
Kerajaan Aries, merupakan salah satu dari kerajaan terbesar di daratan para penyihir. Kerajaan ini bergerak dibidang pertanian, ekonominya merupakan peringkat ke 3 dari kerajaan besar lainnya. Tapi kekuatan militer kerajaan Aries tidak boleh diremehkan. Dikatakan kalau kekuatannya merupakan peringkat 2 dengan rajanya yang merupakan seorang Kaisar Angin. Karena kemampuannya yang terlampau kuat bahkan mampu menghentikan pergerakan angin membuatnya dijuluki sebagai Dewa Angin. Semua penyihir menghormatinya, bahkan memberinya julukan Kaisar Aries terkuat dibanding pendahulunya. Sekarang kerajaan Aries sedang merayakan ulang tahun pangeran pertama yang merupakan calon raja selanjutnya. Semua orang bersuka cita akan bertambahnya umur sang pangeran. Dan sekarang kembang api yang begitu indah meluncur diatas istana dengan begitu indahnya. Malam itu merupakan malam yang begitu meriah dibanding hari biasanya. Bahkan raja Aries sendiri mengundang rakyat biasa untuk ikut berpesta kedalam istananya. Semua orang bersorak akan kemuliaan sang raja, rakyatnya yang hidup makmur merupakan hasil kerja keras beliau yang lebih mementingkan rakyatnya dibandingkan kepentingan pribadi. Sungguh raja yang bijaksana, ditambah pangerannya yang juga tidak kalah bijaksananya. Diusainya yang muda dia sudah membantu banyak terhadap kerajaannya, bahkan semua orang kenal akan kebaikannya.
Yup... semua orang sangat kenal akan diriku... tapi mereka tidak mengetahui hobiku seperti apa...
“Pangeran melarikan diri...” ucap sang pelayan yang berpakaian berbeda dengan pelayan yang lain, sepertinya dia merupakan kepala pelayan kerajaan Aries.
“Lagi... dasar anak itu.” Ucap sang raja dengan kepalanya yang menggeleng dengan pusingnya atas tindakan anaknya sendiri.
“Apa yang harus kita lakukan yang mulia?” tanya sang pelayan.
“Biarkan saja, lagi pula ini adalah hari ulang tahunnya. Untuk sekarang akan kubiarkan dia bebas... tapi suruh salah satu pengawal pribadiku untuk mengikutinya tanpa diketahui olehnya.” Jawab sang raja.
“Baik...”
Disebuah kota yang begitu indah saat malam hari, dimana cahaya berkelap kelip memenuhi jalan dengan berbagai orang yang berbondong-bondong kearah istana kerajaan Aries. Disana terdapat seorang anak laki-laki yang tengah berlarian diantara orang-orang dengan wajah riangnya. Menurutnya melihat banyak orang seperti ini membuatnya sangat senang. Tapi tidak lama dia menabrak seseorang dan membuat orang itu terjatuh.
“Ah... m-maaf aku tidak sengaja.” Ucap laki-laki yang menabrak seorang pemuda yang lebih tua darinya.
“Apa kau bilang, maaf hah...” marah pemda itu yang ternyata seorang petualang.
“Harus kita apakan dia Urgo?” tanya seorang laki-laki yang berambut merah.
“Apakan lagi, tentu saja memberinya pelajaran.” Ucap seorang pemuda berambut biru yang berdiri disamping urgo.
‘Mereka seorang petualang rupanya, dan lagi sikap mereka begitu pemarah dan emosional... aku bertaruh kalau mereka itu para petualang yang sombong dan arogan.’ Batin laki-laki tadi yang menabrak urgo. “A-aku kan sudah minta maaf, apa tidak bisa melepaskanku?” tanya laki-laki itu sambil berpura-pura takut. ‘Aku bisa saja menghajar mereka habis-habisan... tapi aku tidak mau ketahuan dengan cepat.’ Batinnya.
“Maaf tidak akan membuatku senang, ayo kita habisi dia.” Ucap Urgo dengan nada marah.
“Hentikan...” teriak seorang wanita bersurai merah sambil melindungi laki-laki yang belum dikenalnya.
“Apa maumu Sara, dia telah menabrakku sampai membuatku terjatuh. Dan aku akan membuat perhitungan dengannya.” Urgo melemaskan jari-jarinya sampai terdengar suara tulang yang bergerak.
“Diakan tidak sengaja melakukannya, lepaskan saja dia...” ucap Sara.
“Baiklah karena kau yang meminta akan kulepaskan dia hari ini.” Urgo menatap kearah laki-laki bersurai hijau yang tadi menabraknya. “Untuk kali ini aku melepaskanmu...” mereka pun pergi menuju istana meninggalkan pemuda bersurai hijau itu.
“Untunglah kamu selamat.” Ucap Sara dengan senyuman manisnya.
‘Siapa wanita ini, kenapa dia menolongku? Dan juga senyumannya begitu cantik...’ batin pemuda itu yang terpana akan kecantikan Sara.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Sara.
Mata mereka saling bertemu satu sama lain, mata hijau dan hitam itu saling memandang dengan pandangan yang berbeda. Sang pemuda memandang Sara dengan mata terpesona akan kecantikan Sara. Sedangkan Sara hanya memandang pemuda itu dengan bingung.
“Kenapa melamun?” tanya Sara.
“A-ah tidak, aku baik-baik saja.” Jawab pemuda itu.
“Syukurlah, namaku Sara...” ucap Sara.
“A-aku...” ucapan pemuda itu menggantung karena sedang memikirkan sesuatu. ‘Lebih baik aku menggunakan nama samaran, bisa gawat jika seorang pangeran ketahuan.’ Batinnya. “Namaku... Aris.”
“Aris ya... nama yang bagus. Apa kamu mau menuju ke istana?” tanya Sara.
“A-ah iya...” jawab Aris dengan gugup.
“Ayo kita pergi bersama.” Ajak Sara.
“Tentu saja...”
Mereka pun pergi bersama menuju istana Aries, Sara tidak mengetahui bahwa Aris merupakan seorang pangeran yang menyamar menggunakan pakaian rakyat biasa. Tentu saja hal itu membuat pangeran kerajaan itu tertarik pada Sara.
Dari sekian banyak orang, hanya dia yang menolongku tadi. Dia tidak peduli siapa diriku, bahkan berani menolongku sampai tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. Dia ini wanita yang aneh...
Didalam istana kerajaan Aries, semua orang tengah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan para tamu undangan. Berbagai orang telah masuk kedalam ruang aula yang begitu luas yang mampu menampung ribuan orang. Berbagai orang datang dari setiap penjuru kota sampai seorang raja dari kerajaan lain juga ikut datang karena undangan dari sang raja Aries.
“Bagaimana penobatan putri Elsa, Reulad?” Tanya sang raja Aries.
“Sangat baik dan berjalan lancar Argos.” Jawab Reulad.
Raja Aries yang sudah menjalin kerja sama dengan kerajaan Northern Esla selama bertahun-tahun sama halnya dengan kerajaan Vouleftis. Mereka merupakan raja dari kerajaan yang memiliki pengaruh besar terhadap dataran penyihir. Karena perang yang berlangsung lama antar kerajaan, membuat raja yang baru merasa prihatin terhadap kondisi rakyatnya yang menderita, maka terjadilah gencatan senjata dan bersumpah untuk berdamai. Sekarang mereka menjalin kerja sama sampai saat ini, dan semua itu masih berjalan lancar.
__ADS_1
“Kedua putri kalian terlihat lebih cantik dari yang terakhir kali aku melihatnya. Apalagi Elsa yang sekarang sudah terlihat lebih dewasa.” Ucap seorang wanita yang berdiri di samping Argos yang merupakan istri sekaligus ratu kerajaan Aries.
“Anda bisa saja Erina...” ucap Raniya.
“Sungguh, bagaimana kalau kita menjodohkan salah satunya dengan putra kami.” Ucap Erina dengan senyuman senangnya.
“Maaf... tapi mereka sudah jatuh cinta pada pria lain.” Jawab Raniya.
Pernyataan Raniya membuat Elsa dan Elna merona malu dengan kedua pipi yang sudah memerah sempurna.
“Eh benarkah, siapa pemuda yang beruntung itu?” tanya Argos.
“Lain kali akan kuperkenalkan dia padamu” Jawab Reulad.
“Baiklah kalau begitu, sepertinya putraku sudah kalah dengan pria pilihanmu itu.” Ucap Argos dengan nada setengah bercanda.
“Aku yakin dia bisa mendapatkan yang lebih baik lagi. Ngomong-ngomong kemana putramu itu?” tanya Reulad sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
“Kau tahukan seperti apa sifatnya itu...” Ucap Argos.
“Dasar anak muda, dia sungguh energik ya...” balas Reulad. “Oh ya, apa kau mengundang raja Vouleftis...?” tanya Reulad karena tidak mendapati raja Vouleftis yang merupakan sahabatnya itu.
“Haaahhh...” Argos menghela nafas sambil menatap kearah lain. “Dia bilang tidak bisa datang karena ada sebuah urusan, aku tidak tau urusan apa yang dimaksud.”
“Dia benar-benar pekerja keras, aku tidak heran kalau dia sekarang sedang duduk di kursinya dengan tumpukan kertas yang menggunung.”
Sementara itu di kerajaan Vouleftis, disebuah ruang kerja milik raja. Terdapat seorang raja Vouleftis yang tengah mengerjakan berbagai tumpukan kertas di hadapannya. “Sialan... kenapa para tetua malah menahanku dengan kertas-kertas ini. Hanya karena liburan beberapa hari membuatku harus kerja lembur seperti ini. Padahal aku juga ingin pergi ke Aries... haaaaaahhh...” ucap Rouxias yang menangisi nasibnya yang bergulat dengan tumpukan kertas.
“Hahahahahaha...” sementara kedua raja yang baru saja membicarakan Raja Vouleftis hanya mampu tertawa akan nasib yang dialami olehnya.
“Ya ampun mereka...” ucap Raniya dan Erina dengan nada lelah bersamaan melihat tingkah suami mereka.
Sementara Elsa dan Elna hanya menatap mereka dengan pandangan bingung akan tingkah orang tua mereka.
Sedangkan di pesta ulang tahun pangeran, disebuah aula sudah terdapat banyak tamu undangan yang kebanyakan dari rakyat biasa. Di dekat jendela terdapat dua orang berbeda gender sedang menikmati pemandangan bintang yang bersinar dilangit. Perempuan yang memiliki surai merah hanya tersenyum hangat menatap langit malam dengan pandangan menyiratkan akan kerinduan, sementara pemuda yang disebelah nya hanya menatap wanita itu dengan pandangan bingung.
‘Kenapa mata Sara mengisyaratkan akan kesepian, seperti sedang menanti seseorang...’ batin pangeran Aries yang menyamar sebagai rakyat biasa.
Aku akan tetap menunggumu, kau pasti akan terkejut saat melihatku. Aku mewarnai rambutku menjadi merah agar kau tidak mudah menyadariku... suruh siapa meninggalkanku begitu lama, ini adalah hukumanmu... kau harus menemukanku dengan segala kemampuanmu... dan saat kau menemukanku, akan kuberitahu perasaanku ini padamu...
Senyuman Sara begitu terlihat menyedihkan, senyuman akan kerinduan itu ingin sekali aku menghapusnya... aku takut kalau dia merindukan orang yang dia cintai... karena itu berarti aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya...
Entah bagaimana aku tertarik padanya... ini baru pertama kali buatku, dari sekian banyak wanita yang mendekatiku... hanya dia yang membuatku penasaran akan dirinya. Aku ingin selalu bersamanya, aku ingin lebih tau banyak tentangnya... aku sangat penasaran dengan wanita bersurai merah didepanku ini... tatapan mata hitam yang seindah langit malam itu telah menghipnotisku saat pertama kali bertemu. Keberaniannya yang menolong orang lain tanpa mengkhawatirkan dirinya sendiri membuatku semakin menyuakainya...
Sara... aku mungkin seorang pangeran... tapi dimatamu aku hanya seorang rakyat biasa. Tapi bisakah aku menjadi pangeran dihatimu*...
Tidak lama lamunan kedua insan ini terganggu akan kegaduhan dimana para prajurit sedang memeriksa setiap rakyat biasa.
“Pangeran pasti ada disini... tetap mencari.” Ucap kepala prajurit yang memberi perintah pada prajurit yang lain.
“Astaga, ayah pasti yang memerintahkan mereka. Sepertinya aku sudah membuat kesabaran ayahku habis...” guman Aris tanpa disadari oleh Sara.
“Mereka sedang apa ya...?” Tanya Sara dengan nada bingung.
“Entahlah, oh ya Sara, aku harus pergi dulu. Sampai jumpa...” Aris pergi meninggalkan Sara dengan cepat.
“Hhmm...” Sara hanya menatap bingung kearah Aris yang pergi begitu saja meninggalkannya.
“Kau disini Sara...” ucap seorang perempuan bersurai kuning dengan mata emeraldnya yang berlari ke hadapan Sara dengan nafas lelah.
“Kemana saja kamu Sina, kenapa baru datang?” tanya Sara pada sahabatnya Sina.
“Mau bagaimana lagi, disana terlalu ramai sampai-sampai aku kesulitan mencarimu. Jadi siapa laki-laki tadi?” Tanya balik Sina.
“Dia Aris, aku baru bertemu dengannya saat sedang diganggu oleh Urgo dan teman-temannya.” Ucap Sara.
“Mereka itu selalu saja membuat masalah.” Ucap Sina dengan nada kesal.
“Sudahlah lupakan saja, acaranya sudah mau dimulai...” balas Sara yang sekarang sedang memperhatikan sang raja yang tengah berbicara.
“Wahai rakyatku sekalian, terima kasih sudah mau datang ke acara ulang tahun putraku yang ke 17. Dan inilah putraku Adres Aries...”
__ADS_1
Setelah Raja Argos mengatakan itu, sang pangeran Adres berjalan ke depan dan menampakkan dirinya di hadapan banyak orang. Seorang pemuda yang bersurai hijau layaknya daun muda dengan mata hijau tua yang begitu memikat semua orang, perawakannya yang begitu sempurna dengan wajah tampan membuatnya menjadi terkenal di kalangan wanita. Bahkan banyak dari kaum hawa yang bersorak ria menyambut kedatangan sang pangeran. Dengan jubah hijaunya yang berkibar, tatapannya begitu penuh kewibawaan. Berbanding terbalik saat dia menyamar menjadi seorang rakyat biasa, disini dia bisa menjaga imejnya dengan baik. Pakaian kebangsawanannya yang serba putih membuatnya terlihat begitu bijaksana.
“Lihat-lihat disana, pangeran Aries begitu tampan. Bukankah dia sangat keren jika dilihat dari dekat... aaahhh aku ingin mendekat. Ayo ayo...” Sina menarik Sara melalui banyak sekali orang yang berkumpul.
“Pelan pelan Sina...” ucap Sara yang kerepotan karena tingkah Sina yang kelewat over.
Disebuah gunung yang begitu tinggi, dibawahnya terdapat jurang yang begitu terjal. Diatas puncak terdapat seorang pemuda dengan surai putihnya yang seperti salju dengan tatapan mata birunya yang seindah langit, wajahnya yang begitu tampan layaknya seorang pangeran dengan pakaian serba putih dan jubah biru yang berkibar membuatnya terlihat seperti seorang bangsawan. Dengan pandangan yang begitu menenangkan, dia menggenggam gagang pedang yang terbalut oleh sarung pedang biru dengan lambang salju putih. Matahari yang baru saja terbit membuat wajahnya terlihat dengan senyuman cerah layaknya mentari pagi.
“Waktunya menjelajahi dunia ini...”
Aku Yugi, sudah hampir seminggu sejak kepergianku dari kerajaan Northern Esla... aku ingin tau kabar mereka semua...
Yugi terbang menggunakan sayap naganya menembus awan dilangit, dia terlihat begitu bebas dan menikmati angin pagi yang begitu menyegarkan.
Semoga saja mereka sehat selalu... aku merindukannya, walau hanya seminggu... entah kenapa rasa rinduku tidak terbendung. Ingin sekali rasanya aku berbalik dan memeluknya... tapi aku tidak boleh egois. Walau bagaimanapun aku sekarang ini sedang menanggung beban yang berat dipundakku... aku tidak boleh lemah. Aku harus tetap maju ke depan... demi kelangsungan dunia ini.
[“Yugi, aku merasakan kehadiran monster yang begitu kuat. Dia tepat berada dibawahmu...”] ucap Yui dalam pikiran Yugi.
“Ya aku juga merasakannya... ayo kita lihat.” Yugi menukik tajam ke bawah dengan sayap yang menekuk layaknya elang. Didepan matanya terdapat sebuah lingkaran biru muda yang terlihat rumit dengan lambang salju. “Aku bisa melihatnya... itu...”
“Groooaaarrr...”
Seekor monster dengan tubuh yang begitu besar dan hitam yang mirip seperti gorila tengah mengamuk menyerang seorang wanita yang sudah tidak berdaya. Mata merah monster itu menatap tajam kearah gadis bersurai perak dengan mata merah kehitaman. Jika dilihat lagi monster yang mirip gorila itu membawa sebuah gada raksasa dengan duri yang terlihat tajam.
“Kau tidak bisa lari lagi gadis manis... khahahaha...” tawa monster itu begitu mengerikan membuat gadis kecil yang masih berumur sepuluh tahun itu ketakutan.
“A-aku mohon... l-lepaskan aku... hiks hiks...” tangisan gadis itu tidak membuat sang monster gorila merasa iba. Dia malah terlihat begitu senang membuat gadis itu menderita.
“Akan aku jadikan kau sarapan pagiku...” Dengan kuat monster itu mengayunkan gadanya kearah perempuan yang hanya mampu duduk lemas tak berdaya.
Blaaaarrrrr
Gada monster gorila itu tepat mengenai sesuatu, dan saat asap yang mengepul di sekitarnya menghilang, terlihatlah seorang pemuda bersurai putih dengan mata biru tengah menahan gada raksasa itu dengan satu tangan kirinya.
“S-siapa kau?” tanya monster itu dengan suara terkejut.
“Tidak aku sangka, baru saja aku akan menuju kota malah menemukan seekor monyet yang ingin menyakiti seorang gadis yang tidak berdaya.” Ucap pemuda itu yang ternyata Yugi dengan nada sok kerennya.
[“Monster Redgor, merupakan monster yang mirip gorila dengan kemampuan seperti manusia. Dia memiliki mana didalam tubuhnya oleh karena itu dia bisa berbicara layaknya manusia. Dan lagi sepertinya dia setara dengan seorang penyihir lanjutan...”] jelas Yui panjang lebar.
“Heeee, hanya segitu...” ucap Yugi dengan nada kecewa.
“Beraninya kau mengejekku hah...” teriak Redgor.
“Dasar monyet, kau berisik sekali...” ejek Yugi dengan senyuman meremehkan.
“Kurang ajar kau...” dengan cepat Redgor menarik gadanya dan mengayunkannya lagi kearah Yugi.
Sementara Yugi hanya menggeser tubuhnya ke samping kanan dan membuat gada itu hanya melewati samping kirinya. “Akan kuakhiri...” Dengan tangan kanan yang berlapis pusaran air, dengan sekali ayunan Yugi meninju monster itu tepat diperut. “Spalshing.”
Duuaaaarrrrr
Dengan sekali pukulan itu, Yugi berhasil melenyapkan monster Redgor dengan sangat mudahnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia melihat kearah gadis kecil tadi untuk memastikan keselamatannya. Jika dilihat dia memiliki luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Pakaiannya juga sudah sobek sana sini membuatnya terlihat begitu erotis.
‘Wah... walau masih kecil dia ternyata terlihat begitu...’ perkataan batinnya tidak bisa Yugi lanjutkan karena dia merasakan sebuah hawa Dewa Kematian dibelakang punggungnya yang dikeluarkan oleh Yui.
“Hiks hiks hiks...” saat mendengar ledakan yang tadi, gadis kecil yang bersurai perak ini melihat kearah sumber ledakan. Disana dia dapat melihat seorang pemuda yang menatapnya dengan senyuman hangat. “A-apa kakak yang menyelamatkanku dari monster tadi...?” tanya gadis itu dengan nada lemah.
“Iya...” jawab Yugi singkat dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
“Terima kasih...” setelah mengucapkan itu, gadis yang tidak diketahui namanya itu pingsan karena kehabisan tenaga.
Dengan cepat Yugi menghampiri gadis itu dan memeriksa keadaannya. “Dia hanya pingsan... mungkin sebaiknya aku merawatnya sampai dia sembuh.” Saat ingin mengangkatnya, Yugi terkejut karena melihat sebuah taring di mulutnya. “Yui... perempuan ini...” gumam Yugi.
[“Ya... dia seorang vampir.”]
Saat itu aku berpikir... mungkin ini sebuah takdir dimana aku harus menolong seekor monster yang telah membahayakan banyak orang. Tapi gadis ini tidaklah bersalah... dia hanya seorang gadis polos yang tidak tau betapa kerasnya hidup ini.
Walau dia seekor monster sekalipun... tapi aku tidak tega membiarkannya terlantar seperti ini. Setidaknya aku akan merawatnya sampai dia bisa hidup mandiri... kakekku juga pernah berkata kalau menaruh dendam terhadap seseorang, maka hidupmu tidak akan pernah bahagia...
Aku akan, menolong gadis ini...
__ADS_1
Bersambung