KAISAR ES

KAISAR ES
MEMBATALKAN SEBUAH PERJODOHAN


__ADS_3

Waktu aku datang ke kerajaan ini, aku tidak pernah berpikir akan ikut campur didalamnya. Tapi semua ini sudah terjadi, dan tidak ada jalan untuk mundur sekarang ini. Tatapan mataku menatap kearah dua raja yang memiliki gelar kaisar. Disana juga aku melihat anggota raja yang lain menatapku terkejut. Terlebih Elna yang begitu syok menatapku, mungkin ia berpikir kenapa aku memakai cara seperti ini. Pandanganku beralih pada dua orang yang akan dijodohkan dalam perjodohan konyol ini. Pandangan aku alihkan kembali pada dua raja yang memandangku datar, aura serius yang begitu kentara aku rasakan dari tatapan dua kaisar kerajaan. Sekarang ini, bukan waktunya aku takut... dengan ini, aku akan mengambil langkah... dan masuk dalam konflik kerajaan...


Tatapan semua orang tertuju kepada Yugi... tapi itu tidak membuatnya gentar akan aura permusuhan mereka.


“Apa maksudnya ini?” Rouxias meminta penjelasan pada Reulad akan tindakan pemuda didepannya ini.


“Aku juga ingin mengetahuinya, apa yang kau lakukan Yugi?” Reulad bertanya dengan nada beratnya pada Yugi. Yang ditanya hanya diam sambil melihat mereka secara bergantian.


“Maafkan saya yang mulia, tapi saya tidak menerima perjodohan ini.” Ucap Yugi dengan nada tenang.


“Apa kau tau konsekuensi yang akan kau terima karena telah lancang?” tanya Reulad dengan nada mengancam.


“Saya tau, tapi saya tetap akan menentang perjodohan ini.” Yugi berjalan kearah Rexas dan menatapnya tajam. “Pangeran Rexas Vouleftis... aku menantangmu satu lawan satu.”


“Haaahh...” semua prajurit terkejut mendengar hal itu, seorang pemuda petualang berani menantang pangeran dari klan api. Mereka berpikir mungkin pemuda ini sudah bosan hidup.


“Yugi...” ucap Elna dengan nada pelan yang tersirat akan kekhawatiran.


“...” Rexas diam menatap Yugi sambil menganalisa keadaan. Dilihat dari tatapan mata dan nada bicaranya yang tegas, sepertinya pemuda ini tidak cuma menggertak, hal itu yang dipikirkan oleh Rexas.


“Kenapa, apa kau takut pangeran?” tanya Yugi berusaha memprovokasi.


“Hem... aku terima tantanganmu” jawab Rexas dengan senyuman penuh percaya diri bisa mengalahkan Yugi.


“Baiklah, biarku pertegas, jika aku menang perjodohan ini akan dibatalkan.” Ucap Yugi dengan tegas.


“Tentu, tapi jika aku yang menang...?” tanya Rexas.


“Aku tidak akan menghalangi, dan... aku akan menjadi budakmu seumur hidup.”


Deg


Semua orang kembali dibuat terkejut akan pernyataan Yugi yang sangat berani itu. Entah apa yang dipikirkan oleh Yugi, sampai-sampai ia mempertaruhkan hidupnya sendiri. Semua prajurit dan pelayan yang menyaksikan kejadian itu hanya berpikir kalau pemuda ini sudah gila.


“Setuju...” Rexas menghampiri ayahnya dan menunduk hormat. “Ayah, izinkanlah anakmu ini melakukan duel dengan pemuda itu.”


“Izin ayah berikan padamu, tunjukkan kemampuanmu itu pada semua orang bahwa tidak ada yang boleh macam-macam dengan kerajaan Vouleftis.” Tegas sang raja Rouxias.


“Sudah diputuskan... kita akan bertarung sore ini, persiapkan dirimu.” Ucap Rexas berusaha mengintimidasi Yugi.


Tapi sang penantang tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Rexas. Didalam hatinya hanya ada keinginan untuk menang.


“Aku benar-benar nekad ya...” sekarang Yugi tengah beristirahat dikamarnya, menunggu duel yang akan diadakan sepuluh menit lagi. Dadanya terasa berdetak dengan cepat, karena ini baru pertama kalinya ia menantang seorang pangeran.


[“Yang terjadi biarlah terjadi.. jadi apa rencanamu sekarang?”]


“Entahlah...” ucap Yugi dengan santai sambil membaringkan badannya diatas kasur.


[“Kamu harus berpikir, jangan anggap remeh musuhmu sekarang ini. Kekuatannya tidak bisa kamu kalahkan dengan cara biasa.... aku memprediksi kalau levelnya sudah mencapai penyihir senior level 70.”]


“Eehh begitukah...” tidak peduli.


[“Yugi, jangan remehkan lawan, kamu tidak tau apa yang akan terjadi di arena nantinya.”]


“Tenang saja, selama kamu ada disisiku, aku pasti akan menang.”


Setelah mendengar perkataan terakhir Yugi, hal itu membuat Yui diam membisu, tidak tau harus berkata apa lagi untuk mengingatkan Yugi. Tuannya ini memang keras kepala.


“Sudah waktunya...” Yugi beranjak dari tempat tidur sambil memakai jubah dengan lambang salju dibelakangnya. Pakaiannya yang serba biru muda menambah kesan ketenangan diwajahnya. “Ada kalanya kita harus melawan arus...”


Sebelum kejadian dimana Yugi menentang perjodohan antar kerajaan. Itu terjadi kemarin sore dimana ia didatangi oleh ratu Northern Esla. Saat itu Yugi tengah berada di sebuah hutan belakang kerajaan untuk melakukan latihan. Setelah selesai ia berniat untuk beranjak dari sana. Tapi tiba-tiba sang ratu menghampiri Yugi...


Aku Yugi, hari ini aku baru selesai melakukan latihan yang begitu berat dari sang guru iblis.


“Hari ini begitu berat bagiku...” gumam Yugi.


“Yugi...” panggil Raniya.


“Yang mulia ratu, ada apa memanggil saya?” tanya Yugi dengan sopan.


“Bisa kita bicara sebentar...”


Waktu itu aku melihat wajah ratu Raniya yang begitu gelisah. Aku pun mengiyakan ajakannya dan pindah tempat ke sebuah taman, tempat dimana Elsa untuk pertama kalinya meminta tolong padaku.


“Ratu Raniya...” panggil Yugi.


“Yugi, aku meminta tolong padamu, bukan sebagai ratu... tapi sebagai ibu yang menyayangi anak-anaknya.” Dengan wajah memohon.


“Kenapa Anda bicara seperti itu, apapun permintaan Anda akan saya kabulkan, Anda tidak perlu memohon seperti itu.” Ucap Yugi dengan sedikit panik karena dimintai oleh sang ratu dengan begitu tulus.


“Aku mohon, tolong selamatkan putriku dari perjodohannya, saya memohon nak Yugi.”

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata apapun lagi, melihat seorang ratu yang memohon seperti itu demi putrinya. Itu mengingatkannya pada kasih sayang orang tuanya. Tanpa sadar tatapanku menjadi melembut, sungguh dia mengerti akan perasaannya itu. Melihat hal ini, tidak mungkin aku diam saja... tapi sebelum itu aku harus tau apa alasannya. Dan kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari awal saja perjodohan itu dibatalkan.


“Yang mulia ratu... bisa anda jelaskan secara rincinya.”


Aku pun mendengarkan penjelasan dari sang ratu Raniya, dimana pertunangan itu sudah direncanakan sejak mereka kecil. Tadinya sang ratu berpikir kalau anaknya itu benar-benar menginginkan perjodohan tersebut. Tapi suatu ketika ia melihat putrinya yang sangat sedih karena perjodohan itu. Melihat putrinya yang merasa sangat tersiksa membuat nya tidak tahan melihatnya. Walaupun dia mau membatalkan perjodohan itu, hal itu tidak akan mudah. Karena beliau takut akan pembatalan sepihak itu akan mengakibatkan perpecahan antar dua kerajaan. Mengatakan pada suaminya juga akan percuma saja, karena suaminya dan raja dari Vouleftis yaitu Rouxias sudah bekerja sama cukup lama dan menjalin pertemanan cukup dekat. Hal itu juga membuat Raniya takut kalau pertemanan mereka akan hancur karena perjodohan ini. Maka satu-satunya cara untuk membatalkan perjodohan tersebut tanpa menyinggung pihak manapun adalah dengan duel. Pertarungan satu lawan satu merupakan tradisi yang dilakukan oleh hampir setiap kerajaan jika ada yang menentang sebuah pertunangan yang akan dilangsungkan.


Yugi berpikir keras, mau bagaimanapun resikonya sangat tinggi. Pada awalnya ia sudah menyetujui untuk membantu Elsa waktu itu, dan sekarang ibunya juga meminta bantuan padanya. Yugi merasa kalau beban yang ia pikul merupakan harapan dari anak dan ibu ini. Jika dia mengecewakan mereka, entah kenapa hatinya akan merasa bersalah.


“Akan saya lakukan...”


Setelah mengatakan itu, aku pun tau tidak bisa kembali lagi. Dengan begini mau bagaimanapun jadinya aku hanya bisa melakukannya saja. Dimalam hari, saat aku tertidur lelap, aku pikir tidak akan pernah terjadi kejadian seperti ini.


“Kakak... kak Yugi.”


Entah kenapa tubuhku terasa berat, seperti ditindih oleh sebuah benda yang entah kenapa benda itu terus bergerak naik turun dan membuatku kesakitan dibuatnya. Tidak lama kemudian aku pun membuka mata, dan melihat seorang perempuan yang memakai piama biru tua sedang menindihku. Aku pun terkejut, pasalnya orang itu adalah...


“Hwaaa... E-eeeelnaaa...”


Kenapa dia ada dikamarku, dan kenapa pula dia ada diatas tubuhku. Aku terus berpikir positif, jangan sampai aku hilang kendali dan menyerangnya seperti serigala kelaparan disini... itu hanya sebuah perumpamaan saja.


“Uttsssss... jangan berisik, nanti ketahuan penjaga bagaimana?” ucap Elna dengan suara pelan.


“Kenapa kamu ada disini...?” Tanya Yugi.


“Kak Yugi... aku butuh bantuanmu.” Ucap Elna dengan wajah serius yang terbilang imut.


“Iya, kakak akan membantumu... tapi kamu menyingkir dulu dari atasku.” Ucap Yugi dengan panik.


“Kenapa kakak panik begitu...”


Disengaja atau tidak, Elna malah menggesekkan pinggulnya maju mundur. Entah apa yang terjadi, sepertinya jiwa lelaki Yugi berteriak ingin segera menerkam tuan putri kedua ini.


“J-jangan bergerak...” ucap Yugi.


“Kenapa...?” tanya Elna dengan polosnya, “eh, ini apa...?” Elna baru menyadari ada sesuatu yang menonjol dari bawah nya. Karena penasaran ia pun berinisiatif memegangnya.


“J-jangan dipegang...” panik Yugi yang semakin bertambah.


“Kenapa sih dari tadi kakak terus saja melarangku, memang ini apa...” semakin erat memegang.


“Aahhh...”


“Kenapa kakak membuat suara aneh... aku semakin penasaran, apa gara-gara aku memegang benda yang menonjol ini...” Elna pun semakin penasaran dengan benda yang ia pegang yang masih tertutup kain itu. Sepertinya tuan putri kedua ini rasa ingin tau nya terlalu tinggi.


Akhirnya dengan perjuangan yang begitu keras hanya untuk menahan hasrat duniawinya, Yugi berhasil menghentikan kegiatan tuan putri kedua ini. Jujur saja, rasa ingin tau Elna sangatlah berbahaya. Mungkin sudah saatnya mengajarinya tentang kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Kesampingkan masalah itu, Yugi akhirnya bisa duduk saling berhadapan dengan Elna diatas tempat tidurnya.


“Jadi ada apa Elna datang ke kamar kakak malam-malam begini?” tanya Yugi dengan serius.


“Kakak, tolong selamatkan kak Elsa...” ucap Elna dengan wajah menahan tangis.


‘Sudah kuduga, dia juga tidak ingin perjodohan itu terlaksana.’ Batin Yugi sambil menatap Elna dengan lembut.


“Aku mohon, aku tidak mau melihat kakak Elsa menderita lagi... kak Elsa mengorbankan dirinya untuk kepentingan semua orang. Tapi aku tidak terima itu... aku tidak mau melihat kak Elsa menikah hanya karena terpaksa. Itu bukanlah sebuah kebahagiaan... kak Yugi, Elna mohon, tolong kak Elsa...” Elna sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Akhirnya air mata itu turun begitu saja melewati pipinya. Perasaan yang sudah lama ia pendam, semuanya ia tumpahkan di hadapan Yugi.


Yugi yang melihat pemandangan ini hanya mampu tersenyum senang melihat ketulusan yang begitu besar dari Elna. ‘Ikatan ibu dan anak sangat kuat, dan juga ikatan antara kakak dan adik ternyata sama kuatnya... mereka saling menyayangi satu sama lain. Tidak mau kehilangan satu sama lain apapun yang terjadi... mana mungkin aku menghancurkan harapan mereka.’ Batin Yugi yang begitu terharu dan iri disaat bersamaan melihat keluarga kerajaan ini yang saling memahami satu sama lain.


[“Tapi kenapa sang raja membiarkan begitu saja...”]


‘Kau salah, sang raja juga tidak mau mengorbankan putrinya begitu saja... aku bisa merasakan tatapan yang begitu tidak rela dari nya. Tapi dia hanya menghormati keinginan anaknya yang ingin membuat kerajaan ini menjadi lebih baik lagi. Aku tau betul seperti apa sifat dari Elsa... walau begitu dia hanya memikirkan kebahagiaan rakyatnya.’ Jawab Yugi melalui telepatinya.


Yugi membuka matanya dan menatap Elna dengan senyuman tipis seraya berkata. “Kakak akan mengabulkan keinginanmu... tuan putri Elna.”


Sejak kejadian itu Yugi sudah bersumpah akan mengabulkan keinginan ibu dan anak itu. Dan disinilah dia sekarang, berhadapan dengan pangeran Rexas di arena pertandingan yang mirip lapangan sepakbola dengan dinding yang terbuat dari es mengelilingi mereka. Semua orang dari anggota kerajaan sampai rakyat jelata melihat pertandingan antara petualang muda melawan sang pangeran kerajaan Vouleftis, Rexas Vouleftis. Tatapan keduanya saling bertemu dan berusaha mengintimidasi satu sama lain.


“Menyerah sajalah, masih ada waktu untuk kau mundur sekarang...” ucap pangeran Rexas.


“Anda terlalu percaya diri pangeran... kita masih belum tau sebelum mencoba.” Balas Yugi dengan tenang.


“Pertandingan antara Yugi seorang petualang lanjutan dari Aries dan Pangeran Rexas Vouleftis Seorang Penyihir Senior. Saya Rofald sebagai wasit dalam jalannya pertarungan ini.” Seorang kepala pelayan dari kerajaan Northern Elsa sekaligus kakak dari Rufald akan menjadi wasit dalam pertarungan antara Rexas dan Yugi. “Bersiaplah, pertarungan... DIMULAI...”


Wush


Wush


Kedua orang itu saling melesat satu sama lain untuk memangkas jarak. Saat berada tepat digaris serang, mereka saling mengeluarkan pedang dan beradu.


Traaannkkk...


Sebuah benturan keras terjadi, mereka saling mendorong dan tidak ada yang mau mengalah. Tatapan mereka kian menajam, seolah melihat mangsa yang siap diterkam. Tidak lama mereka pun saling mementalkan satu sama lain dan melompat mundur guna menjaga jarak.


“Walau hanya seorang petualang lanjutan, kemampuanmu boleh juga...” ucap pangeran.

__ADS_1


“...” Yugi tidak membalas perkataannya, ia hanya berpikir bagaimana caranya mengalahkan Rexas.


[“Kau yakin tidak ingin menggunakan Eternal Snow?”]


‘Kita sudah membahasnya, untuk sekarang akan kugunakan pedang lama ku.’


Mendengar penolakan dari Yugi, Yui hanya mampu menghela nafas didalam dimensi buatannya.


[“Terserah kau saja... berusahalah.”]


‘Terima kasih dukungannya...’ Yugi melompat tinggi menghindari bola api yang baru saja dilancarkan oleh Rexas.


“Boleh juga... tapi masih belum cukup.” Rexas merentangkan tangan kirinya, dari sana tercipta lingkaran sihir jingga yang mengelurakan panas api. “FIRE BALL...” bola api berukuran sedang melesat kearah Yugi.


“...” dengan lihainya Yugi menghindari semua bola api itu dengan sempurna.


Duar duar duar


Bola api yang dapat dihindari meledak dibelakang Yugi dengan ledakan yang cukup kuat. Bisa dilihat tercipta kawah yang cukup dalam akibat ledakan tadi.


“Apa kau hanya bisa menghindar saja.” Ejek Rexas.


“Berusaha memancingku rupanya... tapi tidak buruk.” Yugi berlari mengitari Rexas dengan tangan kiri dia rentangkan kedepan. “Water Ball...” bola air terbentuk dan melesat kearah Rexas.


“...” dengan cepat Rexas melompat ke udara, tapi Yugi sudah memprediksi hal itu.


“Water Ball...” lagi-lagi bola air terbentuk tiga buah dan melesat secara bersamaan ke arah Rexas.


Melihat itu Rexas tidak tinggal diam, pedang dengan gagang merah itu ia tebaskan kearah bola air. Ketiga bola air itu tertebas dengan sempurna.


Splash splash spalsh


“Hanya itu...” remeh Rexas.


“Jangan lengah pangeran...” tiba-tiba bola air yang pecah itu berubah menjadi jarum-jarum es kecil. “Serangan lanjutan... Ice Needle.”


Tidak tinggal diam, Rexas melapisi dirinya dengan api guna menghalau jarum-jarum es yang di luncurkan oleh Yugi. “FIRE BODY...” guma Rexas.


“Dia melapisi tubuhnya dengan api... kalau begini aku tidak bisa mendekat.” Gumam Yugi.


“Hiyaaaaa...” Rexas melesat kearah Yugi dengan pedang yang juga dilapisi api.


TRaaannkkk


Adu skill pun tidak dapat dihindari, keduanya saling menebas dan bertahan. Tapi yang paling banyak bertahan adalah Yugi.


Traaannkk


Rexas menebas secara vertikal yang kemudian ditahan oleh yugi secara horizontal didepan wajah. Kembali lagi, Rexas menebas secara diagonal dari atas ke kanan bawah tubuh Yugi. Tapi dengan teknik yang pas Yugi berhasil menghalaunya dan membuat serangan Rexas membentur tanah.


‘Panas...’ batin Yugi yang merasakan kobaran api dari tubuh Rexas. Secara reflek Yugi melompat mundur untuk melakukan serangan lanjutan. Tapi niatnya ia urungkan karena sebuah gelombang api tiba-tiba muncul di hadapan Yugi.


“FIRE SLASH...”


Blaaaarrrrr...


Serangan itu telak mengenai Yugi, sebuah asap mengepul dari tempatnya. Membuat semua orang tidak bisa melihat keadaan Yugi.


Ditempat penonton keluarga kerajaan, terlihat Elna dan Raniya yang begitu khawatir dengan keadaan Yugi. Begitu pula Elsa, dia terlihat sangat khawatir dan juga bingung kenapa Yugi melakukan semua ini hanya untuknya.


Kenapa, bukankah aku sudah bilang untuk tidak ikut campur. Aku tau ini pasti permintaan dari ibu dan adikku. Kenapa kamu menurutinya, sejak awal aku sudah bilang untuk tidak melakukannya.


Kejadian seminggu yang lalu sebelum duel dimulai, tepatnya di taman istana dimana untuk pertama kalinya Elsa meminta sesuatu pada Yugi.


“Tolong... jika suatu saat ibu dan adikku meminta sesuatu menyangkut tentang diriku, kumohon tolak permintaan mereka.” Ucap Elsa.


“Apa yang terjadi sebenarnya, apa maksud dari perkataanmu?” tanya Yugi yang bingung akan permintaan Elsa.


“Seminggu lagi, aku akan dijodohkan oleh ayahku untuk menikahi pangeran dari negeri seberang. Aku pun hanya bisa menurut dan mengiyakan permintaan ayahku, demi kedamaian kerajaan ini. Tapi ibu dan adikku menentangnya, aku tidak tau harus berbuat apa. Kemudian aku meyakinkan mereka, akhirnya mereka mengerti. Tapi aku masih punya firasat mereka akan melakukan sesuatu untuk menggagalkan pernikahan ini. Dan saat aku membaca isi hati mereka... mereka memilihmu, sebagai penyelamatku.” Jelas Elsa panjang lebar.


“Ini aneh, apa kau menyetujuinya begitu saja?” Tanya Yugi.


“...” tidak ada jawaban dari Elsa. Kepalanya ia tundukkan ke bawah.


Melihat hal itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Yugi. “Jawab aku, apa kamu setuju untuk menikahinya atau tidak?” tanya lagi Yugi dengan nada yang tegas.


“Demi kepentingan kerajaan ini, akan kulakukan apapun...” jelas Elsa dengan serius sambil menatap Yugi penuh keyakinan.


Yugi menatap mata Elsa dengan seksama, kita tidak perlu tau isi hati seseorang jika ingin mengetahui kebohongannya, karena menurut Yugi, ia cukup menatap mata orang tersebut. Dan ia tau... “Owh begitu, ya sudah...” Yugi berbalik meninggalkan Elsa. “Jika itu yang kau yakini, maka lakukanlah...”


Disana terlihat Elsa yang hanya mampu tersenyum mendengar perkataan Yugi. Menurutnya ini adalah yang terbaik. Tapi entah kenapa air mata mengalir begitu saja dari pipinya. “Eh... kenapa aku menangis...” Elsa berusaha menghapus air matanya tanpa suara. Dia tidak mau seseorang melihatnya menangis seperti ini.

__ADS_1


Sayangnya, Anda tidak bagus dalam berbohong... Putri Elsa...


Bersambung


__ADS_2