KAISAR ES

KAISAR ES
KOMPETISI DIMULAI


__ADS_3

Cahaya hitam bersinar terang seperti sebuah menara yang menjulang ke langit, cahayanya menembus awan hitam yang mengeluarkan petir dengan ganasnya. Sumber cahaya itu terletak di pinggir kota yang tidak jauh dari istana...


Semua orang tercengang melihat cahaya itu, mereka merasakan takut dengan auranya, gelisah akan pancarannya... perasaan yang mereka rasakan itu kian menjadi saat awan menyambarkan petir yang tidak kunjung berhenti, fenomena aneh itu tidak ada yang tahu...


Kecuali mereka yang tahu akan sesuatu yang tersembunyi dari dunia umum...


Disebuah hutan belantara yang tidak terjamah, begitu lebat sampai cahaya matahari pun tidak bisa memasukinya. Disana terdapat satu pria yang umurnya sudah cukup tua dengan pakaian khas seorang petualang dengan jubah coklatnya. Topi kowboinya dia pegang dengan senyuman diwajahnya saat melihat cahaya hitam menjulang ke atas langit menembus awan. Langkah kakinya dia arahkan menuju ke kedalaman hutan dan sedikit demi sedikit mulai menghilang di kegelapan, tapi sebelum dia menghilang sepenuhnya dia bergumam.


“Akhirnya dia menemukan Tuannya...”


Kerajaan Eartfil di gemparkan akan cahaya hitam yang menjulang tinggi ke atas awan seperti sebuah menara besar. Bahkan sang raja sampai keluar istana hanya untuk melihatnya lebih dekat, semua penghuni istana tercengang dengan aura yang di pancarkan sinar itu. Seperti sebuah pertanda akan lahirnya kekuatan baru yang akan menyelimuti dataran para penyihir. Sang tuan putri menatap menara cahaya itu dengan pandangan tajam, dia mendapatkan sebuah firasat bahwa cepat atau lambat dia akan bertemu dengan orang yang memancarkan cahaya hitam itu.


Tidak lama cahaya itu mulai menghilang sedikit demi sedikit dan aura yang mengerikan itu mulai menghilang bersamaan dengan cahaya itu. Perasaan takut dan gelisah tadi mulai menghilang seolah tidak terjadi apapun. Tapi bagi mereka yang mengetahuinya masih merasa was-was dan takut akan orang yang memiliki kekuatan itu.


“Jangan-jangan...” gumam sang raja yang menyadari akan sesuatu. “Aku harus menemuinya...”


Ditempat pandai besi, kita bisa melihat didalamnya Yugi tengah memegang pedang hitam dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Getaran di kedua tangannya masih dia rasakan dengan deru nafas yang memburu. Detak jantungnya memompa dengan cepat seperti habis lari jauh. Yugi berlutut lelah dengan pedang hitam sebagai tumpuan, akibat tekanan dari pedang itu membuat Yugi harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan rasa sakit yang teramat. Baginya ini lebih mengerikan di banding menarik pedang Dewa. Pria yang merupakan saksi mata dari kejadian luar biasa tadi hanya mampu tercengang dengan mulut yang terbuka lebar, matanya melotot tidak karuan melihat sebuah peristiwa kepemilikan pedang hitam yang merupakan miliknya. Kini pedang itu sudah memiliki tuan baru yang merupakan seorang pemuda bersurai putih salju. Keterkejutan pria pandai besi itu mulai menghilang digantikan senyuman senang karena telah menyaksikan sendiri pedang hitam yang memilih seorang pemuda petualang sebagai tuannya. Didalam hati dia bersyukur bisa hidup untuk menyaksikan ini, pedang yang memiliki kehendak sendiri untuk menentukan tuannya kini sudah memilih tuannya sendiri. Baginya peristiwa ini tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya.


“A-akhirnya... pedang hitam itu kini sudah memiliki tuan. Selamat Yugi... kau adalah tuan yang dipilih olehnya.” Ucap Jigar dengan senyuman senang diwajahnya.


“Pedang ini... memilihku...” Yugi melihat pedang hitam itu dengan pandangan tidak percaya. “Apakah ini... takdir...”


“Kau bisa menyebutnya begitu, pasti ini bukanlah sebuah kebetulan. Ambillah ini...” Jigar menyodorkan sarung pedang kearah Yugi dengan senyuman ramah di wajahnya.


Yugi dengan perlahan ingin menggenggam sarung itu, didalam hati dia ragu akan mengambilnya, tapi saat melihat Jigar mengangguk yakin hal itu membuat keraguan Yugi menghilang. Dia menggenggam sarung pedang hitam itu dan menyarungkan pedang hitamnya secara perlahan. “Terima kasih paman, tapi apa aku boleh mengambil pedang ini?” Tanya Yugi dengan nada ragu.


“Tentu saja, aku kan sudah bilang pedang itu punya kehendak sendiri untuk memilih majikannya. Sekarang dia telah memilihmu, aku tidak punya hak lagi untuk pedang itu. Kau lah yang pantas memilikinya Yugi...” jawab Jigar dengan nada ramahnya.


“Paman Jigar...” Yugi membalas senyuman tulus itu dengan senyuman terbaiknya.


“Tapi aku memiliki satu syarat padamu.” Ucap Jigar.


“Syarat... apa syaratnya paman?” tanya Yugi yang bingung dengan syarat yang akan diajukan Jigar.


“Kau ikut kompetisi itu kan?” tanya Jigar sambil berdiri membelakangi Yugi.


“Maksudnya kompetisi untuk mendapatkan tuan putri kerajaan ini...?” Tanya Yugi untuk memastikan kompetisi yang ditanyakan oleh Jigar.


“Benar, aku mau kau mengikutinya dan memenangkannya.” Ucap Jigar sambil membalikkan badannya dan tersenyum kearah Yugi.


“Tentu saja, memang itu niatku. Aku menginginkan hadiah misterius yang sering dibicarakan orang-orang-...”


“Bukan hanya itu...” Jigar memotong perkataan Yugi dan mengambil nafas pelan sambil menjeda perkataannya.


‘Aku memiliki firasat buruk soal ini...’ batin Yugi yang sudah gugup mendengar lanjutan dari Jigar.


“Kau harus...”


Tatapan Yugi kian melebar saat mendengar perkataan terakhir Jigar.


“Menikahi sang tuan putri kerajaan Eartfil...”


Di kamar penginapan milik Yugi dan Vira, kini mereka tengah makan malam bersama dengan tenang. Tapi untuk Yugi dia selalu memikirkan perkataan yang dikatakan oleh Jigar mengenai kompetisi kerajaan itu. Karena syarat yang diajukan oleh Jigar membuat Yugi merasa hal itu sangat merepotkan baginya.


“Menikah kah...” gumam Yugi tanpa sadar.


“Guru... kau tidak bermaksud memenangkan kompetisi itu dan menikahi tuan putri kan?” tanya Vira dengan mata yang mengintimidasi kearah Yugi.


“A-apa yang kau katakan, aku tidak-...”


“Kau bohong, aku tau guru selalu memalingkan mukanya saat berbohong.” Potong Vira dengan nada dinginnya.


“Kau ini...” Yugi menatap Vira dengan senyuman lembut saat melihatnya begitu khawatir pada gurunya ini. “Bukan aku yang menginginkannya, tapi ini permintaan seseorang...” lanjutnya sambil menatap makanannya sendiri.


“Apa guru akan mengabulkan permintaannya itu?” tanya Vira yang mulai gelisah jika saja Yugi benar-benar akan memenangkan kompetisi dan menikahi sang putri.


“Tenang saja, aku tidak akan bertindak sejauh itu. Kau ini lupa ya, gurumu ini kan seorang petualang, tidak mungkin aku akan terikat oleh kerajaan.” Ucap Yugi meyakinkan Vira.


Vira menatap Yugi sebentar dan melanjutkan makannya sebari bergumam yang masih bisa di dengar oleh Yugi. “Ya sudah...”


Setelah makan malam itu mereka pun tidur di atas kasur dengan nyaman. Tapi untuk Yugi, dia masih terjaga sambil menatap langit-langit kamarnya. Perkataan dari Jigar terngiang di kepalanya mengenai kompetisi itu. Dan juga tentang pedang hitam yang baru saja menjadi miliknya.


Yugi menatap kearah kanannya dimana pedang hitam itu bersender di dinding penginapan itu. “Aku adalah pemiliknya...”


Sebelumnya di pandai besi milik Jigar, mereka sedang menatap satu sama lain dengan pedang hitam yang menjadi perhatian kedua orang itu. Yugi yang merupakan pemilik pedang yang baru saja berhasil menjadikan pedang itu miliknya kini sedang menatap pedang hitam itu dengan pandangan kagum.


“Pada awalnya aku terkejut saat paman mengajukan syarat yang begitu berat untukku. Bukan masalah aku bisa memenangkan kompetisinya atau tidak, tapi...” perkataan Yugi tidak bisa dia lanjutkan karena keraguannya akan syarat dari Jigar.


“Aku tau, menikah adalah sesuatu yang besar. Apalagi kalau dia adalah seorang tuan putri dari kerajaan ini, aku mengerti... kau bisa memilih untuk tidak memperdulikan syarat yang aku ajukan. Tapi ingatlah satu hal, raja kerajaan ini sangatlah ulet terhadap keputusannya. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan putrinya, jika saja putrinya tidak menginginkan pernikahan ini maka kau tidak perlu menikah dengannya.” Ucap Jigar dengan senyuman ramahnya.


“Begitu ya... syukurlah.” Ucap Yugi yang merasa lega karena masih ada harapan kalau dia menang nanti tidak perlu menikahi tuan putri kerajaan Eartfil.


“Tapi...” perkataan dari Jigar membuat kelegaan Yugi tadi serasa mau menghilang, rasa penasaran akan perkataan Jigar selanjutnya membuat jantung Yugi berdebar kencang. “Jika tuan putri sendiri yang meminta melanjutkan pernikahannya... maka tidak akan ada jalan keluar untukmu.”


Untuk sesaat Yugi menelan ludahnya dengan paksa bersamaan dengan keringat yang meluncur di pelipisnya. “T-tidak mungkin tuan putri mau menikah dengan saya... kan...” ucap Yugi dengan ragu.


“Yaaa... siapa yang tau soal itu.” Ucap Jigar dengan senyuman misteriusnya.

__ADS_1


Mengingat itu membuat Yugi sedikit bertanya-tanya soal Jigar, itu karena dari setiap perkataannya dia seperti sudah mengenal jauh raja Eartfil. Hal itu membuat Yugi penasaran soal identitas yang sebenarnya dari Jigar, walau hanya sedikit Yugi bisa merasakan sebuah energi sihir yang sangat kuat tapi ditekan sampai titik terendah.


Kembali ke waktu sekarang di penginapan, dimana Yugi masih terjaga sementara Vira sudah tertidur lelap di sampingnya


“Kau juga merasakannya kan Yui...” gumam Yugi sambil memejamkan matanya.


[“Ya begitulah... aku rasa kita akan bertemu dengannya lagi, paman aneh itu...”] balas Yui melalui telepatinya dengan Yugi.


Akhirnya pembicaraan itu terhenti saat sang pemuda surai putih salju itu terlelap menuju alam mimpi. Suasana hening tanpa suara, terasa nyaman bagi mereka saat tertidur. Tapi itu tidak lama sampai sebuah pergerakan dilakukan oleh seseorang. Bersamaan dengan malam bulan purnama itu, sebuah mata merah menyala di gelapnya malam. Merangkak kearah Yugi dengan melepas beberapa pakaiannya, kedua tangannya berusaha meraih sang pemuda yang tertidur lelap. Untuk sesaat tangan itu ragu untuk meraihnya, sampai beberapa air liur menetes ke bawah dan tangan tersebut langsung melesat cepat kearah Yugi.


Keesokan pagi yang cerah di kota Eartfil, banyak orang yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Tapi yang anehnya tidak terlalu banyak pedagang yang membuka tokonya, malahan kebanyakan pada tutup entah kenapa. Tapi sepertinya semua pertanyaan itu terjawab saat melihat banyaknya orang yang mengantri untuk memasuki sebuah gedung besar seperti colosseum di tengah kota. Tempat itu merupakan arena pertarungan yang biasa digunakan untuk pertarungan antar penyihir. Untuk sekarang tempat itu digunakan untuk kompetisi yang akan segera diselenggarakan sebentar lagi. Hampir seluruh peserta sudah berada disana terkecuali untuk seorang pemuda bersurai putih salju yang masih saja terlelap dengan tidurnya. Sepertinya dia sangat kelelahan akibat kemarin, setelah kejadian mengenai pedang hitam itu membuat tubuh Yugi merasa pegal dan nyeri karena mendapatkan tekanan energi kuat. Tidurnya yang lelap itu seperti merasakan sebuah kedamaian yang sudah lama tidak dia rasakan. Tapi karena sinar matahari yang menyinari kamarnya membuat sang pemuda sedikit terusik dari tidurnya. Ditambah sebuah tangan kecil yang mengusap wajahnya dan hal itu sukses membuat sang pemuda yaitu Yugi terbangun dari tidurnya. Dia pun mulai duduk di tempat tidurnya dan melirik kearah kanannya, disana Vira tertidur lelap dengan damainya. Untuk sesaat Yugi tidak terlalu memperdulikannya sampai beberapa detik dia baru konek apa yang sebenarnya terjadi.


“VIIRRRAAAAAAA...”


Langsung saja Yugi meloncat dari kasurnya dan berjalan mundur agak sedikit menjauh dari tempat tidurnya. Karena teriakan dari Yugi membuat sang gadis kecil terbangun dari tidurnya. Dia duduk dengan imutnya sambil mengucek matanya sayu. Keimutannya bak malaikat kecil itu membuat Yugi agak sedikit bimbang dengan hatinya. Dia menelan ludahnya kasar sambil membayangkan hal tidak senonoh untuk sesaat. Tapi pikiran itu dia tepis jauh-jauh karena jika saja Yui tau pasti dia akan dalam masalah, ya masalah yang sangat besar.


“Selamat pagi guru...” ucap Vira yang masih setengah sadar.


“Selamat pagi juga... eh bukan waktunya untuk itu, kenapa kau telanjang?” teriak Yugi, ya bukan hal baru jika mereka tidur bersama. Karena Yugi menganggap Vira hanya sebagai adiknya sendiri, jadi wajar saja dia tidak merasakan apapun saat tidur dengan gadis kecil, tapi sekarang hal itu jadi masalah, karena gadis kecil yang dibicarakan itu tengah telanjang saat mereka tidur. Yugi berani sumpah bukan dia yang menelanjanginya. ‘Karena aku masih normal, tidak mungkin aku melakukan itu dengan anak kecil... iya kan...’ batinnya yang masih agak ragu dengan kesadarannya sendiri akan perasaan campur aduk didalam hatinya.


“Eemmhh...” Vira menatap dirinya yang terselimuti oleh selimut sehingga badan telanjangnya tidak terlalu terekspos. Beberapa detik setelahnya wajah Vira sudah memerah malu dengan asap mengepul di kepalanya, aura merah terus menguar pertanda kalau dia sedang marah. Dan kemarahannya itu dia tunjukkan pada gurunya.


“T-tunggu... bukan aku yang melakukannya.” Yugi sudah merangkak mundur saat melihat Vira berdiri dengan aura membunuh sambil menutupi badannya dengan selimut.


“Terus siapa lagi... kau tidak akan berkata kalau aku sendiri yang melepas pakaianku kan...” aura mengancam dari Vira membuat kuduk bulu Yugi berdiri. Rasa merinding ini luar biasa dibanding saat dia tidak sengaja mengintip Lanya telanjang.


“Ya aku berpikir begitu, karena itu yang paling masuk akal... bukan?” sepertinya perkataan Yugi hanya memperparah keadaan. Dan selanjutnya pasti akan terdengar sebuah suara yang tidak mengenakan. “Gyaaaaaaaaahhhh...”


Teriakan itu mengawali pagi cerah penuh awan putih yang menambah keindahan langit biru. Sungguh meriah dan matahari pun bersinar lebih hangat di banding kemarin. Mungkin saja ini merupakan hari yang baik untuk melakukan sebuah kompetisi, dan juga hari yang buruk untuk sang pemuda surai putih salju karena paginya di awali oleh sebuah kesakitan yang luar biasa yang dilakukan oleh muridnya sendiri. Kasihan sekali...


Berawal dari pagi yang buruk itu, Yugi berjalan menuju tempat diadakannya kompetisi yang tengah dia ikuti. Bersama dengan muridnya yang berjalan di samping kanannya sambil memasang wajah ngambek. Jika di pikir lagi ini ada yang salah? Mau bagaimanapun Yugi tidak pernah melakukan itu pada Vira. Saat Yugi ingin menatap wajahnya, Vira selalu memalingkannya kearah lain dengan wajah ngambeknya. Benar-benar hari yang melelahkan, itu pikir Yugi... sampai ada sebuah suara yang membuatnya harus membalikkan badan.


“Selamat pagi... Yugi.”


“Ah... Maru, Maria.” Yugi mengenal mereka, kakak beradik itu merupakan kenalan Yugi saat mendaftar sebagai peserta dalam kompetisi kerajaan ini.


“Kebetulan sekali kita bertemu disini...” ucap Maruya yang sudah berada di hadapan Yugi bersama dengan adiknya.


“Kau benar...” balas Yugi dengan senyumannya.


“Hhmmm...” Maruya menatap Vira dengan pandangan bertanya. “Siapa dia?”


“Owh dia... dia itu...”


“Aku muridnya, namaku Vira.” Ucap Vira sambil menyombongkan dirinya.


“Kau ini...” Yugi hanya bisa pasrah pada sikap Vira yang selalu saja berubah-ubah.


“Namaku Maria, adiknya kak Maru.” Ucap Maria sambil merentangkan tangannya untuk mengajak Vira salaman sebagai tanda bukti pertemanan mereka.


Untuk sesaat Vira menatap Maria dengan pandangan bertanya, tapi saat melihat kearah Yugi yang menganggukkan kepalanya, dia pun dengan senang hati bersalaman dengan Maria. “Salam kenal...”


Maria membalas salam itu dengan senyuman terbaiknya, untuk sesaat dia berpikir kalau gadis ini berbahaya karena mungkin saja dia mengincar gurunya. Sementara dengan Yugi dan Maruya, mereka sedang membicarakan mengenai kompetisi yang akan segera di mulai.


“Ngomong-ngomong kita akan segera bertemu di turnamen sebagai saingan.” Ucap Yugi dengan senyuman tidak mau mengalahnya.


“Tentu saja, saat itu tiba aku akan mengerahkan segenap kemampuanku.” Balas Maruya dengan semangat menggebu di dalam dadanya.


“Sebaiknya kita cepat bergegas kalau tidak mau didiskualifikasi karena terlambat.” Ucap Yugi mengingatkan soal waktu dimulainya kompetisi.


“Kau benar, Maria ayo kita harus bergegas.” Maruya langsung saja menarik tangan Maria dan bergegas menuju arena.


“Kita juga...” Yugi tanpa permisi langsung saja menarik tangan Vira, bukannya marah atau apa Vira justru merasa sangat senang plus malu ditambah debaran didadanya membuatnya salah tingkah.


Didalam colosseum sudah banyak orang yang duduk di kursi penonton untuk melihat sebuah kompetisi yang sangat besar dan bersejarah ini. Karena kompetisi ini lah yang akan menentukan nasib kerajaan Eartfil dimana seorang tuan putri akan menikahi pemenang dari kompetisi tersebut. Didalam arena sendiri sudah berkumpul para peserta yang jumlahnya ratusan itu. Baik itu petualang atau pun pangeran dari kerajaan lain, mereka semua di kumpulkan dalam satu tempat yang akan dijadikan pertarungan antar penyihir ini. Sang raja kerajaan Eartfil beserta dengan ratu yang duduk di kursi VIP melihat begitu banyaknya peserta yang mengikuti kompetisi kerajaan ini.


Di satu tempat yang merupakan tempatnya wasit dalam kompetisi ini tengah berdiri di mimbar berhadapan dengan ratusan peserta. Dia memakai pakaian serba coklat ditambah topi segitiga membuatnya terlihat seperti petualang, satu bola kristal ungu melayang di hadapannya seperti sebuah pengeras suara supaya mereka semua bisa mendengar apa yang akan dia katakan.


“Baiklah akan saya sampaikan kompetisi pertama hari ini.” Suara menggema dari wasit laki-laki itu membuat semua peserta dan penonton tertuju pada satu titik yaitu wasit. “Kalian semua akan berlomba untuk mendapatkan sisik naga di puncak gunung tertinggi kerajaan ini, setelah mendapatkannya bawa kembali ke dalam arena. Jumlah sisik naga ada seratus buah, itu berarti yang akan lolos hanya ada seratus orang dari sekian banyak peserta yang mendaftar, kalian di perbolehkan menggunakan seluruh kemampuan kalian tapi tidak boleh menggunakan sihir terbang atau hewan peliharaan yang bisa terbang, tidak ada yang curang seperti meminta bantuan orang lain yang bukan peserta jika ada yang melanggar maka akan didiskualifikasi. Dilarang membunuh, kalian boleh bertarung satu sama lain selama kompetisi tapi dilarang membunuh, jika ada yang melanggar maka akan didiskualifikasi bahkan akan di penjarakan. Ini adalah kompetisi bukan ajang untuk saling membunuh, tunjukkanlah kemampuan kalian tanpa harus membunuh.”


“Sepertinya ini lebih mirip perlombaan bukan...” ucap Yugi yang berada disamping Maruya.


Maruya yang mendengarnya menanggapi perkataan dari Yugi dengan senyuman senangnya. “Kau benar, yosh... aku semakin bersemangat.”


“Sepertinya suasana hatimu sedang membara ya.” Balas Yugi.


“Semua orang pasti akan mengeluarkan seluruh kemampuannya.” Gumam seorang pemuda yang memakai masker hitam.


“Hora hora aku akan bergerak dengan kecepatan kilat.” Ucap pemuda bersurai kuning runcing.


“Dalam mengatasi hal ini haruslah tenang.” Seorang berambut hitam lurus dengan poni menutupi mata kirinya hanya berucap dengan tenangnya.


“Baiklah tanpa menunggu lama lagi, pertandingan...”


Semua peserta bersiap saat mendengar aba-aba dari wasit yang siap memulai pertandingan yang akan segera dimulai ini.


“DIMULAI...”

__ADS_1


Secara membeludak semua orang langsung melesat dengan caranya masing-masing. Ada yang menggunakan kedua tangannya sebagai booster untuk melesat, ada yang memanggil hewan peliharaan seperti serigala, harimau, bahkan makhluk melata seperti ular dan kalajengking raksasa. Tapi masih ada juga mereka yang berlari menggunakan kakinya ditambah sihir penguat dan kecepatan. Dan satu orang yang menggunakan kakinya berlari secepat kilat bagaikan petir kuning yang menyambar tanpa ada halangan sedikit pun. Dia adalah sang pemuda berambut kuning yang sebelumnya sangat bersemangat. Sementara dengan sang pemuda surai putih salju sekarang tengah berlari dengan kecepatan tinggi sambil menyelimuti tubuhnya dengan aura kebiruan untuk menambah daya tahan tubuh dan kecepatannya.


[“Hei Yugi, bukankah kalau seperti ini akan lama untuk menyusul mereka?”] tanya Yui dalam pikiran Yugi.


‘Tenang saja, apa kau tidak mendengar perkataan dari wasit itu. Dia berkata kita boleh bertarung satu sama lain... itu artinya...’ sebelum Yugi menyelesaikan perkataan batinnya sebuah ledakan terjadi didepannya dan hal itu membuat Yugi tersenyum misterius.


[“Begitu rupanya, masih saja ada orang bodoh yang bertarung dalam kompetisi ini, seharusnya mereka menghindari pertarungan dan terus saja fokus pada satu tujuan.”]


“Oleh karena itu aku menjaga jarak dari mereka, jika seperti ini aku akan terus maju tanpa ada hambatan sedikit pun.” Gumam Yugi yang melewati beberapa orang yang terkapar setelah ledakan menghilang. “Kita hanya harus menghindari pertarungan yang tidak berarti ini...”


Tanpa hambatan sedikit pun itu yang diinginkan oleh Yugi sampai sebuah batu besar mengarah padanya. Dengan cepat dia menghindar ke samping kanan dan berhenti tepat di bawah pohon. Dengan sigap dia bersembunyi dibelakang pohon sambil memegang beberapa es berbentuk jarum di sela-sela jarinya. Matanya melihat ke segala arah dengan waspada jika saja ada serangan lanjutan yang akan mengarah padanya.


“Yui apa kau merasakan kehadirannya di sekitar sini?” tanya Yugi.


[“Kau ini, andalkan saja kemampuanmu sendiri. Aku tidak akan membantu kecuali dalam keadaan terdesak saja.”]


“Memang kau pikir saat ini tidak terdesak apa...” Yugi tidak bisa melanjutkan perkataannya saat sebuah batu besar kembali menghantam pohon tempat Yugi berlindung sebelumnya. “Sial... dimana sih dia menyerang.” Yugi melayang diatas setelah menghindari batu besar itu. Dan kini dia mendarat diatas dahan pohon sambil menganalisa sekelilingnya.


Drrrrttt...


Sebuah guncangan dirasakan oleh Yugi tepat saat sebuah tanah mencuat seperti menara kearah pohon yang dia naiki. Tapi dengan reflek cepat Yugi melompat mundur menjaga jarak dari tanah yang tiba-tiba menjadi menara tajam itu.


“Siapa kau, tunjukkan dirimu.” Teriak Yugi yang sambil menganalisa sekitarnya.


“Hahahahaha... hebat juga kau bisa menghindari semua seranganku.” Seorang laki-laki bersurai coklat tua menatap Yugi rendah diatas batu raksasa yang sepertinya baru saja dia ciptakan.


“Siapa kau?” tanya Yugi yang menatap laki-laki itu dengan tajam.


“Namaku Tairu... seorang penyihir tipe tanah. Seperti yang kau lihat, ini adalah wilayahku sekarang.” Ucap Tairu sambil membuat sebuah dinding tanah yang mengelilingi mereka.


Yugi yang tidak menyadarinya mulai tersudut, ekspresi wajahnya menjadi keras saat tau kalau dia sudah terjebak dalam sihir Tairu. Tapi hal itu tidak bertahan lama saat Yugi merilekskan postur tubuhnya seolah tidak terjadi apapun. “Aku Yugi... seorang penyihir tipe es. Dan...” seketika tanah yang mengelilingi Yugi diselimuti oleh es dan membuat Tairu terkejut dibuatnya. “Seperti yang kau lihat, aku membekukan tanahmu.”


“K-kau... bagaimana mungkin? Dan jangan menirukan perkataanku.” Kejut dan marah Tairu yang melihat sekelilingnya sudah di selimuti oleh es.


“Maaf, hanya saja itu sedikit menyenangkan..." Yugi tersenyum senang saat mengatakan hal itu. "Nah sekarang... mungkin saja kau itu sudah salah memilih lawan...” ucap Yugi dengan nada intimidasi kearah lawannya.


“Heh... aku tidak akan kalah darimu.” Tairu menempelkan kedua tangannya ketanah dengan cepat. “Ground Golem...” dengan sekejap terciptalah patung raksasa berbentuk hewan mirip gorila. “Serang dia golem ku...”


Dert... dert... dert...


Setiap langkah golem itu menggetarkan tanah yang dipijak oleh Yugi. Seolah tanah itu bisa saja terangkat ke atas dengan mudahnya. Saat sebuah tangan kanan golem akan menyerang Yugi secara vertikal, dengan cepat dia melompat mundur untuk menjaga jarak dari golem itu.


“Hahaha... kau tidak akan bisa lari darinya, rasakan pembalasanku.” Teriak Tairu dengan wajah senangnya.


“Cih ini akan sangat merepotkan. Jika tidak cepat aku hanya akan menghabiskan waktuku disini. Semuanya akan sia-sia jika aku tidak memenangkan lomba ini...” Yugi melompat tinggi dengan tangan kanannya teracung kearah golem. “Melesatlah... Ice Ball.” Beberapa bola es menyerang kearah golem tanah itu seperti bom yang meledak.


Duar duar duar


“Aku memasukkan energi sihirku supaya bola es itu meledak saat menyentuh golem nya. Apa itu masih belum cukup...” gumam Yugi yang memperhatikan serangannya saat mendarat dengan selamat.


Dert dert...


Golem itu masih bisa berjalan seperti sebelumnya seolah serangan tadi tidak berefek padanya.


“Jangan harap golem ku bisa dihancurkan dengan mudah.” Ucap Tairu yang membanggakan golem ciptaannya.


“Aku tidak pernah bilang akan menang hanya dengan itu...” balas Yugi yang tersenyum misterius.


“A-apa...” Tairu terkejut saat melihat golem nya mulai berhenti bergerak. Dia pun sadar saat melihat sebuah es yang berada dikaki golem nya. “K-kau... ternyata tadi hanya sebuah pengalih perhatian saja. Tujuanmu yang sebenarnya adalah mengincar kakinya.”


“Setengah benar... yang aku incar bukanlah hal itu, tapi...” Yugi menunjuk kearah Tairu atau lebih tepatnya belakang Tairu.


Tairu yang mengerti arah telunjuk Yugi langsung saja membalikkan badannya dan disana sudah tercipta tombak es yang melayang dengan begitu banyaknya mengarah pada Tairu. Dia pun terkejut dan tidak menyadarinya jika dia sudah di skakmat saat pertama kali memulai perlawanan ini.


“S-sejak kapan...” Tairu mulai sadar saat Yugi menyerang golem tanahnya, saat itu terjadi ledakan yang mengakibatkan debu sehingga Tairu tidak bisa melihat apa yang terjadi. “Begitu rupanya... yang kau incar itu adalah sang pengguna jurus.”


“Tepat sekali, saat kau sibuk memperhatikan pertarunganku dengan golem mu, saat itu juga aku memanfaatkan debu yang aku buat untuk menciptakan puluhan tombak es tanpa kau sadari.” Yugi berjalan kearah golem tanah dan menyentuh kakinya. Dalam sekejap golem itu langsung berubah menjadi patung es yang tidak bisa bergerak sama sekali. “Aku menang...” beberapa detik kemudian golem itu pun pecah menjadi serpihan es tanpa menyisakan apapun.


“Sial... aku telah mengerahkan seluruh energi ku untuk membuat golem itu. Kau menang...” Tairu mengangkat kedua tangannya pasrah saat Yugi sudah berhasil menyudutkannya.


“Aku tidak mengerti kenapa kau melawanku, seharusnya kita memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk mengambil sisik naga tanpa harus bertarung. Tapi kau... aku tau kau bukan orang yang sebodoh itu. Dari sikapmu itu, kau seperti...” tebakan Yugi menjadi benar saat Tairu tersenyum senang.


“Benar, aku hanya menghambat kalian para peserta... tujuanku adalah untuk menyisihkan dari sekian banyaknya yang mendaftar. Tentu saja bukan hanya aku, banyak dari kami yang sudah menyusup menjadi peserta dalam ujian kali ini.” Ucap Tairu yang membeberkan rencananya.


“Mereka yang tidak layak tidak bisa melanjutkan kompetisi... jadi begitu. Biar aku tebak, kau penyihir dari kerajaan Eartfil bukan. Buktinya sudah jelas, ujian, menyusup menjadi peserta, menggagalkan mereka yang lemah. Sepertinya raja sangat ketat dalam kompetisi ini ya...” ucap Yugi dengan senyuman kemenangannya.


“Benar... dari sekian peserta yang aku lawan, kau mungkin salah satu yang berhasil lolos. Sekarang pergilah dan ambil sisik naganya. Dari sini merupakan wilayahku... jadi jika kau lurus saja maka tidak akan ada lagi yang menghambatmu. Yaa kecuali ada peserta asli yang lain menantangmu...” ucap Tairu dengan postur santainya.


“Terima kasih kalau begitu...” Yugi langsung saja melesat meninggalkan Tairu yang terduduk lemas.


Tairu memandangi awan putih yang bergerak perlahan dimana langit biru terlihat cerah. “Dia... orang itu masih belum menggunakan seluruh kemampuannya. Tapi dia berhasil menyudutkanku dengan mudahnya... siapa dia itu sebenarnya?”


Kompetisi kerajaan sudah berlangsung sampai tahap dimana setiap peserta mulai menyisakan sedikit dari mereka yang berhasil lolos dan mengambil sisik naga. Ada beberapa penyihir kerajaan yang menyusup menjadi peserta sebagai salah satu ujian bagi mereka yang ingin lolos ke tahap selanjutnya. Tapi di lihat dari peserta yang tersisa, semuanya menurun drastis... sepertinya tidak hanya penguji kerajaan saja yang melawan para peserta. Tapi ada juga peserta yang saling menyerang peserta yang lain. Pergolakan lomba ini seperti sebuah medan perang bagi mereka...


Kini aku yang sudah berhasil melawan salah satu penyihir kerajaan sekarang sedang berlari menuju puncak gunung untuk mengambil sisik naga... aku tidak boleh kalah disini...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2