
Begitu gelap... dimana aku...
Siapa saja... apa ada orang
Aku tidak bisa melihat tanganku...
Seorang pemuda berjalan tanpa arah di sebuah tempat yang gelap tanpa akhir. Tidak ada ujung maupun cahaya disana. Terus berjalan dengan harapan akan adanya cahaya yang meneranginya.
Aku tidak tau dimana diriku sekarang... tapi yang jelas, aku ingin keluar dari sini...
Langkah kakiku berjalan tanpa arah... terus, terus, terus berjalan... berharap akan ada secercah cahaya yang menyinariku, walau hanya setitik...
Seseorang... berikan aku uluran tangan kalian...
Aku tidak bisa melihat kemana aku berjalan
“Yugi... Selamat Ulang Tahun.” ucap suara seorang perempuan dengan nada lembut seperti seorang ibu yang memanggil anaknya.
“Selamat Ulang Tahun... putraku.” Seorang laki-laki yang juga mengucapkan selamat pada Yugi dengan kasih sayang layaknya seorang ayah.
Seketika itu Yugi berada disebuah tempat, terduduk diam di meja makan dengan kue yang di beri lilin ulang tahun diatasnya. Tubuhnya kembali ke sosok anak-anak yang baru saja berusia 8 tahunan. Di garis penglihatannya sesosok yang sangat berarti dalam hidupnya, orang yang sangat dia sayangi. Orang yang sangat berharga baginya, orang yang ingin dia lindungi. Mereka menatap Yugi dengan senyuman kasih sayang yang begitu dalam. Dengan air mata yang berlinangan di kedua pipinya, Yugi terdiam ditempat duduknya tanpa suara. Menatap tidak percaya apa yang dilihatnya, dua orang yang sangat disayanginya, sekarang berada di hadapannya.
“Aduduh ya ampun Yugi, kenapa kamu sampai menangis begitu...” seorang wanita yang sudah berusia sekitar 27 tahunan menenangkan Yugi dengan mengelus kepalanya lembut.
“Seorang laki-laki tidak boleh menangis Yugi, kamu merupakan putra ayah yang harus kuat apapun yang terjadi...” ucap pria itu dengan nada semangatnya.
“Ibu... ayah...” ucap Yugi dengan nada penuh akan kerinduan pada kedua sosok yang sangat dia sayangi.
“Sudah sudah, jangan menangis lagi ya...” wanita yang merupakan ibu Yugi itu tersenyum hangat pada Yugi.
Seorang laki-laki yang diketahui sebagai ayah Yugi berjalan kearah mereka dengan senyuman kasih sayang yang tidak pernah lepas dari wajahnya. “Sekarang ayo tiup lilinnya dam buat permohonan...”
Yugi tidak tau harus bereaksi seperti apa, tapi didalam hatinya dia sangat senang bisa melihat mereka kembali dan berkumpul seperti ini. Yugi mulai mengambil nafas dalam dan meniup semua lilinnya sampai mati.
Prok prok prok
“Selamat Ulang Tahun...” kedua orang tuanya memberikan selamat lagi dibarengi dengan tepuk tangan yang meriah.
“Ahahahah... aku sangat menyayangi kalian.” Ucap Yugi dengan senyuman yang begitu cerah khas seorang anak yang sedang bermain dengan asyiknya. Seperti halnya dia tidak mengingat kenapa dia bisa ada disini, ingatannya tentang dunia nyata, hilang begitu saja.
Sementara di dunia nyata, disebuah lapangan luas dengan salju yang tidak begitu tebal, tiga orang perempuan tengah menatap bola hitam transparan yang berada di hadapan mereka. Didalam bola hitam transparan itu terdapat seorang pemuda yang tidak lain adalah Yugi, dia sedang menjalani latihan terakhir dari Risa. Yugi melayang dengan mata tertutup dan badan yang lemas seolah tertidur pulas didalam sana dengan mode Eternal Snownya yang masih aktif.
“Apa kak Yugi akan baik-baik saja?” Tanya Elna yang khawatir dengan Yugi.
“Tenang saja, selama dia tidak terhanyut dalam ilusi buatannya sendiri. Sekarang dia sedang menghadapi masa lalunya yang sangat membekas didalam hatinya, jika dia berhasil melalui semua godaan dari ilusi hatinya sendiri dan kembali sadar. Maka semuanya akan baik-baik saja...” ucap Risa dengan tenang, walau begitu terbesit sedikit nada kekhawatiran terhadap majikan barunya itu.
“Berapa lama Yugi akan menjalani latihannya?” tanya Elsa yang juga ikut khawatir.
“Entahlah, kita hanya bisa menunggu dan berdoa semoga semuanya berjalan lancar...” ucap Risa dengan nada tenang.
Dunia ilusi Yugi
Disebuah padang rumput hijau yang begitu luas, seorang anak kecil berambut hitam berlarian kesana kemari dengan riangnya. Tidak memperdulikan sekitarnya, sementara seorang laki-laki yang merupakan ayah dari anak tersebut sedang mengejarnya.
“Ayo ayah, tangkap aku...” teriak anak tersebut.
“Awas saja, ayah akan menangkapmu Yugi...” balas ayah Yugi dengan tawa senangnya mengejar anaknya itu.
“Hihihihihi...” sementara seorang wanita yang merupakan ibu dari Yugi hanya mampu tertawa kecil sambil duduk di bawah pohon dengan keranjang disampingnya.
“Tertangkap kau, hahahahah...” ayah Yugi mengangkat Yugi tinggi-tinggi sambil tertawa lepas.
“Wah ayah lepaskan aku, aku takut ketinggian...” teriak Yugi sambil pura-pura merengek.
“Baik ayah turunkan.” Dengan perlahan ayah Yugi menurunkan Yugi sambil tersenyum senang.
Saat Yugi turun dari gendongan ayahnya, saat itu juga Yugi kembali berlari meninggalkan ayahnya. “Weeee... ayah berhasil aku tipu.”
“Dasar kamu ini, awas saja ya...” kembali ayah Yugi mengejar Yugi sambil tertawa senang.
Kejar-kejaran anak dan ayah itu terus berlanjut sampai siang hari, dimana mereka akhirnya berhenti karena kelelahan. Mereka pun duduk di bawah pohon tempat ibu Yugi menunggu mereka. Dengan tertawa lepasnya mereka dibarengi dengan candaan yang membuat suasana menjadi sangat meriah.
Aku sangat senang, entah kenapa rasanya seperti mimpi... aku bisa bertemu lagi dengan kedua orang tuaku. Dengan canda tawa tiada henti, kesenangan yang begitu aku rindukan, kehangatan ini, rasa nyaman ini, senyuman ini... aku sangat merindukannya. Jika ini mimpi, aku berharap tidak pernah bangun lagi...
Didunia nyata
Seketika bola hitam transparan yang membungkus Yugi didalamnya mulai semakin menghitam dan menelan Yugi. Elsa yang melihat itu mulai panik, begitu pula Elna dengan wajahnya yang begitu ketakutan.
“Apa yang terjadi?” tanya Elsa.
“Gawat, Yugi mulai terhanyut dalam dunia ilusinya. Jika begini terus dia akan...” Risa tidak kuat melanjutkan kata-katanya, kepalanya dia tundukkan ke bawah dengan wajah menyesal.
“Akan apa... katakan apa yang akan terjadi pada kak Yugi...?” teriak Elna sambil menggoyangkan badan Risa.
__ADS_1
“Dia akan... ditelan oleh masa lalunya sendiri, dan tenggelam dalam kegelapan.” Ucap Risa sambil memalingkan mukanya kearah lain dengan sedih.
Seketika Elna terduduk lemas dengan air mata yang mulai turun dari kedua pipinya. Begitu pula Elsa yang tidak kuasa menahan air matanya untuk turun, dia mulai mendekat pada adiknya kemudian memeluknya erat, pelukan dari Elsa dibalas oleh Elna untuk menenangkan satu sama lain.
“Yugi, kamu harus sadar. Apapun yang kamu lihat, itu hanya sebuah ilusi...” gumam Risa dengan nada sedih.
Didunia Ilusi Yugi
Disebuah danau yang tenang, tiga orang tengah melakukan acara memancing bersama. Tawa tiada hentinya menemani mereka, sudah lama mereka memancing didanau itu tapi belum mendapatkan satu ekor pun ikan.
Aku Yugi, sudah hampir 3 jam aku , ayah, dan ibuku memancing didanau ini, tapi belum satu pun kami dapat ikan. Entah kenapa aku merasa kesal, apalagi ayah yang sudah mulai emosi dengan angin yang berputar terus menerus di sekeliling tubuhnya. Sepertinya ayah tidak bisa mengendalikan emosinya dan tanpa sadar menggunakan elemen angin untuk merendam kemarahannya. Tentu saja ibuku tidak tinggal diam, sudah beberapa kali ayahku dimarahi ibu karena elemen anginnya yang membuat air jadi beriak dan menyebabkan ikan pada kabur. Aku hanya mampu tertawa dengan lepasnya menikmati suasana yang begitu nyaman ini...
“Ayah, ibu... lihat umpanku dimakan” pancing Yugi terus bergoyang dan ditarik ke dasar oleh ikan.
“Bagus anakku, sekarang kamu tarik dengan sekuat tenaga...”
Mendengar instruksi dari ayahku, dengan cepat aku menarik pancinganku sekuat tenaga. Air didanau itu mulai bergerak acak karena ikan yang terus berontak saat akan aku tarik ke darat. Pada saat tinggal sedikit lagi... pancinganku putus...
“Aahhh ikannya berhasil lolos.” Ucap Yugi dengan wajah lesu.
“Serahkan saja pada ibu...”
‘Entah kenapa aku merasakan firasat buruk saat melihat aura biru yang begitu kental keluar dari badan ibu.’ Batin Yugi dengan keringat sebesar biji jagung dibelakang kepalanya. “Firasatku semakin kuat...” gumam Yugi sambil melihat ayahnya yang menjaga jarak dari danau.
“Ini dia...” ibu Yugi meletakkan telapak tangannya ke dalam air dan membuatnya berputar searah jarum jam.
“I-ibu...” ucap Yugi dengan nada sedikit khawatir.
“Tenang saja, ini akan segera selesai...” dengan senyuman yang menurut Yugi sedikit menakutkan, layaknya iblis yang baru bangkit dari tidurnya. Menurut Yugi, ibunya ini akan melakukan sesuatu hal yang tidak seharusnya terjadi. “Water Tornado...” pusaran air yang sangat tinggi tercipta begitu saja melemparkan banyak ikan dari danau tersebut. Tapi putaran airnya semakin lama semakin liar, dan hal itu cukup untuk membuat Yugi dan Ayah nya kucar kacir dari danau itu.
“HENTIKAAAANNNN IBUUUU...”
“KAU TERLALU BERLEBIHAN SAYAAANNNGGG...”
“Hehehe tehe...” tawa ibu Yugi dengan nada anak kecil yang baru saja ketahuan berbuat salah.
Waktu yang aku habiskan dengan keluargaku, sangat menyenangkan...
Tapi aku merasa ada yang kurang, seolah sesuatu yang penting dariku... hilang begitu saja.
Semakin di ingat, kepalaku semakin sakit... seolah ada sesuatu yang menekanku untuk tidak mengingat apa yang kulupakan...
Dan hari pun cepat berlalu...
Aku berharap hari-hari ini tidak pernah berakhir...
“Yuuugggiiiii...”
‘Siapa?’ Yugi melihat ke belakang setelah mendengar teriakan dari seseorang. Dari nadanya dia seorang perempuan. Karena penasaran Yugi pun mencarinya ke segala arah, tapi dia tidak menemukan siapa pun digaris penglihatannya. “Apa aku cuma salah dengar...” gumam Yugi.
“Nak, kamu sedang apa?” tanya ibu Yugi yang sudah agak jauh dari Yugi.
“Tidak ada... aku segera menyusul.” Yugi pun berlari menuju kedua orang tuanya dengan langkah riang.
Malam hari yang begitu dingin, tapi tidak bagi satu keluarga ini. Mereka tertawa bersama sambil menikmati makan malam ikan bakar hasil tangkapan mereka. Walaupun ini bukan kategori memancing karena ikan yang didapat menggunakan bantuan sihir. Yugi makan dengan begitu lahapnya, seolah tidak ada beban pikiran pun dalam hidupnya. Layaknya anak kecil yang hanya tau bermain...
“Ahk...” Yugi memegang kepalanya sakit, untuk sesaat dia melihat sekelebat bayangan seorang wanita bersurai putih yang sedang tersenyum padanya. Seseorang yang sangat berarti baginya.
“Ada apa Yugi...?” ucap Ibu Yugi dengan nada khawatir.
“Tidak apa-apa, aku cuma sedikit lelah... hehehehe...” Yugi tertawa dengan senangnya sambil memperlihatkan cengiran anak kecil.
“Itu wajar, kamu hari ini bermain dengan sangat bersemangat. Tidak seperti biasanya... sudah sewajarnya kamu lelah. Malam ini tidurlah lebih cepat...” ucap sang ayah.
Mendengar perkataan ayahnya, Yugi mengangguk mengerti. Dengan cepat dia menghabiskan makan malamnya karena ingin segera tidur. “Aku sudah selesai... aku tidur duluan ibu, ayah.” Yugi berlari menuju kamarnya dengan perut yang sudah terisi penuh.
Entah kenapa aku merasa aneh hari ini, ada apa ya... lalu siapa gadis itu... senyumannya selalu membekas dikepalaku.
Yugi berbaring ditempat tidurnya dengan wajah lelah sehabis bermain seharian bersama kedua orang tuanya. Menurutnya ini adalah hari ulang tahun terbaik dalam hidupnya. Tapi tetap saja, didalam hatinya ada sesuatu yang mengganjil. Entah apa itu...
‘Apa yang aku pikirkan, ini seperti biasanya... aku bersama keluargaku... kan?’ Yugi menutup matanya dengan perlahan untuk memasuki alam mimpi.
“Yuuuggiii...”
Yugi membuka matanya seketika saat mendengar sebuah suara yang memanggilnya. “Siapa...?” Yugi duduk sambil melihat kiri kanannya, tapi dia tidak menemukan sumber suara itu. Seolah suara itu berada dikepalanya, karena penasaran akan suara yang terus saja mengusiknya, Yugi berdiri dari berbaringnya dan berjalan menuju jendela. Disana Yugi melihat bulan yang bersinar kearahnya, ditambah bintang yang menghiasi di sekitarnya.
‘Bulan ini mengingatkanku akan sesuatu, atau seseorang...?’ batin Yugi.
“Akh...” Yugi lagi-lagi memegang kepalanya setelah sekelebat bayangan seorang gadis yang berbeda dari sebelumnya dengan rambut biru cerah muncul dikepalanya. “A-apa itu tadi... siapa?”
Lagi... kepalaku terasa sakit setelah sekelebat bayangan seorang gadis muncul dikepalaku. Sebenarnya siapa... dan mengapa... aku ini kenapa...
Keesokannya, sebuah pagi hari yang cerah ditemani kicauan burung yang terbang kesana kemari. Bunga-bunga mulai bermekaran, tetasan embun jatuh dari rumput hijau yang lebat. Pepohonan yang rindang menyejukkan mata, sungguh hari yang bagus untuk jalan-jalan.
__ADS_1
“Yugi bangun...” ucap seorang perempuan yang merupakan ibu Yugi sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Lima menit lagi bu...” balas Yugi yang masih berbaring dikasurnya dengan nada malas.
“Kamu mau bangun sendiri atau ibu yang masuk dan membangunkanmu...” suara nada ibu Yugi tidak terdengar bersahabat.
Mendengar alarm berbahaya itu secara reflek Yugi langsung berkata. “Baik...” Yugi langsung berdiri tegak setelah mendapatkan perintah langsung dari ibunda tercintanya.
“Setelah mandi langsung keruang makan ya...” setelah mengatakan itu ibu Yugi pun pergi terlebih dulu meninggalkan kamar Yugi.
“Haaahhh... benar-benar menakutkan, aku jadi kasihan sama ayah. Yosh... ayo mandi, sarapan dan langsung main.” Dengan semangatnya Yugi bergegas mandi dengan cepat. Memakai kaos oblong hitam dan celana cokelat. Tidak lupa dia berkaca terlebih dahulu dan menyisir rambutnya rapih, karena ibunya sangat suka kerapian, jika sedikit saja terlihat berantakan, maka dia akan mendapatkan masalah. Dengan langkah cepat kaki kecilnya, Yugi sampai di ruang makan sambil menyapa kedua orang tuanya dengan senyuman cerah di wajahnya.
Disebuah dimensi buatan milik sang Dewa Naga, seorang perempuan yang tidak lain adalah Yui tengah menatap pohon besar didepannya dengan pandangan sedih. Padang rumput yang begitu indah mulai berubah menjadi hitam dengan asap yang mengepul seperti bara api. Sejauh penglihatannya, hampir semua tempat sudah berubah drastis, hanya tinggal pohon besar ini yang masih berdiri kokoh. Tapi hal itu tidak akan bertahan lama, karena Yui tau jika ini terus berlanjut, maka semuanya akan berakhir.
“Yugi, aku mohon sadarlah... jangan termakan akan masa lalumu.” Gumam Yui dengan nada pelan tersirat akan kesedihan. “YUUUUUUGGGGIIIIIII...”
“Eh...” Yugi terhenti dari acara sarapan paginya dengan wajah kebingungan.
“Kamu kenapa Yugi...?” tanya ibunya yang khawatir melihat wajah anaknya yang terlihat bingung.
‘Siapa, kenapa... dimana...’ air mata jatuh tanpa sebab, membasahi kedua pipi Yugi. Kenangan akan dunia nyatanya semakin lama semakin terlihat jelas olehnya.
“YUUUUGGGIII...”
‘Lagi, teriakan itu terdengar lagi... seperti sedang memanggilku.’ Sebuah ingatan muncul secara acak dikepala Yugi. Semuanya berjalan begitu cepat, dan setiap kata yang diungkapkan lewat suara itu. Tersampaikan melalui hatinya yang membeku oleh waktu, terbelenggu akan masa lalunya, Yugi baru menyadari suatu hal yang sangat penting, mereka semua...
“*Yugi, kamu tidak boleh menyerah ya...”
Sara...
“Nak, kakek percaya padamu...”
Kakek...
“Kak Yugi, ayo main...”
Elna...
“Kamu itu sungguh keras kepala...”
Elsa...
“Ayo Yugi, semua orang sudah menunggumu...”
Yui*...
Semuanya... maafkan aku, maafkan aku... aku terjebak oleh masa laluku sendiri, aku menginginkan hidup bahagia dengan kedua orang tuaku. Didalam hati, jujur aku tidak bisa merelakan kematian mereka... mau seberapa kali pun, aku tidak bisa melupakannya.
“*Kenapa kamu menangis...?”
Sara*...
Didepan Yugi terdapat gambaran dirinya setelah ditinggalkan oleh kakek angkatnya. Disana terlihat Yugi yang menangisi makam kakek angkatnya ditemani seorang gadis dibelakangnya. Rambut hitam yang tergerai halus itu, dengan tatapan mata hitamnya yang menawan. Dia mendekati Yugi sambil berkata dengan suara lembut.
“*Jika kamu terus seperti ini, kakekmu akan merasa sedih dialam sana. Apa kamu mau membuatnya sedih...?”
“Tentu saja tidak...” itu jawaban yang aku berikan padanya. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia hanya mau melihat orang yang berharga baginya bahagia. “Hanya saja, sekarang aku tidak punya tujuan lagi... aku hidup sampai sekarang berkat kakek angkatku, semenjak kebakaran yang menewaskan kedua orang tuaku, kakek angkatkulah yang memberikan tujuan baru dalam hidupku... dia adalah kakek yang sangat berarti dalam hidupku. Jika dia sudah tidak ada, aku tidak mempunyai tujuan untuk hidup lagi.”
Itu yang aku katakan padanya, untuk sekilas aku sudah tidak punya harapan, tapi lagi-lagi orang lain memberiku tujuan untuk hidup*...
“*Jika kamu tidak punya tujuan, jadikanlah aku tujuanmu.”
Aku menatap gadis itu, senyumannya bagai mentari pagi yang baru saja keluar dari balik gunung. Sinarnya yang hangat menghangatkan hatiku yang dingin... sejak saat itu aku sudah bertekad untuk menjaga senyumannya. Sara*...
Air mata yang tidak berhenti itu berubah menjadi sebuah senyuman. Air mata kesedihan berubah menjadi air mata kebahagiaan, sekarang Yugi tau apa yang harus dia lakukan. Seberat apapun, sesayang apapun dirinya pada kedua orang tuanya, dia harus menerima kenyataan. Bahwa semua ini hanyalah sebuah ilusi yang dibuat oleh hatinya, keinginan hati kecilnya yang menginginkan kebahagiaan dari kedua orang tuanya. Kebahagiaan dari keluarga kecilnya, tapi walau begitu dia harus kembali dibuat untuk menerima kebenaran yang ada didepan matanya. Dengan keyakinan yang kuat, Yugi menghapus jejak air matanya kemudian tersenyum hangat kepada kedua orang tuanya. Seakan memberi salam perpisahan yang belum sempat dia ucapkan sebelumnya.
“Ibu, ayah... terima kasih selama ini telah merawatku, menyayangiku, membesarkanku dengan cinta kalian. Tapi aku harus pergi sekarang, semua yang kulihat ini hanyalah ilusi yang dibuat oleh hati kecilku. Keinginanku yang ingin tinggal disini lebih lama... aku tidak bisa, maafkan aku, aku sangat egois... aku tidak mau kehilangan kalian, tapi kenyataan sangatlah menyakitkan. Ibu, ayah... aku menyayangi kalian, tidak... aku sangat mencintai kalian.” Air mata kebahagiaan terus turun dengan derasnya, membasahi setiap pipinya. Membuat sebuah jejak yang tidak bisa dihapus, hatinya yang kian merasakan sakit yang teramat karena perpisahan dengan orang yang sangat disayanginya akan terulang kembali. Sungguh, Yugi tidak kuat untuk menerima ini semua. Tapi dia yakin, suatu saat nanti mereka akan berkumpul lagi, didunia dimana mereka bisa bahagia.
“Kamu sudah tumbuh besar anakku...” ucap ayah Yugi yang sedikit demi sedikit keberadaannya mulai memudar.
“Yugi, ibu sangat menyayangimu... temukanlah kebahagiaanmu di luar sana. Kami akan selalu menunggumu...” ucap ibu Yugi yang keadaannya tidak jauh beda dengan ayahnya.
Rumah yang begitu hangat akan kenangan itu mulai menghilang, tubuh Yugi menjadi besar kembali. Memperlihatkan seorang remaja yang sudah tumbuh besar. Dengan langkahnya dia mendekati kedua orang tuanya dan memberikan pelukan perpisahan dengan air mata yang kembali mengalir. Air mata itu terasa hangat, penuh dengan kasih sayang dan cinta.
Jika aku bisa meminta... aku hanya ingin terus bersama dengan mereka. Tapi takdir terus saja membuatku merasakan sakit...
Kalau saja takdir bisa kurubah, aku ingin kembali menjalani keseharianku bersama keluargaku.
Tapi untuk sekarang, biarkanlah aku egois...
Aku hanya ingin terus memeluk mereka sampai hatiku bisa terobati...
Walaupun, ini hanya... sebuah ILUSI...
__ADS_1
Bersambung