KAISAR ES

KAISAR ES
MORYASENSE VS PHEONEX End


__ADS_3

Dua pedang beradu, menghasilkan suara yang begitu nyaring. Para penonton berdebar melihat gerakan yang sangat mempesona, setiap benturan diantara pedang itu menghasilkan gesekan dengan percikan api kecil. Mereka sedang bertarung didalam sebuah arena dimana kompetisi kerajaan berlangsung, dan sekarang sudah memasuki babak semi final. Dua orang yang bertarung adalah seorang pangeran dari kerajaan yang berbeda, mereka mengikuti kompetisi hanya untuk satu tujuan, yaitu kemenangan.


Trank trank trank


Keduanya menjaga jarak setelah beradu cukup lama, satu pemuda dengan memakai dua pedang, yang dimana masing-masing tangan memegang satu dan menggunakan gaya pedang ganda. Sementara pemuda yang kedua menggunakan satu pedang merah yang didalamnya terdapat iblis Pheonex. Masing-masing memiliki gaya berpedang yang berbeda, selain itu kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing pemuda ini belum sepenuhnya di keluarkan. Dengan kata lain ini seperti permainan untuk mereka.


“Hebat juga, bisa mengimbangi kemampuan pedang ganda milikku.” Ucap Seiga, nafasnya tidak beraturan, walau dia berusaha menyembunyikan itu dengan sikap tenangnya.


Rexas hanya diam saja dan tidak membalas perkataan Seiga. Namun dia memasang kuda-kuda siap menusuk lurus kedepan dengan memposisikan pedangnya di samping wajah. Sebelum dia melancarkan serangannya, sebuah suara terdengar singkat dari Rexas. “Pheonex Spear.”


Swush


Detik itu juga, Seiga tidak bisa bereaksi apa-apa. Tapi karena reflek tubuhnya, kedua tangan itu menyilangkan pedangnya didepan tubuhnya, seolah menahan sesuatu yang akan datang.


Trank


Ternyata benar akan instingnya, dimana Seiga mendapat serangan lurus seperti tombak oleh Rexas. Begitu cepat dan sulit dilihat oleh mata, serangan itu memfokuskan kekuatan pada kecepatan dan memusatkannya ke ujung pedang sehingga serangannya seperti tombak yang menusuk lurus. Aura api yang menyelimuti pedang Rexas bertumpu pada satu titik di ujung pedangnya dan di lesatkan kearah Seiga yang targetnya adalah dada pangeran pedang itu, namun didetik terakhir Seiga masih sempat melindungi dirinya dengan dua pedang yang menyilang di depan tubuhnya. Sebuah adegan yang mendebarkan, tapi serangan itu sendiri masih belum selesai, karena dorongan dari Rexas masih terus berlanjut. Dan Seiga sendiri tahu kalau terlalu lama seperti ini akan jadi bahaya baginya.


“Hora...”


Trank


Dengan teriakan keras itu, Seiga mementalkan serangan Rexas sehingga dorongannya pun terhenti. Rexas pun terpental sedikit ke belakang dan mulai melompat sedikit untuk menjaga jarak. Begitu pula Seiga yang juga mengambil jarak aman untuk berjaga-jaga jika saja lawannya itu akan menyerang kembali.


“Tidak kusangka kalau dia akan menyerang lurus seperti itu. Untung masih bisa kutahan, kalau tidak selesai sudah.” Gumam Seiga.


“Lumayan juga, tapi pertarungan ini aku lah yang menang.” Ucap Rexas.


Seiga menatap bingung, tapi kebingungannya itu terjawab saat melihat pedang ditangan kirinya yang merupakan pedang buatan dari pedang yang asli, sudah patah. “S-sejak kapan? Ah...”


Seiga mengingat kejadian sebelumnya, dimana serangan Rexas mengenai pedang tiruan miliknya yang dia gunakan untuk menahan sementara yang asli sebagai penahan, pertahanan silang dengan dua pedang itu ternyata masih belum sempurna untuk menahan serangan Rexas. Dia benar-benar ceroboh jika berpikir serangan itu tidak berbahaya. Sial, itu merupakan kesalahan baginya, Seiga pun tersenyum. Ini menjadi lebih menarik di banding yang dia pikirkan, ternyata pangeran yang ada didepannya bukan hanya membual saja. Dengan begini pertarungan akan menuju ke tingkat selanjutnya, itu lah yang di pikirkannya, bahkan senyuman itu sendiri sudah mengartikan hal tersebut.


“Baiklah, mari kita lanjutkan ke ronde berikutnya.”


Setelah perkataan Seiga, terciptalah banyak pedang yang mengelilinginya, dan itu semua berjumlah sepuluh pedang yang dibuat dari pedang aslinya. Semua penonton di perlihatkan kembali oleh festival pedang yang melayang, Rexas sendiri sudah berkeringat dingin. Akhirnya pertarungan pun akan semakin memanas sekarang.


“Aku semakin terbakar.” Gumam Rexas dengan senyuman menyeringai.


Dibangku VIP dimana keluarga kerajaan berada, sang Raja dan Ratu tengah melihat pertarungan kedua dari babak semi final ini dengan takjub. Apalagi saat melihat kedua peserta menggunakan senjata pusaka yang memang turun temurun dari generasi mereka, dan lagi hal itu tentunya membuat kompetisi kerajaan ini lebih meriah di banding tahun lalu.

__ADS_1


“Kedua Pangeran memiliki potensi yang luar biasa. Mereka pasti bisa membawa masing-masing kerajaannya menuju kejayaan.” Komentar Raja terhadap dua Pangeran yang ada didalam arena itu.


Kemudian Ratu pun ikut membalas perkataan suaminya. “Ya, aku tidak terlalu memilih sekarang, baik itu Pangeran yang sedang bertarung sekarang ini atau pun pemuda pemilik sihir naga itu, mereka punya potensi yang hebat untuk menjadi menantu kita.”


Lani yang mendengarnya masih tidak bisa menahan akan rasa malunya itu, oleh karenanya dia akan berpura-pura tidak mendengar saja.


“Tapi kita masih belum melihat kekuatan dari satu peserta lagi, kalau tidak salah namanya Lugi. Dia petualang yang berasal dari kerajaan ini kan, aku belum pernah melihatnya. Walau begitu dia bisa melaju sampai babak semi final ini, pastinya pemuda itu juga memiliki potensi.” Puji sang Raja pada petualang Lugi.


Wajah Lani seperti kaget sesaat setelah sang Raja mengatakan sesuatu tentang petualang bernama Lugi. Dia memasang wajah murung, entah kenapa sepertinya Lugi memiliki hubungan terhadap Putri Lani. Atau memang itu hanya sebuah ilusi belaka, namun dari suasana hati Lani yang terlihat jelas dari wajahnya, mungkin saja ada sesuatu yang memang di rahasiakan olehnya.


Kembali kedalam arena, Seiga sudah mengeluarkan jurus pedang pelahir nya. Kini terciptalah sepuluh pedang yang sama melayang di sekitar pangeran Swordia itu. Dengan begini pertarungan pun akan semakin menjadi lebih agresif, tentunya Rexas juga mengerti akan situasi yang dihadapinya. Namun hal itu tidak akan membuatnya takut, dengan mode pertama yang di lepaskannya, pedang iblis masih tetap dia genggam. Kobaran api yang menyelimuti pedang mulai menjalar ke seluruh tubuh, terlihatlah Rexas yang terbakar seperti zirah yang digunakan Maruya sebelumnya, tapi hal ini berbeda, karena kekuatan apinya berfokus lebih banyak pada pedang di genggaman tangan kanannya.


“Terbanglah pedang-pedangku.”


Sesuai perintah Tuannya, semua pedang yang berjumlah sepuluh itu langsung melesat kearah Rexas dengan tujuan untuk menusuk sang lawan. Tentunya Rexas tidak tinggal diam, dia berlari kearah samping kanannya untuk memutari semua pedang itu. Namun kecepatannya berlari dan lesatan pedang itu hampir tidak seimbang, dengan kata lain Rexas terkejar oleh lesatan pedang-pedang Seiga.


“Sialan...” umpat Rexas, dia pun berhenti dari larinya dan mencoba menghalau semua lesatan pedang itu.


Trank tank tank trank trank


Lima pedang berhasil di halau dan di pentalkan segala arah dengan tebasan pedang ditangan kanannya. Tapi dirinya tidak bisa bernafas lega, karena masih ada sisa lima pedang lagi.


“Jangan kau pikir ini akan selesai Pangeran Rexas.” Ucap Seiga dengan nada peringatan.


Karena hal itu Rexas pun secara spontan melihat kearah lawannya dan matanya pun membulat sempurna, dia terkejut, karena di hadapannya terdapat banyak sekali pedang yang melayang di sekelilingnya. Dia berputar, melihat dari arah kanan sampai kiri, belakang kemudian kedepan kembali, tidak ada celah untuk kabur. Dan semua pedang yang mengelilinginya itu berjumlah dua puluh, sama seperti saat Seiga melawan musuhnya di babak sebelumnya dimana dia menggunakan teknik ini juga. Sepertinya ini akan menjadi pertarungan habis-habisan, itu pikir Rexas.


“Tidak ada jalan keluar ya.” Ujar Rexas dengan wajah kesal.


“Lebih baik kau menyerah saja Pangeran Rexas.” Perkataan Seiga mengisyaratkan kalau dirinya sudah menang, di pertarungan kali ini dia yang mendominasi pertarungan. Dan kini Rexas lah yang terpojok.


‘Apa aku harus melawannya menggunakan kekuatan penuhku?’ batin Rexas bertanya pada dirinya sendiri. Cuma itu saja yang terpikirkan, lalu apa dia akan bertindak sesuai apa yang dipikirkannya. “Pheonex, aku akan menggunakan tahap kedua, kurasa jalan pikiran kita sama kan...”


[“Menunggu persetujuanku ya, tentu gunakanlah. Mari kita perlihatkan sejauh mana kekuatan kita pada lawan.”]


Rexas tersenyum saat mendengar kalimat setuju itu dari rekannya, dengan begini dia pun tidak akan ragu lagi. Sementara itu Seiga merasa bingung, ada yang tidak beres dengan tingkah Rexas. Senyuman dari lawannya itu seperti isyarat yang tidak mengenakan.


“Gerbang kedua di buka... Hanegeto.”


Api mulai berputar di belakang punggung Rexas, kemudian mulai membentuk sebuah sayap. Udara di sekeliling menjadi panas, seperti berada didalam sauna, dengan asap yang mengepul di sekitar tubuh Rexas. Ini adalah kekuatan Pheonex gerbang kedua. Api yang sebelumnya berputar di belakang Rexas, sudah membentuk sepasang sayap api elang yang sempurna, dan inilah perubahan wujud kedua dari kekuatan pedang iblis Pheonex. Ya benar, perubahan sayap Pheonex, semakin Rexas mendekati wujud sang iblis, kekuatannya pun semakin besar.

__ADS_1


“Kau telah memaksaku menggunakan kekuatan ini, rasakanlah sendiri kekuatan yang berasal dari gerbang sayap.” Teriak Rexas. Kemudian dengan pedang ditangan kanannya, dia pun mengayun memutar dari kanannya kearah kiri dengan putaran 360 derajat. Seketika saat itu juga semua pedang tiruan itu musnah seketika, meleleh oleh panasnya pedang milik Rexas.


Semua orang dibuat kaget, tidak luput juga keluarga kerajaan yang melihatnya. Sebuah kekuatan yang sungguh sangat panas yang mampu melelehkan bahkan pedang tiruan dari pedang pelahir. Seiga juga merasa marah akan kejadian ini, dirinya tidak akan mengira kalau Rexas akan sanggup melelehkan semua pedang itu.


“Sepertinya kau telah memaksa diriku sampai ke titik ini.” Seiga mengangkat pedang ditangan kanannya, setelahnya banyak pedang yang terbentuk dan melayang di atas pedang miliknya. Kemudian semua pedang itu mulai berbaris melingkar didepan Seiga. Dua puluh pedang membuat sebuah lingkaran dan terlihat semacam tali Mana yang saling mengikat semua pedang itu lalu membuat sebuah lingkaran sihir besar. Tidak salah lagi, ini merupakan jurus andalan Seiga saat melawan Leon. “Rasakanlah kekuatan penuh Moryasense.”


“Akan ku balas.” Setelah mengatakan itu, Rexas menyelimuti pedang merah ditangannya dengan Mana dalam jumlah besar, karena dirinya sendiri tahu apa yang akan di lakukan oleh lawannya itu.


“Terimalah... Sword Smasher.”


Lingkaran sihir yang dibentuk oleh pedang Seiga mengeluarkan laser dalam ukuran besar yang langsung mengarah pada Rexas.


“Pheonex: Jigoku No Hinostubasa.”


Rexas membalas serangan laser besar itu dengan tebasan kuat yang membentuk sepasang sayap raksasa yang membelah dua serangan Seiga. Saking kuatnya bahkan laser raksasa itu tidak mampu hanya untuk mendorong kekuatan besar Rexas.


Duuuuuuuuuuuaaaaaaarrrrrrdddrrr


Ledakan besar terjadi, kekuatan dahsyat meniupkan angin didalam arena. Tanah yang hancur mulai menimbulkan debu yang menghalangi pandangan, guncangan kembali hadir didalam arena, mereka yang diluar pun bisa merasakan guncangan tersebut. Dengan begini akhir dari pertarungan pun bisa di saksikan oleh semua orang.


Disaat debu mulai reda, dua pemuda yang bertarung tadi terlihat kelelahan. Namun yang lebih parah adalah Seiga yang terkena efek serangan balasan dari Rexas. Pakaiannya sendiri sudah hancur berantakan, pedang pelahir miliknya sudah jatuh ketanah, dia juga sudah berlutut dengan wajah kacau. Tidak jauh beda dengan Rexas, walau serangannya tadi bisa menghempaskan laser raksasa, namun efek serangan laser itu sendiri masih sedikit mengenainya, untungnya dia dilindungi oleh kekuatan burung iblis, jadinya luka yang dialami tidak terlalu fatal. Dia sendiri masih bisa berdiri dengan gagahnya, seolah yakin akan kemenangannya.


Tap tap tap tap tap


Langkah kaki Rexas mendekati Seiga, dengan pedang Pheonex di tangan kanannya, dia menodongkannya tepat di hadapan Seiga yang juga melihat kearah Rexas.


“Aku yang menang.”


Seiga ingin menyangkal pernyataan dari Rexas, namun dia sendiri tahu tidak memiliki sisa kekuatan lagi. Pada akhirnya dia harus mengakui hal yang tidak dia sukai. “Aku kalah.”


Wasit yang mendengarnya langsung saja mengumumkan pemenang pertarungan kedua dari babak semi final ini. “Pemenangnya adalah Pangeran Rexas Vouleftis.”


Semua penonton bersorak, tidak hanya pada pemenang pertarungan, tapi juga pada Pangeran Seiga yang sudah sekuat tenaga melawan Rexas. Mereka sudah menarik banyak perhatian para penonton, pertarungan mereka juga tidak kalah sengit seperti Duo Dragon Slayer. Tentunya pertarungan adu pedang yang menakjubkan itu sudah membuat para penonton puas dan merasa tidak menyia-nyiakan waktunya melihat pertarungan semi final tahun ini.


“Pertarungan selanjutnya yaitu Pangeran Rexas Vouleftis akan melawan petualang Lugi dari kerajaan Eartfil. Untuk memberi istirahat pada sang Pangeran Rexas, maka pertarungan selanjutnya akan di tunda terlebih dahulu, lalu akan dilanjutkan sore hari ini. Terima kasih atas perhatiannya...”


Demikianlah pertarungan selanjutnya dimana hal itu di tunda sampai sore hari. Karena tentunya untuk memberikan jeda waktu istirahat bagi sang Pangeran Vouleftis yang sudah bertarung dengan menghabiskan kekuatan dan staminanya. Hal itu membuat para penonton sedikit kecewa, namun mereka masih semangat ingin melihat pertarungan nanti sore.


Kau lihat itu Yugi, aku telah memenangkan pertarungan semi final ini, dan saat aku mengalahkan satu peserta lagi, maka kita akan bertemu di final...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2