
Pertarungan ke empat begitu menegangkan, pertarungan dengan dua orang yang memiliki elemen berbeda dan membuat sebuah badai didalam arena. Penonton yang menyaksikannya sampai mengeluarkan keringat dingin saat merasakan guncangan hebat dari seorang petualang berelemen tanah. Mereka benar-benar dikejutkan oleh kekuatan tidak terduga dari Lugi, elemen tanahnya bisa dibilang sudah melebihi seorang Raja Penyihir. Lawannya yang sudah kewalahan, saat itu juga pingsan kehabisan Mana. Tanpa sepatah kata pun petualang yang memenangkan pertarungan keluar dengan tenangnya.
Wasit yang juga sedikit tegang sebelumnya kini mulai memecah keheningan. “Baiklah... sekarang pertarungan terakhir hari ini. Sudah pasti kalian tahu siapa yang akan maju kedalam arena.” Rud menjeda sebentar perkataannya kemudian melanjutkan kembali. “Benar, kedua peserta ini menggunakan senjata yang sama. Tanpa menunggu lama kita panggil... Pangeran Seiga Swordia dari kerajaan Swordia, yang akan melawan Ksatria Leon Sourya dari kerajaan Fostias.”
Kedua peserta terakhir memasuki arena pertarungan, mereka berjalan dan saling mendekat di tengah lapangan. Disaat itu wasit langsung berdiri di antara mereka sambil memeriksa apa keduanya sudah siap untuk bertarung.
“Ini merupakan pertarungan terakhir hari ini... yang menang akan melaju ke babak selanjutnya. Kedua peserta apa kalian sudah siap?”
Seiga dan Leon mengangguk dengan pertanda kalau mereka sudah siap bertarung. Wasit pun mengerti dan melanjutkan perkataannya.
“Baiklah, pertarungan kelima dan terakhir untuk hari ini... DIMULAI.”
Wasit pun langsung melompat pergi dari arena itu meninggalkan kedua peserta untuk bertarung. Seiga menarik pedangnya dari sarung kiri begitu pula Leon yang menarik pedang kebanggaannya. Keduanya saling menatap tajam, tidak lama sebuah angin yang saling berlawanan melaju kesatu sama lain kemudian...
Tank
Kaget, semua orang tidak mengerti apa yang terjadi. Karena kedua peserta itu sudah hilang dari tempatnya dengan angin yang menghempaskan debu dan secara tiba-tiba terdengar besi yang saling beradu di tengah arena.
Tank tank tank tank tank
Teknik berpedang yang menakjubkan diperlihatkan oleh kedua peserta itu, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa, para petualang atau pun pangeran yang memiliki kemampuan diatas rata-rata bisa melihat dengan jelas kekuatan berpedang mereka.
Tank
Di tengah arena diperlihatkan kembali Seiga dan Leon yang saling mendorong satu sama lain dengan kedua pedang yang terus bergesekan karena di adu. Terlihat jelas mata permusuhan yang berkilat tajam, pedang panas Leon melawan pedang energi milik Seiga. Diantara keduanya siapa kah pengguna teknik pedang terhebat di dataran penyihir ini. Dari sekian banyaknya pengguna pedang, hanya mereka yang memiliki teknik yang berbeda. Namun teknik berpedang yang sudah diakui kehebatannya adalah dari kerajaan Swordia, disana setiap generasinya selalu menghasilkan pengguna pedang yang hebat. Seperti halnya pangeran kerajaan Swordia ini, dan disinilah mereka akan menunjukkan teknik pedang siapa yang paling hebat.
Sreennngg
Suara pedang yang bergesekan disaat keduanya mundur beberapa meter untuk menjaga jarak terdengar jelas, dari sini mereka memasang kuda-kuda yang berbeda. Leon dengan pedangnya yang di arahkan kedepan dengan satu tangan kanannya sementara tangan kiri dibiarkan terbentang seperti sayap. Sedangkan Seiga mengangkat sedikit pedangnya sejajar kepala dengan tangan kanan berada di ujung bilah pedangnya. Mereka masih terdiam sebentar untuk mencari celah, menegangkan, jantung seluruh penonton berdebar-debar. Kali ini pertarungan yang sungguh intens diperlihatkan dari kedua peserta pengguna pedang.
‘Atmosfer macam apa ini, begitu berat. Mereka seperti harimau dan singa yang saling menunjukkan ketajaman taringnya. Bahkan dengan diriku sendiri, teknik berpedangku masihlah sangat jauh dibanding mereka.’ Itulah ungkapan hati Yugi yang menyaksikan pertarungan ini.
Waktu yang cukup lama untuk mencari celah, Leon dengan inisiatifnya langsung berlari cepat dengan memutar sedikit kearah kirinya dimana pedang ditangan kanannya masih berada di depan. Tapi hal itu tidak mampu mengelabui Seiga, dia pun ikut berlari searah jarum jam mengikuti Leon, dimana Seiga memutari dari arah kirinya. Pada akhirnya mereka berdua hanya saling berputar searah jarum jam membentuk lingkaran yang saling mendekat.
“Hooaaaa...”
“Huuaaaa...”
Tank
Mereka berteriak dan langsung menebas saat keduanya memangkas jarak. Tidak berhenti begitu saja, mereka secara bersamaan berputar 360 derajat secara berlawanan sehingga pedangnya kembali berbenturan dengan kerasnya.
Tank
Duuuaaaaarrrr
Tanah dibawah mereka meledak saat kedua pedang itu berbenturan dengan kerasnya. Dan ajang saling mendorong pun terjadi, namun itu tidak berlangsung lama saat Seiga membiarkan pedang milik Leon melewatinya sehingga Seiga berputar kembali kearah kanan untuk mengincar punggung Leon.
“Ah...” Leon yang sedikit lengah tadi tidak menyangka kalau akan dikelabui oleh teknik pedang Seiga. Dia pun langsung berputar dengan kaki kanannya sebagai pusat kemudian secara paksa berputar 360 derajat sambil mengayunkan pedangnya.
Terlihat gerakan mereka seperti melambat sedikit dengan momen yang tepat dimana keduanya akan saling beradu serangan kembali.
Tank
Tepat waktu, Leon berhasil menahan pedang Seiga dengan pedangnya. Terlihat posisi mereka yang berbeda dimana Seiga di atas dengan serangan pedang vertikal sementara Leon berada dibawah dengan menahan serangan itu secara horizontal dengan pedangnya. Keduanya terlihat seimbang, tapi mereka yang mengerti akan teknik berpedang bisa terlihat dengan jelas kalau Seiga yang diunggulkan disini. Seiga mendorong kuat kemudian melompat untuk mengakhiri dominasi antar pedang.
Sudah cukup lama mereka beradu pedang dengan teknik serangan dan bertahan. Kekuatan maupun stamina mereka hampir sama, dilihat nafas yang masih stabil walau dengan keringat di pelipis mereka yang sedikit. Seiga tersenyum, untuk pertama kalinya dia bisa beradu pedang kembali seperti ini selain dengan gurunya.
“Teknik berpedangmu lumayan juga Leon Sourya.”
Perkataan Seiga di tanggapi oleh Leon dengan wajah biasanya. “Setidaknya saya masih bisa mengimbangi Anda Pangeran Seiga Swordia.”
__ADS_1
“Perkataanmu terlalu formal, didalam arena kita adalah musuh. Tidak ada lawan yang diperlakukan formal kau tahu... bersikaplah sebagai seorang pendekar pedang.” Di akhir kalimatnya Seiga mengintimidasi Leon. Dia sendiri tidak terlalu menyukai seorang lawan yang memperlakukannya seperti pangeran, karena ini bukanlah tempat umum atau penjamuan yang dimana harus bersikap formal terhadap seorang pangeran. Tapi ini adalah medan pertempuran, jadi pembicaraan seperti itu tidak cocok menurutnya.
“Anda memang benar... ah maksudku, kau memang benar.” Balas Leon yang mengubah nada bicaranya menjadi datar dan dingin, seketika itu juga dia menghilang dengan seberkas cahaya ditempatnya.
Seiga waspada, kehilangan lawannya di saat pertarungan seperti ini membuatnya siaga. Lawan bisa saja menyerang dari mana pun, tidak bisa mengetahui letak keberadaan lawannya sebuah kerugian baginya. Namun sebagai pengguna pedang terhebat, intuisi Seiga sebagai seorang pendekar pedang sangatlah tajam, ya setajam pedangnya.
Tank
Seiga berbalik ke belakangnya dan mengayunkan pedang sehingga terjadi benturan keras disana, ternyata memang benar saja, lawannya itu tepat menyerang di bagian titik butanya. Pedang mereka kembali beradu dengan gesekan kuat karena dominasi keduanya. Leon dengan cepat mendorong dan mundur di saat bersamaan, saat mendarat ketanah dia kembali menghilang dengan seberkas cahaya.
Gerakannya yang cepat bagai cahaya itu mempersulit Seiga dalam menentukan titik keberadaan Leon. “Sungguh merepotkan...” kesalnya, pedang ditangan kanannya dia tancapkan ketanah dan berteriak. “Moryasense...” mendengar perintah tuannya, pedang itu menciptakan lima lingkaran sihir mengelilingi Seiga kemudian memunculkan lima pedang yang sama persis dengan pedang asli miliknya yang digenggam tangan kanannya. Kelima pedang tersebut mengelilingi Seiga sambil berputar pelan sehingga menciptakan penghalang kuning yang pernah di gunakannya di duel sebelumnya. “Muncullah Leon.”
Tank
Serangan lurus dengan pedangnya dimana penghalang Seiga berhasil menahannya. Ya disana Leon menusuk lurus dengan pedangnya menuju penghalang Seiga, namun sayang tidak bisa menembusnya. Tapi dia tidak berhenti begitu saja, secara brutal, Leon terus saja menebas cepat kearah penghalang kuning milik Seiga.
Tank tank tank tank tank tank tank
Penonton terkagum-kagum melihat serangan cepat yang begitu brutal dari Leon untuk menembus perisai milik Seiga. Tapi secepat dan sekuat apapun tebasannya tetap tidak bisa menembusnya, bahkan menggoresnya sedikit pun tidak. Karena tidak membuahkan hasil, akhirnya Leon memilih menjaga jarak sejenak sambil mengambil nafas untuk mengatur paru-parunya yang memompa cepat.
“Kau mungkin memiliki kecepatan cahaya, tapi aku memiliki pertahanan pedang.” Seiga mengangkat pedangnya kedepan dan melanjutkan perkataannya. “Pedangku Moryasense... memiliki kemampuan dapat memperbanyak diri. Dan dijuluki sebagai pedang pelahir...”
Terkejut akan pernyataan sang pangeran Swordia, semua penonton berkata dengan wajah tidak percaya.
“Moryasense, sepertinya aku pernah mendengarnya?”
“Bukankah itu kekuatan yang bisa membuat tiruan pedang dari yang aslinya.”
“Bisa menciptakan pedang yang sama persis.”
“Bukankah itu kemampuan yang luar biasa.”
Begitulah komentar mereka, namun itu belum mendetail akan kekuatan pedang milik Seiga. Bahkan untuk Yugi, dia juga ikut menganalisa kemampuan milik pangeran Swordia itu.
Di arena terjadi keheningan sesaat setelah pernyataan dari Seiga. Leon tidak bergerak dari tempatnya, dia menatap tajam kearah Seiga, kemudian menatap kearah pedang ditangan kanan lawannya itu. Dia sendiri dapat menyadari akan kekuatan yang tersembunyi dari pedang Seiga. Namun dia sendiri masih memiliki pedang suci ditangannya.
“Kemampuan yang hebat, tapi aku juga memiliki pedang yang memiliki kemampuan yang tidak kalah hebat dari milikmu. Tapi tidak hanya pedang saja yang ditentukan disini, namun teknik berpedang juga bisa menjadi penentu dalam pertarungan ini.”
Tidak ada nada takut di setiap perkataan Leon, dia percaya akan kekuatannya. Seiga tersenyum, tangannya pun dia turunkan dimana posturnya menjadi lebih santai, sepertinya dari sini dia akan mengatakan sesuatu.
“Tekad yang kuat, aku menyukai itu. Kau Leon, adalah lawan yang membuatku tertarik, walau sudah mengetahui akan kemampuan pedangku tapi kau tidak mundur dari pertarungan. Kau memang seorang ksatria...”
Leon tetap berekspresi biasa saja walau lawannya memuji dirinya. “Aku tersanjung bisa memenuhi kriteria sebagai lawanmu.”
Namun senyuman dari Seiga memudar, wajahnya menjadi begitu datar dengan keseriusan terpancar dari auranya. “Mari kita serius...”
“Itu yang aku tunggu...” balas Leon.
“Serang.” Dengan komando terhadap pedangnya, semua pedang yang mengelilingi Seiga meluncur lurus layaknya peluru kearah Leon.
Melihat semua pedang itu mengarah padanya, Leon bergegas berlari kearah pedang itu dan menebasnya satu per satu.
Tank
Satu pedang dia pentalkan kearah kanan.
Tank
Pedang satu lagi dia halau kearah kiri.
Tank tank tank
__ADS_1
Dan tiga sisanya di tebas ke atas, bawah dan depan dimana pedang itu kembali pada tuannya. Namun Seiga hanya diam saja sehingga pedang itu secara otomatis berhenti untuk tidak menyerang tuannya sendiri.
“Aku harap kau juga bisa menghindari yang ini.”
Tepat setelah perkataan Seiga, sebuah lingkaran terbentuk sepuluh mengelilingi Leon dimana memunculkan sepuluh pedang sekaligus.
“Membuat sepuluh pedang lagi.” Kaget Yugi.
Vira yang berada disampingnya juga ikut terkejut, begitu pula Maruya dan Maria. Karena dengan satu pedang saja memiliki kekuatan besar, apalagi ditambah tiruan yang memiliki kekuatan yang hampir persis dengan yang aslinya.
Syut syut syut
Tiga pedang melesat kearah Leon untuk menusuknya, tidak diam saja Leon pun menghindari setiap pedang yang melayang kearahnya dengan kecepatan tinggi. Dia sendiri sedikit kewalahan dimana pedang sisanya juga ikut menyerangnya secara bertubi-tubi tanpa henti. Sementara yang memiliki teknik pedang ini hanya diam saja ditempatnya sambil memperhatikan lawannya menari di setiap serangan pedang pelahir nya.
Tank tank tank tank tank
Kelima pedang dapat Leon halau, namun dua sisanya berhasil menggores tangan kanan dan pinggang kirinya. Dengan cepat Leon pun mundur beberapa langkah dan langsung menghilang dengan teleportasi cahayanya. Kemudian mendarat tepat di ujung arena yang jauh dengan musuhnya.
Syut tap
“Hah hah hah...” nafasnya terdengar berat, namun di tengah kelelahannya dia bergumam. “Aku tidak bisa menghindari semua serbuan pedang itu. Sungguh menyedihkan, ini pertama kalinya aku di buat kewalahan selain oleh ayahku.”
Pedang-pedang tiruan itu mulai melayang kembali pada tuannya dan mengelilinginya. Seiga dengan kelima belas pedangnya, dia hanya tersenyum saja melihat lawannya sudah kewalahan menghadapi semua pedang buatannya.
“Mengendalikan lima belas pedang tiruan disaat bersamaan. Tidak, aku rasa ini belum semuanya. Latihan neraka seperti apa yang dialami olehnya sampai bisa seperti ini.” Gumam Yugi yang lagi-lagi dibuat kaget oleh pangeran Swordia itu.
Seiga mengarahkan pedangnya kedepan seperti sebuah isyarat komando, kelima pedang pun menuruti perintahnya dan membentuk lingkaran didepan Seiga, sementara sepuluhnya berkumpul di belakang tuannya.
“Jurus ini...” teriak kaget Maruya yang membuat Yugi penasaran.
“Ada apa Maruya?” tanya Yugi.
“Jurus ini pernah kulihat saat pangeran itu menggunakannya pertama kali dalam duel sebelumnya. Kekuatannya tidak masuk akal, disaat kelima pedang itu membentuk sebuah lingkaran didepannya, maka serangan sihir seperti meriam besar dia luncurkan dengan daya hancur tinggi.” Jelas Maruya.
Yugi pun dengan cepat menganalisa dengan mata observasinya, disana terlihat sebuah energi besar dari pedang tiruan mulai berkumpul dititik tengah dengan konsentrasi tinggi yang menumpuk pada satu titik. Benar yang dikatakan oleh Maruya, itu layaknya sebuah meriam laser besar yang siap diluncurkan.
“Atas nama Seiga, aku memerintahkanmu wahai pedang yang kugenggam. Perlihatkanlah kebenaran dari kekuatanmu... Moryasense, hancurkan semua musuhmu...”
Leon tahu jurus ini, dia tidak bisa hanya diam saja. Karena sebentar lagi kekuatan besar akan menghantam dirinya. Jika tidak berbuat sesuatu maka dia akan mendapatkan luka yang fatal.
“Aku tidak akan diam saja...” energi sihir Leon salurkan pada pedangnya dengan tenaga penuh. Kemudian dia meneriakkan nama jurusnya. “Fire Light Vlitora.”
Sebuah tebasan cahaya emas bertekanan tinggi menyerang kearah Seiga berada. Namun disana juga Seiga sudah mempersiapkan serangannya.
“Sword Smasher...” teriak Seiga. Dengan begitu laser besar kuning keputihan melesat kuat kearah serangan Leon berada.
Kedua serangan memiliki dampak yang sangat kuat di sekitarnya, tanah yang dilalui dua jurus itu mengakibatkan hancur dan retak dimana-mana. Dan saat kedua kekuatan itu bertemu pada satu titik maka...
Duuuuuuuuuuaaaaaaaaaarrrrrrrrrr
Ledakan besar terjadi dan membuat sebuah gelombang kejut kuat sampai penghalang sihir pun terkena efeknya walau hanya sedikit. Namun dampaknya lebih besar didalam arena. Dan itu juga mengenai kedua peserta didalamnya.
Bersambung
Maaf atas keterlambatan update nya
Banyak hal yang harus di urus didunia nyata
Menurut kalian siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini
Leon Sourya atau Seiga Swordia
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan share pada teman-teman kalian...
See you next time