KAISAR ES

KAISAR ES
HATI YANG MULAI BIMBANG


__ADS_3

Hutan yang lebat dengan berbagai tanaman hidup disana. Semak-semak yang merambat di mana-mana, pohon-pohon yang berdiri kokoh ditambah matahari siang yang membuat hutan itu seperti sebuah taman didalam hutan. Disana juga terdapat air terjun yang begitu deras dengan aliran airnya yang jernih. Tempat ini begitu bagus untuk memancing, begitu menurut pemuda yang sekarang tengah memancing sambil duduk dengan tenang. Sementara dibelakangnya terdapat seorang bocah perempuan yang masih berumur sepuluh tahunan tengah berlatih sihir penghancur. Gadis kecil itu sedang berusaha menghancurkan sebuah batu besar yang berdiri tepat didepannya.


Sebuah cahaya merah berbentuk bola di telapak tangannya dengan kepadatan tinggi dibuat oleh gadis itu sambil berkonsentrasi penuh. “Hyyaaaaa...” dia mengarahkan bola itu ke depan kemudian bola itu meluncur tepat kearah batu.


Duuuaarr


Ledakan yang cukup kuat yang mampu menghempaskan angin dengan kencang. Tapi sayang saat debu menghilang batu besar itu hanya terkena serangan yang tidak terlalu fatal, pasalnya batu itu masih berdiri kokoh dengan lubang kecil disana akibat serangan gadis kecil itu.


“Masih belum...” gumam gadis itu.


“Lebih baik kau istirahat saja dulu Vira...” perintah sang guru yang masih tetap konsentrasi memancing.


“Tidak... aku masih sanggup berlatih guru.” Ucap Vira ke pada gurunya, Yugi.


“Bukan itu masalahnya, kau membuat semua ikan kabur tau.” Teriak Yugi pada muridnya yang bandel.


“Guru ini lebih mementingkan ikan dibanding muridmu yang hebat ini. Seharusnya guru lebih memperhatikanku...” ucap Vira dengan nada masa bodonya.


Mendengar perkataan itu membuat Yugi menjadi kesal entah kenapa. Sebuah bola biru di telapak tangan kanan terbentuk dengan wajah kekesalannya yang diarahkan ke Vira. “Setidaknya ikan bisa membuat kita kenyang, dasar murid bandel.” Bola itu pun meluncur cepat kearah Vira.


Sedangkan Vira hanya terkejut dengan tubuh yang mematung karena belum siap menerima serangan gurunya, dia hanya mampu berteriak histeris. “Kyyaaaaaa...”


Duuuaaaaarrrrrr


Semua burung-burung pada terbang saat menerima guncangan dari ledakan yang baru saja terjadi. Sementara Vira sudah tersangkut di pohon dengan wajah gosong dan pakaian yang berlubang sana sini. Kepalanya mengeluarkan asap dengan mata yang berputar layaknya obat nyamuk.


“Aduh... aahhh...” ucap pelan Vira yang sudah pingsan ditempat.


“Dasar... mungkin sudah saatnya untuk melanjutkan petualanganku.” Dengan begitu Yugi pergi dari sana menuju tenda yang tidak jauh dari sana.


Kerajaan Aries, di sebuah guild yang bernama Fairy Storm. Disana terlihat begitu ramai oleh para petualang yang beristirahat setelah menyelesaikan berbagai misi. Di tempat administrasi sendiri sekarang tengah ramai yang mengantri untuk memberi laporan tentang misi yang sudah mereka lakukan.


“Terima kasih sudah bekerja keras hari ini.” Ucap seorang gadis dengan surai merahnya yang terlihat indah, tatapan matanya dan juga senyuman itu terlihat begitu cantik membuat semua orang terpesona.


“A-ah i-itu bukan apa-apa hehehe...” balas seorang pria dengan tawa canggungnya.


“Hoi cepat... kami lelah mengantri.”


“Kalau sudah selesai cepat pergi sana.”


Ucap semua orang yang menunggu gilirannya yang terhenti akibat pria yang sedari tadi hanya senyam senyum kearah Sara.


“Iya ya aku tau.” Pria itu pun pergi dengan kesalnya karena telah mengganggunya, tidak lama antrean itu mulai berisik lagi dengan beberapa cowok yang menggombali Sara. “Dasar mereka itu...”


Saat jam istirahat berlangsung, Sara pergi ke suatu tempat bersama dengan sahabatnya Sina. Mereka pergi ke sebuah kafe dekat dengan guild, hampir setiap hari selama istirahat mereka pasti akan datang ke kafe ini. Ini merupakan tempat favorit mereka ketika kelelahan dalam bekerja.


“Aaahhh, benar-benar melelahkan.” Keluh Sina yang duduk sambil bersender ke kursinya.


“Hari ini begitu ramai ya... sepertinya mereka semangat sekali mengambil quest. Benar-benar penuh semangat...” ucap Sara yang kagum pada para petualang yang sekarang ini bekerja begitu keras.


“Sepertinya mereka mengambil quest punya alasan tersendiri.” Ucap Sina dengan keringat di pelipisnya dan senyum aneh diwajahnya.


“Memang apa alasan mereka...?” tanya Sara dengan polosnya yang terkesan imut.


‘Aduh sungguh aku tidak bisa menahan diriku saat melihat kepolosannya. Ditambah penampilannya yang begitu luar biasa dibanding yang dulu. Tidak aku sangka dia akan mewarnai rambutnya menjadi merah seperti itu... daya tariknya semakin bertambah, mungkin karena itu banyak petualang yang mengambil quest begitu banyak hanya untuk melihat Sara yang sedang bekerja. Aku sungguh iri padanya...’ batin Sina yang mulai depresi karena tidak sepopuler Sara.


“Ada apa Sina, kau terlihat murung?” tanya Sara yang sedikit khawatir pada sahabatnya.


“Tidak, bukan apa-apa.” Jawab Sina dengan lesu. “Tapi aku penasaran, kenapa kamu mewarnai rambutmu seperti itu. Bukankah kau menyukai rambut hitammu yang dulu...?” tanya Sina.


“Aku punya alasan tersendiri untuk ini... karena aku berpikir jika mewarnai rambutku seperti ini, mungkin aku bisa melangkah maju ke depan...”


Mendengar nada yang penuh kesedihan itu membuat Sina juga ikut sedih saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian yang membuat sahabatnya ini depresi selama satu minggu. Tapi Sina kembali tersenyum saat tau kalau sahabatnya ini tidak menyerah dalam menjalani hidup.

__ADS_1


“Aku tau kau pasti bisa melalui ini semua. Kau sudah berubah Sara...” ucap Sina sambil tersenyum hangat.


“Terima kasih Sina... aku akan terus berusaha.”


Tidak lama seorang laki-laki bersurai hijau memakai pakaian seperti petualang dengan pedang yang tersarung di pinggang kanannya. Matanya melirik ke satu orang yang tengah duduk di pojok kafe bersama temannya. Pemuda itu tersenyum saat mengetahui orang yang dicarinya ada disini.


“Sara...” panggil pemuda itu sambil melambaikan tangan kearah Sara.


“Eh, Aris...” balas Sara.


Aku Aris, atau bisa disebut seorang pangeran kerajaan Aries, yaitu Adres Aries... aku menyamar sebagai petualang untuk menemuinya. Wanita yang sudah menyelamatkanku saat hari ulang tahunku, walaupun waktu itu aku bisa saja mengalahkan mereka dengan mudah. Tapi aku kagum pada gadis ini... entah kenapa aku jadi tertarik padanya setelah perayaan itu. Mulai disaat itu aku lebih sering menyamar hanya untuk menemuinya... dengan bayaran yang tidak kecil, setiap aku ketahuan menyamar dan pergi ke kota ayahku selalu saja menceramahiku selama berjam-jam. Tapi menurutku itu sepadan dengan hasilnya...


“Dia kan...” gumam Sina.


“Hai... ternyata kamu disini Sara.” Ucap Aris yang berdiri menghadap mereka dengan senyuman di wajahnya.


“Hhhmmm... aku selalu melihat kalian bersama, apa kalian jadian?” tanya Sina dengan wajah jahilnya.


“T-tidak... kami hanya teman kok.” Jawab spontan dari Sara, mendengar itu Aris sedikit kecewa dengan wajah lesunya.


“Benarkah, bagaimana kalau aku mengambilnya darimu, tidak masalahkan...?” lagi-lagi Sina berusaha menggoda Sara yang sekarang terlihat gelisah.


“S-sudah berhenti menggodaku. Oh ya ada apa Aris?” tanya Sara yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Aku menemukan tempat yang bagus loh, kau mau ikut denganku?” tanya Aris.


“Hhhmm... tapi aku masih-...”


“Tidak masalah bukan...” ucap Sina yang memotong perkataan Sara.


“Tapi kan-...”


Lagi-lagi perkataan Sara di potong oleh Sina sambil menepuk pundaknya. “Tidak masalah, sisanya serahkan saja padaku dan yang lainnya. Lagi pula kami sudah cukup orang, jadi kalian bersenang-senang saja ya...” Sina menarik Sara dan mendorongnya kearah Aris. “Tolong jaga dia ya.” Ucap Sina yang sudah pergi duluan meninggalkan mereka berdua.


Karena malu Sara pun hanya mampu mengangguk pertanda mengiyakan ajakan dari Aris. Melihat itu Aris tersenyum senang dengan wajah bahagianya.


“Ayo...” tanpa berbasa basi lagi Aris menarik Sara menuju tempat yang dia tuju.


Kerajaan Eartfil, merupakan kerajaan yang terkenal akan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Bahkan istananya pun berada diatas gunung tertinggi. Mereka hidup dibawah mata pencaharian tambang yang melimpah, bahkan tanahnya sendiri pun terbilang subur. Kotanya yang terkenal karena dikelilingi pegunungan yang menjadikannya seperti sebuah benteng raksasa. Oleh karena itu banyak yang mengatakan kalau kerajaan Eartfil adalah benteng gunung. Hal itu membuat kerajaan Eartfil merupakan kerajaan dengan pertahanan terkuat yang pernah ada. Bahkan kesatria kerajaannya sendiri dilengkapi dengan baja yang terbuat dari kristal tambang yang membuat kesatrianya dikenal sebagai sang benteng berjalan. Dan sekarang aku sedang berdiri tepat di depan gerbang kerajaan Eartfil yang dimana dijaga oleh dua prajurit Eartfil dengan pemeriksaan yang begitu ketat. Kalau aku sendiri bisa melaluinya dengan tanda pengenal petualangku, tapi untuk Vira... aku masih belum membuatkannya identitas. Bagaimana ya...


“Haaaahh...” Yugi menghela nafas lelah memikirkan bagaimana melewati para prajurit itu.


“Guru kenapa?” tanya Vira bingung.


“Aku sedang berpikir tentang bagaimana melewati para prajurit itu.” Jawab Yugi.


“Owh...” balas Vira dengan wajah polosnya.


Yugi dengan serius melihat pemeriksaan itu yang dilakukan mulai dari pemeriksaan kartu identitas, barang bawaan bahkan memeriksa mana didalam tubuh menggunakan bola kristal. Antrian yang begitu panjang, ini memberikan waktu untuk Yugi berpikir tentang bagaimana melewati pemeriksaan yang begitu ketat itu. Kemudian dia melihat seorang pria yang membawa seorang budak yang di lehernya terdapat kalung besi penyegelan dimana kalung besi itu berguna untuk membuat budak patuh pada sang pemilik.


‘Di dunia ini masih ada saja manusia yang memperlakukan manusia setengah hewan atau bahkan manusia itu sendiri sebagai budak. Ternyata kerajaan ini masih mengizinkan perbudakan, berbeda dengan beberapa kerajaan seperti Aries dan Northern Esla dimana mereka melarang adanya perbudakan.’ Batin Yugi, saat pria dan budak itu melewati pemeriksaan, yang diperiksa hanyalah majikannya saja, sedangkan budak yang dibawanya tidak diperiksa sama sekali. Hal itu memberikan sebuah ide untuk Yugi. Dengan senyuman liciknya dia menatap Vira dengan wajah sedikit seram.


“G-guru kau kenapa?” tanya Vira dengan keringat dingin diwajahnya.


“Kau tidak usah melawan...” ucap Yugi sambil menyeringai.


“Eeeeeehhhh...”


Tidak lama antrian yang panjang itu mulai semakin sedikit. “Selanjutnya...”


Yugi maju ke depan dengan menunjukkan kartu identitas dan lencana petualangnya. “Ini...”


“Hhmm... Yugi, seorang petualang Aries tingkat senior ya. Dari penampilanmu kau terlihat sangat kuat, baiklah kau boleh masuk. Oh dan dia...?” tanya penjaga itu yang melihat Vira memakai sebuah kalung besi.

__ADS_1


“Dia budakku yang aku dapatkan saat berpetualang.” Jawab Yugi dengan dada yang sudah berdebar gugup. Tapi tatapannya tetap lembut dengan senyuman palsu.


“Heemm... jarang sekali ada petualang yang membawa budak. Tapi ya sudahlah, kalian boleh lewat...” ucap penjaga itu yang memperbolehkan Yugi dan Vira lewat.


“Terima kasih...” dengan begitu Yugi pun masuk melewati gerbang dengan Vira di samping kanannya. “Kita berhasil melewatinya... haaahh.” Ucap Yugi dengan nafas lega.


Dukh


“Sakit...apa yang kau lakukan.” Teriak Yugi yang memegang kaki kanannya yang ditendang oleh Vira.


“Aku bukan budakmu.” Balas Vira tidak peduli.


“Mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara untuk melewati gerbang. Harusnya kamu berterima kasih pada gurumu yang jenius ini...” balas Yugi dengan kesalnya.


“Hmph...” Vira memalingkan muka dengan wajah ngambeknya. Tapi tidak lama tatapannya menjadi sebuah kekaguman saat melihat begitu banyak gedung yang berdiri kokoh sejauh mata memandang. Bahkan jalanannya sendiri terdapat banyak gedung berbaris yang bervariasi. Untuk pertama kalinya Vira melihat pemandangan yang seperti ini, karena seumur hidupnya dia selalu menghabiskan waktunya didalam hutan. “A-apa itu...?” tunjuk Vira yang melihat sebuah makanan yang dibentuk bola-bola kecil yang ditusuk seperti sate.


“...” Yugi yang paham akan keinginan Vira langsung saja berjalan ke kedai makanan yang ditunjuk Vira. “Ini...” Yugi kembali dengan sebuah makanan yang ditusuk tadi.


“Ini...?” tanya Vira.


“Mereka menyebutnya skewer guritas. Sebuah gurita tusuk yang dibuat menyerupai bola-bola kecil yang ditusuk dan dibakar. Cobalah...” ucap Yugi sambil memakan gurita tusuk miliknya.


Karena penasaran akan rasanya, Vira pun memakannya secara perlahan dan menikmati sensasi baru yang dirasakan oleh lidahnya. “Enak sekali...” ucapnya dengan mata berbinar.


Yugi tersenyum senang melihat wajah bahagia Vira yang terlihat imut. Pandangannya menatap sebuah awan yang bergerak perlahan dibawah teriak matahari.


Sebentar lagi... tunggulah...


Disebuah bukit yang begitu tinggi, dibawahnya terdapat sebuah jurang yang begitu dalam. Di bukit itu terdapat dua orang yang berbeda gender sedang menikmati pemandangan yang begitu indah diatasnya.


“Waaahhh... aku baru pertama kali ini datang ke tempat seperti ini.” Ucap seorang gadis dengan surai merah dan mata hitamnya yang ternyata Sara. Dia kesini bersama dengan Aris yang merupakan pangeran kerajaan Aries yang menyamar.


“Baguslah kalau kamu suka... ini merupakan salah satu tempat favoritku.” Ucap Aris yang menikmati angin sejuk yang menghembus melalui wajahnya.


“Kenapa kau mengajakku kesini...?” tanya Sara.


Suasana yang begitu tenang itu terasa sangat romantis. Aris menatap Sara dengan pandangan lembut seolah ingin mengatakan soal perasaannya. Tapi dia mengurungkan niatnya itu dan hanya memandangi awan yang bergerak.


“Aku hanya ingin menunjukkannya pada temanku yang sudah menyelamatkanku saat perayaan waktu itu.” Jawab Aris.


“Kau masih mengingatnya ya, hal itu tidak usah kau pikirkan. Lagi pula aku juga kesal pada urgo dan teman-temannya itu... mereka selalu saja membuat masalah.” Ucap Sara sambil tersenyum sedih saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu dimana seorang petualang muda menghilang saat menjalankan misi bersama urgo dan teman-temannya itu.


‘Entah kenapa aku bisa merasakan kesepian dibalik senyumannya itu, lagi pula apa itu senyuman senang. Kalau dilihat lebih dekat itu seperti sebuah senyuman kesedihan...’ batin Aris. “Em... kau tau Sara, jika saja aku menjadi lebih kuat. Apa kau mau terus bersamaku...?” tanya Aris. “Aku akan selalu melindungimu... oleh karena itu, jangan memperlihatkan tatapan kesepian itu lagi. Aku akan selalu berada bersamamu, jadi...”


Sara yang mendengar itu sedikit terkejut karena Aris bisa mengetahui tentang perasaannya yang kesepian, dia kemudian menatap Aris. “Ya... jadilah lebih kuat. Aku menantikan itu, Aris...” ucap Sara dengan tersenyum senang.


“Yah lihat saja nanti, aku akan menjadi lebih kuat..”


Saat itu aku melihatnya tersenyum tulus... akhirnya aku bisa membuatnya tersenyum seperti itu, aku ingin mempertahankan senyuman hangatnya itu. Senyuman yang terkandung akan perasaan kasih sayang itu... aku ingin melindunginya. Apapun yang terjadi... Sara... aku mencintaimu...


Hari itu merupakan sebuah kejadian yang membuat Adres sang pangeran kerajaan Aries yang menyamar menjadi Aris senang didalam hatinya. Dia menemukan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya, dan dia ingin sekali membahagiakan orang itu. Tapi dia sendiri tidak menyadari bahwa Sara sudah memiliki seseorang yang berharga dalam hidupnya. Walaupun Sara sendiri tidak tau bagaimana kabarnya sekarang ini.


Hei Yugi... kapan kau akan kembali... aku mohon jangan membuat harapanku musnah. Jangan membuatku menunggu lebih lama lagi... jika seperti ini terus, mungkin saja aku akan menyerah untuk menunggumu. Kumohon jangan membuatku lelah menunggu... Yugi...


Lagi-lagi Sara teringat akan kenangannya bersama Yugi, tapi semua itu mulai sedikit demi sedikit tergantikan oleh kebersamaannya dengan Aris. Dia mulai tersenyum kembali saat bersama dengan Aris, wajahnya yang dulu suram sekarang sudah mulai bersinar kembali. Mungkin baginya Aris sudah seperti sinar mentari yang menyinari hidupnya sekali lagi. Tapi apakah dia akan menyadari bahwa rasa nyaman yang diberikan oleh Aris akan mulai meruntuhkan rasa cintanya pada Yugi.


Malam hari sudah tiba, disebuah kerajaan yang dikelilingi oleh banyak gunung, kerajaan itu bernama Eartfil yang terkenal dengan tambang kristalnya yang melimpah. Didalam sebuah penginapan dekat kota, disebuah kamar yang bisa ditempati dua orang, terdapat seorang pemuda dan gadis kecil yang tengah tertidur dikasur yang sama. Sementara gadis kecil yang merupakan seorang manusia setengah vampir tengah tertidur dengan pulasnya, sedangkan pemuda yang disamping kirinya masih terjaga dengan matanya melihat atap bangunan penginapan tersebut.


‘Aku ingin tau keadaannya sekarang. Apa dia masih menungguku... Sara, aku ingin bertemu denganmu...’ batin Yugi yang mulai menutup kedua matanya untuk tidur.


[‘Yugi... asal kau tau saja, takdirmu akan semakin sulit untuk kau jalani. Kau harus memilih dimana salah satunya harus kau korbankan...’] batin Yui yang berada dalam dimensi buatannya.


Aku saat itu tidak menyadari akan kegelisahan dalam hatiku. Perasaan ini yang harusnya aku sampaikan pada seseorang... tapi dia sangat jauh untuk aku jangkau. Jika saja takdir terus memisahkan kami... aku akan terus berusaha untuk mengubahnya, walau aku sendiri harus menjadi Dewa sekali pun...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2