
Aliran waktu terus berjalan, menuju masa depan yang tidak terduga. Aku sempat berpikir apa waktu bisa berhenti, tentu saja itu hanyalah khayalan anak kecil yang egois. Ini tentang diriku yang menanggung beban harapan semua orang... terutama kedua orang tuaku.
Tempat gelap yang dipenuhi oleh obor yang melingkar, terlihatlah seorang bocah laki-laki bersurai jingga merah layaknya api sedang berdiri di hadapan sebuah pedang dengan gagang merah menyala seperti kobaran api yang ditengahnya terdapat lambang naga dengan sayap terbentang lebar. Didalam sana bukan hanya bocah itu saja, tetapi juga satu orang lelaki dewasa yang mirip dengan bocah itu dalam versi dewasa, dan juga tiga orang yang terlihat sudah tua dan berjanggut tengah melihat anak kecil itu dari kejauhan.
“Segera dimulai ritualnya.” Ucap salah satu orang tua yang di tengah dengan suara baritonnya.
Bocah lelaki itu pun mulai mengulurkan tangannya untuk menggenggam pedang itu. Untuk sesaat tangannya merasakan sengatan panas yang teramat tapi itu tidak membuatnya gentar. Di genggamnya kuat pedang tersebut sampai beberapa detik kemudian pedang itu mulai bersinar terang dan membuat hawa panas di ruangan tersebut.
“...” orang yang terlihat seperti ayah dari bocah itu hanya menatap diam saat cahaya terang itu mengenainya.
Aku tidak tau kenapa, tapi rasa ditanganku ini terasa begitu panas. Sangat panas... aku tidak tahan lagi, aku ingin melepas pedangnya... saat itu aku menyadari, bahwa kehadiranku di tolak olehnya.
Kerajaan Eartfil tengah mengadakan kompetisi yang merupakan tradisi saat anak tertua mereka akan menginjak dewasa. Kompetisi ini diadakan untuk memberikan pasangan yang sesuai bagi anak seorang raja. Pertandingan ini sudah berlangsung cukup lama, dimana terdapat dua orang pemenang dalam kompetisi sebelumnya. Sekarang pertarungan akan segera di mulai kembali, layar di atas arena mulai mengacak kembali nama para peserta. Yugi dan Maruya yang sebelumnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya kini tengah duduk di bangku penonton bersama Vira dan Maria untuk menonton pertandingan selanjutnya.
“Baiklah nama peserta sudah terlihat.” Ucap sang wasit dengan suara menggemanya membuat semua orang penasaran siapa selanjutnya yang akan bertanding. “Ini dia... Reda, Buldi, Gurdi dan seorang pangeran dari kerajaan Vouleftis... Rexas Vouleftis.” Ucap Rud sambil menunduk hormat pada pangeran Rexas.
“Whaaaaaa....”
Semua penonton menatap kearah pangeran Vouleftis, mereka tidak memperdulikan peserta yang lain. Bahkan para wanita menatap Rexas dengan pandangan hati yang berbunga dan meneriakkan namanya dengan penuh suka cita.
“Pangeran Rexas tampan sekali...”
Teriakan para wanita yang ngefans sama Rexas membuat ketiga peserta itu merasa iri pada sang pangeran.
Sementara di bangku penonton terlihat Yugi yang syok melihat pangeran kerajaan Vouleftis itu. Pasalnya dia tidak tau kalau Rexas mengikuti kompetisi ini.
“Lihat kak, itu pangeran Vouleftis.” Ucap Maria dengan antusiasnya.
“Iya, kakak juga melihatnya. Sepertinya kompetisi ini akan sangat berat, bukan begitu Yugi.” Ucap Maruya sembari menatap ke arah orangnya.
Sementara Yugi sendiri tidak merespon perkataan Maruya, pandangannya masih tetap melihat kearah pangeran Vouleftis itu. Maruya yang melihat keanehan Yugi hanya mampu menatapnya bingung.
‘Aku tidak menyadarinya, seharusnya aku tau kalau dia ada disini. Tapi sejauh ini aku tidak bisa merasakan hawanya. Seolah dia menekannya begitu rendah sampai aku tidak bisa mendeteksinya. Apakah Yui juga tidak bisa mendeteksi hawa Rexas?’ Batin Yugi bertanya-tanya.
“Oy Yugi...” panggil Maruya, tapi tidak ada respon dari orang yang dipanggilnya. “OY YUGI...” teriak Maruya yang mulai jengah.
“Ah...” Yugi tersadar akan lamunannya dan menatap kearah orang yang memanggilnya. “Ada apa Maruya?” tanya Yugi dengan nada biasanya.
“Ada apa ada apa, sedari tadi aku memanggilmu tahu, tapi kau diam saja. Kau baik-baik saja kan?” tanya Maruya sedikit khawatir.
“Y-ya, aku baik-baik saja. Hanya saja, aku terpaku pada pangeran Vouleftis itu. Hawa kekuatannya begitu tipis sampai aku tidak bisa merasakannya.” Ucap Yugi.
“Kau juga merasakannya ya, begitulah pangeran kerajaan kami. Kau tahu, katanya sang pangeran kalah berduel dengan seorang pemuda untuk memperebutkan tuan putri dari kerajaan Northern Esla. Semenjak saat itu pangeran Rexas selalu berlatih sampai tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan yang mulia sendiri tidak bisa menenangkannya. Dan saat latihannya selesai dia kembali dengan kekuatan luar biasa, bisa kau rasakan sendiri. Hawa di sekelilingnya begitu berat dan menekan, seperti kita sedang berdiri dengan hewan buas.” Jelas Maruya panjang lebar dengan menggidikkan badannya takut.
Yugi yang mendengar tentang memperebutkan tuan putri itu hanya bisa tertawa canggung, sebab pemuda yang di maksud oleh Maruya adalah dirinya sendiri, tapi untungnya dia tidak tahu itu. Yugi tidak takut sama sekali, bahkan dia sampai tersenyum senang seolah ini merupakan momen yang sangat langka untuknya.
“Aku ingin bertarung dengannya.” Ucap Yugi dengan nada percaya diri.
“Kau benar, aku juga sangat bersemangat ingin bertarung dengan pangeran. Tapi sebelum itu aku ingin mengalahkanmu duluan Yugi.” Tantang Maruya dengan senyuman semangatnya.
“Tentu saja, aku juga ingin bertarung denganmu.” Balas Yugi tidak mau kalah. ‘Karena kita adalah Dragon Slayer.’ Batinnya.
Ditempat arena, Rexas terlihat begitu bosan menatap lawan-lawannya. Pandangannya teralih kepada satu pemuda yang berada di bangku penonton, senyuman menantang dia arahkan pada pemuda surai putih salju yang tidak lain adalah Yugi.
‘Aku ingin sekali bertarung lagi denganmu. Yugi...’ batin Rexas.
Dibangku penonton, Yugi sendiri menatap kearah Rexas seolah membalas tatapan matanya yang menantang. ‘Aku berharap kita bisa bertarung kembali Rexas.’ Batinnya.
“Yare yare sepertinya pangeran kerajaan Vouleftis tidak menganggap kami ya.” Ucap Reda sambil menenteng tombak di tangan kanan ke bahunya sendiri. Pakaiannya hanya terbalut oleh kain tisu yang diikat layaknya mumi dengan celana hitam selutut dan sandal petualangnya. Rambut hitamnya terlihat begitu acak-acakan di tambah tato di bagian otot lengannya. Mata hitamnya menatap tidak suka pada pangeran Vouleftis itu.
“Hanya karena kau pangeran dan sedikit tampan mereka menyanjungmu begitu meriah, itu sangat menyebalkan.” Ucap Gurdi, dia terlihat begitu gendut dengan pakaian hitam berkerah sampai lehernya tertutup. Dia menggigit semacam cerobong untuk menghisap asap rokok di mulutnya dengan kepala botak dan mata hitam yang menatap tajam kearah Rexas. Dia memakai sepatu yang ujungnya runcing ke atas seperti sepatu Aladin.
“Kami sudah sepakat akan mengalahkanmu duluan pangeran. Karena kami tau kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Rumor yang beredar tentang kau yang berlatih keras sampai memiliki kekuatan yang bahkan tidak pernah orang lain duga. Walau kami sendiri tidak tau sekuat apa itu tapi kami tidak bodoh untuk melawanmu satu lawan satu.” Jelas Buldi dengan pakaian petualang berwarna biru dengan rambut hitam panjang yang diikat ke belakang. Mata hitamnya menatap tajam kearah Rexas sama halnya dengan kedua orang tadi. Mereka semua menatap satu lawan yaitu pangeran Vouleftis.
“Hemph, kalian memilih pilihan yang tepat. Dengan begini pertarungannya tidak akan berakhir dengan cepat.” Ucap Rexas dengan penuh keyakinan akan kemenangannya.
“Tidak usah menunda lebih lama lagi, pertarungan... di MULAI.” Teriak Rud.
“Aku duluan.” Pria yang membawa tombak langsung melesat kearah Rexas dengan kecepatan tinggi.
Rexas menarik pedang yang berada di pinggang kiri dan memposisikan nya di depan dengan gestur santai tapi terlihat kokoh. Tombak dari Reda menusuk lurus kearah dada Rexas, tidak mau tertusuk tombak itu, tangan kanan pangeran Vouleftis itu bergerak untuk melindungi dadanya menggunakan pedang merah api miliknya.
Trank
Satu ayunan keras dari Rexas membuat tusukan tombak Reda meleset kearah sisi kanan Rexas, tidak berhenti disana satu tendangan keras kaki kanan Rexas layangkan tepat mengenai pinggang kiri Reda sampai dia terpental kearah kanannya dengan cukup keras.
Duuuurrrrt
Hantaman tubuh Reda dengan tanah membuat suara tabrakan yang cukup keras terdengar oleh penonton lainnya. Kedua lawan Rexas hanya tercengang akan pertarungan yang singkat antara Rexas dan Reda. Yugi juga terkejut melihatnya, dia tidak menyangka kalau perkembangan pangeran Vouleftis itu bisa secepat ini.
“Ghuuk uhuk...” Reda terbatuk-batuk sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit, darah segar keluar dari sudut bibir sebelah kanannya. Dia terlihat begitu marah pada pangeran Vouleftis itu. “Sial kau...” rintihnya marah.
“...” Rexas hanya diam saja menatap datar Reda yang kesakitan akibat ulahnya.
Fyuuuuhhhhhh
Tiba-tiba angin bertiup di sekitar Rexas dan mengelilinginya. Dari luar terlihat seperti tornado yang membungkus pangeran Vouleftis itu. Terlihatlah seorang pria bersurai hitam panjang di ikat ke belakang yang merupakan dalang dari penyerangan itu.
__ADS_1
“Jangan lupakan aku pangeran.” Ucap Buldi.
“Kau mengurungku dalam lingkaran angin ini, lumayan juga.” Tangan kiri Rexas terangkat dan menciptakan bola api, tapi tidak lama bola api itu lenyap entah kemana.
“Harusnya Anda tahu pangeran, api tidak akan terbentuk tanpa adanya udara.” Ujar Buldi dengan senyuman kemenangan.
‘Benar apa yang dikatakan oleh pengguna angin itu. Tapi tornado itu mungkin bukan apa-apa buatnya. Karena aku melihat Rexas tidak merasakan sesak napas sama sekali. Jika memang didalamnya tidak ada udara, lalu kenapa Rexas baik-baik saja.’ Batin Yugi meneliti keadaan pangeran itu.
“Trik yang bagus...” ucap Rexas.
“K-kau tidak merasakan sesak pada pernafasanmu. Padahal tidak ada udara didalamnya.” Teriak Buldi.
“Memang benar tidak ada udara disini, dan manusia pasti akan mati tanpanya. Tapi bagiku, walau hanya sedikit udara saja itu sudah cukup.” Perkataan Rexas dibarengi dengan api yang menjalar hebat sampai menyatu dengan tornado itu dan menciptakan tornado api yang begitu ganas.
“B-bagaimana mungkin.” Kaget Buldi tidak percaya akan apa yang dilihatnya, pangeran Rexas bisa mengeluarkan begitu banyak api dan menyatu dengan tornado sehingga terbentuklah tornado api. “Bagaimana kau menciptakan api didalam tornado milikku, seharusnya sudah tidak ada udara didalamnya.” Bingung Buldi.
“Seharusnya kau melihat lebih teliti lagi, itulah yang membuatmu salah perhitungan.” Tangan kanan Rexas yang menggenggam pedang dia acungkan ke atas seolah memerintahkan api tornado itu.
“T-tidak mungkin, itu mustahil. Tornado milikku kau kendalikan.” Ucap Buldi terbata.
Api itu mulai berputar kencang dan menerjang kearah Buldi seperti bor yang menggali tanah.
Duuuuuuuaaaaarrrrrr
Ledakan yang begitu besar dengan angin yang menghempaskan debu dengan banyaknya sehingga terlihatlah deburan tanah yang begitu tebal menutupi arena tempat serangan itu mendarat.
“Kata-katanya terlalu sulit dipahami ya.” Ucap Yugi.
“Apa yang sebenarnya terjadi guru?” tanya Vira yang bingung.
“Akan kujelaskan, saat sebuah lilin ditutupi oleh gelas maka lilin tersebut pasti mati. Itu karena tidak ada udara didalamnya. Udara itu tidak hanya untuk bernafas saja, tapi merupakan syarat untuk membuat api. Tanpa udara, api tidak akan menyala. Tapi pangeran Vouleftis itu, dia sebenarnya melindungi tubuhnya dengan energi tipis sampai tidak bisa dilihat oleh lawannya. Pelindung itulah yang membuatnya masih bisa bernafas, maksud perkataannya itu meski hanya sedikit udara itu sudah cukup untuk membuatnya terbakar. Dengan kata lain udara sedikit yang berada didalam pelindungnya itu sudah cukup untuknya membuat kobaran api yang besar. Kau mengerti sekarang Vira...” jelas Yugi yang begitu panjang. Bahkan Maruya hanya mampu terbengong akan penjelasan temannya itu. Sementara Vira hanya mengangguk mengerti akan penjelasan gurunya itu.
“Aku tau kakak tidak akan mengerti.” Ucap Maria sambil menahan tawa.
“D-diamlah, aku juga mengerti.” Bohong Maruya dengan malunya, karena dia itu tidak pernah mengerti akan penjelasan yang rumit.
Rexas berjalan pelan mendekati kepulan debu yang dia buat. “Tornado milikmu sudah menyatu dengan apiku, karena itulah aku bisa mengendalikannya.” Ucap Rexas.
“Hraaaa...” Reda yang sebelumnya sempat terluka kini mulai menyerang Rexas kembali dengan tombak menusuk tajam kearah kepala lawannya.
“Menyerang dari belakang heh...” membalikkan badannya dengan cepat sambil menebas udara kosong dengan pedang merahnya dan terbentuklah sabit api yang melesat kearah lawannya.
Serangan Rexas itu dipatahkan oleh sang pengguna tombak dengan aura yang mengelilingi tombak itu dan masih saja melesat menusuk ke depan. Serangan lurus menusuk itu seperti anak panah yang melesat membuat udara di sekitarnya terbelah oleh tusukan aura hitam di sekelilingnya.
“Bisa mematahkan serangan apiku. Lumayan juga...” Rexas membentuk kuda-kuda menebas secara vertikal dari atas kepalanya. “Bagaimana kalau yang ini.” Ayunan kuat nya secara vertikal ke bawah membentuk sebuah sabit api kembali, tapi kali ini tekanannya sangat kuat. Sampai membuat tanah di bawahnya ikut terbelah seiring jalurnya yang melesat kearah lawannya yang berada didepannya.
Kratak kratak kratak
Suara retakan tanah yang membelah jalurnya yang begitu lurus ke depan tanpa halangan terdengar begitu tajam dan terfokus.
Reda yang melihat serangan itu tidak takut, dia memperkuat aura di tombaknya dan membuatnya semakin padat dan kuat dari sebelumnya. Gerakannya semakin cepat meluncur layaknya roket yang mendebur kuat sampai tanah yang dipijaknya ikut terangkat saat dia melesat melaluinya.
Duuuuuuuaaaaarrrrrrr
Kedua serangan itu akhirnya bertemu dan mengakibatkan ledakan kembali yang begitu besar. Sang pengguna tombak yang terkena gelombang kuat itu langsung terpental karena serangannya ternyata kurang kuat dibanding tebasan api kental dari Rexas. Dia pun akhirnya tepar di tempat dengan tombaknya yang patah di samping kanannya. Melihat itu Rexas tau kalau dia sudah menang melawannya.
“Sepertinya aku menang.” Ucap Rexas dengan senyuman kemenangan.
“Ini belum berakhir pangeran. Khahaha...” tawa seseorang membuat Rexas terbingung dan melihat sekelilingnya untuk menemukan orang tersebut. “Aku disini...” ucap suara itu yang tidak lain adalah peserta terakhir yaitu Gurdi.
“Astaga aku melupakannya.” Ucap Rexas dengan polosnya.
“Sialan yang benar saja, aku sedari tadi disini.” Teriak marah Gurdi yang diabaikan.
“Itu salahmu karena dari tadi diam saja.” Balas Rexas tidak peduli.
“Cih, ah sudahlah. Lagi pula berkat mereka berdua aku memiliki waktu untuk mempersiapkan ini.” Ujar Gurdi.
Beberapa saat kemudian baru saja Rexas menyadari bahwa dirinya sudah terkepung oleh gelembung yang begitu banyak dan seukuran dua kali lipat ukuran manusia. Bisa saja manusia itu masuk kedalam gelembung tersebut saking besarnya. Dan tentu saja itu bukanlah gelembung biasa. Gurdi tersenyum kemenangan saat semua gelembung itu mulai mendekati Rexas.
“Gelembung apa ini?” tanya Rexas entah pada siapa.
“Aku yang membuat semua itu dengan cerobongku ini.” Ucap Gurdi sambil mengelus cerobong yang biasanya di pakai buat menghisap asap yang berada dimulutnya. “Berakhir sudah pangeran.” Senyuman sinis terlihat jelas di wajah Gurdi.
“Memangnya apa yang bisa gelembung ini lakukan.” Ucap Rexas sambil menebas salah satu gelembung yang mendekatinya.
Duar
Secara tiba-tiba gelembung itu meledak saat pedang Rexas menebasnya. Tubuhnya pun terkena gelombang ledakan sampai terpental ke belakang, tapi dengan sigap dia menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak terjatuh ketanah.
“Itu meledak.” Kaget Rexas.
Dibangku penonton, Yugi juga ikut terkejut. Dia tidak tau kalau gelembung itu bisa meledak seperti itu. Kedua matanya dia fokuskan untuk melihat unsur dari gelembung itu.
“Sudah kuduga, pria itu membuat gelembung sebagai wadahnya dan membuat gelembung peledak.” Ucap Yugi.
“Wadah?” tanya Vira.
__ADS_1
“Yugi, tolong jelaskan dengan sederhana.” Pinta Maruya dengan wajah bingungnya.
“Pffttt...” sementara Maria berusaha mati-matian supaya dia tidak tertawa, tapi itu bisa diketahui oleh Maruya sehingga dia sedikit kesal pada adiknya itu.
“Begini, energi mana didalam tubuh seorang penyihir bisa dimanipulasi jadi apapun. Karena pada dasarnya energi mana hanyalah energi netral dimana tidak terdapat elemen. Berbeda dengan sihir elemen karena itu sudah merupakan turun temurun. Sementara energi mana hanyalah energi yang digunakan untuk membuat sihir elemen itu bekerja. Jika kita mengubah energi mana dan mengompresnya dengan tekanan yang kuat maka dia akan meledak. Biasanya itu disebut sihir ledakan, tidak banyak dari mereka mempelajari sihir ini karena ini merupakan sihir yang tidak terlalu diminati. Orang itu menjadikan gelembung sebagai wadah untuk menyimpan tekanan mana yang sudah di kompres sehingga jika ada yang menghancurkannya maka gelembung itu akan meledak, cerobong dimulutnya itulah yang digunakan untuk membuat gelembung peledak.” Jelas Yugi yang menjelaskan begitu panjangnya mengenai jurus musuh tersebut.
“Jadi maksudmu didalam gelembung itu terdapat tekanan mana yang kuat.” Ucap Maruya memastikan.
“Begitulah.” Jawab Yugi singkat.
“Wahhh, aku tidak tahu kakak akan mengerti.” Kagum Maria seolah tidak mempercayai kalau kakaknya itu mengerti akan penjelasan panjang lebar dari Yugi.
“Jangan berbicara seolah kakakmu itu sangat bodoh sampai tidak mengerti akan penjelasan Yugi.” Kesal Maruya dengan perempatan di kepalanya.
“Tehe... aku memang berpikir begitu tadi.” Ucap Maria dengan polosnya.
“Dasar kau itu...” Maruya mencubit gemas adiknya itu sambil tersenyum senang.
“Sakit, itu sakit kakak hemph...” ambek Maria yang begitu imut.
“Hahahaha...” Vira tertawa senang melihat kelakuan kakak beradik itu.
“Mereka begitu akrab ya.” Ucap Yugi di samping Vira.
“Iya...” balas Vira.
Setelah melihat kakak beradik itu, Yugi kembali menatap kearah arena dimana Rexas terkepung oleh gelembung yang begitu banyak.
“Ternyata banyak juga gelembung peledaknya.” Gumam Rexas dengan tenangnya.
“Bagaimana kalau kau menyerah saja pangeran, dengan begitu aku akan menghilangkan semua gelembungnya dan kau akan selamat.” Ucap Gurdi yang memberikan penawaran pada Rexas untuk mengaku kalah.
“Memang aku tadi sempat terkejut, tapi sayangnya aku tidak pernah berniat untuk menyerah.” Tanpa diduga Rexas menancapkan pedangnya ketanah dengan keras.
Semua penonton terkejut akan tindakan Rexas. Mereka bingung apa yang sedang dilakukan oleh pangeran Vouleftis itu.
“Apa yang sedang dia lakukan?” tanya Maruya bingung.
“Mungkinkah... apa dia berencana melakukan itu.” Ucap Yugi yang membuat Maruya menatap bingung kearah nya.
“Oy oy apa yang Anda lakukan pangeran?” ucap Gurdi santai seolah yang dilakukan oleh Rexas tidak mengancamnya.
Tapi pertanyaannya itu tidak Rexas gubris. Dia sedang menutup mata sambil mengalirkan energi ke pedangnya.
“Jika kau diam saja maka gelembung itu akan semakin dekat dan meledak.” Ucap Gurdi menakuti Rexas.
Tapi sayang hal itu lagi-lagi tidak dipedulikan oleh Rexas. Tidak lama matanya kembali terbuka dengan konsentrasi tinggi dan berteriak. “Rasakan ini... Volcanic Explosion.”
Duuuuuuuuuuuuuuaaaaarrrrrrrr
“Ghraaaaaaa...” teriak kesakitan Gurdi.
Ledakan layaknya gunung berapi terjadi di tempat Gurdi dan membuatnya terpental ke atas dengan ledakan yang begitu kuat. Ternyata teriakan kesakitan itu dikarenakan ledakan didalam tanah yang mengenai telak tubuh Gurdi yang berdiri tepat di lokasi ledakan itu terjadi. Dan pelakunya tidak bukan adalah Rexas yang dengan entengnya menarik pedang yang sempat tertancap di tanah. Semua penonton kembali terbengong akan kejadian yang begitu tiba-tiba. Mereka bingung kenapa ada ledakan begitu besarnya ditempat Gurdi. Bukankah sedari tadi Rexas hanya diam saja di tempatnya. Pertanyaan itu berputar di kepala mereka, hanya beberapa orang yang menyadari itu begitu pula Yugi.
“Sudah kuduga.” Gumam Yugi mengangguk.
“Apa yang terjadi Yugi?” tanya Maruya.
“Dia menggunakan trik lawanmu Maru. Kau ingat Ruze, dia juga memakai trik ledakan didalam tanah. Sepertinya pangeran menggunakan pedangnya sebagai media memindahkan tekanan api kedalam tanah. Oleh karena itu terjadi ledakan seperti gunung berapi. Dia menirunya dari lawan bertarungmu sebelumnya Maru.” Jelas Yugi.
“Aku tidak menyangka itu, ternyata pangeran Vouleftis bisa berpikiran menggunakan trik peserta sebelumnya.” Ucap kagum Maruya.
“Jadi ini maksud guru, memperhatikan lawan dan mencuri jurusnya.” Ucap Vira.
“Akhirnya kau mengerti, karena itulah aku selalu bilang untuk memperhatikan gaya bertarung lawanmu. Dengan begitu kau akan bertambah kuat Vira.” Balas Yugi sambil tersenyum kearah Vira.
“Baik guru.” Balas Vira yang juga ikut tersenyum manis kearah gurunya.
Ke tempat arena pertarungan berlangsung, disana Rexas berjalan pelan kearah lawan terakhirnya itu. Disana Gurdi hanya mampu melihat pangeran melalui lirikan matanya tanpa bisa berdiri, tubuhnya sudah tepar di tanah dengan tenaga yang sudah habis. Untuk terakhir kalinya dia melihat Rexas sampai matanya mulai menutup dan akhirnya pingsan di tempat.
“Pemenangnya... Pangeran Rexas.” Teriak Rud mengumumkan kemenangan Rexas.
“Hooorrraaaayyyyyyyy...”
Sorakan penonton begitu menggila saat menikmati pertarungan yang begitu mendebarkan. Mereka di perlihatkan dengan begitu banyaknya kemampuan dan jurus yang luar biasa. Tatapan kagum pada Rexas tidak henti di layangkan oleh kaum hawa yang sangat ingin mendekati pangeran tampan dari kerajaan Vouleftis tersebut. Sementara Rexas tidak memperdulikan hal tersebut, dia malah melihat kearah salah satu peserta yang dia kenal. Dia adalah Yugi, petualang yang pernah mengalahkannya. Saat sudah melihatnya sekilas dia pun pergi meninggalkan arena itu menuju pintu keluar.
Kau sudah melihatnya sekarang, kekuatan yang selama ini aku latih... hanya untuk mengalahkanmu. Pintu keluar yang aku lihat didepan ini, merupakan awal dari pertemuan kita selanjutnya, saat itu tiba aku akan mengeluarkan segenap kemampuanku. Mari bertemu di arena penuh akan ketegangan yang membuat jantungmu berdebar... aku tidak akan kalah darimu... Yugi...
Yugi menatap kepergian Rexas yang melalui pintu keluar itu. Tatapannya tidak pernah lepas dari pangeran Vouleftis itu. Tidak lama dia mulai tersenyum kesenangan.
Ya... kau telah memperlihatkan begitu kuatnya dirimu. Tapi aku tidak akan kalah, saat kita bertemu nanti. Aku pasti akan menggunakan segenap kekuatanku... tunggu saja... Rexas.
Saat itu, angin siang terasa begitu panas. Terikanya matahari membuat kulit terasa terbakar. Kini keadaan mulai memanas, bukan hanya karena teriknya matahari, tapi karena pertarungan yang semakin lama semakin menjadi ajang kekuatan. Ketegangan disana begitu terasa oleh para peserta, sementara para penonton begitu menikmati pertunjukan yang menurut mereka menakjubkan. Kompetisi ini sangat mendebarkan...
Dan selanjutnya... pasti akan semakin menarik...
Bersambung
__ADS_1