KAISAR ES

KAISAR ES
KOMPETISI DILANJUTKAN KEMBALI


__ADS_3

Malam hari di kota Eartfil, sama seperti malam sebelumnya, namun di malam ini merupakan malam penentuan bagi muridku.


Benar, malam bulan purnama, saatnya melihat apakah kenaikan levelnya bisa menahan darah Vampire Vira bangkit...


Dikamar penginapan, terlihat Yugi yang duduk di atas kasurnya sambil memandangi Vira yang bersemedi di lantai ditemani Neo disampingnya. Aura kemerahan terpancar dari tubuh setengah vampire itu, mengalir dengan tenangnya mengelilingi tubuh. Saling menyilang dan melingkar kemudian menjadi satu di tengah pusarnya. Hal ini dilakukan agar darah vampire yang ada didalam diri Vira bisa di kendalikan walau sekarang sedang bulan purnama.


“Memusatkan pikiran untuk tetap tenang disaat darah vampire ingin mengendalikan dirimu. Bulan di malam ini terlihat begitu terang, sangat sempurna untuk kebangkitannya. Vira, jangan kalah oleh dirimu yang lain.”


Perkataan Yugi entah tersampaikan atau tidak, karena wajah serius Vira dengan keringatnya yang banyak, konsentrasi yang begitu serius, mungkin saja hanya angin lalu baginya. Neo sendiri yang berada disampingnya bisa merasakan aura yang begitu kuat yang tengah memberontak. Darah manusia setengah Vampire selalu dihadapi oleh pilihan dimana dia harus menengahi kemanusiaannya dan darah monster Vampire. Ras Vampire sendiri bisa dibilang sebagian dari ras monster yang sangat disegani, tapi banyak yang mengatakan mereka adalah ras manusia setengah hewan. Karena perawakan mereka yang mirip manusia dibanding monster sehingga tidak heran jika monster Vampire sering disandingkan dengan manusia. Sementara ras hewan sendiri biasa di sebut sebagai ras monster yang perawakannya memang menyerupai monster, tapi ada juga ras manusia setengah hewan atau perpaduan manusia dengan monster yang melahirkan manusia setengah hewan, itulah ras yang sering dibenci oleh ras aslinya. Biasanya ras setengah seperti itu selalu diasingkan dan dianggap bukan bagian dari ras monster maupun manusia, tapi tidak semua orang menganggap hal itu sebagai permasalahan. Bagi Yugi sendiri hal itu tidak dapat dihindari, bukan keinginan mereka sendiri yang terlahir sebagai setengah ras. Oleh karenanya tidak ada alasan untuk mengucilkan mereka.


Atmosfer di ruangan itu mulai berubah, Yugi bisa merasakannya, darah Vampire Vira mulai bangkit. Aura kemerahan itu mulai berubah menjadi merah darah yang menghitam, tubuh Vira mulai berubah kembali, aura itu menyelimutinya, kuku kaki dan tangannya mulai memanjang, taring Vampirenya mulai memanjang keluar dari mulutnya. Badannya mulai membesar dan menjadi wanita dewasa yang seumuran dengan Yugi, atau bahkan lebih dewasa lagi.


“Apa gagal?” tanya Yugi.


Sebelum menyimpulkan apa yang ada didepannya, kepala Yugi kemasukan sebuah suara dari alam pikirannya.


[“Terlalu cepat menyerah, dilihat dari situasinya dia masih menahan dirinya untuk tidak dikendalikan oleh rasa hausnya.”]


‘Walau kau berkata begitu, aku masih ragu dia bisa melakukannya. Menaikkan level memang membantunya tapi itu belum bisa menjamin Vira bisa mengendalikan darah leluhurnya.’


Perkataan pikiran Yugi kembali di bantah oleh Yui yang masih yakin akan keberhasilan dari latihan ini.


[“Kita lihat saja akhirnya.”]


Lalu apa yang dipikirkan oleh Neo yang selaku partner Vira. Dirinya masih diam di samping Vira tanpa melakukan apapun, tapi seharusnya dia sendiri tahu akan respon terhadap familiar. Tanda kontrak di punggung Vira muncul akibat lonjakan Mana yang keluar terlalu deras. Hal itu menimbulkan ikatan diantara mereka, dengan kata lain Neo pun bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Vira. Kekuatan yang terus mengalir padanya seperti sebuah air terjun yang terus membasuh kepalanya.


“Ah...”


Lonjakan darah Vampire membuat Vira sedikit menderita saat menahan hasratnya. Insting bagi seorang Vampire sangatlah kuat, jika keinginannya yang ingin menghisap darah lebih kuat dibanding kesadarannya maka sudah pasti dia akan dikendalikan oleh dirinya yang satu lagi yaitu Vampire. Kedua matanya terbuka dan menampakkan mata merah kehitaman seperti darah dengan pupil hitam vertikal. Tapi mata yang ini berbeda saat Vira berubah didalam ruang bawah tanah mansion tua itu, perubahan ini murni Vampire itu sendiri, terlihat jelas kalau mata yang keluar adalah mata Vampire haus darah.


“Aku tahu ini akan terjadi.” Tidak mudah untuk mengendalikan instingnya itu, Yugi menyadari akan hal itu dan mempersiapkan semua ini dengan matang. “Vira, bisa kau katakan sesuatu padaku.”


Tidak ada balasan dari lawan bicaranya, Vira masih diam namun air liurnya bisa menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang akan diajukan. Ya... Vira tidak bisa mendengar perkataan Yugi, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah keinginan menghisap darah. Jika ditanya apa Vira masih sadar, jawabannya tentu saja tidak. Kesadarannya yang lain sudah dikuasai oleh darah Vampirenya.


Yugi mengaktifkan mata observasinya dan melihat aliran Mana didalam tubuh Vira. Berbeda disaat pertama kali perubahan Vira, aliran Mana didalam tubuhnya masih mengalir dengan normal, hanya saja Mana nya berubah menjadi sedikit lebih gelap. Dengan kata lain itu bukanlah Mana yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Sangat berbeda, itu seperti kebanyakan yang dimiliki oleh monster. Mana yang mengalir dalam diri Vira sekarang adalah Mana Vampire.


Belum lama Yugi akan mengambil langkah mendekati Vira, tiba-tiba orang yang mau di didekati menerjangnya dengan tangan ke depan seperti mau mencekik. Menerima serangan dadakan itu membuat Yugi tidak dapat menghindarinya, dirinya hanya bisa menahan kedua tangan Vira dengan tangannya sambil menatap kedua matanya. Gigi taring itu terbuka kearah Yugi hendak mau menggigitnya, tujuannya adalah leher yang terlihat menggiurkan itu.


Aku melihatnya, muridku terlihat begitu buas, inikah darah Vampire... tapi melihatnya seperti ini aku merasa ingin menangis, dia pasti sangat menderita menahan semua ini. Perasaan takutnya pada diri sendiri, dijauhi hanya karena berbeda dari ras lainnya. Lalu apa aku juga takut padanya, tidak... aku tidak takut padanya... aku tidak takut pada Vira, yang aku takutkan adalah saat dia pergi jauh tanpa bisa aku jangkau...


Mungkin perasaan ini juga yang dirasakan olehnya, takut semua yang ingin dia gapai menjauh... dan meninggalkannya sendiri... akhirnya sekian lama dia mendapat seorang teman... namun jika temannya tahu kalau dirinya adalah setengah Vampire, apa dia masih mau menerimanya...


Apa itu yang kamu takutkan, Vira...


“Aagghhhhh...”


Aku selama ini membiarkanmu menghisap darahku, namun hari ini berbeda... aku ingin kau mengendalikannya... aku tahu kau pasti bisa Vira, karena kau adalah muridku...


Perlawanan dari Vira mulai mengendur, setidaknya sekarang bisa sedikit menahan terjangan nya. Neo yang sedari tadi diam melihat tuannya menyerang gurunya sendiri mulai bertindak dengan mengayunkan ekornya menjadi panjang dan mengikat tubuh Vira kemudian menariknya menjauh dari Yugi. Pemberontakan sempat terjadi karena pergerakannya di kekang oleh familiarnya sendiri. Vira terlihat begitu marah dan berusaha keluar dari ikatan ekor Neo.


‘Sekarang bagaimana?’


Pertanyaan dari Yugi masih di proses oleh Yui, belum ada jawaban dalam jangka beberapa menit berlalu. Menunggu cukup lama membuat Yugi mulai gelisah, jika tidak bertindak sekarang maka akan terlambat untuk menghentikan Vira. Tapi saat mau bertindak, sebuah suara dari Yui membuatnya berhenti.


[“Tunggu sebentar.”]


Apa yang ditunggu lagi, Yugi bingung akan pikiran dari partner dewa naganya ini. Apa kita masih harus menunggu lebih lama lagi disaat muridnya itu mulai semakin liar.


Namun tiba-tiba pergerakan dari Vira mulai berhenti, ada apa? Disaat itu Yugi mulai mengaktifkan sihir dimatanya lagi dan melihat titik aliran Mana yang mengalir dari tubuh muridnya itu. Ada sesuatu yang membuat aliran Mana Vampirenya terhenti, itu adalah aliran Mana yang dimiliki oleh manusia. Ternyata begitu, muridnya masih sadar dan mulai melawan darah Vampirenya. Sekarang yang perlu dilakukan olehnya hanya menjinakkan darah Vampire itu maka kesadarannya akan kembali. Yugi hanya perlu menunggu sampai semua itu terjadi. Lilitan ekor Neo terhadap Vira mulai dilepaskan dan membuat tubuhnya tergelatak di lantai dengan posisi miring ke kanan membelakangi Yugi. Semuanya menjadi lebih tenang, tubuh Vira juga sudah menjadi normal kembali, pertumbuhan tidak wajarnya menghilang. Walau begitu tubuh dewasanya sangat menggiurkan, seperti wanita yang berada di restoran diskotik. Sangat montok dan ideal, sangat diidam-idamkan oleh lelaki kaya raya, mereka pasti akan membayar berapa pun hanya untuk menghabiskan malam bersama dengannya.


Mengingat semua itu didalam pikirannya membuat Yugi malu sendiri, terlihat jelas wajahnya memerah. Apalagi disaat Vira menerjang dirinya, seolah mereka akan melakukan malam pertama bagi sepasang pengantin baru. Aahhh... benar-benar pikiran yang begitu kotor, apa yang terjadi pada dirinya. Pertanyaan itu terus berputar di pikiran Yugi, perasaan baru ini... ah tidak, perasaan ini juga pernah dirasakannya pada saat di kerajaan Northern Esla, lebih tepatnya saat bersama dengan Elna. Sebenarnya keinginan apa yang ada didalam dirinya ini. Rasanya begitu panas, pusing dan bingung, semuanya hanya ada pikiran seorang wanita dewasa dengan tubuh indahnya. Yugi menggeleng keras dan memalingkan wajahnya dari Vira, sepertinya dia harus menjernihkan pikirannya itu. Yugi berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh kepalanya yang terasa pusing.


Neo tidak memperdulikan Yugi, dirinya tetap mengawasi tuannya yang masih tergeletak di lantai. Sepertinya menahan darah Vampire didalam tubuhnya telah berhasil, untuk sekarang dia tidak akan berubah menjadi Vampire, di pikiran Neo sendiri sekarang hanya memikirkan Vira. Entah itu perasaan khawatir atau hanya penasaran akan Vira. Entahlah...


Didalam kamar mandi, Yugi melihat dirinya didalam cermin, menyentuh pipi kirinya dengan tangan kiri, sambil membayangkan tubuh seksi Vira sesaat setelah berubah. Langsung saja wajah Yugi memerah panas dan dengan cepat membasuhnya beberapa kali untuk meredakan panas ditubuhnya. Sebenarnya itu adalah hal yang normal bagi laki-laki dalam masa pubernya. Namun yang di pikiran oleh Yui berbeda, hal ini sudah diketahui oleh sang dewa naga ini. Yang dialami oleh Yugi bukan sesuatu hal yang biasa, tapi dia tidak menyangka kalau ini akan terjadi begitu cepat.


[‘Sudah mulai terasa ya...’]


Pikiran dewa naga es ini tidak bisa didengar oleh Yugi, dirinya masih sibuk menahan rasa panas di tubuhnya. Karena sangat gerah, Yugi pun memutuskan mandi malam ini. Mandi dengan air dingin, yang sangat dingin. Karena Yugi menambahkan es didalam bak mandinya dan berendam kedalam nya. Dan itu terbukti efektif dalam menahan perasaan panasnya yang sempat muncul. Jika Yugi mengosongkan pikirannya dari hal itu, maka dirinya bisa menjadi lebih tenang. Yugi masih berpikir tentang itu, sebenarnya perasaan apa itu.


Malam itu, merupakan malam yang sangat panjang...


Kemudian, keesokan paginya...


“Hoooaaamm...”


Aku bangun lebih awal dibanding siapa pun yang ada di kamar ini, yup... Vira dan Neo tidur dikasurnya, setelah ritual semalam yang cukup lama, Vira pun pingsan dan tertidur sampai pagi, ditemani Neo yang tidur disampingnya...


Mengingat hari ini adalah turnamen yang sudah di tunggu selama 2 hari, aku berpikir akan melakukan pemanasan sebelum membuat sarapan pagi...


Yugi berjalan keluar dari penginapan dan joging di sekitar kota sambil menikmati udara pagi yang sangat segar, matahari pun masih belum muncul, tapi jalanan sudah mulai terlihat karena sinarnya pagi mulai muncul. Bayangan-bayangan pagi terlihat, beberapa orang menatap Yugi yang tengah berlari pagi, kebanyakan mereka adalah orang dewasa yang membuka toko, beberapa prajurit yang tengah berpatroli, ada beberapa dari mereka yang menyapa Yugi dengan senyuman ramah. Sungguh pagi yang menyegarkan...


Suasana yang damai ini, sudah lama rasanya... mengingatkanku pada kampung halaman. Kerajaan Aries bagaimana kabarnya... yang lebih penting, apa rumahku baik-baik saja ya...


Yugi masih sempat memikirkan soal rumahnya yang ditinggalkan selama petualangannya ini. Sudah seharusnya dia memikirkan hal itu, bagaimana mungkin dia pergi sudah hampir 3 bulan lebih dan tidak kembali. Tapi semua orang pasti sudah menganggap Yugi mati.


Apa dia menganggapku sudah mati ya...


Yang dipikirkannya saat ini adalah orang yang sudah bersamanya dan menemaninya sedari kecil. Teman masa kecil... mungkin bisa di bilang begitu. Tapi bagi Yugi, dia lebih dari itu, perasaannya masih belum dia sampaikan, pada orang yang sangat dia cintai.


Larinya terhenti saat sudah mencapai colosseum, tempat kompetisi kerajaan dilaksanakan. Sekarang masih belum dibuka, melihat arena didepannya membuat Yugi sedikit gugup. Namun semua itu hanyalah anggapan orang yang belum siap bertarung. Karena dirinya sekarang sudah sangat siap, jadi yang dirasakannya bukanlah gugup, tapi perasaan tidak sabar akan kompetisi yang sebentar lagi akan di lanjutkan.


“Pasti, semua peserta akan sangat bersemangat dalam pertarungan ini.”


Memang benar apa yang dikatakan oleh Yugi, semua peserta ditempatnya masing-masing sudah bersiap-siap dengan pertarungan ini. Baik dari segi perlengkapan, kesiapan mental dan fisik, semua itu sudah di persiapkan sedemikian rupa. Dan untuk dirinya sendiri, sudah sangat siap, bahkan senyumannya terlihat begitu meyakinkan.


Sudah merasa puas akan pemanasan yang cukup menguras stamina, walau yang dilakukannya hanyalah lari keliling kota namun itu sudah cukup mengeluarkan keringatnya. Yugi pun kembali ke penginapan untuk sarapan paginya. Hari ini dia tidak membuatnya namun membelinya secara langsung di penginapan. Karena hari ini adalah hari spesial, dia pun memesan makanan yang cukup banyak untuk di makan. Sampai Vira sendiri bingung, dia berpikir kalau gurunya itu sedang merayakan sesuatu.


“Ada apa Vira, ayo dimakan sebelum dingin.”


Vira hanya terdiam sebentar menanggapi perkataan Yugi. Sampai akhirnya dia berkata karena penasaran.


“Tumben guru memesan makanan dari pada membuatnya, dan juga ini cukup banyak untuk tiga orang.” Yang dimaksud Vira tiga orang adalah Neo. Sepertinya dia dianggap teman dibanding familiar pada umumnya.


“Aku rasa tidak masalah, lagi pula Neo tidak mempermasalahkan hal itu. Sepertinya dia yang paling antusias makan.” Balas Yugi, memang benar kalau Neo makannya sangat lahap. Padahal seekor familiar bisa mendapatkan makanan melalui Mana sang pemiliknya atau dari alam.


“Makan yang banyak bagus untuk pertumbuhanmu Tuan.”


Benar apa yang dikatakan oleh Neo, makan yang banyak memang sangat dibutuhkan untuk Vira supaya pertumbuhannya lebih baik. Tapi perkataan Neo seperti lebih menjurus pada dadanya, saat malam itu Neo sendiri melihat perubahan dewasa Vira yang sangat terisi, apalagi di bagian dada, entah ukuran berapa cup waktu itu. Tapi itu merupakan aset yang lumayan besar untuk menarik nafsu laki-laki. Lalu kenapa Neo berbicara padahal Yugi sudah melarangnya berbicara, apalagi sekarang mereka sedang berada di restoran penginapan, tempat umum semua orang yang ingin makan disini. Itu karena tempatnya masih sepi, ya disini hanya ada mereka saja, dan tentunya pemilik penginapan ini yang sudah berada jauh di dapur, jadi percakapan ini hanya mereka (Yugi, Vira dan Neo) saja yang tahu.


“Aku pikir ada sebuah perayaan tertentu.”


Yugi yang mendengarnya menatap Vira dengan pertanyaan dikepalanya, kemudian dia tersenyum dan teringat akan sesuatu.


“Ini memang sebuah perayaan.”


Jawaban dari Yugi membuat Vira sedikit bingung, jika ini memang sebuah perayaan, terus apa yang sedang dirayakan. Perkataan Yugi pun dilanjutkan.


“Kita sedang merayakan dirimu yang berhasil mengendalikan darah Vampire. Selamat muridku yang hebat...”


Sebuah kejutan yang tidak terduga, gurunya tersenyum bangga pada dirinya. Entah kenapa rasanya sangat membahagiakan, serasa air mata ingin keluar dari matanya. Selama ini dirinya hanyalah dianggap hama dan dilihat hina oleh semua orang. Ras setengah seperti dirinya selalu menjadi bahan ledekan semua orang. Yang paling disayanginya hanyalah ibunya seorang, ibunya lah yang selalu ada di sampingnya. Tapi sekarang, ada satu orang lagi yang telah mengisi tempat itu, Vira hari ini merasa sangat bahagia.


“Hiks... terima kasih, guru.”


Ah... aku menangis, didepan guruku, bahkan Neo melihatku dalam keadaan seperti ini. Menyedihkan sekali, tapi perasaan ini tidak bisa aku bendung, selama ini banyak yang sudah menyerah padanya. Di usir dari satu tempat ke tempat yang lain, sampai akhirnya tinggal didalam hutan berdua dengan ibuku... sampai dimana aku harus hidup sendiri... tapi pertemuanku dengan guru, telah mengisi hatiku dan membuatku kembali bangkit. Kini aku sudah memiliki tujuan baru, dan semua ini... karena dia... guruku... orang yang sangat aku sayangi, Yugi...


“Tidak usah menangis begitu, ini baru awal dari semua petualanganmu. Aku akan memperlihatkan lebih banyak kebahagiaan untukmu.”


Baru awal, padahal kebahagiaan ini sudah cukup buatku. Walau harus mati sekarang pun aku akan senang, tapi guru akan memberiku sebuah kebahagiaan yang melebihi ini, aku harus bagaimana menerimanya... aku ingin melihatnya, aku ingin merasakannya... kebahagiaan yang akan Yugi berikan padaku... dan hidupku ini, akan kuberikan pada guruku, tidak... aku akan memberikannya pada Yugi, orang yang sangat berarti dalam hidupku... dan senyuman itu, akan kujaga...

__ADS_1


“Baru awal ya... kalau begitu, ini juga akan menjadi perayaan kemenangan guru dalam turnamen.”


Tangisan Vira berhenti dan digantikan senyuman manis darinya. Yugi yang melihat senyuman tulus itu hanya mampu tersenyum hangat untuk membalasnya.


“Padahal belum tentu menang, tapi sudah dirayakan saja.” (Yugi)


“Karena aku tahu guru pasti akan menang.” (Vira)


“Tentu saja, aku tidak berniat untuk kalah dengan mudah.” (Yugi)


“Bersulang.”


Vira mengangkat gelasnya diikuti oleh Yugi.


“Bersulang.”


Kedua gelas itu saling beradu dengan suara [ting] yang terdengar sedikit. Suasana menjadi hangat kembali di temani senyuman pagi yang manis dari Vira. Neo yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara guru dan murid ini hanya diam saja sambil menikmati makanannya, namun di dalam hatinya dia tersenyum untuk majikannya itu. Karena perasaan Vira bisa Neo rasakan dan mengalir begitu hangat.


Kompetisi akan segera dimulai kembali, semua orang berkumpul kedalam arena, baik itu peserta, para penonton dan raja ditemani oleh ratunya. Untuk sang tuan putri, hari ini dia tidak ikut menonton, entah apa yang terjadi padanya. Wasit dalam pertandingan ini masih belum berubah, Rud yang selaku wasit dan komentator terlihat begitu bersemangat. Para peserta yang lolos sebelumnya sudah berada didalam arena untuk mendengarkan arahan dari wasit.


“Sepertinya pertarungan hari ini akan menjadi lebih seru. Tapi, kenapa Lani tidak ikut menyaksikan?”


Pertanyaan dari sang raja membuat istrinya yang berada di samping menjawab hal tersebut.


“Dia berkata ada sesuatu yang harus dikerjakannya. Biarkan saja, lagi pula dia sudah dewasa, mungkin ada banyak hal yang perlu dia lakukan.”


“Kurasa kau benar istriku.”


Percakapan raja dan ratu itu terhenti disaat melihat bahwa sebentar lagi pertarungan akan segera dimulai. Rud yang melihat semua peserta sudah siap mendengarkan instruksinya, langsung saja tanpa membuang waktu memperlihatkan sebuah layar monitor sihir yang berada didepan para peserta. Di layar itu terdapat nama para peserta yang urutan namanya dari nomor satu dan seterusnya, sesuai urutan nama mereka dipanggil waktu pengumuman lolos ke babak selanjutnya dua hari yang lalu.


Yugi menatap namanya yang berada di urutan nomor satu, sepertinya dia akan bertanding lebih dulu dalam pembukaan hari ini.


“Nama kalian berada di dalam layar tersebut, aturannya sama seperti sebelumnya, hanya saja pertarungan kali ini adalah satu lawan satu. Mereka yang berhasil mengalahkan lawannya akan melaju ke babak selanjutnya.”


Semua peserta terlihat begitu serius, walau ada beberapa yang terlihat santai, cuek, biasa saja dan bersemangat. Yang paling tidak sabaran adalah Maruya, yang merupakan teman Yugi. Yang bersurai kuning pun sama, dia merupakan pangeran dari Boltendra, sifatnya begitu tidak jauh dari Maruya. Ada juga yang hanya menatap datar layar itu dengan pandangan dinginnya, walau begitu hawa di sekitarnya terasa panas.


'Aku tahu hanya dia yang bisa mengeluarkan hawa panas seperti ini. Sungguh pangeran yang begitu serius.' Pikirnya (Yugi)


Yugi menatap Rexas yang terlihat sangat antusias dengan wibawa pangerannya yang sangat kentara. Beberapa dari mereka juga sangat mewaspadai pangeran Rexas itu.


“Sesuai urutan namanya, peserta yang merasa namanya muncul dilayar harap tetap berada didalam arena.”


Setelah wasit mengatakan itu, benar saja nama Yugi terlebih dulu muncul di ikuti oleh lawannya. Yugi sedikit terkejut saat melihat nama lawannya, di awal sudah harus melawan petualang dari kerajaan yang pernah dia singgahi. Sungguh ini suatu kebetulan yang terus berdatangan satu demi satu.


“Peserta yang akan bertarung sebagai pembuka hari ini, adalah Yugi sang petualang dari Aries melawan Eduardo petualang dari Northern Esla.”


Semua penonton menjadi bersemangat, mereka tahu keduanya adalah pengguna elemen es yang sangat hebat. Dalam pertarungan sebelumnya, mereka diperlihatkan kemampuan dari masing-masing peserta dengan elemen esnya. Sungguh memukau dan terlihat begitu kuat, mereka menebak elemen es mana yang lebih kuat diantara dua peserta tersebut.


Peserta yang tidak ada namanya dilayar langsung meninggalkan arena meninggalkan Yugi dan Eduardo disana. Kedua nya saling menghadap satu sama lain sambil menunggu instruksi wasit.


“Pertarungan pertama akan segera dimulai, peserta yang bernama Yugi dan Eduardo bersiap diposisi masing-masing.”


Atmosfer serasa menjadi lebih berat, mereka masih tetap saling menatap dengan pandangan serius. Sampai wasit meneruskan perkataannya.


“Kompetisi kerajaan babak ketiga, pembuka pada hari ini, pertarungan dimulai.”


Kedua peserta langsung melesat satu sama lain dengan tangan kanan berselimut aura es.


Duar


Serangan itu berbenturan saat tinju keduanya bertemu di tengah arena. Sekilas mereka nampak saling tersenyum satu sama lain, dan saling mendorong untuk membuat lawannya mundur.


“Aku tidak tahu kita akan bertemu seperti ini, pahlawan Northern Esla.” (Eduardo)


“Aku senang ada yang mengenalku, walau aku sendiri tidak mengenalmu.” (Yugi)


Keduanya saling mendorong dan menjaga jarak satu sama lain, terlihat akibat benturan mereka, tanah yang sebelumnya terkena gelombang es langsung membeku. Itu menandakan betapa kuatnya benturan diantara mereka.


Maruya melihat kagum pertarungan tersebut walau masih permulaan. Vira yang menonton bersama familiarnya yang ada dipelukannya tidak mengomentari perkataan Maruya yang berada disampingnya, matanya fokus untuk melihat pertarungan didepannya. Sementara Maria dari tadi melihat hewan serigala yang ada di pelukan Vira dengan penasaran. Karena sangat penasaran, Maria pun jadi bertanya pada Vira.


“E-emm... Vira, hewan serigala itu, apa familiarmu?” Tanya Maria.


Vira sedikit terkejut, bagaimana mungkin Maria bisa tahu kalau Neo adalah familiar. Kalau dilihat dari penampilannya, dia terlihat seperti hewan peliharaan pada umumnya. Tapi Maria bisa langsung menyimpulkan kalau Neo ini familiar.


‘Dia bisa tahu, bagaimana menjelaskannya.’ Batin Vira. “Maria, bagaimana kamu bisa tahu kalau Neo adalah familiar?” Tanya Vira dengan nada kecil supaya tidak didengar oleh orang lain.


Maria menjawab pertanyaan itu sambil melihat dekat kearah Neo. “Karena aku bisa merasakan energi sihir walau hanya sedikit darinya. Mungkin dari luar dia terlihat seperti hewan biasa, tapi aku bisa merasakan kekuatan besar darinya walau di tekan sekecil mungkin.”


“Apa kakakmu juga menyadarinya?” tanya Vira memastikan.


Sementara subjek (Neo) yang di jadikan bahan pembicaraan hanya diam saja. Dirinya tidak terlalu peduli jika gadis kecil ini tahu, karena menurutnya itu tidak akan menjadi masalah besar.


“Kakakku terlalu bodoh untuk menyadarinya, dia hanya berfokus pada kompetisi ini. Tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapa pun, aku tahu kamu pasti mempunyai alasan karena merahasiakan ini dari orang lain.”


Vira merasa tidak enak, dia tadinya mau mengatakan hal ini pada Maria selaku teman perempuannya. Namun Yugi sempat melarangnya, tapi sekarang sudah tidak ada alasan untuk menyembunyikannya dari Maria. Dia pernah diberitahu kalau Maruya dan Maria adalah seorang pengguna sihir Dragon Slayer, jadi kepekaan mereka terhadap Mana sangatlah tinggi. Tidak heran Maria bisa mengetahui kalau Neo adalah familiar.


“Maafkan aku Maria, sebenarnya aku ingin memberitahukan hal ini padamu sebelumnya. Tapi...”


“Tidak usah diteruskan, aku mengerti kok. Semua orang memiliki rahasia, jadi aku bisa memakluminya. Pasti yang menyuruhmu untuk tetap diam adalah kak Yugi kan. Memang benar jika ada gadis kecil yang bisa membuat kontrak dengan familiar pasti bikin heboh. Kamu sangat berbakat Vira...”


Mendengar pujian dari temannya membuat Vira tersenyum senang. Pelukannya pada Neo menjadi erat, perasaan yang di salurkan itu bisa Neo rasakan. Entah apa yang dipikirkan familiar yang satu ini, sepertinya dia menikmati perlakuan majikannya.


Kembali kedalam arena, Yugi dan Eduardo saling memberikan pukulan dan tendangan berbasis sihir. Tidak biasanya dimana Yugi selalu menggunakan pedang untuk menyerang lawannya. Kini mereka hanya saling beradu tinju berlapis sihir elemen es.


Duar


Satu hantaman tinju mereka membuat tanah di bawahnya membeku, dan setiap tendangan yang berbenturan mengeluarkan hawa dingin. Sungguh pertarungan yang nampak seimbang, tapi tentunya itu hanyalah pemanasan bagi keduanya.


“Alur pertarungan ini terlalu lambat, bagaimana kalau kita percepat.” Tawar Eduardo.


“Perkataanmu seolah ingin segera mengakhiri pertarungan ini.” Balas Yugi.


“Tidak tidak... malah sebaliknya, aku ingin menikmati pertarungan ini lebih lama.” Eduardo menarik sebuah pedang es yang terbentuk dari lingkaran sihir yang dibuat disamping wajahnya. Tangan kanannya kini menggenggam pedang yang terbentuk dari es.


Tidak mau ketinggalan, Yugi pun membuat pedang es di tangan kanannya. Sekarang kedua orang tersebut siap beradu pedang dan menunjukkan elemen es mana yang paling kokoh.


Dengan senyuman di wajah mereka, keduanya kembali melesat untuk beradu serangan.


Tank


Satu benturan pedang es menghembuskan angin di sekitar mereka. Tidak berhenti mereka saling menarik pedangnya dan menebas kembali pada lawannya.


Tank


Mereka terus mengulangi gerakan itu dan terjadilah benturan pedang yang begitu cepat diantara mereka.


Tank tank tank tank tank


Semua orang terdiam takjub melihat teknik pedang yang seimbang dari dua petualang itu. Benturan yang terdengar nyaring, gerakan yang akurat dan waktu yang pas saat menebas. Sungguh terlihat menawan, mereka seperti sedang menari bersama pedangnya.


Tank


Tebasan terakhir membuat mereka menjaga jarak dan saling melesat dengan kecepatannya masing-masing. Berlari kesana-sini dan saling berlawanan guna mencari celah, memutari tubuh lawan dan bertemu dalam satu titik.


Tank


Lagi-lagi pedang mereka beradu, tapi sekarang tidak seagresif sebelumnya. Mereka kembali menjaga jarak, kemudian melesat dan saling menebas kembali.


Tank

__ADS_1


“Ini semakin memanas.” Eduardo tersenyum senang.


Yugi pun membalasnya dengan wajah percaya diri. “Benarkah, tapi aku merasa kedinginan disini.”


Keduanya kembali menjaga jarak beberapa meter dari lawannya. Eduardo merentangkan tangan kirinya dan membuat lingkaran sihir mengarah Yugi.


“Biar kubekukan sekalian. Freezing...”


Yugi tidak tinggal diam, tangan kirinya menempel ketanah sambil menyebutkan jurusnya. “Ice Barrier.” Sebuah tembok es terbentuk didepan Yugi untuk menghalau serangan gelombang es pembeku dari Eduardo.


“Itu hanya pengalihan saja.” Ucap Eduardo yang sudah berada di belakang Yugi.


Tentu saja Yugi terkejut, dia tidak menyadari kecepatan Eduardo yang sudah berada dibelakangnya. Dengan pedangnya yang sudah di selimuti oleh pendar es yang begitu tebal, Eduardo langsung menebas pedangnya ke tubuh Yugi sampai dia terpental menabrak perisai es nya sendiri dan membentur tanah dan terseret cukup jauh.


“Ahk...” Yugi merasa tubuhnya membentur dengan keras, bahkan dia tidak sempat berteriak saat diserang dengan cepatnya.


Vira yang melihat gurunya terkena serangan yang begitu kuat mulai merasa khawatir, pelukannya pada Neo semakin menguat, perasaan khawatir dari Vira bisa Neo rasakan. Karena tidak mau melihat tuannya sedih, Neo berusaha menghiburnya.


‘Jangan khawatir, dia baik-baik saja.’


Mendengar suara telepati dari familiarnya membuat Vira melihat kearah Neo di gendongannya. Entah kenapa rasa takutnya mulai menghilang, dirinya kembali tersenyum dan melihat kembali kedalam arena. Sekarang dirinya yakin kalau Yugi pasti menang.


‘Kemampuan kami berdua tidak beda jauh, tapi teknik pedangnya lebih hebat dariku. Yang bisa aku andalkan adalah serangan sihir berskala area saja.’ Batin Yugi. Berpikir mengenai kemampuan lawannya yang tidak bisa dianggap remeh, sepertinya dia akan menggunakan teknik itu.


Tidak memberi jeda untuk Yugi menarik nafas. Eduardo langsung merentangkan tangan kirinya ke depan dan tercipta kembali lingkaran sihir es dengan pedang ditangan kanannya yang diangkat ke atas. “Tebasan badai es... Ice Storm Incision.” Bersamaan dengan itu, pedangnya di tebas secara vertikal dengan kedua tangannya ke depan lingkaran sihir yang dibuatnya.


Seketiak terciptalah sayatan badai es yang merusak area di sekitarnya dan menerjang kearah Yugi. Melihat serangan area yang tidak mungkin dihindari sekarang, hal itu membuat Yugi tidak mempunyai pilihan lain selain menggunakannya. Sambil mengambil kuda-kuda tengah, Yugi mengambil udara panjang dan menghirup kuat seperti tengah menyedot serangan itu kedalam mulutnya.


Badai es yang kuat itu semakin mendekat kearah Yugi, namun saat sudah berada di hadapannya, badai itu mulai menghilang terhisap kedalam mulut dan menelannya dengan biasa seperti sedang makan.


“Hap...” Yugi menelannya santai seolah sedang memakan camilan sambil membayangkan rasanya. “Rasanya lumayan kuat juga.” Gumamnya.


Semua orang terdiam melihat kejadian yang tidak asing itu, mereka pernah melihatnya namun dalam elemen yang berbeda. Tidak bisa menahan rasa terkejutnya, sang wasit berkata dengan nada bersemangat.


“Tidak bisa di percaya, ada lagi sang pengguna sihir kuno Dragon Slayer. Oh tidak, Yugi sang Dragon Slayer Es...”


Mendengar komentator yang berteriak tentang [Dragon Slayer] semua orang terdiam. Kini didalam kompetisi kerajaan ada dua penyihir pengguna sihir kuno yang diajarkan langsung oleh naga. Sangat jarang mereka melihat ada dua Dragon Slayer dalam satu tempat. Apalagi keduanya memiliki elemen yang saling berlawanan. Tidak lama para penonton bersorak kegirangan, mereka masih belum percaya kalau ada Dragon Slayer yang lain, ini akan menjadi kompetisi yang sangat mendebarkan.


“Apa sihir Dragon Slayer memang sehebat itu.” Gumam Yugi.


“Aku dari tadi menunggu hal ini, kau tahu semenjak melihat pertarunganmu dengan jendral penyihir waktu itu. Aku mendambakan hari ini, dimana aku bisa menghadapi seorang pengguna sihir naga.” Eduardo mengucap dengan nada penuh kesenangan dan semangat yang tidak kalah dari Maruya. Entah kenapa atmosfer yang semulanya tenang kini mulai berubah di sekitarnya. Mana didalam tubuhnya bergejolak mengikuti emosi tuannya, kini pertarungan ronde terakhir akan segera dimulai. Dan mungkin, pertarungan ini akan menggila.


Yugi juga bisa merasakannya, hasrat membunuh yang sangat kuat dari Eduardo. Pertarungannya akan semakin memanas, keseriusan keduanya nampak terlihat dari aura biru muda yang dingin dari tubuh mereka.


Maruya terkejut melihat kenyataan ini, tidak disangka olehnya kalau Yugi merupakan pengguna sihir Dragon Slayer. “Jadi selama ini, insting nagaku bereaksi padanya karena kami sesama Dragon Slayer.” Benar, selama ini Maruya selalu merasa begitu terikat dengan Yugi, ternyata perasaannya itu adalah insting sesama Dragon Slayer.


“Ice Dragon Punch.”


Pukulan berbasis es yang sangat kuat Yugi layangkan kearah Eduardo. Namun sang target bisa menghindari serangan tersebut sehingga serangan berbasis es itu hanya mengenai tanah.


Duuuaarrrrr


Ledakan yang ditimbulkan sangat besar karena Yugi menggunakan kekuatan yang cukup banyak setelah menghisap serangan Eduardo sebelumnya, serangan Eduardo menjadi sumber energi baru bagi Yugi sehingga kekuatannya sekarang sangat berlimpah.


“Ice Dragon Kick.”


Tendangan naga es langsung di arahkan ke Eduardo setelah pukulannya meleset. Eduardo yang memang tidak sempat menghindari serangan cepat itu hanya mampu menerimanya dengan telak mengenai perutnya.


“Ghak...”


Eduardo terbatuk cukup parah saat terkena serangan kaki berlapis es yang begitu kuat. Tubuhnya terpental ketanah dan membenturnya beberapa kali kemudian berputar dan berhenti saat putaran ketiga. Dia kembali berdiri menatap Yugi yang berdiri cukup jauh darinya.


“Ini belum selesai.” Menyatukan kedua tangannya didepan dada seperti mau berdoa, Eduardo mengumpulkan sumber energi sihirnya ke tangan tersebut dan membukanya sedikit sehingga terbentuklah lingkaran sihir kecil dari situ. “Crushing Ice Shot.”


Tembakan meriam es besar berbasis laser itu melesat lurus kearah Yugi yang diam saja tanpa melakukan apapun. Bagi dirinya, musuh yang menyerang dengan elemen es hanya mengantarkan nyawanya secara sia-sia.


“Huuuuuuffff...” Yugi menghisap semua serangan Eduardo dengan begitu mudahnya. Seperti sedang memberi naga makanan, serangan Eduardo itu hanya akan menjadi bahan energi untuk Yugi, seharusnya dia tahu itu, tapi mungkin dia sedang mencoba keberuntungannya saja, sungguh di sayangkan keberuntungan itu sendiri sepertinya meninggalkannya.


“Mustahil, bahkan serangan seperti itu pun bisa dihisapnya.” Sudah berpikir berbagai macam cara untuk bisa setidaknya menggores tubuh Yugi, tapi sepertinya Eduardo sudah menerima kenyataan. Kekuatannya saat berhadapan dengan Yugi, sudah tidak berguna.


“Terima kasih atas makanannya. Sekarang akan kubayar dengan harga setimpal.” Yugi menaruh kedua tangannya di mulut dan membuat lingkaran dari tangannya. Lingkaran sihir terbentuk tiga didepan wajah Yugi dari yang pertama kecil, kedua sedang dan terakhir besar. “Ice Dragon Roar.”


Raungan yang begitu kuat menyemburkan serangan berbasis es yang melewati ketiga lingkaran sihir tersebut. Seperti sebuah semburan naga dari mulutnya, serangan itu melesat secara area ke tempat Eduardo berada. Melihat serangan berskala besar, Eduardo membuat pertahanan sihir didepan tubuhnya guna menahan serangan besar dari Yugi.


Duuuuuuuaaaaaarrrrrrrrrrrr


Ledakan yang begitu besar sampai terdengar dari luar arena pertarungan, gelombang dari serangan itu bisa di rasakan oleh para penonton, semua orang terkejut akan daya ledak dari seorang Dragon Slayer. Sama halnya dengan Maruya, serangan itu sendiri merupakan andalan dari ras naga yang langsung dipelajari dari naga itu sendiri.


Maruya yang melihat serangan yang hampir mirip dengan miliknya walau berbeda elemen, merasa merinding, perasaan tegang ini, hal itu bukan perasaan takut. Tapi sebuah perasaan ingin bertarung dengan pengguna sihir yang sama. “Aku semakin bersemangat.”


Setelah ledakan besar tadi, asap terus mengepul dari tempat ledakan sehingga korban yang terkena serangan itu masih belum diketahui apakah masih hidup atau mati. Seharusnya sang korban masih hidup karena Yugi masih bisa mencium keberadaan orang tersebut. Lawan yang dia hadapi pastilah sedang tidak beruntung karena melawannya. Menyerang seorang Dragon Slayer Es dengan elemen es adalah sebuah kesalahan. Tidak lama angin menghembuskan semua asap, dan terlihatlah tubuh Eduardo yang tergeletak di tanah. Sepertinya pertarungan pertama ini sudah selesai.


“Pemenang pertarungan pertama, Yugi dari kerajaan Aries.”


Mendengar pengumuman kemenangan itu membuat semua penonton bersorak atas kemenangannya. Namun tidak sedikit dari mereka yang masih menyemangati Eduardo karena telah bertarung dengan gagahnya, apalagi dari kalangan wanita, mereka sangat terpana akan ketampanannya dan gayanya saat bertarung. Yugi menghampiri sebentar Eduardo yang masih tiduran di tanah dengan telungkup, sepertinya dia terlalu berlebihan menggunakan serangan sekuat itu.


Dua tim medis membawa tandu untuk mengangkat Eduardo keluar arena. Badannya diangkat ke atas tandu sehingga dia bisa melihat Yugi yang berdiri menatap dirinya. Eduardo tersenyum puas dan berkata pada Yugi. “Aku senang bisa bertarung denganmu, sang pahlawan. Untuk selanjutnya aku ingin bertarung lagi denganmu. Semoga hari itu tiba...”


“Ya...” jawab singkat Yugi.


Setelah itu Eduardo pun dibawa pergi meninggalkan arena, begitu pula Yugi yang berjalan menuju pintu keluar arena. Pertarungan pertama sekaligus pembuka sudah selesai, berikutnya nama di layar arena mulai di acak kembali. Sementara dengan Yugi, dirinya kini masih berada dilorong colosseum, dia sedang berpikir bagaimana reaksi Maruya setelah tahu tentang sihirnya. Kalau berpikir jauh lagi mungkin akan ada reaksi yang menghebohkan. Itu bisa diatasi nanti saja, sekarang waktunya bertemu dengan mereka, pasti Vira sudah menunggunya di bangku penonton.


Setelah sampai di tempat Vira dan yang lainnya. Maruya langsung menatap Yugi dengan intens, bahkan terlampau dekat untuk saling menatap. Yugi sedikit berkeringat dingin karena tatapan tajam itu yang terkesan mengesalkan.


“S-...”


“S...” Yugi mengulangi huruf yang belum sempat Maruya lanjutkan.


“Sungguh luar biasa.” (Maruya)


Eh... sebuah reaksi yang tidak disangka oleh Yugi. Maruya memujinya dengan wajah berbinar, sebenarnya ada apa dengan pria yang satu ini. Melihatnya agak membuat risih.


“Aku tidak menyangka kau adalah pengguna sihir Dragon Slayer. Ini pertama kalinya aku melihat sihir Dragon Slayer dari orang yang seumuran. Ini pasti lah pertemuan takdir yang sudah direncanakan. Aku benar-benar sangat bersemangat sekarang ini.”


‘Bukankah kau selalu bersemangat.’ Batin Yugi sweetdrop.


“Aku berharap bisa melawanmu sampai akhir Yugi.”


Mendengar perkataan Maruya seolah menantangnya membuat senyuman Yugi mengembang, tentu saja dia akan menerima tantangan itu. Jadi mereka harus menunggu sampai giliran mereka tiba saat berada di arena yang sama.


“Aku juga...”


Kembali kedalam arena, kini layar monitor terus mengacak nama-nama peserta dengan tempo yang cukup lama sampai...


“Ini dia peserta selanjutnya... Rexas Vouleftis, pangeran dari kerajaan Vouleftis.”


Mendengar namanya dipanggil, Rexas berjalan menuju arena dari gerbang selatan.


“Dan lawannya...”


Layar kembali di acak dimana nama-nama peserta mulai bermunculan sampai berhenti dan memunculkan lawan dari pangeran Vouleftis.


“Pangeran Reiga Boltendra, dari kerajaan Boltendra.”


Seseorang berjalan menuju kedalam arena dari gerbang utara, menatap lawannya yang sudah terlebih dahulu berada didalam arena. Semua orang terkejut, kini mereka bisa melihat kedua pangeran bertarung dalam satu arena, bisa juga ini di jadikan sebagai ajang dimana kekuatan kerajaan akan di wakilkan oleh masing-masing pangeran kerajaan. Harga diri masing-masing kerajaan pastilah di pertaruhkan dalam duel ini.


‘Kau pasti menganggap ini bukan permainan kan, Rexas.’ Tebakan Yugi memang benar, melihat wajah serius Rexas, sudah dipastikan bahwa pangeran itu akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk melawan Reiga. Tapi sepertinya itu juga sulit bagi Rexas untuk mengeluarkan semuanya, karena dirinya masih ingin menyimpan kekuatannya untuk nanti.


Terus bagaimana dengan Reiga sendiri, dari wajahnya dia terlihat seperti begitu bersemangat melawan Rexas. Sungguh pertarungan ini akan menjadi ajang adu kekuatan kedua pangeran kerajaan. Dan harga diri mereka di pertaruhkan dalam duel sengit ini.

__ADS_1


Ini mungkin sulit bagi mereka, tapi keyakinanlah yang akan di tentukan disini... jika kau goyah dari keyakinanmu, sudah jelas kemenangan akan diraih oleh mereka yang memegang teguh keyakinan atas diri mereka sendiri...


Bersambung


__ADS_2