
“Pertarungan ke empat... DIMULAI.”
Wasit yang sudah mengumumkan pertarungan ke empat ini dimulai, membuat kedua peserta yang berada di dalam arena langsung menyerang dengan jurus mereka.
Yang pertama adalah Lugi. “Earth Thorn...”
Mendengar jurus itu, Redios yang berada ditempatnya merasa kalau diam saja akan mendapat bahaya, dengan cepat dia berpindah tempat dari sana dan benar saja, banyak duri berbentuk tanah yang mencuat di tempat sebelumnya. Tidak berhenti disana, duri tanah itu terus saja mengejarnya seperti tanaman yang merambat. Tentu saja dengan lihainya Redios terus berusaha menghindari serangan itu yang secara bertubi-tubi tanpa henti.
“Di awal pertarungan dia langsung membuat lawannya terpojok. Jadi dia mengandalkan serangan cepat ya...” ucap Yugi yang menganalisis pertarungan yang baru saja dimulai itu.
Disampingnya Maruya berteriak girang. “Aku suka strategi yang seperti itu.”
“Bukannya kau memang selalu menyerang tanpa strategi. Lagi pula, aku pikir peserta dengan elemen tanah itu sudah memikirkan sebuah cara untuk mengalahkan lawannya.” Balas Yugi dengan hipotesisnya.
Kembali pada pertarungan yang dimana peserta Redios merasa sudah mulai kewalahan menghindari setiap serangan yang diarahkan padanya. Karena tidak tahan dia pun membalas dengan jurusnya.
“Spinning Wind...” angin pun berputar di sekitar tubuh Redios dan menciptakan perisai angin yang menghalau duri tanah milik Lugi.
Yugi yang melihatnya sangat takjub melihat jurus yang dengan mudahnya orang itu gunakan seolah dia sendiri sudah menyatu dengan elemennya. “Hebat, dia seperti pusat dari badai itu.”
Badai angin yang dibuat oleh Redios terus berputar di sekitar tubuhnya, saat melihat serangan Lugi sudah tidak berefek lagi. Dia pun melanjutkan serangannya. “Wind Spear Crashing.” Angin yang berputar itu mulai membentuk tiga tombak seperti tornado yang langsung menyerang kearah Lugi.
Melihat tiga serangan yang datang secara bersamaan dari kiri, kanan dan atasnya, dengan cepat Lugi membentuk sebuah tembok tanah yang cukup besar untuk melindunginya. “Ground Protector.”
Duuuuaaarrrrrr
Dua jurus dengan tipe yang berbeda berbenturan yang mengakibatkan ledakan besar. Pertahanan tanah Lugi menahan serangan tombak angin dari Redios dan akhirnya bisa tetap bertahan. Pertahanan tanah milik Lugi ternyata begitu kuat sampai tidak mampu membuat tombak angin Redios untuk tembus. Tapi pertarungan belum selesai, Redios yang merasa serangan jarak jauh tidak akan mempan, akhirnya dia beralih ke serangan jarak pendek dengan seluruh tubuhnya di kelilingi oleh angin yang membentuk perisai tornado tipis namun terkesan tajam. Tanah sekecil apapun langsung terkelupas saat dilewati oleh Redios.
Lugi yang melihat pertahanan tipis milik Redios yang berbahaya itu berusaha menjaga jarak. Namun kecepatan melesat Redios kearahnya terlalu cepat. Dengan terpaksa dia pun mempertahankan dirinya dengan menyebarkan energi Mana di sekujur tubuh untuk melindungi diri.
Redios yang sudah mulai dekat langsung mengepalkan tangan kanannya untuk menyerang Lugi dengan tinjunya. “Hooaaaaa...”
Duar
Tapi Lugi juga ikut menyerang dengan tinjunya, alhasil keduanya saling beradu tinju dengan kekuatan dan pertahanan masing-masing. Tidak ada satu patah kata pun diantara keduanya, seolah pertarungan itu tidak ada hal yang perlu dikatakan pada lawannya. Keduanya yang merasa hanya akan menyia-nyiakan tenaga saja jika terus saling mendorong, langsung saja menjaga jarak dengan menyiapkan serangan lanjutan.
Dengan mata observasinya, Yugi melihat tubuh Lugi yang berpendar cokelat yang menandakan bahwa energi Mana nya digunakan sebagai pelindung tubuh. Sementara Redios yang memang terlihat ada pelindung tipis yang terbuat dari angin dimana itu melindungi sang pengguna. Keduanya memiliki kekuatan dan pertahanan yang bagus, tapi semua ini masih belum bisa Yugi tebak siapa yang akan menang. Lugi memang sangat kuat dengan elemen tanahnya, tapi kemampuan dari Redios juga tidak kalah hebat dimana dia bisa memanfaatkan elemen anginnya sebaik mungkin. Hasil akhirnya akan ditentukan seberapa banyak Mana didalam tubuh mereka. “Menarik sekali...”
__ADS_1
Duar
Duar
Duar
Benturan antara perisai angin dan pelindung Mana terus saja terjadi. Tanah arena menjadi berantakan disana sini setiap kali benturan mereka terjadi. Sepertinya para panitia akan disibukkan kembali dengan memperbaiki tanah lapang arena.
“Hah hah hah...” Redios sudah mulai kelelahan, terbukti dengan nafas beratnya. Sepertinya dia tidak mampu mempertahankan elemen anginnya untuk terus dijadikan pelindung dirinya.
Tidak jauh beda dengan Lugi, namun dia masih bisa berdiri dengan kekuatan yang masih banyak. “Hah... ini tidak bagus. Kalau pertarungan berlanjut dengan lama seperti ini, hanya akan mengulur waktu saja.” Karena tidak tahan dengan lamanya pertarungan yang berlangsung tersebut. Lugi dengan kedua tangannya memusatkan kekuatan dan menempelkannya ketanah. “Earthquake.”
Tiba-tiba seluruh arena di landa gempa yang kuat membuat para penonton terguncang. Semua orang panik, sepertinya ini berasal dari jurus yang dikeluarkan oleh peserta bertopeng itu. Redios yang paling dekat sumbernya merasakan sebuah firasat buruk. Benar saja, dimana tanah yang dipijaknya mulai terbelah menjadi dua yang mengakibatkan dirinya terpisah oleh sisi tanah yang lain. Terlihat tanah yang di sekitar Redios menjauh sehingga hanya terdapat dirinya yang berdiri di menara tanah sendirian. Di sekelilingnya hanya terdapat jurang dimana-mana, sepertinya Lugi berencana akan mengalahkan Redios dengan satu kali serangan besar.
“Dia sangat berlebihan bukan.” Ucap Yugi dengan keringat dingin dikepalanya. Baginya ini sudah bukan lagi pertarungan antar penyihir, tapi ajang kekuatan seperti yang dilakukan oleh dua pangeran yaitu Rexas dan Reiga. ‘Dengan kekuatan jurus sekuat ini, sebenarnya siapa petualang Lugi ini. Kekuatannya bahkan sudah melebihi Raja Penyihir.’ Batin Yugi.
Scene berpindah pada sebuah bangunan tua yang didalamnya terdapat ukiran kuno yang bertuliskan tentang sebuah sejarah. Di depan ukiran itu terdapat satu perempuan bersurai merah dengan mata delima yang memandangi tulisan kuno itu. Disana juga terdapat dua lambang naga yang berbeda, satu dengan kobaran api dan satunya lagi nafas es yang dingin. Kedua elemen yang berbeda namun memiliki kekuatan yang setara. Melihat ukiran itu membuat sang wanita itu merasa kesal entah kenapa, dengan kedua tangan yang terkepal, mata delima itu menatap tajam pada naga es yang ada di ukiran prasasti itu.
[“Tidak usah kau pikirkan, dengan kekuatanmu yang sekarang. Kau bisa mengalahkannya...”] ucap sebuah suara yang berasal dari pedang di pinggang kirinya. Pedang itu bersinar merah api saat merespon kemarahan sang pemiliknya.
Sepertinya ada sebuah kejutan yang akan menantinya, sang pengguna pedang Dewa Naga Salju yang tidak mengetahui ancaman yang akan datang. Hanya menatap kagum pada peserta yang tengah bertarung didalam arena, instingnya mengatakan hari itu akan tiba. Namun dia tidak tahu kalau hari yang di pikirkannya akan cepat datang tanpa di duga olehnya.
Scene berpindah pada sebuah guild yang menjadi tempat para petualang untuk mengambil quest atau misi dari setiap klien yang membutuhkan kemampuan para petualang. Kita berfokus pada resepsionis atau yang bertanggung jawab dalam memeriksa setiap misi yang dijalankan. Perempuan dengan surai merah dan mata hitamnya tengah menjalani pekerjaannya sebaik mungkin. Walau begitu wajah yang terlihat akan senyuman menawan itu, sebenarnya sedang menutupi sebuah kesedihan didalamnya. Rindu akan sosok sang pujaan hati yang sudah lama menghilang tanpa kabar, walau semua orang menganggapnya sudah mati tapi dia masih bersikeras dengan pendiriannya bahwa pemuda itu masih hidup.
“Semuanya dengarkan...” tiba-tiba ada seorang petualang yang tidak tahu siapa namanya namun dia terlihat tergesa-gesa ingin menyampaikan sesuatu. “Ada seorang petualang dari kerajaan ini yang mengikuti kompetisi kerajaan Eartfil dan dia berhasil masuk ke babak seperempat final.”
Semua petualang merasa kaget, tanpa mereka duga ternyata ada seorang petualang yang nekat ikut dalam kompetisi kerajaan itu. Walau peluangnya sendiri terkesan sedikit dimana tahun-tahun yang sebelumnya hanya para pangeran saja yang bisa masuk kedalam final.
“Serius, bukan pangeran kerajaan ini yang masuk seperempat itu kan?” tanya satu petualang yang berada didekat informan itu.
Lalu sang informan pun menjawab dengan nada menegaskan. “Bukan... tapi benar-benar seorang petualang dari kerajaan ini. Dan dia bernama Yugi...”
Seketika itu wanita bersurai merah langsung terkejut dengan berita yang dibawakan oleh petualang itu. Bahkan ada juga tiga orang petualang yang lebih syok dari sang wanita bersurai merah. Dengan cepatnya salah satu dari tiga orang itu menghampiri sang informan dan menarik kerahnya.
“Katakan sekali lagi nama itu.” Teriak pemuda petualang itu.
“D-dia bernama Yugi... aku berani sumpah nama itu yang di pakainya. Urgo...” jawab sang informan.
__ADS_1
Urgo benar-benar terkejut, nama petualang yang seharusnya sudah hilang dan dimakan oleh monster di gunung bersalju itu kini terdengar kembali. Tapi dia tidak mungkin mengambil kesimpulan itu dengan cepat, karena seorang petualang lemah sepertinya tidak mungkin bertahan di tengah dinginnya salju. “Katakan padaku ciri-cirinya...”
Sang informan pun mulai menjawab dengan suara keras supaya mereka semua dapat mendengarnya. “Dia berambut putih salju, dengan mata biru langit ditambah perawakannya yang sangat badas. Jika dilihat dari sudut pandang manapun dia layaknya pangeran. Namun dia benar-benar petualang dari kerajaan ini.”
Mendengar penjelasan itu Urgo pun tersenyum. Karena dari ciri-cirinya sangat lah berbeda dengan Yugi yang dikenalnya. ‘Ternyata begitu, sepertinya itu hanya petualang dari guild lain yang menggunakan nama yang sama dengan petualang dari guild ini. Membuatku kaget saja...’ batin Urgo mulai tidak peduli.
Tapi berbeda dengan wanita bersurai merah, dia tidak akan mengambil kesimpulan kalau itu bukan Yugi yang dikenalnya. Dia pun mendekati sang informan saat Urgo sudah pergi jauh darinya. “Bagaimana dengan elemennya?” tanya sang wanita.
“Dia menggunakan elemen Es, itu yang kudengar Sara.”
Seketika harapan muncul di hatinya. Jika itu memang dia, mungkin saja dia akan kembali padanya. Sara sang wanita yang selalu menunggu kepulangan sang pujaan hati, Yugi. Pemuda yang sudah mengambil hatinya. Tapi membayangkan kalau mungkin saja itu orang lain membuat hatinya gelisah.
“Ada satu informasi lagi, dikatakan kalau lelaki petualang bernama Yugi ini sang pengguna sihir Dragon Slayer.” Lanjut sang informan.
Sara yang mendengarnya merasa sedikit runtuh harapannya. Karena Yugi yang dikenalnya tidak memiliki sihir seperti itu, memang benar sihirnya adalah elemen es, tapi dia tidak memiliki sihir kuno seperti Dragon Slayer.
“Apa memang itu sihirnya?” tanya kembali Sara untuk memastikan.
“Benar, katanya dia memiliki sihir kuno Dragon Slayer Es.” Jawab sang informan.
Wajah yang penuh harapan itu mulai menghilang, Sara pun kembali ke tempatnya dengan perasaan sedih, namun perasaan itu dia tutupi dengan wajah datarnya.
Salah seorang temannya yang selalu mendukungnya mulai menghampiri Sara yang terlihat murung. Dia mengatakan sesuatu untuk membangkitkan harapannya. “Sara, mungkin saja itu adalah dia...”
Sara menatap kearah temannya itu kemudian membalas. “Tidak usah menghiburku seperti itu Sina, jangan membuatku semakin berharap.”
Sina yang mendengar nada pesimis itu membuatnya sedikit kesal. Dengan begitu dia pun memberikan sebuah saran untuk Sara. “Untuk memastikannya, bagaimana kalau kamu pergi kesana. Kau bisa melihatnya dengan mata kepala mu sendiri kalau itu Yugi mu atau bukan.”
“K-kenapa kau mengatakannya seperti itu...” wajah Sara sedikit memerah setelah mendengarkan soal Yugi adalah miliknya. Namun hal itu tidak berlangsung lama saat dia melanjutkan perkataannya. “Tidak perlu, lagi pula banyak pekerjaan yang harus kita lakukan sekarang.”
“Jangan khawatirkan soal itu, aku bisa mengerjakannya, lagi pula banyak orang disini yang bisa menggantikan posisimu saat kau pergi. Anggap saja sebagai liburan, pergilah... dan jemput pangeranmu.”
Entah bagaimana perkataan dari Sina membuat Sara kembali bangkit dari rasa terpuruknya. Dengan senyuman semangat diwajahnya, Sara berkata. “Ya, aku akan pergi kesana. Untuk menemuinya...”
Akhirnya Sina pun dapat melihat mata yang redup itu kini mulai menampakkan sinarnya kembali. Dia berdoa akan keberhasilan Sara, dan Sina pun berharap kalau orang yang mereka bicarakan itu adalah orang yang sama.
Bersambung
__ADS_1