KAISAR ES

KAISAR ES
YUGI VS REXAS


__ADS_3

Pada akhirnya aku hanya mengikuti kata hatiku... maaf Elsa, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku akan menyelamatkanmu dari takdir ini...


Asap yang mengepul begitu tebal menghalangi pandangan semua penonton. Mereka semua penasaran dengan kondisi Yugi yang terkena serangan dari Rexas. Tiba-tiba pusaran angin salju membuat debu menghilang dan memperlihatkan Yugi yang masih baik-baik saja tanpa luka gores sedikit pun.


Tidak lama sebuah bola air kecil tercipta begitu banyak mengelilingi tubuh Yugi. “Water Bullet Shot...” dengan satu jentikan jari tangannya, puluhan peluru air itu melesat kearah Rexas.


Melihat semua peluru air itu tidak membuat Rexas takut. Dengan pedangnya ia menebas udara kosong dan terjadilah gelombang api yang menyapu habis semua peluru air milik Yugi. “Hanya segitu saja...”


“Akan kuptong kau... Cutting Water.” Tebasan air tiba-tiba melesat kearah Rexas setelah Yugi menyebutkan nama jurusnya.


“Lemah... Fire Slash.” Rexas membalas tebasan air Yugi dengan tebasan api.


Duuuaaaarrrrr


Kedua tebasan itu mengakibatkan asap mengepul karena bertemunya api dan air yang mengakibatkan air menguap dan menjadi asap. Yugi dengan segera mengambil kesempatan ini dan terbang menggunakan sayap berbentuk naganya yang terbuat dari sihir berwarna biru muda.


“Sial asap ini menghalangi saja... lebih baik aku menjaga jarak.” Rexas melompat mundur sambil terus bersiaga. “Dimana dia...?”


Yugi yang berada di udara menatap Rexas yang kebingungan mencari dirinya, tidak membuang waktu, dia langsung mempersiapkan serangan lanjutannya. “Bermain sedikit sepertinya menyenangkan... Hail Bullets.”


Rexas yang masih bingung mencari Yugi tidak menyadari sebuah hujan peluru es datang menghampirinya. “...” saat Rexas menyadari sebuah hujan es yang begitu banyak, semua itu sudah terlambat.


Duar duar duar duar duar duar duar duar duar duar...


Hujan peluru es itu terus membombardir tempat Rexas berada. Yugi yang melihat itu dari atas hanya tersenyum iblis melihat hasil kerja nya yang memuaskan. Tapi dia tidak menyadari sebuah bola api raksasa datang dari langit menerjang kearahnya.


“Panas...” saat menyadari sesuatu, Yugi dengan cepat melihat ke atas, disana bola api raksasa tinggal beberapa meter lagi akan mengenai dirinya. “Kau pasti bercanda... sial.” Dengan cepat Yugi merentangkan kedua tangannya ke atas. “Ice Shield” Yugi membuat sebuah perisai es yang cukup tebal didepan tubuhnya.


BLaaaarrrr


Benturan itu mengakibatkan gelombang kejut yang cukup kuat yang membuat angin berhembus kencang. Dengan tekanan sekuat itu, perisai es buatan Yugi hancur dan mengakibatkannya terpental sampai ke bawah.


“Daya hancur yang kuat.” Gumam Yugi sambil bangkit dari terjatuhnya.


“Kau pikir hanya kau yang bisa terbang.” Teriak Rexas yang sekarang berada diudara dengan sayap api dibelakang punggungnya.


“Menyebalkan...” gumam Yugi.


“Mungkin sudah waktunya giliranku beraksi... bagaimana kalau kita sudahi saja pemanasannya.” Ucap Rexas.


Yugi memasang wajah yang sangat serius yang jarang ia perlihatkan. Dia tidak bisa meremehkan lawannya yang sekarang. Jika dia kalah disini, berakhir sudah semuanya.


Rexas merentangkan kedua tangannya ke atas, Yugi yang melihat itu dibuat terkejut setengah mati. Pasalnya sekarang dia melihat bola api raksasa yang lebih besar dari pada sebelumnya.


“Tidak, hentikan...” teriak Elsa yang berada dibangku penonton umum, dia pergi dari tempat duduk anggota kerajaan dan melihat lebih dekat melalui tempat duduk umum. Disana terlihat jelas kalau Yugi sudah tersudut oleh Rexas. Ditambah jurus yang cukup mengerikan, bola api yang ukurannya dikatakan tidak normal itu akan segera menghantam Yugi jika tidak dihentikan.


“D-dia...” Yugi hanya mampu bergumam dengan keringat dingin yang meluncur dari pelipisnya.


[“Tuan, anda tidak bisa menghentikan bola api yang bertekanan tinggi itu, menyerah sajalah...”]


‘Tidak Yui... masih terlalu awal untuk menyerah.’ Ucap Yugi lewat telepati.


[“Lihat kenyataan tuan... bola api itu tidak akan bisa ditahan dengan kemampuan Anda yang sekarang. Atau anda mau menggunakan saya dan membuat semua orang tau...”]


‘Kau tidak perlu pesimis begitu...’ Yugi menatap tajam bola api itu, dari tadi Rexas hanya diam tanpa ada niatan untuk meluncurkan bola apinya. “Apa yang kau tunggu?”


“Ini sudah berakhir, jika kau menyerah sekarang, aku akan mengampunimu...” gertak Rexas supaya Yugi menyerah dan mengakui kemenangannya.


“Sayangnya... aku tidak bisa, ayo... aku siap kapan saja.” Tantang Yugi dengan nada meremehkan.


“Kau... jangan menyesal, Gaint Fireball.” Rexas akhirnya meluncurkan bola api raksasa itu.


Bola api itu meluncur tepat kearah Yugi, tanpa membuang waktu Yugi merentangkan kedua tangannya ke atas seraya berteriak. “ICEBERG..” tiba-tiba tanah mencuat ke atas dan membentuk sebuah gunung es raksasa.


Booooommmm Duuuaaarttttt


Ledakan yang teramat besar terjadi ketika bola api raksasa milik Rexas bertemu dengan gunung es raksasa milik Yugi. Semua orang tidak percaya akan pemandangan yang mereka lihat. Semua orang dibuat terkagum oleh kemampuan Yugi yang mampu mengimbangi Pangeran Vouleftis itu.


“Hah hah hah... energiku... terkuras habis...” gumam Yugi dengan nafas berat. Pandangannya mulai mengabur karena dia baru saja menggunakan hampir semua energinya hanya untuk membuat sebuah gunung es guna menghalau serangan Rexas.


“Sungguh keras kepala, dia menggunakan setengah kekuatannya hanya untuk menahan seranganku. Seorang petualang lanjutan tidak mungkin bisa mengalahkan penyihir senior...” gumam Rexas.


Yugi menatap lawannya dengan wajah yang dipenuhi oleh keringat. Kakinya gemetar tidak kuat menahan tubuhnya yang sudah kelelahan. “Hehehe... aku tidak menyangka akan selelah ini.” Ucap Yugi dengan tawa hambarnya.


Tanpa peringatan pangeran Rexas itu meluncur sangat kencang ke hadapan Yugi dengan tangan yang berlapis api. “Rasakan ini... Fire Blow.”


“Spalshing...” Yugi membalas pukulan api milik Rexas dengan pukulan ombak darinya.


DUuuuaaaaarrrr blaaaaarrrt


Kedua pukulan itu saling beradu mengakibatkan tanah dibawahnya retak dan hancur. Keduanya saling mendominasi satu sama lain dan tidak mau mengalah. Tapi untuk Yugi, dia seperti ditekan oleh sebuah meteor yang menghantam dirinya. Karena tidak sanggup menahan dorongan dari Rexas. Dia pun terpental dan menabrak dinding arena.


Blaaaarrrrrrrr...


“Sial...” gumam Yugi di tengah kesakitannya menabrak tembok.


“Lumayan, tapi kemenangan sudah ditentukan... kau kalah, Yugi.” Ucap Rexas mendeklarasikan kemenangannya.

__ADS_1


Semua penonton hanya dapat terbengong melihat hasilnya. “Apa pemuda itu kalah...” ucap penonton laki-laki.


“Aku merasa kasihan melihatnya...” ucap penonton perempuan.


“Entah kenapa aku ingin menyemangati pemuda itu... dia sudah gagah berani melawan pangeran walau pun dia tau bakal kalah.” Ucap penonton laki-laki yang lain.


Semuanya berpikiran hal yang sama, akhirnya mereka pun sepakat untuk mendukung sang pemuda petualang itu. “”””HEY JANGAN MENYERAH PETUALANG MUDA... JANGAN MAU DIKALAHKAN BEGITU SAJA, KAU PASTI BISA.”””” Ucap hampir semua penonton.


“Sepertinya kau memiliki banyak pendukung, tapi tetap saja tidak akan merubah apapun.” Ucap Rexas.


Yugi bangkit dari rasa sakitnya sambil berjalan sempoyongan seperti mayat hidup, dia tau sudah tidak memiliki energi lagi. Tapi dia masih punya kartu andalan.


[“Sebaiknya anda tidak menggunakannya...”]


“Tidak apa-apa Yui... kita bisa sambil mengujinya disini. Kebetulan ada lawan yang pas untuk itu...” gumam Yugi.


[“Terserah kau saja tuan... tapi aku sudah memperingatimu. Jangan lupa untuk menahan diri...”]


“Terima kasih Yui.”


“Kenapa kau bicara sendiri, apa karena mau kalah kau jadi gila... ayolah...” ucap Rexas. Tapi entah kenapa perasaannya tidak enak saat melihat aura yang berbeda yang di pancarkan oleh Yugi.


“SUDAH CUKUP YUGI... KENAPA, KENAPA KAU MELAKUKANNYA SAMPAI SEJAUH INI. SUDAH KUBILANG KAU TIDAK PERLU MELAKUKANNYAAAA... APA KAU DENGAR AKUUU...” Teriakan Elsa dibarengi dengan tangisan yang begitu dalam. Entah kenapa hatinya tidak tahan melihat Yugi yang begitu keras kepala hanya untuk membatalkan perjodohannya. Entah itu perasaan bersalah atau perasaan khawatir, tapi yang terpenting dia tidak mau melihat pertarungan yang hanya untuk keegoisan dirinya saja.


Semua orang terkejut mendengar teriakan sang putri pertama, mereka baru pertama kali melihat seorang tuan putri Elsa yang begitu elegan dan sempurna menangis seperti ini, terlebih lagi untuk seorang pemuda petualang itu.


“Aku sudah berjanji, dan janji itu... PASTI AKAN KUTEPATI...” Teriak Yugi di akhir kalimatnya.


Tiba-tiba suhu menurun sangat drastis, api yang menyelimuti Rexas padam seketika. Angin terus berhembus menerbangkan banyak salju ke mana-mana. Aura biru muda yang begitu kuat menguar dari tubuh Yugi. Mata biru mudanya bersinar layaknya binatang buas. Energinya yang begitu kuat membuat tanah yang di bawah kakinya retak.


“Mari kita mulai ronde selanjutnya...” suara Yugi menjadi berat dan penuh wibawa. Tubuhnya dikelilingi oleh aura biru muda yang begitu menenangkan. Mengalir dengan tenang dan stabil, mata birunya semakin terang dan tajam. Rambut seputih saljunya berkibar layaknya bendera tertiup angin. Sayap naga birunya mengembang dengan sangat gagah dibelakang punggungnya. “Huuufff...” tarikan nafasnya begitu tenang, tangan kanannya dia masukkan kedalam portal didepannya dan menarik sebuah pedang dengan gagang biru muda yang begitu cerah. Bilahnya bersinar biru dengan aura membunuh yang kental. Lambang digagangnya yang bersimbol mawar putih dengan naga yang melingkarinya.


Sang raja Reulad yang mengetahui soal pedang itu hanya mampu menatap terkejut melihatnya. Pedang yang selama ini mereka cari, pedang yang merupakan peninggalan leluhurnya, dimiliki oleh seorang pemuda yang sedang berduel itu.


‘Kak Yugi...’ batin Elna yang khawatir pada Yugi.


“Ayo, majulah...” tantang Yugi dalam mode Eternal Snow nya.


[“Ingat Yugi, mode ini hanya mampu bertahan dalam 3 menit saja. Karena kamu sudah menghabiskan sebagian besar energi sihirmu, maka akan timbul efek samping setelah memakainya... mengerti?”]


‘Ya...’ balas Yugi pelan melalui telepati.


“Walaupun kau berubah, itu tidak akan menjamin kalau kau akan menang dariku...” Rexas melesat dengan pedang yang ia aliri dengan energi sihirnya.


“...” Yugi hanya dia ditempat menunggu kedatangan Rexas.


TRaaaaaannnnkkk


Duuuaaarrrrrrr


Rexas membelakangi Yugi setelah menebasnya sekuat tenaga. Sementara Yugi hanya memasang mode bertahan dengan pedang didepan tubuhnya untuk menahan serangan Rexas. Tidak lama dalam posisi hening itu, pedang Rexas patah setengah, semua orang terkejut melihatnya. Sementara dengan Yugi, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Rexas dengan datar.


“B-bagaimana mungkin...” ucap Rexas tidak percaya dengan yang dia lihat. Pedangnya patah setelah beradu dengan pedang aneh yang baru saja Yugi keluarkan.


“Menyerahlah... pangeran.” Ucap Yugi dengan nada dingin.


“Tidak semudah itu...” Rexas membuat sebuah dimensi buatan dan menarik sesuatu dari dalam. Itu adalah sebuah pedang dengan lambang burung merah di gagangnya dan bilahnya yang berwarna jingga. “Ini baru dimulai...”


“Rexas, dia mengeluarkan pedang Phoenex nya...” ucap Rouxias.


“Pedang Phoenex, bukankah itu pedangmu sebelumnya Rouxias?” Tanya Reulad.


“Iya... aku memberikannya pada Rexas setelah dia cukup untuk mengendalikan kekuatannya. Sekarang, baru pertama kali aku melihat dia mengeluarkannya hanya untuk melawan pemuda itu.” Jawab Rouxias.


“Jangan berpikir hanya kau saja yang memiliki senjata kuat. Pedang Phoenex ku akan memanggangmu tanpa ampun...” teriak Rexas.


[“Pedang Phoenex, konon pedang itu bersemayam jiwa Iblis Phoenex Abadi... kekuatan apinya cukup untuk mencairkan es abadi. Berhati-hatilah Yugi...”]


Mendengar penjelasan dari Yui membuat Yugi semakin bersemangat untuk mengalahkan Rexas. Senyum menantang ia layangkan kearah lawannya itu.


“Kau akan menyesali perbuatanmu... Phoenex.” Sebuah gelombang api yang sangat panas dikeluarkan pedang Rexas. Sebuah bayangan burung raksasa muncul dibelakang Rexas dengan membentangkan sayapnya dengan gagah.


“...” Yugi mempersiapkan pedangnya dengan gaya menebas. Mengerti akan tindakan lawannya, Rexas juga menyiapkan pedangnya dalam posisi siap menebas. Keduanya saling berlari satu sama lain untuk memangkas jarak.


Sebelum benturan terjadi... Rexas terlebih dulu terbang ke atas dengan sayap api nya dan melesat ke bawah dengan menebaskan pedang nya secara vertikal kearah Yugi.


“...” Yugi yang melihat itu dengan cepat menebaskan pedangnya secara diagonal ke atas dan menahan serangan Rexas.


TRank


Duuuaaarrrrr


Lagi-lagi ledakan terjadi akibat benturan dua senjata legendaris itu. Pedang Eternal Snow melawan Pedang Phoenex. Mengakibatkan guncangan yang dahsyat membuat semua penonton ketakutan.


Setelah selesai memberikan serangan, keduanya melakukan manuver dan kembali menyerang.


Trank

__ADS_1


Duuuaaarrrrrr


Gelombang kejut lagi-lagi terjadi akibat benturan kuat dua senjata itu. Kedua raja yang melihat pertarungan itu merasa khawatir akan dampak yang akan terjadi nantinya. Dua senjata legenda yang sama-sama di diami oleh jiwa hewan terkuat membuat pertarungan itu memanas.


“Rasakanlah kobaran Api Phoenex ku Ini...” teriak Rexas dan dengan sekuat tenaga pedangnya ia tebaskan kearah Yugi.


Sebuah api yang sangat panas mendekati kearah Yugi, tapi dengan tenangnya dia menebas api itu dan membuatnya lenyap dengan mudah.


“A-apa...?” Rexas kaget melihat serangannya dapat dipatahkan dengan mudah.


“Sekarang giliranku...” Yugi menancapkan pedangnya ke bawah seraya berkata. “Glacier...” seketika tanah di bawah mereka berubah menjadi sungai es.


Rexas dengan cepat terbang ke udara untuk menghindari sungai es itu. Sementara Yugi berjalan diatas sungai es itu dengan mudah. Dia menggenggam pedang Eternal Snow dan menghunuskan pedangnya kearah Rexas. Entah bagaimana air es itu melesat kearah Rexas tanpa peringatan.


“Sial...” Rexas menghindari sebuah serangan air berskala besar itu dengan terbang secara zig zag. Tapi itu tidak berhasil, air itu terus saja mengikutinya layaknya rudal kendali. Tiba-tiba muncul lagi air es didepan Rexas dan menyerangnya. Tapi dia berhasil menghindarinya lagi. “Apa-apaan serangan itu...” umpat Rexas dengan kesal.


“...” Yugi menyentuhkan ujung pedangnya ke sungai es, sebuah pusaran tercipta dan memunculkan naga air es yang berukuran besar sambil membawa Yugi diatas kepalanya.


“Kau pikir hanya kau saja yang bisa membuat nya...” Rexas mengacungkan pedangnya ke atas dan terciptalah burung Phoenex. “Rasakan ini...” burung itu menerjang kearah Yugi yang sedang berada diatas kepala naga air.


Sebelum serangan Rexas mengenai Yugi, air yang sebelumnya mengejar Rexas kini melindungi Yugi dan membuat burung api itu lenyap digantikan asap yang mengepul akibat air yang menguap terserang api.


“Serang... naga air.” Dengan perintah singkat itu, naga yang dinaiki Yugi menerjang kearah Rexas meninggalkan Yugi yang sekarang melayang menggunakan sayap naganya.


Rexas yang melihat naga itu mendekat tidak tinggal diam, dengan pedangnya dia tempatkan didepan, sebuah perisai berwarna jingga pun muncul melindunginya.


Duuuuaaarrrrr


Cccceeessssss


Ledakan terjadi lagi dengan asap yang begitu banyak akibat benturan tadi. Rexas langsung turun dari terbangnya karena kehabisan tenaga akibat membuat perisai tadi. “Hah hah hah... untung saja aku membuat perisai dengan kekuatan penuh, jika tidak serangan itu pasti akan mengenaiku.” Gumam Rexas. “Harusnya dia juga sudah kehilangan banyak energi akibat melakukan serangan tadi...” Rexas mengamati Yugi yang masih melayang diatas.


Dengan pelan Yugi mendarat ke bawah tanpa kelelahan sama sekali, sungai es sebelumnya sudah lenyap digantikan kembali dengan tanah. Rexas yang melihat itu terkejut, pasalnya Yugi tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau pun terluka.


[“Yugi, waktumu satu menit lagi, cepat selesaikan...”]


Peringatan dari Yui tidak membuat Yugi kaget, wajahnya hanya menunjukkan ketenangan dan penuh percaya diri. Tatapan semakin dingin untuk mengintimidasi Rexas.


“Hei kau, kekuatan apa yang kau gunakan... aku belum pernah melihat kemampuan seperti itu.”


Yugi tidak membalas perkataan dari Rexas, dia hanya berjalan pelan kearah Rexas yang berjarak 50 meter dari hadapannya. Rexas yang merasa kesal karena ucapannya tidak ditanggapi, dengan sisa tenaga yang dimiliki, dia menyerang Yugi dengan api yang membara di sekujur tubuhnya...


“Rasakan ini...”


Traaaannnnkk


Mereka saling beradu lagi dengan Rexas yang lebih mendominasi, sementara Yugi hanya menahan serang Rexas. Kini mereka saling menatap dengan pandangan yang berbeda, Yugi hanya menatap Rexas dengan datar dan Rexas memandang Yugi dengan tajam.


“Khe-kenapa kau menghalangiku... ?” Tanya Rexas disela adu pedangnya.


“Katakan... apa kau mencintai Elsa?” Tanya balik Yugi.


“Tentu saja... aku sangat mencintainya, sejak pertama kali kami bertemu... aku sudah jatuh cinta padanya.” Rexas mendorong Yugi lebih kuat.


Tapi Yugi tidak terpengaruh sama sekali, sebaliknya dia yang malah mementalkan Rexas dan membuatnya terpelanting ketanah.


“Uhuk uhuk... aku tidak akan menyerah. Karena aku mencintainya...” ucap Rexas.


Elsa yang mendengar itu hanya mampu menangis dengan rasa bersalah karena telah memberi harapan palsu pada Rexas. Dia tidak kuasa melihat pertarungan yang menurutnya sangat menyesakkan baginya. Pertarungan hanya untuk menghentikan perjodohan yang mungkin sejak awal adalah salahnya.


‘Maafkan aku... maafkan aku...’ dalam hati Elsa terus meminta maaf pada teman masa kecilnya Rexas, karena dia tidak jujur sejak awal.


“Aku tanya sekali lagi... apa kau tau perasaan Elsa?” Tanya lagi Yugi.


Mendengar pertanyaan Yugi, Rexas menjawabnya dengan lantang. “Tentu saja... Elsa juga mencintaiku.”


Mendengar jawaban yang begitu pasti itu membuat Elsa tambah bersalah. Seharusnya dia memberitahu Rexas sejak awal.


“Aku kecewa padamu, ternyata kau tidak tau rupanya, kau bilang kalau kau mencintainya... tapi kau tidak mengerti akan perasaan Elsa. Kau, tidak pantas untuknya...” ucap Yugi dengan datar dan dingin yang membuat Rexas marah.


“TAU APA KAU, KAU INI HANYA ORANG LUAR YANG TINGGAL DI KERAJAAN INI... TAU APA KAU HUBUNGANKU DENGAN ELSA... DIA ITU MENC-..”


“AKU TIDAK MENCINTAIMU REXAAAASSSS...”


Teriakan Rexas dipotong oleh teriakan yang lebih keras dari bangku penonton, saat dia melihat ke sumber suara itu, terlihat Elsa yang terengah-engah kehabisan nafas dengan air mata yang mengalir pelan melewati pipinya. Tatapan Rexas terkejut akan pengakuan dari Elsa tanpa keraguan itu. Tidak terasa rasa kecewa menghampiri hatinya yang hancur akibat penolakan dari Elsa.


“Maafkan aku... harusnya aku mengatakannya sejak awal. Aku hanya menganggapmu sebagai temanku yang berharga. Aku tidak pernah mencintaimu sejak awal... maafkan aku. Hiks hiks hiks...”


Semua orang terkejut melihat tuan putri Elsa menangis, untuk pertama kali ini mereka melihat ekspresi yang tidak pernah ditunjukkan oleh Elsa. Bahkan anggota kerajaan dan para tetua dibuat terkejut melihat Elsa yang dikatakan sebagai tuan putri yang elegan dan sempurna terlihat rapuh seperti itu.


“Seperti kata pepatah, kuat diluar, rapuh didalam... sekarang kau mengerti pangeran.” Ucap datar Yugi tanpa belas kasihan.


Dengan syoknya, Rexas menjatuhkan pedangnya dan pedang itu menghilang tertelan kobaran api. Yugi berjalan kearah Rexas yang terduduk lemas ditanah dan mengacungkan pedangnya kearah Rexas.


“Kau kalah, pangeran...”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2