
Jika bisa dibilang, hari ini begitu panas, bahkan aku sampai berkeringat...
Seorang pemuda bersurai merah maroon tengah berjalan menuju puncak sambil membawa beberapa potong kayu di punggungnya. Tubuhnya hanya terbalut oleh celana pendek berwarna merah tanpa memakai alas kaki untuk melindungi tanah yang panas karena dia berjalan dekat dengan gunung berapi. Dengan nafas lelah dia terus berusaha mendaki dengan wajah penuh keringat. Di sekelilingnya begitu gersang, tumbuhan terlihat kering dengan udara yang panas sampai tanah pun retak disana sini. Asap yang mengepul dari gunung tidak pernah berhenti, awan hitam selalu berada diatasnya menambah kesan horror jika di lihat dari dekat. Tidak lama pemuda tersebut sudah hampir sampai di puncak, disana terdapat tanah lapang yang cukup luas untuk bermain sepak bola. Seorang gadis kecil melambaikan tangan kepada pemuda dibawahnya, senyuman ceria dia arahkan pada pemuda tersebut sambil berteriak.
“Kakak...”
“Aku kembali... Maria.” Balas sang kakak dengan senyuman ramah.
Kembali ke waktu sekarang di sebuah kerajaan dimana turnamen sedang berlangsung, kini dua pemuda dengan perawakan yang sangat berlawanan. Yang satu dengan pakaian rapih tertutup jubah sementara yang satunya hanya memakai baju yang tidak terlalu tertutup dan dibiarkan terbuka dengan celana putih panjang sebatas mata kaki. Tapi wajah mereka cukup tampan untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Keduanya saling mengintimidasi satu sama lain untuk membuat takut lawannya. Ketegangan tidak hanya terjadi di arena pertarungan tetapi para penonton sekali pun tegang melihat hawa intimidasi dari dua peserta yang masih bertarung.
“Jangan buang waktu lagi, majulah.” Tantang Ruze dengan tenangnya.
“Baiklah...” Maruya membuat kedua tangannya terbakar lagi dan mempersiapkan tinju api berikutnya. ‘Dia bisa menghindari seranganku dengan cepat, kecepatannya itu bahkan tidak bisa aku ikuti. Jika ingin menghajarnya aku perlu menggunakan seluruh kemampuanku.’ Batinnya.
Maruya berlari cepat menuju Ruze yang hanya tetap diam di tempatnya berdiri. Tapi secara mendadak Ruze melompat tinggi dan membuat semua orang terkejut. Maruya yang melihat itu tidak tinggal diam, api yang berada di kedua tangannya dia buat menyerupai bola dan melemparkannya ke Ruze.
“Rasakan itu...” teriak Maruya.
Ruze dengan santainya memutar tubuhnya dengan cepat dan berhasil menghindari bola api itu yang kemudian saling bertemu dan meledak di langit.
Duuaarrrr
Ledakannya terdengar cukup keras dan menghasilkan debu di udara. Ruze yang selamat langsung mendarat tepat di belakang Maruya.
Maruya yang tau itu langsung memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan kaki kanan yang memutar mengarah ke kepala Ruze. Tapi tangan kanan Ruze berhasil menepis tendangan itu dengan mudah. Tidak berhenti Maruya melakukan tendangan kaki kiri sambil melayang dan mengarahkannya ke bawah secara vertikal ke kepala Ruze. Dengan cekatan tangan kiri Ruze di gunakan untuk menahan serangan lanjutan Maruya sehingga tidak mengenainya. Maruya mendorong kakinya sehingga menjauh dari Ruze dengan jarak sepuluh meter.
‘Seranganku bisa dia tahan.’ Batin Maruya kesal.
“Sekarang giliranku...” Ruze mengambil ancang-ancang dan bergerak dengan cepat.
Sring
“Menghilang...” kaget Maruya.
“Aku dibelakangmu...”
Mendengar suara itu Maruya langsung menengok ke belakang, tapi sayang disana tidak ada siapa-siapa.
“Disampingmu...”
Maruya melihat arah samping kanannya tapi tetap tidak ada.
Sring
Sring
Sring
Ruze berpindah dengan cepat dari arah kiri, belakang, kanan dan hal itu membuat Maruya kebingungan dengan keringat di pelipisnya.
“Terlalu cepat...” gumam Maruya.
Di tempat penonton Yugi terlihat agak cemas saat melihat lawannya yang begitu kuat. Maruya sampai tidak bergerak karena kecepatan Ruze sudah di luar penglihatannya.
“Maru, kau pasti bisa.” Ucap Yugi.
Sementara dengan Maruya, dia masih tetap diam ditempat sambil mengandalkan instingnya untuk mendeteksi keberadaan Ruze. Angin terasa begitu hening, saking heningnya dia bisa mendengar sorakan para penonton. Maruya baru menyadari sesuatu dengan cepat dia melesat ke depan sambil bersalto dan mendarat dengan sempurna.
Duuuuaaaaaarrrrrrr
Benar saja, tempatnya berpijak sudah menjadi kawah yang cukup dalam. Semua orang terkejut melihat hal itu, begitu pula raja dan ratu yang kagum akan kemampuan peserta yang bernama Ruze. Lani yang melihatnya hanya menatap datar pertarungan tersebut.
“Lumayan juga, kau bisa tau kalau aku akan menyerang.” Ucap suara yang berada di udara, disana terlihat Ruze yang terbang dengan tenangnya menggunakan api di kakinya sebagai pendorong.
“Aku bisa mencium baunya, sesuatu di dalam tanah ingin meledak. Dan aku tau kau yang melakukannya.” Teriak Maruya sengit.
“Hooo...” Ruze tanpa rasa takut mendarat tidak jauh dari Maruya dengan senyuman meremehkan. “Tadinya aku berencana untuk menggunakan ledakan yang lebih besar, tapi hal itu pasti akan menggemparkan semua orang.”
“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanya Maruya.
“Mudah saja, pada dasarnya itu hanya masalah teknik. Jika kau menyalurkan api berskala besar kedalam tanah, hal itu akan mengakibatkan pergeseran lempeng dan akhirnya tanah pun tidak kuat menahan tekanan kemudian terjadilah ledakan.” Jelas Ruze enteng.
Yugi yang mendengar penjelasan dari Ruze hanya mampu berpikir akan strateginya yang memang tidak pernah terpikirkan olehnya. ‘Ini seperti halnya gunung berapi yang meletus... begitu rupanya, pantas saja... aku bahkan tidak menyadarinya.’ Batin Yugi.
“Bagaimana sekarang, apa kau akan menyerang atau hanya diam di tempat?” tantang Ruze.
‘Tidak hanya teknik, dia juga memiliki elemen api yang sama denganku. Tapi...’ Maruya berlari kearah Ruze dengan cepat tanpa pertimbangan.
Sebuah tinju kuat Maruya layangkan ke kepala Ruze. Ruze yang melihatnya dengan mudah menangkap tinju itu dengan tangan kanannya didepan.
“Apa hanya itu...” ucap Ruze.
Maruya tidak membalas perkataannya, dengan cepat tangan kiri yang bebas langsung membuat bola api dan melemparnya tepat didepannya. Ruze tidak tinggal diam, tubuhnya langsung bersalto ke belakang sambil menendang dagu Maruya.
Duar
__ADS_1
Bola api yang sempat di lempar Maruya meledak di sisi kanan berjarak dua puluh meter dari tempat mereka berdiri. Tidak tinggal diam Maruya kembali melesat dengan dada yang membusung ke depan dan menghirup udara dalam.
“Fire Dragon Roar.” Gumam Maruya.
Brrrruuuuuusssssssssss
Api berskala besar disemburkan oleh Maruya dan itu melesat dengan cepat kearah Ruze. Api yang memiliki jalur lurus dengan lingkaran api di setiap jalurnya terlihat begitu sangat dahsyat seperti halnya tornado yang melesat lurus. Didepan Maruya sendiri terdapat lingkaran sihir merah dengan tulisan rumit mengelilinginya, jika dilihat lingkaran itulah yang membuat api Maruya bertambah besar. Serangan area itu membuat Ruze sedikit berkeringat dingin, tidak mau terpanggang hidup-hidup dia kini sedang membuat lingkaran sihir pertahanan berwarna merah agak jingga.
Duuuuaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr
Ledakan yang begitu kuat sampai gelombangnya membuat tanah yang dibawah retak dan beberapa kerikil beterbangan secara acak. Debu mulai menutupi arena pertarungan tempat ledakan terjadi, sementara Maruya terdiam di tempatnya sambil mengatur nafas karena kelelahan. Tentu saja, sihir berskala besar itu pastilah menguras banyak mana didalam tubuh. Keringat diwajahnya langsung dilap memakai lengan kirinya sendiri. Maruya masih tetap menatap ledakan yang baru saja dia buat dengan sihir apinya. Tidak lama angin pun mulai berhembus dan menghilangkan debu yang menghalangi pandangan pada peserta Ruze yang terkena sihir berelemen api dari Maruya. Setelah debu hilang kini terlihatlah Ruze yang memakai baju putih kimono dengan celana hitam panjang dan sepatu petualang hitam. Jubah yang menutupinya kini sudah terbakar habis oleh Maruya. Dilihat Ruze begitu tidak senang akibat jurus api yang merusak jubahnya tersebut.
“Berani juga kau.” Aura keunguan menguar dari tubuh Ruze membuat semua penonton terdiam sambil meneguk ludah berat, begitu pula dengan Maruya yang sudah berkeringat di pelipisnya.
‘Aura mengerikan apa ini?’ Batin Yugi yang juga ikut menelan ludahnya kasar.
“Ah, sepertinya pertarungannya baru akan dimulai ya.” Gumam Maruya dengan senyuman kecut.
Swush
Ruze sudah menghilang kembali dari tempatnya berdiri, melihat itu membuat Maruya terkejut bukan main, kini dia sedang memasang kuda-kuda siaga untuk menahan setiap serangan Ruze.
Buakh
Tanpa disangka pipi kiri Maruya mendapat sebuah pukulan telak dari Ruze menggunakan tangan kanannya. Maruya terpental dan berguling ketanah beberapa kali tapi dengan cepat dia menyeimbangkan tubuhnya dan kembali berdiri. Saat melihat kearah Ruze, dia sudah tidak ada lagi disana.
Sring
Tepat di belakang Maruya, Ruze menyeringai tipis dengan tangan kiri yang terselimuti aura ungu yang siap di hantamkan kearah Maruya.
“KAKAK...” teriak Maria dari bangku penonton dengan nada khawatir.
Maruya yang menyadari hawa seseorang dibelakangnya, dengan reflek yang bagus dia menunduk membuat tubuhnya serendah mungkin. Dengan begitu pukulan kedua Ruze meleset dan hanya mengenai udara kosong.
“Aku tidak akan terkena untuk kedua kalinya.” Kaki kanan Maruya terselimuti api dan langsung menendang sambil membelakangi Ruze.
Tapi tendangan itu tidak mengenainya, Ruze terlebih dahulu melompat tinggi untuk menghindarinya. Tidak berhenti disana, Ruze merapalkan mantra kemudian menarik nafas dalam untuk memuntahkan sesuatu. “Fire Ball...”
Sebuah bola api raksasa seukuran dua kali badannya melesat melewati lingkaran ungu di hadapan Ruze yang kemudian dengan cepatnya mengarah pada Maruya yang hanya mampu melotot terkejut melihat ukuran bola api itu.
“...” Ruze hanya menyeringai senang akan serangannya yang akan segera mengenai lawannya.
Keringat dingin meluncur di pelipis Maruya, tapi dia dengan keyakinan diri memasang kuda-kuda tengah sambil menarik nafas panjang.
“Eh... kakak.” Ucap Maria yang mengetahui akan tindakan kakaknya itu.
Uuuuhhhfffff
Semua penonton terkejut, sebab pemuda surai merah maroon itu menyedot bola api raksasa kedalam mulutnya tanpa terasa panas sedikit pun. Bola api raksasa yang semulanya besar kini mulai mengecil dan menghilang tertelan oleh Maruya.
Untuk Ruze sendiri yang sudah mendarat tidak jauh dari Maruya hanya mampu terdiam seribu bahasa dan berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. “A-apa yang terjadi...?” gumamnya bertanya-tanya entah pada siapa.
Suasana hening seketika melihat kejadian didepan mereka semua. Yugi yang mengetahui hal itu hanya mampu terkejut ditempatnya, tapi kemudian dia mulai tersenyum geli saat mengetahui sebab akan perasaannya waktu itu.
“Ternyata begitu... kau Maruya...” Yugi menatap kearah Maruya dengan senyuman senang seolah telah mendapatkan sesuatu yang menakjubkan.
“Ayah itu...” Lani sang tuan putri kerajaan Eartfil menatap ayahnya dengan wajah bertanya.
“Tidak salah lagi, salah satu sihir kuno. Dragon Slayer...” jawab sang raja.
Wasit yang mengetahui itu juga langsung tanpa sadar mengatakannya dengan keras sehingga membuat semua penonton mengetahuinya. “Dragon Slayer... sihir kuno yang hampir punah.”
Mata para penonton membelalak terkejut, sihir yang jarang ada kini terlihat jelas oleh mereka semua. Tentu ini akan menjadi hal yang sangat menggemparkan karena tidak banyak dari semua penyihir dapat mempelajari sihir kuno tersebut. Karena hal itu hanya dapat di pelajari dari sang naga itu sendiri. Dan kini semuanya bisa melihat sendiri, seorang pemuda bersurai merah maroon berdiri di arena dengan sihir kuno yang hampir punah.
“Kau... seorang Dragon Slayer?” tanya Ruze sedikit tidak percaya.
“Ya... aku adalah pengguna sihir kuno, Dragon Slayer Api.” Jawab Maruya dengan tenangnya.
“Jadi begitu, oleh karenanya aku merasa sangat familiar dengan auramu. Dan rasa menggelitik ingin bertarung ini, pastilah insting kami sebagai seorang Dragon Slayer.” Ucap Yugi.
Vira yang mendengar itu hanya mampu terdiam bingung akan perkataan gurunya. ‘Apa maksudnya dengan kami yang dikatakan guru?’ batinnya, karena Vira masih belum mengetahui bahwasanya Yugi juga merupakan pengguna sihir Dragon Slayer.
Kembali ke arena, Ruze yang mengetahui tentang kemampuan Maruya hanya mampu tersenyum menyeringai dan berkata dengan nada senang.
“Begitu rupanya, hahahah...” tawa Ruze membuat Maruya bingung akan perkataannya itu. “Seorang Dragon Slayer, baru pertama kali ini aku memiliki lawan yang menggunakan sihir kuno dari naga. Aku sungguh beruntung... aku tidak sabar lagi ingin melihat kemampuan sihir kuno itu.” Ucap nya.
“Langsung saja, ayo kita bertarung.” Tantang Maruya.
“Itulah yang aku mau...” Ruze berlari cepat kearah Maruya yang masih terdiam di tempatnya.
“...” saat Maruya ingin meninju Ruze dengan tangan kanan berlapis api, lawannya itu sudah menghilang duluan. “Cih itu lagi...”
Sring
Ruze muncul dibelakang Maruya dengan tangan berlapis api merah. “Rasakan ini...” teriaknya.
__ADS_1
Tap
Tapi dengan mudahnya Maruya menangkap tangan itu dan langsung berbalik menghadap Ruze. “Sayang sekali, aku juga bisa bergerak dengan cepat.” Maruya menarik tangan kanan Ruze dengan tangan kirinya dan membantingnya ke arah depan dengan keras.
Syuuuutttttt
Braaakkkkh
Suara benturan tubuh Ruze dengan dinding terdengar cukup keras sehingga dia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Pandangannya tidak percaya akan apa yang terjadi, kekuatan Maruya yang meningkat sedemikian rupa membuatnya terkejut. Dengan agak gemetar dia berdiri dan menatap Maruya marah seolah ingin membunuhnya. Tapi lagi-lagi dia dibuat terkejut, karna lawannya dapat bergerak cepat dan langsung berdiri didepannya.
“K-kau... bagaimana mungkin?” ucapan Ruze terbata karena lawannya tiba-tiba sudah ada didepannya.
“Tubuh seorang Dragon Slayer memiliki keistimewaan. Mereka dapat memiliki kekuatan naga itu sendiri...” ucap Maruya dengan tatapan tajamnya.
“A-apa...” ucap Ruze tidak percaya.
“Sudah dipastikan siapa yang akan menang.” Ucap Tenruo yang menyaksikan pertarungan yang hampir klimaks tersebut.
Ditempat Yugi, dia sekarang sedang menatap pertarungan Ruze dan Maruya dengan serius. “Memang benar, seorang pengguna sihir kuno Dragon Slayer memiliki keistimewaan, yaitu mereka dapat memiliki kemampuan naga itu sendiri bahkan dirinya sendiri itu seperti naga itu sendiri.” Ucap Yugi.
“Jadi begitu, itu berarti Maria juga...” Vira menatap Maria begitu pula sebaliknya.
“Ya, aku juga seorang Dragon Slayer sama seperti kakak, hanya saja aku tidak sekuat kakakku. Karena dia berlatih begitu keras sampai bisa seperti sekarang.” Jawab Maria dengan senyuman hangat.
‘Tidak mungkin, bahkan Maria juga seorang Dragon Slayer. Untuk seusianya mempelajari sihir itu sangatlah hebat...’ batin Yugi terhenti saat sebuah ledakan kembali terjadi di arena.
Kini sebuah asap yang cukup tebal menutupi keberadaan Maruya dan Ruze yang tidak di ketahui dimana mereka sekarang. Tapi sebuah benturan dan serangan hebat dapat mereka rasakan melalui udara yang terus berhembus setiap benturan terjadi.
Duar
Duar
Duar
Duar
Duar
Disaat benturan yang terakhir terlihat Ruze yang terpental menghantam tanah dengan cukup keras sehingga membuat tanahnya retak sedikit.
“Guhuk gghuk...” batuk darah dirasakan oleh Ruze saat tubuhnya menghantam tanah yang keras.
Sementara Maruya berdiri sekitar sepuluh meter dari tempat Ruze berada. Keadaan kini sudah berbalik, sekarang Maruya lebih mendominasi pertarungan sampai membuat Ruze tersudut seperti itu. Ruze yang tidak mau kalah langsung berdiri dan menatap kembali Maruya dengan tajam.
Kedua tangan Ruze terangkat ke depan dan membuka telapak tangannya kemudian mempertemukan ujung dari setiap jari jempol dan telunjuk sehingga membentuk segitiga didepannya. Lingkaran sihir ungu kehitaman muncul didepannya setinggi badannya. “Rasakan ini... Laser Fire.” Api bertekanan tinggi melesat kearah Maruya dengan jalur lurus layaknya laser melesat.
Melihat serangan itu tidak membuat Maruya takut. Dengan sigap dia menghisap semua apinya kedalam mulut dan memakannya seperti camilan. “Dasar tidak berguna, menyerangku dengan api sama halnya memberikan energi padaku. Akan kukatakan satu hal lagi, kami Dragon Slayer bisa menghisap jenis kekuatan yang sama dengan elemen kami.” Ungkap Maruya. “Jadi percuma saja kau menyerangku dengan api.” Lanjutnya.
“...” Ruze menggeram kesal sampai aura hitam keunguannya menguar ganas dan membuat tanah yang dia pijak retak sedikit dan menjalar layaknya jaring laba-laba. ‘Akan aku gunakan...’
[“Berhenti Ruz... tugasmu sudah selesai”]
Sebuah suara tiba-tiba masuk kedalam pikiran Ruze, setelah mendengar itu aura mengerikan yang sempat keluar dari tubuh Ruze kini mulai menghilang dan lenyap. Kepalanya menunduk ke bawah tanpa ekspresi, hal itu membuat Maruya terbingung akan sikap Ruze yang tiba-tiba berubah. Kedua tangan Ruze terangkat perlahan ke atas sambil mengangkat kepalanya menatap Maruya.
“Aku menyerah.”
Dua kata yang membuat semua orang terdiam baik Maruya ataupun mereka yang menonton hanya mampu menatap terkejut akan tindakan Ruze. Bahkan wasit dalam duel itu tidak percaya akan perkataan Ruze. Beberapa detik kemudian Rud pun tersadar akan keterkejutannya dan segera mengumumkan hasil pertarungan tersebut.
“B-baiklah, karena Ruze menyerah, maka pertarungan kedua ini dimenangkan oleh Maruya.” Teriak Rud yang mengumumkan hasilnya.
Penonton yang sempat terdiam kini mulai bertepuk tangan sedikit demi sedikit dan akhirnya bersorak ria akan hasilnya. Walau hal itu masih belum memuaskan bagi satu orang, Maruya menatap tidak suka akan keputusan Ruze yang mengaku kalah seperti itu. Jika dilihat raut wajah Ruze begitu biasa saja saat mengaku kalah. Hal itu malah membuat Maruya tambah kesal, tapi pertarungan tetaplah pertarungan, dia pun akhirnya menerima hasil itu dengan lapang dada. Keduanya pun mulai meninggalkan arena pertarungan dan kembali ke bangku penonton.
Saat sampai disana Maruya disambut hangat oleh adiknya, Yugi dan Vira. Mereka tersenyum senang kearah Maruya yang berhasil memenangkan pertarungan tadi.
“Kakak...” Maria memeluk kakaknya dengan penuh kasih sayang. Kehangatan yang disalurkannya membuat Maruya tersenyum hangat sambil mengelus kepala adiknya.
“Selamat Maru.” Ucapan selamat dari Yugi di balas senyuman senang dari Maruya.
“Selamat ya kak Maru.” Ucap Vira dengan senyuman cerahnya.
“Ya, terima kasih.”
Disebuah tempat yang begitu sepi, dibawah jembatan terdapat dua orang tengah berbincang. Sepertinya satu orang tidak terlalu senang pada lawan bicaranya yang memakai jubah bertudung hitam.
“Kenapa, padahal jika aku mengeluarkan seluruh kemampuanku aku bisa mengalahkannya.” Kesal orang itu yang tidak lain ternyata Ruze.
“Tenanglah Ruze, kita hanya di perintahkan untuk memantau situasi. Itulah tujuan utama kita...” jawab orang bertudung dengan suara berat.
“Aku mengerti, hanya saja rasa kesal ini membuatku tidak tenang. Dia, pengguna sihir kuno itu...” geram Ruze.
“Tentu saja, ini juga menjadi aib bagi kita penyihir hitam... kau sebagai salah satunya haruslah bertanggung jawab.” Marah orang itu dengan nada intimidasi, Ruze yang mendengarnya sedikit takut dengan keringat dingin di pelipisnya. “Tapi untuk saat ini lupakan saja dulu, yang terpenting adalah informasi saat ini harus di sampaikan pada yang mulia, aku akan pergi.” Orang itu mulai tertelan dalam lubang hitam dibelakang tubuhnya dan lenyap dari hadapan Ruze.
“Hhmmm... jika ada kesempatan, aku akan mengalahkanmu dengan semua kekuatanku.” Gumam Ruze dengan tatapan tajam dan kedua tangan terkepal kuat.
Kegelapan yang membayangi kerajaan Eartfil mulai menampakkan dirinya. Mereka yang berasal dari negeri gelap mendatangi terbitnya cahaya matahari, tujuan mereka tidak lain hanya satu... menutupi dunia dengan kegelapan...
__ADS_1