KAISAR ES

KAISAR ES
PENGUJIAN


__ADS_3

Angin dingin itu berhembus pelan di sekitarku... hembusan yang menyapu setiap debu yang ada.


Jubah biru mudaku berkibar layaknya bendera...


Tatapanku tidak pernah teralihkan dari wanita yang berdiri disana... pandangan kami saling bertemu dengan senyuman yang saling menyapa...


“Kamu datang juga...” ucap Yuko dengan senyuman senangnya.


“Tentu saja...” jawab Yugi tanpa ada rasa gentar sedikit pun.


“Aku tidak akan menahan diri loohhh...” ucap Yuko dengan nada lembutnya.


“Itu yang aku harapkan.” Balas Yugi sambil melepas jubahnya dan memperlihatkan baju oblong hitam tanpa lengan dengan bawahan celana panjang biru muda dengan beberapa garis biru tua di setiap sisinya dan sepatu biru langit.


Yuko juga melakukan hal yang sama, dia melepas mantel penyihirnya dan memperlihatkan kaos hitam lengan pendek dengan celana pendek yang juga berwarna hitam dan sepatu hitam yang sama dengan rambutnya. Untuk sesaat mereka melakukan pemanasan guna melemaskan sedikit otot-otot mereka.


“Sepertinya semua anggota kerajaan termasuk para tetua ikut menonton. Dan juga...” Yugi melihat orang-orang yang diyakini adalah rakyat jelata yang juga ikut menonton. “Berita tentang pertarungan ini sudah tersebar luas...”


“Begitulah, mengingat aku adalah seorang jendral penyihir. Pasti akan banyak orang yang menonton...” ucap Yuko dengan bangganya.


“Pertarungan antara jendral petarung melawan seorang yang sudah pernah mengalahkan seorang anak bangsawan, pasti mereka penasaran sekali...” Yugi tersenyum tenang sambil memikirkan strateginya untuk bertarung.


“Aku juga berpikir begitu.” Balas Yuko dengan santainya.


Rufald, seorang wakil pelayan dan juga merupakan adik dari kepala pelayan, Rofald. Dia akan menjadi wasit untuk pengujian kemampuan Yugi dalam pertarungan kali ini. “Pertarungan antara Jendral Penyihir Yuko melawan petualang Yugi, DIMULAI...”


Dengan pedang yang sudah tersarung di pinggang kirinya, Yugi berdiri dengan kedua tangan berada didepan yang saling menyilang dan menutupi wajahnya. “Pertarungan ini untuk menguji seberapa jauh aku berkembangkan... maka lihatlah baik-baik.” Tubuh Yugi mulai diselimuti oleh aura biru muda yang menenangkan. “Mode Eternal Snow.” Akhirnya Yugi memasuki mode terkuatnya, seluruh tubuhnya sudah diselimuti aura biru keputihan yang sangat kental.


Dibangku tempat anggota kerajaan berada, semuanya tercengang melihat perubahan Yugi yang sedikit berbeda dari sebelumnya.


“Mode ini berbeda dari yang dulu...” ucap Elsa.


“Setiap lengan kak Yugi terdapat garis biru.” Ucap Elna.


“Warna energinya yang menyelimuti tubuhnya juga sudah berubah, sedikit lebih putih dari yang dulu.” Ucap Raniya.


“Kekuatannya juga sudah mencapai Raja Penyihir puncak, hampir mencapai Jendral Penyihir.” Ucap Reulad yang tidak percaya melihat perkembangan yang begitu pesat hanya dalam sebulan.


Sementara Risa melayang diatas arena sambil memperhatikan perubahan Yugi yang sedikit berbeda dari yang dulu. “Ini akan sangat menarik.” Gumam Risa sambil tersenyum senang dengan lidah yang menjilat bibirnya sendiri dengan erotisnya.


Kembali ke arena, perbuahan yang ditunjukkan oleh Yugi membuat semua penonton terperangah. Dengan perubahannya yang membuat dia semakin tampan itu memancing banyak wanita yang mengincarnya.


“Kyaaaaaa Tampaaaannnnn...”


Teriak penonton perempuan dengan lambang cinta di setiap mata mereka. Sorakan dari para penonton yang lebih dominan oleh perempuan itu membuat Elsa dan Elna menatap tajam Yugi seolah telah melakukan kesalahan besar.


Yugi memperhatikan perubahannya yang entah kenapa terlihat berbeda itu, kedua lengannya terdapat garis biru yang terlihat menyerupai simbol dengan punggung tangan yang terdapat lingkaran seperti corak salju. “Aku merasa sangat berbeda... seperti sebuah kekuatan tiada tara masuk kedalam tubuhku.” Gumam Yugi sambil meremas-remas telapak tangannya.


[“Tentu saja, sekarang kemampuanmu jauh berbeda dengan yang dulu. Mungkin butuh waktu untukmu bisa beradaptasi dengan kekuatan barumu.”] ucap Yui dalam pikiran Yugi.


Yugi hanya mengangguk mengerti dengan keadaannya sekarang ini. Sementara Yuko yang sebelumnya terlihat terkejut sekarang mulai tenang kembali. Senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya, seolah telah menemukan lawan yang menarik.


“Bagaimana kalau kita mulai saja?” tanya Yuko.


“Tentu...” balas singkat dari Yugi.


“Silahkan, kau boleh menyerang duluan.” Tantang Yuko dengan penuh percaya diri.


“Heh, jangan menyesal ya...” ejek Yugi. Seketika...


Wuuuuuusssshhhh


Blaaaaarrrrrrr


Sebuah benda melesat kearah Yuko dan hanya melewatinya begitu saja. Benda yang dimaksud tidak lain adalah Yugi yang sekarang menabrak dinding arena dengan begitu kerasnya. Dengan perlahan Yugi berusaha keluar dari reruntuhan yang menimpanya.


“S-sial, sulit sekali dikendalikan.” Umpat Yugi yang mulai berdiri kembali.


Semua penonton melongo melihat kejadian tadi, mereka hanya melihat sebuah debu arena yang melewati Yuko dengan cepatnya dan juga merasakan sebuah angin menerpa mereka dengan pelan.


“Apa yang terjadi?” tanya penonton laki-laki.


“Apa itu tadi?” tanya penonton perempuan yang ikut terkejut melihatnya.


Dibangku anggota kerajaan, mereka juga sama terkejutnya saat melihat kecepatan yang setara dengan angin itu. Raja Reulad yang melihat itu mencoba menganalisis sejauh mana kekuatan Yugi yang terbilang tidak normal itu.


“Kecepatan yang luar biasa, seperti seorang Raja Penyihir yang baru saja naik level dengan kekuatan baru.” Ucap sang Raja Reulad.


Kedua tuan putri yang mendengar penjelasan dari ayah mereka hanya mampu terkejut. Latihan Yugi yang hanya sebulan itu langsung mendapatkan kekuatan sekuat ini, jika di lihat lagi kekuatan ini sudah melampaui seorang remaja seumurannya.

__ADS_1


Yuko yang masih terdiam ditempatnya berada hanya mampu menatap dengan terkejutnya tanpa bergerak sedikit pun, tapi keterkejutannya langsung dia hilangkan digantikan dengan wajah datar. “Sepertinya kekuatanmu melebihi perkiraanku.” Ucap Yuko yang sudah memasuki mode seriusnya.


“Jangan meremhkanku, ini baru pemanasan...” balas Yugi dengan senyuman percaya dirinya.


Tidak lama Yugi sudah menghilang lagi dari tempatnya dan bergerak cepat seperti angin menuju arah Yuko, dengan serangan dadakan itu langsung saja Yuko hindari dengan sempurna, membuat Yugi lagi-lagi melesat kearah dinding arena.


BLaaaaarrr...


Tapi tabrakan yang sekarang lebih kecil dibanding sebelumnya, karena Yugi sudah mengontrol kekuatannya walau tidak secara penuh. “Untung tidak nabrak lagi... tapi...” Yugi berusaha mengeluarkan kakinya yang terjebak didinding. “Kakiku tersangkut...”


“Aku masih kagum dengan kecepatanmu itu. Kau sudah lebih kuat sekarang muridku...” ucap Yuko dengan senyuman kearah Yugi. “Tapi percuma saja kalau kau tidak bisa mengendalikannya. Sudah aku bilangkan kontrol mana itu sangatlah penting.” Lanjutnya dengan wajah datar.


“Tenang saja guru, aku akan lebih serius sekarang.” Ucap Yugi yang sudah mengeluarkan kakinya dari dinding. Yugi mulai mengambil kuda-kuda menyerang dengan kaki kanan berada didepan. Tangan kanannya sudah terlapis air yang begitu padat dengan pusaran ditengahnya. Dengan kaki kirinya sebagai tolak dan dibantu kaki kanan, Yugi melesat kembali kearah Yuko. “Rasakan ini... Spalshing.” Sebuah tinju air bertekanan besar dia layangkan kearah Yuko.


Melihat hal itu Yuko langsung membuat penghalang ungu didepannya. “Masih terlalu lemah...”


Duuuuuaaaaarrrrrr


Ledakan terjadi antara tinju Yugi dan penghalang milik Yuko. Tapi Yugi tidak berhenti disana, dia terus saja mendorong tinjunya untuk memecahkan pelindung milik Yuko.


“Berhenti saja, kamu tidak mungkin bisa menem-...”


Belum sempat Yuko menyelesaikan kata-katanya, sebuah retakan terjadi pada pelindungnya. Dilihat bahwa tinju Yugi semakin lama semakin kuat untuk menerobos pelindung itu.


“Jangan lengah guru...”


Pyaaarrrr


Yugi berhasil memecahkan pelindung milik Yuko dan melanjutkan tinjunya yang sempat dihalangi oleh pelindung. Tapi dengan sigap Yuko melompat ke atas untuk menghindari tinju tersebut.


Duuuuaaarrrr


Tinju milik Yugi lagi-lagi meleset dan mengenai tanah sampai membuat sebuah kawah yang cukup besar. Tidak lama Yuko mendarat dengan sempurna tidak jauh dari Yugi.


“Hampir saja...” gumam Yuko. ‘Aku tidak percaya dia bisa menembusnya begitu saja, kekuatannya bukan lagi tingkat pemula, lanjutan ataupun senior. Ini sudah jelas setingkat Raja Penyihir...’ batinnya.


“Sial, lagi-lagi meleset.” Kesal Yugi yang tidak bisa mengenai targetnya.


[“Kau harus sedikit menahan diri Yugi.”]


‘Maaf Yui, aku sangat bersemangat hari ini. Tidak aku sangka akan mendapatkan kekuatan sehebat ini.’ Ucap Yugi melalui telepati.


‘Seriusan... aku tidak bisa membayangkannya.’ Telepati Yugi dan Yui terpaksa terpotong karena ada sebuah puluhan jarum es menuju kearahnya. “Ice Shield...”


Yugi membuat perisai es didepannya untuk menghalau semua jarum es itu. Tapi dia tidak menyadari kalau Yuko sudah menghilang dari tempatnya.


“Kau harus lebih waspada Yugi.” Sebuah suara Yuko berada tepat dibelakang Yugi. Saat menyadari itu sebuah tinju tepat bersarang ke perut Yugi membuatnya terpental sampai terpelanting ketanah.


Duak


Bruk bruk bruk


Beberapa kali Yugi berguling di tanah sampai akhirnya dia melompat dan menyeimbangkan dirinya dengan sempurna.


“Dia cepat sekali, aku bahkan tidak menyadarinya.” Kaget Yugi yang menyadari betapa cepatnya Yuko.


[“Kau harus lebih siaga Yugi. Gunakan insting nagamu, awas diatas...”]


Mendengar peringatan dari Yugi, dengan cepat Yugi berguling ke samping dan menghindari sebuah tinju yang meleset dan mengenai tanah tempat Yugi berpijak sebelumnya.


Duuuaaaarrrr


“Yare yare meleset rupanya. Sepertinya sudah cukup untuk pemanasannya bukan, harusnya kau sudah bisa beradaptasi dengan kekuatan barumu, Yugi.” Yuko menepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel.


“Okelah... aku siap.” Ucap Yugi dengan senyuman percaya dirinya.


Keduanya pun mulai melesat kearah satu sama lain dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Serangan beruntun mereka lancarkan kesatu sama lain yang menimbulkan sebuah ledakan. Bagi para rakyat biasa, mereka hanya bisa melihat sebuah kilatan biru dan hitam yang saling beradu dan berlika liku layaknya ular.


Duar duar duar


“Apa yang terjadi?”


“Mereka cepat sekali.”


“Siapa yang lebih unggul?”


Berbagai pertanyaan dan ucapan rasa kagum mereka layangkan tatkala melihat pertarungan yang begitu sengit walau mereka Cuma bisa melihat cahaya yang saling beradu.


“Ayah...” ucap Elsa yang tidak percaya melihat pertarungan sengit didepannya.

__ADS_1


“Tenang saja Elsa, untuk sekarang mereka masih seimbang. Tapi...” Reulad menggantung perkataannya sambil melihat dengan seksama keadaan Yugi yang mulai terbalik.


Duar duar...


Sekarang Yugi sedang dikejar oleh Yuko sambil terus melancarkan serangan bertubi-tubi yang hanya mampu Yugi tahan tanpa menyerang balik.


“Sepertinya Yugi mulai kewalahan akibat serangan dari Yuko.” Lanjut Reulad dengan wajah seriusnya.


“Tidak mungkin.” Gumam Elsa.


“Kak Yugi, berjuanglah...” ucap Elna menyemangati.


Duar


Tinju mereka saling beradu dan mendorong untuk mendominasi satu sama lain. Tidak lama mereka melompat untuk menjaga jarak, nafas mereka sudah tidak beraturan. Tapi Yuko dengan cepat bisa mengatur nafasnya kembali, sedangkan Yugi masih terengah-engah.


“Sepertinya aku masih unggul.” Ucap Yuko dengan senyuman kemenangannya.


“Hah hah hah... ini masih belum selesai.” Balas Yugi yang tidak mau mengalah.


Untuk kesekian kalinya mereka kembali menyerang satu sama lain. Adu tinju, tendangan dan hantaman tidak terelakkan lagi, keduanya semakin memanas.


[“Yugi...”]


‘Aku tau.’ Yugi membuat sebuah tombak es yang mengelilinginya. “Spear of Ice...” sepuluh tombak yang mengelilingi Yugi mulai menyerang kearah Yuko satu persatu.


Tapi dengan anggunnya Yuko berhasil menghindarinya tanpa terkena sedikit pun.


“Sekarang...” tanpa disadari oleh Yuko, Yugi sudah berada diatasnya dengan pedang Eternal Snownya. “Freezing Sword...” pedang itu Yugi tebaskan tepat ketubuh Yuko.


Slash...


Wuuuussshhh


Blaaaaarrrrrr


Tebasan itu mengenai Yuko dan membuatnya meluncur ke bawah dengan cepatnya dan menghantam tanah dengan begitu keras. Debu berterbangan di sekitar arena dan menghalangi pandangan. Yugi tetap bersiaga karena dia tau itu masih belum cukup untuk mengalahkan seorang jendral penyihir.


Saat debu menghilang, terlihatlah Yuko yang masih berdiri dengan tenangnya, dia terlihat tidak terluka sama sekali oleh serangan Yugi. Dibelakangnya terdapat tanah es yang membeku akibat serangan Yugi yang diperkirakan kalau serangan itu sangatlah kuat.


“Jika saja aku tidak menggunakan perisai di sekeliling tubuhku, sudah dipastikan aku pasti akan mati...” gumam Yuko sambil menatap Yugi yang berada didepannya. “Bagaimana kalau kita bertarung lebih serius lagi.” Yuko membuat sebuah portal didepannya dan mengeluarkan pedang berwarna ungu dengan lambang bunga yang terlihat indah.


“Kau pasti bercanda, jadi sedari tadi kau belum serius?” Yugi berkeringat dingin setelah mendengar pernyataan dari Yuko.


“Tenang saja, aku mengakui kekuatanmu. Bukan berarti aku tadi mengalah, hanya saja tidak akan seru jika harus mengalahkanmu begitu saja. Tapi sekarang aku yakin kau memiliki kekuatan yang luar biasa, jadi aku juga akan mengerahkan seluruh kekuatanku sekarang.” Ucap Yuko, seketika tubuhnya diselimuti aura ungu yang begitu mematikan. Pedangnya dia tarik dari sarungnya yang memperlihatkan bilah putih yang begitu tajam.


“Aku senang kalau kau mengakuiku guru, tapi tetap saja... gluk...” Yugi menelan ludahnya dengan keringat yang meluncur di pelipisnya. “Apa kau tidak terlalu berlebihan.”


“Nah... bagaimana kalau kita mulai ronde kedua.” Ucap Yuko dengan pedang yang teracung kearah Yugi.


“Baiklah...” Yugi juga mengacungkan pedangnya kearah Yuko.


Saat itu aku menyadarinya, kalau pertarungan ini adalah cara kami untuk mengenal satu sama lain...


Bukan begitu, guru...


Yugi berlari cepat kearah Yuko, begitu pula Yuko yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Yugi. Keduanya semakin mendekat dan siap menebas.


“Tebas dia Eternal Snow...”


“Bekukan dia Freezing Frost...”


Trank


Duuuuaaaarrrrr


Kedua senjata kuat itu saling berbenturan dan mengakibatkan ledakan dengan gelombang kejut yang begitu kuat. Keduanya saling mendominasi satu sama lain dengan aura yang saling meluap, biru dan ungu saling berbenturan dengan aura yang menyebar kemana-mana.


Aku melihat wajah serius guruku yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kami saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang ingin mengalahkan...


Senyuman saling kami layangkan...


Entah kenapa sepertinya kami menikmati pertarungan ini...


Tanpa kami sadari kalau matahari mulai di ujung batasnya untuk menyinari...


Tapi langit senja itu terlihat indah membuat pertarungan ini seperti sebuah upacara antara murid dan guru...


Keinginan seorang guru adalah melihat muridnya melampaui kekuatannya... itu yang aku pikirkan... tapi kalau aku sendiri... ingin mendapatkan pengakuan dari guruku...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2