
Kejadian tidak terduga kami alami... misi penyelidikan rumah besar bekas eksperimen monster yang mengerikan, Green Snake... Harimau Ungu... Burung Raksasa dengan bulu cokelatnya... ketiga monster itu yang menyambut kami setelah memasuki rumah ini. Dan saat itu...
Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu yaitu penyerangan burung raksasa terhadap Vira yang untungnya berhasil Yugi kalahkan dengan semburan es bertekanan tinggi miliknya. Disaat itu Yugi benar-benar mengamuk dan tanpa sadar menggunakan energi yang begitu besar sampai burung raksasa yang entah apa namanya itu membeku dengan ukuran batu es yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Karena kejadian itu kini Yugi menjadi lebih waspada di sekitarnya demi keselamatan muridnya itu.
Sekali lagi, aku hampir kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku. Karena kelengahanku, aku membuat Vira mengalami hal yang mengerikan. Jika saja aku terlambat sedikit saja, maka...
Pandangan Yugi terarah pada Vira yang sudah sedikit membaik sambil membereskan perlengkapan mereka yang sempat berantakan.
Sedikit pun aku tidak mau membayangkannya...
“Guru...”
Panggil seorang gadis dengan senyuman ramahnya kearah Yugi sehabis merapikan perlengkapan mereka.
Aku ingin menjaga senyuman itu...
“Sudah selesai?” tanya Yugi.
“Emh...” Vira membalasnya dengan anggukan kepala pertanda iya.
“Baiklah, ayo kita lanjutkan.”
Untuk pertama kalinya aku... melihat sisi yang begitu sangat rapuh darinya... sisi yang sudah lama menghilang... itu pernah terjadi saat pertemuan pertama kami. Saat itu tatapannya sama dengan yang sekarang, rasa takut akan kematian... ya... aku pun pernah merasakannya...
Langkah kaki mereka melewati lorong sebuah ruangan rahasia, pintu ini terbuka saat Yugi tidak sengaja menyentuh sebuah buku yang berada di ruangan kerja sang pemilik rumah tersebut.
‘Aku tidak menyangka kalau akan ada ruangan rahasia disini, tapi jika dipikir lagi masuk akal juga. Lagian ini bekas eksperimen, pasti banyak hal yang disembunyikan disini.’ Batin Yugi.
Beberapa menit yang lalu dimana setelah Vira membereskan perlengkapan mereka yang sempat berantakan akibat serangan dadakan monster burung, Yugi tanpa sengaja bersender kesalah satu rak buku dengan leganya setelah menyelamatkan muridnya itu. Disana tangan kanan Yugi yang terkulai lemas ke bawah dengan reflek mendorong buku berwarna hitam yang mengakibatkan terbukanya ruangan rahasia tersebut.
Dan disinilah mereka, tempat yang hanya diterangi oleh cahaya batu kristal yang didalamnya terdapat energi sihir kecil yang mengakibatkan batu itu bersinar dan menerangi jalan yang mereka lalui. Batu-batu berbentuk kristal itu banyak di jumpai di beberapa toko perlatan sihir, kebanyakan berada di toko peralatan rumah tangga. Karena memang gunanya cahaya batu itu sebagai lampu disaat malam hari tiba. Banyak juga di pinggir jalan, alun-alun kota dan beberapa di luar toko yang dipasang lampu kristal sihir guna para pejalan kaki saat melakukan aktivitas dimalam hari, sehingga walau malam sekali pun mereka masih bisa melihat jalan.
“Tidak kusangka akan ada ruangan bawah tanah seperti ini, dan semakin lama semakin lembab disini.” Ujar Yugi yang berada didepan. Sekarang yang memimpin jalan adalah Yugi, itu karena dia tidak mau sampai ada sebuah tragedi yang menimpa muridnya tersebut.
“Guru...” suara Vira terdengar menggigil, saat Yugi melihat ke belakang, di garis pandangannya Vira memeluk dirinya sendiri dengan uap yang keluar dari mulutnya.
“Vira, kamu kedinginan?” tanya Yugi yang khawatir, dengan cepat dia mengambil sebuah mantel tebal di ruang penyimpanan sihirnya, mantel itu dia dapat dari kerajaan Northern Esla, dengan cepat Yugi memakaikannya pada Vira.
“Hhmm...” Vira tidak bisa menjawab pertanyaan gurunya itu karena hawa dingin yang sudah lama menyelimutinya.
Yugi tidak tahu kalau Vira sampai tidak tahan dengan hawa dingin ini, padahal dirinya masih baik-baik saja walau dengan pakaian yang lumayan tipis dia pakai. Tapi jika dipikir lagi kalau dirinya itu pengguna sihir Dragon Slayer es, mungkin karena itu dia bisa tahan dingin, dan jangan lupa dengan pedang dewa naga es nya.
“Vira, apa kau masih sanggup?” tanya Yugi.
“I-iya.” Jawab Vira walau dengan nada lemah.
‘Sepertinya kami sudah semakin dekat dengan sumber hawa dingin ini.’ Batin Yugi sambil melihat kearah depan mereka yang terdapat cahaya putih disana. Sepertinya itu titik akhir dari perjalanan mereka.
__ADS_1
Setelah melihat Vira yang mulai terbiasa dengan dinginnya hawa yang mereka rasakan, Yugi meneruskan perjalanan bersama Vira yang menggenggam baju Yugi supaya dia tidak tertinggal. Semakin dekat dengan tempat tujuan udara disana pun semakin dingin, bahkan untuk Yugi, dia pun bisa merasakan hawa dingin ini.
Tap tap
Langkah keduanya berhenti saat berada didalam sebuah ruang laboratorium besar lengkap dengan tabung-tabung raksasa yang didalamnya terdapat cairan biru keabu-abuan yang begitu keruh. Beberapa alat penelitian juga terlihat disana dan masih berfungsi, beberapa kabel tersebar dimana-mana dan terhubung pada satu batu kristal besar. Dilihat lebih teliti lagi ternyata itu adalah sumber energi sihir.
“Batu sihir, terlebih lagi ukurannya cukup besar. Sepertinya itu adalah sumber tenaga disini.” Gumam Yugi.
Vira yang penasaran melepas genggaman tangannya dari baju belakang Yugi dan berjalan kearah salah satu tabung raksasa yang terus mengeluarkan buih-buih seperti air yang mendidih.
Yugi sendiri tidak sadar kalau Vira sudah tidak ada bersama dengannya, dia sibuk melihat-lihat benda yang belum pernah dia lihat, beberapa terlihat sudah rusak disana-sini. Ada beberapa kertas tergeletak di sebuah meja tua disana. Yugi melihat satu per satu kertas tersebut dan membacanya. Jika dilihat itu ternyata sebuah catatan lama, dari catatan itu terdapat catatan penelitian dan sebuah buku harian.
“Apa ini hasil dari penelitiannya. Dan sebuah buku harian...” Yugi melihat sekelilingnya dan kembali menatap buku cokelat yang dia genggam. Kemudian dia melihat kearah kertas penelitian tua itu dan membacanya, disitu terlihat sebuah gambar monster, sebuah gambar monster yang begitu aneh, atau lebih tepatnya seperti penggabungan lebih dari satu monster. “Chimera... nama yang aneh. Selain itu aku penasaran dengan isi buku ini, maaf kan aku sang pemilik buku.” Dengan rasa penasarannya, Yugi membuka buku dari halaman pertama dan membacanya.
Sementara dengan Vira, dia masih asyik melihat-lihat tabung itu, sepertinya rasa penasarannya telah mengalahkan rasa dingin ruangan tersebut. Dia masih menatap tabung raksasa yang ukurannya lebih besar dari tabung yang lain, dan hal itu menimbulkan rasa keingintahuannya.
“Awal bulan di tahun 457 kerajaan Eartfil. Aku membuat sebuah penelitian yang sangat besar...”
[Aku berpikir kalau itu adalah sebuah kemajuan sebagai makhluk piaraan yang kubuat. Dengan berpikir menggabungkan lebih dari satu hewan panggilan, aku berusaha membuat spesies yang berbeda...]
“Membuat sebuah hewan panggilan spesies yang berbeda, apa maksudnya membuat hewan spesies langka atau sejenisnya?” Tanya Yugi entah pada siapa, kemudian dia lanjut membaca ke halaman selanjutnya.
[Sebulan berlangsung dalam penelitian spesies baru dimana tahap ini sudah mencapai fase kedua. Tapi masih banyak kekurangan, seperti halnya mereka masih tidak bisa membiasakan satu sama lain. Setelah melakukan penggabungan dua monster panggilan, mereka malah saling menghancurkan diri sendiri saat digabungkan...]
“Menggabungkan kedua monster?”
Yugi mulai bingung akan catatan profesor tersebut, tapi jika dilihat baik-baik gambar yang sebelumnya Yugi lihat, sepertinya monster itu memang memiliki bentuk tubuh yang aneh, seperti lebih dari satu monster dalam satu tubuh.
Yugi yang mulai kelelahan karena terus berdiri sambil membaca buku, berjalan kearah belakang meja dan duduk di kursi tua yang tidak terpakai itu. Dia meletakkan bukunya di atas meja dan kembali membacanya tapi dia langsung melompati ke halaman terakhir.
[Akhirnya penelitianku berhasil melewati fase kedua dan mulai ke tahap ketiga. Ternyata kekurangan dari penggabunganku adalah harus memakai tiga monster panggilan, dengan begitu mereka tidak akan saling menyerang dirinya sendiri. Dengan monster ketiga dari kedua monster maka bisa menyeimbangkan baik kekuatan, ketahanan dan daya hidup mereka. Serta dengan sedikit kecerdasan monster itu bisa berpikir selayaknya manusia, hanya saja itu cuma sebagian kecil saja. Tapi dengan begini penelitianku sudah selesai.]
‘Penelitiannya sudah selesai, tapi monster apa yang dimaksud? Apa itu yang bernama Chimera seperti yang ada digambar kertas ini?’ tanya batin Yugi sambil tangan kanannya menggenggam kertas bergambar monster bersayap yang terlihat menyeramkan.
Beberapa saat dia baru menyadari kalau Vira tidak ada bersamanya, karena terlalu asyik membaca buku dia sampai melupakan muridnya tersebut. Dia pun mencarinya ke sekeliling ruangan dan mendapatinya tengah termenung melihat ke sebuah tabung raksasa yang didalamnya terdapat sebuah cairan aneh yang begitu banyak. Yugi pun berjalan menghampiri Vira yang terdiam disana.
Dengan Vira sendiri, dia melihat sebuah tombol berwarna merah didepannya yang dimana itu terhubung dengan tabung raksasa tersebut. Karena penasaran akhirnya dia pun menekan tombol tersebut dan seketika cairan didalam tabungnya semakin mengeluarkan buih-buih yang begitu banyak seperti air yang sudah sangat mendidih sampai mengeluarkan asap dari tabung raksasa itu.
“E-eh...” bingung Vira plus agak takut. ‘Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan. Kalau ketahuan aku pasti akan dimarahi guru.’ Batinnya dengan keringat dingin di pelipisnya.
Yugi yang melihat perubahan aneh pada tabung itu langsung saja berlari kesana dan berdiri didepan Vira untuk melindunginya.
“Apa yang terjadi?” tanya Yugi.
“A-aku... maaf guru...” ucap Vira terbata dengan air mata yang sedikit keluar dari matanya.
‘Entah kenapa Vira menjadi terlihat begitu rapuh dari biasanya. Dia terlihat sangat feminim, seperti halnya gadis yang seumuran dengannya.’ Batin Yugi yang terkesan terpesona oleh keimutan muridnya yang secara tiba-tiba muncul itu. ‘Ah apa yang kau pikirkan dasar bodoh...’ lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya guna menghilangkan khayalan anehnya. Atau bisa dikatakan hampir saja dia akan menjadi om pedo.
__ADS_1
“Gaaarrrhhhh...” sebuah suara auman harimau, elang dan desisan ular yang muncul disaat bersamaan yang berasal dari tabung besar itu. Rauman itu terdengar mengerikan saat ketiga suara berbeda itu menjadi satu.
Yugi merasakan firasat buruk, sepertinya makhluk yang dia lihat di kertas catatan profesor ada hubungannya dengan auman keras tadi.
“J-jangan bilang kalau monster hasil penelitian itu ada didepanku ini. Dan dia masih hidup...” ucap Yugi dengan suara setengah bercanda, walau begitu terasa ada sedikit tekanan didalam dirinya saat merasakan aura membunuh yang cukup kuat dia rasakan.
Bahkan untuk Vira yang masih sangatlah jauh dari levelnya yang sekarang, aura membunuh didepan mereka sudah sangat membuat Vira bersusah payah guna tetap berdiri saat dihadapkan oleh hawa membunuh pekat tersebut.
“G-guru...” Vira memeluk Yugi dari belakang sambil memegangi pakaiannya dengan erat, tangan mungilnya bergetar seperti gadis yang minta pertolongan.
Yugi yang merasakan ketakutan dari diri Vira langsung mengeluarkan penghalang aura supaya hawa membunuh didepan mereka sedikit berkurang. Itu terlihat cukup ampuh karena Vira sudah tidak terlalu takut sekarang, tapi genggaman tangannya pada pakaian Yugi belum dia lepaskan.
“Sepertinya ini akan sedikit merepotkan.” Gumam Yugi begitu melihat sebuah mata merah menyala dari dalam tabung berisi air keruh itu.
Cring
Kaca tabung tersebut mulai retak sedikit demi sedikit...
Cring cring cring
Menjalar ke semua sisinya dan mengeluarkan air yang didalamnya seperti pancuran yang mengalir keluar.
Pyaaaarrrrrr
Karena retakan yang sudah banyak mengakibatkan tabung tersebut pecah dengan beberapa kepingan besar dan kecil sehingga air yang ada didalamnya keluar semua. Dari dalam tabung itu sesosok makhluk berjalan pelan dengan tubuh raksasa. Kabut yang dihasilkan oleh air yang mendidih itu mulai menghilang dan menampakkan sosok monster yang begitu mengerikan. Dengan badan dan kepala seekor harimau ungu dengan taring tajam dan tanduk runcing, sayap cokelat yang membentang dipunggungnya ditambah ekor ular hijau dengan kepalanya sebagai ujung terlihat melambai-lambai dibelakang badan harimau tersebut. Terlihat jelas monster dengan penggabungan dari beberapa monster yang menjadi satu individu yang menakutkan. Ukuran monster ini lebih besar dari harimau yang sebelumnya pernah Yugi lawan, bahkan ruangan laboratorium itu seperti halnya kandang raksasa bagi hewan buas ini. Tatapan mata merahnya menatap tajam kearah Yugi, dengan air liur yang menetes, sang monster sudah menargetkan Yugi sebagai sasaran pertamanya.
Didalam pikirannya, Yugi merasa kalau hewan ini mirip dengan gambar yang sebelumnya dia lihat. “Ternyata benar, dia adalah makhluk yang ada didalam catatan itu. Astaga, aku tidak tahu kalau dia masih ada disini.” Yugi memasang gestur siap bertempur, sesaat dia menatap kearah Vira yang berada dibelakangnya yang masih setia menggenggam dirinya. Yugi tersenyum kecil kearah Vira guna menenangkannya dari rasa takut.
Melihat senyuman itu membuat Vira sedikit tenang dan perlahan melepaskan genggamannya pada baju Yugi. Dia pun mengambil jarak dengan mundur ke belakang untuk memberi gurunya tersebut ruang karena sepertinya dia hanya akan mengganggu pertarungan gurunya tersebut.
Muridnya yang mengerti akan situasi saat ini langsung saja mencari tempat bersembunyi. Untuk memastikan kalau Vira sudah ke tempat yang aman, dia menatapnya sampai Vira bersembunyi dari mereka. Kini tinggal mereka saja yang saling mengeluarkan aura permusuhan satu sama lain, Yugi kembali menatap monster itu dengan tatapan tajamnya yang sedingin es.
“Ayo kita mulai... Chimera.”
Makhluk yang diciptakan dari tiga monster yang menjadi satu, terlihat begitu kuat. Bahkan manusia pun bisa membuat sesuatu yang diluar akal mereka. Memang sedari dulu sudah tidak masuk akal, tapi ini seperti halnya menciptakan sebuah bencana bagi umat manusia...
Diluar mansion terlihat seorang perempuan berambut cokelat terang dengan mata hitamnya menatap bangunan didepannya. Dia memakai pakaian seperti ksatria wanita pada umumnya dengan pedang yang bersarung di pinggang kirinya. Surainya berkibar tertiup angin di setiap langkah kakinya. Tanpa ragu dia memasuki rumah itu yang terlihat seperti reruntuhan didalamnya. Ada beberapa bangkai monster berbentuk ular berwarna hijau tergeletak disana sini. Perempuan ini penasaran siapa yang bisa melakukan semua ini. Tidak berhenti disana, dia melanjutkan perjalanannya keruang yang lebih dalam. Saat mencapai ruang tamu sebuah serpihan es berserakan dimana-mana. Ada sehelai bulu berwarna ungu dikakinya, karena penasaran dia pun mengambil dan merabanya.
“Bulu ini, dari seekor monster berbentuk hewan.” Ucap nya dengan wajah menyelidik.
“Groooaarrrrrrggghhhhh...”
Sebuah auman keras terdengar oleh wanita itu yang berasal dari ruangan yang lain. Dengan cepat dia berlari kearah sumber suara tersebut.
Siapa yang bisa sampai sejauh ini... apa dia adalah seorang petualang...
Yugi berdiri dengan tegapnya dan menatap tajam monster didepannya. Perpaduan dari tiga monster yang menjadi satu itu menatap dirinya buas, tapi hal itu tidak membuat nyalinya menciut. Dengan segenap tekad yang mantap, Yugi mengambil kuda-kuda menyerang sambil membuat sebuah pedang es di tangan kanannya. Tidak berselang lama dia pun mulai melesat kearah monster yang bernama Chimera tersebut.
__ADS_1
Aku tidak akan pernah, membiarkan siapa pun menyakiti orang yang kusayangi...
Bersambung