KAISAR ES

KAISAR ES
RAHASIA YANG DIKETAHUI


__ADS_3

“Kau kalah, pangeran...”


Itu yang aku kukatakan padanya...


Wajah penuh akan kekecewaan saat dirimu tau kalau itu sia-sia...


Tapi keberanianmu yang tidak pernah pudar akan keyakinan...


Aku menghargainya...


“PEMENANGNYA, YUGI...” perkataan Rofald mengakhiri duel sengit antara dua pemuda itu.


“HOOORRAAAAAA...” Sorak sorai dari para penonton yang penuh akan kegembiraan karena telah menyaksikan duel yang begitu menakjubkan. Yugi yang mendengar begitu banyak pujian dari para penonton untuknya hanya mampu menatap mereka semua tanpa ekspresi. “KAU HEBAT...”


“LUAR BIASAAA...”


“AAHHHH AKU JADI JATUH CINTA PADANYAAA...”


“TUAN YUGIIII...”


Yugi masih dalam mode Eternal Snow yang semakin lama semakin memudar. “Sudah berakhir kah...”


[“Yugi, hitungan mundur mode ini akan segera berakhir... 10, 9, 8...”]


Aku tidak bisa mendengar suara Yui, kepalaku terasa kosong. Kesadaranku mulai memudar...


Bruk...


Yugi berlutut dengan lutut kanan sebagai tumpuan dan pedang Eternal Snow sebagai tongkatnya. Dia berusaha untuk tetap sadar walau kepalanya begitu pusing. Mungkin ini awal dari efek samping penggunaan mode Eternal Snow yang belum dia kuasai sepenuhnya.


[“7, 6, 5,...”]


Pedang Eternal Snow tertelan portal dimensi... wajahku aku tundukkan sampai poni rambutku menghalangi wajah.


[“3, 2, 1... Mode Eternal Snow berakhir...”]


“Kenapa kau menunduk begitu...?”


Aku mendengar pertanyaan seseorang yang dilontarkan untukku. Sekilas aku melihat pangeran Rexas yang tersenyum dengan wajah biasanya. Kenapa... apa dia tidak marah...


“Seorang pemenang haruslah berdiri tegak...” Rexas mengulurkan tangannya untuk membantu Yugi berdiri.


“Kenapa?” tanya Yugi dengan nada lemah.


“Kenapa? Hehehe... itu karena kau telah menang, kau harus bangga akan hal itu... aku tidak mau melihat orang yang mengalahkanku terlihat menyedihkan seperti ini. Kau ingin membuatku malu hah...” tegas Rexas.


Tanpa pikir panjang Yugi menerima uluran tangan itu, dia pun berdiri dengan sedikit oleg karena tubuhnya sudah tidak kuat hanya sekedar untuk berdiri. “Terima kasih...”


“Sama-sama...” jawab pangeran dengan lembut.


‘Seorang pangeran yang bertarung dengan adil... dia, benar-benar seorang pangeran yang hebat.’ Batin yugi.


[“Ini bukan saatnya untuk kagum... tubuhmu sudah tidak kuat lagi. Kau terlalu memaksakan tubuhmu sampai tahap maksimal...”]


“...” Yugi tidak menjawab perkataan Yui, dia hanya menundukkan kepalanya sambil berdiri tegak.


[“Yugi, kau dengar aku?”]


‘Iya Yui... aku mengerti’ balas Yugi melalui telepati dengan nada lemah.


Tidak lama tuan putri Elsa berlari menuju arena untuk menemui Yugi. Semua orang terlihat terkejut melihat Elsa menghampiri pemuda petualang itu. Rexas yang berdiri didepan Yugi, dia menyingkir dari sana untuk memberikan jalan kepada Elsa. Dengan raut wajah khawatirnya dan juga bekas air mata dipipinya, Elsa memeluk erat Yugi seolah tidak mau kehilangannya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, hanya keheningan yang melanda. Rexas hanya tersenyum kecut melihat orang yang dicintainya ternyata tidak mencintai dirinya. Dia memilih pemuda yang sedang dia peluk, tapi menurutnya hal itu sudah cukup.


“Karena cinta tidak harus memiliki... sepertinya kata-kata adikku benar.” Gumam Rexas yang tidak bisa didengar oleh siapa pun, langkah kakinya berjalan meninggalkan arena tanpa suara, membiarkan mereka berdua disana.


Aku Rexas, aku kalah telak oleh seorang pemuda petualang... aku tidak merasa marah atau pun benci padanya. Karena berkat dirinya aku memahami satu hal... cinta tidak bisa dipaksakan... adikku juga pernah berkata kalau cinta tidak harus memiliki... melihat orang yang kita cintai bahagia itu mungkin sudah cukup bagiku. Aku berharap pemuda itu memahami kenapa orang yang kucintai... sampai menangis seperti itu untuknya...


Sementara itu, Elsa tetap memeluk Yugi begitu erat. “Yugi... kenapa kau begitu keras kepala...” tangis Elsa pecah saat itu juga. Dia tidak tau kenapa, tapi melihat Yugi terluka sampai seperti ini, itu membuatnya sangat sedih.


“...” tidak ada jawaban dari Yugi, kepalanya menunduk ditutupi poni, raut wajahnya tidak kelihatan. Tanpa mereka semua sadari, kesadaran Yugi... menghilang. Tiba-tiba tubuh Yugi oleg ke depan yang kemudian ditahan oleh Elsa.


“Yugi... yugi... yugi...” menyadari hal itu, dengan paniknya Elsa sesegera mungkin memanggil tim medis untuk segera membawa Yugi kedalam ruangan kesehatan.


Seminggu berlalu, di kerajaan Northern Esla semuanya berjalan seperti biasanya. Pertarungan sengit seminggu yang lalu berakhir dengan kemenangan Yugi. Dalam seminggu itu, Yugi dirawat di ruang kesehatan khusus kerajaan. Semua penyihir hebat kerajaan sudah dikerahkan untuk menyembuhkan Yugi, tapi sampai sekarang dia belum sadarkan diri.


Aku Elsa, sekarang aku sedang berjalan menuju ruang kesehatan milik kerajaan. Disana ada seseorang yang sangat berharga bagiku tengah dirawat. Setiap langkah aku menyapa pelayan yang sedang bertugas, begitu pula penjaga yang selalu berkeliling demi menjaga keamanan istana. Waktu berlalu begitu cepat... sekarang di hadapanku terdapat pintu berwarna cokelat yang bertuliskan nama Yugi didepannya. Aku menghirup udara segar sebentar sebelum membuka pintu...

__ADS_1


“Hhmmm...” Elsa tersenyum dan membuka pintu dengan pelan. Disana dia melihat seorang perawat wanita yang tengah memeriksa keadaan Yugi yang masih berbaring di atas kasur.


Perawat yang melihat tuan putri Elsa, dengan segera menundukkan kepala dan berkata. “Selamat pagi tuan putri Elsa...”


Elsa membalas sapaan perawat itu dengan senyuman seraya berkata. “Selamat pagi juga, bagaimana keadaannya?”


“Dokter bilang untuk sekarang masih belum ada perkembangan, kami belum tau kapan tuan Yugi akan bangun. Saya permisi...” Perawat itu pergi setelah melaporkan keadaan Yugi.


Elsa yang melihat keadaan Yugi yang masih kritis hanya mampu tersenyum gentir. Dia sangat merindukan sosok yang telah menyelamatkannya itu. Elsa melihat banyak sekali peralatan yang digunakan untuk menyembuhkan Yugi. Alat untuk mengukur detak jantung Yugi masih berjalan normal. Tidak ada perubahan dari detakan jantung Yugi, setelah pertandingan itu, Yugi dirawat dengan intensif oleh para perawat kerajaan yang sudah berpengalaman. Tapi sampai sekarang Yugi masih belum siuman, dokter mengatakan kalau obat yang paling manjur adalah waktu. Sampai sekarang Elsa masih percaya jika suatu saat nanti Yugi pasti siuman.


“Hei, sampai kapan kau akan tidur terus... dasar pemalas.” Ejek Elsa dengan senyuman sedih, dia sekarang duduk disamping kanan tempat tidur Yugi. Di lihatnya wajah tampan pemuda itu yang tengah terlelap dalam tidur panjangnya. “Aku membawakanmu buah segar... kau membuatku kesal saja, semua buah yang aku bawa tidak kamu makan. Kan jadinya semua buah itu tidak segar lagi...” setiap harinya Elsa selalu mengobrol seperti ini dengan Yugi, walau tidak ada yang menyahut perkataannya. “Cepatlah bangun... Yugi.” Air mata mengalir menuruni pipi mulus Elsa. Tidak peduli sekuat apa dia, pada saat Elsa bersama dengan Yugi, entah kenapa pertahanan Elsa menjadi sangat rapuh seperti gadis pada umumnya.


“Kakak...” Elna yang sedari tadi memperhatikan gelagat kakaknya hanya mampu terdiam dengan raut wajah sedih melihat keadaan mereka seperti itu. Elna juga sangat sedih saat melihat keadaan Yugi yang masih belum sadarkan diri. Dia merasa kasih sayangnya tidak terlalu kuat seperti kakaknya. Mungkin itu karena dia belum mengerti akan yang namanya cinta. Tapi setiap dia melihat kak Yugi bersama dengan wanita lain, hatinya merasa sakit dan sangat marah. Sampai sekarang pun dia masih kesal saat kakaknya mendekati Yugi dan terlihat akrab begitu. Apa ini yang disebut... “cemburu...” gumam Elna tanpa sadar sambil memegang dadanya. “Aku mungkin, telah jatuh cinta padamu... kak Yugi.”


Didalam dimensi buatan milik Yui, sebuah padang rumput dengan satu pohon besar yang terlihat tua. Disana terlihat Yui yang sedang duduk sambil menidurkan kepala seorang pemuda dipahanya. Pemuda itu memiliki surai seputih salju dengan mata biru yang cerah seperti langit. Pemuda itu bernama Yugi, seorang petualang yang saat ini tertidur di pangkuan Yui.


“Sudah hampir seminggu kau tertidur, sampai kapan kamu akan membuatku khawatir.” Gumam Yui sambil mengelus surai putih milik Yugi. Yui melihat kearah pedang yang melayang didepannya, itu adalah Eternal Snow yang merupakan tempat disegelnya Yui. “Aku kan sudah mengatakannya padamu untuk tidak menggunakan kekuatan itu... jika saja aku tidak menarik kesadaranmu kesini, mungkin kamu sudah mati karena efek samping dari mode Eternal Snow...”


Waktu itu aku menyaksikan kebangkitan dari dewa baru yang sangat keras kepala... Yugi merupakan tuanku yang baru, dia berbeda dengan orang-orang yang pernah menggunakanku sebelumnya. Aku ingin melindunginya... aku tidak peduli jika harus mengorbankan diriku... aku hanya ingin melihatnya bahagia... Yugi, suatu saat nanti aku ingin hidup bersamamu.


Yui menempelkan keningnya dengan milik Yugi, sebuah cahaya biru keputihan menyinari tubuh mereka. Tidak lama sinar yang menyilaukan itu mulai mereda dan menampakkan Yui yang mencium Yugi tepat dibibirnya. Ciuman itu begitu lama, bibir ranum, kecil dan lembut itu mencium Yugi dengan penuh kasih sayang tanpa ada nafsu sedikit pun.


Tidak lama Yui melepaskan ciumannya dan menatap wajah tampan Yugi. “Cepatlah bangun, dasar tukang tidur...” ucap Yui dengan senyuman cantik diwajahnya.


Tiba-tiba mata Yugi mulai bergerak dan membukanya secara perlahan. Di garis pandangannya dia melihat Yui yang tersenyum kecil kearahnya. Sedikit dia mulai menggerakkan bagian tubuhnya yang lain, dengan sekuat tenaga Yugi berusaha bangun sambil memegang kepalanya yang sakit. “Dimana aku...?”


“Kau ini bicara apa sih, tentu saja di dimensi buatanku... aku membawa kesadaranmu kesini.” Jawab Yui.


“Begitu ya... terakhir kali yang kuingat...” Yugi mengingat tentang pertarungannya dengan Rexas. “Bagaimana dengan pertarungannya...?” Tanya Yugi dengan panik menatap Yui.


Yui hanya memandang yugi dengan senyuman agak dipaksakan dan menjawab seadanya. “T-tenang saja, kamu yang menang, perjodohan itu sudah dibatalkan...”


“Syukurlah, setidaknya aku bisa istirahat sekarang... oh ya, berapa lama aku tertidur?” tanya Yugi.


“Satu minggu...” jawab Yui datar.


“Oh...” untuk sesaat Yugi belum menyadari akan perkataan Yui. “APAAAA... SATU MINGGUUU...”


“Kau ini benar-benar bodoh ya... kenapa baru sadar sekarang.” Ejek Yui.


“Tubuhmu sedang kritis sekarang, mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan diri...” Jawab Yui.


“Begitu ya, maaf membuatmu khawatir.” Ucap Yugi dengan nada menyesal.


“Hah... siapa juga yang khawatir... hmph.” Balas Yui acuh sambil memalingkan wajahnya dengan imut.


‘Kenapa sekarang sifatnya mirip Elna...’ batin Yugi.


“Sudahlah, sebaiknya kamu kembali dulu ke dunia nyata, ada seseorang yang sedang menunggumu...” ucap Yui dengan ekspresi tidak suka.


“Kenapa kamu terlihat marah begitu, lagian siapa yang sedang menungguku?” Tanya Yugi penasaran.


“Kamu lihat saja sendiri...” ucap Yui acuh.


“Baiklah...” balas Yugi dengan nada lelah. ‘Mungkin lain kali saja aku tanyakan?’ batin Yugi.


Yugi memejamkan kedua matanya secara perlahan. Kegelapan menyelimutinya, tapi dia merasakan kedua tangannya digenggam oleh seseorang. Yugi membuka kembali matanya secara perlahan, terlihat olehnya langit-langit bangunan yang tampak asing. Karena merasakan genggaman di kedua tangannya, Yugi melirik sisi kanan dan kirinya, disana dia melihat dua bidadari cantik yang tengah menggenggam kedua tangannya dengan tangan halus mereka. Mereka adalah Elna dan Elsa, entah kenapa Yugi merasa nyaman digenggam seperti itu.


‘Sepertinya aku telah membuat dua orang ini khawatir, apa yang harus aku katakan nanti ya...’ batin Yugi sambil memejamkan mata.


Genggaman di kedua tangannya semakin erat, membuat Yugi tau betapa mereka sangat mengkhawatirkannya. Tanpa sadar Yugi juga menggenggam mereka erat seolah membalasnya. Karena merasakan genggaman seseorang, ke dua orang ini terbangun dan menatap Yugi yang sudah sadar dari tidur lamanya. Untuk waktu yang lama mereka saling menatap satu sama lain, penuh kekhawatiran yang ditunjukkan untuk Yugi.


“Akhirnya... hiks hiks... akhirnyaa...” Elsa menangis dengan sejadi-jadinya, begitu pula Elna yang tidak bisa berkata apapun lagi. Hanya sebuah air mata saja yang mengalir dipipi mereka.


Yugi yang melihat itu tidak tega dan ingin mengubah suasana yang terlihat sedih ini. “Selamat pagi... sepertinya aku tertidur cukup lama ya.” Ucap Yugi dengan senyuman lembut.


“Yugi...”


“Kak Yugi...”


Elna dan Elsa memeluk Yugi dengan erat, seolah tidak mau kehilangannya. Rasa nyaman Yugi rasakan tatkala kedua kakak beradik ini saling menyalurkan kenyamanan pada Yugi.


Untuk sesaat aku merasa waktu berhenti... sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan ini. Rasa khawatir dari seseorang yang sangat tulus pada dirinya... aku merasa tidak pantas mendapatkannya, tapi untuk sekali ini saja, biarkan aku menikmatinya...


“Kamu sudah sadar petualang Yugi...” sang kaisar kerajaan Northern Esla, Reulad masuk kedalam ruang rawat Yugi bersama dengan istrinya Raniya.

__ADS_1


“Yang Mulia Raja Reulad...” kaget Yugi yang menyadari kehadiran Reulad.


“”Ayahanda”” jawab Elna dan Elsa secara bersamaan, mereka mengakhiri acara saling peluknya karena kedatangan kedua orang tua mereka.


“Mouuuu... ayah mengganggu saja.” Rujuk Elna dengan nada imut.


“Maaf ya, Ibu dan Ayah ada perlu sama nak Yugi... nanti kamu bisa berduaan lagi sama kak Yugimu itu.” Goda sang ratu yang berhasil membuat Elna merona merah.


“Ayah, Yugi baru saja sadar, aku harap kal-...”


Perkataan Elsa di potong oleh Reulad dengan nada ramah. “Tenang saja, ayah hanya mau melihat keadaan Yugi. Setelah ini ayah ingin kalian berkumpul di ruang utama... ada hal yang ingin ayah bicarakan.”


Setelah itu Reulad dan Raniya pergi dari ruang perawatan itu meninggalkan Yugi bersama dengan dua kakak beradik.


“Jadi, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Yugi sekedar basa basi, karena dia sudah di beritahu oleh Yui. Hal itu untuk mencairkan suasana yang sempat canggung sebelumnya.


“Kalau di hitung sampe hari ini, kamu sudah tidur selama seminggu.” Jawab Elsa.


“Dan tambahan, sekarang bukan pagi, tapi sudah malam...” lanjut Elna.


“Ternyata selama itu ya, aku memang payah, sepertinya harus lebih banyak berlatih lagi.” Ucap Yugi dengan nada lelah.


“Tapi kak Yugi sangat hebat, dari mana kakak memiliki kekuatan seperti itu?” tanya Elna sangat penasaran dengan wajah memelasnya yang membuat siapa saja tidak tahan hanya sekedar untuk menolak permintaannya.


“Akan kakak beritahu, tapi bukan sekarang. Kamu harus bersabar ya...” balas Yugi dengan kedipan matanya yang jahil.


“Mouuuuu...” Elna pun ngambek di jahili seperti itu.


“Jangan marah... nanti kakak ajak jalan-jalan dengan sayap kakak bagaimana?” ucap Yugi sambil membujuk Elna dengan lembut.


“Aku mau aku mau... yeeeeee terbang terbaaannggg...” teriak Elna sambil berlari-lari keluar dengan cerianya.


“Dasar, adikku itu memang mudah dirayu...” Elsa memandang adiknya dengan senyuman hangat seorang kakak.


“Dia tidak jauh beda dengan kakaknya ini.” Ucap Yugi sambil tersenyum jahil.


“Aku ini tidak manja...” balas Elsa tidak mau kalah.


“Heeee benarkah... terus siapa yang berteriak saat aku sedang bertarung di arena?” tanya Yugi dengan nada mengejek.


“Kau ingin merasakan dinginnya neraka...” ancam Elsa dengan aura penuh kekesalan.


“Tidak tidak... lagian bukannya neraka itu panas ya.” Jawab Yugi dengan nada bercanda.


“Yuuuuuugggggiiiiiii...”


Saat itu, Yugi tau ini akan terjadi...


DUuuaaaarrrrrr


“Aaaakhhhhh diiiinnnggggiiiinnnnnn...”


Diruang utama kerajaan, semua anggota kerajaan berkumpul termasuk para empat tetua dan kepala dan wakil kepala pelayan serta Yugi. Mereka akan membahas soal rahasia yang sudah Yugi beberkan didepan umum mengenai senjata suci legendaris dimasa lalu. Tentu itu membuat semua orang terkejut yang mengetahui tentang senjata itu. Apalagi para tetua yang sudah mencari senjata itu bertahun-tahun, dan sekarang senjata itu digunakan oleh seorang pemuda petualang dari kerajaan Aries.


Yugi duduk seorang diri di tengah lingkaran yang dikeliling oleh orang-orang penting yang mengetahui soal benda peninggalan yang dimiliki oleh Yugi.


Empat tetua dari kerajaan Northern Esla terdiri dari Thorn, Ares, Pieros, dan Kars. Mereka merupakan orang-orang yang sudah mengabdi pada kerajaan Northern Esla berpuluh-puluh tahun. Jadi mereka mengetahui seperti apa senjata suci Eternal Snow, karena mereka lah yang melakukan penelitian dan pencarian mengenai senjata itu. Hanya saja mereka tidak tahu alasan kenapa raja sebelumnya menyegel senjata tersebut secara diam-diam, yang kemudian senjata dewa itu hanya menjadi legenda yang tidak diketahui keberadaannya. Dan sekarang didepan mereka, dengan mata kepala mereka sendiri, akhirnya dapat melihat kembali senjata itu. Tapi yang mereka tidak duga adalah senjata itu di gunakan oleh orang lain yang bukan dari kerajaan Northern Esla.


“Ehem, bagaimana kalau kita mulai saja yang mulia...” ucap tetua Thorn yang berada didepan yugi bersama dengan tiga tetua lain, dan disamping mereka ada anggota kerajaan yang terdiri dari raja, ratu, putri pertama dan kedua serta dua pelayan yang akan mengikuti rapat tersebut.


“Silahkan...” jawab sang raja dengan nada wibawanya.


“Terima kasih...” balas tetua Thorn dengan suara beratnya.


‘Aku tau ini akan terjadi.’ Batin Yugi.


[“Itu semua salahmu...”]


‘Iya ya aku tau...’


“Baiklah, pemuda petualang Yugi... kami berkumpul disini ingin meminta penjelasan mengenai senjata yang kau gunakan saat duel seminggu yang lalu.” Ucap sang tetua Kars yang berada di tengah, dengan perawakannya yang sudah sangat tua dengan jenggot putih didagunya serta kumis yang tebal.


Disini... aku akan membeberkan sebuah rahasia yang sudah aku sembunyikan selama ini. Entah takdir apa yang akan menungguku...


Aku akan menerimanya apapun itu...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2