
Setelah pertarunganku dengan ayah Yuko yaitu Yashou seorang Jendral Penyihir. Kencan kami jadi berantakan, tapi semua itu tidaklah terlalu penting... karena ada sesuatu hal yang lebih berharga dari itu. Peristiwa kemarin mengantarkanku pada sebuah masalah guruku... aku mengerti kenapa akhir-akhir ini dia sering melamun. Kasih sayang ayahnya membuat dia terus berpikir untuk membahagiakannya, dengan menikahi orang lain Yuko berpikir akan membuat ayahnya tidak terlalu mengkhawatirkan masa depannya. Tapi di satu sisi dia tidak mau menikah dengan pria yang tidak dia cintai... hal itu membuat sebuah konflik keluarga.
Tapi... aku berhasil membuat ayahnya yakin bahwa suatu saat kalau guru akan segera menikah, tentu saja dengan pria pilihannya sendiri. Aku hanya heran kenapa Yashou terus menatapku kala itu... seolah mengharapkan sesuatu dariku... karena keterbatasanku sendiri dalam memahami orang lain, membuatku tidak sadar telah menggali lubang sendiri...
Dan sekarang...
‘Aku gugup sekali...’ batin Yugi yang tengah duduk diatas meja makan bersama keluarga Yuko.
Ya, sekarang aku berada di kediaman mansion milik guruku. Kejadian kemarin membuat aku mendapatkan undangan dari ayah Yuko. Keesokannya aku dijemput oleh Yuko sendiri untuk menemui ayahnya, karena itu keinginan ayahnya sendiri. Aku sendiri hanya mampu menerimanya karena ini berhubungan dengan kejadian kemarin. Tentu saja aku harus datang... pagi itu aku melihat Elsa dan Elna memasang wajah marah saat aku pergi ke kediaman Yuko. Begitu pula Yui yang sedari tadi terus saja mengacuhkannya... sementara Risa sendiri sudah kembali ke pegunungan. Sekarang hanya aku, Yuko dan ayahnya yang sedang menikmati sarapan pagi bersama...
Atau itu yang seharusnya terjadi... tatapan ayah Yuko membuatku merinding. Senyuman penuh kasih sayang itu dilayangkan kearahku... dibanding sekarang, aku lebih berharap tatapannya saat kami pertama kali bertemu...
“Ada apa Yugi, kenapa kau tidak makan?” tanya Yashou dengan ramah.
“T-tidak ada...” gugup Yugi dengan senyuman groginya.
“Apa rasanya tidak enak, kami memiliki koki terbaik walau tidak sehebat koki kerajaan. Tapi aku jamin rasanya tidak jauh beda.” Ucap Yashou.
“B-bukan begitu...” dengan cepat Yugi memakan makanannya, untuk sesaat dia terkejut merasakan rasa yang sedikit beda dari masakan kerajaan. “Emmhh... ini enak.”
“Benarkan... makanlah sepuasnya, setelah ini ada yang ingin aku bicarakan soal masa depan kalian berdua.” Ucap Yashou dengan senyuman cerah diwajahnya.
“Bruuuussss...” perkataan dari Yashou membuat Yugi terkejut sampai menyemburkan air minumnya. “Uhuk uhuk...” ditambah Yugi terbatuk setelah mengeluarkan air yang gagal masuk kedalam tenggorokannya.
“Kau tidak apa-apa...?” Tanya Yashou.
“T-tidak apa-apa, hehehehe...” jawab Yugi dengan tawa hambarnya. Setelah membersihkan mulutnya yang baru saja menyemburkan air, tatapannya kini melirik Yuko untuk meminta penjelasan. Tapi yang dilirik malah memalingkan wajahnya dengan wajah bersalah. Tentu saja Yugi menyadari hal itu, memikirkan tentang perkataan ayah Yuko sebelumnya, hal itu sudah cukup buat Yugi menyimpulkan kalau Yashou telah salah paham tentang hubungan mereka berdua.
Suasana di meja makan itu kembali normal, tapi aku tetap saja gelisah setelah mendengar perkataan ayah Yuko. Jika ini terus berlanjut maka akan sangat berbahaya. Tapi aku tidak bisa mengatakannya secara blak-blakan, mau bagaimanapun yang kuhadapi sekarang adalah seorang Jendral Penyihir. Aku juga baru mengetahuinya kemarin setelah kencanku dengan guru... ayahnya itu merupakan mantan seorang Jendral Penyihir kerajaan Northern Esla. Yashou sudah mengabdi kepada kerajaan kurang lebih selama 70 tahun semenjak raja sebelumnya berkuasa. Setelah raja meninggal dan digantikan oleh anaknya Reulad, saat itu juga Yashou mengundurkan diri dari posisinya dan digantikan oleh anaknya yang masih berusia 21 tahun, Yuko. Yuko menjadi seorang Jendral Penyihir sejak usia nya menginjak genap 28 tahun, dan merupakan Jendral Penyihir termuda yang pernah ada. Hal itu membuat seisi Kerajaan gempar akan berita anak jenius dari seorang Jendral Penyihir sebelumnya yang merupakan Jendral terkuat pada masanya. Dikatakan kalau Yashou merupakan satu-satunya orang yang mampu menandingi kaisar saat ini walau kekuatannya masih satu tingkat di bawah Kaisar. Level dari seorang Jendral Yashou adalah 98... hanya setingkat lagi dia bisa mencapai kaisar, tapi secara tiba-tiba dia tidak bisa meningkatkan levelnya lagi. Dan sekarang dia menjabat sebagai penasihat kerajaan, yang baru-baru ini meminta cuti selama sebulan penuh, mungkin karena itu aku tidak pernah melihatnya. Mendengar soal anak jenius itu, mereka semua berharap pada Yuko yang merupakan Jendral Penyihir termuda kerajaan Northern Esla... sampai sekarang pun hal itu masih menghantui Yuko yang takut akan mengecewakan harapan semua orang. Aku tau itu dari sorot matanya... saat aku mengetahui tentang cerita guru... saat itu pula aku merasakan beban yang sama sepertinya. Sampai sekarang, aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan... aku ingin menolongnya, aku ingin menyelamatkannya... aku ingin melindunginya... walau aku sendiri masihlah sangat lemah...
Sarapan itu berjalan dengan lancar sampai tiba dimana kami berkumpul disebuah ruangan yang begitu sederhana tanpa adanya kursi, yang ada hanya alas kayu yang begitu nyaman ditutupi karpet dengan corak salju yang begitu hangat. Yugi duduk berhadapan dengan Yashou dengan meja kecil yang luasnya hanya 4 meter persegi. Sementara Yuko duduk disamping ayahnya dengan wajah menunduk ke bawah dan juga rona merah yang menghiasi pipinya.
Tatapan dari Yashou terlihat sangat serius seolah sedang mengadakan rapat tentang masa depan anaknya. Yugi sendiri hanya bisa menelan ludahnya dengan gugup karena merasakan atmosfer ruangan yang begitu tegang.
“Pertama-tama aku ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Dan aku ingin bertanya, apa kalian berdua pacaran?” tanya Yashou.
Deg
Kedua orang yang dibicarakan hanya bisa diam mematung dengan wajah yang berbeda, Yugi yang sudah terlihat pucat pasi sementara Yuko sudah memerah sempurna. Situasi ini sudah jelas sesuatu yang sangat gawat, jika sampai tau kalau mereka tidak pacaran hal itu akan membuat Yugi dalam masalah, karena sejak awal kesalahpahaman ini belum diselesaikan.
‘Gawat gawat gawat... apa yang harus aku katakan, disisi lain jika aku bilang tidak pasti orang tua overproktektif ini akan membunuhku karena telah berani mengencani putrinya tanpa sebuah hubungan yang jelas. Disisi lainnya kami tidak berpacaran... apa yang harus aku lakukan?’ Batin Yugi dengan dada yang terus berdetak cepat seperti sedang lari maraton. Tubuhnya menjadi lebih dingin dengan keringat di pelipisnya. Yugi melirik kearah Yuko dengan pandangan minta tolong. Sementara yang di lirik malah melihat kearah lain dengan wajah memerah. ‘Kenapa kau malah malu-malu begitu...’
‘Aahhh, Yugi menatapku... bagaimana ini, sejak kemarin kami belum menjelaskan kesalahpahaman ini. Jika kami ketahuan tidak memiliki hubungan seperti itu, papah pasti marah... Yugi, aku serahkan sisanya padamu.’ Batin Yuko yang sudah pasrah apapun jawaban dari Yugi.
“Bagaimana nak Yugi...?” tanya Yashou yang sedari tadi sabar menunggu jawaban dari Yugi.
“Huufff...” Yugi sejenak mengambil nafas dan membuangnya, mentalnya sudah siap jika harus mendapatkan rasa sakit yang teramat. “Maaf, Jendral Yashou... aku tidak memiliki hubungan seperti itu dengan putri anda. Saya hanya muridnya saja...” jawab Yugi dengan tegas dengan kepala menunduk.
__ADS_1
“Tapi bukannya kalian pergi berkencan kemarin...?” tanya Yashou memastikan.
“Benar, tapi itu adalah taruhan saya dengan guru Yuko... siapa pun yang menang dalam pertarungan waktu itu, maka harus menuruti permintaan si pemenang. Dan guru Yuko memintaku pergi berkencan dengannya , maaf karena kami tidak menjelaskannya sedari awal...” Yugi masih menundukkan kepalanya sambil menutup mata, siap menerima apapun hukumannya.
“Kenapa kau harus minta maaf, itu permintaan putriku sendiri. Yang harusnya minta maaf adalah aku... maaf telah menuruti keinginan putriku yang egois ini, dan juga aku minta maaf karena telah salah paham tentang hubungan kalian.” Balas Yashou sambil menundukkan kepalanya.
“T-tidak usah seperti itu, tolong angkat kepala anda...” panik Yugi yang diperlakukan seperti itu.
“Seperti yang dikatakan raja, anda begitu baik hati Yugi...” Yashou menatap Yugi dengan senyuman hangat seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. “Walaupun itu cuma kesalahpahaman, apa Yugi masih menyukai Yuko?” tanya Yashou.
“Eh...” Yugi bingung untuk menjawab pertanyaan Yashou, dibanding menyukai, Yugi lebih kearah menghormati dan mengagumi gurunya. Sikapnya yang begitu tegas dan tidak pernah ragu membuatnya menjadi panutan bagi Yugi. Dengan senyuman lebar diwajahnya, Yugi menjawab pertanyaan dari Yashou dengan jelas tanpa keraguan. “Aku mengaguminya... dia sangat baik, tegas, disiplin dan juga menawan. Aku sangat bersyukur memiliki guru seperti dia... guru Yuko telah mengajarkanku banyak hal tentang jalan seorang ksatria. Dan aku sangat menghormatinya... aku merasa ingin melindunginya, Yuko merupakan seseorang yang berharga dalam hidupku...”
Mendengar jawaban dari Yugi sudah membuat Yashou mengerti akan situasinya. Menurutnya masih ada harapan bagi putrinya untuk mendapatkan hati Yugi. Yang harus dia lakukan adalah mendukung putrinya untuk terus berusaha mendapatkan Yugi.
Untuk Yuko sendiri, dia malah terdiam dengan asap yang mengepul dikepalanya. ‘Seorang yang berharga... seorang yang berharga... seorang yang berharga...’ batinnya terus mengulang kata itu tanpa henti. Detak jantungnya berdebar cukup keras, sudah terlihat jelas kalau wanita ini terbawa akan arus yang dinamakan gejolak masa muda.
Aku sangat senang mendengar perkataan muridku tentang diriku yang merupakan orang yang berharga dalam hidupnya... hal itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku... perasaan ini entah kenapa semakin tumbuh dihatiku... sejak kapan aku merasa seperti ini, tapi kenapa harus dia... Yugi ini salahmu, kau harus bertanggung jawab. Rasanya pikiranku sudah dibawa melayang, hatiku sudah direbut olehnya... Yugi, hanya kata itu yang terus terulang dalam pikiranku... jika ini memang yang dinamakan cinta, maka ini adalah cinta pertamaku. Cinta pertamaku adalah muridku sendiri... tidak bisa dipercaya... tapi aku...
Yuko beranjak pergi meninggalkan ruang tamu itu, meninggalkan Yugi dam Yashou yang hanya menatap Yuko dengan bingung.
“Guru Yuko mau kemana?” tanya Yugi entah pada siapa.
Yashou hanya tersenyum lembut menatap putrinya, dan pandangannya kini kembali kearah Yugi. “Yugi, bisa kau temani putriku...”
“Baiklah...” tanpa membuang waktu Yugi mengejar Yuko keluar ruangan.
Di halaman mansion keluarga Yuko, terdapat sebuah taman yang begitu luas. Dengan air mancur ditengahnya dengan beberapa ikan hias yang berenang bebas dengan senangnya. Didekat air mancur terdapat Yuko yang duduk di tepian air mancur. Pagi itu matahari terlihat ceria dengan sinarnya yang menghangatkan, pemandangan yang begitu indah dengan burung yang bernyanyi dengan gembiranya. Benar-benar sebuah pemandangan yang jarang terlihat, dan Yugi melihatnya sendiri, didepannya terlihat seorang wanita dengan surai hitam yang tergerai lembut sampai punggungnya, mata ungu yang menyiratkan kelembutan di setiap tatapannya. Yugi hanya mampu terdiam dengan wajah yang menghangat, tatapannya tidak bisa lepas dari wajah Yuko.
Kenapa... ini terjadi lagi, saat aku menyentuh dadaku... disana aku merasakannya, debaran yang begitu kuat tatkala aku menatap wajahnya... kenapa, kenapa aku merasakan ini lagi, pertama Yui... Elna... Elsa... Risa... sekarang Yuko. Kenapa aku merasakan semua ini... bukankah aku mencintai Sara. Kenapa mereka juga ikut terbawa dalam perasaan ini.
Ya Tuhan... permainan apa yang telah kau mainkan padaku. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku mencintai mereka semua... laki-laki macam apa aku ini... SIAL...
Tidak... aku tidak akan membuat hati mereka semakin sakit, akan aku pendam semua perasaan ini. Sampai mereka semua mau menerimaku...
Yugi berjalan kearah Yuko dengan senyuman lembutnya. Dia melihat Yuko yang bermain dengan ikan-ikan itu sambil tersenyum senang. Yugi duduk disampingnya sambil menatap kearah berlawanan. “Pagi yang cerah...”
“Ya...” balas singkat Yuko tanpa mengalihkan pandangannya dari ikan-ikan.
“Sepertinya kesalahpahaman diantara kita sudah teratasi...” ucap Yugi.
“Maaf telah melibatkanmu.” Ucap Yuko dengan nada menyesal.
“Tidak masalah, aku senang direpotkan olehmu Yuko...” balas Yugi dengan nada kekanakan.
Yuko yang mendengar namanya dipanggil tanpa tambahan guru didepan namanya membuat senyuman tidak lepas dari wajahnya. “Aku senang, kamu menyebutkan namaku tanpa tambahan guru...”
“Ah... aku lupa, rasanya lebih mudah menyebutkan namamu secara langsung dari pada memakai tambahan guru. Apa mungkin aku tetap memanggilmu guru saja...?” Tanya Yugi.
__ADS_1
“Tidak... kau boleh memanggilku Yuko saat kita berdua saja. Aku mengizinkanmu...” balas Yuko dengan nada tsundere sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
“Hahahaha... aku senang mendengarnya. Yuko...”
Saat itu aku lagi-lagi melihat senyumannya saat memanggil namaku. Senyuman yang begitu lepas tanpa beban... senyuman yang memberiku kehangatan... senyuman yang membuatku lupa akan beban harapan semua orang. Jika diingat-ingat lagi... saat itu aku memergokinya sedang latihan tanpa memakai baju yang hanya menyisakan celana pendeknya. Waktu itu aku benar-benar malu, tapi rasa maluku aku tutupi dengan wajah datar... bagaimanapun seorang Jendral Penyihir tidak boleh berteriak begitu saja... awal pertemuan itu membuat kami menjadi lebih dekat. Mengajarinya berbagai keahlian dalam hal sihir, menjahilinya... terkadang tertawa bersama. Waktu yang kuhabiskan dengannya begitu singkat. Sampai perasaan itu muncul dengan sendirinya... andai saja aku bisa menyadarinya sejak awal... apa mungkin masih bisa mendapatkannya... tapi untuk sekarang, mungkin seperti ini sudah cukup...
“Yugi, akan kuberitahu kenapa kamu kalah melawanku waktu itu...” ucap Yuko.
Yugi yang penasaran dengan cepat berkata dengan nada antusias. “Ya ya beritahu aku...”
“Aku naik level...” balas Yuki singkat.
Untuk sesaat Yugi mencerna perkataan Yuko, sampai beberapa detik baru dia menyadari maksudnya. “Apaaaa...” kaget Yugi dengan nada tidak percaya.
Yuko hanya mengangguk penuh senyuman cerah diwajahnya dengan jari tangan kanannya membentuk huruf V. “Levelku sekarang 91... ini rahasia kita loh, aku belum mengatakannya pada siapa pun.”
“Luar biasa... Yuko, kau memang hebat.” Puji Yugi dengan senyuman cerah.
“Kalau kau memujiku seperti itu, harus nya memberiku sebuah hadiah.” Ucap Yuko.
“Hadiah...? Apa yang kau inginkan...?” tanya Yugi.
“Aku tidak membutuhkan sebuah barang...” Yuko mendekatkan wajahnya kearah Yugi.
Cup
Lagi-lagi... aku mendapatkan sebuah ciuman, sekarang aku bisa merasakan kelembaban bibir Yuko yang begitu lembut. Ciuman itu penuh akan kasih sayang dan juga cinta yang melimpah... namun sayang aku tidak bisa membalasnya. Tapi jika guruku menginginkannya, aku hanya bisa sekedar membalasnya sebagai seorang murid yang menyayangi gurunya...
Aku mencium Yugi, betapa beraninya diriku... padahal aku tidak pernah ada niat untuk menciumnya. Tapi secara reflek tubuhku bergerak sendiri, seperti ada sebuah magnet yang menarikku kedalam ciumannya... aku tidak ingin melepasnya... aku ingin seperti ini lebih lama lagi...
Sebuah air mata meluncur di kedua pipi Yuko. Air mata akan cinta yang tidak terbalas, tapi masih menyisakan sebuah ruang dihatinya untuk Yugi. Tidak lama ciuman itu berakhir dan memperlihatkan wajah masing-masing. Yugi yang menatap Yuko dengan pandangan tenang tapi tersirat akan keterkejutan yang membuatnya hampir menghindar dari Yuko, tapi dia tau kalau melakukan itu hanya akan membuat hati Yuko terluka. Sementara Yuko sendiri menatap Yugi penuh kasih sayang dengan air mata yang masih meluncur. Yugi yang melihat air mata itu dengan cepat menghapusnya dari wajah Yuko.
“Kau tidak pantas menangis guru.” Setelah membersihkan air mata itu, Yugi kembali menatap gurunya dengan senyuman.
“...” Yuko hanya mampu terdiam dengan pipi yang merona karena diperlakukan seperti seorang gadis remaja pada umumnya.
“Yuko, aku...”
“Ssttt...” perkataan Yugi terhenti oleh jari telunjuk kanan Yuko sambil meletakkan jari telunjuk kiri dibibirnya sendiri. “Jangan katakan itu...” lanjutnya.
Yugi akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan perasaannya. Dengan pelan dia memegang tangan Yuko yang berada di mulutnya dan menurunkannya. Setelah itu dia berjalan agak menjauh dari Yuko sambil membelakanginya. Dengan tatapan yang mengarah ke depan, wajahnya dipenuhi akan rasa sedih akan sesuatu. Tidak lama dia pun mulai berbalik dan menatap Yuko dengan wajah serius. Yuko pun ikut berdiri dengan wajah penasaran, menunggu perkataan Yugi yang akan dia luncurkan.
“Aku akan pergi dari kerajaan ini...”
Hembusan angin saat itu terasa sangat dingin, perkataan Yugi bagaikan sebuah pisau es yang menyayat hati. Rasanya begitu dingin... sebuah mentari kala itu tidak bisa menghangatkan tubuhku... mendengar kata itu, membuatku merasa sakit...
Yugi...
__ADS_1
Bersambung