KAISAR ES

KAISAR ES
MORYASENSE VS PHEONEX


__ADS_3

Sorak sorai mengiringi pertarungan kedua dari babak semi final kompetisi kerajaan Eartfil. Semua orang sedang menunggu dimulainya pertarungan antar kedua pangeran dari kerajaan yang berbeda. Pangeran Rexas dari kerajaan Vouleftis dan pangeran Seiga dari kerajaan Swordia, dua pangeran yang memiliki gaya bertarung yang hampir sama dimana senjata keduanya merupakan sebuah pedang. Dan lagi keduanya sudah menunjukkan kekuatan masing-masing dari senjatanya, tentunya hal ini akan menjadi tontonan yang menarik.


‘Pertarungan ini akan menjadi penentu diriku untuk bisa melihat sejauh mana aku bisa melampauinya. Yugi, aku pasti akan berdiri di hadapanmu, lihat saja.’ Tekad dari pangeran Rexas yang masih ingin melampaui rival pertamanya itu, dari sekian banyaknya peserta yang dia lawan, tidak ada yang membuatnya tertarik. Walau sebelumnya ada satu orang yang menarik perhatiannya, namun dia mengundurkan diri tanpa sempat mengeluarkan kekuatan penuhnya. Tentunya hal itu membuat Rexas merasa di remehkan, tapi hal itu sudah dia lupakan. Karena waktu yang sekarang adalah yang terpenting.


Seiga, memperlihatkan dirinya dalam suasana yang serius. Dengan pedang Moryasense di tangan kanan, dia siap menggunakan segenap kekuatannya untuk mengalahkan sang lawan. ‘Aku adalah harapan klanku, dengan kompetisi ini, aku pasti bisa mengangkat nama kerajaan Swordia. Jadi aku tidak boleh kalah disini...’ tekad pangeran Seiga juga tidak kalah kuatnya.


Masing-masing pangeran memiliki tujuan yang berbeda atas kompetisi kerajaan ini, namun tetap saja garis finish yang mereka tuju adalah kemenangan.


Rexas dengan pedang Pheonex ditangan kanannya lebih dulu maju untuk melancarkan serangan pertama. “Akan kumulai...” dia pun melompat tinggi saat sudah berada dekat dengan jarak serang kemudian mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangan lalu menebas secara vertikal kearah Seiga.


Trank


Serangan Rexas masih bisa di tahan oleh pedang milik Seiga dengan membloknya didepan secara horizontal. “Serangan yang bagus.” Puji Seiga.


Namun yang dipuji hanya tersenyum sinis kearah lawannya. “Tangkisanmu juga lumayan.” Balas Rexas.


Rexas dan Seiga pun saling mendorong kemudian memutar 360 derajat secara berlawanan arah dan menebas kembali dengan kuat.


Traaank


Tebasan kedua ini lebih bertenaga, dimana aura dari masing-masing pedang saling mengeluarkan intensitas kekuatan yang luar biasa. Rexas yang berusaha membakar lawannya dengan pedang iblis, sementara Seiga melindungi dirinya dengan aura pedang pelahir. Keduanya memiliki senjata yang hebat dan mahir menggunakannya, hal ini terlihat bagi semua orang kalau pertarungan kedua ini sangat seimbang.


Sreeenk


Keduanya saling melesat berlawanan arah yang dimana Rexas dan Seiga saling membelakangi. Pedang mereka saling bergesekan sebelum akhirnya mereka melesat lurus kedepan. Keterampilan kedua pangeran dalam beradu pedang sangat hebat, bahkan Raja dan Ratu pun ikut tercengang, padahal ini baru awal namun pangeran-pangeran ini sudah menunjukkan kemampuan yang sangat bagus.


“Mari kita tingkatkan kecepatannya.” Tantang Rexas.


“Aku terima penawaranmu.” Ujar Seiga dengan tenang.


Mereka kembali memangkas jarak dengan kecepatan sedang kemudian menebas kembali dengan pedangnya.


Trank trank trank


Tidak hanya sekali atau pun dua kali, mereka terus menebas tanpa henti dengan teknik yang hebat. Saat Rexas akan menebas kaki Seiga, pangeran dari klan pedang itu memposisikan pedangnya ke bawah untuk memblok serangan sehingga serangan tersebut terhenti. Lalu dengan cepatnya, Seiga melontarkan serangan Rexas yang dimana hal itu membuat Rexas berputar membelakangi Seiga, kemudian mengambil kesempatan itu Seiga pun menebas lawannya secara diagonal dari kanan ke bawah kirinya. Dengan posisi titik buta itu mustahil bagi Rexas untuk menghalau serangan Seiga, namun dirinya yang sudah berlatih dengan keras di bawah bimbingan sang burung iblis membuat instingnya setajam elang, dengan sigap tangan kanan yang menggenggam pedang Pheonex dia posisikan di belakang kepalanya secara horizontal.


Trank


Dan pada akhirnya serangan Seiga pun dapat di blokir. Sungguh pemandangan yang bikin jantung penonton berdebar, mata mereka tidak bisa beralih dari pertarungan itu, bahkan wajah mereka terlihat tegang saat memikirkan pemenang dari pertarungan kedua ini.


“Serangan yang bagus pangeran Seiga, tapi sayangnya lawannya adalah aku. Mungkin kalau orang lain dia pasti sudah mati.” Rexas dengan cepat mendorong serangan Seiga sehingga lawannya itu terpental ke belakang dan membuat jarak di antara keduanya. Padahal dalam situasi dirinya akan tertebas, tapi Rexas masih memiliki waktu untuk berbicara dan memuji keterampilan lawannya dalam menggunakan pedang. Seandainya saja insting Rexas tidak tajam, pastinya punggung yang memiliki celah itu akan tertebas cukup dalam. Tentunya dia tidak ingin membuat tanda garis di punggungnya itu.


“Kau memiliki insting yang cukup baik. Bahkan serangan titik buta sekali pun bisa kau tahan.” Ujar Seiga.

__ADS_1


“Tentu, aku memiliki guru yang super galak, tapi karena didikannya lah membuatku bisa seperti ini.” Balas Rexas.


“Pastinya dia guru yang hebat.”


“Begitulah.” Walau dalam hati Rexas bergumam. ‘Ya karena dia iblis.’


Kemudian Seiga menancapkan pedangnya ketanah yang dimana hal itu membuat Rexas memasang wajah bingung. “Pedangku Moryasense atau biasa di sebut pedang Pelahir, bisa membuat pedang yabg sama persis dengan yang asli. Bahkan kekuatannya pun sama, kau pasti tahu kan pangeran Rexas.”


“Ya begitulah, dan aku tahu perkataanmu itu bukan hanya memperkenalkan kemampuan pedangmu itu.”


“Asumsi yang bagus.”


Setelah percakapan itu, Seiga menarik kembali pedangnya kemudian terbentuklah satu pedang lagi ditangan kirinya. Dengan begini Seiga memegang dua pedang di masing-masing tangannya.


“Kemampuan pedang ganda, kau pasti bercanda.” Ucap Rexas dengan sedikit nada bercanda, walau perkataannya itu memperlihatkan mimik wajah tegang.


“Pertarungan akan semakin memanas.” Seiga berlari setelah mengatakan hal itu, dengan dua pedang di tangan kanan dan kirinya, dia akan menebas sang pangeran Rexas menjadi berkeping-keping.


Tentunya Rexas tidak mau tersayat oleh dua pedang itu, dengan pedang iblisnya, Rexas mengeluarkan aura merah yang menyelimuti dirinya. Dan pedangnya secara mendadak mengeluarkan api panas. “Seberapa banyak pedang yang kau buat, aku tidak akan takut menghadapinya.”


Lagi dan lagi, keduanya kembali beradu pedang, namun sekarang lebih agresif. Dan yang paling mendominasi adalah Seiga dengan teknik pedang gandanya.


Trank trank trank trank


Trank trank


Slash


Rexas melompat mundur, dirinya melakukan hal tersebut karena serangan Seiga semakin sulit di tangkis. Bahkan dirinya mendapat goresan kecil di pipi kiri yang dekat dengan dagunya. Lalu dia memegang pipi yang berdarah sedikit itu dan melihatnya, seketika raut wajah Rexas berubah dingin. Amarahnya tertahan namun kobaran api terus saja membakar emosinya.


“Dia sepertinya sudah serius ya.”


Ungkapan itu menjadi bendera berbahaya, sang iblis Pheonex yang mendengarnya sudah menebak apa yang akan di lakukan Tuannya itu.


“Melepas segel pertama... Aigeto.”


Wuuussssshhhhh


Angin berputar cepat, menghembus meninggalkan Rexas. Badan itu sudah mulai terbakar, dan ditengahnya merupakan sumber dari kebakaran tersebut. Debu hitam membumbung, membuat badan Rexas tidak terlihat sepenuhnya. Namun mata merah menyala terlihat dari gelapnya kobaran itu. Lalu saat Rexas berjalan melewati tempat kobaran itu, terlihatlah matanya yang sudah bertukar menjadi mata binatang seperti elang, dengan mata jingga api dan pupil hitam vertikal, membuat perubahan yang berbeda akan kekuatannya.


“Jika kau memang ingin bertarung serius, ayo kita mulai serius.”


Wush weeelsh...

__ADS_1


Rexas menghilang dari tempatnya berada, meninggalkan jejak api disana. Dan seketika itu muncul di belakang Seiga dengan pedang siap menebas kearah pinggang lawannya.


Trank


Untungnya Seiga dengan sigap menyadari keberadaan Rexas dan memblok serangan itu dengan pedang di tangan kanannya, dimana itu mengambil posisi tepat di samping pinggang kirinya secara vertikal yang menjadi sasaran serang Rexas.


“Panas sekali ya.” Ucap sinis Seiga.


Lalu Rexas pun membalas dengan lebih sinis. “Ini baru awal saja.”


Mereka pun menyadari kalau alur pertarungan semakin meningkat setiap detiknya. Karena itu mereka pastinya akan menggunakan kekuatan secara besar-besaran sedikit demi sedikit. Para penonton sendiri sudah merasa was-was, dimana pikiran mereka menjadi tegang disaat kedua pangeran ini hampir menemui kekalahannya. Tapi setiap kejadian yang akan menjadi waktu kekalahan mereka, tetap saja keduanya masih bisa bertahan. Sungguh luar biasa teknik dan kekuatan yang diperlihatkan oleh masing-masing pangeran. Tentunya ini akan menjadi pertarungan yang mendebarkan dan seru untuk di tonton.


Sementara itu di ruang perawatan, dimana Yugi dan Maruya di rawat. Disana sudah ada Vira dengan Neo di gendongannya dan juga Maria yang memperhatikan kakaknya, selain itu ada juga satu wanita dewasa berambut merah cerah yang menjadi pusat perhatian yang baru bagi Vira dan Maria. Mereka sebelumnya sempat di kejutkan oleh wanita ini yang mengaku sebagai calon istri Yugi, tapi ternyata itu hanyalah sebuah candaan, tentunya hal itu membuat Vira lega yang sebelumnya sempat syok. Tapi dia masih belum bisa bernafas lega, sebelum dirinya mengetahui hubungan antara wanita ini dengan gurunya.


“Kak Sara...” panggil Vira.


“Ya ada apa?” tanya Sara.


“Apa kak Sara datang kesini untuk menjemput guru?” tanya Vira.


Sara tidak langsung menjawabnya, dia sendiri bisa melihat wajah murung gadis itu. Tentunya dia memang berniat untuk menemui Yugi dan kalau bisa membawanya kembali ke Aries. Tapi melihat gadis ini yang sepertinya sangat menyayangi gurunya, membuat Sara tidak bisa mengatakan hal itu.


“Tidak, aku hanya ingin melihatnya bertarung saja kok. Dia ini sangatlah ceroboh kalau sudah dihadapkan dengan pertarungan. Pastinya dia tidak mau kalah...” mata sayu Sara tertuju pada Yugi. Memperlihatkan bertapa dia merindukannya, tapi mimik wajahnya tetap menunjukkan ketegaran sehingga kedua gadis kecil ini tidak dapat menebaknya. “Tapi tidak aku sangka kalau dia akan mempelajari sihir naga. Ini merupakan perkembangan yang begitu pesat, aku sebagai temannya sangat bangga pada perjuangan yang dilakukan olehnya.” Sara memegang sayap naga biru itu yang belum menghilang, dan sesekali dia juga memegang pipi bersisik itu dengan lembut. “Banyak hal yang ingin aku dengar darinya, seperti petualangannya. Bagaimana dia menjalani hidup, dan apakah dia memiliki seorang teman diluar sana.”


Sebenarnya bukan hanya itu yang ingin aku tahu, banyak hal yang ingin kuutarakan padanya. Pada pemuda rambut putih salju ini, disaat aku melihatnya seperti ini, seolah Yugi yang aku kenal pergi jauh. Rambut hitamnya yang dulu sudah tidak ada, senyuman polos yang menenangkan hati itu... aku ingin melihatnya lagi. Yugi Yugi Yugi... aku benar-benar senang, entah bagaimana aku mengutarakan perasaan ini. Rasanya jantungku ingin melompat saat ini juga, cepatlah sadar Yugi... aku ingin bertanya banyak hal padamu, aku ingin memelukmu saat ini juga, aku ingin menyampaikan bertapa aku sangat merindukanmu.


Isi hati Sara yang teramat dalam terhadap Yugi selalu ingin dia ucapkan. Padahal ini adalah kesempatan baginya, namun hal itu ternyata belum datang padanya. Pertemuan Sara dengan Yugi mungkin akan tertunda untuk sementara, sampai pemuda rambut putih salju ini tersadar dari pingsannya. Sara akan terus bersabar menunggu sampai pemuda ini membuka matanya, melihat dirinya yang sekarang. Lalu bertanya-tanya apakah dia masih mengenalinya? Seandainya saja Yugi tidak mengenali dirinya, apa yang akan dia lakukan? Tentunya dia akan merasa sedih, hatinya akan sakit. Namun hal itu tidak akan membuatnya menyerah disini, pastinya dia sangat yakin akan satu hal ini, dimana pemuda ini akan memanggil namanya, dan saat itu tiba, dirinya akan mengatakan sesuatu yang selama ini dia pendam.


Dialam bawah sadar Yugi, di sebuah dimensi buatan milik Yui. Disana sang Dewa Naga Salju sedang menunggu pemuda yang menjadi Tuannya itu untuk sadar. Waktu sudah berlangsung cukup lama, tapi sejak saat itu belum ada tanda-tanda kalau dia akan siuman. Tentunya hal ini membuat Yui panik, namun saat ini yang bisa dia lakukan hanya menunggu saja.


“Kau ini majikan yang paling keras kepala yang pernah aku temui. Walau masih banyak yang sama seperti dirimu di masa lalu, tapi dirimu yang ini sangat jarang. Padahal sudah kuperingatkan untuk tidak melakukannya tapi tetap saja keras kepala. Mengabaikan semua larangan dan bertindak seorang diri. Kau tahu tidak, bertapa khawatirnya aku ini, sekarang kau sudah tidak berdaya di hadapanku. Dasar lelaki payah...”


Walau Yui mengejeknya seperti itu, tapi air mata yang ada di kantung mata itu terus saja menumpuk sampai akhirnya turun melewati pipinya dan jatuh membasahi pipi Yugi. Ini kesekian kalinya sang Dewa Naga Salju menangisi seorang pemuda yang menjadi Tuannya. Dan ini pertama kalinya dia merasakan apa itu yang namanya sakit hati, sudah sekian lama terkurung dalam segel, kemudian ditemukan oleh takdirnya, berpetualang keluar, berusaha menjadi yang terkuat, menemukan berbagai masalah, menyelesaikan semua tugas yang diberikan. Kemudian mengalami berbagai emosi yang sudah lama hilang. Membayangkan itu semua sudah pasti membuat hati wanita seperti Yui merasakan tusukan menyakitkan, dadanya terasa sesak. Melihat orang yang paling berharga dalam hidupmu terbaring lemas di hadapanmu, tentu menjadikan dirinya terpukul dengan berat di lubuk hatinya yang terdalam.


“Kau itu bodoh, pria culun, hiks hiks... tidak berguna, tapi kau memiliki sisi yang luar biasa... hiks hiks... dan itulah yang paling aku suka darimu.”


Cup


Yui mencium Yugi yang masih terlelap dari tidurnya, menenggelamkan dirinya dalam balutan kehangatan satu sama lain. Lalu dengan tangan kecil itu, dan tubuh yang mungil, dia merangkak untuk menemukan kehangatan dari badan sang pemuda. Kemudian mereka tertidur dengan kehangatan di bibir mereka.


Inilah perasaanku, inilah yang aku inginkan... apa kau bisa memenuhi keegoisanku... Yugi...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2