KAISAR ES

KAISAR ES
PERTEMUAN


__ADS_3

Mungkin saja semua akan berubah jika kita bergerak untuk merubahnya. Sesuatu tidak akan terjadi jika kita diam saja... banyak orang yang percaya akan perubahan yang akan terjadi di masa depan jika kita berusaha. Aku juga tau itu... tapi bagaimana jika sebuah takdir yang sudah ditentukan tidak bisa kita rubah walau sudah berjuang sekeras mungkin. Bahkan kita sudah mengorbankan segalanya, tapi tetap tidak bisa meraih apa yang kita mau... mereka bilang masa depan adalah sebuah kertas kosong, dimana kita akan menulis kisah itu melalui usaha yang kita lakukan. Tapi bagaimana kalau masa depanmu sudah terpenuhi oleh tinta skenario yang sudah ditetapkan... hey jangan bercanda, aku tidak akan pernah mau menerima takdir yang tidak sesuai keinginanku, aku akan mengubahnya dan menjadikan takdir itu milikku... masa depanku adalah milikku sendiri... dan itu sudah pasti... jika ada yang mau mengambilnya dariku, dia harus melewatiku lebih dulu, walau itu dewa sekali pun...


“Ah antrian nya panjang sekali, padahal aku sudah berdiri disini sejak pagi.” Gumam Yugi yang hanya bisa mengeluh melihat banyaknya orang yang tengah berbaris untuk mendaftarkan diri di turnamen kerajaan yang akan di selenggarakan lima hari lagi dari sekarang. “Enaknya para bangsawan itu, mereka bisa mendaftar melalui jalur khusus... bagi kami para petualang hanya bisa mengantri untuk mengikuti turnamen itu. Yang paling diutamakan adalah pangeran bangsawan dari berbagai kerajaan. Mungkinkah kami ini hanya sebagai figuran saja...” gumam Yugi.


[Penjelasan mengenai turnamen yang diselenggarakan oleh kerajaan Eartfil. Mereka yang ingin mengikuti turnamen tersebut akan melalui tes pertama yaitu pengetesan jumlah mana. Biasanya mereka yang lolos adalah jumlah mananya diatas 3000 dan itu merupakan standar bagi para peserta yang akan mengikutinya. Kebanyakan yang lolos adalah para petualang senior yang memiliki jumlah mana yang melebihi standar dalam pengetesan. Jika mana didalam tubuh tidak memenuhi persyaratan maka tidak bisa mengikuti turnamen tersebut.]


‘Dari awal saja sudah banyak yang berguguran sebelum mengikuti turnamennya. Benar-benar peraturan yang begitu ketat... tapi semakin banyak yang gagal maka sainganku akan semakin sedikit. Itu bagus...’ batin Yugi.


Bruk


Seorang pemuda tidak sengaja menabrak Yugi yang masih berdiri menunggu antrian. Karena ingin tau si pelaku penabrak Yugi membalikkan badannya dan melihat seorang pemuda bersurai merah maroon dengan mengenakan setelan baju tanpa kancing berwarna hitam dengan jilatan api yang dibiarkan terbuka sehingga memperlihatkan bagian tubuhnya dari dada sampai perut yang six pack. Celananya berwarna putih sampai mata kaki dan mengenakan sepatu coklat. Dilehernya tergantung sebuah kalung perak dengan lambang naga yang begitu unik. Dilihat dari tampangnya dia cukup tampan dan pasti disukai oleh para wanita. Walau dalam pandangan Yugi dia ini seperti orang mesum karena pakaiannya yang terbuka sehingga memperlihatkan badan bagian depannya. Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum canggung.


“Maaf maaf... aku tidak sengaja, aku tadi terburu-buru sampai tidak melihat jalan. Ngomong-ngomong namaku Maruya, seorang petualang senior dari kerajaan Vouleftis, kau bisa memanggilku Maru.” Ucap Maruya dengan senyuman cerah diwajahnya.


‘Kerajaan Vouleftis... dia...’ Yugi memperhatikan Maruya dari atas sampai bawah, penampilannya begitu sederhana tapi didalam tubuhnya mengandung kekuatan yang luar biasa. ‘Dia memiliki kekuatan yang kuat didalam tubuhnya... entah kenapa aku merasakan perasaan yang tidak asing darinya.’ Batin Yugi. “Namaku Yugi, seorang petualang senior dari kerajaan Aries.”


“Senang bertemu denganmu... wah dari kerajaan Aries rupanya. Bukankah itu sangat jauh... aku mengerti, kau jauh-jauh kesini ingin memenangkan turnamen itu kan. Yaaa... jika kita menang seorang tuan putri kerajaan ini sudah menunggu untuk di nikahi dan kita bisa menjadi anggota kerajaan kemudian diangkat sebagai bangsawan kerajaan ini. Luar biasa...” ucap Maruya dengan semangat yang menggebu di dadanya. Dibelakang tubuh Maruya terlihat bayangan api semangat yang terkesan merepotkan bagi Yugi.


“Dia ini tipe orang yang paling merepotkan...” gumam Yugi yang tidak terdengar oleh Maruya karena masih asyik dengan dunianya sendiri. “Jadi kau juga mau mengikuti turnamen ini?” tanya Yugi.


“Ya begitulah... aku hanya menginginkan hadiah misterius yang sering dibicarakan. Tapi kalau aku sampai menikah dengan tuan putri pasti kehidupanku akan terjamin. Walau aku masih belum tau bisa menang atau tidak.” Ucap Maruya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


“Mari kita bersaing dengan adil.” Yugi mengulurkan tangannya sebagai tanda pertemanan mereka.


“Aku suka dengan gayamu kawan. Mari kita bertemu di puncak...” balas Maruya sambil menjabat tangan Yugi.


‘Sepertinya dia bukan orang jahat, dari senyumannya tersirat akan ketulusan. Begitu pula mata hitam yang terkesan polos itu... aku tidak tau, tapi entah kenapa aku merasakan perasaan yang tidak asing, dan juga keinginan untuk bertarung dengannya.’ Batin Yugi sambil membalas senyuman Maruya dengan senyumannya.


Cukup lama bagi Yugi untuk menunggu antrian yang begitu panjang, akhirnya sekarang gilirannya untuk melakukan pendaftaran. Yugi berdiri tepat di hadapan sebuah bola kristal biru yang melayang di hadapannya. Kedua matanya menatap tajam bola kristal dan berkonsentrasi untuk mengontrol energinya, dia tidak mau semua orang tau kekuatannya yang sebenarnya. Jadi Yugi berniat untuk menyembunyikan kekuatan penuhnya, setidaknya dia memerlukan jumlah mana yang cukup untuk bisa melewati tes tersebut. Tangan kanan Yugi dia letakan diatas bola kristal biru itu dan mengalirkan mananya secara perlahan dan stabil. Bola kristal itu mulai bersinar dan sebuah angka tertulis diatasnya, angka itu terus bertambah dari 200, 500, 1000, 1500, 2000, 3000, dan 3100. Saat Yugi melihat angkanya sudah cukup untuk melewati tes itu dengan cepat dia menghentikan aliran mananya supaya angkanya tidak bertambah. Juri laki-laki yang melihat itu mulai mencatatnya dengan teliti.


“Namamu Yugi kan, seorang petualang senior?” Tanya sang juri.


“Ya...” jawab Yugi.


“Petualang dari Aries... jumlah mananya sekitar 3100, kau lolos.” Ucap juri.


“Terima kasih.” Yugi melenggang pergi setelah dinyatakan lolos tes tahap pertama. Selanjutnya tinggal menunggu instruksi yang akan datang, selama itu dia berpikir akan melakukan latihan untuk mengasah kemampuan baru yang dia ciptakan baru-baru ini. Di perjalanannya menuju sebuah hutan dekat pinggiran gunung dia melihat seorang perempuan berambut pendek sebahu merah muda layaknya bunga sakura tengah kebingungan. Dia seperti sedang mencari seseorang, karena tidak tega melihatnya seperti itu Yugi berinisiatif untuk menolongnya. “Hei, apa kamu tersesat?” Tanya Yugi pada anak kecil itu yang diperkirakan masih berusia 10 tahunan. ‘Sepertinya umurnya tidak jauh beda dengan Vira.’ Batin Yugi.


“A-ammm... eemm...” anak kecil itu hanya mampu mengangguk mengiyakan.


Yugi yang mengerti akan tingkah malu anak kecil itu hanya dapat memakluminya saja, siapa pun pasti akan merasa takut jika didekati oleh orang asing terutama anak-anak. Mereka masih terlalu lemah untuk menjaga diri, oleh karena itu mereka harus didampingi oleh orang yang lebih dewasa. “Namamu siapa?”


Gadis kecil itu sedikit berpikir dan melirik beberapa kali kearah Yugi untuk memastikan kalau dia bukanlah orang jahat. “M-maria...” jawabnya pelan.


“Apa kamu kesini sendirian?” tanya Yugi dengan nada ramah.


“Emmm...” Maria menggeleng pelan dan berkata. “Aku bersama kakakku, tapi kami terpisah karena kerumunan dikota.”


“Aku akan membantumu mencari kakakmu.” Ucap Yugi.


“Benarkah?” tanya Maria dengan mata pandangan penuh harap.


“Em...” angguk Yugi dengan senyuman hangat diwajahnya.


“...” untuk sesaat Maria merasa terpesona oleh senyuman Yugi yang begitu tulus. Ini pertama kalinya dia merasa kagum pada orang lain selain kakaknya. Entah kenapa terdapat perasaan yang begitu nyaman dan aman saat berada didekatnya.


“Ayo...” Yugi mengulurkan tangan untuk mengajaknya mencari kakaknya.


“...” Maria dengan rasa malu yang menghinggapinya dengan pelan dia mulai menggenggam tangan Yugi yang terasa lebih besar dibanding tangannya.


Mereka pun mulai berjalan di tengah banyaknya kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Sekarang Yugi tengah berpikir bagaimana caranya menemukan kakak Maria di tengah kerumunan orang ini, lagi pula dia tidak tau siapa kakaknya. Ini akan sulit untuk menemukan orang yang dicari oleh Maria.


“Kakakmu itu seperti apa?” tanya Yugi.


“Dia itu sangat keren... wajahnya tampan dan juga tinggi. Dan dia juga sangat hebat dalam sihir...” jawab Maria dengan senangnya.


“Eh... maksudku ciri-cirinya. Rambut atau semacamnya...” ucap Yugi.


“Eemm... rambutnya merah dan memakai kalung liontin dengan lambang naga.” Ucap Maria.


“Rambut merah...? kalung liontin dengan lambang naga? Sepertinya aku kenal orang dengan ciri-ciri itu. Jangan-jangan... nama kakakmu siapa?” tanya Yugi lagi.


“Kak Maru...” jawab Maria.


“Maru... ah jangan-jangan Maruya.” Tebak Yugi.


“Em...” Maria mengangguk membenarkan perkataan Yugi.


“Ternyata begitu... dia pasti sangat mencemaskanmu sekarang ini. Baiklah akan kakak cari dengan cepat...” ucap Yugi dengan senyuman diwajahnya. Kini dia sedang menutup matanya untuk merasakan aliran mana milik Maruya, ditambah penciuman tajamnya yang didapat dari kemampuan dragon slayer. Dibantu insting setajam naga, dia bisa melihat objek dengan lebih jelas dengan matanya yang sudah setajam naga. ‘Dimana kau...’ batinnya. “Aku bisa mencium baunya, dan juga tekanan energi ini... sudah jelas...” guman Yugi.


“Apa kak Yugi sudah menemukan kakak...?” tanya Maria.


“Aku sudah menemukannya, ayo...” Yugi menarik Maria ke tempat Maruya berada sekarang.


Di pusat kota dekat air mancur, disana terdapat seorang pemuda berambut merah maroon sedang mencari adiknya yang terpisah darinya. Dia terus saja berteriak memanggil nama adiknya dengan sedikit gelisah, takut akan terjadi sesuatu pada adiknya tercinta.


“Maria... Maria... kamu dimana?” Teriak Maruya, sepertinya dia sudah kalang kabut mencari adiknya itu, jika saja terjadi sesuatu padanya dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


“Kakak...”


Sebuah suara menyadarkan Maruya dan langsung mencari asal suara itu. Disana adik yang sudah dia cari sedari tadi kini sedang berdiri menatapnya dengan air mata di kedua pipinya. Tanpa basa basi Maruya langsung berlari kearah Maria dengan air mata kelegaan dan senyuman bahagia bisa menemukan adiknya.


“Mariaaaa...”


“Kak Maru...”


Mereka saling berpelukan satu sama lain di tengah banyaknya orang tanpa rasa malu. Kebersamaan mereka membuat beberapa orang terasa terharu saat melihat kasih sayang kakak beradik yang begitu besar. Begitu pula sang pemuda yang baru saja mengantarkan Maria, Yugi melihat kebersamaan mereka mengingatkannya pada Elna yang sudah dia anggap adik sendiri, walau sekarang perasaannya itu sudah berubah menjadi sebuah perasaan cinta. Yugi tersenyum hangat melihat betapa besarnya kasih sayang mereka, kakak beradik yang saling menyayangi. Sungguh persaudaraan yang begitu kuat, darah diantara mereka saling menyatukan ikatan satu sama lain. Untuk sesaat Yugi sedikit cemburu melihat kebersamaan mereka, tapi disisi lain dia sangat senang melihat mereka begitu bahagia saat kembali bertemu.


“Kamu kemana saja, kakak sangat khawatir tau.” Ucap Maruya dengan sedikit nada marah.


“Maafkan aku kak... hiks hiks hiks...” Maria hanya mampu mengatakan kata itu dengan air mata yang terus turun di kedua pipinya.

__ADS_1


“Sudah sudah, maaf kakak juga salah. Seharusnya kakak tidak meninggalkanmu sendirian.” Maruya mengelus kepala adiknya dengan penuh kasih sayang seorang kakak. Dia memeluk Maria begitu erat karena tidak mau kehilangannya. Di tengah kebersamaan mereka, dia melihat seorang pemuda yang beberapa waktu lalu dia kenal. Saat mengetahui apa yang terjadi Maruya melepaskan pelukannya dan berdiri sambil menghadap Yugi. “Kau pasti yang telah membawa adikku kembali, terima kasih sudah menjaganya Yugi.” Ucap Maruya sambil menunduk sedikit untuk menunjukkan rasa terima kasihnya.


“Tidak apa, lagi pula aku tidak bisa membiarkan seorang anak kecil sendirian. Lain kali jaga adikmu dengan benar Maru... kalau begitu aku pergi, sampai jumpa.” Yugi berbalik dan berjalan menjauhi kakak beradik itu.


“Kak Yugi, terima kasih...” teriak Maria sambil melambaikan tangannya dengan senyuman di wajahnya.


Yugi membalasnya dengan lambaian tangan kanannya sambil masih berjalan menjauh sampai tidak terlihat lagi.


Maruya melihat kepergian Yugi dengan senyuman diwajahnya, didalam hati dia sangat berterima kasih padanya yang telah menolong adiknya. Maruya tidak akan melupakan jasanya itu, jika suatu saat nanti Yugi memerlukan bantuannya, dia akan menolongnya dengan senang hati.


Di perjalanan menuju penginapan Yugi sedang berpikir akan perasaan yang tidak asing pada Maruya. Dia selalu memikirkan hal itu sampai waktu menunjukkan sudah sore hari dimana matahari sudah mau tenggelam. Latihan yang sudah dia rencakan akhirnya pupus, karena terlalu lama mencari kakak maria membuatnya membuang waktu latihannya, tapi Yugi tidak merasa menyesal sama sekali, dia bisa saja latihan di ruang dimensi milik Yui. Senja di sore itu begitu indah, sedikit demi sedikit tenggelam di balik gunung, sinarnya masih menerangi wajah Yugi. Dia menatap kearah matahari terbenam, kemudian pandangannya dia alihkan kearah gunung yang berada di belakang istana kerajaan Eartfil. Gunung yang begitu tinggi sampai melewati awan putih yang bergerak di sekelilingnya. Angin menerpa rambut putihnya dan membuatnya bergoyang mengikuti arah angin. Debu berterbangan melewati Yugi, menghalangi pandangannya dari kota yang masih terlihat ramai.


“Yui... menurutmu siapa dia?” tanya Yugi dengan suara pelan.


[“Entahlah... aku bahkan tidak tau. Tapi perasaan itu aku juga merasakannya.”] ucap Yui melalui telepati.


“Aku merasa, kalau kami terikat akan sesuatu.” Ucap Yugi.


[“Hhmmm...”]


Sore itu terasa dingin... matahari sudah menyembunyikan dirinya di balik gunung. Angin bertiup kencang diiringi debu yang terbawa olehnya. Malam hari pun tiba... bulan sabit dimalam itu terlihat bersinar dengan terangnya. Bintang bertabur menghiasi angkasa... aku melihat di sekitarku, kota terlihat indah dengan cahaya lampu yang berwarna warni... aku ingin lebih lama menikmatinya...


Yugi berjalan menuju sebuah bukit yang cukup tinggi untuk melihat pemandangan seluruh kota, malam pun sudah tiba. Hari menjadi gelap dengan lampu-lampu kota yang bersinar menyinari kota. Dibukit ini Yugi melihat sebuah pemandangan yang berbeda dengan tempat yang biasanya dia kunjungi.


“Lampu-lampu itu terlihat seperti kristal di atas bebatuan. Bersinar dengan terang... hei Yui, kau tidak mau melihat pemandangan ini?” tanya Yugi pada seorang dewa naga yang bersemayam pada pedang Eternal Snow.


Tiba-tiba cahaya kebiruan bersinar disamping Yugi dan memperlihatkan sesosok gadis kecil bersurai putih salju dengan mata biru seindah langit, parasnya yang cantik seperti malaikat kecil yang turun dari kayangan. Pandangan matanya menatap kearah pegunungan tertinggi kerajaan Eartfil.


Aku melihat sebuah takdir dibalik gunung itu... sesuatu yang sama sepertiku... bayangan akan masa lalu yang sempat aku lupakan mulai sedikit kembali walau masih terasa kabur. Kepalaku sakit... beberapa ingatan muncul begitu saja, aku memegang kepalaku yang terasa pusing sedikit karena sebuah kilasan balik yang sangat cepat. Kehancuran... perang... api berkobar... bayangan yang mengerikan, seperti sebuah neraka...


“Yui kau kenapa?” tanya Yugi khawatir sambil memegang pundak Yui, keadaannya tiba-tiba terlihat kurang baik setelah keluar dari dimensi buatan. ‘Ada apa ini... kenapa Yui terlihat kesakitan begini?’ Batin Yugi.


“A-aku tidak apa-apa...” jawab Yui sambil masih menahan sakit.


Aku memegang pundaknya yang bergetar, mau bagaimanapun dia terlihat tersiksa akan sesuatu. Walaupun Yui berkata begitu, aku bisa merasakan kesakitan yang dia rasakan, aku tau kalau Yui berbohong padaku... tapi aku akan membiarkannya untuk menceritakannya sendiri padaku... tapi tanpa aku sadari, hal itu berhubungan dengan takdir yang tidak bisa aku hindari...


Keadaan Yui mulai membaik dan dia bisa kembali berdiri dengan benar. Pandangannya tidak pernah berhenti menatap gunung tertinggi itu, tapi yang sebenarnya Yui lihat adalah sesuatu atau seseorang yang berada dibalik gunung.


“Yui... apa yang kau lihat?” tanya Yugi yang penasaran kenapa Yui terus menatap gunung itu.


“Yugi... ayo kita pergi ke balik gunung itu.” Bukannya menjawab Yui malah mengajak Yugi untuk pergi ke balik gunung.


“Memangnya ada apa disana?” tanya Yugi.


“Aku juga tidak tau, hanya saja firasatku berkata ada sesuatu di sana.” Jawab Yui.


“Baiklah kalau itu maumu, ayo kita pergi...” Yugi mengembangkan sayap naganya dan terbang menuju gunung diikuti oleh Yui yang juga terbang dengan sayap naga sejatinya berwarna putih.


Dibalik gunung terlihat seorang gadis yang umurnya sudah genap 18 tahun sedang berlatih seorang diri. Sebuah aksara sihir cokelat kekuningan yang begitu rumit terbentuk didepannya, kedua mata dia pejamkan dengan konsentrasi penuh. Tiba-tiba dia membuka kedua matanya dan lingkaran sihir itu bersinar lebih terang kemudian mengeluarkan peluru batu yang begitu banyak menghantam batu besar didepannya layaknya bombardir. Debu tanah menutupi pandangannya sehingga tidak bisa melihat hasil kerja kerasnya itu, tapi angin mulai berhembus dan menghilangkan debu tersebut sehingga batu yang sebelumnya berdiri kokoh terlihat sudah hancur berantakan seperti diterjang badai. Wanita itu mengambil nafas pelan dan menghembuskannya secara perlahan kemudian tersenyum senang melihat hasil yang cukup memuaskan baginya.


“Hari ini kurasa sudah cukup... waktunya kembali ke tenda.” Sebelum wanita itu kembali ke kelompoknya sebuah suara batu kecil yang jatuh membuatnya bersiaga karena menganggap ada musuh dibalik batu besar yang berada disamping kanannya. “Siapa disana?” teriak wanita itu dengan wajah serius.


“Siapa kau?” tanya perempuan itu sambil membuat sebuah lingkaran sihir didepannya.


“H-hei tunggu dulu, apa seperti itu caramu menyambut seseorang. Sebaiknya sebelum menanyakan nama seseorang kau harus lebih dulu memperkenalkan dirimu.” Ucap pemuda itu yang ternyata Yugi sambil mengangkat tangannya ke atas karena ancaman dadakan dari wanita didepannya.


“Jawab pertanyaanku...” lingkaran sihir wanita itu semakin terang dan siap untuk menyerang.


“B-baik... kau ini wanita yang tidak bisa diajak bicara dengan tenang ya.” Yugi melemaskan badannya dengan santai dan berkacak pinggang dengan senyuman diwajahnya. “Namaku Yugi, seorang petualang... sekarang giliranmu nona.”


“Aku...” wanita itu berpikir sedikit mengenai identitasnya. ‘Lebih baik aku memakai nama palsu saja, bisa gawat kalau ada orang lain tau kalau aku ini seorang tuan putri.’ Batin wanita itu, dia kemudian menatap Yugi dengan postur sedikit santai. “Namaku Lanya.” Ucapnya singkat.


“Lanya, nama yang bagus.” Balas Yugi dengan senyuman cerahnya.


Lanya sedikit tersipu malu saat melihat senyuman yang begitu tulus dari Yugi. Dadanya sedikit berdebar walau dengan cepat dia menetralkannya, tatapannya berubah menjadi serius kembali, pandangannya tidak lepas dari Yugi yang merupakan orang yang sangat mencurigakan baginya.


“Kenapa kau bisa berada disini?” tanya Lanya.


“Aku hanya jalan-jalan saja mencari angin segar, lagi pula kenapa kau juga berada disini?” Tanya balik Yugi.


“A-aku sedang berlatih.” Jawab Lanya.


“Seorang diri?” tanya Yugi.


“Memang masalah buatmu...” kesal Lanya.


“Ya tidak juga sih... tapi bukankah berbahaya berlatih sendirian. Kau tau kan tempat ini jauh dari kota, bagaimana kalau ada monster atau orang jahat disini...?” Tanya Yugi.


“Aku tidak takut, lagian hanya kau orang yang mencurigakan disini, atau sebenarnya kau ini orang jahat.” Ucap Lanya yang sudah memasang kuda-kuda bertarung.


“Hey lihat baik-baik, apa aku ini seperti orang jahat. Aku ini seorang petualang apa matamu buta hah...” protes Yugi yang tidak terima dikatai orang jahat.


“Memang benar kelihatannya kau seperti seorang petualang, baik aku percaya padamu.” Ucap Lanya yang kembali ke mode rileksnya.


“Kau itu hebat ya...” puji Yugi.


“Maksudmu?” tanya Lanya yang tidak mengerti perkataan pemuda didepannya.


“Kau tidak takut sama sekali walau seorang diri di gunung yang dingin dan gelap ini, kebanyakan wanita tidak menyukainya...” jelas Yugi.


“Seenaknya saja, aku ini bukan wanita yang manja. Aku tidak takut kalau hanya sebatas ini, dan di atas juga ada bulan dan bintang bersinar menerangi gunung, jadinya tidak terlalu gelap. Jangan samakan aku dengan mereka...” protes Lanya.


“Iya ya, kau tidak perlu semarah itu kan.” Balas Yugi.


“Kau yang mulai duluan...” ucap Lanya.


“Aku rasa kita sudah saling terbuka...” ucap Yugi.


“Hemph... kau tidak terlalu buruk juga, Yugi.” Balas Lanya dengan senyumannya walau masih memasang ekspresi serius.


“Kau cantik kalau tersenyum seperti itu, Lanya...” puji Yugi sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


“J-jangan sembarangan, dasar laki-laki mesum.” Teriak Lanya dengan nada sedikit gugup plus malu.


“A-aku tidak mesum.” Protes Yugi.


“Diam, lebih baik kau pergi saja sana.” Usir Lanya dengan wajah marah yang terkesan imut dengan rona merah di pipinya.


“Kenapa aku harus menuruti perintahmu.” Ucap Yugi dengan acuhnya.


“Berani sekali kau...” ucap Lanya dengan wajah kesalnya.


“Memangnya kenapa?” ucap Yugi sambil memasang wajah mengejeknya.


“Rasakan ini...” Lanya membuat lingkaran sihir didepannya dan menembakkan beberapa batu kearah Yugi tanpa sadar karena emosi. “Ah astaga awas...” ucap Lanya yang baru saja sadar telah melancarkan serangannya.


“...” Yugi hanya diam saja sambil menghentakkan kaki kanannya sekali dan seketika terbentuklah perisai es didepannya.


Duar duar duar


Ledakan terjadi akibat serangan Lanya yang menabrak dinding es milik Yugi dan mengakibatkan debu berterbangan menghalangi pandangan.


“H-hei... k-kau tidak matikan...” ucap Lanya dengan rasa bersalahnya.


“Cuma segini sih tidak akan membuatku mati.” Ucap Yugi yang berjalan melewati kepulan asap tadi.


“Aahhh...” Lanya memasang wajah lega melihat keadaan Yugi baik-baik saja. Tapi wajahnya kembali menjadi kesal dan merasa tidak bersalah dengan kejadian tadi. “Itu bukan salahku, itu salahmu... suruh siapa membuatku kesal.”


“Eh kenapa aku yang salah?” tanya Yugi yang bingung dengan keadaannya yang seharusnya dialah yang marah karena hampir menjadi korban akibat serangan Lanya.


“Tentu saja kau yang salah.” Balas Lanya.


“Sepertinya laki-laki selalu salah dimata perempuan, lagi pula kenapa kau kesal, memang apa yang telah aku lakukan?” tanya lagi Yugi dengan ekspresi polosnya.


“I-itu...” Lanya bingung harus berkata apa lagi, dia sudah kehilangan kata-katanya karena terus saja dihujani pertanyaan yang membuatnya kesal. “Sudah berhentilah bertanya dasar lelaki mesum.” Teriak Lanya marah.


“Heeeee... aku tidak pernah mengerti akan perasaan wanita. Mereka terlalu rumit buat dimengerti...” ucap Yugi dengan nada lesu.


“Sudahlah, aku mau pergi...” Lanya meninggalkan Yugi yang hanya diam ditempatnya.


Yugi tersenyum senang karena dia berpikir telah mendapatkan satu lagi seorang teman yang menyenangkan. “Sampai jumpa lagi Lanya...” balas Yugi sambil melambaikan tangan dengan senyuman cerahnya.


“Apa-apaan dia itu hemph...” gumam Lanya tidak peduli, walau begitu dia terlihat senang akan pertemuannya dengan pemuda yang begitu misterius, wajahnya yang biasanya selalu terpasang keseriusan mulai sedikit memudar dan terbentuklah senyuman simpul di wajahnya.


Aku tidak tau pertemuanku dengan pemuda itu adalah takdir dari Tuhan atau bukan. Entah kenapa aku sedikit merasa nyaman saat berbicara dengannya, dia seperti guruku... sangat mudah diajak bicara, dan juga... dia memiliki senyuman yang menawan... eh, apa yang aku pikirkan... tidak mungkinkan, kami baru pertama kali bertemu... tapi aku merasa nyaman bersamanya... emmhh... lupakan soal itu, aku juga merasakan sebuah kehadiran sesosok di dalam tubuhnya... atau itu hanya khayalanku saja ya...


Ditempat Yugi sebelumnya, dia masih menatap tempat kepergian Lanya yang baru saja meninggalkannya sendiri. Menurutnya dia wanita yang sedikit aneh, tapi tidak terlalu buruk, kecuali dia merubah sedikit sifat seriusnya yang menurut Yugi agak menyeramkan.


[“Kau merasakannya?”] tanya Yui melalui telepati.


“Yah... aku merasa kalau kami terhubung oleh sesuatu. Aku bahkan tidak mau membayangkannya...” jawab Yugi dengan nada lirih.


[“Jika itu memang dia, aku pikir kau harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya.”] setelah mengatakan itu Yui memutus koneksi mereka dan membiarkan Yugi yang tengah bergelayut dalam pemikirannya.


Andai saja itu benar, apa yang harus aku lakukan... takdir dewa naga kah? Aku harap bisa merubahnya menjadi lebih baik... Lanya, dibawah langit malam ini sebuah takdir sudah terikat... aku berharap bisa merubah semua pemikiran para dewa naga... jika itu memang kau, aku berharap kita bisa saling mengerti satu sama lain... kau tau, aku tidak terlalu suka takdir yang terus saja membelenggu ini... oleh karena itu, aku akan menghancurkan rantai yang mengikat takdir ini untuk selamanya.


Sejak hari itu setiap harinya Yugi selalu mendatangi gunung tertinggi itu saat malam hari. Dan tentu saja dia bertemu dengan Lanya yang tengah latihan, melihatnya yang gigih berlatih membuat Yugi sedikit kagum pada wanita yang baru ditemuinya itu. Kadang kala saat Lanya ingin berganti pakaian tanpa sengaja Yugi melihat itu dan tentu saja Lanya langsung menghantamkan sebuah batu besar kearah Yugi. Tapi tanpa mereka sadari sebuah tali pertemanan sudah saling terikat satu sama lain. Lanya yang sebelumnya agak kesal pada Yugi sudah mulai merubah pemikirannya mengenai Yugi. Menurutnya Yugi adalah pemuda yang begitu unik, baru pertama kalinya dia bertemu dengan orang lain yang bisa diajak bicara santai selain gurunya. Bagi Lanya yang merupakan tuan putri kerajaan bersikap layaknya perempuan pada umumnya itu sangatlah sulit karena dia sudah diajari sejak kecil tentang tatakrama seorang anggota kerajaan. Jadi berbicara santai seperti ini merupakan hal baru baginya. Sedangkan untuk Yugi dia juga menikmati kebersamaannya dengan Lanya, walau begitu dia juga tau kalau Lanya bukanlah orang biasa. Dilihat dari manapun sikapnya yang seperti tuan putri itu mengingatkannya pada tuan putri kerajaan Northern Esla, jadi dia menyimpulkan kalau Lanya adalah seorang tuan putri kerajaan, dia juga tau kalau namanya itu cuma samarannya saja. Yugi hanya perlu menunggu sampai Lanya mau menceritakan mengenai identitasnya yang sebenarnya, untuk sekarang dia ingin memperkuat pertemanan mereka. Yugi berharap kalau status tidak akan menghalangi pertemanan mereka, walau dia tau sendiri kalau hal tersebut tidak mungkin bisa terjadi, bagi mereka yang merupakan anggota kerajaan, berteman dengan seorang rakyat biasa tidaklah baik bagi reputasi mereka. Untuk sekarang dia mengesampingkan masalah itu dan menikmati langit malam berbintang dengan satu bulan bersinar menyinari mereka yang tengah duduk di tepian gunung dengan batu besar di belakang mereka yang agak jauh beberapa meter. Pandangan Yugi dan Lanya terus mengarah ke langit malam penuh cahaya kelap kelip yang begitu indah.


“Malam bisa menjadi sangat indah, terkadang jika kau merasa kesepian, kita bisa memandang langit itu dan tersenyum kearah mereka. Dan seolah... bintang-bintang yang berkelip itu seperti membalas senyuman kita.” Yugi tersenyum lembut memandang bintang dan tidak menyadari kalau Lanya sedang memperhatikannya.


“Hheeemmm... sejak kapan kata-katamu bisa jadi puitis begitu...” Lanya tersenyum menghadap ke bawah.


“Entahlah, kau pikir begitu?” pandangan Yugi beralih kearah Lanya.


“Ya... dan itu tidak pantas untuk seorang pemuda yang taunya hanya bertualang saja.” Ledek Lanya.


“Itu lebih baik dibanding perempuan yang emosional.” Balas Yugi tidak mau kalah.


“Katakan sekali lagi maka kau akan menerima akibatnya.” Ucap Lanya dengan aura mengancam dan rambut cokelat terangnya berkibar layaknya bendera.


Melihat mode amarah milik Lanya membuat Yugi ketakutan dengan wajah yang sudah membiru, baginya wanita yang satu ini lebih menakutkan dibanding Elsa.


“Hei hei jangan bercanda, apa kau ingin menjatuhkanku di ketinggian seperti ini.” Kedua tangan Yugi dia arahkan ke depan untuk menghentikan tindakan Lanya yang ingin menggunakan sihirnya.


“Makanya jangan main-main denganku.” Lanya kembali tenang dan menatap kearah depan. “Yugi...”


Nada yang begitu lembut dikeluarkan oleh Lanya membuat Yugi sedikit bingung dengan suasana yang terkesan hangat. Untuk pertama kalinya dia melihat tingkah Lanya yang sedikit berbeda dan terlihat seperti wanita pada umumnya. Yugi sudah melihat banyak tingkah laku berbeda setiap kali dia bertemu dengan Lanya, menurutnya Lanya adalah wanita yang terlalu rumit untuk dimengerti. Selalu saja ketika Lanya berbuat kesalahan maka dialah yang akan terkena imbasnya. Saat kesal juga Yugi lah yang menjadi pelampiasan amarahnya, setiap saatnya dia selalu mendapatkan pukulan walau dia sendiri tidak bersalah. Tapi karena itu juga mereka menjadi lebih dekat dibanding pertama kali bertemu. Dan sekarang dia melihat tingkah malu-malu Lanya yang terkesan imut, ditambah sinar bulan membuat wajahnya bersinar dan terlihat begitu cantik.


“...” Yugi hanya diam saat Lanya memanggil namanya, dia menunggu Lanya melanjutkan perkataannya.


“Kalau aku memberitahu tentang diriku, apa kau masih mau berteman denganku?” tanya Lanya.


Yugi menatap perempuan disampingnya itu, dia melihat raut wajahnya yang terkesan takut untuk menatap dirinya. Dia tau wanita ini membutuhkan keberanian yang begitu banyak untuk memberitahunya kebenaran tentang dirinya. Yugi tersenyum dan menjawab dengan nada lembut. “Tentu saja, kita akan selalu berteman selamanya.”


Mendengar nada yang tanpa keraguan itu membuat Lanya sedikit terkejut, dia menatap Yugi yang menatapnya dengan senyuman menawan diwajahnya. Seketika wajah Lanya memerah layaknya tomat karena jarak yang begitu dekat membuat nafas Yugi terasa di wajahnya. Dengan cepat dia mendorong Yugi pelan untuk menjaga jarak. “K-kau tidak usah berbicara sedekat itu kan...” ucapnya sambil memalingkan muka.


“Hehehehhe... maaf maaf, jadi apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Yugi.


Lanya yang sudah yakin langsung menatap Yugi dan mengatakan kebenaran mengenai dirinya. Mendengar hal itu membuat Yugi sedikit terkejut walau dia sendiri sudah menebaknya, tapi mendengarnya langsung dari Lanya membuat Yugi senang karena dia mau terbuka padanya.


Aku mendengarkan semua mengenai dirinya, wanita ini langsung menundukkan wajahnya setelah menceritakan semua mengenai identitasnya sendiri. Aku hanya tersenyum kearahnya walau dia sendiri tidak melihatnya... aku akan mengatakan kalau itu semua tidak akan membuat jarak pertemanan kami menjadi renggang. Kedua tanganku memegang pundaknya, membuat kepalanya mendongak kearahku dengan pandangan sayu... aku yang masih tersenyum untuk membuatnya kembali membaik seperti semula... bulan dibelakangku menyinari kami seolah merayakan sebuah pertemuan yang sudah ditakdirkan.


“Aku...”


Untuk sesaat aku menjeda perkataanku untuk melihat matanya yang penuh akan penasaran apa yang akan aku katakan selanjutnya... wanita ini membuatku teringat akan seseorang yang aku kenal, sifatnya yang tidak sabaran membuatku sedikit kewalahan menghadapinya...


“Akan selalu menjadi temanmu...”


Lanya yang mendengarnya mengulas senyuman kecil, wajah murungnya telah menghilang digantikan senyuman cerah. Untuk pertama kalinya bagi Lanya mendapatkan seorang teman yang tidak terlalu mempentingkan soal status. Sekarang dia mulai percaya pada pemuda petualang ini yang telah membuat sifatnya berubah hanya dalam beberapa hari. Pemuda ini, yang beberapa hari lalu tidak sengaja bertemu dengannya. Sekarang mereka menjadi seorang teman yang saling percaya satu sama lain. Walau masih ada sebuah rahasia diantara mereka, tapi hal itu akan terungkap seiring berjalannya waktu. Jika hari itu tiba apakah mereka akan tetap berteman...


Aku senang... Yugi... dia masih mau berteman denganku walau tau akan kebenaran mengenai diriku. Untuk pertama kalinya, aku ingin percaya pada orang lain... Yugi... kau telah mengambil kepercayaanku, aku berharap kau mau mengambil konsekuensinya, dan terus bersamaku...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2