Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 44


__ADS_3

"Alissa!" teriak Mirna di pagi buta sehingga membuat seisi mension langsung berlari menghampirnya.


"Mampus! aku lupa matiin gas," ucap Aliasa langsung terkejut lalu turun dari tubuh Axelle.


"Memangnya kau habis ngapain pagi-pagi seperti ini?" tanya Axelle mengerutkan keningnya binggung.


"Kan aku sudah bilang, aku sedang masak sup ayam untukmu. Kau saja yang terus menarikku dan memelukku secara paksa," ucap Alissa melemparkan bantal ke wajah Axelle.


"He... he.. maaf, sayang! habisnya kau sangat wangi," ucap Axelle nyengir tanpa dosa.


Alissa sengaja bangun lebih awal untuk memasak sup ayam untuk Axelle. Namun, saat ingin membangunkan Axelle, Alissa hanya mengecilkan api kompor gasnya. Saat di bangunkan Axelle malah menarik tubuh Alissa untuk tidur kembali di sampingnya. Alissa sudah berusaha menjelaskan jika Alissa sedang memasak, akan tetapi Axelle terus memeluknya dan tidak menghiraukan ucapannya.


"Maaf doang gak akan selesai," ucap Alissa ketus lalu berlari menuju dapur.


Tidak mau membuat Alissa menjadi tempat pelampiasan Mirna, Axelle langsung berlari mengejarnya. Sesampainya di dapur, mereka melihat panci yang Alissa gunakan untuk memasak sup ayam sudah hitam gosong. Alissa hanya mampu diam menunduk sambil mantap wajah Mirna yang di kuasai amarah.


"Kenapa mama berteriak pagi-pagi seperti ini?" tanya Askara berlari ke dapur hanya mengenakan celana Boxer dan juga baju kaos.


"Kenapa kau bilang! lihat ini. Gara-gara wanita udik ini, mension kita hampir terbakar," ucap Mirna menatap geram Alissa.

__ADS_1


Baru semalam dia bertengkar hebat dengan Indah. Pagi ini dia langsung melihat kecerobohan Alissa. Sehingga membuatnya meluapkan seluruh amarahnya kepada Alissa. Hal itu memang sudah biasa bagi Axelle dan Askara. Namun, untuk Alissa?


"Ma! sudahlah. Hanya masalah seperti itu. Mama tidak perlu membesarkannya," ucao Askara membuang napasnya kesal.


"Masalah seperti itu kau bilang? apa kau tau?gara-gara kecerobohan wanita ini kita bisa kehilangan mension ini. Apa dia bisa menganti semua kerugian ini? lihat dapur mama jadi hitam. Ini panci juga sangat mahal," ucap Mirna melempar panci gosong itu ke depan Alissa.


"Ma! aku tau Alissa salah. Tapi tidak seperti ini juga," teriak Askara menatap Alissa yang menunduk sambil menahan tagisnya.


"Kau membentak mama? karena wanita ini kau membentak mama yang sudah melahirkanmu. Mama sudah membesarkanmu sampai seperti ini. Tapi karena perempuan sial ini,"


"Cukup!" teriak Axelle tidak terima istrinya di hina di depan semua orang.


Axelle langsung memeluk Alissa yang hanya diam menunduk mendengar ocehan Mirna. Axelle berlahan menatap semua pelayan dan juga pengawal, yang hanya mampu diam menunduk melihat nyonya muda mereka di caci di hadapan mereka.


"Jadi mama tidak berhak melakukan seenaknya kepada kami, hanya karena alasan balas budi. Jika kami boleh memilih, kami tidak sudi di lahirkan oleh wanita yang tidak punya hati seperti mama," ucap Axelle kembali sambil menatap Mirna dengan tatapan kekecewaan.


Jika bisa memilih, semua anak pasti ingin di lahirkan di tengah-tengah keluarga yang bahagia. Bukan di keluarga yang hancur, dan selalu ribut setiap saat. Memiliki orang tua yang menyayangi mereka sepenuh hati. Bukan menjadikan mereka sebagai tempat pelampiasan kekesalan. Mendapatkan kasih sayang dan juga perhatian dari kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan cacian dan juga ketidak pedulian.


Sebagai seorang anak yang selalu direndahkan dan juga di benci, Axelle telah merasa lelah. Axelle merasa lelah di jadikan alat pelampiasan kekesalan oleh ibu yang melahirkannya. Axelle juga ingin bahagia, dia ingin hidup dengan damai tanpa ada pertengkaran dan juga hinaan yang selalu di hadapkan kepadanya.

__ADS_1


"Sayang!" ucap Alissa mencoba menenangkan Axelle.


"Tidak, Sayang! mama kali ini telah kelewat batas. Aku bisa terima jika dia menghina dan juga merendahkanku setiap harinya. Tapi aku tidak bisa melihatmu di perlakuan seperti ini. Sebagai putra dari keluarga ini, aku juga ingin di hargai," ucap Axelle mengusap air mata Alissa sambil berusaha menahan amarahnya.


"Mama mau uang 'kan? tunggu di sini. Aku akan memberikan uang yang mama mau," ucap Axelle berlari menuju kamarnya.


"Jangan sok banyak uang kau! hidup saja masih menumpang," ucap Mirna meremehkan Axelle.


Mendengar hinaan Mirna, Axelle terus melangkahkan kakinya. Dia berlari ke kamar lalu mengambil uang tabungannya selama ini. Dia membawa semua yang tabungannya lalu melemparkannya tepat di wajah Mirna.


"Makan itu uang! itu 'kan yang membuat mama senang? jadi mama ambil uang itu sepuas mama. Aku memang anak tidak berguna, tapi aku tidak pernah meminta sepeserpun uang mama untuk biaya kuliahku. Aku berjuang sendiri untuk memenuhi semua kebutuhanku. Bukan seperti mama, yang hanya diam menunggu dan rela di menjual harga diri mama hanya demi uang," ucap Axelle menatap Mirna sambil menitikkan air matanya.


"Aku merasa malu telah dilahirkan dari wanita rendahan seperti mama. Wanita yang rela membagi suami hanya demi tetap menikmati harta suaminya. Wanita yang setiap hari di rendahkan tapi tetap saja bertahan. Karena apa? hanya karena harta dan kekuasaan dari papa," ucap Axelle menghapus air matanya dan berusaha menahan tangisnya.


"Aku telah berusaha menjadi anak yang berbakti kepada mama. Tapi mama sendiri yang menjadikanku sebagai anak yang suka memberontak seperti ini. Jadi, jangan salahkan aku jika tidak bisa menjaga sikap di depan mama. Karena mama sendiri juga tidak bisa menjaga sikap mama," ucap Axelle lalu membawa Alissa menuju kamarnya.


"Aku kecewa sama mama! karena mama adik kecilku menjadi pemberontak dan tidak bisa di atur. Apa uang itu kurang untuk mama? ini aku kasih lebih," ucap Askara melemparkan kartu debit kepada Mirna lalu melangkahkan kakinya mengejar Axelle.


Nando yang tidak sengaja menyangsikan pertengkaran itu hanya diam mematung. Dia menatap kedua putranya dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa gagal sebagai seorang papa. Dia merasa gagal karena membuat rumah yang seharusnya menjadi surga, malah menjadi neraka untuk kedua putranya.

__ADS_1


Bersambung.......


Bersambung....


__ADS_2