
Kompetisi kerajaan memasuki sesi yang begitu menegangkan. Kedua peserta yang pertama bertarung adalah mereka yang memiliki sihir kuno dari ras naga, Dragon Slayer. Keduanya seolah di pertemukan dalam sebuah takdir dimana sihir mereka yang sama namun memiliki elemen yang berlawanan. Petualang muda dari kerajaan Aries sang pemilik sihir Dragon Slayer Es melawan petualang dari kerajaan Vouleftis sang Dragon Slayer Api. Keduanya bertarung dengan sengit menggunakan sihir naga, kemudian di tengah perlawanan yang seimbang itu, secara tiba-tiba Yugi yang menggunakan sihir naga Es mengeluarkan pedang hitam Arashi. Kemudian pertarungan pun di dominasi olehnya, namun itu tidak berlangsung lama. Maruya yang menggunakan sihir naga Api mengeluarkan sebuah jurus terkuat yang merupakan kekuatan sejati naga, Dragon Force. Disinilah Yugi tidak dapat mengalahkan jurus terkuat itu. Pertarungan pun menjadi berat sebelah, dengan sisa tenaganya, Yugi tetap bersikeras bertarung menggunakan sihir naga tanpa mau mendengarkan saran Yui yang menyuruhnya menggunakan pedang Dewa Naga. Disaat Maruya menyerang Yugi dengan kekuatan naga sejati, sang target tidak dapat bergerak dan hanya menunggu serangan itu tiba. Namun didetik terakhir sebelum serangannya mengenai Yugi, sebuah kejadian yang menghebohkan semua orang terjadi. Didepan mereka semua, Yugi berubah menjadi mode terkuat naga, Dragon Force. Tapi dalam wujud yang berbeda dimana dia memiliki satu sayap biru di punggung bagian kanannya. Satu sayap kanan biru terbentang gagah di belakangnya, dan dengan kekuatan besar itu Yugi berhasil memukul Maruya sampai menabrak tembok.
Dari sini para penonton bisa melihat kelahiran dua naga dari dua pemuda sang pemegang sihir Dragon Slayer. Kekuatan sejati naga berdiri saling berhadapan di dalam arena yang sudah disiapkan untuk mereka. Pertarungan ini akan menjadi ritual para naga, dan awal dari sebuah festival naga yang akan sangat meriah.
“Dragon Force... bagaimana kau bisa memasuki mode itu?” tanya Maruya.
Tapi yang ditanya hanya diam saja, mata biru Yugi menatap tajam Maruya. Dia menganggap kalau didepannya ini adalah musuh yang harus disingkirkan, tidak ada perbedaan kawan atau pun lawan. Air liurnya menetes seperti binatang buas, kedua tangannya terkulai lemas, punggungnya membungkuk sedikit, sayap kanannya mengibas-ngibas pelan. Aura biru keputihan terus merembes tanpa henti, mendominasi aura emas milik lawannya. Dia menganggap kalau ini bukanlah pertarungan, karena pikirannya seperti naga yang kelaparan, maka dia menganggap kalau ini adalah arena bertahan hidup.
Kenapa hal ini bisa terjadi, mari kita kembali pada detik-detik sebelumnya dimana Maruya hendak menyerang Yugi dengan pukulan kanan berlapis api emas. Didetik itu juga Yui sang Dewa Naga di hadapkan oleh sebuah pilihan yang sangat sulit. Namun tidak lama dia pun sudah memutuskan untuk mengikuti keinginan egois Tuannya.
[“Tuan, ini adalah keinginanmu. Aku ada untuk memenuhi semua keinginanmu...”] setelah mengatakan itu akhirnya Yui menyirami benih naga didalam tubuh Yugi dengan sihirnya.
Disaat itu juga benih naga tumbuh dengan cepat, membesar didalam tubuh Yugi. Namun pertumbuhannya yang tidak biasa itu melebihi pemikiran Yui, dia mungkin terlalu banyak memberikan energi sihirnya. Akhirnya dia pun berhenti menyirami benih itu yang dimana sudah cukup atau malah melebihi kekuatan yang seharusnya. Seketika perubahan badan Yugi terlihat sangat signifikan, selain perubahannya yang mirip dengan Maruya namun dengan warna yang berbeda yaitu Biru. Dan masih banyak lagi perbedaannya, seperti tumbuhnya satu sayap kanan, auranya yang lebih besar dan kuat dibanding Maruya. Serta kesadaran Yugi yang hilang digantikan oleh mata hewan buas. Saat ini Yugi sudah di kendalikan oleh kekuatan naga yang ada didalam tubuhnya.
Kembali kemasa sekarang, dimana Yugi dalam mode Dragon Force yang hanya menatap lawannya dalam diam. Maruya yang masih terkejut akan perubahan Yugi yang menyamai dirinya menggeram kesal. Tanpa disangka kalau lawannya juga bisa menggunakan kekuatan sejati naga, seharusnya hanya dirinya saja yang menguasai kekuatan tersebut, itu pikirnya.
“Kenapa kau bisa mengeluarkan kekuatan itu, seharusnya kau belum bisa melakukannya. Jawab aku Yugi...” teriak Maruya.
Tapi yang diajak bicara tidak merespon akan perkataannya. Dia tetap diam di tempat dengan nafas berat, matanya tidak melihat Maruya sebagai lawan dalam pertarungan ini, melainkan musuh yang harus segera di basmi.
“Oy jangan acuhkan aku...” Maruya sudah tidak sabar, dengan kobaran api emasnya dia berusaha mengintimidasi Yugi. Tapi hal itu merupakan kesalahan besar yang dia lakukan.
“Groooaaaarrrr...” Yugi meraung keras seperti naga, dia merespon akan aura besar milik Maruya. Karena dia menganggap kalau musuhnya itu siap menyerangnya, maka dia pun merespon dengan mengobarkan aura secara besar-besaran setelah raungannya tadi.
Wuuuuussshhhhh
Angin berputar mengelilingi Yugi dimana hal itu menyapu bersih debu di arena. Seperti badai pasir, debu yang tersapu tadi terus berputar mengaburkan pandangan terhadap lawan masing-masing. Para penonton pun tidak dapat melihat kedua peserta itu, sepertinya gelombang kuat Yugi sudah menutupi arena dengan debu tebal yang terus berdatangan tanpa henti.
“Guru...” Vira khawatir, melihat gurunya yang meraung seperti binatang buas itu membuatnya teringat akan insiden dirinya dikejar oleh monster. Melihat gurunya seperti ini, dia takut kalau kesadarannya tidak akan kembali. Genggaman tangannya pada Neo semakin erat, dan familiarnya juga bisa merasakan kekhawatiran dari majikannya.
“Yugi, apa kau pikir dengan begini aku akan takut. Tentu saja tidak, aku akan mengalahkanmu disini.” Setelah pernyataannya itu, Maruya melesat kearah Yugi berada dengan kekuatan penuh pada tinju api emasnya.
Disaat jarak yang sudah dekat itu, tinju pun dia layangkan kearah Yugi yang terdiam melihat serangan itu. Namun dalam beberapa detik sebelum serangan itu mengenai lawannya, Yugi membuka mulutnya dengan sangat lebar, kemudian yang terjadi...
“Rooooooaaaaarrrrr...”
Swuuuuusssshhh
__ADS_1
Duuuuuuaaaarrrrrr
Raungan keras dari Yugi menghempaskan Maruya sampai kembali menabrak dinding arena. Debu yang sebelumnya menutupi pandangan semua orang kini sudah hilang terkena raungan keras dari Yugi. Tadi merupakan gelombang tembakan es yang diraungkan oleh Yugi melalui mulutnya. Serangan seperti itu tidak jauh beda pada saat dia menggunakan kekuatan naga nya yang biasa, namun perbedaannya terletak pada besar kekuatannya. Yugi sudah melampaui kekuatan lawannya dalam mode Dragon Force, kini dia bisa mengalahkannya. Harusnya seperti itu, jika saja Yugi masih memiliki kesadaran, tapi yang berdiri sekarang bukanlah Yugi, melainkan naga yang sudah kehilangan kendalinya. Dia tidak akan bergerak selama tidak ada yang mengusiknya, jadi dia seperti hewan mematikan yang akan menyerang jika ada yang membahayakan dirinya.
Maruya berdiri kembali setelah terlempar sangat keras tadi. Mode Dragon Force nya masih aktif, kekuatan api emas itu tetap melindungi dirinya. Mata merah itu menatap marah kearah Yugi, dirinya merasa di acuhkan oleh lawannya tersebut. Seolah tidak tertarik padanya untuk bertarung.
“Kau payah Yugi, kau di kendalikan oleh kekuatan nagamu sendiri. Jika seperti ini apa kau pantas di sebut sang pengguna sihir naga hah...” meluapkan kekesalan dan amarahnya pada Yugi, wajah Maruya sudah sangat merah dengan kepalan tangan yang meremas kuat. Bahkan dengan kata-katanya tadi tidak ada respon sedikit pun dari lawannya. Padahal sebelumnya dia bisa merasakan kesenangan saat bertarung, tapi sekarang terlihat meladeni hewan buas yang tidak memiliki kendali atas diri sendiri. Maruya tidak menyukai ini, bukan perlawanan seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin Yugi yang bertarung dengannya, bukan naga yang mengendalikannya saat ini. “Kau adalah pemilik benih naga, bukan benih naga itu yang memiliki tubuhmu. Sadarlah Yugi...”
Harusnya Maruya tahu kalau teriakannya itu tidak akan di respon oleh lawannya. Dia ini memang bodoh atau tidak mengerti situasi, tapi pada dasarnya dia ini lelaki yang hanya mengandalkan tinju kuatnya dalam pertarungan tanpa berpikir.
Sementara didalam pikiran Yugi, lebih tepatnya alam bawah sadarnya. Disana sebuah padang rumput dengan pohon besar berdiri tegap, dibawahnya terdapat tubuh seorang pemuda bersurai putih salju tengah berbaring tak sadarkan diri. Disampingnya ada seorang gadis kecil yang duduk bersimpuh melihat wajah tak sadarkan diri sang pemuda, setetes air turun dari mata sang gadis, dia merupakan perwujudan dari pedang Eternal Snow, Yui.
“Sudah kukatakan, kenapa kau tidak mau mendengarkanku. Yugi... hiks hiks hiks...” entah kenapa sang Dewa Naga ini menangis, sepertinya hal itu berkaitan dengan bangkitnya kekuatan sejati naga didalam tubuh Yugi.
Ternyata memang benar adanya, karena kekuatan Naga sejati milik Yugi yang tiba-tiba bangkit. Hal itu mengakibatkan syok terhadap tubuhnya kemudian kesadaran dirinya pun menghilang, kini kesadaran itu sendiri terbaring di alam bawah sadarnya. Menutup matanya seperti tidur tanpa memikirkan apapun, seolah semua beban yang ada dipundaknya hilang tanpa sisa. Yui sendiri merasa lega jika hal itu memang di inginkan oleh majikannya, tapi dia merasa tidak rela kalau Tuannya menyerah begitu saja. Dia tidak mau kalau tubuhnya terus menerus dikendalikan oleh benih naga itu, dia ingin membangunkan Yugi. Tapi hal itu tidak bisa dia lakukan, mau berapa kali pun Yugi di panggil, sang pemuda ini tidak kunjung menyahut. Tetap terbaring tanpa kesadaran, terhanyut dalam kegelapan. Yang bisa dilakukan oleh Yui hanya menunggu sampai Yugi bisa keluar dari kegelapannya dan melawan kesadaran dari naga yang ada didalam tubuhnya.
“Hasrat naga terkadang bisa menyesatkanmu, kau harus tetap sadar akan pendirianmu sendiri. Yugi...” gumam Yui.
Tubuh Yugi mulai bercahaya biru keputihan, kemudian melayang meninggalkan Yui yang berada dibawah. Pemuda ini mulai menembus pergi dari alam bawah sadarnya, kedalam kegelapan tanpa ujung. Kemudian mata itu pun mulai terbuka, dia melihat sekelilingnya secara perlahan, nampak asing dimana dia tidak bisa melihat apapun.
“Dimana ini...?” pertanyaan yang selalu dikatakan oleh setiap orang yang baru sampai ditempat yang tidak dikenalnya, Yugi berusaha meraba-raba tempat itu, dia tidak bisa merasakan apapun. Penglihatannya juga tidak bisa melihat sekelilingnya, tapi dia berhenti melihat-lihat setelah dirinya menemukan sebuah cahaya redup kecil didepannya. Kemudian dia pun merangkak kesana seperti sedang berenang di udara.
“Apa ini sebuah bibit atau semacamnya?” tanya Yugi pada dirinya sendiri. Dia bingung saat melihatnya, dia sendiri tidak dapat menemukan siapa pun disini, hanya ada dirinya saja yang melayang sambil menatap benih berlambang naga itu.
Tidak lama ada sesosok yang melayang didekat benih itu, wujud yang menyerupai naga namun dalam bentuk manusia. Sisik biru yang berada di tangan dan pipinya, matanya berwarna biru dengan pupil hitam vertikal, terdapat satu sayap di bagian punggung kanannya. Yugi mengenali orang itu, manusia setengah naga ini adalah dirinya sendiri. Kemudian Yugi baru menyadari sesuatu, sebelum dirinya terkena serangan dari Maruya dia ingat kalau secara tiba-tiba mendapat kekuatan luar biasa tiada tara. Lalu hilang kesadaran saat itu juga, jadi dia sekarang dalam wujud Dragon Force seperti bayangan yang ada didepannya ini. Jadi begitu ya, Yui telah mengabulkan keinginannya, tapi sebagai imbalan maka kesadarannya pun hilang. Mungkin ini efek dari penggunaan mode terkuat naga yang dilakukan secara paksa.
“Karena aku sudah sadar akan situasi sekarang, maka aku harus segera kembali ke dunia nyata dan menyelesaikan masalahku. Tapi sebelum itu...” Yugi mendekati kembarannya dalam wujud naga, dia pun memegang pundak kloningnya itu yang hanya menatap dirinya dalam diam. “Aku pinjam kekuatanmu, hanya untuk kali ini saja. Selanjutnya aku akan berlatih lebih keras supaya dapat mengendalikan kekuatan ini tanpa harus kehilangan kesadaran.” Bayangan Yugi yang mendengarnya hanya mengangguk sedikit, kemudian sinar putih pun menyelimuti mereka. Keduanya bersatu dalam benih naga dan mulai menyinari kegelapan itu.
“Ah...” Yugi tersadar, kepalanya melirik ke kanan dan kiri arena, dimana semua penonton melihat dirinya. Kemudian dia menatap lawannya yang berdiri tidak jauh darinya. “Aku telah kembali...”
Maruya yang melihat tingkah aneh Yugi mulai menyadari kalau lawannya itu sudah kembali sadar. “Akhirnya kau kembali lawanku, sepertinya kekuatan naga itu merepotkanmu ya.”
“Kekuatan naga?” ulang Yugi, kemudian dia baru menyadari sesuatu, kedua tangannya yang bersisik biru, lalu dia memegang pipinya yang juga terdapat sisik. Dia juga melihat kearah punggung sebelah kanannya yang tumbuh satu sayap kanan. “Waw... ini keren bukan.” Gumamnya dengan kagum saat melihat sayap naga miliknya.
“Karena kau sudah sadar, mari kita lanjutkan pertarungan ini.” Ujar Maruya yang sudah bersiap dengan serangannya.
Yugi yang melihat itu juga tidak tinggal diam, dia sudah bersiap dengan kekuatan barunya ini.
__ADS_1
Orang-orang yang sebelumnya khawatir terhadap keadaan Yugi kini sudah merasa lega. Baik itu Tuan Putri Lani atau pun Vira, mereka sudah bisa bernafas lega karena kesadaran Yugi sudah kembali. Begitu pula dengan wanita bersurai merah panjang ini yang meletekkan kedua tangannya didada dengan rasa syukur yang besar saat melihat pemuda yang dikhawatirkannya itu sudah kembali sadar.
“...”
“...”
Kedua peserta itu terdiam sesaat, sampai angin kecil berhembus melewati mereka kemudian lesatan cepat terjadi. Keduanya saling menerjang, dengan kekuatan sejati naga, kecepatan mereka tidak dapat dilihat.
Duuuuuuuaaarrrrrrr
Secara mendadak timbul ledakan di tengah arena, itu adalah Yugi dan Maruya yang beradu tinju yang kemudian menjaga jarak kembali dan saling menyerang lagi dengan lesatan yang berputar searah jarum jam.
Duuuuuaaarrrrr
Maruya terpukul mundur karena tinju apinya tidak cukup menghadapi kekuatan besar milik Yugi.
“Sial, kekuatannya sudah melampauiku sekarang.” Geram Maruya.
Yugi yang merasakan kalau dirinya lebih unggul merasa puas, ternyata kekuatan ini melebihi dugaannya. Dia merasa sangat senang karena dapat merasakan kekuatan sejati naga.
“Dragon Force: Fire Dragon Roooaarrr...”
Maruya menyemburkan api emas dengan ukuran yang sangat besar, melihat itu Yugi pun melakukan hal yang sama.
“Dragon Force: Ice Dragon Rooooaaarr...”
Kedua serangan besar saling melesat kearah lawannya dengan cepat. Kemudian ledakan terjadi dengan bola besar yang meletus ke atas.
Duuuuuuuuuaaaaarrrrrrrdddd
Para penonton dibuat kagum akan kekuatan itu, mereka kini bisa melihat kembali kehebohan didalam arena yang dilakukan oleh dua peserta kompetisi ini.
“Ini menyenangkan.” Ujar Yugi.
“Aku semakin bersemangat...” balas Maruya.
Ledakan besar yang membumbung tinggi ke atas, diakibatkan oleh dua kekuatan superrior sang pengguna sihir naga... mereka terlihat menikmati pertarungan ini, seolah dunia hanya melihat mereka berdua sebagai orang yang terpilih... kekuatan istimewa, yang diberikan oleh makhluk istimewa dan merupakan ras terkuat dari semua ras di dunia... sang Naga...
__ADS_1
Bersambung