
"Axelle! Di sebelah kirimu ada jalan untuk masuk ke markas. Kau masuklah, tapi kau harus tetap berhati-hati. Sepuluh langkah dari pintu, ada dua orang yang berjaga dan di lantai dua ada beberapa penjaga yang mengunakan senjata api. Bawalah bebetapa orang untuk ikut bersamamu," Ucap Dirga sambil terus megawasi keadaan markas itu dari layar laptopnya.
Dirga segaja memberikan alat penghubung kepada Axelle dan yang lainnya. Agar dia bisa memberitahu dari mana saja serangan musuh yang berdatangan yang dia lihat dari CCTV dari drown yang dia luncurkan. Mendengar perintah Dirga, Axelle langsung menyiapkan satu senjata api dan juga sebilah pisau di tangannya.
Dia akan bersiap untuk menghabisi setiap lawan yang akan menghalanginya. Karena untuk saat ini membawa Ayah pulang bersamanya adalah satu tujuannya. Dia tidak akan perduli dengan semua rintangan yang akan di hadapi. Karena, jika dia bisa menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya, maka istrinya akan bisa hidup tenang tanpa bayangan kuserakahan ibu dan juga saudara kandungnya itu.
"Sayang! Percayalah, aku akan membawa Ayah pulang bersamaku dengan selamat. Karena bukan hanya aku, kau juga pantas mendapatkan kasih sayang dari orang tuamu," Batin Axelle juga ingin melihat Alissa mendapatkan kasih sayang dari Ayah.
"Kalian jangan gunakan senjata api jika tidak mendesak. Kalian gunakan saja senjata tajam untuk melumpuhkan setiap lawan yang kita temui. Agar mereka tidak tau jika kita menyusup secara diam-diam ke dalam," Ucap Axelle kepada anak buah yang ikut bersamanya.
"Baik, Tuan!" Ucap mereka serentak lalu menyiapkan pedang dan juga senjata api di tangan mereka.
Axelle perlahan melangkahkan kakinya memasuki gedung itu dengan hati-hati, di ikuti oleh beberapa anak buahnya yang mengikutinya dari belakang. Axelle perlahan menghentikan langkahnya ketika melihat dua orang yang sedang berjalan di dekat pintu.
"Tuan, gunakan ini," Ucap salah satu anggotanya memberikan tali kepada Axelle.
"Ini?" Tanya Axelle mengerutkan keningnya binggung.
"Kita ikat lehernya lalu bawa dia ke ruangan itu. sedangkan yang lainnya masuk dan menghadapi musuh yang berikutnya," Jelas anggotanya itu.
"Ide bagus," Ucap Axelle tersenyum kecil lalu berjalan mendekati kedua penjaga itu.
Jep...
Axelle langsung mengikat leher penjaga itu, dan menariknya ke gudang untuk menyembunyikan mayatnya. Sedangkan yang lainnya menyusup ke dalam dan menghabisi setiap musuh yang mereka lewati. Mereka melakukan tugasnya dengan begitu bersih tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Bahkan mereka melakukan semuanya dengan sangat teliti, seperti seorang mafia handal yang terbiasa melakukan hal ini.
Sesampainya di dalam, Axelle langsung mencari ruang tahanan Ayah. Dia melihat di dalam markas itu begitu banyak ruangan, sehingga membuatnya kesulitan untuk mencari keberadaan Ayah saat ini. Dia dan anggotanya langsung memeriksa satu persatu ruangan itu, akan tetapi dia tidak menemukan jejak Ayah di sana.
"Tidak ada, Tuan! Semua ruangan kosong," Ucap salah satu anggota Axelle.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Coba kita cari ke ruangan sebelah sana. Ingat kita harus tetap hati-hati," Ucap Axelle tidak menyerah begitu saja.
"Baik, Tuan!" Ucap semuanya serentak lalu bersiap memasuki markas itu lebih dalam lagi.
Mereka semua berpencar untuk mencari keberadaan Ayah. Namun, Axelle tiba-tiba merasa ada sesuatu yang jangal, dia melihat jika di dalam markas itu tidak ada penjagaan sedikitpun. Hanya ada beberapa penjaga yang baru mereka lewati saat masuk ke dalam. Setelah itu, mereka tidak melihat ada satupun penjaga di dalam sana.
Dor....
Argh....
"Tuan!" Teriak para anak buah Axelle ketika melihat satu peluru panas berhasil menembus lengan Axelle.
"Sial! Seharusnya pluru itu menembus jantungnya," Gumam Niko kesal sambil kembali bersembunyi.
Mendengar suara tembakan itu, para anggota Drank langsung berlarian ke dalam markas itu. Melihat itu, Axelle langsung mengambil senjatanya dan menembaki satu persatu lawan yang mendekat. Para anak buah Axelle langsung bersiap untuk melindungi Axelle, mereka berusaha memberi jalan untuk Axelle agar bisa melewati para musuh dengan selamat.
Suara tembakan langsung terdengar bersahutan di dalam ruangan itu. Mendengar suara tembakan yang terus meletus, ketua geng motor Drank yang berada di lantai atas hanya tersenyum sinis. Dia duduk di kursinya sambil menikmati suara tembakan itu seperti iringan musik yang memenangkannya.
"Datanglah! Temui ajalmu bersama Ayah mertuamu ini. Setelah itu, aku akan bermain dengan istrimu yang cantik itu sebelum mengirimnya kepadamu," Gumam ketua geng motor itu tersenyum sinis.
"Di luar semakin ricuh, tapi kau terlihat santai di dalam sini," Ucap Tini menatap binggung ketua geng motor itu.
"Kau tenanglah! Nikmati saja waktumu dan atur tenagamu. Karena setelah ini kau akan ikut bertempur," Ucap ketua geng motor itu santai sambil meminum anggur merah yang ada di tangannya.
"Apa? Aku akan ikut melawan orang itu semua?" Tanya Rini panik.
"Tentu saja! Apa kau ingin mati sia-sia di tangan mereka?"
"Tidak!" Ucap Tini gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Jika tidak, gunakan ini dan bersiaplah. Aku yakin sebentar lagi Axelle akan datang untuk menjemput pria tua itu," Ucap ketua geng motor itu melemparkan satu senjata api kepada Tini.
"Keluarkan pria tua itu," Perintah ketua geng motor itu kepada anggotanya.
"Baik, Tuan!" Ucap mereka mengangguk patuh lalu mengeluarkan Ayah dari ruang tahanannya.
Mereka melihat Ayah yang sedang duduk meringkuk di sudut ruangan dengan luka di sekujur tumbuhnya. Tanpa ada belas kasihan, mereka langsung menyeret Ayah keluar dari ruangan itu dan melemparkan tubuhnya ke hadapan bos mereka.
Walaupun tubuhnya di penuhi luka, Ayah tidak merasakan sakit sedikitpun. Karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keadaan Axelle dengan yang lainnya. Jika sampai Axelle terluka hanya karena ingin menyelamatkannya, sudah di pastikan dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Bagaimana keadaanmu calon Ayah mertua. Andai saja putrimu tidak menikah dengan musuh besarku, pasti kau tidak akan mendapatkan semua siksaan ini," Ucap ketua geng motor itu menatap sinis Ayah.
"Aku tidak pernah menyesal karena putriku bisa menikah dengan Axelle. Tapi aku malah merasa beruntung karena putriku bisa mendapatkan pria seperti Axelle. Bukan hanya berani, tapi dia juga bertanggung jawab. Bahkan dia tidak pernah berlindung di ketiak orang tuanya untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan seperti dirimu, yang bisanya hanya memanfaatkan kekuasaan papamu untuk mendapatkan semua yang kau inginkan," Ucap Ayah menatap tajam ketua geng motor itu.
"Aku tau kau sangat membenci menantuku karena kau selalu berada di bawahnya. Kau merasakan iri atas semua kemampuannya. Bukannya belajar untuk bisa jauh lebih baik darinya, kau malah membencinya dan ingin menyingkirkannya. Kau memang seorang pengecut," Ucap Ayah tersenyum sinis sambil menatap remeh ketua geng motor itu.
Mendengar ucapan Ayah, ketua geng motor itu langsung mengepalkan tangannya geram. Ingin sekali dia membunuh Ayah saat itu juga. Namun, dia harus ingat jika dia masih membutuhkan Ayah untuk menyelamatkan dirinya dari amukan Axelle.
"Ikat dia, lalu bawa keluar," Perintah ketua geng motor itu bangkit dari duduknya.
Dia berusaha membuang napasnya pelan untuk mengontrol emosinya. Mendengar ucapan bos mereka, kedua pria yang ada di samping Ayah langsung mengikat tangan Ayah dan meyuruhnya berjalan mengikuti bos mereka. Saat melangkahkan kakinya, Ayah melihat Tini yang berdiri di sampingnya.
"Dasar pria bodoh! Seharusnya kau menurut kepadaku. Jika kau mau menyerahkan putrimu yang pembawa sial itu, pasti ini semua tidak akan terjadi," Ucap Tini menatap tajam Ayah.
Mendengar ucapan Tini, Ayah langsung menatap tajam istrinya itu. Ingin sekali Ayah merobek mulut Tini yang tidak ada perikemanusiaannya sama sekali. Memang dia sangat bodoh, dia sangat bodoh karena rela menghancurkan kehidupan putrinya hanya agar bisa membahagiakan wanita serakah di depannya itu.
"Aku tidak bodoh karena telah menantang ucapanmu. Tapi aku bodoh karena mencintai wanita gila sepertimu," Ucap Ayah menatap geram Tini.
Bersambung......
__ADS_1