KAISAR ES

KAISAR ES
GERBANG SAYAP


__ADS_3

Kekuatan dari Pangeran Vouleftis seketika meningkat drastis, ini merupakan efek dari pembukaan gerbang pertama dari kekuatan pedang Pheonex yang digunakannya. Aura merah kejinggaan yang membara membuat arena pertarungan menjadi panas, pijakan kakinya menjadi kering dan retak sedikit. Pedang merah itu diselimuti oleh api yang membara, sang Pangeran menatap tajam lawannya. Mata merah itu sudah mengunci target, dia siap menyerang kapan saja.


“Owh, peningkatan kekuatan yang luar biasa Pangeran. Saya juga akan serius sesuai porsinya, tentu saja mengikuti kekuatanmu.”


Perkataan dari lawannya yaitu Lugi, seolah melihat perubahan kekuatan dari Pangeran Vouleftis tidak terlalu mengejutkan. Karena baginya sekarang, kekuatan itu masih belum cukup untuk membuatnya serius.


“Jangan banyak bicara, majulah kalau kau bisa menyentuhku.” Tantang Pangeran Vouleftis.


Lugi tersenyum dibalik topengnya, dia berkata pada Pangeran dengan nada kesenangan. “Sesuai keinginan Anda, Pangeran Rexas.”


Swush


Lugi berlari kencang kearah Rexas, dengan tangan kanan yang sudah menciptakan gada dari tanah. Dia pun mengayunkan gada tersebut pada si Pangeran Vouleftis.


Duar


Ledakan terjadi, asap menutupi pandangan. Para penonton tidak tahu apa yang terjadi pada si Pangeran ketika menerima serangan itu. Lalu saat asap sudah menghilang, barulah terlihat Rexas yang menahan serangan gada tanah dari Lugi menggunakan pedangnya secara horizontal ke atas.


“Lemah.” Dengan ayunan keras, Rexas berhasil memukul mundur Lugi.


Kemudian ketika dipaksa mundur oleh lawannya, gada ditangan Lugi seketika terpotong menjadi dua akibat bergesekan dengan pedang milik Rexas. Dari sana dia tahu bertapa tajamnya pedang dari Pangeran Vouleftis itu.


“Kenapa kau tidak menggunakan senjata saja, setidaknya itu tidak akan mudah patah seperti tanahmu.” Ejek Rexas, dia ingin menurunkan semangat bertarung lawannya. Walau dia kurang yakin dengan intimidasi kecilnya tersebut.


“Ini baru saja dimulai,” ujar Lugi.


“Aku setuju,” balas Rexas.

__ADS_1


Terlihat aura merah memancar kuat dari Rexas dan aura kecokelatan memancar kuat dari Lugi. Mereka berdua memperlihatkan tekad dan kekuatan masing-masing, hal itu dilakukan untuk memberitahu bahwa mereka sudah mulai serius dalam tahap ini.


Kedua tangan Lugi menapak ke tanah, sedetik kemudian tanah itu mulai bergetar dan mencuat ke atas, membentuk semacam tsunami besar dari tanah.


“Bagaimana dengan ini pangeran?! Aku harap kau dapat menahannya.” Serangan tiba-tiba dari Lugi, menciptakan tsunami tanah dengan ujung yang tajam. Mengarah pada Rexas yang terdiam membelalak ketika melihat serangan kuat itu.


Namun dia tidak mau kalah, dengan pedang api di tangannya. Dia siap memotong jalur serangan lawannya. “Pheonex, berikan aku kekuatan lebih. Akan ku potong serangannya itu.” Mendengar permintaan sang Tuan, pedang di tangan kanan itu mulai bersinar terang. Lalu Rexas mengangkatnya tinggi dan berteriak. “Belah dia... Pheonex Slash.”


Pedang Pheonex-nya dia ayunkan secara vertikal dari atas ke bawah. Membuat semacam gelombang serangan berbentuk sabit yang menerjang lurus dengan tekanan api yang besar.


Slash


Duuuuuaaarrrr


Tsunami besar milik Lugi terbelah seketika oleh serangan dahsyat dari Rexas. Tidak berhenti di sana, Rexas mengambil posisi menebas dari arah kanan ke kiri, dengan tubuh sedikit membungkuk. Dia berteriak, “Pheonex Slash.”


Pedang Pheonex-nya dia tebaskan secara horizontal, mengakibatkan gelombang kedua dari serangan dahsyatnya. Serangan sabit bertekanan api itu terus meluncur lurus ke arah lawannya, lalu Lugi yang melihat serangan tersebut—dia tidak tinggal diam begitu saja.


Seketika gunung tanah terbentuk, melindungi Lugi dari serangan Rexas. Dan ketika dua kekuatan itu saling berbenturan, ledakan pun terjadi.


Duuuuaaaarrrrr


Serangannya menggetarkan arena pertarungan, para penonton dibuat tegang. Mereka melihat dengan mata tidak percaya, serangan sekuat itu sudah pasti menghancurkan apa pun yang di lewatinya. Tapi...


“Tidak mungkin, kau berhasil menahannya,” ucap tidak percaya dari Rexas. Di mana dia melihat kalau serangannya tadi berhasil di tahan oleh gunung tanah buatan Lugi.


“Sekarang giliranku.” Lugi melompat tinggi, menerjang ke arah Rexas dengan dua tangan yang dilapisi tanah. “Rasakan ini!” teriaknya.

__ADS_1


Trank


Duuuuaarrr


Tinju tanah berbenturan dengan pedang, Lugi melancarkan serangan tinju itu dengan sekuat tenaga, tetapi berhasil di halau oleh Rexas menggunakan pedangnya secara diagonal di depan wajahnya.


“Masih belum!” Lugi memutar tubuhnya ke depan, lalu kaki kanan itu di lapisi tanah dan langsung melancarkan serangan berputar menggunakan tumitnya.


Tapi Rexas tidak tinggal diam, dia juga memutar tubuhnya searah jarum jam. Lalu menahan serangan tumit berlapis tanah itu secara horizontal dengan pedangnya.


Trank


Tekanan kuat berasal dari Lugi, membuat Rexas kesulitan ketika menahannya. Dengan terpaksa dia mengambil langkah mundur, dengan seretan dari dorongan kuat Lugi. Membuat sang Pangeran tertekan pada serangan kedua itu.


“Bagaimana Pangeran Vouleftis?” tanya Lugi, dengan senyuman meremehkan di wajahnya. Ketika berhasil mendaratkan serangan cukup kuat pada Rexas, dengan percaya dirinya dia berdiri memandang santai pada si Pangeran.


‘Dia benar-benar kuat, padahal aku sudah menggunakan kekuatan Pheonex gerbang pertama. Tapi masih belum cukup untuk mengimbangi kekuatannya, sebenarnya siapa dia ini?’ batin Rexas, dia sedikit di tekan oleh kekuatan Lugi. Membuat Rexas merasakan ketegangan terhadap pertarungan ini, namun dia tidak mau kalah di sini. Karena ada lawan yang harus dia hadapi di final, oleh karena itu dia tidak boleh kalah. “Aku pasti akan melawannya.”


“Siapa yang kau maksud Pangeran? Padahal kau sedang melawanku. Atau kau sedang memikirkan seseorang selain lawanmu yang ada di depanmu ini.” Lugi tidak menyukai ini, melihat lawannya malah membicarakan orang lain. Membuat dia merasa di remehkan.


“Ya, aku sebenarnya tidak ingin menggunakan kekuatan terpendamku padamu. Karena aku menyiapkan itu hanya untuk satu lawan yang ingin kukalahkan di final,” ujar Rexas.


‘Melawannya di final, kalau tidak salah yang maju ke babak final adalah Yugi. Apa mungkin dia orangnya?’ batin Lugi bertanya-tanya, tentang orang yang dibicarakan oleh Rexas.


“Sepertinya memang tidak bisa setengah-setengah ya, akan kugunakan saat ini juga. Bersiaplah untuk melihat kekuatan dari tahap selanjutnya.” Pedang di tangan Rexas mulai bercahaya keemasan. Lalu dia memposisikan pedang itu ke depan, dengan berdiri tegak. Pedang itu secara horizontal, mulai membara di selimuti api keemasan. “Inilah kekuatan tahap kedua dari pedang Pheonex.”


Setelah mengatakannya, sebuah kobaran api mulai membara di belakang punggung Rexas. Membentuk semacam sayap yang terlihat membentang di sana, memiliki warna emas yang sangat indah. Namun terkesan panas yang membara, membuat para penonton terpesona saat melihatnya. Apalagi para kaum hawa, mata mereka sudah berbentuk Love dengan pandangan kagum pada sang Pangeran.

__ADS_1


“Ingugeto.” Teriak Rexas, yang mana hal itu mengakibatkan ledakan besar dari aura keemasan di tubuhnya. Bersamaan dengan sayap yang membentang kuat, membawanya terbang ke atas. Memandang sang lawan di bawah sana. “Akan kukalahkan kau dengan cepat.”


Bersambung


__ADS_2