
Waktu telah berlalu, dan sekarang hari sudah hampir menjelang sore. Dengan begitu kompetisi kerajaan Eartfil akan dimulai kembali. Sekarang merupakan duel terakhir dari babak semi final sebelum menuju final. Yang akan bertarung adalah peserta yang berasal dari dua kerajaan yang berbeda. Kedua peserta ini sudah menyelesaikan seperempat final dan akhirnya akan bertemu dibabak semi final ini.
“Mari kita lanjutkan babak semi final ini, kedua peserta dipersilahkan masuk.”
Dengan instruksi dari sang wasit, maka dua peserta yang menjadi lawan terakhir dalam babak semi final ini, langsung saja memasuki arena. Mereka memasuki arena dari pintu yang saling berlawanan. Satu pemuda berambut merah sedikit jingga, yang merupakan pangeran dari kerajaan Vouleftis. Dia mengenakan pakaian petarungnya, yang berwarna merah api yang begitu ganas, berjalan penuh percaya diri akan kemenangan, tapi tatapan matanya masih tajam menandakan kewaspadaannya terhadap sang lawan.
Sementara itu, lawannya yang mengenakan jubah serba hitam sampai hodie nya menutupi kepala, sehingga tidak nampak wajahnya. Berjalan dari sisi berlawanan, dia mengeluarkan aura siap bertarung kapan saja, sehingga membuat para penonton agak segan saat menatap orang tersebut.
Ketika kedua peserta ini sudah berada tepat di tengah arena, maka sang wasit mulai berkata lagi. “Inilah peserta terakhir dari babak semi final ini. Yang pertama sang Pangeran kerajaan Vouleftis. Rexas Vouleftis...”
“Pangeran Rexas...”
“Sungguh tampaaannn...”
“Sikapnya yang dingin keren sekali~~~...”
Begitulah teriakan para fans sang Pangeran. Yang kebanyakan dari mereka adalah perempuan, yang mengagumi ketampanannya. Apalagi sekarang dia mengenakan pakaian yang menambah daya tariknya.
__ADS_1
“Peserta kedua yang akan menjadi lawan sang Pangeran, dia adalah sang petualang dari kerajaan Eartfil. Lugi...”
Entah kenapa semua penonton jadi terdiam, mereka seperti dibuat bungkam oleh aura kuat dari petualang berjubah serba hitam itu. Apalagi dia mengenakan topeng kucing, sehingga wajahnya benar-benar tidak terekspos sedikit pun.
“Baiklah, seperti biasa. Peraturan dari kompetisi ini masih tetap sama, jadi kalian harus menaatinya. Dengan ini aku nyatakan pertarungan terakhir dari babak semi final...”
Sesaat sang wasit menjeda perkataannya, kedua peserta terlebih dahulu mundur untuk menjaga jarak. Sambil mereka berdua memasang kuda-muda menyerang dan menunggu kelanjutan dari wasit.
“DIMULAI...”
Baik Lugi maupun Rexas, ketika mendengar tanda dimulainya pertarungan. Mereka pun saling melesat satu sama lain dengan tangan kanan masing-masing yang sudah terlapis elemen yang berbeda. Elemen api ditangan Rexas dan elemen tanah ditangan Lugi. Keduanya memangkas jarak sampai bertemu dititik benturan.
Keduanya saling meninju kesatu sama lain dengan ledakan yang cukup kuat. Sampai tanah dibawahnya meledak, lalu mereka pun mengambil jarak kembali. Tapi itu tidak lama saat Rexas langsung menerjang lagi dengan kedua kakinya sebagai tumpuan untuk melompat kedepan. Ditangan kirinya sudah berkobar api yang begitu panas, lalu dia tinju api itu kearah Lugi, yang dimana dia menargetkan pipi kiri sang lawan.
Duuuuaaarrrr
Tapi sayangnya Lugi juga melakukan hal yang sama, yaitu menggunakan tinju tangan kirinya yang berlapis elemen tanah. Sehingga dia dapat menghalau serangan api milik lawannya. Kedua peserta ini masih saling mendorong satu sama lain dengan tinjunya itu.
__ADS_1
“Kau belum serius kan?”
“Kau juga.”
Rexas dan Lugi masih sempat berbincang di tengah dorongan masing-masing tinju mereka. Seolah tidak mau kalah dan tetap berusaha mendominasi. Disaat merasa sudah cukup, keduanya menarik kembali tinju api dan tanah itu, kemudian mengambil jarak aman dari musuhnya.
“Akan kuperlihatkan sedikit kekuatanku.” Lugi mengangkat kedua tangannya ke atas, seketika itu tanah mulai bergetar dibawah kaki mereka. Seolah terjadi sebuah gempa, tidak lama muncullah duri-duri tanah yang langsung mengepung Rexas seperti sebuah penjara. Sehingga sang Pangeran tidak dapat keluar dari kurungan tersebut. “Harusnya kau dapat keluar dari sana kan, Pangeran...”
“Kau terlalu meremehkanku.” Rexas sedikit kesal dibuatnya, dengan elemen api di kedua tangannya, dia merentangkan kedua tangannya kemudian memancarlah sebuah api selayaknya pedang. Lalu tubuhnya dia putarkan tiga ratus enam puluh derajat, sampai semua tanah runcing yang mengurungnya terbelah tanpa sisa. Setelah selesai, Rexas kembali berdiri dengan tegak tanpa merasa pusing, lalu dia berkata. “Bagaimana?”
“Tidak buruk Pangeran.”
“Sepertinya kita memiliki pandangan berbeda tentang keseriusan.”
“Owh begitu ya, bagaimana kalau Anda duluan yang serius. Mungkin saya akan mengikutinya sesuai kekuatanmu, Pangeran.”
Seolah ditantang oleh si petualang Lugi ini, maka Rexas pun mengikuti permainannya. Karena dia juga ingin segera menyelesaikan pertarungan ini.
__ADS_1
“Baiklah, perhatikan baik-baik... Aigeto.”
Bersambung