
“Toloooonnngggg... siapa saja, tolong kami.”
Bruuussss (kobaran api)
Waktu itu, kobaran api yang sangat besar menelan rumah kami. Aku yang hanya seorang anak kecil yang baru berusia 8 tahun tidak tahu harus berbuat apa.
“Tolooonng... ayah dan ibuku... mereka masih didalam.”
Saat itu merupakan hari terakhir diriku bisa melihat mereka...
Bruuuussss (kobaran api)
Pada akhirnya... aku hanya bisa memandangi, debu bekas kobaran api rumahku. Aku yang tidak berdaya hanya bisa menangis sekencang-kencangnya. Tapi aku tau itu tidak akan merubah apapun...
“Hiks... hiks... ayah... ibu...”
Tapi... waktu itu, seorang kakek berkata padaku...
“Dengarkan nak, kematian bisa menghampiri siapa saja, kita tidak bisa menghindar darinya. Tapi sebelum kita dihampiri oleh sang kematian, maka lakukanlah sesuatu yang bisa membuat orang lain mengenang jasa hidupmu.”
Aku yang mendengarnya hanya bisa diam mencerna kata-katanya. Pada awalnya aku tidak mengerti, tapi... setelah kejadian mengerikan yang menelan kedua orang tuaku. Akhirnya aku diangkat sebagai cucu olehnya, kakek... dia mengajarkanku banyak hal. Dan memberitahuku bahwa ilmu merupakan harta berharga yang tidak bisa ditukar dengan uang. Sepanjang hidupnya kakek selalu mengatakan hal-hal yang hebat padaku. Walaupun kami hanya seorang penduduk desa yang hidup di bawah mata pencaharian petani. Tapi kami hidup dengan bahagia....
Sampai suatu ketika...
“Kakek... kakek...”
Kakek terbaring lemas diatas kasur... dengan kulit yang kering dan keriput. Badannya juga kurus... wajah yang begitu pucat. Aku mengerti... ini pasti akan datang cepat atau lambat. Tapi apakah harus secepat ini. Aku masih mau bersama dengannya.
Ya Tuhan...
Izinkanlah aku egois sekali ini saja...
Biarkanlah, satu-satunya orang yang terakhir dalam hidupku... damai berada dialam sana.
Hanya itu yang aku inginkan...
Aku masih ingat kata-kata kakek... jika kematian akan datang cepat atau lambat. Karena itu sudah merupakan hukum alam. Untuk terakhir kalinya kakek meminta sesuatu padaku...
“Nak... wujudkanlah mimpimu. Uhuk uhuk... menjadi seorang pahlawan yang hebat... seperti yang kamu katakan waktu kecil... uhuk uhuk...”
Disaat terakhir pun kakek angkat yang sudah aku anggap kakek sendiri, masih saja mengingat impianku dulu. Aku menceritakan tentang mimpiku yang ingin menjadi seorang pahlawan seperti halnya aku menceritakannya pada ayah dan ibuku dulu. Impianku tidak pernah berubah... karena aku ingin melindungi orang-orang yang aku sayangi...
“Dengarkan kakek... uhuk uhuk... kamu, pasti bisa... usiamu sekarang sudah bisa hidup sendiri... uhuk... temukan kebahagiaanmu... cucuku...”
Tanganku yang menggenggam tangan kanannya, sedikit demi sedikit, mulai mengendur. Aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya...
Pada akhirnya aku pun sendiri lagi... menatap makam kakekku dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara. Diam membisu... hanya mampu menatap kedepan dengan kosong. Aku tau tidak bisa seperti ini terus... oleh karna itu, harapan yang mereka inginkan dariku. Akan aku penuhi...
“Aaahhh...” Yugi terbangun dari mimpi buruknya, ia menyentuh pipinya, sebuah air yang baru saja turun dari matanya. Ya... itu adalah air mata. “Mimpi itu... kenapa baru muncul sekarang. Menyedihkan...” Yugi menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Mimpi yang dialaminya adalah kenyataan dimasa lalunya.
Yui yang merupakan jiwa dari dewa naga es yang tersegel kedalam pedang Eternal Snow juga ikut menangis. Karena ia juga bisa melihat mimpi tuannya yang begitu dramatis. Hidup seorang diri sewaktu kecil akibat sebuah peristiwa, kemudian ditinggalkan oleh kakek angkatnya saat berusia 14 tahun. Entah bagaimana ia bisa melalui semua itu... [“Yugi...”]
“Wah sudah pagi...” Yugi merenggangkan badannya, berusaha melupakan mimpi tadi. Yugi tau kalau Yui juga melihat mimpinya. Karena ia terhubung melalui kontrak.
[“Kau baik-baik saja?”]
“Tidak pernah sebaik ini... tidak usah mengkhawatirkanku Yui.” Yugi berdiri dari kasurnya dan pergi dari kamar melalui jendela, sungguh tidak sopan sekali.
Hap
Mendarat dengan sempurna ditaman istana, disana Yugi memulai latihan paginya dengan sedikit peregangan. Para prajurit yang agak jauh melihat kegiatan yang dilakukan Yugi. Dengan sopan, prajurit itu menyapa dengan ramah.
“Selamat pagi...” sambil melambaikan tangannya kearah Yugi.
Dengan reflek yugi juga membalas lambaian dari prajurit tersebut. “Pagi juga...”
“Pagi kak Yugi...” Elna, tuan putri kedua dari kerajaan Northern Esla menyapa Yugi, dengan memakai pakaian santainya yang terlihat seperti baju santai tapi masih terkesan dengan aura tuan putri.
“Pagi Elna...” balas Yugi sambil tersenyum cerah.
“Pagi pagi begini sudah mulai latihan ya...?”
“Begitulah... jika tidak, badanku bisa kaku.” Yugi melanjutkan peregangan sambil sesekali mengobrol dengan Elna. “Ngomong-ngomong kamu bangun pagi sekali, putri Elna...”
“Hemph... jangan salah paham dulu, bukan berarti aku kesini hanya karena melihatmu loncat dari jendela dan sengaja menemuimu...” ucap Elna dengan sifat tsunderenya yang jelas-jelas bisa dibaca oleh Yugi dengan mudah.
__ADS_1
“Iya ya... tuan putri.”
“Apa-apaan nadamu itu, aku tidak suka.” Ucap Elna dengan kesal.
“Bagaimana kalau kamu ikut latihan bersamaku...?” tawar Yugi.
“Benarkah...” balas Elna dengan cepat sambil berbinar menatap Yugi. Tapi dengan cepat sifatnya berubah lagi. “B-boleh saja kalau kamu memaksa... aku akan ikut latihan bersamamu. Ingat ini hanya karena kamu menginginkannya...”
“Sebenarnya kalau tidak mau juga tidak apa-apa...” ucap Yugi dengan nada sweetdropnya.
“Sudahlah, mari kita mulai saja latihannya...” ucap Elna dengan cepat.
“Diabaikan...” gumam Yugi.
Setelah itu mereka memulai dengan latihan dasar, seperti lari, push up, sit up dan di lanjut dengan kontrol sihir.
“Ternyata kontrol sihirmu lumayan juga putri Elna...”
“Tentu saja... aku tau kamu akan terkejut kak Yugi.”
“Iya ya...”
Sang raja yang melihat putri keduanya tengah melakukan latihan bersama dengan seorang pemuda petualang hanya memberikan sebuah senyuman tipis. “Anakku sudah mulai berubah rupanya...”
Latihan yang berlangsung lama itu diakhiri saat salah satu prajurit menyuruh mereka untuk pergi keruang makan. Karena ratu telah memanggil mereka untuk sarapan pagi. Acara makan berlangsung dengan tenang, setelah menyelesaikan sarapan pagi. Kami semua diminta untuk menghadiri sebuah upacara pengangkatan calon ratu baru yang akan memimpin kerajaan Northern Esla selanjutnya. Seorang tuan putri tertua, Elsa Northern Esla. Tentu saja Yugi terkejut, ternyata hari ini akan diadakan upacara pengangkatan calon, pantas saja dari tadi ia melihat banyak pelayan yang sibuk mundar mandir ditambah penjagaan yang begitu ketat.
‘Pengangkatan calon kah... aku tidak percaya akan melihatnya hari ini. Mungkin karena dia sudah berusia 16 tahun maka diadakan pengangkatan calon.’ Batin Yugi, sekarang dirinya tengah berjalan-jalan keliling istana, sambil memperhatikan para maid yang bekerja begitu keras.
[“Ngomong-ngomong, pengangkatan calon itu apa ya?”]
‘Kau tidak tau ya, oh ya benar juga, kau kan tertidur selama seribu tahun, mana tau ya kan... hahahahaha...’
[“Jangan meledekku, andai saja aku bisa keluar sekarang.”]
‘Eiittss... kau tidak bisa, terlalu banyak orang, bagaimana nanti kalau ketauan... bisa bahaya kan, ya kan...’
[“Sekarang aku benar-benar kesal dengan sikap sok tau mu itu...”]
‘Iya ya, akan aku beritahu... tidak perlu semarah itu kan. Ehem... pengangkatan calon adalah mereka para bangsawan yang sudah dewasa, sekitar 16 tahun... mereka yang sudah mencapai usia tersebut akan dicalonkan sebagai pemimpin selanjutnya jika sang raja yang lama mengundurkan diri atau pun meninggal. Dalam kasus ini, yang akan di calonkan adalah anak tertua. Oleh karena itu, upacara ini sangat penting untuk kelangsungan masing-masing kerajaan.’
‘Ini pasti akan menjadi sejarah...’
[“Apa maksud perkataanmu itu.”]
‘Dalam sejarah kerajaan Northern Esla, baru pertama kali ini penerus selanjutnya adalah wanita. Karena dari generasi ke generasi penerus kerajaan ini selalu laki-laki.’
[“Hhmmm...”]
‘Tapi menurutku yang paling membuatku penasaran adalah kerajaan bagian timur... dimana penerusnya adalah wanita semua. Apa mereka tidak punya penerus laki-laki ya...’
[“Tidak semua tradisi kerajaan itu sama... mungkin ini yang biasa disebut perbedaan kebudayaan.”]
‘Mungkin saja...’
Yugi berhenti berjalan karena pandangannya teralihkan ke pada seorang wanita yang sekarang tengah melakukan latihan di lapangan istana. Yugi tau siapa dia... karena dialah yang akan mengikuti upacara pengangkatan itu. Langkah kaki Yugi bergerak kearah wanita itu, yang tidak lain adalah Elsa.
“Hah hah hah...” Elsa terengah-engah setelah mengeluarkan sebuah jurus.
“Mungkin sebaiknya kita istirahat dulu.” Ucap sang guru wanita yang berkisaran 30 tahunan.
“Tunggu guru... aku masih bisa.” Ucap Elsa sambil kembali berdiri tegak.
“Baiklah, mari kita lanjutkan sedikit lagi.” Balas sang guru.
“Snow Storm...” sebuah badai salju menyerang kearah guru wanita itu.
Melihat serangan muridnya, wanita itu tidak tinggal diam, ia membuat sebuah barrier berbentuk prisma didepannya. Benturan dari kedua jurus itu mengakibatkan getaran yang cukup hebat. Serangan Elsa dapat mudah ditahan oleh guru wanita itu. “Aku rasa masih terlalu cepat kamu mau melampaui gurumu ini.”
“Aku pasti bisa...” semangat Elsa sambil menatap gurunya serius.
“Semangatmu bagus... tapi sepertinya kamu sudah mencapai batas ya.”
Setelah perkataan gurunya itu, tiba-tiba kepala Elsa serasa pusing dan keseimbangan tubuhnya mulai goyah. Guru yang melihat tubuh muridnya mulai goyah, sesegera mungkin menghampirinya. Tapi belum sempat bergerak, seorang laki-laki yang tidak ia kenal menggendong putri Elsa yang sudah pingsan.
“Siapa kau?” tanya sang guru.
__ADS_1
“Maaf atas kelancanganku. Namaku Yugi, seorang petualang pemula dari kerajaan Aries.” Jawab Yugi setenang mungkin, ia kemudian memberikan Elsa pada guru wanita itu.
“Jadi kau adalah pemuda yang telah menyelamatkan putri kedua.” Ucap guru wanita itu sambil menggendong Elsa bridal style.
“Begitulah, ngomong-ngomong anda siapa?”
“Aku guru dari Elsa, nama saya Yuko. Penyihir tingkat 90... atau biasa dipanggil jendral penyihir.” Jawab Yuko dengan senyuman cantik walau umurnya sudah lanjut.
“J-jendral penyihir...” kaget Yugi saat mengetahui level wanita yang ada didepannya ini.
[“Pantas saja aku merasakan kekuatan yang teramat besar darinya.”]
‘Baru pertama kali ini aku bertemu dengan seorang jendral penyihir secara langsung.’ Batin Yugi.
“Hhmmm...” Yuko menatap intens kearah Yugi seolah menemukan hal yang menarik.
[“Gawat Yugi... seorang jendral penyihir bisa merasakan aura yang terpendam dalam dirimu. Lebih baik kamu secepatnya pergi...”]
‘B-baik... aku mengerti.’ Yugi berpikir keras untuk bisa menjauh dari Yuko. “K-kenapa guru Yuko menatapku seperti itu?”
“Aku merasakan kekuatan yang aneh dalam dirimu... tapi, sumbernya terlalu kecil, apa kau menekan kekuatanmu?” tanya Yuko dengan curiga.
“A-apa yang anda katakan, saya cuma petualang level 30. Saya ini tidak kuat... ma-maaf saya permisi.” Dengan cepat Yugi pergi dari sana meninggalkan Yuko yang berpikir keras.
“Seperti dugaan raja... sepertinya pemuda ini menyembunyikan sesuatu. Hm... menarik.” Gumam Yuko.
“Akhirnya aku bisa lari dari wanita berbahaya itu... aku tidak menduga ia akan merasakan kekuatan di dalam diriku.” Gumam Yugi. “Tapi kenapa raja tidak mengatakan apapun padaku ya... apa dia tidak bisa merasakannya?”
[“Aku pikir raja itu menutup mulutnya dan membiarkanmu begitu saja. Tapi aku tidak tau apa tujuannya?”]
“Untuk sekarang kita pikirkan saja nanti... yang penting tetap waspada.” Gumam Yugi.
Waktu menunjukkan siang hari... sudah saatnya untuk pelantikan tuan putri menjadi calon ratu selanjutnya. Momen penting saat ini, dan sejarah yang untuk pertama kalinya bagi kerajaan Northern Esla. Pemimpin selanjutnya yang merupakan putri Elsa yang dikatakan sebagai anak yang jenius, karena levelnya sudah setingkat penyihir level 65. Dikatakan sebagai penyihir muda yang sangat kuat. Semua kerajaan sudah mengakui tentang bakatnya tersebut. Tidak hanya bakatnya saja, kecantikannya bagaikan bidadari yang turun dari kayangan. Sekarang, putri tertua itu sedang berdiri di hadapan semua rakyatnya, dibelakangnya terdapat raja, ratu dan putri kedua yang akan menyaksikan pengangkatan calon ratu baru Northern Esla. Seorang tetua yang umurnya sudah sangat tua, berjalan ke hadapan Elsa seraya menatapnya dengan serius.
“Putri pertama dari kerajaan Northern Esla... putri Elsa Northern Esla... hari ini merupakan hari yang kita tunggu-tunggu, pengangkatan calon pemimpin yang baru. Putri Elsa... dengan ini bersediakah anda untuk mengabdi kepada negara, untuk rakyat dan semua orang yang ada di kerajaan Northern Esla?” ucap tetua dengan suara wibawanya yang begitu berat.
“Saya bersedia...” tegas Elsa dengan serius.
“Dengan ini... Elsa Northern Esla akan menjadi penerus selanjutnya dari kerajaan Northern Esla.”
Setelah perkataan terakhir tetua, semua orang yang menyaksikan itu berteriak gembira. Dan terus menyeru nama putri elsa.
“HIDUP PUTRI ELSAAA...”
Sang raja berjalan kearah putrinya dengan membawa sebuah pedang berukiran salju yang sangat indah. Saat Reulad berada tepat di hadapan putrinya seraya berkata. “Putriku Elsa... jadilah pemimpin yang bisa membuat rakyatnya bahagia. Dengan ini, aku serahkan masa depan kerajaan ini padamu...” Reulad memberikan pedang biru muda dengan ukiran salju kepada Elsa.
“Saya terima tugas ini yang mulia...” Elsa pun menerima pedang tersebut dengan hati yang mantap.
Upacara penerus kerajaan yang baru itu berlangsung dengan meriah... tawa senang diantara lautan manusia itu tidak ada hentinya. Aku yang merupakan orang luar, entah bagaimana merasa ikut senang dengan pengangkatan ratu baru dari kerajaan lain. Jadi ini kah yang dimaksud dengan... menjaga kebahagiaan orang lain...
“Semuanya berjalan dengan baik, dengan kata lain kalau kerajaan ini tidak memiliki masalah. Biasanya setiap kali akan ada pengangkatan calon pemimpin baru pasti akan ada yang namanya pemberontakan.” Gumam Yugi yang sekarang tengah menikmati angin malam di sebuah balkon istana. Yui yang mendengar gumaman Yugi hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. “Berbeda sekali dengan Aries...”
[“Mungkin mereka tidak menyukai raja yang sekarang?”]
“Tidak... aku pikir raja Aries yang sekarang lebih baik dari yang dulu...”
[“Itu menurut pendapatmu sendiri, bagaimana dengan pendapat orang lain...?”]
“Aku tidak tau...”
Setelah itu keheningan melanda diantara keduanya, saat Yugi ingin meninggalkan balkon, dia melihat Elsa yang tengah berada ditaman istana. Karena penasaran Yugi pun berjalan menuju ke sana.
Ditaman, Elsa seorang putri pertama yang telah diangkat menjadi calon ratu yang baru kerajaan Northern Esla. Sekarang sedang menikmati angin malam sambil menaiki ayunan yang ada ditaman istana tersebut. Tidak terasa waktu terus berjalan, bulan yang menyinari dengan indahnya bersama dengan bintang-bintang yang menaburi langit menambah kesan malam yang begitu menawan.
Saat Yugi sudah berada ditaman tersebut, ia menatap Elsa dengan pandangan terpesona melihat keindahan yang begitu kentara dimatanya.
Saat ini dimataku, aku melihat seorang tuan putri yang tengah duduk di sebuah ayunan dengan pandangannya yang sayu. Putri itu memandangi bulan yang menyinarinya... dengan senyuman yang begitu lembut. Aku pun terpana melihat keindahannya... sinar bulan membuat wajah cantiknya terlihat begitu jelas. Bintang yang bertaburan dilangit menambah kecantikannya... matanya yang sayu itu mengundang siapa pun untuk mendatanginya.
“Kamu sendirian...?” Yugi berjalan kearah Elsa dengan hati yang mantap. Dia tidak mau terlihat bodoh di hadapan Elsa.
“Aku rasa, sekarang tidak lagi...” balas Elsa dengan pandangan bersahabat.
Kedua manusia ini saling berbagi pandangan yang berbeda... kesan diantara keduanya mulai mengalami perubahan. Entah itu kearah yang baik atau malah sebaliknya... tapi Yugi tau, kalau ini akan membawanya ke suatu peristiwa yang akan datang...
Bersambung
__ADS_1