
"Apa Ayah sudah bicara dengan Alissa? Gimana? apa dia mau kembali ke sini?" tanya Tini langsung menghampiri Ayah yang baru turun dari sepeda motornya.
Mendengar pertanyaan Tini, Ayah langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia merasa heran kenapa belakangan ini Tini sangat berantusias agar Alissa kembali tinggal bersama mereka. Ayah tau jika Tini ingin menjadikan Alissa sebagai istri ke tujuh bos pereman itu. Itulah sebabnya Ayah memilih untuk tidak menemui Alissa, dia tidak ingin mendorong putrinya ke lembah penderitaan yang lebih dalam lagi.
"Kenapa mama sepertinya sangat berantusias untuk membawa Alissa untuk tinggal bersama kita lagi? apa mama ingin menjual Alissa lagi?" tanya Ayah menatap tajam Tini.
"Kenapa Ayah berbicara seperti itu? apa salah mama merindukan putri mama?" ucap Tini tanpa raut dosa sedikitpun.
"Sejak kapan kau menganggap Alissa sebagai putrimu? bukannya selama ini kau memperlakukannya dengan sangat buruk?" tanya Ayah geram.
Mendengar ucapan Ayah, Tini langsung membuang napasnya kasar. Berbicara dengan baik-baik dengan Ayah tidak akan membuat rencananya berhasil. Dia harus mencari cara sendiri agar Alissa bisa membawa Alissa kepada kepala preman itu. Dia tidak mau jika sampai Niko kenapa-napa, jika sampai dia gagal untuk menyerahkan Alissa sampai waktu yang telah di tentukan.
"Bukannya kau juga seperti itu? jadi wajar saja jika aku memperlakukannya dengan buruk. Kau saja sebagai Ayah kandungnya tidak pernah perduli dengannya. Bagaimana denganku yang tidak memiliki hubungan darah dengannya," ucap Tini mengeluarkan wajah aslinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Tini, Ayah langsung mengepalkan tangannya geram. Dia tau jika dia bukan Ayah yang baik untuk Alissa, akan tetapi tidak membuat Tini bisa melakukan seenaknya saja. Dia memang diam jika Tini hanya melukai fisik dan memanfaatkan Alissa saja. Namun, untuk kali ini Tini sudah melewati batasannya. Dia dengan tega menjadikan Alissa sebagai alat membayar hutang putranya. Sehingga membuat Ayah tidak akan tinggal diam lagi. Ayah akan melindungi putrinya dari wanita serakah seperti Tini.
"Jika kau berani berbuat macam-macam lagi kepada Alissa, kau lihat saja!" ucap Ayah menunjuk wajah Tini dengan geram.
"Kau mengancamku?" tanya Tini sambil menepias tangan Ayah.
"Apa kau lupa jika rahasia terbesarmu ada di tanganku? Jika Alissa tau jika yang membunuh ibunya adalah Ayahnya sendiri. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya nantinya," ucap Tini tersenyum sinis.
"Kenapa kau diam? huff, aku tau! Jika Alissa tau, bukan hanya membencimu. Tapi Alissa akan mengirimmu ke dalam penjara," ucap Tini tertawa lepas sambil menatap Ayah dengan tatapan meremehkan.
Ayah hanya bisa terdiam sambil menatap kesal Tini. Dia mengusap wajahnya kasar lalu kembali mengenakan helmnya. Dia pergi meninggalkan Tini mengunakan sepeda motornya. Sedangakan Tini hanya menatap kepergian Ayah sambil mengelengkan kepalanya pelan. Dia yakin Ayah hanya pergi untuk sementara. Pasti dia akan kembali lagi dan membawa Alissa bersamanya. Karena Tini tau, Ayah sangat mencintainya. Jadi Ayah akan melakukan apapun untuk dirinya. Jika membunuh istrinya saja Ayah mau, Apalagi hanya menyerahkan Alissa sebagai istri ke tujuh bos preman itu.
...----------------...
__ADS_1
Nando duduk terdiam di bangku kuasanya. Dia menatap foto keluarga yang terpajang di meja kerjanya. Dia sana terlihat senyuman indah yang terukir di wajahnya bersama Mirna. Di sana juga terlihat dua balita tampan yang sedang tertawa dengan penuh kebahagiaan. Foto itu adalah foto lama mereka. Di mana Askara masih berumur empat tahun dan Axelle yang masih berumur satu tahun.
Jika di ingat-ingat, Nando sudah lupa kapan senyuman indah itu terpancar dari anak istrinya. Bahkan itu adalah foto keluarga mereka yang terakhir kalinya. Setelah itu kehidupan keluarga mereka menjadi kacau balau. Bahkan kedua balita tampan itu menjadi korbannya. Mereka tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari mereka. Bahkan Axelle dan Askara tumbuh besar di tangan pembantu mereka.
"Maafkan papa, Nak! karena kesalahan papa kalian menjadi korbannya. Papa memang sangat egois, papa hanya bisa mengikuti hawa nafsu papa tanpa memperdulikan perasaan kalin," ucap Nando menitikkan air matanya sambil menatap lekat foto itu.
"Axelle putra papa, ternyata sekarang kau tumbuh menjadi pria yang sangat dewasa. Maafkan papa yang selalu mengabaikanmu dan terus meremehkanmu. Tapi ternyata, sekarang kau malah memberikan pelajaran yang berharga kepada papa. Pelajaran untuk mencintai dan menghormati yang namanya pernikahan. Walaupun usiamu masih sangat muda, tapi pemikiranmu sangat dewasa," ucap Nando tersenyum bangga melihat tanggung jawab Axelle yang sangat besar kepada Alissa.
"Papa janji, papa akan kembalikan kebahagiaan kita lagi. Papa akan kembalikan senyuman kalian yang sudah lama menghilang. Papa akan tebus semua kesalahan papa," ucap Nando mengusap air matanya.
Sebagai kepala keluarga, dia akan memperbaiki semua kesalahannya. Dia akan kembalikan kebahagiaan keluarga mereka yang telah lama menghilang karena ulahnya. Walaupun itu sulit dan membutuhkan waktu yang lama, akan tetapi Nando akan terus berusaha. Dia akan berusaha menjadi Ayah dan suami yang baik untuk keluarganya.
Bersambung......
__ADS_1