
Dulu kala ada seorang penyihir yang memiliki kemampuan yang begitu unik dari sekian banyak penyihir. Jika para penyihir kuat tergantung mana dan rapalan sihirnya. Maka penyihir yang satu ini tergantung pada mata mereka, mata merah yang menyala layaknya api... kekuatan yang terpancar dari setiap pandangannya itu bagaikan sebuah bencana bagi setiap makhluk hidup. Dikatakan mata merah itu seperti sebuah kutukan... tapi kutukan itu sendiri membawa sebuah kekuatan tiada tara. Kebanyakan penyihir akan ketakutan setelah mendengar namanya. Karena takut akan kekuatan yang bisa membawa bencana itu, para penyihir yang lain memburu setiap penyihir yang memiliki mata itu. Mata merah yang membara... mata pembawa bencana... padahal mereka juga ingin hidup layaknya penyihir biasa pada umumnya. Tapi karena takut dengan kekuatan mata terkutuk itu, akhirnya mereka kalut dan membantai setiap penyihir pemilik mata kutukan. Sampai sekarang penyihir yang memiliki mata kutukan itu sudah dianggap punah... mata itu... mata yang begitu tajam... mata yang menyiratkan akan neraka abadi... setiap menatapnya semua orang akan lari ketakutan... saat mendengar nama itu semua orang mulai merinding... mata terkutuk... mata pembawa bencana... mata sihir yang begitu kuat... sang mata iblis...
PENYIHIR MATA IBLIS...
“Apa hanya segitu kemampuanmu... kau bilang ingin menjadi muridku. Tapi aku tidak menyangka hal seperti ini saja kau tidak bisa...” pemuda bersurai putih salju tengah melatih seorang gadis kecil yang berkisaran 10 tahunan, gadis itu bersurai putih perak dengan mata merah layaknya api. “Apa kau menyerah Vira...”
Vira, gadis yang sedang dilatih oleh Yugi sekarang tengah kelelahan dengan badannya yang sudah terbaring lemas ditambah keringat yang terus keluar dari tubuhnya. Pakaian merahnya sudah kotor terkena debu disana sini. “A-aku masih belum selesai...” Dengan sisa tenaganya, Vira bangun dengan wajah kelelahan karena terlalu banyak menggunakan mana. Dia sekarang sedang diajari tentang kontrol mana didalam tubuhnya. Energi yang begitu besar dalam diri Vira bisa dilihat oleh Yugi. Kekuatan besar itu tidak bisa dikendalikan dengan benar oleh Vira.
‘Dia memiliki aliran mana yang cukup banyak untuk anak seusianya. Memang seorang penyihir mata iblis, sejak kecil mereka memiliki mana yang melimpah didalam tubuhnya, tapi itu tidak akan ada gunanya jika tidak bisa mengendalikannya.’ Batin Yugi yang melihat sebuah mana yang keluar dari tubuh Vira yang tengah bertapa. “Kau bisa merasakannya?” tanya Yugi.
“Y-ya... sangat berat.” Vira terus menahan lonjakan mana yang terus keluar dari tubuhnya.
“Itu artinya mana dalam dirimu kehilangan kendali, sekarang konsentrasi dan bayangkan aliran manamu berputar di satu titik didalam tubuhmu. Kau pasti bisa...” Yugi khawatir saat melihat betapa banyaknya keringat yang keluar dari tubuh Vira. Pengontrolan mana memanglah sulit, tidak seperti saat latihannya yang dibantu oleh Yui. Vira harus melakukannya dengan kemampuan yang dia miliki.
‘Aku merasakan sebuah lonjakan energi yang begitu besar yang tiba-tiba merebas keluar dari tubuhku. Aku tidak menyangka kalau energi sebesar ini ada didalam tubuhku. Aku merasakan kalau tubuhku serasa mau meledak. Konsentrasi... aku harus fokus untuk mengendalikan energi yang memberontak ini.’ Vira sudah mulai bergetar di sekitar tubuhnya karena tidak bisa menahan energi tersebut. “Hwaaaa...”
Brak...
Pada akhirnya Vira terlempar karena energinya sendiri dan itu mengakibatkan benturan tepat ke arah pohon. Tubuh Vira sudah tidak bisa menahan beban yang begitu berat saat energi yang terus saja mengaliri tubuhnya. Untuk sesaat matanya berubah menjadi merah darah dengan pupil hitam vertikal ditengahnya. Tapi dalam sekejap matanya berubah kembali dengan warna merah api, dengan hilangnya mata darah tadi energi milik Vira pun kembali stabil.
“Hah hah hah...” Vira menunduk dengan nafas yang tidak beraturan, keringat di sekujur wajahnya terlihat begitu banyak seperti habis kehujanan saja.
“Untuk hari ini kita istirahat saja dulu... kau tidak akan sanggup untuk melanjutkannya.” Perintah Yugi yang kemudian berbalik meninggalkan Vira.
“Tunggu...”
Yugi berhenti saat mendengar suara dari arah belakangnya. Disana terlihat Vira yang bangun dengan susah payah dan nafas yang masih memburu, kakinya terlihat bergetar tidak kuat menahan berat tubuhnya sendiri.
“Cukup hentikan... kau ingin membuat tubuhmu hancur?” Yugi memerintahkan Vira untuk berhenti melakukan latihan yang hanya akan menghancurkan tubuhnya. Baginya untuk saat ini latihan yang dilalui Vira sudah cukup, karena pada dasarnya kemampuan Penyihir Mata Iblis tidak bisa di latih dalam sehari. Itu membutuhkan waktu selama bertahun-tahun. Kenapa Yugi bisa tau, itu karena dia pernah membacanya dibuku, walau Penyihir Mata Iblis sudah hampir punah tapi sejarahnya masih ada di buku-buku kuno, bahkan tentang pelatihannya juga ditulis dengan lengkap. Oleh karena itu Yugi bisa tau kenapa pelatihan ini tidak perlu terburu-buru. Karena jika terlalu memaksakan diri tubuh Penyihir Mata Iblis akan hancur jika tidak bisa menahan lonjakan energi mana dalam tubuhnya.
“Aku... hah... hah... masih...”
Seketika tubuh Vira oleng ke depan dengan tangan yang sudah lemas. Tapi sebelum tubuhnya membentur tanah dengan cepat Yugi menahan tubuh mungil itu dengan satu tangan kirinya, terlihat jelas kalau Vira sudah pingsan karena kelelahan. Dia menggendong Vira layaknya tuan putri dan membawanya ke tenda. “Kau terlalu memaksakan diri... dasar bodoh.” Gumam Yugi.
Hari terus berlalu, matahari siang mulai turun sedikit demi sedikit mendekati sore. Hutan yang begitu lebat ini terdapat sebuah tenda yang dihuni oleh seseorang. Didalam sana terbaring seorang gadis kecil dengan selimut cokelat yang membungkusnya dari kedinginan. Wajahnya yang terlihat imut saat tertidur itu mulai membuka matanya sedikit. Saat dia menatap ke atas terlihat sebuah atap tenda yang menghalanginya dari sinar matahari. Tidak lama gadis kecil itu mulai terbangun dari tidurnya dan berjalan keluar. Dia mencari seseorang atau lebih tepatnya guru yang mengajarinya sihir.
“Dimana guru Yugi...?” tanya Vira entah pada siapa.
Blaaaaaarrrrrr
Sebuah ledakan mengagetkan Vira, saat ledakan itu menghilang dia dengan segera berlari kearah sumber suara tadi. Saat dia sudah berada ditempat ledakan terjadi, disana terlihat gurunya yang hanya memakai celana hitam tanpa baju. Terlihat jelas tubuh atasnya yang terlihat atletis dengan perut sixpack dan lengan yang sedikit berotot. Entah kenapa melihat itu membuat wajah Vira menjadi memanas dengan asap yang mengepul diatas kepalanya. Rona malu di wajahnya menjalar sampai ke telinga, dengan cepat dia bersembunyi sambil menutup matanya.
__ADS_1
“K-kenapa aku bersembunyi seperti ini. Dan kenapa pula aku malu melihat guruku sendiri yang tidak memakai baju.” Panik Vira yang sudah salah tingkah.
Sementara ditempat Yugi, dia sedang berkonsentrasi dengan air terjun didepannya. Matanya menyiratkan akan keseriusan yang begitu dalam, fokusnya hanya kearah air terjun yang begitu deras itu. Dengan pedang Eternal Snow ditangan kanannya, dia bersiap menebas dengan menepatkan pedangnya berada dibawah kakinya. Tangan kiri didepan, kaki kanan dibelakang dengan kaki kiri yang didepan... dengan sekali ayunan secara vertikal Yugi menebas air terjun itu menjadi dua dengan sedikit mana dipedangnya.
Swwuuusssshhh
Ssseeeesssss
Air hujan pun tercipta saat air terjun itu terbelah menjadi dua dan mencipratkan airnya kemana-mana. Dengan sekali tarikan nafas Yugi menstabilkan paru-parunya yang berdetak kencang, dengan senyuman puas dia menatap hasil kerja kerasnya. Tapi dengan cepat air terjun yang sempat terbelah tadi sudah kembali menyatu menjadi seperti semula.
Aku melihatnya... guruku begitu kuat, dia bisa menebas air terjun itu menjadi dua hanya dengan sedikit ayunan pedangnya. Hujan yang mengguyurku ini disebabkan oleh guru... mataku tidak hentinya menatap guru... guru... guru... entah kenapa dia begitu keren. Melihat guru yang sekarang begitu tampan dengan air yang membasahi tubuhnya... tatapannya begitu mempesona... tubuh yang sangat sempurna, sepertinya itu hasil dari kerja kerasnya selama ini... bagaimana ini, aku tidak bisa berhenti menatap guru... Yugi...
Deg
Dadaku... bergetar... kenapa...
Saat itu Vira belum menyadari akan perasaannya sendiri. Mungkin karena dia masih kecil membuatnya tidak paham akan debaran didadanya. Vira memegang dada kirinya yang terus bergetar tanpa henti saat dia melihat Yugi. Tatapannya menjadi berbinar, wajahnya bersemu merah... senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Seperti sebuah bunga yang baru mekar, wajahnya menjadi lebih cerah sebelum dia menyadari kalau dia tertarik pada Yugi. Entah itu ketertarikan hanya sekedar guru dan murid ataupun sebagai lawan jenis. Vira masih belum memahami itu semua...
Walaupun dia tidak memahami akan perasaan ini, yang ada di pikirannya sekarang adalah menjadi lebih kuat. Dan Vira yakin bisa menyaingi gurunya sendiri, dengan tekad yang kuat dia ingin memulai latihannya lagi tanpa sepengetahuan gurunya. Saat itu Vira terus berlatih baik di bimbingan gurunya ataupun saat dia sendirian. Ketika gurunya telah selesai melatih Vira, dia dengan inisiatif pergi ke tempat sepi disalah satu hutan itu dan mulai melatih kontrol energi mana miliknya. Vira terus berlatih baik pagi... siang... sore... ataupun malam. Sedikit demi sedikit dia mulai bisa mengontrol mana didalam tubuhnya. Sekarang pun mana yang keluar dari tubuh Vira terlihat begitu tenang dan stabil. Disiang hari yang terik ini Vira melatih kontrol mana nya ditemani oleh Yugi. Saat melihat hasil latihan Vira selama beberapa hari ini membuat Yugi sedikit terkejut, pasalnya Vira sudah berhasil mengontrol mana nya dengan begitu cepat.
‘Hebat... baru lima hari latihan dia sudah bisa mengontrol energinya sampai seperti ini. Sepertinya dia punya bakat... walaupun aku tau kalau dia berlatih secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Waktu itu aku melihatnya mengendap-endap saat malam ataupun saat selesai latihan denganku. Tidak aku sangka dia malah berlatih sendiri tanpa sepengetahuanku... ingin mengejutkanku rupanya. Tapi kau telah berhasil... kau hebat Vira.’ Puji Yugi dalam pikirannya.
[“Lumayan juga untuk ukuran Penyihir Mata Iblis kecil...”]
Merasa sudah cukup dengan latihannya, Vira menghentikan aliran mana nya dan membuka mata. Dia tersenyum sambil berdiri dari bertapanya kemudian menatap gurunya dengan senyuman berbinar. “Bagaimana guru?” tanya Vira dengan antusiasnya.
“Kau hebat Vira... aku terkesan.” Yugi mengelus kepala Vira dengan lembut penuh kasih sayang.
Mendapat perlakuan seperti itu dari gurunya sudah cukup membuat Vira senang dengan pipi yang merona malu. Tidak hentinya senyuman Vira terus mengembang dengan kedua tangan yang gugup sambil memainkan jari-jarinya.
[“Haaahhh... satu lagi telah kau taklukan.”] gumam Yui dengan nada lelah.
‘Kau mengatakan sesuatu?’ Tanya Yugi melalui telepatinya.
[“Tidak ada...”] jawab Yui dengan datar.
Yugi yang mendengar itu hanya bingung dengan kepala yang dimiringkan. Tidak lama dia menghentikan kegiatannya mengelus kepala Vira. Untuk sesaat Vira merasa kecewa karena Yugi telah berhenti mengelus kepalanya.
“Tapi aku tidak menyangka kau bisa menguasai kontrol mana secepat ini.” Yugi berpura-pura terkejut karena dia sendiri sudah tau latihan diam-diam yang dilakukan oleh Vira. Tapi hal itulah yang membuat Yugi terkejut, pasalnya dia tidak menyangka kalau Vira akan berlatih sekeras itu, bahkan pas waktunya beristirahat dia terus saja berlatih, dari mana sebenarnya motivasinya itu.
“Hehehehe... aku hebatkan, puji aku lagi guru.” Vira dengan bangganya dia sambil membusungkan dada yang masih dalam masa pertumbuhan itu dengan senyuman sombongnya.
__ADS_1
Jtak...
Dengan kasih sayang yang teramat dari gurunya, Yugi menjitak kepala Vira karena kelakuannya yang tidak terlalu pantas.
“Aduh... itu sakit guru.” ucap Vira yang mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya karena dijitak secara mendadak oleh gurunya.
“Itu karena sifat sombongmu... lain kali jangan diulangi lagi.” Yugi berlalu pergi dari sana meninggalkan Vira yang ngambek.
“Baik...” Vira memanyunkan bibirnya imut dengan wajah ngambek yang terkesan seperti anak kecil.
Sementara di sebuah kerajaan yang selalu tertutup salju sepanjang tahunnya. Kerajaan ini terkenal akan salju abadi yang tidak pernah mencair, dengan gunung berapi yang sudah tidak aktif ditambah pemandangan yang selalu putih itu memiliki sebuah daya tarik bagi para turis dari luar kerajaan. Ya... kerajaan itu bernama Northern Esla. Tempat yang begitu indah bagi mereka yang menyukai salju, disebuah taman kerajaan terlihat dua gadis cantik bagai pinang dibelah dua. Mereka sangat mirip yang membedakan hanya umurnya saja. Seorang perempuan yang lebih tua tengah membaca sebuah buku berisi catatan tentang sejarah kerajaan Northern Esla. Sementara perempuan yang lebih muda sedang memakan kue sambil bersenandung ria. Perempuan yang lebih tua yang ternyata seorang putri sekaligus penerus kerajaan Northern Esla yaitu Elsa Northern Esla, dia menutup bukunya karena telah selesai membacanya. Pandangan matanya tertuju kearah adiknya yang tengah memakan kue dengan tenangnya. Tidak lama sang adik yang merupakan putri kerajaan Northern Esla yaitu Elna Northern Esla, menatap balik sang kakak dengan pandangan bingung karena tersenyum seperti itu kearahnya.
“Ada apa kakak?” tanya Elna.
“Tidak... kakak hanya berpikir dia sedang apa ya sekarang...” pandangan Elsa lurus ke depan menatap awan yang bergerak tertiup angin. Senyuman kerinduan akan sosok seorang pemuda yang sudah mengisi hatinya ini terus saja terngiang di pikirannya.
“Hhhmmm... mungkin saja berlatih untuk menjadi lebih kuat lagi.” Jawab asal Elna sambil meminum teh hangatnya.
“Padahal baru dua minggu setelah kepergiannya, entah kenapa aku merasa sangat merindukannya.” Gumam Elsa.
“Aku juga kakak... tapi sayangnya aku sudah selangkah didepanmu.” Ucap Elna dengan senyuman mengejek ditambah muka jahil yang dibuat imut.
“Kau ini...” Elsa mencubit adiknya dengan gemas karena melihat wajah yang begitu imut milik Elna membuatnya tidak tahan. “Jangan sombong dulu, kakakmu ini pasti akan segera menyusul...” Elsa semakin keras mencubit Elna sampai membuatnya memasang wajah lucu.
“Hwentikwannn...” ucapan Elna terdengar tidak jelas karena cubitan kakaknya yang penuh akan kasih sayang.
“Ini hukumanmu karena telah mengejekku...”
Kakak beradik yang begitu akrab, membuat sang raja dan ratu yang melihat mereka dari kejauhan tersenyum senang, tapi didalam hati mereka juga merasakan sedih karena melihat anak mereka yang merindukan sosok seorang pemuda yang sudah membuat kedua anak mereka jatuh cinta.
“Suamiku... aku sangat khawatir pada mereka, aku tau rasanya terpisah dengan orang yang kita cintai. Pasti mereka sangat tersakiti akan hal itu... walau pun senyuman mereka dapat membohongi semua orang, tapi kita sebagai orang tua pasti akan langsung tau jika mereka hanya tersenyum palsu untuk menyembunyikan luka dihati mereka...” sang Ratu Raniya memeluk sang Raja Reulad dengan sedihnya.
“Aku tau... tapi aku percaya bahwa mereka bisa melalui ini semua. Karena mereka tidak sendirian, dan juga dia pasti sekarang sedang berjuang untuk memenuhi takdirnya sebagai seorang Kaisar.” Ucap Reulad sambil menatap langit biru yang begitu cerah. “Tenang saja istriku... saat dia kembali kita akan langsung mengadakan pesta pernikahan untuk kedua putri kita.”
Perkataan dari Reulad berhasil membuat Raniya kembali tenang dengan senyuman kebahagiaan dimatanya. “Hm... kita harus mengadakannya dengan meriah...”
Disebuah gunung yang berada dibelakang kerajaan Northern Esla, terdapat seekor naga raksasa berwarna biru dengan sayap besarnya yang mengatup dan badannya yang melingkar pertanda sedang istirahat. Tatapan naga itu terlihat sayu dengan pandangan yang terus saja menatap ke bawah. Dia merindukan akan sosok majikan yang sudah membuat kontrak dengannya. Seorang pemuda yang begitu ceria, enerjik, baik hati, senyumannya... kepeduliannya... membuat sang Raja Naga bahkan terpesona olehnya. Raja Naga Freez atau biasa dipanggil Risa dalam wujud manusia, dia sekarang tengah termenung memikirkan Yugi.
“Sudah dua minggu kita tidak bertemu, aku ingin tau kabarnya seperti apa sekarang. Jika saja aku tetap ikut denganmu... Yugi, aku merindukanmu.” Gumam Risa, tidak lama dia mulai menutup mata menuju alam mimpi.
Tanpa disadari oleh Yugi bahwa semua orang yang mencintainya sangat merindukan akan keberadaannya. Bahkan sekarang mereka sangat ingin bertemu dengannya... perasaan yang teramat kuat itu mungkin saja sudah tersampaikan padanya... jika saja mereka juga tau bahwa Yugi juga merindukan kebersamaan mereka. Rasanya ingin sekali Yugi berbalik dan kembali... tapi dia tidak boleh egois... dirinya tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Baginya perjalanan ini merupakan sebuah ujian dimana dia harus mengerjakannya sampai tuntas. Dan dia yakin jika semua ini selesai maka dia akan mendapatkan hadiah atas kerja kerasnya...
__ADS_1
Yugi selalu berharap... jika mereka semua bisa bertemu kembali... karena dia tau takdir pasti akan mempertemukan mereka kembali...
Bersambung