KAISAR ES

KAISAR ES
TUAN PUTRI KERAJAAN VOULEFTIS


__ADS_3

Setelah menyelesaikan misi yang lumayan merepotkan, akhirnya kami kembali berjalan kaki menuju kota untuk menyampaikan kesuksesan misi tersebut pada guild. Tapi...


"Imut sekali."


Tanpa disangka muridku mendapatkan familiar pertamanya, sungguh diluar perkiraanku, ditambah dia telah berhasil naik level tanpa aku sadari...


Sepertinya untuk sekarang tidak perlu mengkhawatirkan perubahan vampire nya...


Tapi aku tidak akan lupa, kejadian tentang perubahan mendadaknya saat menghadapi Chimera. Saat itu aku terkena sedikit gelombang laser Chimera, tapi untungnya tidak berdampak fatal, saat aku ingin kembali menghajar monster itu... aku melihatnya, ya... itu adalah perubahan vampire Vira, tapi terlihat sedikit berbeda. Entah kenapa aura vampirenya seperti tercampur oleh hal yang lain. Aku tidak mungkin bodoh tidak menyadari hal tersebut, darah vampirenya merespon darah penyihir mata iblis... mata darah berpadu mata vampire... aku tidak tahu akan jadi seperti itu, bahkan serangannya pun belum pernah aku lihat sebelumnya. Baru pertama kali bagiku saat melihat serangan yang dapat melenyapkan setiap partikel bagian kaki Chimera itu...


Saat membayangkannya aku hanya mampu menelan ludah keras, muridku ini... dia memiliki takdir yang sulit di masa depan... seperti halnya denganku...


"Guru... Guru..." panggil Vira


“Y-yah, ada apa Vira?” tanya Yugi sedikit terbata karena baru tersadar dari lamunannya.


“Apa yang sedang guru pikirkan?” tanya Vira.


“Tidak ada, hanya saja aku sedang berpikir mengenai familiarmu itu.” Ucap Yugi yang berusaha meyakinkan Vira, walau memang niatnya sedari awal adalah menanyakan tentang familiar yang baru didapatkan oleh muridnya tersebut.


Yugi masih menatap kearah Vira yang masih menggendong serigala kecil yang terlihat lembut itu.


"Aku juga tidak terlalu mengerti?" Bingung Vira, kemudian melanjutkan kata-katanya sambil melihat kearah piaraan di gendongannya. “Hey Neo, bagaimana caranya aku bisa membuat kontrak denganmu?”


"Kau harus mengingatnya sendiri, aku tidak akan memberitahu kalian.” Jawab Neo masih dengan nada imutnya, walau kata-katanya sedikit sombong. “Tentang perihal diriku ini, aku hanya seekor monster langka yang kadang sulit untuk di jinakkan. Aku melakukan kontrak dengan gadis ini hanya karena penasaran akan sesuatu.” Jelas Neo.


“Penasaran denganku, memang ada apa denganku?” tanya Vira yang penasaran.


‘Maksud dari perkataan Neo pastilah perubahan mendadak Vira. Aku juga masih memikirkan hal itu, tidak ada yang lebih masuk akal jika saja Vira membuat kontrak saat dia tidak menyadari telah memasuki mode lain. Entah itu perubahan Vampirenya atau darah penyihir mata iblis. Tapi yang paling mendekati adalah Vampire, karena setiap Vira ingin menghisap darahku dia tidak menyadari hal tersebut.’ Batin Yugi, walau dalam kata-kata terakhirnya dia agak mengeluh karena sering dihisap darahnya. Tapi dia tidak keberatan, karena pada dasarnya vampire memang harus menghisap darah untuk bertahan hidup. Walau Vira sendiri hanya setengah vampire, tapi darah vampirenya masih mengalir didalam tubuhnya. Beruntungnya bagi Yugi, Vira hanyalah setengah vampire, karena jika Vira adalah vampire sejati maka darahnya mungkin habis di hisap. Pernah sekali Yugi membaca tentang kebrutalan vampire sejati dalam menghisap darah manusia.


“Guru...” panggil Vira.


“Ya.” Balas Yugi.


“Aku penasaran apa yang dibilang oleh Neo. Apa maksudnya didalam diriku ada sesuatu yang menarik perhatiannya?” Tanya Vira.


“Yang dia maksud pasti darah vampire mu Vira.” Jawab Yugi. “Apa aku benar Neo?” lanjut Yugi yang bertanya pada serigala kecil itu.


“Tidak salah, tapi masih ada hal yang lain.” Jawab Neo.


‘Jika bukan itu, berarti...’ batin Yugi yang menebak pikiran Neo.


“Ah aku tidak mengerti apa maumu, tapi bulumu begitu lembut.” Vira yang tidak peduli apapun hanya mengelus manja pipinya ke bulu lembut Neo berwarna putih itu.


“Jangan perlakukan aku seperti boneka dasar manusia.” Ucap geram Neo.


“Eh, aku kan setengah vampire.” Balas Vira.


“Terserah, baumu lebih ke manusia. Aku sedikit kesal juga kenapa aku membuat kontrak denganmu.” Ucap Neo yang makin geram.


“Apa kau tidak mau denganku?” tanya Vira dengan nada sedih.


Neo tidak menjawab pertanyaan Vira, dia hanya diam sampai dirinya memberontak dari pelukan Vira dan melompat ke depan. “Aku akan berjalan sendiri.” Neo berjalan didepan mereka dengan wajah tidak mau tahu.


Sementara Vira yang melihatnya hanya murung disamping Yugi. Untuk Yugi sendiri hanya bisa diam melihat tingkah Neo yang begitu keras pada Vira. Tapi karena tidak tahan melihat muridnya sedih, Yugi berusaha menghiburnya.


“Tidak usah bersedih Vira, karena seorang penyihir yang membuat kontrak dengan familiar yang baru mereka temui memang perlu waktu untuk bisa saling memahami. Tapi seiring berjalannya waktu aku yakin kalian bisa akrab.”


Mendengar kalimat itu dari gurunya, Vira menjadi lebih baik dan bertekad untuk mendapatkan pengakuan dari Neo.


“Ya guru, aku akan membuat Neo mengakuiku sebagai partnernya.” Ucap Vira semangat.


“Itu baru Muridku.” Yugi mengelus kepala Vira dengan lembut dengan penuh kasih sayang.


“Ngomong-ngomong guru, simbol yang ada ditanganku ini.” Vira menunjukkan tangan kanannya pada Yugi dengan wajah bertanya, dimana di punggung tangan kanannya tersebut terdapat gambar kepala serigala dewasa berwarna hitam.


“Itu adalah simbol bahwa kamu sudah membuat kontrak dengan monster panggilan. Setiap simbol berbeda-beda dan melambangkan monster tersebut, seperti halnya simbol serigala mu itu, maka lambangnya berbentuk kepala serigala. Familiar itu seperti halnya partner kita dalam bertarung. Jika kamu mengalirkan Mana ke simbol itu, maka Neo akan memenuhi panggilanmu dan membantumu jika dalam masalah. Tapi jangan di gunakan untuk hal yang tidak perlu, atau partnermu akan marah...”


Sriiing


Baru saja Yugi selesai menjelaskan, Vira langsung mengaktifkan simbol di tangannya. Dan sebuah lingkaran sihir berwarna merah tercipta didepan mereka kemudian memunculkan seekor serigala kecil yang tadinya sudah berada didepan dengan jarak yang lumayan jauh dan sekarang berada tepat di hadapan mereka. Neo sang familiar hanya menatap marah pada Vira yang seenaknya memanggil dirinya. Yugi yang melihatnya hanya bisa tersenyum canggung.


Sementara Vira menatap berbinar karena telah berhasil memanggil Neo. “Wah ternyata berhasil.”


“Jangan memanggilku jika tidak membutuhkan bantuanku. Aku bukan hewan piaraan biasa, aku Familiar. Hanya panggil aku dalam keadaan darurat saja, kau belum tahu ya kontrak yang harus kau patuhi. Akan kuberitahu sekarang, pertama hanya memanggilku dalam keadaan darurat saja, kedua tidak boleh memperlakukanku seperti hewan piaraan, misalnya saja seperti memanggilku imut ataupun mengelus-elus buluku, ketiga perlakukan aku dengan baik dan menghormati diriku, walau tubuhku kecil tapi aku juga memiliki harga diri. Mengerti, setidaknya patuhilah tiga syarat yang aku berikan padamu.” Setelah menjelaskan itu, Neo berjalan kembali meninggalkan Vira dan Yugi disana.


Mendengar nada marah yang terkesan menusuk itu membuat hati Vira menjadi sedih kembali. Keinginannya yang hanya ingin berteman baik dengan Neo menjadi sedikit jauh untuk di gapai. Tapi hal itu tidak akan meruntuhkan keyakinannya, karena ini baru awal baginya.


Kemudian Vira sedikit berlari ke depan dan berhenti tidak jauh dari Neo. Dengan menarik nafas, Vira berteriak dengan nada lantang. “AKU PASTI AKAN MEMBUATMU MENGAKUIKU SEBAGAI PARTNERMU.”


Mendengar itu Neo sedikit tersentak, langkahnya terhenti sebentar, di wajahnya terlihat senyuman kecil walau masih terkesan datar. Dia tidak berbalik, tapi malah melanjutkan langkah kakinya tanpa memperdulikan pernyataan Vira.


Vira yang diabaikan tidak terlihat sedih, dia tersenyum dengan keyakinan dihatinya. Yugi yang melihat itu merasa bahwa Vira sudah semakin dewasa, yang dulunya hanya gadis kecil pembawa dendam sekarang menjadi gadis kecil yang periang dan enerjik. Itu membuat Yugi ingin semakin lama melihat kemajuan muridnya tersebut.


Beberapa saat di perjalanan mereka, terjadi keheningan disana. Sementara Neo masih berjalan didepan Yugi dan Vira. Yugi sendiri terlihat santai sambil melihat sekelilingnya, walau dilihatnya hanyalah hutan, mereka masih agak jauh dari kota, tapi tidak terlalu buruk untuk mengisi waktu luang. Berbeda dengan Vira, sedari tadi dia melihat kearah tangan kanan Yugi atau lebih tepatnya punggung tangan kanan Yugi. Entah kenapa Vira begitu penasaran akan sesuatu, karena tidak tahan akhirnya dia bicara.


“Guru, aku ingin bertanya.”


Yugi hanya melirik kearah kanannya dimana Vira berjalan disampingnya. Wajahnya berkerut akan perkataan Vira barusan, tanpa di beritahu pun Vira mengerti kalau dirinya boleh bertanya sekarang.


“Apa guru mempunyai kontrak dengan monster panggilan juga?” tanya Vira.


‘Tumben sekali Vira ingin mengetahui sesuatu tentang itu dariku. Ya kuberitahu saja, tidak ada salahnya juga.’ Batin Yugi. “Ya, aku mempunyai satu.” Jawab nya.


“Terus, dimana simbol kontrak guru?” tanya kembali Vira yang bingung karena tidak melihat simbol kontrak yang harusnya ada di punggung tangan kanannya.


“Owh... itu, aku menghilangkannya. Dengan begini tidak terlihat mencolokkan.” Yugi memperlihatkan punggung tangan kanannya yang bersih tanpa ada coretan apapun.

__ADS_1


“Eh... bagaimana caranya? Punyaku masih ada.” Vira melihat-lihat simbol di punggung tangan kanannya yang tidak menghilang seperti milik gurunya.


“Itu sangat mudah, tinggal kau putus saja aliran Mana nya maka simbol tersebut akan hilang dengan sendirinya.”


Bukan Yugi yang menjawab melainkan Neo yang berbicara cukup keras didepan sana. Tanpa berbalik dan menghentikan langkahnya, Neo memberitahu bagaimana caranya menghilangkan simbol kontrak supaya tidak terlalu membawa perhatian banyak orang.


“Begitulah caranya.” Sambung Yugi.


“Bukankah ini terlihat indah, kenapa harus di hilangkan. Aku ingin terlihat seperti ini terus, karena ini bukti bahwa aku telah berteman dengan Neo.” Ucap Vira ceria.


“Lebih baik kau urungkan saja niatmu, bisa berbahaya jika kau terlalu mencolok.” Balas Neo.


“Kenapa sih...” kesal Vira.


“Apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Bisa repot juga jika semua orang tahu seorang gadis kecil membuat kontrak dengan monster. Karena pada dasarnya seorang penyihir membuat kontrak dengan monster pada saat usia mereka sudah mencapai 15 tahun ke atas. Jarang-jarang ada yang membuat kontrak di usia 10 tahun. Paling muda adalah 13 tahun dan itu pun sangat langka. Hanya mereka yang berbakat saja bisa melakukannya.” Jelas Yugi.


“Jadi, aku penyihir berbakat?” Tanya Vira dengan wajah berbinar dan senyum senangnya.


“Ya, bisa dibilang begitu.” Jawab Yugi asal, walau sebenarnya itu tidak bohong juga. Melihat perkembangan Vira yang begitu pesat, Yugi jadi ragu siapa yang bisa mengalahkan muridnya tersebut. ‘Mungkin saja Vira adalah penyihir termuda yang berhasil membuat kontrak dengan monster. Walau aku sendiri tidak tahu jenis monster apa yang membuat kontrak dengannya.’ Hatinya bergumam bangga dan sedikit bertanya-tanya soal familiar baru Vira, hal itu masih menjadi misteri, tapi mungkin akan terungkap seiring berjalannya waktu.


“Wah hebat, lalu guru, kapan guru membuat kontrak dengan familiar?” tanya lagi Vira.


‘Dia tidak hanya gadis yang lugu, tapi banyak tanya. Ditambah cerewet, kenapa kepribadiannya bisa berubah drastis begitu. Aku lebih suka dirinya yang lain.’ Batin Neo yang masih berjalan sambil mendengarkan percakapan dibelakangnya.


“Itu sekitar sebulan yang lalu, sejak aku memulai perjalanan dan bertemu denganmu, saat itu aku berencana bertualang setelah berlatih bersama partnerku itu.” Jawab Yugi.


“Eh, guru berlatih dengan familiar guru?”


Entah sampai kapan Yugi harus menjawab semua pertanyaan yang terus saja keluar dari mulut Vira. Tapi bagi Yugi itu tidak terlalu buruk, setidaknya dia bisa menghilangkan rasa bosannya dengan meladeni setiap pertanyaan muridnya tersebut. Lagi pula ini bagus juga untuk pengalamannya, mungkin Vira bisa mempelajari sesuatu dari ceritanya tersebut.


“Ya begitulah, familiar guru juga bisa berbicara. Dia memiliki kemampuan yang sama dengan guru, yaitu elemen es. Jadi selama kami membuat kontrak, gurumu ini berlatih dengannya selama sebulan penuh tanpa istirahat.” Ucapnya dengan bangga. Walau sebenarnya Yugi tidak mau mengingat tentang latihan keras dari raja naga itu.


“Selama itu, hebat sekali. Familiar guru dari ras apa?” tanya Vira.


“Itu...”


Sebelum Yugi menjawab pertanyaan Vira, mereka akhirnya tiba didekat pintu gerbang kota. Yugi melihat kearah Vira dimana punggung tangan kanannya masih terdapat simbol kontrak.


“Vira, hilangkan simbol kontraknya.” Ucap Yugi.


“Baik guru.” Vira pun memutus aliran Mana yang masih sedikit mengalir pada tangan kanannya, saat aliran sihir itu diputus, simbol kontraknya pun hilang. “Sudah.” Lanjutnya.


“Bagus, Neo jangan jauh-jauh dari kami. Kau masih belum tahu kan kami tinggalnya dimana. Lagi pula tanpa pendamping kau bisa saja di ambil oleh seseorang dan dijadikan hewan peliharaan oleh mereka.” Ucap Yugi.


Sebenarnya Neo tidak mau berada di pelukan gadis kecil itu lagi. Tapi mendengar perkataan Yugi yang masuk akal, akhirnya Neo hanya bisa menurut dan melompat ke pelukan Vira.


“Emmhh...” Vira yang melihat Neo inisiatif melompat kedalam gendongannya hanya mampu tersenyum senang, walau dirinya harus menahan diri untuk tidak mengelus-elus bulu lembut Neo. Karena sedari tadi Neo mengirimkan sinyal untuk tidak berbuat hal yang tidak dia sukai.


Yugi sendiri merasa bingung kenapa majikan malah diatur oleh familiar nya sendiri. Ya dia pun tidak bisa menyangkal kalau dirinya sendiri pernah di perintah ini itu oleh familiranya dalam pengampuan pelatihannya selama sebulan penuh itu.


“Ternyata kau mendapat perhatian lebih dari yang aku perkirakan.” Ucap Yugi yang kata-katanya itu menjurus pada Neo yang ada di gendongan Vira.


“Karena Neo terlihat begitu i-...”


Belum sempat Vira menyelesaikan perkataannya, dia terlebih dulu di intimidasi oleh Neo karena mau menyebutnya imut. Vira yang melihat itu hanya tersenyum canggung dengan keringat dingin di pelipisnya. Sementara Yugi hanya diam saja, walau dalam hati dia ingin mengatakan bahwa Neo memang terlihat imut sebagai familiar.


“Untuk berjaga-jaga, lebih baik kau tidak berbicara dengan siapa pun Neo.” Saran Yugi.


Untuk Neo sendiri tidak keberatan tentang hal itu, lagi pula dia tidak ada minat untuk bicara dengan orang lain. Mungkin akan menjadi heboh jika ada orang lain yang tahu bahwa Neo adalah familiar. Karena dilihat dari sudut mana pun, Neo ini seperti hewan serigala biasa.


Dalam perjalanan mereka mendapati banyak sekali orang yang berkumpul di satu tempat. Atau lebih tepatnya pada satu orang yang tidak jauh dari Yugi. Didepan mereka terlihat sosok wanita rupawan yang merupakan putri kerajaan Eartfil. Yugi juga mengenal wanita itu, karena mereka sering bertemu beberapa kali dan terakhir kalinya di rumah besar dimana Yugi sedang menjalankan misi. Yugi berhenti berjalan saat tuan putri itu menghampiri dirinya. Neo yang berada di gendongan Vira mulai memberontak lagi dan melompat meninggalkan Vira dan Yugi. Vira yang melihat itu mengejar Neo tanpa disadari oleh Yugi. Dan sekarang Yugi berdiri sendiri tanpa menyadari bahwa muridnya itu sudah pergi lagi.


Tuan putri yang sudah berada di hadapan Yugi mulai berkata dengan nada bersahabat. “Sepertinya kau terlihat baik-baik saja sekarang.” Ucap tuan putri Lani.


“Ya begitulah, ini berkat bantuanmu. Terima kasih.” Ucap Yugi dengan tulus.


“Tidak usah seformal itu, bagaimana dengan perasaanmu sekarang?” tanya Lani.


Yang ditanyakannya pastilah tentang perubahannya saat naik level. Untuk sekarang Yugi merasa sangat kuat, seperti banyak energi sihir yang terus berkumpul didalam tubuhnya.


Tentu saja dengan senyuman Yugi menjawab pertanyaan Lani. “Merasa lebih baik dari sebelumnya, bahkan jauh lebih baik.”


“Syukurlah, aku harap pertemuan kita selanjutnya kau tidak keracunan lagi.” Ejek Lani.


“Aku rasa tidak akan...” balas Yugi yang tidak mau kalah.


Persaingan mereka memang terlihat begitu memacu atmosfer di sekitarnya. Saat Lani masih berlatih di gunung itu, Yugi menemaninya dan akhirnya mereka saling berlatih bersama dan bersaing siapa yang paling hebat. Untungnya gunung itu tidak hancur karena mereka tidak terlalu serius. Jika saja mereka serius entah apa yang akan terjadi pada nasib gunung tertinggi Eartfil. Tapi dari situlah pertemanan mereka menjadi dekat dan membuat Lani berkata jujur bahwa dia adalah seorang tuan putri. Untuk Yugi sendiri sebenarnya sudah menebak akan hal itu, karena mungkin dilihat dari penampilannya dan cara etikanya yang sangat mirip dengan Elsa. Kebanyakan tuan putri bisa dinilai dari luarnya dan itu memudahkan Yugi dalam mengetahui identitas Lani. Tapi tetap saja dia masih sedikit terkejut ternyata Lani adalah putri tertua kerajaan Eartfil dan merupakan putri satu-satunya. Benar-benar takdir yang begitu rumit, entah kenapa Yugi sempat berpikir kalau takdirnya itu dikelilingi oleh para bangsawan.


“Tuan putri.” Seorang prajurit kerajaan memanggil Lani yang masih menatap kearah Yugi dengan rasa menantang. Namun permusuhan tersebut terhenti saat Lani mengingat sesuatu yang harus dia lakukan.


“Aku rasa sampai disini saja dulu.”


Perkataan Lani mengisyaratkan persaingan mereka dihentikan untuk sementara waktu. Tapi sebelum Lani berbalik meninggalkan Yugi, sebuah ucapan yang dikeluarkan oleh Yugi membuat Lani sedikit terkejut.


“Aku akan menang.”


Satu kalimat itu membuat Lani terkejut, tapi itu masih belum selesai, perkataan selanjutnya dari Yugi membuat Lani tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.


“Mari bertemu di arena.” Tantang Yugi.


Lani menatap mata Yugi dimana sebuah tekad yang begitu tajam mengarah hanya pada satu tujuan. Ya itu adalah keinginan untuk menang dari setiap lawan-lawannya. Lani terasa tertantang, keinginannya juga yang ingin mengalahkan Yugi belum terhenti. Disana sebuah persaingan, keinginan bertarung dan saling mengerti dengan bertukar serangan adalah tanda pertemanan mereka. Dan itu akan terjadi, keinginan keduanya akan dipertemukan suatu saat nanti.


Lani berkata. “Aku menunggumu. Jangan membuatku kecewa...” kemudian Lani berbalik sambil melanjutkan kalimatnya. “Sampai jumpa Yugi.”


“Ya, sampai jumpa.” Balas Yugi. ‘Aku tidak akan membuatmu kecewa.’ Lanjutnya dalam hati.


Setelah kepergian tuan putri Lani, akhirnya Yugi berbalik untuk melihat muridnya dan Neo, dan tentu saja yang dilihatnya hanyalah tanah semata. Entah kenapa dirinya seolah tidak memperbolehkan matanya beralih dari satu-satunya murid yang dilatihnya itu.

__ADS_1


“Ya ampun.” Yugi mengusap kepalanya lelah karena tingkah Vira yang tidak bisa diam di satu tempat.


Pada akhirnya Yugi mencari keberadaan Vira dan Neo. Tentu saja menggunakan sihir pendeteksinya, jika tidak menggunakan teknik itu maka akan memakan waktu yang lama. Apalagi kota ini sangat luas, baginya mencari dengan cara biasa hanya akan membuang waktu berharganya. Tidak berselang lama dalam perjalanannya mencari satu sosok gadis dan satu serigala kecil membuahkan hasil, sekarang Yugi merasakan Mana Vira di sekitar pinggiran kota. Entah apa yang dilakukan oleh Vira sekarang, semoga saja tidak ada hal yang merepotkan, mungkin itu yang akan di pikirkan oleh Yugi sekarang ini.


Yugi berlari kearah sumber energi sihir Vira, didepan sana Yugi dapat melihat sosok gadis kecil bersurai putih perak yang dipandangi marah oleh seorang petualang bersurai runcing cokelat kemerahan layaknya preman jalanan. Vira sendiri hanya terdiam meringis seolah ingin menangis.


“Lihat apa yang telah binatang kecilmu lakukan pada bajuku ini.” Teriaknya marah.


“Maafkan aku...” Vira bergetar takut, sementara Neo yang ada di gendongannya menggeram marah pada petualang didepannya ini.


Entah bagaimana Neo terlihat ingin mencabik-cabik petualang didepannya dengan amarah besar, tapi dia mengingat pesan dari Yugi supaya tidak menarik perhatian. Sedangkan Vira merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Neo untuk tidak berbuat seenaknya. Pasalnya baju petualang didepannya sobek oleh cakaran Neo.


“Bagaimana kau akan menggantinya hah...” petualang itu tambah marah karena sedari tadi gadis didepannya hanya menangis saja.


“Aku yang akan membayarnya.” Balas Yugi dengan suara yang tidak kalah tegas.


Yugi berdiri membelakangi Vira yang tengah ketakutan dan serasa ingin menangis. Sebenarnya bisa saja Vira menghajar petualang layaknya preman ini dengan mudah, hanya saja dirinya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga partnernya tersebut. Makanya Vira merasa bertanggung jawab atas perbuatan Neo.


“Kau... heh, cepat berikan uangmu. Baju yang kupakai ini cukup mahal loh... apa kau sanggup membayarnya.” Ucap sinis petualang berambut preman itu. Walau di setiap kata-katanya dia berbohong tentang baju mahal. Padahal dilihat dari mana pun itu hanyalah baju standar petualang biasa.


“Sebelum itu aku ingin tahu penjelasan detail tentang masalah ini. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Yugi pada petualang didepannya tersebut.


Petualang yang laganya seperti preman itu berucap sombong dengan memperkenalkan dirinya dengan gaya sok keren. “Namaku Gora, seorang petualang lanjutan.” Sambil menunjuk dirinya dengan jempol kanan, kemudian melanjutkan ucapannya. “Hewan kecil itu berani merobek bajuku, tentu saja aku marah dan minta ganti rugi pada pemiliknya.”


Mendengar pernyataan singkat itu belum bisa Yugi terima, memangnya kenapa Neo mau melakukan hal tersebut. Dibanding hanya mendengar penjelasan sepihak lebih baik dirinya mendengar alasan dari sang pelaku perbuatan. Tapi di tengah kerumunan orang-orang ini beresiko besar bagi dirinya maupun Vira. Yugi sebelumnya memperingati bahwa Neo tidak boleh berbicara dengan siapa pun kecuali dengan dirinya dan Vira, karena itu akan menjadi pusat perhatian kalau hewan bersama dengan mereka adalah familiar. Ini merepotkan, tapi di tengah ke pusingan, tiba-tiba Yugi mendapati sebuah suara terdengar dikepalanya.


[‘Aku tidak bersalah...’]


Siapa itu? Yugi bingung, tentu saja karena secara tiba-tiba ada suara di kepalanya. Dan dia mengenal baik siapa pelaku dari suara tersebut. Yugi melirik sebentar kearah belakangnya dimana Neo berdiam dalam gendongan Vira.


[‘Apa ini kau Neo?’]


Yugi pun berkata dalam hatinya yang tersambung dengan Neo. Ternyata yang berbicara dengan Yugi adalah Neo yang menggunakan telepati entah bagaimana caranya.


[‘Ya, ini adalah salah satu kemampuanku, aku bisa berbicara denganmu melewati telepati. Karena aku dilarang bicara menggunakan mulutku maka hanya inilah caraku mengatakannya padamu.’]


Ternyata kemampuan ini adalah salah satu milik Neo yang baru saja di ketahui oleh Yugi. Skill yang bisa mengirimkan kata-kata lewat pikiran dan mengirimkannya pada orang yang dituju. Sebuah kemampuan yang sangat diinginkan bagi orang intelijen guna mengirimkan informasi secara rahasia. Yugi sendiri sedikit terkagum, seperti tidak hanya Yui saja yang bisa tersambung dalam pikirannya, ternyata ada familiar yang memiliki kemampuan telepati seperti ini.


[‘Memangnya apa yang terjadi?’] Tanya Yugi.


[‘Saat aku sedang berjalan sendiri, tiba-tiba petualang aneh itu datang menghampiriku dan menangkapku. Dia berkata dengan jahatnya ingin menjualku ke toko hewan peliharaan. Harga diriku sebagai familiar terasa direndahkan, akhirnya aku melawan walau hanya serangan fisik biasa. Alhasil bajunya kusobek dan saat itu Vira pun muncul. Dia...’] Neo tidak melanjutkan kata-kata terakhirnya yang merujuk pada Vira. Dalam hati Neo merasa senang dilindungi oleh Vira, namun dirinya tidak menunjukkan hal tersebut.


Sementara Yugi yang menyadari hal itu hanya tersenyum simpul dan mengabaikan petualang Gora yang sedari tadi menunggu dengan kesal. ‘Harga dirimu begitu tinggi ya...’ batinnya sweetdrop.


“Oi jangan abaikan aku.” Gora marah dengan muka yang sudah memerah. Sepertinya dia menahan amarahnya sedari tadi, dan emosi itu diluapkan pada Yugi yang mengabaikannya.


“Aku mengerti situasinya. Bukankah yang salah disini adalah kau.” Balas Yugi dengan sengit. Dirinya tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang mengganggu dirinya atau orang terdekatnya. Apalagi sampai berbohong tentang kesalahan orang terdekatnya.


“Apa maksudmu, kau lihat sendiri baju ku sampai robek seperti ini karena cakaran hewan serigala itu.” Gora masih belum mengalah, dirinya masih tetap kukuh terhadap kebohongannya.


“Tidak mungkin hewan seimut ini akan berbuat seperti itu tanpa sebab. Jadi apa yang telah kau lakukan, biar aku asumsikan sendiri... kau berniat menangkap dan menjualnya ketoko hewan peliharaan, karena hewan seperti ini bisa laku dengan harga mahal. Apa aku benar?”


Tepat sasaran, asumsi yang begitu telak membuat petualang didepannya tidak mampu menjawabnya. Karena tidak bisa mengalahkan pemuda surai putih salju ini dengan kata-kata, maka Gora akan memakai jalan kekerasan.


“Lebih baik kau hentikan saja, karena itu akan merugikan dirimu sendiri. Dikota ini terdapat prajurit yang berpatroli yang berfungsi untuk mengamankan bagi siapa pun yang bertarung di tengah kota. Jadi urungkan saja niatmu untuk melawanku.” Tebakan Yugi lagi-lagi membuat Gora tidak bisa berkutik, amarahnya semakin memuncak mendengar nada meremehkan dari Yugi.


“Memangnya aku peduli, akan kuhajar kau disini.” Aura cokelat yang menguar dari petualang Gora terlihat menggila karena emosi yang sudah tidak bisa ditahan lagi.


Tapi sebelum Gora berhasil melancarkan serangannya, badannya terlebih dulu dibungkus oleh es yang merambat ke seluruh badannya sampai kepala. Gora yang baru tersadar dirinya sudah terkurung es hanya mampu menggeram kesal namun tidak bisa melepaskan diri dari es yang membekukan badannya.


“Sudah kubilang hentikan saja.” Ucap Yugi dengan santainya.


Tidak lama dua orang prajurit kerajaan yang tengah berpatroli melihat keributan dan menuju sumbernya. Disana prajurit itu mendapati seorang petualang bersurai cokelat kemerahan dengan gaya runcing membeku oleh es sampai kepalanya. Di badan petualang itu tertulis sebuah pesan di secarik kertas. Disana tertulis [Pencuri hewan peliharaan]. Dua prajurit itu hanya saling pandang sampai mereka sepakat untuk membawa petualang itu untuk diinterogasi.


Sementara dengan Yugi, dia berhasil meloloskan diri dari masalah yang akan semakin besar jika saja dia masih tetap diam disana. Tentu saja Vira sudah berada bersama dengannya. Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju penginapan setelah melaporkan misi yang sudah mereka selesaikan. Untuk jaga-jaga, Yugi selalu memegang tangan kanan Vira supaya tidak menghilang lagi, sementara tangan kirinya masih menggendong familiarnya. Neo yang masih belum terbiasa hanya mampu pasrah berada di gendongan Vira.


Aku berharap hari ini bisa berlalu dengan lebih cepat...


Kerajaan Vouleftis di kenal dengan kesuburannya karena dekat dengan gunung berapi. Hampir semua tumbuhan bisa tumbuh disana, kerajaan Vouleftis di pimpin oleh raja dengan gelar kaisar api dan merupakan pengguna elemen api yang terkenal dengan panasnya seperti gunung berapi yang membara. Beliau memiliki dua orang anak yang berbeda jenis kelamin. Anak pertama adalah calon raja selanjutnya, yang merupakan putra mahkota yang diberi nama Rexas Vouleftis. Sementara yang kedua adalah seorang tuan putri dengan paras cantik, rambut merah membara namun terkesan lembut dan indah dipandang layaknya api yang menari dengan anggunnya, matanya seperti delima yang sangat berharga. Tubuh yang begitu elok namun masih dalam masa pertumbuhan, tuan putri ini di beri gelar [Mawar Api]. Sangat indah namun berbahaya, tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Untuk sekarang hanya orang tuanya dan kakaknya saja yang dekat dengannya.


Banyak orang yang penasaran akan sifat tuan putri kerajaan Vouleftis, tapi karena pribadi yang menutup diri dari dunia luar, tidak banyak orang yang tahu akan wujudnya. Mereka hanya bisa menggambarkannya melalui imajinasi mereka. Bahkan seorang penyair pun akan menebak-nebak melewati kata-katanya saja. Namun itu masih belum mampu menggambarkan rupa cantiknya. Dikatakan kecantikannya bisa mengalahkan tuan putri kerajaan Northern Esla. Apa benar begitu, atau itu hanya rumor belaka, kenapa tuan putri kedua ini sangat tertutup dari dunia luar? Banyak pertanyaan yang terus bertebaran dikepala semua orang yang penasaran akan tuan putri kerajaan Vouleftis. Nama dari putri kedua ini adalah...


Duuuuaaaarrrrrrr


Tebasan api yang begitu kuat dari pedang berwarna merah api dengan bara nya yang panas digenggam oleh seorang wanita cantik yang begitu anggun dan rupawan. Pakaian khas tuan putri yang begitu mudah dipakai saat menggunakan pedang, tebasan sebelumnya merupakan ulah dari wanita tersebut.


“Latihan hari ini sampai disini saja.”


Mendengar instruksi suara dari seorang lelaki yang sudah kepala dua menghentikan latihan dari wanita bersurai merah api. Pedangnya di sarungkan di pinggang kirinya dengan pelan dan anggun. Mata delima melirik pada instruktur yang menghentikan latihannya, wanita itu tersenyum kemudian membalas ucapan lelaki itu.


“Baik, terima kasih Ayah.”


Ternyata pelatih itu merupakan ayahnya sendiri, mereka sekarang berada disebuah padang gersang yang dekat dengan gunung berapi. Tidak ada apapun disana, hanya ada pepohonan kering dan semak belukar yang mati. Tempat yang cocok untuk latihan yang penuh bara api.


“Kemampuanmu sudah meningkat dari sebelumnya, Runa.”


Mendengar pujian dari ayahnya membuat hati Runa menjadi senang. Namun itu masih belum cukup, karena ada tujuan yang harus dia capai. Seseorang yang menggunakan pedang yang sama dengannya, namun berbeda dan saling bertentangan.


“Ayah, apa pemuda itu masih lebih kuat dariku?” tanya Runa.


Rouxias Vouleftis yang merupakan raja dari kerajaan Vouleftis hanya menatap putri keduanya itu dengan pandangan sulit ditebak. Namun bibirnya bergerak untuk menjawab pertanyaan dari Runa. “Ya, dia sangat kuat. Tapi jangan khawatir, kau pasti bisa mengalahkannya.”


Masih belum cukup, ternyata latihanku selama ini masih belum cukup. Jika orang itu memang lebih kuat dari ini, maka aku harus lebih keras lagi dalam latihanku...


Tujuanku adalah mengalahkannya, karena aku memiliki pedang ini, maka hanya aku yang mampu mengalahkannya...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2