KAISAR ES

KAISAR ES
SATU VS TIGA


__ADS_3

Pagi yang begitu hangat, tapi semuanya menjadi sangat menegangkan disaat kami berkumpul dalam satu tempat dimana disanalah kami akan saling mendominasi...


“Selamat pagi untuk kalian semua wahai pejuang hebat.” Seorang lelaki yang merupakan wasit dalam pertandingan kerajaan berbicara pada puluhan peserta yang tengah berbaris rapih di depannya. Dia jugalah yang menjadi wasit kemarin dimana pertandingan itu merupakan awal dimulainya kompetisi ini. Setelah cukup lama menatap semua peserta dia pun kembali berbicara. “Tanpa membuang waktu lagi saya Rud akan menyampaikan kompetisi selanjutnya, atau lebih tepatnya pertarungan.” Perkataan dari Rud membuat semua orang sedikit terkejut walau ada beberapa dari mereka yang tampak senang atau lebih tepatnya menyeringai.


“Sepertinya ini bukanlah pertarungan biasa.” Tebak Yugi yang tengah menganalisa situasi.


“Kenapa harus ambil pusing, kita tinggal bertarung dan menangkan...” ucap Maruya dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangannya ke depan.


Sementara Yugi hanya mampu menghela nafas lelah saat mendengar perkataan simpel dari temannya ini. Tapi wajah mereka kembali serius saat mendengar lanjutan dari wasit.


“Pertarungan ini bukanlah pertarungan biasa, pertarungan ini dilakukan oleh empat orang dalam satu arena dan hanya satu saja yang akan menjadi pemenangnya.” Lagi-lagi perkataan dari Rud membuat beberapa peserta menjadi tegang dimana mereka akan saling bertarung untuk memperebutkan kemenangan. Tapi ini bukan pertarungan satu lawan satu, tapi ini adalah pertarungan empat orang dimana hanya satu orang yang bisa bertahan dan mengikuti kompetisi selanjutnya.


“Lebih menarik dari yang aku duga...” ucap seseorang dengan jubah merah lambang Pheonex yang begitu wibawa.


“Ini akan semakin seru.” Ucap seorang lelaki berjubah hitam dengan senyuman seringai yang begitu menakutkan.


“Aku semakin bersemangat.” Seorang bersurai kuning jabrik begitu bersemangat mendengar peraturan tersebut, matanya menunjukkan kobaran semangat yang begitu tinggi.


Tapi masih ada beberapa peserta yang merasa tegang dan takut saat tahu bahwa pertarungan ini merupakan pertarungan empat orang. Bagi mereka mungkin ini pertarungan yang sangat berat, tapi demi mendapatkan hadiahnya mereka tidak memperdulikan hal tersebut.


Untuk beberapa saat wasit menghirup nafas sejenak dan menatap kembali kearah para peserta. “Baiklah kita akan segera memulai pertarungannya, bagi kalian yang tidak dipanggil harap meninggalkan arena pertarungan dan silahkan menunggu dikursi penonton.” Ucap Rud, kemudian dia menatap kearah sebuah hologram besar yang melayang diatasnya sehingga para peserta dan penonton pun bisa melihatnya. Dengan begitu cepatnya nama-nama dari setiap peserta diacak sampai beberapa detik kemudian hologram tersebut berhenti mengacak nama. “Pertarungan pertama akan dilakukan oleh... Ago, Aro, Azo dan Yugi.”


Peserta yang terpanggil menatap layar hologram itu dengan tatapan tajam. Keseriusan yang begitu kental dapat mereka rasakan dari setiap peserta yang terpanggil. Yugi yang merupakan salah satunya hanya mampu terdiam dengan pandangan tegang. Tapi ketegangannya hilang saat Maruya menepuk pundaknya seraya tersenyum dan berkata.


“Jangan sampai kalah ya...”


“Tentu saja.” Jawab Yugi dengan mantap.


Maruya pun meninggalkan arena pertarungan itu beserta peserta yang lain yang tidak terpanggil. Kemudian keempat peserta yang terpanggil itu berdiri didepan wasit untuk menunggu instruksi selanjutnya.


“Seperti halnya kemarin, membunuh dilarang di pertarungan ini. Kalian boleh menggunakan seluruh kemampuan kalian tapi diusahakan jangan sampai membunuh. Jika sudah mengerti silahkan kalian mengambil posisi masing-masing.”


Yugi langsung saja menjaga jarak dari peserta yang lain begitu pula mereka yang juga menjaga jarak satu sama lain. “Pertarungan dimulai...”


Kompetisi kedua pun dimulai, pertarungan empat orang ini merupakan pertarungan yang akan menentukan siapa yang akan melaju ke tahap selanjutnya... dibawah langit biru tanpa awan, matahari kian meninggi sedikit demi sedikit, dan kami pun disinarinya dengan rasa panas yang semakin menegang...


Seorang lelaki bernama Ago yang mengenakan pakaian petualang serba hijau langsung saja menerjang kearah Yugi dimana dia menggunakan sebuah senjata tombak yang langsung saja dia tusukan kearah Yugi. Tapi dengan cepat dia menghindari tusukan itu dengan bersalto ke belakang sambil merapalkan mantra.


“Freezing...” Yugi menempelkan tangan kanannya ke tanah dan seketika tanah tersebut membeku berdiameter 30.


Ago yang berada dijarak jangkauannya hanya mampu terdiam karena kakinya sudah membeku oleh es milik Yugi. “Sial...” ujar Ago dengan tatapan kesal.


“Satu tertangkap, tapi setidaknya aku akan mengalahkanmu lebih...”


Perkataan Yugi tidak bisa dia lanjutkan karena sebuah tombak berlapis api melesat kearahnya tepat didepan wajahnya. Dengan sigap Yugi menghindar kearah kanan dan melihat si pelaku pelemparan. Disana dia bisa melihat Azo yang mengenakan pakaian petualang serba merah tengah berpose melempar dan bisa dia asumsikan bahwa Azo lah pelakunya. Tidak berhenti disana dibelakang Yugi juga terdapat satu peserta lagi yang mengenakan pakaian serba coklat cerah dengan tombaknya dia arahkan tepat ke punggung Yugi.


Yugi yang merasakan bahaya dengan cepat membalikkan badannya dan langsung saja menangkap tombak itu sambil menatap sang pemilik tombak dengan tajam. “Sepertinya kalian saling bekerja sama untuk mengalahkanku ya.” Ucap Yugi disela menahan tombak Aro.


Aro tidak memperdulikan hal itu karena dia sedang merapal mantra dengan pelan. Yugi yang menyadari gerakan bibir Aro dengan cepat melepaskan tombak tersebut dan melompat mundur guna menjaga jarak. Tapi sayang kedua kakinya sudah terperangkap oleh tanah yang langsung saja mencengkram kedua kakinya dengan kuat.


“Pengguna tanah.” Yugi menatap ketiga orang itu yang langsung saja berkumpul dan menatap kearah Yugi.


Aro, Azo dan Ago menyeringai menatap Yugi yang begitu terkejut saat melihat mereka. Azo berjalan sedikit mendekat kearah Yugi sambil berkata. “Pertarungan ini bukanlah pertarungan empat orang... tapi pertarungan satu lawan tiga.”


Deklarasi dari Azo membuat semua penonton terkejut begitu pula Vira, Maria dan Maruya. Dengan marahnya Vira mencengkram pembatas arena itu sampai besinya bengkok. “Ini tidak adil, bagaimana mungkin guru akan bisa melawan ketiga orang itu. Itu curang...”


“Memang benar disituasi ini merupakan kecurangan yang terlihat jelas...” ucap Maruya.


“Kalau begitu...”

__ADS_1


Perkataan Vira terpotong oleh ucapan Maruya yang melanjutkan penjelasannya. “Tapi di peraturan tidak menyebutkan bahwa di pertarungan ini tidak memperbolehkan kerja sama antar peserta untuk menjatuhkan peserta lain. Jadi ini tidak melanggar peraturan selama peserta itu yang berada didalam arena.”


“T-tidak mungkin.” Ucap Maria yang terkejut akan penjelasan kakaknya.


Vira yang mendengar penjelasan Maruya hanya mampu terdiam sambil menatap kearah Yugi dengan pandangan khawatir. Dia terus berdoa untuk keselamatan gurunya supaya gurunya selamat dari pertarungan tersebut.


“Jadi begitu, jika dilihat dari manapun kalian pasti dari satu kerajaan yang sama. Iya kan...” tebak Yugi dengan tatapan seriusnya.


“Tebakanmu memanglah tepat, kami berasal dari kerajaan Boltendra.” Jawab Ago yang mengaliri tombaknya dengan elemen petir yang begitu ganas. Tubuh Ago di lapisi petir dengan rambut birunya yang teracung layaknya duri. Dia memasang kuda-kuda siap menyerang dengan membungkukkan badannya sedikit dan pandangan yang terarah ke depan seraya menatap Yugi layaknya mangsa. “Dan kami juga adalah... saudara kembar.” Teriak Ago yang langsung melesat kearah Yugi.


“Apa...” Yugi terkejut akan pernyataan Ago, tapi dengan cepat dia mengeluarkan perisai es untuk menangkis serangan petir milik Ago.


“Percuma...” tusukan tombak Ago menembus perisai Yugi dan mengakibatkannya terpental beberapa meter ke belakang.


Tidak cukup disana Azo sudah menyiapkan jurusnya tepat dibelakang Yugi. Tombak Azo terlapisi api dengan satu hentakan dia menebas tombak itu tepat ke belakang Yugi.


Syaaatttt


Blaaaarrrrrr


Naas Yugi terkena sayatan tersebut dan terpental cukup keras sampai menabrak tembok. Tidak memberi cukup waktu untuk Yugi bernafas, tembok yang berbenturan dengan Yugi langsung saja mengikatnya layaknya rantai yang melilit. Disana Aro sudah menempelkan tongkatnya ke tanah dimana didepannya terdapat lingkaran sihir kuning yang merupakan sihirnya. Yugi yang terperangkap dengan susah payahnya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tanah itu. Tapi sayang semakin melawan Yugi malah semakin terlilit kuat.


‘Sial, aku tidak tau kalau akan sekuat ini.’ Batin Yugi yang menatap kearah depannya. Alangkah terkejutnya dia melihat Ago yang sedang merapalkan sihir serangan berbasis petir.


Sebuah awan mendung terbentuk dilangit dengan pusaran yang memusat di tempat Ago. Dia mulai mengacungkan tombaknya ke langit dan seketika gemuruh petir pun meledakkan tempat Ago berdiri, bukannya terluka atas sambaran petir tersebut Ago malah terlihat semakin kuat karena petir yang menyambar tubuhnya, tombak yang diacungkannya dia arahkan kearah Yugi, ujung tombak itu tepat menghadap Yugi dengan aura petir yang berkumpul pada ujungnya.


“Dengan begini berakhir sudah... Lightning Light.” Ujung tombak Ago melesatkan sebuah laser biru dengan petir yang menyambar di setiap lintasannya.


Yugi hanya mampu menatap terkejut sampai laser itu tepat berada didepannya dan menghantamnya dengan ledakan besar layaknya gemuruh petir yang mengamuk.


Duuuuaaaaarrdddd...


Semua penonton dibuat bisu dengan pertarungan yang begitu cepat itu. Mereka bahkan tidak bisa mengedipkan matanya hanya sekedar untuk menutupi dirinya dari angin bekas ledakan tersebut. Asap menghalangi pandangan para penonton, mereka tidak tahu apakah Yugi masih selamat atau sudah berakhir disini.


“Guurrruuuuuuuu...” Teriakan Vira begitu membahana walau begitu para penonton tidak memperdulikannya.


Kembali ke arena dimana ledakan besar terjadi yang dilakukan oleh Ago yang dengan santainya menenteng tombak ke atas bahu kanannya. Dia tersenyum puas akan hasil yang baru saja dia berikan pada pemuda surai salju, kedua rekannya yang merupakan kembarannya langsung menghampiri Ago dan sama-sama menatap kepulan asap yang dimana disana merupakan tempat Yugi sebelumnya terkena serangan petir Ago.


“Aku pikir dia tidak bisa menghindari itu...” ucap Azo yang merasa yakin akan kemenangannya.


“Mau dipastikan?” tanya Aro yang menatap kepulan asap itu.


“Tidak perlu...”


Ketiga bersaudara itu terkejut saat mendengar suara yang berasal dari kepulan asap, dalam sekejap sebuah angin kencang meniup semua debu dan memperlihatkan Yugi yang dengan gagahnya memegang pedang putih es yang dia buat seraya berpose setelah menebas udara kosong dengan tangan kanannya yang memegang pedang tersebut. Yugi tersenyum meremehkan sambil berjalan santai mendekati ketiga saudara kembar itu.


“Serangan kalian memanglah hebat, tapi sayang tidak cukup kuat untuk bisa membuatku tereliminasi dari kompetisi ini.” Ucap Yugi dengan santainya.


Terlihat jelas raut tidak suka dari ketiga lawannya yang begitu marah mendengar nada santai Yugi seolah meremehkan mereka. Tapi hal tersebut membuat Yugi senang karena itulah yang dia inginkan.


‘Dalam pertarungan emosilah yang harus dijaga, jika kau terpancing oleh lawanmu dan tidak bisa mengontrol emosi maka...’ batin Yugi terpotong saat dia merasakan sebuah serangan dadakan dari tiga arah dimana disana sebuah serangan Tanah, Api dan Petir saling melesat pada satu titik yaitu Yugi. Tapi dengan tenangnya dia menghindari ketiga serangan itu dengan melompat ke udara. ‘Serangan sekuat apapun, bisa kita hindari.’ Lanjutnya menyeringai saat satu orang yaitu Ago melesat kearahnya dengan tombak berlapis petir.


“Rasakan tombak petirku ini.” Teriak Ago sambil menusuk sekuat tenaga kearah Yugi yang melayang diudara sehingga Ago berpikir dia akan menang karena bagaimana pun Yugi tidak bisa menghindari serangan di udara.


Tapi pemikiran dari Ago sangatlah keliru, karena Yugi belum mengeluarkan kekuatan sesungguhnya. Dan juga bagi Yugi serangan diudara justru memberinya keuntungan. “Mari kita bermain...”


Blash...


Sebuah sayap naga biru transparan terbentang gagah dibelakang punggung Yugi sehingga membuat para penonton takjub saat melihatnya. Begitu pula Raja dan Ratu yang melihat Yugi terbang menggunakan sayap naga yang dibutanya dari energi sihir.

__ADS_1


“Sekarang giliranku...” Yugi membuat satu pedang es lagi dan membuat pose dengan kedua tangannya yang memegang pedang es seperti bulan yang melingkar. “Dragon... Sword Dance.”


Dengan cepat Yugi menebas pedang ditangan kanannya secara vertikal dari atas ke bawah menuju Ago.


Trank


Tombak berlapis petir milik Ago terlepas dari tangannya dan menancap di tanah saat menerima hantaman keras dari pedang es buatan Yugi. Wajah terkejut Ago terlihat jelas saat menatap mata biru sedingin es milik Yugi yang begitu kentara. Tangan kiri Yugi yang juga memegang pedang es dengan cepat dia tebaskan secara diagonal dari atas kirinya kearah kanan bawah dan menebas pelindung petir yang menyelubungi Ago.


Slash


Tidak berhenti disitu Yugi terus saja menebas layaknya sedang menari, tebasan itu dilakukan secara bersilang dan bergantian mengikuti irama seperti seekor naga yang sedang menari di angkasa. Tebasan itu semakin cepat dan cepat bahkan kecepatannya membuat tangan Yugi sampai tidak terlihat, di akhir tebasannya kedua tangan Yugi yang memegang pedang dia acungkan ke atas membuat pola X dan langsung melayangkannya tepat ke tubuh Ago sampai dia terpental ke bawah dan menabrak tanah dengan keras sehingga membuat kawah berdiameter 20 meter.


Azo dan Aro tidak bisa bergerak sedikit pun dimana salah satu saudaranya terkapar dengan menyedihkan di tanah setelah mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pemuda surai putih salju yang menatap mereka dengan dingin. Secara perlahan Yugi turun dari terbangnya dan menapaki tanah dengan sempurna, sayap buatannya melebur menjadi partikel biru kecil dan menghilang. Langkah kaki Yugi berjalan mendekat kearah dua bersaudara yang masih berdiri membeku didepannya.


“Sungguh ironis bukan, kalian seharusnya tidak meremehkan lawan yang kalian hadapi. Sekarang siapa yang mau menyusul rekanmu itu?” tantang Yugi yang saat itu sudah menyulut emosi Azo.


Kobaran api yang begitu panas bisa di rasakan Yugi walau jaraknya sekitar 20 meter, kobaran itu semakin besar saat tatapan Azo menatap kearah Yugi dengan penuh amarah. Tubuh Azo yang dikelilingi api merah yang ganas dengan tegaknya berdiri memegang tombak merah yang sudah dikelilingi api yang membara.


“Beraninya...” Azo berjalan perlahan sambil bergumam. “Beraninya kau... Beraninya kau melakukan itu pada kakak, aku tidak akan memaafkanmu.” Dengan sekali hentakan Azo melesat kearah Yugi sambil menghunuskan tombaknya bertubi-tubi sehingga terlihat yang tadi tombaknya cuma satu sekarang terlihat menjadi puluhan tombak yang menghunjami Yugi.


“Kak Azo...” Aro yang tidak mau diam saja dengan cepat merapal mantra dan menempelkan tangannya ketanah. “Ayo cengkeram dia...”


Seketika tanah yang dipijak Yugi langsung mencengkeramnya sehingga dia tidak bisa bergerak untuk menghindari tombak api itu. Karena tidak memilik pilihan lain terpaksa Yugi mengeluarkan ledakan yang begitu kuat dari gelombang kekuatan dari dalam tubuhnya yang dia pusatkan dan disebar secara serentak.


Blaaaaaaarrrrrr


Ledakan itu membuat sekitarnya berantakan dan terlihat beberapa retakan di tanah. “Ya ampun, aku sampai harus meledakkan tempat ini.” Tempat Yugi berpijak sudah tersapu bersih membuat sebuah kawah yang cukup besar seperti dihantam meteor berukuran sedang.


Azo yang sebelumnya menyerang Yugi dapat selamat dari ledakan dadakan itu dan kembali ke tempat Aro berada. Mereka lagi-lagi dibuat terkejut oleh ledakan yang terjadi dimana terdapat kawah didepan mereka. Semua penonton kembali takjub akan kekuatan pemuda surai salju yang begitu hebat.


“Sungguh pemuda yang misterius...” ucap sang Raja yang duduk di kursi VIP.


“Tapi dia cukup tampan, aku rasa dia cocok jadi menantu kita.” Ucap sang Ratu yang membalas perkataan rajanya.


“Ya mungkin kau benar, tapi masih banyak orang yang memiliki potensi yang menjanjikan, mungkin kita bisa melihat yang lebih menarik lagi...” Balas sang Raja.


Azo dan Aro yang terdiam ditempatnya baru saja sadar akan kehilangan seseorang atau target yang harus mereka bereskan. Ya benar sekali, Yugi menghilang dari tempat kawah yang dibuatnya dan membuat dua bersaudara itu kebingungan mencarinya.


“Mencariku?” tanya sebuah suara yang berada diatas langit.


Dua bersaudara yang mendengar suara itu langsung saja menengadahkan kepala mereka ke langit dan kembali di buat terkejut saat melihat Yugi yang melesat ke bawah dengan kecepatan tinggi dimana sayap naganya melipat sambil membawa dua bola biru energi dengan kepadatan tinggi yang siap di lesatkan kearah Azo dan Aro.


“Sejak kapan?” tanya Maruya yang bingung bagaimana mungkin Yugi bisa berada diatas langit yang sebelumnya berada di kawah buatannya sendiri.


“Berakhir sudah.” Dengan sekali ayunan Yugi melesatkan dua energi ditangan kanan dan kirinya kearah Azo dan Aro dengan kecepatan tinggi.


Kedua bersaudara itu yang tidak sempat menghindar hanya mampu terpaku ditempat dan...


JDuuuaaaarrrrrrr


Sebuah ledakan besar terjadi akibat dua bola biru muda yang bertekanan tinggi menghantam dua bersaudara dan menimbulkan asap yang cukup tebal untuk menghalangi pandangan. Tidak lama debu itu menghilang dan mendapati Azo dan Aro yang terkapar pingsan di arena dengan dua lubang kawah tepat di pusat mereka. Dengan begitu wasit Rud yang melihat hasil akhir pertarungan tersebut dengan cepat mengumumkan pemenangnya.


“Pemenang pertarungan awal ini adalah... YUGI.”


Semua penonton bersorak ria melihat hasil yang begitu mengejutkan, seorang pemuda mengalahkan ketiga orang penyihir kembar hanya dengan sihir sederhana. Hal itu membuat sang Raja dan Ratu tertarik pada pemuda yang bernama Yugi tersebut.


Aku berdiri, di tanah kemenangan, dimana sorakan semua orang bagaikan pujian yang terdengar merdu. Langkah kakiku berjalan meninggalkan arena dengan tangan kanan teracung ke atas... seolah aku mendeklarasikan kemenanganku... dan itu, membuatku cukup senang...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2