KAISAR ES

KAISAR ES
DRAGON FORCE


__ADS_3

“Dragon Force...”


Teriakan Maruya dibarengi dengan ledakan aura besar dari tubuhnya. Semua terkaget melihatnya, kobaran yang menyelimuti tubuh Maruya bukan api biasa. Warnanya sangat berbeda dengan api merah kejinggaan pada umumnya. Kobaran api yang menyelimuti Maruya bersinar bagai matahari.


“A-api emas...”


Benar apa yang dikatakan oleh Yugi, kobaran yang menyelimuti Maruya adalah api berwarna emas, dan api itu sendiri terlihat begitu hidup serta panasnya melebihi api pada umumnya. Api dari lava gunung mungkin kalah oleh kobaran api yang menyelimuti Maruya itu. Diluar dugaan, Yugi tidak pernah memprediksi kalau Maruya memiliki kekuatan seperti ini. Freez sang Raja naga Es yang mengajarinya sihir Dragon Slayer Es tidak pernah menyebutkan soal kekuatan ini pada dirinya. Yugi baru tahu kalau ada kekuatan semacam ini, tubuhnya gemetar, entah perasaan apa ini. Mungkinkah ini rasanya gemetar gugup, seolah menghadapi makhluk terkuat dari semua ras, ya Maruya terlihat seperti ras naga. Bahkan melebihi itu, didepannya ini seperti berdiri makhluk terkuat dari kumpulan ras naga, pemimpin dari semua ras naga, sang Raja naga.


“Jangan bercanda, aku tidak mungkin takut padamu. Aku juga pernah bertarung dengan ras terkuat, bahkan aku bertarung dengan salah satu Raja naga. Dan aku juga dilatih oleh Dewa Naga, Raja Naga dan seorang guru perempuan yang cantik. Mana mungkin aku kalah disini...” gumam Yugi untuk menyemangati diri sendiri. Mungkin itu yang diperlukannya saat ini. Melihat lawannya yang semakin serius, dia tidak boleh lengah.


Sementara dengan Maruya, terlihat fisiknya yang tambah berotot sedikit, dengan sisik di bagian bawah matanya yang dekat dengan pipi. Kedua tangannya juga muncul sisik naga berwarna merah. Taringnya semakin menyembul dari mulutnya, tatapan matanya menjadi merah tajam dengan pupil hitam vertikal, sudah mirip seperti mata naga sang predator terkuat dari semua ras. Sejauh ini hanya seperti itu saja perubahan terhadap fisiknya, lalu dengan kobaran apinya yang berubah warna menjadi emas terang seperti matahari, menjadikannya seperti matahari kedua yang terlihat sangat dekat. Semua orang juga merasa silau akan terangnya api itu, para peserta yang tersisa berkeringat dingin melihatnya. Raja dan Ratu merasa kagum dengan pertunjukkan yang diperlihatkan oleh petualang dari kerajaan Vouleftis itu, lalu sang Tuan Putri Lani yang menatap tajam akan kekuatan yang terpancar dari pemuda pengguna sihir Dragon Slayer Api itu.


“Akan sangat bagus kalau diantara salah satu pengguna sihir naga itu menjadi menantuku.” Ucap sang Raja yang didengar oleh istrinya dan juga Tuan Putri.


“Kau benar suamiku, aku ingin sekali menggendong cucuk dari ras naga. Pasti imut...” balas sang Ratu.


Mereka sepertinya saling berbicara dengan senangnya tentang membahas menantu mereka jika berasal dari sang pengguna sihir naga. Ditambah mereka juga sudah merencanakan seperti apa cucu mereka kelak, membayangkan cucunya yang imut memiliki ekor lucu dan sayap yang membuatnya bisa terbang sudah menjadi impian Raja dan Ratu itu. Kenapa mereka begitu sangat senang kalau menantunya adalah sang pengguna sihir naga, bahkan mereka tidak takut kalau cucu mereka nanti terlihat seperti ras naga pada umumnya. Itu dikarenakan sejarah kerajaan ini yang dulunya memang dibangun bersama dengan ras naga. Mereka juga membuat bendera dengan simbol naga cokelat yang melambangkan sang Raja Naga Tanah yang dulu pernah tinggal bersama mereka. Tapi sekian berjalannya waktu, sudah hampir seratus tahun lebih sang Raja Naga Tanah pergi entah kemana tanpa memberitahu tujuannya. Lalu demi mengingat sejarah itu, maka dibuatlah sebuah festival naga setiap selesai kompetisi kerajaan ini. Kurang lebih begitu, bahkan festival naga ini tidak hanya di lakukan oleh kerajaan Eartfil, tetapi juga dilakukan oleh setiap masing-masing kerajaan yang memang memiliki hubungan dekat dengan ras naga.


Sedangkan dengan sang Tuan Putri yang mendengarkan percakapan menyenangkan kedua orang tuanya itu, merasa malu dengan wajah memerah. Apalagi mereka sudah memikirkan tentang seorang cucu. Lani sendiri, jika boleh jujur masih belum menginginkan seorang anak, karena dia masih dalam masa pelatihannya. Lalu dia pun melihat kearah dua peserta itu, jika saja yang memenangkan kompetisi ini adalah Maruya yang notabenenya pengguna sihir Dragon Slayer Api pasti ayahnya akan menyetujuinya, sementara dirinya tidak terlalu mengenal pemuda itu. Kemudian dia melirik kearah sang pemuda yang sudah cukup lama dikenalnya, dan baru-baru ini dia juga tahu kalau pemuda itu pengguna sihir Dragon Slayer berelemen Es. Pastinya juga sang Ayah akan setuju jika pemuda surai putih salju itu menjadi menantunya, lalu untuk Lani, dia berpikir tentang bagaimana nanti masa depannya. Jika dipikir lagi Lani sudah cukup akrab dengannya, dia juga sudah berbagi cerita dengannya. Eh... loh kok, dia merasa senang jika itu adalah pemuda dengan rambut putih salju. Entah kenapa hatinya berteriak girang, ada apa ini... yang benar saja, mana mungkin kan... padahal kami baru saja akrab beberapa hari yang lalu. B-bukan berarti dirinya membenci pemuda itu, hanya saja kenapa dia merasa tidak masalah jika itu adalah pemuda surai putih salju.


‘Ada apa denganku ini, awas saja kau Yugi. Pasti kau telah melakukan sesuatu padaku sampai aku berpikiran seperti itu. Kau harus bertanggung jawab...’ batin Lani dengan pipi meronanya dan aura cemberut dengan perasaan ingin menghukum temannya itu.


Untuk sesaat Yugi merasakan hawa dingin di tengkuknya, kemudian badannya sedikit gemetar dingin. Ini bukan dari musuhnya yang didepan, tapi lebih seperti ada orang yang mengincar dirinya dengan hawa kelam. Ayolah bahkan dia sendiri belum tahu siapa itu.


‘Aku merasakan firasat buruk nih, seolah di belakang punggungku ada yang menatap tajam dengan hawa ingin mengejarku dan menghukumku ditempat.’ Batin Yugi merinding.


Ya kalau dia berbalik maka terlihatlah Tuan Putri Lani yang ada di bangku VIP keluarga kerajaan yang sedari tadi menatap tajam dengan senyuman menyeringai kearah Yugi, seringaian nya itu sendiri memiliki arti lain.


“Ada apa denganmu Yugi, apa kau takut pada kekuatanku ini?” ledek Maruya saat melihat tingkah aneh Yugi yang ada didepannya.


“Takut? Jangan bercanda... malah ini semakin seru.” Balas Yugi dengan senyuman senangnya.


“Baguslah, aku suka itu.” Seringai Maruya semakin melebar di kala lawannya itu masih ingin terus bertarung dengannya. Karena kebanyakan dari mereka saat melihat jurusnya ini pasti akan langsung menyerah dan pergi begitu saja. Inilah yang dia tunggu, lawan yang masih berani bertarung dengannya walau sudah mengeluarkan kekuatan penuh.


“...” Yugi tanpa banyak bicara langsung melesat kedepan dengan tujuan menebas Maruya dengan pedang hitamnya. Tapi...


Swuussshhh

__ADS_1


Duuuaaaarrrrrrr


Seperti hanya khayalannya saja, Yugi terpental dan menabrak tembok dengan cepat kearah samping kirinya saat merasakan ada sebuah lesatan cahaya seperti komet yang melaju dalam sekali kedipan mata. Tidak bereaksi apapun, Yugi tanpa sadar sudah berada ditembok dengan benturan keras dan memuntahkan dari begitu saja. Dia menatap kearah kanannya dimana lesatan komet itu juga menghantam tembok yang mengakibatkan kepulan debu sehingga tidak bisa melihat apa yang melesat tadi.


“A-apa y-yang t-terjadi? Cough...” tanya Yugi dengan terbata yang kemudian memuntahkan darah lagi. Tadi itu seperti ada benda keras yang menabraknya dalam sekejap, sampai dia sendiri tidak bisa merespon apa yang terjadi barusan. Ini diluar perkiraannya, sebenarnya apa itu.


Para penonton pun terkejut, mereka tidak bisa melihat apapun atau menyadari apapun. Tanpa sadar sang peserta yang bernama Yugi itu sudah menabrak tembok saat mereka semua melihat kearah ledakan tadi, dan mereka juga melihat kearah ledakan kedua setelah ledakan yang pertama dimana itu merupakan bekas lesatan cahaya emas yang langsung mengarah tembok. Tubuh Yugi sudah terlihat dimana dia menempel di tembok sementara satu tubuh belum terlihat, yaitu peserta yang menjadi lawan Yugi, dan sekarang mereka fokus pada kepulan debu yang kedua tersebut. Lalu tidak lama ada sebuah kobaran api emas yang keluar dari kepulan asap yang memperlihatkan Maruya dengan wajah tenangnya keluar dari asap tersebut. Dia tidak merasakan apapun, dirinya menyerang Yugi dengan terjangan yang tidak dapat dilihat mata. Para penonton pun sekarang tahu benda apa yang melesat seperti komet tadi, ternyata itu adalah peserta Maruya. Kekuatan dari naga itu membuatnya menjadi lebih cepat dan kuat. Bahkan Yugi pun tidak bisa bereaksi saat Maruya menyerangnya.


“Sungguh tidak dapat dipercaya...” komentar sang Raja saat melihat kekuatan dahsyat itu, tidak disangka olehnya karena dapat melihat kekuatan legendaris ini. Kekuatan sihir kuno yang diajarkan oleh sang naga, Dragon Slayer. Terlebih ini merupakan teknik terkuat milik pengguna sihir naga. “Sepertinya pemuda petualang dari Vouleftis itu memiliki hubungan yang begitu erat dengan naga.”


“Tidak diragukan lagi, apa mungkin dia itu...” tebak sang Ratu.


“Kita tidak bisa menyimpulkannya secara langsung. Tapi yang jelas petualang Vouleftis itu sudah mendominasi pertarungan. Bagaimana nasib petualang dari kerajaan Aries itu, aku ragu dia akan menang melawan kekuatan sehebat itu.”


Komentar dari sang Raja terdengar oleh Tuan Putri, dengan yakin Lani berkata yang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. “Aku rasa pemuda dari Aries itu masih memiliki kesempatan. Dia juga pengguna sihir naga, jadi masih belum bisa ditentukan kalau dia akan kalah oleh petualang dari Vouleftis.”


Raja dan Ratu kaget mendengar perkataan yang seakan membela petualang dari kerajaan Aries itu. Kemudian mereka tersenyum misterius kearah putrinya dan mengatakan sesuatu yang membuat Lani merona merah.


“Tidak biasanya kau membicarakan seseorang seperti itu, apa kau mengenalnya Lani?” tanya sang Raja dengan wajah tersenyum penuh arti.


“Ah... emh...” tidak ada jawaban, Lani tidak tahu harus membalas apa akan perkataan kedua orang tuanya, mereka menggoda dirinya dengan begitu beruntun. Tapi dengan tegas dia berkata. “T-tidak ada...”


Walau Lani berkata begitu tapi wajahnya tidak mencerminkan hal tersebut. Raja dan Rau tahu kalau putrinya menyembunyikan sesuatu, dilihat dari tingkahnya dan wajahnya yang memerah padam bisa di tebak kalau mereka pasti memiliki hubungan tertentu.


Lalu di bangku penonton, Vira yang menggendong familiarnya yang bernama Neo merasa khawatir melihat gurunya yang secara tiba-tiba mendapat serangan dadakan itu.


“Apa sebenarnya itu?” tanya Vira.


Mendengar pertanyaan itu, gadis yang ada di samping kirinya menjelaskan pada Vira. “Dragon Force, kekuatan terakhir milik kakakku, dan merupakan kekuatan terkuat pemilik sihir naga.”


Vira menatap kearah kirinya dan melihat wajah Maria yang masih tetap fokus kedalam arena. “Kekuatan apa itu sebenarnya?”


“Akan sangat panjang jika di jelaskan, tapi aku akan memberikan gambaran dasarnya saja. Dragon Force atau biasa di bilang kekuatan sejati naga, merupakan kekuatan yang hanya dimiliki oleh ras naga. Berbeda dengan amarah naga yang dikeluarkan oleh kakak sebelumnya, kekuatan ini menggunakan inti naga yang ada didalam tubuh seorang Dragon Slayer. Setiap pengguna sihir naga memiliki inti nya tersendiri, Dragon Slayer Api dengan inti Api, Dragon Slayer Es dengan inti Es, Dragon Slayer Angin dengan inti Angin dan Dragon Slayer Tanah dengan inti Tanah.” Jelas Maria.


“Inti Naga?” ulang Vira yang masih penasaran.


“Inti naga merupakan benih yang muncul dari seorang pengguna sihir naga. Setiap ras naga juga memiliki hal itu sejak mereka lahir. Tapi berbeda dengan manusia, mereka tidak memiliki inti naga sejak lahir, namun merupakan pemberian dari naga yang mengajarinya sihir naga, butuh waktu yang lama sampai benih itu tumbuh didalam tubuh manusia. Dengan melewati latihan berat dan menyerap kekuatan naga, secara bertahap tapi pasti benih itu akan tumbuh dengan sendirinya dan memberikan kekuatan sihir naga, yaitu Dragon Slayer.”

__ADS_1


Vira masih mendengarkan penjelasan itu dari Maria, Neo pun ikut mendengarkan penjelasan itu karena dia juga penasaran tentang sihir kuno tersebut.


“Benih yang akan tumbuh semakin besar akan memberikan kekuatan yang besar juga. Kekuatannya akan meningkat seiring benih yang ada di dalam tubuhnya terus tumbuh. Jadi tidak ada batasan bagi seorang pengguna sihir naga tentang kekuatannya.”


Mendengarnya membuat Vira terdiam dengan wajah kaget, jika seperti itu bukannya kekuatan dari ras naga itu terlalu kuat. Selama benih terus tumbuh maka kekuatan pun akan semakin meningkat, jika memang tidak ada batasan tertentu akan kekuatan tersebut. Maka akan sebesar apa kekuatan seorang penyihir Dragon Slayer. Neo sendiri tidak terlalu kaget akan hal itu, dia sudah lama hidup didunia ini, melihat ras terkuat sudah biasa baginya. Tapi mendengar akan ketidak ter batasan dalam kekuatan ras manusia yang memiliki sihir naga, ini merupakan hal yang baru baginya.


“Lalu bagaimana caranya kak Maruya bisa mengeluarkan kekuatan seperti itu?” tanya Vira.


“Tidak tahu...” jawab singkat Maria.


“Eh...” bingung Vira saat Maria sendiri tidak tahu jawabannya.


“Aku belum sampai ke tingkat seperti kakakku, kekuatan itu dia dapat saat melakukan latih tanding dengan guru kami. Tanpa sadar kekuatan itu secara tiba-tiba muncul dan menjadi kekuatan yang dapat menandingi guru. Guru berkata kalau kekuatan itu muncul tergantung situasi sang pengguna. Jadi setiap orang yang mempelajari sihir naga akan berbeda saat mengeluarkan kekuatan itu tergantung situasinya.” Jelas Maria.


Walau masih terdengar belum lengkap atas jawaban yang diberikan oleh Maria, tapi dia dapat memahaminya.


“Dapat disimpulkan kalau setiap pengguna sihir naga memiliki benih didalam tubuh mereka yang menjadi kekuatan mereka, dan benih itu akan terus tumbuh semakin besar yang akan dibarengi peningkatan kekuatan dari sang Dragon Slayer.”


Maria tersenyum mendengar kesimpulan yang tepat itu, dia pun mengangguk kearah Vira dan berkata. “Benar...”


“Tapi bagaimana caranya kita bisa mengetahui kalau benih seorang Dragon Slayer tumbuh?” tanya Vira.


Maria memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya kembali. “Hal itu hanya dapat diketahui oleh sang pengguna sihirnya saja, kalau orang itu sudah mencapai tingkat tinggi seperti kakakku, maka dia dapat merasakan benih naga yang ada ditubuhnya.”


Vira hanya mengangguk mengerti, dia pun melihat kembali kearah arena dimana gurunya yaitu Yugi sudah berdiri lagi dengan nafas tidak beraturan, karena benturan secara tiba-tiba itu membuat badannya syok tak karuan. Sehingga dia masih belum bisa menstabilkan nafasnya.


“Sepertinya kemenangan ini menjadi milikku Yugi.”


“Hanya dalam mimpimu saja Maruya...”


Keduanya masih sempat untuk saling mengejek, walau sebenarnya Yugi sudah tidak kuat dengan dadanya yang terus berdenyut sakit. Terjangan pertama tadi mengenai tepat ke hulu hatinya, masih beruntung dia menyelimuti tubuhnya dengan teknik [Rage of Ice], kalau tidak mungkin dia sudah pingsan saat itu juga, bahkan lebih buruknya lagi dia akan mati.


‘Inikah kekuatan sejati ras Naga... tapi aku juga seorang Dragon Slayer. Namun kekuatan ini jauh lebih besar dari kekuatanku. Kenapa dia bisa sampai sekuat ini... apa sebenarnya kekuatan naga ku yang kupelajari dari Risa masihlah sangat jauh darinya. Apa aku masih lemah...’


Isi hati Yugi yang merasakan perbedaan jauh kekuatan mereka. Padahal dia juga pemilik sihir naga, tapi masih jauh dengan pemuda yang ada didepannya. Apa-apaan ini... dia kesal, dia marah, dia benci ini... mengakui kekalahan bukanlah gayanya. Jika lawan semakin kuat, maka dia pun harus jadi lebih kuat lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2