
Mirna diam mematung menatap kepergian kedua putranya. Ucapan Axelle yang begitu menusuk hatinya terus tergiang di pikirannya. Dia menatap uang yang begitu banyak berserakan di lantai. Baginya itu memang uang yang sedikit, paling hanya bisa membeli satu tas branded miliknya. Akan terapi itu uang yang sangat banyak untuk Axelle dan Alissa. Tinggal mengumpulkan uang sedikit lagi mereka sudah bisa membuka usaha mereka sendiri.
"Kumpulkan uang itu," perintah Nando kepada para pelayan yang ada di sana.
"Baik, Tuan!" ucap Para pelayan mengangguk patuh lalu memungut semua uang yang berserakan di lantai.
Nando hanya diam sambil mengusap wajahnya frustasi. Dia duduk di kursi yang ada di sana sambil menatap Mirna yang terus diam membisu. Sebagai kepala keluarga dia harus bertindak tegas. Sebelum keadaan keluarganya semakin kacau balau.
"Kita harus bicara! tunggu aku di kamar. Aku ingin bicara dengan Axelle terlebih dulu," ucap Nando dengan tegas.
"Ini uangnya, Tuan. Dan ini kartu debit milik Tuan Askara," ucap Bik Ijah memberikan uang dan kartu debit yang dia kumpulkan beserta pelayan lainnya.
Nando hanya diam lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Mirna. Sedangkan Mirna hanya mampu diam membisu. Dia meneteskan air matanya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Apa aku salah? apa aku salah mempertahankan ruang tanggaku demi kedua putraku? Padahal aku selalu menderita. Aku terluka, tapi tidak ada yang perduli dengan perasaanku," ucap Mirna frustasi.
"Nyonya tidak salah. Hanya sikap nyonya saja yang salah. Tidak seharusnya nyonya membeda-bedakan mereka. Bukan keluarga yang utuh. Tapi yang mereka butuhkan adalah kasih sayang dan juga perhatian dari nyonya. Nyonya selalu mengatakan jika Tuan Axelle adalah anak pembuat onar. Tapi nyonya tidak sadar jika itu semua terjadi karena Nyonya sendiri," ucap Bik Ijah tegas lalu pergi meninggalkan Mirna.
Sebagai orang yang membesarkan Axelle dan Askara, Bik Ijah tidak terima jika Axelle terus di hina dan di rendahkan. Apalagi perlakukan Mirna tadi sudah kelewat batas. Tidak sepantasnya dia berbuat seperti tadi kepada Alissa di depan semua orang. Seharusnya Mirna membicarakannya dengan baik-baik untuk menjaga perasaan Alissa. Terlebih lagi keadaan Alissa yang baru tinggal di mension itu.
...----------------...
"Sayang! tidak sepantasnya kau bicara seperti itu kepada mama. Bagaimanapun dia itu adalah wanita yang melahirkanmu," ucap Alissa menatap Axelle yang hanya duduk dia di atas ranjangannya.
"Lalu apa pantas mama memperlakukanmu seperti itu? Aku seperti tadi karena ada alasannya. Karena mama tidak pernah menghargaiku. Aku tau aku terlahir dari rahimnya. Tapi tidak sepantasnya di terus berbuat seenaknya saja. Aku juga ingin dihargai, Al," ucap Axelle menatap lekat Alissa.
Mendengar ucapan Axelle, Alissa hanya mampu terdiam. Sama-sama telahir dari keluarga yang tidak harmonis, membuat mereka dapat merasakan perasaan satu sama lain. Alissa berlahan duduk di samping Axelle lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu suaminya.
__ADS_1
"Aku tau! tidak di hargai itu sangat menyakitkan. Apalagi di hina dan direndahkan. Bagiku lebih baik aku dipukul dari pada harus menerima kata-kata yang menyakitkan. Karena bekas pukulan bisa menghilang dengan sendirinya. Tapi jika kata-kata yang menyakitkan, akan selalu tersimpan di dalam hati dan sangat sulit untuk melupakannya. Walaupun keduanya sama-sama menyakitkan. Tapi dari pada luka fisik, luka batinlah yang paling menyiksa," ucap Alissa sambil menitikkan air matanya.
"Maafkan aku ya! karena aku kau jadi di marahi mama," ucap Axelle menghapus air mata Alissa.
"Tidak apa-apa. Lebih baik kita lupakan masalah ini. Sekarang kita bersiap-siap untuk pergi kuliah. Ingat, kita harus belajar yang giat agar kita bisa cepat-cepat lulus, dan mendapatkan nilai yang baik,"
"Baiklah! sekarang kita mandi bersama ya," ucap Axelle tersenyum lalu membawa Alissa kedalam gendongannya.
Axelle meletakkan tubuh Alissa di bathtub dan berendam bersama. Walaupun hatinya masih sangat sakit dengan kejadian tadi, akan terapi dia harus tetap tersenyum. Dia tidak boleh lemah, apalagi menyerah. Dia harus terus bangkit walaupun harus terus terjatuh. Dia harus semangat, walaupun dia harus terus mendapatkan begitu banyak cobaan yang datang silih berganti.
Apalagi sekarang dengan kehadiran Alissa di sisinya. Kehadiran Alissa membuat hidupnya semakin berwarna. Hari-harinya yang dulu di penuhi dengan kegelapan, kini berlahan berubah. Dia sudah bisa tersenyum dan mendapatkan kekuatan untuk terus bangkit. Kepolosan dan juga keceriaan sang istri membuatnya merasa sangat bahagia. Apalagi dengan setiap dukungan dan juga semangat yang Alissa berikan. Membuatnya terus semangat untuk meraih cita-citanya dan tujuan hidupnya.
Mereka berendam bersama untuk menghilangkan beban pikiran mereka. Bahkan Axelle juga dengan lembut membersihkan tubuh Alissa dengan sabun. Begitu juga dengan Alissa. Mereka bermain busa sabun sambil tertawa bahagia bersama. Hingga akhirnya ruangan itu di penuhi gelak tawa keduanya.
__ADS_1