
Siang hari ini merupakan yang terpanas yang pernah ada, bukan hanya matahari saja yang mengakibatkan panas ini, melainkan...
Duar duar duar
Sebuah ledakan energi sihir panas yang membahana di setiap pegunungan yang dipenuhi oleh bebatuan terjal. Benar hari ini merupakan kompetisi yang sudah di mulai sedari pagi sampai menjelang siang hari...
Aku Yugi... seorang petualang senior yang ikut dalam kompetisi ini untuk memenangkannya dan menikahi tuan putri... hahahah... yang terakhir itu hanyalah candaan.
Ya... aku tidak berniat untuk menikahi tuan putri, tapi yang kuincar adalah hadiah misterius yang sering dikatakan orang-orang...
Sekarang aku sedang berlari menuju puncak gunung untuk mengambil sisik naga yang tertancap disana...
“Jalanan ini sangat lancar, benar-benar sepi... seolah aku dipersilahkan maju terus tanpa berhenti.” Gumam Yugi yang sedari tadi melirik kanan dan kirinya sambil terus berlari dengan kecepatan tinggi.
[“Ini terlalu mudah...”] ucap Yui dalam dimensinya.
“Jika membicarakan hal ini pasti akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan...” Langkah Yugi tanpa sengaja menginjak sebuah batu yang tenggelam ke tanah sedikit dan seketika bercahaya menyilaukan. “Sial ini jebakan...” dengan terkejutnya Yugi berhenti dan cahaya itu tiba-tiba meledak dengan suara cukup keras.
Duuuaaarrrrr
Diatas sebuah batu besar terlihatlah seorang pemuda bersurai merah tua lurus dengan pakaian serba merah dan sepatu hitam penyihir yang terlihat kontras dengan mata hitamnya. Senyumannya terlihat sangat senang saat melihat jebakan yang dia buat tepat mengenai sasarannya. “Masih saja ada orang yang terjebak perangkapku...” ucap nya dengan sombong.
“Kau benar, tadi hampir saja... jika tidak cepat aku pasti sudah hancur berkeping-keping.” Balas Yugi yang berada di samping pemuda bersurai merah tua tadi.
Pemuda surai merah tua yang menyadari hal itu langsung menjaga jarak dari Yugi dan menatap waspada. “Bagaimana mungkin kau bisa berada disini, bukankah tadi...” pemuda itu melihat tempat ledakan sebelumnya terjadi dimana asapnya menghilang tertiup angin dan disana tidak terlihat seorang pun yang seharusnya terkena jebakan tersebut. “Tidak ada...” pemuda surai merah tua itu kembali menatap Yugi dengan pandangan tajamnya.
“Kau mencariku... tenang saja, aku baik-baik saja kok. Lihat...” ucap Yugi sambil merentangkan tangannya untuk memperlihatkan kalau dia baik-baik saja.
“Bagaimana caramu menghindari ledakan tadi, aku yakin sekali kalau kau sudah terkena jebakanku barusan?” Tanya pemuda itu tanpa mengendurkan kewaspadaannya terhadap Yugi.
“Yaa bisa dibilang refleksku lebih cepat dibanding ledakanmu. Jadinya aku bisa menghindari itu dengan mudah...” jawab Yugi dengan nada santai. ‘Egh... aku terkena sedikit gelombang ledakan tadi. Dan itu bukan main-main... aku bisa merasakan sakit di kaki kananku karena menginjak ranjau itu.’ Didalam hati Yugi merutuki kesialannya karena telah bertemu dengan lawan yang merepotkan lagi.
“Mungkin kau bisa menghindarinya, tapi bagaimana kalau yang ini.” Pemuda surai merah tua itu menembakkan bola-bola energi merah dalam jumlah banyak.
“...” tanpa berkomentar apapun, Yugi langsung saja menghindari bola merah itu kearah samping kirinya, tapi hal tersebut merupakan kesalahan fatal baginya.
Pemuda surai merah tua itu tersenyum sinis saat melihat bola merahnya dihindari begitu saja “Kesalahan besar...” dengan menjentikkan jari kanannya, bola merah itu tiba-tiba meledak tepat disamping Yugi saat menghindari bola tersebut.
Duar
“Huwaaa...” Yugi tersungkur beberapa kali ketanah saat terkena gelombang ledakan bola itu dan dengan cepat melompat sekali dan menyeimbangkan tubuhnya kemudian mendarat tepat dibelakang batu besar. “Bola merah itu meledak...” gumamnya terkejut.
“Hahahahaha... bagaimana, bukankah ledakanku barusan hebat. Itu adalah sebuah seni yang indah, guruku yang mengatakannya...” ucap pemuda bersurai merah tua itu dengan riang.
“Sial, aku malah terhambat disini. Tapi kenapa dia tidak mengambil sisik naga, yang ada dia seperti sedang menghentikanku untuk mengambilnya. Jika tidak salah lomba ini akan berakhir jika matahari terbenam. Aku harus melakukan sesuatu...” Yugi membuat sebuah bola energi di telapak tangan kanannya seukuran bola sepak.
“Hei apa kau hanya akan bersembunyi di balik batu itu saja. Tapi itu sih malah mempermudah pekerjaanku...” ucap pemuda surai merah tua yang belum diketahui namanya.
“...” tanpa pemuda itu sadari Yugi sudah melemparkan sebuah bola energi ke atas langit yang kemudian meledak menjadi cahaya putih menyilaukan.
“Heh... ingin membutakan penglihatanku begitu. Itu tidak akan berguna...” pemuda surai merah itu melompat mundur dan menjaga jarak aman dari bola yang bersinar itu.
Perkiraan dari pemuda surai merah itu ternyata salah, karena bukan itu yang di incar oleh Yugi. Melainkan...
“Kau terjebak...” gumam Yugi yang berada di belakang pohon tepat di hadapannya ada pemuda surai merah tua.
“Apa...?” pemuda surai merah baru menyadari kalau kedua kakinya seperti membeku, dan saat dia melihatnya ternyata benar. Disana kakinya sudah di bekukan oleh es milik Yugi. “Begitu rupanya, sedari awal kau sudah merencanakan ini... meledakkan bola cahaya terus menungguku disini. Perkiraanmu sangat mengerikan ya...” ucap pemuda itu dengan senyuman kekesalan.
“Untuk orang yang menyukai ledakan, ternyata kau cukup pintar.” Yugi berjalan perlahan mendekati pemuda surai merah tua dari belakang.
“Boleh aku tau namamu?” tanya pemuda surai merah yang terlihat sudah pasrah.
“Yugi... seorang petualang.” Jawab Yugi tanpa keraguan sekali pun.
“Nama yang bagus, dan juga maaf saja... aku tidak mau kalah disini.” Setelah mengatakan itu, sebuah cahaya menyilaukan bersinar di bawah kaki pemuda surai merah.
“Gawat...” Yugi dengan cepat menyelimuti tubuhnya dengan aura kebiruan yang merupakan pertahanan mana miliknya.
__ADS_1
Siiingggg Duuuaarrrrr
Yugi terpental ke arah sebuah pohon kemudian tubuhnya terbentur cukup keras dan terjatuh ke bawah. Sedikit demi sedikit Yugi berusaha berdiri dengan kaki yang gemetar akibat gelombang ledakan tadi membuat kedua kakinya mati rasa. Saat debu akibat ledakan tadi menghilang disana sudah terlihat pemuda surai merah yang juga terlihat sedikit berantakan.
“Senjata makan tuan...” ucap Yugi yang tersenyum remeh pada lawannya.
“Heheheh... kau bisa tersenyum sekarang. Tapi...” pemuda itu mengeluarkan sebuah botol hitam yang berisi cairan hitam yang mengeluarkan asap ungu saat dibuka. Pemuda surai merah tua itu meminumnya dengan sekali tenggak tanpa menyisakan setetes pun. “Oh ya aku belum memperkenalkan diriku... aku Der, pengguna sihir ledakan terhebat setelah guruku.”
Seketika aura hitam menguar dahsyat mengelilingi tubuh Der dan mengakibatkan angin ribut yang terpusat pada satu orang. Angin itu mengelilingi Der seperti sebuah tornado, aura hitam yang mengelilinginya mulai menghilang dan tergantikan Der yang bersurai hitam dan mata hitamnya menatap tajam kearah Yugi dengan aura membunuh yang begitu kental dan gelap.
Yugi yang melihatnya hanya mampu terkejut di buatnya. Pasalnya kekuatan Der meningkat drastis dibanding sebelumnya. ‘A-apa ini... kekuatan gelap mengerikan apa ini?’ Batin Yugi dengan keringat dingin di wajahnya.
“Bagaimana kalau kita mulai saja ronde keduanya, Yugi...” ucap Der dengan suara berat khas binatang buas.
Dipuncak gunung tertinggi Eartfil terlihatlah seorang pemuda bersurai merah maroon dengan pakaian hitam terbuka yang memperlihatkan otot perut dan dadanya dan celana hitam panjang dengan sandal petualang dengan talinya yang mengikat melewati mata kaki. Kalung lambang naga terpajang dengan jelas di dadanya. Didepannya terdapat beberapa orang yang tepar di tanah dengan beberapa kobaran api di tanah. Di kedua tangan pemuda surai merah maroon itu terlihat kobaran api yang merupakan sihirnya yang telah mengalahkan semua orang yang tepar itu. Kobaran api ditangannya menghilang dibarengi helaan nafas tenang darinya. Matanya tertuju pada satu sisik naga berwarna hitam yang menancap di tanah dan mengambilnya dengan mudah. Senyuman senang terpatri di wajahnya saat dia memandang kearah colosseum dimana perlombaan ini akan berakhir jika dia berhasil membawa sisik naganya kesana.
“Waktunya kembali...” ucap pemuda surai merah maroon itu.
Sementara dengan Yugi, dia sekarang tengah kewalahan menghindari setiap serangan sihir ledakan yang di lancarkan oleh pemuda bernama Der yang tanpa hentinya terus saja membombardir Yugi dengan bola hitam nya yang meledak saat mengenai target. Yugi yang melompat ke samping kanan langsung saja menundukkan kepalanya saat sebuah bola berukuran sedang menuju tepat ke arah kepalanya. Untung saja bola itu hanya mengenai beberapa helai rambut Yugi saat melewatinya begitu saja dan meledak di belakangnya. Dengan begitu Yugi mendarat tepat di tanah dengan postur tangan kanan mengepal dan tangan kiri terbuka lebar dan saling bertemu dengan jarak beberapa senti didepan tubuhnya. Celah diantara tangan Yugi mengeluarkan cahaya biru yang terasa dingin jika berada di sekitarnya. Yugi memposisikan tangan itu di samping kanan tubuhnya dan mengucapkan nama jurusnya.
“Ice Wave Blow...”
Yugi meninju udara kosong dan terciptalah sebuah gelombang biru dingin melesat kearah Der dengan kecepatan tinggi. Tapi hal itu tidak membuat Der takut, dengan cepatnya dia menghindari serangan itu dengan melompat ke udara. Disana Der membuat dua bola hitam yang langsung saja dia lesatkan secara bersamaan kearah Yugi.
Duar duar
Kedua bola hitam itu tepat meledak di hadapan Yugi sehingga mengakibatkan debu berterbangan di sana yang menghalangi pandangan Der. Sementara dengan Yugi tidak diketahui bagaimana keadaannya sekarang. Der yang sebelumnya melayang sekarang sudah turun dengan sempurna tanpa kelelahan sedikit pun, baginya permainan ini bukanlah apa-apa, senyuman mengejek dia layangkan kearah debu yang masih menghalangi pandangannya terhadap Yugi yang berada disana. Dia sudah yakin kalau Yugi mati setelah terkena ledakannya, dengan perlahan dia membalikkan badannya untuk pergi dari sana. Tapi langkahnya terhenti saat dia merasakan sebuah gelombang kuat yang berasal dari tempat Yugi berada. Seketika angin kencang bertiup bersamaan dengan hilangnya debu dan memperlihatkan Yugi dengan aura biru tipis yang menyelimutinya. Kepalanya yang menunduk sedikit demi sedikit dia angkat dan memperlihatkan mata biru tajam yang dia arahkan pada Der.
“Ini belum berakhir...” Yugi berjalan perlahan dengan aura biru yang kian membesar kearah Der. “Mode Eternal Snow...” ucapnya pelan.
“A-aura macam apa ini, tubuhku tidak bisa bergerak. K-kenapa...?” tanya Der yang ketakutan melihat aura membunuh Yugi yang setara dengan Dewa itu.
‘Aku menggunakan mode tahap pertama, ternyata kekuatannya melebihi perkiraan yang aku duga. Dulu tidak sepekat ini, sekarang tubuhku terasa terpenuhi oleh energi yang terus saja mengalir deras...’ batin Yugi sambil melihat tangan kanannya yang diselimuti aura biru muda. Tapi di kedua tangannya tidak terdapat garis biru dikarenakan dia hanya menggunakan tahap pertama saja.
“S-siapa kau sebenarnya?” tanya Der dengan rasa takut menyelimuti dirinya.
“Apa maksudmu itu...” Der dengan rasa takutnya melesatkan banyak sekali bola hitam kearah Yugi dengan panik.
Duar duar duar duar duar duar...
Peluru hitam layaknya bom itu terus saja menyerang Yugi tanpa henti. Sementara dengan Yugi sendiri hanya diam tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Setelah beberapa saat serangan itu mulai berhenti dengan nafas Der yang memburu, sepertinya dia sudah mulai kehabisan energinya. Saat debu menghilang tertiup angin, disana sudah tidak ada Yugi. Hal itu membuat Der terkejut sambil tetap waspada karena bisa saja Yugi berada di sekitar sini. Dan benar saja, Yugi sekarang berada tepat di belakang Der dengan jarak beberapa meter tidak jauh darinya.
“Mencariku...” ucap Yugi dengan nada dingin.
Der langsung saja membalikkan badannya dan melompat mundur untuk menjaga jarak. ‘B-bagaimana mungkin, aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya...’ batin Der.
“Aku rasa permainan ini sudah berakhir...” Yugi melesat dengan kecepatan tinggi sambil mengambil ancang-ancang memukul dengan tangan kanannya.
“J-jangan mendekat...” karena saking takutnya aura hitam yang menyelimuti Der menghilang sehingga pertahanannya pun ikut menghilang.
Duuuuaaaaaarrrrrrttt
Ledakan dahsyat terdengar sejauh beberapa kilometer. Salah satu prajurit sihir kerajaan yang menyusup kedalam lomba mendengar sebuah ledakan, tidak lama dia langsung menuju lokasi tersebut. Ditempat ledakan terdapat satu pemuda yang sebelumnya dilawan oleh Yugi sekarang sudah tepar di tanah dengan kawah yang cukup lebar dan kedalaman sekitar dua meter. Sepertinya Yugi menahan diri saat melakukan serangan penuh tadi. Tentu saja karena dalam perlombaan ini membunuh sangatlah dilarang. Yugi hanya membuatnya pingsan sehingga Der tidak bisa bergerak sedikit pun dari tempatnya tersebut.
Salah satu penyihir kerajaan yang menyusup datang ke tempat ledakan terjadi. Disana dia melihat seorang pemuda tepar di tanah dengan kawah cukup besar. Penyihir kerajaan itu merupakan orang yang telah di kalahkan oleh Yugi sebelumnya. Dia adalah Tairu, penyihir tipe tanah.
“Siapa yang telah membuat kekacauan seperti ini?” Tanya Tairu entah pada siapa, tapi kemudian dia mengingat seseorang yang sebelumnya dia lawan dan berhasil lolos. “Astaga, dia terlalu berlebihan...” ucapnya dengan senyuman hambar.
Sementara dengan Yugi, dia sedang melompati pepohonan seperti tupai. Pandangannya tetap lurus ke depan dimana sisik naga berada disana. Karena urusannya sebelum ini telah selesai maka dia tidak mau membuang waktu lagi. Hari juga sudah menjelang sore, jika dibiarkan dia akan terlambat.
[“Berhasil mengeluarkan mode Eternal Snow tanpa mengeluarkan pedangnya... kau memang hebat Yugi.”]
‘Itu adalah buah hasil dari latihan kerasku... setidaknya dengan begitu tidak akan ada yang curiga bukan.’ Batin Yugi yang membalas perkataan Yui dalam pikirannya.
[“Ya kau benar...”]
Percakapan mereka pun terhenti saat mereka melewati hutan lebat itu. Disana terdapat puncak gunung dan ada satu sisik naga hitam yang masih menancap. Tanpa membuang waktu lagi Yugi langsung mengambilnya dan berlari kembali menuju arena.
__ADS_1
Di colosseum sudah banyak peserta yang kembali membawa sisik naga. Ternyata yang berhasil lolos hanyalah setengah dari semua peserta yang mendaftar. Sekitar 39 orang berhasil lolos dan berada di dalam arena tersebut. Pemuda bersurai merah maroon tengah mencari seseorang di kerumunan para peserta tersebut. Tapi sekian lama mencari dia tidak bisa menemukannya.
“Apa dia berhasil lolos ya...” ucap pemuda itu yang ternyata Maruya.
Diatas tempat VIP dimana raja dan ratu berada, mereka melihat para peserta dengan tatapan agak kecewa karena peserta tahun ini hanya sedikit yang lolos menuju tahap berikutnya.
“Ternyata hanya segini saja.” Ucap sang Raja.
“Mungkin saja kompetisi tahun ini terlalu sulit, bukankah yang mulia juga mengikut sertakan para penyihir kerajaan untuk menguji mereka.” Balas sang Ratu dengan aura seram yang dilancarkan kearah sang Raja.
“Y-ya kau tau kan, putri kita berhak mendapat yang terbaik diantara yang terbaik.” Ucap Raja dengan keringat dingin di pelipisnya.
“Kalau begitu tidak usah banyak mengeluh.” Ucap Ratu.
“Baik...” sang Raja yang tidak bisa membalas perkataan istri nya hanya mampu tertunduk lesu.
Wanita selalu benar, bahkan untuk seorang raja sekalipun, mereka akan kalah oleh istrinya sendiri. Nasib memang bagi kaum laki-laki...
Wasit yang melihat tidak ada lagi peserta yang datang menganggap bahwa perlombaan ini telah selesai. Saat dia ingin berbicara untuk mengakhiri kompetisi hari ini. Seorang pemuda berlari dengan sepenuh tenaga memasuki arena sebelum gerbang ditutup. Dan tepat saja dia berhasil memasuki arena dan berhenti tepat di hadapan banyaknya peserta yang melihat kearahnya dengan pandangan berbeda-beda. Ada yang melihat tidak suka, biasa saja, tenang dan tatapan tajam mengarah kepada satu pemuda yang beruntung bisa lolos ke tahap selanjutnya.
“Akhirinya kau berhasil, aku pikir kau akan gagal ditahap pertama ini.” Ucap Maruya yang langsung saja memukul pundak Yugi dari belakang.
Yugi sedikit mengaduh kesakitan dan langsung tersenyum tipis kearah Maruya. “Kau pikir bicara dengan siapa, aku ini tidak akan kalah begitu saja.” Ucap pemuda bersurai biru itu.
“Aku tau itu, semoga kita bisa bertemu di final Yugi.” Ucap Maruya pada pemuda bersurai biru.
“Ya tentu saja, Maru...” balas Yugi dengan senyuman menantangnya.
“Ekhem...” deheman wasit membuat semua peserta mulai tertuju padanya. Saat sudah mendapat perhatian semua orang, wasit itu mulai berbicara. “Baiklah, dengan begini tahap pertama sudah selesai... pertandingan akan di lanjutkan besok. Bagi peserta yang lolos diharap berkumpul jam 8 pagi di dalam arena.”
Dengan begini, tahap pertama kompetisi kerajaan... telah berakhir... dan malam pun menyelimuti kerajaan Eartfil...
Di suatu tempat yang berada di pinggir ibu kota kerajaan Eartfil. Terdapat satu tempat pandai besi yang biasanya menghasilkan berbagai senjata. Disana terdapat satu orang pria paruh baya yang menghisap asap melalui cerutunya. Dengan leganya dia menghembuskan asap itu sambil duduk dengan santainya. Pria itu adalah Jigar yang baru saja kemarin telah memberikan pedang hitam misterius pada Yugi. Tidak lama saat dia sedang bersantai, datanglah seorang pria paruh baya yang umurnya lebih muda dari Jigar, pria itu memakai jubah hitam dan menutupi kepalanya dengan hodie jubah tersebut sehingga wajahnya tidak terlihat. Jigar yang mengetahui orang itu langsung saja berdiri dan tersenyum kearahnya.
“Ada apa anda datang ke tempatku yang sederhana ini, yang mulia...”
Setelah perkataan Jigar tersebut, hodie yang membungkus kepalanya langsung dia singkap ke belakang dan memperlihatkan wajah yang mulia Tenruo yang tersenyum ramah pada Jigar.
“Lama tidak berjumpa, Jendral besar Jigar.” Ucap Tenruo.
“Sudah kubilang yang mulia, aku ini sudah pensiun dari jabatan itu.” Balas Jigar dengan senyuman ramahnya.
“Tapi tetap saja, kau adalah jendral kerajaan ini.” Ucap Tenruo yang tidak mau mengalah dalam percakapan mereka.
“Baiklah terserah anda saja...” balas Jigar yang mulai pasrah.
“Kau tau kan maksud kedatanganku ini?” tanya Tenruo.
“Tentu saja...” Jigar berjalan menuju ruang gudang senjata yang pernah dia tunjukkan pada Yugi sebelumnya.
Tenruo langsung saja mengikuti Jigar dan masuk kedalam ruangan tersebut. Disana terdapat banyak senjata yang masih sama seperti kemarin, yang hanya membedakannya adalah pedang hitam yang disegel sudah tidak ada dan juga atap yang ditambal akibat aura ledakan pedang hitam yang membuat atap sebelumnya bolong dengan lingkaran sempurna. Butuh waktu seharian bagi Jigar untuk memperbaiki semua itu akibat ulah pemuda surai putih salju yang membuatnya pusing dalam sehari.
“Jadi pedang itu sudah memiliki majikannya...” ucap Tenruo saat melihat tempat disegelnya pedang hitam itu sudah tidak ada lagi.
“Begitulah... dan dia juga mengikuti kompetisi kerajaan ini. Kita bisa melihat kemampuannya dalam menggunakan pedang tersebut.” Ucap Jigar sambil menatap Tenruo dengan senyuman senangnya.
“Aku tidak sabar untuk melihatnya...” balas Tenruo dengan senyuman senang penuh antusias.
Dengan begitu kompetisi tahap pertama berakhir dimana peserta yang berhasil lolos hanya ada 40 orang saja. Tahap kedua akan dilanjutkan besok dimana pertarungan yang sesungguhnya akan segera dimulai...
Apakah pertarungan itu akan melibatkan senjata legendaris... apakah pertarungan itu akan membawa sang pemuda bersurai putih salju menuju takdirnya...
Semuanya akan terjawab...
Dan sedikit demi sedikit sebuah rahasia akan segera terungkap...
Bersambung
__ADS_1