
Askara langsung membawa Ayah beserta Axelle ke rumah sakit. Melihat luka pada tubuh Ayah dan juga luka tembakan di lengan Axelle, Dokter dan para perawat langsung bertindak dengan cepat. Mereka mengeluarkan peluru yang ada di lengan Axelle dengan cepat.
Setelah mendapat penanganan, Axelle dan Ayah langsung di bawa ke ruang rawat yang sama. Axelle sengaja meminta agar dia di satukan dengan Ayah dalam ruangan yang sama. Agar Alissa istrinya dapat melakukan tugasnya untuk merawat dirinya dan juga Ayah dengan serentak.
"Kau tidak apa-apa? apa tanganmu masih sakit?" tanya Nando memeriksa setiap tubuh Axelle.
"Axelle tidak apa-apa, Pa! lagian ini hanya luka kecil, jadi kalian tidak perlu sekhawatir itu," ucap Axelle kesal melihat Nando yang terlihat sangat panik.
"Bagaimana papa tidak panik. Kau sedang terluka. Jika perlu papa akan membeli seluruh rumah sakit ini untuk merawatmu," ucap Nando kesal.
"Enak saja! tidak semua bisa di beli pakai uang, Paman. Jika paman membeli rumah sakit ini hanya untuk merawat anak satu ini, bagaimana nasib pasien lainnya," ucap Birma kesal.
"Sudahlah! aku mau istirahat. Kalian keluar saja, berisik," ucap Axelle secara tidak langsung mengusir papa dan juga para sahabatnya itu.
"Dasar kau! mau jadi anak durhaka, papanya sendiri di usir," ucap Nando menempeleng kepala Axelle.
Melihat kedekatan Axelle dan Nando, Ayah hanya bisa terdiam. Dia menatap kebersamaan besan dan juga menantunya itu dengan tatapan penuh haru. Andai saja dia bisa mempunyai kesempatan untuk memperbaiki dirinya, dan menebus semua kesalahannya. Namun, kesalahannya sangatlah besar, sehingga dia tidak pantas untuk mendapat kata maaf dari putrinya.
"Kau mau minum?" tanya Askara sambil memberikan segelas air kepada Ayah.
"Terima kasih," ucap Ayah tersenyum lalu menerima gelas itu dari Askara.
"Sebelum dekat dengan purtranya, Papa juga dulu sama sepertimu. Tapi sekarang dia telah menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan kami," ucap Askara tersenyum.
"Jadi, semua orang memang memiliki kesalahan. Tapi tidak semua orang bisa menyadari kesalahannya. Bahkan ada juga yang menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia lakukan," ucap Askara tersenyum.
__ADS_1
Mendengar ucapan Askara, Ayah hanya diam menunduk. Memang semua orang pantas untuk di maafkan, tetapi di lihat dari kesalahannya juga. Kesalahan Ayah sangatlah besar, sehingga dia merasa tidak pantas mendapatkan maaf dari Alissa putrinya. Dia yakin, Alissa akan semakin membencinya setelah tau jika yang membunuh ibunya adalah dirinya, Ayah kandungnya sendiri.
"Semua orang memang punya kesalahan, dan semua orang memamg pantas untuk di maafkan. Tapi tidak semua kesalahan bisa di tebus dengan kata maaf," ucap Ayah menunduk tidak berani menatap wajah Askara.
"Maksudmu?" tanya Askara mengerutkan keningnya binggung.
"Tidak ada! kau pasti lelah. Lebih baik kau beristirahatlah," ucap Ayah tersenyum.
Mendengar ucapan Ayah, Askara hanya mengangguk kecil. Dia menatap Ayah dengan tatapan sejuta pertanyaan, dia merasa binggung kesalahan apa yang telah di lakukan Ayah sehingga Ayah berkata seperti tadi.
"Kau pasti lelah! pulanglah, bersihkan dirimu. Biar papa yang menjaga Axelle di sini," ucap Nando menatap Askara.
"Baik, Pa!" ucap Askara mengangguk kecil.
"Kak, kami ikut ya. Biar Birma yang tinggal di sini menemani paman," ucap Pran dan Dirga.
"Ayah! kami pulang dulu ya. Nanti kami akan kembali lagi, jadi ayah tidak perlu galau seperti itu," ucap Dirga tersenyum berusaha untuk menghibur Ayah.
Mendengar rayuan Dirga, Ayah hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Dia menatap kepergian Askara, Dirga dan Pran dengan tatapan haru. Dia sangat bersyukur karena putrinya kini telah di kelilingi orang-orang baik yang menyayanginya dengan tulus.
"Paman bersihkanlah dirimu terlebih dulu. Biar aku yang menemani Ayah dan Axelle," ucap Birma memberikan baju ganti yang di berikan pengawal kepada Nando.
"Kau benar! walaupun di rumah sakit, paman harus menjaga wibawa paman agar terlihat tampan," ucal Nando dengan pedenya.
Mendengar ucapan Nando, Axelle hanya bisa mengelengkan kepalanya pelan. Papanya itu memang memiliki tingkat kepedean yang sangat tinggi. Bahkan di usianya yang tidak muda lagi, dia tetap merasa jika dia masih sangat tampan. Walaupun itu memang kenyataan, sih.
__ADS_1
"Mandinya tidak usah pakai sabun. Nanti tampannya luntur," ucap Axelle tersenyum kecil.
Mendengar ucapan Axelle, Nando langsung mantap putranya itu dengan tatapan penuh dengan rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Axelle akhirnya bisa bercanda dengannya. Apa itu artinya Axelle sudah memaafkannya?
"Tidak apa-apa luntur, yang penting papa sudah memiliki mamamu yang sangat cantik," ucap Nando tersenyum lalu mengedipkan satu matanya kepada Axelle.
Mendengar ucapan Nando, Axelle hanya tersenyum kecil sambil mengelengkan kepalanya melihat tingkah papanya itu. Sebenarnya Nando sangatlah humoris dan suka bercanda kepada orang sekitarnya. Hanya saja selama ini dia selalu terlihat dingin di depan kedua putranya karena permasalahannya dengan Mirna.
Bagaimana tidak, setiap pulang ke rumah moodnya langsung berantakan karena mendengar ocehan dari Mirna yang tidak ada hentinya. Jadi Axelle dan Askara tidak pernah melihat sisi homorisnya. Mereka hanya bisa melihat sikap dingin dan juga keangkuhannya saat bertengkar dengan Mirna.
"Sudahlah! kau tidak perlu mengihiraukan paman yang tampan itu. Lebih baik kau istirahat saja. Ingat, besok kita harus kuliah agar kita bisa lulus dengan cepat," ucap Birma membaringkan tubuh Axelle.
"Ayah! istirahatlah. Aku yakin kau pasti sangat lelah," ucap Axelle melihat Ayah yang duduk diam di atas bangsal nya.
"Sayang! kau tidak apa-apa? mana tubuhmu yang terluka. Katakan kepadaku, siapa yang melakukannya," ucap Alissa tiba-tiba datang dan memeluk Axelle lalu memeriksa setiap inci tubuh suaminya itu.
"Tidak, Sayang! aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa cemas seperti itu," ucap Axelle berusaha menenangkan Alissa.
"Jangan tinggalkan aku, aku tidak akan bisa hidup tanpamu," ucap Alissa menitikkan air matanya lalu memeluk Axelle dengan kuat.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang," ucap Axelle tersenyum.
"Aku mencintaimu," ucap Alissa manja lalu mencium lembut wajah Axelle.
Nando yang baru keluar dari kamar mandi hanya bisa diam mematung melihat kelakukan menantunya itu. Sedangkan Ayah hanya bisa tersenyum hari dan menatap Alissa dengan tatapan penuh kerinduan, sedangkan Birma, jangan di tanya lagi. Dia hanya bisa gigit jari sambil meratapi nasib jomblonya.
__ADS_1
"Nasib jomblo yang selalu di jadikan obat nyamuk," Birma langsung menyanyikan lagu sindiran untuk Axelle dan Alissa.
Bersambung......