Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 87


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Ayah, Axelle langsung meneriksa keadaan bengkelnya. Dengan uang pemberian Askara, dan juga uang tabungannya Axelle dapat membangun bengkel otomotif yang lumayan besar. Bahkan dia masih menyisakan sedikit untuk biaya persalinan Alissa, dan juga biaya mereka sehari-hari beserta biaya kuliahnya dengan Alissa.


Walaupun Nando sudah menyadari kesalahannya dan memberikan semua yang dia butuhkan. Namun, Axelle tetap kekeh pada pendiriannya. Dia ingin berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan dari kedua orang tuanya. Dia juga sepakat untuk mengembalikan uang pemberian Askara jika dia sukses nantinya. Karena Axelle yakin, jika dia akan bisa sukses dengan tangannya sendiri.


Dia sudah menyimpan begitu banyak rencana untuk masa depannya dengan Alissa. Dia ingin kehidupan Alissa dan juga calon anak mereka penuh dengan kemewahan. Axelle tidak akan membiarkan anak istrinya kekurangan apapun. Walaupun dia harus kerja mati-matian, tetapi dia tidak perduli sama sekali. Asalkan anak dan istrinya bisa hidup layak dan mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.


"Wah! sudah hampir selesai juga bengkel lo," ucap Dirga menatap kagum bengkel Axelle yang sudah hampir selesai.


"Alhamdulillah, Bro! setelah lulus kuliah aku bisa fokus dengan bengkel ini saja," ucap Axelle tersenyum.


"Lo memang hebat! dari lo, gue belajar apa arti pria sejati yang sebenarnya. Pria yang selalu berdiri dengan kakinya sendiri, tanpa pernah berpijak dengan kekuasaan orang tuanya," ucap Pran menatap kagum kemandirian sahabatnya yang satu itu.


"Ini juga berkat dukungan dari kalian. Di saat aku sedang terpuruk, kalian selalu memberikan motivasi dan juga nasehat yang baik untukku," ucap Axelle menatap kedua sahabatnya itu.


"Kami hanya bisa memberi dukungan, Bro! sedangkan yang menjalankannya adalah dirimu sendiri. Pokoknya apapun itu, gue akan selalu kagum akan semangat lo," ucap Pran memukul pelan lengan Axelle.


"Aku setuju! lo memang pria yang sangat mandiri. Lo memang cocok dengan Alissa. Kalian sama-sama memiliki masalah keluarga yang sangat menyakitkan. Tapi kalian berdua selalu kuat menghadapi semua masalah yang datang menghampiri kalian. Jadi gue yakin, kalian pasti akan hidup bahagia selamanya," ucap Dirga setuju dengan ucapan Pran.


"Alissa memang wanita yang luar biasa. Aku sangat bersyukur karena bisa memilikinya. Aku akan selalu menjaganya dan tidak akan pernah membiarkannya pergi dariku," ucap Axelle tersenyum sambil membayangkan senyuman indah istrinya itu.


"Lo benar! lo harus selalu menjaga wanita lo. Karena di luar sana, pasti banyak pria yang mengincar posisi lo," ucap Birma terkekeh kecil.


"Lo gila! mana ada yang akan berani mendekati kelinci yang ada di kandang singa. Bisa-bisa lo akan habis jadi santapan singa itu," ucap Pran terkekeh kecil.

__ADS_1


"Ha... ha... kau benar juga," ucap Birma terkekeh kecil.


Mendengar ucapan kedua sahabatnya itu, Axelle hanya bisa menggeleng kecil sambil menatap kedua sahabatnya itu. Walaupun selalu di abaikan oleh keluarganya, Axelle merasa sangat bahagia karena dia memiliki sahabat yang selalu ada di sampingnya. Sahabat yang selalu sigap memberikan dukungan mereka kepadanya.


"Sudahlah! aku mau pulang. Tolong kalian awasi mereka ya," ucap Axelle melihat hari yang mulai malam.


"Wah, Gila! Lo menyuruh kami untuk mengawasi para pekerja lo. Sedangkan lo bermesraan di rumah. Memang parah lo," ucap Pran kesal.


"Gue juga mau mengawasi mereka sampai selesai. Tapi lo tau sendirikan jika istri gue sedang hamil muda. Jadi gue juga harus menjaganya. Apa lo mau jika sampai istri gue mau sesuatu, tapi dia harus menahannya karena gue tidak ada di sampingnya," ucap Axelle memperlihatkan mode memelasnya.


Melihat wajah Axelle, Pran langsung membuang napasnya kasar. Dia langsung merasa tidak tega, apalagi membayangkan jika terjadi sesuatu kepada Alissa.


"Ok! lo pergilah. Jaga calon keponakan gue dengan baik," ucap Pran tersenyum kecil.


"Lah! lo memang gila ya. Baru saja gue merasa terbang mendengar kata pujian lo. Tapi pujian lo adalah senjata untuk membabukan gue," ucap Pran sedikit meninggikan suaranya.


"Bukan membabukan. Tapi membantu!" ucap Dirga tersenyum lalu duduk dengan santainya.


"Lo ngapain duduk! ayo bantu gue," ucap Pran kesal sambil membuka satu persatu kotak peralatan bengkel Axelle.


"Enak aja! yang di suruh 'kan lo," ucap Birma ketus.


"Lo mau membunuh gue secara berlahan. Lihat, barang-barangnya sangat berat. Bagaimana mungkin gue bisa menyimpannya sendiri," ucap Pran terus mengoceh tiada henti.

__ADS_1


Mendengar ocahan Pran, Dirga hanya membuang napasnya pelan. Dia bangkit dari duduknya lalu membantu Pran untuk membereskan barang-barang bengkel Axelle. Memang Axelle berencana membuka bengkel ini besok lusa, jadi mereka harus bekerja lembur agar bengkel itu selesai besok.


Sebagai seorang sahabat, mereka memang selalu membantu Axelle. Apalagi mengingat Alissa yang sedang hamil muda, sehingga Axelle harus lebih meluangkan waktunya untuk istrinya itu. Selama Axelle bersama Alissa, Pran dan Dirga lah yang mengantikannya untuk mengawasi pembangunan bengkel Axelle. Bahkan kedua sahabatnya itu tidak pernah meminta imbalan apapun. Walaupun mereka terus mengoceh tidak jelas, yang pasti mereka membantu Axelle dengan sangat tulus.


Sesampainya di mension, Axelle langsung memarkirkan motornya lalu berjalan memasuki mension dengan perasaan bahagia. Dia merasa bahagia karena impiannya memiliki bengkel sendiri akan terwujud. Dia menatap ruang tamu dan melihat Mirna dan Nando sedang menonton TV bersama. Dengan cepat dia menghampiri kedua orang tuanya itu dan menyalim mereka secara bergantian.


"Eh! calon papa muda udah pulang. Bagaimana bengkelmu?" tanya Nando menatap kedatangan putranya itu.


"Papa apa-apaan, Sih!" ucap Axelle merasa tidak nyaman dengan panggilan papa muda dari papanya itu.


"Bengkelnya hampir selesai. Rencananya besok lusa Axelle akan mengadakan pesta kecil-kecilan. Sekalian syukuran atas kehamilan Alissa," ucap Axelle tersenyum.


"Mama setuju. Mama akan menyiapkan semuanya," ucap Mirna semangat.


"Tapi Alissa mana, Ma?" ucap Axelle tidak melihat keberadaan istrinya.


"Istrimu ada di kamar. Dia sedang istirahat, sejak tadi dia sangat gelisah. Bahkan dia selalu muntah dan tidak nafsu makan," ucap Mirna.


Mendengar ucapan Mirna, Axelle langsung panik. Dia berpamitan kepada kedua orang tuanya dan berlari kecil menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Axelle melihat Alissa yang sedang tertidur dengan lelapnya. Meliat wajah Alissa, ingatan Axelle langsung tertuju pada ucapan Ayah tadi pagi.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alissa saat mengetahui kebenaran tentang kecelakaan ibunya. Bahkan Axelle tidak punya keberanian untuk mengatakannya kepada Alissa. Namun, dia juga tidak boleh menyimpan rahasia itu terlalu lama. Dia harus menyusun rencana agar dia bisa memberitahu semuanya tanpa harus membahayakan kandungan Alissa.


Melihat Alissa sedang tertidur, Axelle mencium lembut wajah Alissa lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa lelah, sehingga selesai mandi dia langsung membaringkan tubuhnya di samping Alissa. Dia memeluk tubuh istrinya itu dengan erat lalu mencoba memejamkan matanya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2