
Malam yang dingin, sungguh dingin tidak seperti hari biasanya. Disebuah kamar yang gelap, dimana lilin sudah dimatikan. Sehingga ruangan menjadi gelap gulita, dikamar ini terlihat pemuda berambut putih salju sedang terduduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya melayang terhadap sesuatu, tapi hal itu tidak bisa dia bicarakan dengan orang lain. Lalu bagaimana dengan Dewa Naga yang bersemayam bersamanya, tentu saja perasaan tak karuan pemuda surai putih salju ini bisa dirasakan oleh Dewa Naga itu. Tapi untuknya sebagai seorang Dewa Naga, dia tidak bisa ikut campur maupun memberikannya saran, karena orang yang menjadi rekannya ini, harus mencari tahu sendiri tentang perasaan tidak karuannya itu.
“Mungkin sebaiknya aku jalan-jalan saja dulu.” Pada akhirnya pemuda itu berhenti memikirkannya dan berusaha merilekskan diri dengan berjalan-jalan malam. Karena udara yang dingin diluar, pemuda dengan surai putih salju itu mengenakan jaket tebal berwarna biru cerah untuk melindungi badannya dari hawa dingin. Padahal dirinya adalah pengguna elemen es, tapi masih merasa kedinginan. Tapi yang dingin bukanlah badannya, tapi pikirannya, dan hal itu tanpa sadar malah mempengaruhi badannya. Tentu saja begitu, setiap pikiran seseorang pasti akan mempengaruhi anggota badannya yang lain.
Pemuda itu pun membuka jendela dan keluar dari sana dengan melompat tinggi, angin yang bertiup kecil itu menghempaskan jaketnya dan membuatnya berkibar di atas sana.
Tap
Dengan pelan dan mulus, pemuda itu berhasil mendarat dengan tepat. Di tengah jalan kota, terasa begitu sepi karena memang sudah tengah malam dan di jam segini semua orang tertidur. Kecuali beberapa dari mereka yang masih terjaga dan prajurit kerajaan yang berpatroli keliling kota.
“Kemana ya enaknya...” berpikir sejenak, dia sendiri belum menentukan mau kemana setelah ini. Sambil berjalan dan memikirkan hal itu, langkah kakinya membawa ke pusat alun-alun kota. “Berjalan-jalan seperti ini mungkin akan membawaku ke suatu tempat. Tapi jalur ini bukannya menuju alun-alun...” pemuda itu pun menyadarinya, dia berjalan lurus menuju air mancur di tengah kota. Itu merupakan tempat pertama kalinya dia bertemu dengan gadis kecil yang tersesat yang merupakan adik dari teman barunya disini. Sekarang dirinya sudah berada tepat di depan air mancur, jadi terkenang saat dirinya menyelamatkan gadis kecil bernama Maria saat dia tersesat waktu itu.
“Ada orang lain ternyata...”
Sebuah suara feminim menarik perhatian pemuda surai putih salju, dia pun melihat ke arah kirinya dimana seorang wanita berjalan menghampirinya. Pemuda ini tahu siapa wanita itu, karena mereka sudah cukup lama mengenal walau hanya seminggu lebih.
“Lanya, ah tidak... Tuan Putri Lani.”
Ya... dia adalah sang Tuan Putri dari Kerajaan Eartfil, Lani Eartfil. Seorang anak tunggal dari pasangan Raja dan Ratu Eartfil. Dikatakan bahwa Lani akan menjadi pemimpin baru kerajaan ini setelah ayahnya. Itu memang tidak di ragukan karena hanya dia lah satu-satunya pewaris kerajaan.
“Bukankah aku sudah bilang tidak usah berbicara formal begitu, Yugi.”
“Ya aku hanya ingin saja memanggilmu begitu.”
“Terserah saja.”
Suasana menjadi hening sesaat, mereka melihat ke arah air mancur. Yugi sang pemuda berambut putih salju itu menatap Lani, ada sebuah pertanyaan yang ingin dia ajukan padanya. Hanya saja dirinya masih sedikit ragu.
“Yugi, apa menerima takdir begitu saja adalah hal yang tepat?”
Lani bertanya, tanpa melihat kearah lawan bicaranya. Lalu untuk Yugi, tidak tahu dia harus menjawab apa. Karena membicarakan soal takdir, dirinya sendiri memiliki hal seperti itu.
“Takdir tidak ada yang tahu, kita hanyalah manusia yang menerimanya.”
Penjelasan itu membuat Lani merasa sedih, jika memang takdir hanya mampu kita terima walau itu buruk sekali pun baginya. Bukankah itu tidak adil...
“Tapi...”
Lani menatap kearah Yugi, dia menunggu lanjutan dari kata yang seakan menyanggah perkataannya yang tadi.
“Takdir itu, bisa kita genggam dengan kedua tangan ini. Kau bisa menentukan mau kearah mana takdir itu kau bawa. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah pada takdir. Jika menyerah tanpa perjuangan, itu bukanlah takdir, tapi dia yang sudah menyerah akan masa depan.”
Angin bertiup, mengibarkan rambut cokelat terang itu dengan kilauan cahaya bulan. Wanita yang bersama dengan pemuda ini, merasa tertegun akan kalimat yang di lontarkan oleh Yugi. Seolah membawa sebuah mimpi baru baginya, mata itu membulat, senyuman terbentuk, rasa tekanan di hatinya mulai reda. Dan semua itu berkat sang pemuda yang ada didepannya.
“Takdir hanyalah kertas kosong yang menunggu kita untuk menulis cerita selanjutnya. Jadi, kaulah yang menentukan akan seperti apa nantinya.”
Lani tidak tahu harus berkata apa, Yugi sudah mengatakan semua yang ingin didengarnya. Jika memang takdir hanyalah kertas kosong, dia ingin menulisnya dengan ceritanya sendiri, tanpa dipaksa oleh orang lain.
Lani berjalan mundur sedikit dan berkata. “Yugi... terima kasih.”
Disaat itu aku melihat senyuman dari seorang Tuan Putri... dan senyuman itu begitu indah, ketulusannya terdapat pada senyuman itu, angin menerbangkan rambutnya yang indah, cahaya bulan pun menerangi wajah itu... dan aku terpaku menatap dirinya...
__ADS_1
Keesokan paginya, disebuah kamar seorang pemuda surai putih salju. Dia berdiri menghadap jendela, menatap matahari pagi yang cerah. Pikirannya masih terbayang pertemuan dengan seorang wanita tadi malam. Dan wanita itu adalah seorang Tuan Putri kerajaan Eartfil. Masih terngiang dikepalanya saat wajah cantik itu tersenyum begitu menawan. Memang benar kalau kecantikannya bagai bidadari kayangan, bahkan bisa mengimbangi Tuan Putri tertua kerajaan Northern Esla.
“Tidak ada waktu untuk membayangkan hal itu semua. Hari ini merupakan kompetisi kelima, dan lawanku bisa kuprediksi... benar, siapa pun lawanku nantinya, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa.” Yugi melihat ke punggung tangan kanannya dan memunculkan lambang naga yang merupakan kontrak familiar miliknya. “Maruya, sang Dragon Slayer. Rexas, pengguna pedang iblis Pheonex. Seiga, dari klan pedang, dan pengguna pedang pelahir Moryasense. Dan terakhir Lugi, peserta misterius yang belum diketahui wajahnya, pengguna elemen tanah yang sudah melampaui Raja Penyihir. Mungkin saja dia sudah mencapai Raja Penyihir puncak. Kalau melawannya akan sangat berbahaya, semoga saja pertarungan pertama bukan aku yang jadi lawannya.”
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk dari luar, membuat Yugi dengan cepat menghilangkan simbol kontrak naganya dan melihat kearah pintu. “Masuklah...”
Pintu pun terbuka, memperlihatkan gadis kecil yang masuk kedalam kamar pemuda itu. Sang gadis kecil membawa hewan serigala berbulu putih dengan corak biru di setiap keempat kaki dan lehernya. Yugi pun menatap gadis itu yang merupakan muridnya.
“Apa guru sudah siap?” tanya gadis itu.
“Tentu saja, ayo kita pergi Vira.” Jawab Yugi dengan wajah percaya diri.
Sementara dengan peserta yang lainnya, mereka sudah berjalan menuju arena dari empat arah yang berbeda tapi akan bertemu di tengah jalan menuju pintu utama colosseum. Dan di tengah jalan itu terlihat Yugi, dan Vira yang menggendong familiarnya, mereka juga berjalan kearah arena. Pada akhirnya kelima peserta itu pun saling bertemu dan menunjukkan aura perlawanan satu sama lain. Tidak lama gerbang arena terbuka lebar, semua peserta melihat kearah gerbang, disaat itu juga mereka membulatkan tekad dihati mereka.
‘Akhirnya pertarungan semi final.’ (Yugi)
‘Aku semakin bersemangat.’ (Maruya)
‘Saatnya menunjukkan hasil latihanku dan melaju ke babak final.’ (Rexas)
‘Klan pedang akan bangkit.’ (Seiga)
‘...’ (Lugi)
Mereka semua pun berjalan kedalam colosseum dengan kepercayaan dirinya yang ingin memenangkan kompetisi kerajaan ini.
“Baiklah, semua peserta sudah hadir dalam kompetisi babak kelima ini. Peraturannya tetap sederhana seperti kemarin, tapi karena kita memiliki lima peserta yang dimana hal tersebut mengalami keganjilan terhadap pertarungan selanjutnya. Maka akan dibuat bagan, dan lawan yang akan bertarung ditentukan melalui undian.”
Seketika sebuah hologram sihir yang menunjukkan sebuah bagan yang disiapkan dimana babak pertama tertulis angka 1 melawan angka 2, kemudian babak kedua tertulis angka 3 melawan angka 4. Dan yang paling akhir yaitu angka 5 dimana dia akan bertarung dengan siapa pun yang memenangkan babak kedua, dengan kata lain antara nomor 3 dan 4 akan bertarung dengan nomor 5 jika salah satunya menang. Kemudian wasit pun membawa sebuah wadah cangkir ukuran besar dengan 5 stik yang dimasukkan kedalam nya.
“Didalam wadah ini terdapat lima stik yang didalamnya terdapat angka 1 sampai 5. Kalian akan mengambil satu stik dan itu akan menjadi urutan pertarungan babak kelima ini.”
Yugi, Rexas, Maruya, Seiga dan Lugi menatap kearah wadah itu dengan intens, lawan mereka akan ditentukan oleh undian ini, dengan kata lain siapa pun disini akan mendapat keuntungan atau pun kerugian mengenai lawan yang akan mereka hadapi.
“Aku peringatkan, jangan sekali-kali kalian menggunakan sihir untuk menentukan nomor urutan kalian, karena itu akan mendiskualifikasi kalian secara langsung. Aku tahu nomor lima mendapat sebuah keuntungan yang tinggi dimana dia akan melawan musuh yang sudah kelelahan saat melawan musuh pertamanya. Jadi andalkan keberuntungan kalian dan dapatkan nomor lima tanpa menggunakan bantuan sihir. Aku harap kalian tidak berani mencobanya...” Rud mengintimidasi mereka semua dengan mata membunuh, kelima peserta itu pun merasakan sesuatu yang mengerikan dari wasit ini. Jika dipikir lagi, wasit dalam pertarungan adalah mereka yang melerai peserta yang melanggar aturan, dengan kata lain seharusnya wasit memiliki kekuatan yang melebihi para pesertanya.
Sepertinya Yugi menyadari hal itu, dari wasit didepannya ini dia bisa merasakan hawa monster tingkat tinggi yang menakutkan, hawanya sangat gelap dan memiliki niat membunuh sekelas Jendral Penyihir.
“Karena kelihatannya kalian sudah mengerti, jadi silahkan ambil.”
Kelima peserta pun mulai tersadar kembali saat hawa membunuh itu menghilang dari wasit. Kemudian mereka pun satu per satu mengambil stiknya dan memperlihatkan angkanya.
“Aku nomor satu...” (Maruya)
“Dua...” (Yugi)
“Tiga...” (Rexas)
“Empat...” (Seiga)
__ADS_1
“...” Lugi menunjukkan nomor lima tanpa mengucapkannya.
Dengan begitu bagan itu pun menuliskan nama-nama peserta yang sudah mengambil nomor stiknya. Dan terlihatlah urutan nomor satu sampai lima yang dimulai dari Maruya, Yugi, Rexas, Seiga dan Lugi.
“Ini lah nama-nama peserta yang akan bertarung dalam babak kelima. Sungguh tidak terduga, entah ini takdir atau apa, tapi sesama pengguna sihir kuno Dragon Slayer akan bertarung dibabak pertama.”
“Huooooo...”
Para penonton bersorak ria saat wasit mengumumkan siapa yang akan bertarung. Yugi dan Maruya saling menatap dengan hawa permusuhan, namun di wajah mereka terpampang senyuman senang. Tidak bisa mereka duga, ternyata pertarungan pertama mereka akan langsung bertemu. Tapi hanya ada satu yang akan lolos ke babak final.
“Peserta yang tidak bertarung harap meninggalkan arena...”
Mendengar instruksi wasit, ketiga peserta yang tidak bertarung langsung meninggalkan arena. Mereka duduk di bangku peserta yang sudah disiapkan untuk menonton pertarungan pertama.
“Pembuka babak kelima, Maruya petualang dari Vouleftis sekaligus pengguna sihir Dragon Slayer Api akan melawan Yugi petualang dari Aries sang pengguna sihir Dragon Slayer Es. Kedua peserta bersiap...”
Yugi dan Maruya langsung melompat mundur untuk mengambil jarak. Sekitar sepuluh meter jarak mereka, dengan wasit yang berada ditengahnya. Kemudian membuat kuda-kuda menyerang kesatu sama lain.
Wasit yang melihat kedua peserta sudah siap, dengan satu teriakan dimulailah pertarungan. “Pertarungan... DIMULAI...” Rud langsung menghilang dari arena meninggalkan kedua peserta.
Dengan sinyal itu Yugi menguarkan aura naga biru, begitu pula Maruya yang sudah diselimuti aura naga merah. Keduanya memiliki insting naga yang saling ingin mengalahkan, wajah yang tersenyum itu memperlihatkan gigi taringnya, rambut mereka saling berkibar mengikuti kobaran aura yang sekian lama semakin membesar.
“Ayo mulai...” Yugi melesat cepat dengan satu hentakan kakinya kearah Maruya.
“Hayooo bertarung...” begitu pula Maruya dengan kobaran merahnya yang langsung menerjang Yugi.
Duuuaaaarrrrrrr
Tinju berlapis biru dan merah itu bertemu di satu titik yang meledakkan energi saat berbenturan. Tanah dibawahnya pun sampai hancur terangkat oleh luapan tenaga berbasis naga itu.
“Hooorrrraaaa... “ (Yugi)
“Rrroooaaaarrr...” (Maruya)
Mereka berteriak seperti naga yang mengamuk, bisa dilihat bayangan naga biru dan merah raksasa diantara mereka yang melambangkan setiap elemen yang digunakan. Jika dilihat lagi, ini bagai pertarungan kedua naga yang memiliki elemen yang berlawanan. Seperti sebuah takdir, mereka dipertemukan dalam satu arena yang seperti dikhususkan untuk mereka.
“Seperti ritual para naga...” gumam sang Raja yang tanpa sadar, dan hal itu tidak bisa di dengar oleh istrinya yang berada disamping kirinya.
Di alun-alun kota, terlihat sang wanita dengan rambut merah terurai indah sedang berjalan mencari sebuah tempat. Karena dirinya tidak tahu arah jalan ke tempat itu dan sepertinya dia juga tersesat, akhirnya wanita itu pun berjalan ke sebuah toko buah yang di jaga oleh seorang pria paruh baya. Ternyata walau kompetisi kerajaan sudah dimulai, masih ada segelintir orang yang berdagang dan tidak menonton pertarungan itu, dan tentunya masih ada juga yang membeli dagangan tersebut.
“Permisi, arah menuju tempat kompetisi kerajaan dimana ya?” tanya sang wanita.
“Ah... nona ingin menonton kompetisi itu ya, nona tinggal ambil arah kanan disana kemudian tinggal lurus saja. Tidak lama colosseum tempat kompetisi berlangsung akan terlihat.”
Mendengar arahan dari pedagang buah itu, sang wanita pun berterima kasih dengan senyuman manis. “Terima kasih banyak sudah memberikan arah jalannya.”
“Sama-sama nona, berhati-hatilah di jalan.”
Wanita itu pun menunduk sedikit kemudian pergi dari sana, sementara sang penjual buah hanya melambai sedikit kemudian mulai berdagang kembali.
Disana, arena kompetisi berlangsung, Yugi... aku tidak sabar ingin bertemu denganmu...
__ADS_1
Bersambung