Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 54


__ADS_3

Mendengar Tini yang ingin menemuinya, Alissa langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia dapat merasakan jika ada niat buruk di balik kedatangan Tini. Setelah mendapatkan siksaan dan hinaan dari ibu tirinya itu, Alissa menjadi wanita yang tegar dan juga pemberani. Dia ingin melihat rencana apa yang akan di lakukan ibu tirinya itu kali ini.


"Suruh dia masuk," ucap Alissa kepada pengawalnya itu.


"Baik, Nyonya," ucap sang pengawal lalu kembali menemui Tini.


Alissa perlahan membuang napasnya kasar lalu melangkahkan kakinya untuk turun. Kali ini dia tidak boleh lemah, dia harus berani dan melawan setiap orang yang ingin memanfaatkannya. Dia akan membalas semua rasa sakit yang dia alami selama ini. Dia akan membuktikan jika Alissa yang sekarang bukanlah Alissa yang dulu lagi.


"Silahkan masuk, Nyonya. Nyonya muda sedang menunggu anda di ruang tamu," ucap pengawal menghampiri Tini yang terus menatap kagum mension keluarga Arvinando.


"Jadi say boleh masuk?" tanya Tini menatap pengawal itu.


"Ia, Nyonya! mari ikut saya," ucap pengawal itu melangkahkan kakinya memasuki mension.


Tidak mau banyak berpikir, Tini langsung mengikuti pengawal itu. Dia terus melangkahkan kakinya, sambil menatap kagum melihat mension yang begitu luas dan mewah di hadapannya. Dia tidak pernah menyangka jika dia bisa melangkahkan kakinya ke mension keluarga Arvinando.


Sesampainya di ruang tamu, dia melihat Alissa yang sedang duduk menunggunya di sofa. Dia menatap penampilan Alissa yang begitu anggun dan juga elegan. Bahkan Alissa yang sekarang sekarang jauh lebih cantik dari Alissa yang selalu dia siksa dulu. Kulitnya putih bersih dan wajahnya juga sangat mulus tanpa ada noda.


Melihat penampilan Alissa yang sekarang, Tini langsung merasa iri. Dia tidak terima jika Alissa bisa hidup mewah dan tinggal di istana sebesar ini. Sedangkan dirinya hidup pas-pasan dan tinggal di rumah yang sangat sempit dan juga kumuh. Bahkan dia harus setiap hari kepanasan karena tidak memiliki AC. Terlebih lagi kini Ayah pergi entah kemana, sehingga membuat hidupnya akan semakin terancam.


"Silahkan duduk," ucap Alissa menatap dingin Tini.


"Sial! kenapa tatapannya begitu menakutkan. Tapi aku tidak boleh terlihat takut, aku harus bersikap biasa saja. Ingat mahar lima ratus juta," batin Tini tersenyum lalu meletakkan bokongnya di sofa.

__ADS_1


Saat bokong montoknya berhasil mendarat di kasur empuk itu, Tini langsung membulatkan martanya terkejut. Dia tidak menyangka jika kasur orang kaya bisa seempuk itu. Dia memainkan bokongnya sambil tersenyum bahagia. Dia juga meraba-raba kasur empuk itu sambil tersenyum sendirian. Melihat kelakuan Tini yang terlihat kampungan, pengawal dan pelayan yang melihatnya langsung tersenyum kecil.


Sadar dirinya sedang di tertawakan, Tini langsung memperbaiki posisi duduknya. Dia melihat Alissa yang sedang duduk santai sambil menyilangkan kakinya. Dia langsung mengikuti gaya duduk Alissa yang terlihat anggun dan elegant. Melihat kelakuan ibu tirinya yang tidak punya hati, Alissa hanya diam sambil berusaha menahan tawanya.


"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Alissa datar dan tatapan tanpa ekspresi sedikitpun.


Mendengar pertanyaan Alissa, Tini langsung memasang topengnya. Dia langsung memasang wajah sedihnya agar bisa mencuci pikiran Alissa.


"Nak! kenapa kau pergi dari rumah? kami selama ini terus mencarimu. Setelah kau menghilang keadaan rumah terasa sangat hampa. Bahkan Ayah terus menangis karena merindukanmu. Mama sudah mencarimu kesana kemari, hingga akhirnya mama dapat kabar jika kau tingal di sini," ucap Tini menitikkan air matanya.


Melihat akting Tini, Alissa langsung membuang napasnya kasar sambil tersenyum kecil. Bukan hanya tidak punya hati nurani, akan tetapi Tini juga adalah pemain drama yang sangat handal. Walaupun tidak pernah di lirih oleh produser.


"Untuk apa kau mencariku? bukanlah aku adalah beban untukmu," ucap Alissa tersenyum sinis.


"Mintak maaf memang mudah. Tapi tidak semua kata maaf itu tulus dari hati. Karena banyak orang yang meminta maaf hanya untuk menjalankan rencananya selanjutnya," ucap Alissa tau betul bagaimana sifat mama tirinya itu.


"Mama benar-benar menyesal, Nak! Mama menyesal karena pernah menyiksamu. Mama berjanji akan menebus semua kesalahan mama. Tapi kau ikut dengan mama ya. Ayah sedang sakit parah, dia ingin bertemu denganmu," ucap Tini.


"Maaf! aku tidak punya waktu untuk meladeni wanita serakah sepertimu. Aku tau! kau datang ke sini ada niat busuk 'kan? kau ingin memperalatku untuk memenuhi semua keinginanmu. Dan juga untuk menebus semua hutang putramu itu," ucap Alissa menatap tajam Tini


Karena rencananya dapat terbaca oleh Alissa, Tini langsung menelan ludahnya kasar. Dia menatap lekat Alissa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dia mencoba memutar otaknya kembali agar Alissa bisa termakan oleh kata-katanya.


"Kenapa kau tega bicara seperti itu kepada mama? Apa kau lupa jika selama ini mama yang telah membesarkanmu. Mama tau mama bukan wanita yang melahirkanmu, tapi mama juga mamamu. Jika kau tidak mau memaafkan mama tidak apa-apa. Mama tau jika mama tidak pantas untuk di maafkan. Tapi ingat Ayahmu. Dia sedang sakit parah dan ingin bertemu denganmu. Dia sedang terbaring tidak berdaya di rumah, Nak. Bahkan semua uang kami sudah habis untuk biaya perawatannya. Kami tidak mempunyai uang lagi untuk biaya pengobatan Ayahmu," ucap Tini langsung bersimpuh di kaki Alissa.

__ADS_1


"Aku tidak perduli dengan kehidupan kalian. Lebih baik sekarang kau pergi dari sini," ucap Alissa mendorong kasar tubuh Tini.


"Alissa!" ucap Tini menatap Alissa dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.


"Sekarang kau pergi dari sini," ucap Alissa menatap tajam Tini.


"Pengawal! seret wanita ini keluar," perintah Alissa menatap kepada pengawal yang berdiri di dekatnya.


"Baik, Nyonya," ucap pengawal itu langsung menarik tangan Tini.


"Lepaskan! tanpa kau seret aku bisa keluar sendiri," ucap Tini menepis tangan pengawal itu. Dia langsung menatap tajam Alissa, dia tidak terima dipermalukan seperti ini.


"Kau itu memang anak tidak tau diri. Mentang-mentang kau sudah hidup kaya, kau malah bertindak seenaknya saja. Lihat saja, aku akan membalas hinaanmu ini," ucap Tini menatap tajam Alissa.


"Silakan saja! aku tidak takut dengan ancamanmu," ucap Alissa membalas tatapan Tini.


"Sekarang kau keluar! Jika kau tidak tau pintu keluar, maka aku akan dengan senang hati menunjukkannya kepadamu," ucap Alissa melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam Tini.


"Tidak perlu!" ucap Tini kesal lalu keluar dari mension itu dengan penuh kekesalan.


Tini terus mengeluarkan kata-kata pedas kepada Alissa selama di perjalanan. Mendengar ucapan Tini, para pelayan dan pengawal di sana hanya bisa mengelengkan kepala mereka pelan. Mereka tau jika tidak mungkin Alissa bersikap kasar seperti itu jika tidak ada alasan yang pasti. Karena mereka tau persis bagaimana sifat Nyonya muda mereka itu.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2