, mereka selalu terlihat harmonis dan juga bahagia.
Sedangkan Axelle, sangat jarang orang mengenalnya. Bahkan hanya orang-orang tertentu yang tau jika dia adalah putra keluarga Arvinando. Bahkan Nando dan Mirna tidak ada niat sama sekali untuk memperkenalkan Axelle. Bahkan Axelle tidak pernah di bawa jika ada acara penting bisnis mereka. Bahkan ke acara sesama pembisnis sekalipun.
"Mungkin saudara mereka, Ma! atau seperti yang mama bilang, Alissa menikah dengan anak tukang kebun ataupun pembantu di sana. Lagian mana mungkin anak Sultan mau dengan gadis seperti Alissa. Bisa-bisa dia merasa malu membawa Alissa kemana-mana," ucap Niko terkekeh kecil.
"Ha...ha... kau benar! lagian mana ada yang mau dengan gadis seperti Alissa. Sudah miskin bukit susah lagi," ucap Tini ikut menertawai Alissa.
"Eh! tunggu dulu. Jika kau tadi sudah bertemu dengan Alissa, kenapa kau tidak membawanya? Apa kau lupa uang lima ratus juta itu?" ucap Tini belum jera.
"Tidak segampang itu, Ma! suami Alissa selalu ada di sampingnya. Bahkan suaminya itu sangat ahli dalam bertarung. Bisa-bisa aku bonyok di tangannya,"
__ADS_1
"Kau benar juga! kita harus mengatur cara untuk menaklukkan hati Alissa," ucap Tini berpikir.
"Bagaimana jika kita gunakan nama Ayah saja untuk mengelabui Alissa. Mama tau 'kan jika Alissa paling tidak bisa melihat Ayah terluka," ucap Niko tersenyum sinis.
"Kau benar juga! besok kau antar mama menemuinya," ucap Tini penuh semangat.
"Ok!" ucap Niko lalu memikirkan rencana untuk besok.
Kali ini mereka tidak akan menggunakan cara yang kasar lagi. Karena jika mereka melakukan cara yang kasar maka, sama saja mereka ingin mengali kuburan mereka sendiri. Mereka akan menggunakan cara yang halus, yaitu mempermainkan perasaan Alissa. Karena mereka tau, jika Alissa sangatlah polos dan juga lugu. Bahkan Alissa sangat mudah di bodohi jika di hubungkan dengan Ayah.
Walaupun Ayah selalu menyakitinya, akan tetapi Alissa selalu menyayangi Ayah dengan sangat tulus. Karena bagi Alissa kebahagiaan Ayah adalah hal yang terpenting untuknya. Bahkan dia sering memberikan jatah makanannya, jika melihat Ayah sedang lapar. Bahkan Alissa sering memijit Ayah jika Ayah sedang kelelahan.
Hanya saja Ayah yang tidak pernah merasa bersyukur memiliki Alissa. Dia malah selalu memarahi Alissa bahkan mengacuhkannya. Bahkan dia juga sering menjadikan Alissa sebagai tempat pelampiasan kekesalannya.
...----------------...
Dirga dan lainnya masih jomblo, jadi mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau. Sedangkan Axelle kini telah bersetatus sebagai seorang suami. Jadi Axelle harus menjalani hari-harinya sebagai suami semestinya. Dia harus memikirkan istrinya yang sedang menunggunya di rumah.
"Hai, Bro! gue pamit pulang dulu ya," ucap Axelle menghampiri para sahabatnya.
"Mentang-mentang sudah punya istri. Kami sahabat lo, lo lupain begitu saja," ucap Dirga ketus.
"Siapa bilang gue lupain kalian pada?" tanya Axelle menatap ketiga sahabatnya itu.
"Dirga!" ucap Pran menunjuk ke arah Dirga.
__ADS_1
"Kalian tidak boleh begitu. Axelle adalah pengantin baru, jadi dia beda dengan kita," ucap Birma bijaksana.
"Tumben pikiran lo bener," ucap ucap Axelle menatap binggung Birma.
"Ya memang kita beda. Lo pasti mau uji milik lo 'kan. Sedangkan kami hanya mengunakan milik kami untuk pipis. Jika lagi kebelet paling mode sabun. Jadi beda jauh sama lo, yang kapan saja bisa coblos," ucap Birma santai.
"Lo pikir pemilu. Main coblos saja," ucap Pran terkekeh geli mendengar ucapan Birma.
"Gila memang lo pada. Lama-lama jika gue terus di sini, gue bisa ikutan sinting," ucap Axelle terkekeh geli lalu melangkahkan kakinya meninggalkan para sahabatnya itu.
"Lo mau ke mana?" tanya Birma menatap kepergian Axelle.
"Mau pulang! cari kehangatan," ucap Axelle simple sambil terus mengayunkan kakinya.
Axelle keluar dari cafe itu sambil tersenyum bahagia. Dia merasa bahagia karena akhirnya dia memiliki uang lagi untuk di berikan kepada Alissa. Setiap bernnyanyi Axelle memang langsung mendapatkan gajinya. Jadi dia bisa setiap hari memberi uang untuk Alissa.
Dia berjalan menuju motornya dengan perasaan bahagia. Dia pulang mengunakan motornya melewati jalanan kota di malam hari seorang diri. Anggun malam yang begitu menusuk sampai ke tulang tidak mampu meruntuhkan kebahagiaan. Rasa bahagia ketika mengingat istri yang paling dia cintai menunggunya untuk pulang.
Namun, saat melewati jalanan sepi, dia melihat seorang pria paru baya, yang sedang di kerumuni oleh segerombolan brandalan. Dia melihat pria paruh baya itu sedang memohon meminta ampun kepadanya. Dengan cepat Axelle turun dari motornya dan mendekati para brandalan itu.
"Woi! berhenti!" teriak Axelle penuh amarah.
"Wah! yang gua cari akhirnya muncul juga," ucap pemuda itu menatap sinis Axelle.
Bersambung......
__ADS_1
Rekomendasi karya teman👇