
Malam yang dingin, memang terasa dingin karena banyaknya salju ditaman tersebut. Terlihat tiga wanita yang berbeda umur tengah memandangi sebuah surat... dibukanya surat tersebut dan memperlihatkan kertas yang berisikan tulisan disana...
Aku tuan putri tertua kerajaan Northern Esla, sekarang tengah memegang sepucuk surat dari orang yang aku cintai...
“Aku akan membacakannya...” ucap Elsa.
{“Dari Yugi: Bagaimana kabar kalian, sekarang aku sedang singgah disebuah ibu kota kerajaan Eartfil. Disini begitu ramai dan banyak hal menarik yang bisa dilihat. Oh ya sebelum aku sampai di kerajaan Eartfil, aku sempat bertarung dengan monster untuk menyelamatkan seorang gadis kecil. Ternyata dia seorang yatim piatu, karena aku tidak tega meninggalkannya, aku pun mengangkatnya menjadi muridku...
Di kediaman sebuah mansion besar, terlihat wanita dewasa bersurai hitam tengah duduk sambil membaca sebuah surat dari muridnya yang berpetualang diluar sana. Pandangannya terlihat sayu dengan senyuman hangat diwajahnya. Setiap kata di surat itu membuatnya rindu pada murid laki-lakinya tersebut.
...Setiap hari kujalani semua keseharianku untuk berlatih dan melatih muridku. Aku melakukan berbagai hal untuk membuat jurus baru. Tentu saja itu tidak berjalan mulus seperti yang aku bayangkan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah, aku terus mencoba dan akhirnya berhasil melakukannya. Untuk muridku sendiri dia pantang menyerah dan keras kepala. Tapi karena ketekunannya itu dia berhasil mempelajari dasar-dasar sihir. Aku ingin memberitahu kalian kalau aku disini baik-baik saja. Jadi jangan khawatir, suatu saat nanti aku akan kembali. Aku berharap kalian sehat selalu, salam hangat dariku. Yugi...”}
Ditaman istana Elsa dan Elna bersama dengan ibunda, mereka tersenyum senang setelah selesai membaca surat dari Yugi. Elsa yang begitu senang karena Yugi masih mengingat mereka untuk mengirim surat. Begitu pula Elna yang rindu akan sosok pujaan hatinya tersebut. Sementara sang ibunda hanya mampu tersenyum hangat untuk kedua putrinya yang merindukan akan sosok lelaki yang mengisi hati kecil mereka.
Dimansion keluarga jendral penyihir kerajaan, sang wanita bersurai hitam yang selesai membaca surat muridnya tersebut hanya mampu bersyukur dan turut senang kalau perjalanannya lancar sampai saat ini. Yuko sang jendral penyihir termuda sekaligus pengganti ayahnya dan merupakan guru dari Yugi walau tidak begitu lama, tapi dari bimbingannya tersebut membuat Yugi menjadi seorang lelaki yang berjalan dijalan ksatria. Dia mengajarinya berbagai hal mengenai pentingnya kekuatan demi melindungi yang lemah. Di situlah Yugi mempelajari hal yang belum pernah dia pelajari dari orang lain. Sosok Yuko merupakan panutan bagi Yugi, dan itu sudah tertanam didalam hatinya.
Di pegunungan kerajaan Northern Esla terdapat sosok wanita bersurai biru dengan mata seindah lautan biru menatap bintang dilangit ditemani secarik kertas yang memberi kabar akan tuannya yang tengah menjalani petualangan diluar sana. Dia tersenyum senang akan keadaan Yugi yang baik-baik saja, tetapi dia juga merasa rindu pada tuan barunya tersebut sekaligus orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Entah kenapa perasaannya ini berbeda dengan tuannya yang dulu. Serasa begitu menyakitkan, walau hati merasa dekat tapi raga begitu jauh. Tidak bisa berada disisinya, membuat salah satu raja naga ini merasa kesepian. Langit yang diterangi bulan purnama, ditambah bintang yang menghiasi, belum bisa mengisi kekosongan dihatinya. Serasa sesuatu yang sangat berharga pergi jauh entah kemana. Dan dia tahu siapa yang telah mengambil hal tersebut, dia yang telah menjalin kontrak dengannya, dia yang memiliki senyuman secerah mentari. Dan dia lah yang bertanggung jawab akan semua itu... ya dia...
“Tuanku... Yugi...” gumam Risa.
Dibalik gunung itu, sang raja naga es bergumam. Menyebutkan sosok orang yang berharga didalam hatinya. Bersamaan dengan malam yang mulai menggelap, tangan itu menggenggam kertas dan memeluknya sepenuh hati. Merendam kerinduan kepada sosok sang pemuda, yang sudah menjadi tuannya.
“Tapi ada yang aneh dengan suratnya.” Ucap Elsa yang menyadari ada kata yang membuatnya sedikit kesal.
“Emh...” Elna mengangguk atas tanggapan kakaknya itu. “Di bagian ini kan, ‘menyelamatkan seorang gadis...’” tunjuk Elna.
“Bahkan menjadikannya sebagai murid.” Lanjut Elsa.
“Memang ada apa dengan itu?” tanya Raniya bingung.
“Itu artinya...” ucap Elsa.
“Kak Yugi...” ucap Elna.
“Bersama dengan wanita lain.” Ucap Yuko.
“Tidak bisa dibiarkan...” ucap Risa.
Entah bagaimana setiap kata yang di ucapkan itu berasal dari empat wanita yang berada ditempat berbeda dan tersambung dalam satu kalimat yang lengkap. Wajah rindu mereka digantikan dengan kesal dan ingin meluapkannya pada satu sosok yang merupakan sumber masalahnya. Sepertinya saat Yugi kembali dia akan mendapatkan sesuatu hal yang sangat ditakutkan, semoga dia selamat. Sungguh wanita itu sangat menakutkan.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, dibalik gunung itu cahaya terang mulai menyinari ibukota yang sudah terlihat ramai dengan para penduduk yang melakukan aktivitas rutin harian mereka. Begitu pula dengan petualang muda bersurai putih salju ini, dia sedang berjalan bersama dengan gadis kecil bersurai putih perak yang masih berumur sepuluh tahunan. Mereka berjalan menuju sebuah gunung yang letaknya tidak jauh dari perkotaan.
“Pagi yang begitu cerah...” ucap sang pemuda yaitu Yugi.
“Guru, kenapa kita harus mendaki gunung. Bukankah lebih baik berlatih ditempat biasanya?” keluh sekaligus tanya sang gadis yang merupakan murid Yugi, Vira.
“Ada alasan tertentu kenapa kita harus mendaki gunung.” Jawab singkat Yugi.
“Memang apa alasannya?” Tanya Vira yang mulai tidak sabaran.
“Pertama kita bisa sekalian melatih fisik, itu bagus untuk kesehatanmu. Kedua latihan kali ini akan sedikit mengguncang, jadi kita harus berada cukup jauh dari kerajaan Eartfil. Setidaknya sampai guncangan itu tidak terasa sampai sana. Jadi jangan banyak mengeluh dan cepat jalan, kalau tidak kau akan tertinggal.” Setelah mengatakan itu semua, Yugi berjalan kembali meninggalkan Vira yang sudah hampir pingsan.
__ADS_1
“Kau kejam guru, apa kau tega meninggalkan muridmu yang super imut ini. Kalau ada om om yang datang mereka pasti akan menculikku.” Kesal Vira.
“Tidak akan ada om om disini, lupakan saja dan cepat jalan.” Ucap Yugi yang mulai menjauh.
“Aaahhhh...” teriak Vira kesal.
Perjalanan mereka terus berlanjut, matahari kian meninggi. Suhu pun semakin panas, keringat membasahi pakaian mereka. Tidak lama Yugi berhenti ketika mendapatkan dataran yang cukup luas yang berada di ketinggian yang cukup curam. Menurutnya ini adalah tempat yang cocok untuk berlatih.
“Baik, kita akan melakukan sesi latihan ditempat ini.” Ucap Yugi.
“Syukurlah...” Vira yang sudah kelelahan langsung berbaring di tanah dengan wajah seperti mau pingsan. “Entah kenapa aku merasa bersyukur masih hidup.” Ucapnya dengan nada ngawur.
“Apa yang kau katakan, kita baru saja akan memulai latihan, jadi cepatlah bangun dan ayo kita mulai.” Ucap Yugi.
“Eeehhhhhhh...” teriak Vira yang kemudian langsung tepar ditempat.
[“Melihat dia seperti itu mengingatkanku pada latihanmu dulu Yugi. Hihihihihi... dulu kau juga seperti itu.”] Yui tertawa pelan saat mengingat keluhan Yugi saat menjalani latihan bersamanya.
‘Sekarang aku merasa malu sendiri.’ Ucap Yugi dalam telepati.
[“Tapi memang kita tidak tahu akan alur kedepannya. Seorang penyihir mata iblis sekaligus setengah vampir bisa menjadi muridmu. Aku tidak tahu kau itu beruntung atau memang terlalu beruntung selalu dikelilingi banyak wanita.”] Dalam dimensi buatannya Yui merasa agak lelah saat melihat deja vu didepannya. Kehidupan yang Yugi jalani sekarang tidak beda jauh dengan tuannya yang dulu.
“Jika dipikir-pikir lagi...” Yugi mengingat akan kejadian dia yang dulu sampai sekarang, dimana Sara yang selalu perhatian padanya, bertemu dengan putri Elna di padang salju, belajar ilmu sihir dengan Yuko, dan membatalkan pertunangan Elsa. “Kau ada benarnya.” Gumam Yugi.
“Guru kenapa bicara sendiri?” tanya Vira yang bingung.
Yugi menatap Vira sekilas kemudian berpikir sejenak. “Kemudian bertemu dengan Vira di tengah perjalanan.” Lanjut Yugi.
“Ah tidak bukan apa-apa, aku hanya sedang terpikirkan sesuatu. Bagaimana kalau kita mulai saja, hehehe...” ucap Yugi cepat untuk mengalihkan pembicaraan yang mungkin saja tidak Vira sadari. ‘Saat mendengar perkataanmu itu, apa pendahuluku juga selalu dikelilingi wanita?’ tanya Yugi pada Yui.
[“Akan kuberitahu lain kali.”] setelah itu Yui memutuskan kontaknya dengan Yugi.
Karena hal itu Yugi tidak terlalu ambil pusing dan siap untuk melakukan latihan yang akan dia lakukan hari ini.
Kerajaan Eartfil sedang berlangsung sebuah pertarungan antar penyihir. Di stadion itu sudah terdapat empat petualang penyihir yang tengah bertarung untuk maju ke babak selanjutnya. Kompetisi kerajaan masih terus berlanjut, pertarungan kemarin merupakan sebuah pertunjukan yang sangat menegangkan dan menarik minat semua orang. Sampai sekarang pun masih banyak yang menonton kompetisi kerajaan ini. Ditempat duduk terlihat Maruya dan adiknya tengah melihat pertarungan tersebut, walau begitu dia terheran kenapa Yugi tidak datang untuk melihat pertarungan ini.
‘Kemana dia?’ batin Maruya bertanya-tanya.
Sang pangeran dari Vouleftis terlihat tenang saja saat menyaksikan kompetisi tersebut. Dia juga melihat kearah bangku penonton untuk menemukan seorang pemuda bersurai putih salju. Tapi sayang dia tidak ada disana, hal itu membuat pangeran tersebut bingung.
“Yugi, kau pergi kemana?” gumam pangeran Rexas.
Di pegunungan yang cukup tinggi, terlihat dibawah sebuah dataran tinggi seorang pemuda dan gadis kecil tengah berlatih. Walau begitu sang gadis kecil bersurai perak sudah terlebih dulu tumbang akibat latihan yang diberikan oleh pemuda bersurai putih salju.
“Sudah menyerah?” tanya Yugi.
Gadis kecil yang terbaring itu tidak mampu menjawab pertanyaan dari Yugi. Dia melirik sekilas gurunya tersebut dan langsung menutup matanya untuk istirahat.
“Sepertinya cukup...” Yugi berbalik meninggalkan Vira disana untuk mengambil sebotol air minum. “Aku terkesan kau bisa bertahan cukup lama.” Puji Yugi sambil memberikan botol air pada muridnya itu. “Ini...” Yugi meletakkan botol tersebut disamping kepala Vira. “Itu akan menyegarkanmu.”
Hari berlalu begitu cepat, sekarang sudah siang hari... aku baru saja selesai melatih Vira untuk mengendalikan darah vampir didalam dirinya. Tapi sepertinya itu tidak berjalan baik, setiap kali hasrat Vira yang ingin meminum darah terus meningkat tanpa henti. Seolah sesuatu didalam dirinya akan bangkit...
__ADS_1
Jika aku mengartikannya lebih sederhana, mungkin saja Vira akan menjadi vampir sepenuhnya.
“Terlalu banyak berpikir tidak baik juga, baiklah waktunya giliranku.” Ucap Yugi yang kembali bersemangat. “Aku akan mencobanya...”
Yugi merentangkan tangan kanannya ke depan dan membuat sebuah lingkaran sihir penyimpanan dimana sebuah pedang hitam muncul melewati lingkaran sihir tersebut. Sebuah pedang yang dia dapat disebuah pandai besi, pedang yang dulunya tersegel ini menjadi milik Yugi saat diakui oleh pedang tersebut. Saat menggenggam pedang hitam itu Yugi merasakan kekuatan asing didalamnya. Terasa begitu ringan dan kuat disaat bersamaan, saat menarik pedang itu dari sarungnya sebuah angin kencang berhembus di sekitar Yugi.
‘Pedang ini, baru pertama kali ini sejak aku mendapatkannya. Aku akan mencoba melatih diriku dengan pedang hitam ini.’ Batin Yugi.
Angin itu tiba-tiba menghilang saat Yugi sepenuhnya menarik pedang itu dari sarungnya. Begitu tajam dan seluruhnya terlihat hitam legam. Pedang yang ditempa dari batu misterius ini terasa menyalurkan kekuatan pada sang pengguna, Yugi tersenyum senang karena mendapatkan senjata yang sangat indah.
“Mari kita mulai saja...” gumam Yugi sambil tersenyum senang seolah menerima sebuah kekuatan baru.
Didalam arena pertarungan, dua orang penyihir tengah bertarung sengit disana. Semua penonton melihat dengan diam betapa menegangkannya pertarungan saat ini. Seorang pemuda bersurai hijau pendek yang tersisir rapi ke kanan melawan seorang pemuda bersurai pirang pucat, tatapan keduanya saling menatap tajam dengan senjata masing-masing ditangannya. Bila di bilang penyihir mereka lebih mirip seperti seorang kstaria kerajaan dimana pakaiannya serba di lapisi besi dengan warna kain yang berbeda. Sang pemuda surai hijau memakai zirah hijau dengan dilapisi besi di beberapa bagian tubuhnya begitu pula dengan pemuda surai pirang pucat memakai zirah putih dengan beberapa lapis besi yang melindungi daerah vital kecuali kepala yang masih terlihat. Keduanya memegang sebuah pedang dengan bilah putih yang begitu tajam. Tapi pedang yang di pegang oleh pemuda surai pirang pucat terlihat berbeda dengan pedang pada umumnya. Karena sebuah ukiran unik seperti bunga terukir di bagian bilah dekat gagangnya.
“Pertarungan ini berlangsung cukup lama, pemuda petualang surai hijau dari kerajaan Aries. Agil, seorang pengguna pedang yang cukup ahli ditambah sihirnya yang memperkuat teknik pedangnya. Menarik, sayangnya kerajaan Aries tidak mengirim sang pangeran dalam kompetisi ini, andai saja pangeran kerajaan Aries mengikuti kompetisi ini, aku ingin melawannya.” Ucap Rexas yang masih melihat pertarungan yang terlihat seimbang itu. “Tapi... aku masih penasaran, pemuda surai pirang pucat itu yang merupakan dari klan pedang. Klan yang dikatakan pengguna ahli pedang terbaik di seluruh dataran kerajaan, aku yakin dia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.” Lanjutnya.
Adu serangan antar pengguna pedang itu terus berlangsung dengan sengitnya. Pada awalnya pemuda yang merupakan petualang dari kerajaan Aries itu bisa seimbang melawan seorang dari klan pedang, tapi semakin lama beradu dominasi permainan pedang tersebut semakin berat sebelah, dimana pemuda dari klan pedang mulai membabi buta setiap kali menyerang petualang dari kerajaan Aries.
Tank
Dengan benturan terakhir keduanya saling menjaga jarak untuk menyiapkan serangan selanjutnya. Agil dengan kemampuan sihirnya menyelimuti pedang miliknya dengan konsentrasi tinggi dimana aura kehijauan mulai menguar dengan ganasnya. Sepertinya itu adalah serangan penghabisan yang akan dia lancarkan. Sementara pemuda surai pirang pucat hanya tersenyum tenang dengan pedang yang dia posisikan kearah depan.
“Dengan ini tamatlah sudah...” teriak Agil sambil mengayunkan pedangnya secara vertikal dimana aura hijau tersebut memanjang dan mengarah kearah pemuda surai pirang pucat.
“Atas nama Seiga, aku memerintahkanmu pedang yang kugenggam. Perlihatkanlah kebenaran dari kekuatanmu...” Rapalan mantra yang tidak biasa membuat semua orang terkejut, pemuda yang bernama Seiga memperlihatkan sebuah jurus yang hanya dimiliki klan pedang.
Sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan pedang sejenis mengelilingi tubuh Seiga. Sejenak aura pedang yang berjumlah lima mengelilingi Seiga membentuk sebuah barrier kuning transparan yang terlihat begitu kokoh. Saat serangan Agil yang bertekanan kuat itu mengenai perisai milik Seiga, seketika serangan tersebut langsung dipatahkan dengan mudahnya. Sekali lagi penonton terlihat terkejut, tapi belum selesai disana Seiga mulai melancarkan serangan balasan.
Tangan kanan yang menggenggam pedang, Seiga arahkan kearah Agil yang merupakan targetnya. “...Moryasense, hancurkan semua musuhmu.” Seketika kelima pedang yang tadinya merupakan pertahanan milik Seiga kini berubah menjadi mode menyerang dimana semuanya mulai melesat kearah Agil.
Tapi Agil tidak tinggal diam, dia siap untuk menahan serangan tersebut dengan pedangnya. Tanpa sepengetahuannya, serangan Seiga mulai memancarkan sinar menyilaukan pertanda akan serangannya itu mulai aktif. Ternyata serangannya itu bukanlah sayatan pedang melainkan serangan yang lebih besar dari itu. Kelima pedang itu tidak lagi melesat tetapi melayang membentuk sebuah lingkaran dimana sebuah benang sinar mulai membentuk dengan cepat dan saling bertautan dengan pedang yang lain sehingga terbentuk lingkaran sihir kuning tepat di hadapan Agil. Lagi-lagi semua orang terkejut, ternyata serangannya masih belum dimulai.
Seiga yang melihat persiapannya sudah selesai langsung saja menusukkan pedangnya ke depan dimana pedangnya mulai memancarkan sinar dan menyerang layaknya laser menuju lingkaran sihir diantara pedang yang melingkar miliknya. Saat sinar itu melewati lingkaran sihir tersebut serangannya menjadi lebih besar dan langsung menerjang kearah Agil.
“Sword Smasher...” teriak Seiga yang menyebutkan jurusnya.
Agil yang tidak siap hanya mampu terkejut ditempatnya dan terkena serangan itu sampai lasernya sendiri terus maju ke depan dan menghancurkan dinding arena. Karena saking silaunya semua orang menutup mata karena tidak mau mengalami kebutaan. Tapi bagi sang raja yang menonton hal itu tidak jadi masalah baginya. Begitu pula beberapa peserta yang memiliki kekuatan besar yang hanya menatap datar serangan tersebut.
Duuuaaaaarrrrrr
Saat serangannya mereda dan silau dari sinar pedang itu mulai meredup, semuanya mulai kembali melihat kearah arena dimana sebuah jejak laser tadi terlihat jelas di tanah dan seorang pemuda petualang bersurai hijau tergeletak di tanah dengan baju yang robek sana sini. Sudah ditentukan bahwa serangan terakhir tadi merupakan penentu kemenangan dari Seiga.
“Cukup sampai disana.” Ucap sang wasit saat melihat hasil dari pertarungannya.
Seiga menyarungkan kembali pedangnya dengan pelan ke pinggang kirinya dimana terdapat sarung pedang yang menempel disana. Dengan wajah kalemnya dia menatap sang lawan tanpa ekspresi seolah tidak menarik perhatiannya.
“Pemenangnya pangeran Seiga Swordia.” Teriak sang wasit.
Pertarungan itu merupakan kemunculan sang pengguna pedang terbaik dataran kerajaan. Sang pewaris klan pedang selanjutnya, dialah sang pangeran yang dari kerajaan pedang... terpaan angin mengenai wajahnya, rambut yang bergoyang itu mengibarkan sebuah bendera kebangkitan. Hari yang mulai siang, dan suasana semakin memanas. Langkah kaki sang pangeran meninggalkan arena pertarungan dengan kebanggaan seorang pangeran...
Bersambung
__ADS_1