
“Hoorrraaaa...”
Pemuda bersurai putih salju dengan tatapan seindah langit biru terus mengayunkan pedang hitamnya. Gerakannya seperti hembusan angin yang melika liku, seperti terpanggil olehnya angin pun mengikuti setiap gerakannya. Dengan ayunan terakhir secara vertikal membuat debu dibawahnya berterbangan sehingga menutupi sang pengguna pedang tersebut. Dengan cepat debu itu menghilang terhembus angin gunung yang lumayan kencang, rambutnya tersibak dan memperlihatkan wajah yang penuh akan keringat. Pemuda itu tersenyum kecil setelah menyelesaikan latihannya. Disampingnya terlihat perempuan yang masih berusia sekitar sepuluh tahunan dengan surai putih perak dan mata merah yang menatap kagum kearah sang pemuda pemegang pedang hitam. Dengan gembiranya dia menghampiri pemuda itu sambil memberikan sebotol air mineral kearahnya.
“Terima kasih Vira.” Ucap sang pemuda yang tidak lain adalah Yugi.
“Sama-sama...” balas Vira. “Jadi bagaimana dengan latihan guru?” tanya Vira.
“Masih kurang tapi sepertinya hari ini cukup, matahari pun sudah menunjukkan sore hari. Dan hari ini ada pengumuman mengenai kompetisi selanjutnya. Seharusnya itu akan di beritahu sebentar lagi, sebaiknya kita bergegas.” Ucap Yugi.
“Emh...” angguk Vira.
Pelatihan kami untuk hari ini sudah cukup, penggunaan pedang baruku pun sudah kukuasai sedikit. Hanya saja masih ada yang menjanggal, entah kenapa aku merasakan ada kekuatan lain yang saling beresonansi didalam tubuhku... entah apa itu...
Pertarungan yang terus berlanjut kini mulai menyisakan beberapa peserta saja, dan kini pertarungan terakhir akan di lakukan oleh kedua pria yang berdiri didalam arena. Ini merupakan pertarungan kesepuluh sekaligus menutup pertarungan hari ini. Kedua peserta yang merupakan seorang petualang dari kerajaan berbeda. Rambut kuning keputihan yang cerah dan elegan merupakan seorang petualang yang berasal dari kerajaan Fostias. Sementara yang bersurai hitam keabu-abuan merupakan petualang dari kerajaan Northern Esla. Keduanya memakai seragam yang mencirikan khas mereka, kerajaan Fostias dengan pakaian serba putih dengan beberapa garis emas yang mencirikan layaknya kstaria kerajaan. Sementara kerajaan Northern Esla dengan pakaian serba biru muda dengan jubah biru tua khas petualang.
“Sepertinya kerajaan Northern Esla masih memiliki petualang yang bisa diandalkan.” Ucap pemuda dari kerajaan Fostias.
“Aku senang mendengar pujian dari Anda, sebagai seorang kstaria dari kerajaan Fostias kemampuan Anda sangat luar biasa.” Balas petualang muda itu dengan tatapan tajamnya. ‘Aku bisa merasakan kalau dia belum mengeluarkan kekuatan aslinya, atau memang aku terlalu lemah untuk bisa memaksanya menggunakan kekuatannya.’ Batin sang petualang.
“Bagaimana kalau kita memperkenalkan diri sekali lagi, ini merupakan tatakrama sebagai sesama petarung. Aku Leon Sourya, ksatria kerajaan Fostias.” Ucapnya dengan nada penuh percaya diri dan begitu elegan.
Semua penonton sedikit terkejut, karena pasalnya saat mereka memasuki arena nama belakang Leon tidak disebutkan. Didalam kompetisi ini hanya nama pangeran saja yang disebutkan nama belakangnya dikarenakan kebanyakan dari petualang biasa atau pun perwakilan dari kerajaan lain tidak memiliki nama belakang. Bagi mereka yang mendapatkan nama belakang secara langsung dari raja berarti sudah diakui sebagai anggota kerajaan yang dapat dipercaya. Nama tersebut bisa didapatkan baik dari raja secara langsung atau hanya keturunan dari seorang yang diakui oleh raja. Dengan kata lain Leon Sourya merupakan anggota kerajaan yang dekat dengan raja itu sendiri.
Yang mulia kerajaan Eartfil sedikit tersenyum senang saat mendengar nama belakang anak laki-laki itu. “Leon Sourya, ternyata dia adalah putra dari orang itu. Aku tidak menyangka kalau putranya akan mengikuti kompetisi ini.”
“Karena Anda telah memperkenalkan diri maka saya juga akan melakukannya. Saya Akira seorang petualang dari kerajaan Northern Esla.” Akira menyiapkan kuda-kuda menyerang dengan pedang disamping kanannya.
Leon juga sudah menyiapkan posisi menyerang dengan pedang yang dia arahkan ke Akira. Keduanya saling menatap tajam dan mulai berlari memangkas jarak, saat jarak sudah mencapai lima meter dari musuh mereka melakukan tebasan kuat kearah satu sama lain.
Tank
Grreettaakkk
Duuuaaarrrrr
Kedua pedang yang beradu dengan kuatnya membuat tanah dibawah mereka retak dan berhamburan kemana-mana. Serangan kuat tersebut ternyata diselimuti oleh energi mana di setiap pedang masing-masing. Tapi aura yang dimiliki oleh Leon lebih besar dari Akira sehingga tidak lama Akira pun terpental akibat dorongan kuat dari Leon. Tidak berhenti disana Akira berhasil menyeimbangkan dirinya dan berdiri di tanah sambil mengucapkan sebuah jurus.
“Ice Spear.” Beberapa tombak es terbentuk dibelakang Akira dan langsung melesat kearah Leon.
Tapi dengan anggunnya Leon menebas semua tombak es itu tanpa satu pun yang lolos dari pedangnya. Tidak berhenti disana Akira pun kembali melesat kearah Leon dengan pedangnya yang sudah diselimuti aura biru dingin.
Tank
Tebasan lurus itu kembali di tahan oleh Leon, serangan Akira tidak bisa sedikit pun mampu mendorong kekuatan milik Leon. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti disana, dengan memutar tubuhnya secara penuh kemudian kembali menebas dengan kuat kearah kanan tubuh Leon.
Tank
Serangan itu pun masih bisa di tahan oleh pedang milik Leon. Karena serangannya gagal Akira menempelkan tangan kirinya ke tanah dan seketika tanah itu mulai dirambati oleh es sampai menyelimuti kaki kanan Leon. Itu sempat membuat Leon terkejut tapi dia dengan cepat menarik kakinya dari perangkap itu dan berhasil keluar. Tapi sayang ternyata itu hanyalah pengalih perhatian, serangan sesungguhnya datang langsung dari Akira yang sudah berada disamping kanan Leon dengan pedang yang siap ditebaskan.
“Terima ini... Blue Rose Slash.” Sebuah gelombang es kuat dari Akira secara langsung tepat menyerang di depan Leon.
Duuuaaaarrrrrrr
Debu dari pertarungan itu menutupi mereka yang ada didalamnya. Akira yang berdiri menghadap kepulan asap yang menghalangi pandangannya dari Leon tidak menurunkan kewaspadaannya. Karena baginya menghadapi seorang yang sudah diakui oleh raja pastilah tidak mudah. Dan benar saja setelah kepulan asap itu menghilang terlihatlah Leon yang masih berdiri dengan diselimuti oleh aura emas keputihan yang begitu tenang seolah seperti awan lembut dan penuh kehangatan. Semua orang yang menatapnya merasa kagum bahkan beberapa wanita sudah pingsan saat melihat ketampanan dari Leon.
“Anda memang kuat ya...” puji Akira dengan senyuman percaya dirinya. ‘Apa aku bisa mengalahkannya, jika dilihat lagi aku sepertinya tidak memiliki peluang itu. Kemampuan dari orang itu sungguh mengerikan, bahkan aura yang menenangkan itu bagai aura binatang buas.’ Batin Akira yang merasa pesimis, tidak sesuai dengan wajahnya yang tenang. Sepertinya dia berusaha menyembunyikan wajah takutnya terhadap aura milik Leon.
“Akan kuselesaikan ini dengan satu serangan, lagi pula matahari juga sudah mulai jatuh.” Dengan perkataannya Leon menyalurkan energi kedalam pedangnya dan seketika pedang itu mulai bersinar keemasan dengan lambang matahari dibilahnya.
“Pedang itu, mungkinkah...” ucap yang mulia yang terkejut saat melihat kilauan pedang yang sudah lama tidak dia lihat.
“Suamiku.” Ucap sang istri meminta penjelasan dari suaminya.
“Pedang itu merupakan pedang suci yang memiliki api penyucian yang sangat panas. Bahkan panasnya itu seperti matahari, ya... nama pedang itu adalah...” ucap sang raja yang menggantung.
Leon yang memegang pedang langsung mengarahkannya kearah Akira dengan intimidasi kuat. “Pedangku ini bernama Vlitora...”
“Vlitora.” Ucap sang raja yang melanjutkan perkataan sebelumnya.
__ADS_1
Kembali ke arena dimana Leon mulai mengangkat pedangnya ke atas dan bersiap menebas. “Sebaiknya kau menyerah saja.” Usul Leon.
“Jangan remehkan aku, sepanas apapun pedangmu akan ku bekukan.” Ucap Akira dengan wajah seriusnya, kaki dibawahnya mulai menumbuhkan es yang mencuat seolah menuruti emosi tuannya yang menggebu-gebu. Lingkaran sihir biru terbentuk didepan Akira dengan energi yang terkumpul disana. “Kita akhiri ini, Ice Storm...” teriak Akira.
Lingkaran sihir yang dibuat Akira mengeluarkan sebuah badai tornado es yang begitu kuat yang langsung menerjang kearah Leon. Tapi bukannya takut Leon malah tersenyum senang.
“Lawan yang pemberani sepertimu pantas mendapat hadiah. Rasakan ini... Fire Light Vlitora.” Teriak Leon sambil melepaskan tebasan kuat beraura emas yang menyambar langsung kearah serangan milik Akira.
Duuuuaaarrrrrrrrrr
Serangan keduanya saling berbenturan dan membuat suara ledakan yang cukup keras, tapi tidak berhenti disana serangan yang saling mendorong itu akhirnya dimenangkan oleh energi kuat milik Leon yang langsung mematahkan serangan milik Akira dan tepat mengenai petualang dari kerajaan Northern Esla tersebut.
DBuuuuuaaaarrrrrr
Serangan dari Leon berhasil menumbangkan Akira yang sudah pingsan ditempatnya, serangan dahsyat itu membuat semua penonton terkesima, tidak lama wasit yang memimpin pertarungan itu mengumumkan kemenangan bagi Leon.
“Pemenangnya... Leon Sourya.” Teriak sang wasit.
Tentu saja hal itu disambut meriah oleh banyak orang dengan wajah membara saat melihat pertarungan yang hebat tadi. Petualang Akira dibawa oleh beberapa tim medis untuk mendapatkan pengobatan. Sementara sang Ksatria kerajaan Fostias meninggalkan arena menuju bangku istirahat bagi para peserta.
“Pertarungan terakhir sudah selesai, semakin sedikit peserta maka kemungkinan bertemu dengannya tidaklah mustahil. Semoga kita bisa bertarung, Yugi.” Ucap seorang pangeran kerajaan Vouleftis dengan senyuman menyeringai.
Ditempat Maruya bersama adiknya, mereka sangat terkesan saat melihat pertarungan yang menakjubkan barusan, mata berbinar dari Maruya menandak keinginannya untuk bertarung. Tapi dia juga tahu kalau dirinya harus menahan diri untuk babak selanjutnya.
“Sungguh membuatku bersemangat.” Ucap Maruya.
“Mereka hebat, apalagi kstaria dari kerajaan Fostias itu. Katanya dia menjadi perwakilan kerajaan Fostias karena kerajaan itu hanya memiliki tuan putri, dan dia sangat tampan.” Ucap Maria berbinar layaknya wanita dengan pandangan cinta pertama.
“Hey ayolah, lebih ganteng kakakmu ini tahu.” Ucap Maruya membanggakan diri.
“Harusnya kakak ngaca dulu.” Hela Maria dengan masa bodo.
“Kejam...” Maruya pundung ditempat dengan awan hitam dikepalanya.
“Kak Yugi belum muncul, sekarang kan mau diumumkan siapa saja yang akan melaju ke babak selanjutnya.” Ucap Maria sambil melihat sekeliling.
“Tidak mungkin, kak Yugi kan tidak sebodoh kakak.” Ucap Maria.
“Bukankah perkataanmu terlalu kejam untuk kakakmu ini.” Pundung Maruya.
“Seperti biasa kalian akrab sekali.” Ucap seorang pemuda bersurai putih salju kepada kakak beradik yang sedari tadi asyik mengobrol.
“Yugi.” Ucap Maruya.
“Kak Yugi, Vira...” Maria mendekati Yugi dan Vira. “Kalian kemana saja?” tanya Maria.
“Kami hanya berjalan-jalan di sekitar kota, karena aku bosan melihat pertarungan mulu.” Jawab Vira dengan sedikit kebohongan, karena sebelum mereka ke arena pertandingan Vira sempat ingin berjalan-jalan sebentar.
“Eehh curang, kenapa tidak mengajakku.” Ambek Maria dengan wajah imutnya.
“Maaf aku baru datang, jadi bagaimana pertarungannya?” tanya Yugi.
“Sungguh mendebarkan, ada beberapa peserta yang mungkin harus kau waspadai.” Jawab Maruya.
“Sepertinya ini akan menjadi kompetisi yang sulit.” Ucap Yugi.
“Ya, aku jadi bersemangat.” Balas Maruya.
“Baiklah karena pertarungan tadi merupakan penutup untuk hari ini, mari kita panggil peserta yang berhasil lolos ke babak selanjutnya.” Ucap wasit. “Ini dia pesertanya, yang pertama Yugi sang petualang dari kerajaan Aries.” Lanjut sang wasit.
“Oh aku dipanggil, sampai nama kerajaan pun di sebutkan.” Ucap Yugi.
“Pergilah...” balas Maruya.
Kompetisi hari ini semakin mendekati puncak, aku melompat menuju kedalam arena setelah di panggil oleh sang wasit... semua orang bersorak ria kearahku, sungguh menakjubkan, jadi ini rasanya disanjung...
“Kedua Maruya seorang petualang dari kerajaan Vouleftis.” Ucap wasit yaitu Rud.
“...” tanpa banyak bicara Maruya turun ke arena dan mendekati Yugi disana. “Benar-benar membuatku bersemangat.” Ucapnya.
__ADS_1
“Iya ya...” balas Yugi.
“Peserta ketiga Pangeran dari kerajaan Vouleftis, Rexas Vouleftis.”
Rexas yang berada dibangku penonton langsung menghilang dari tempatnya dengan kobaran api dan berada tepat disamping Yugi dengan kobaran api juga.
“Menyombongkan diri dengan tampil keren heh...” ucap Yugi.
“Aku hanya tidak mau melompat sepertimu.” Balas Rexas dengan senyuman mengejeknya.
“Apa kau bilang.” Kesal Yugi.
“Peserta ke empat, seorang petualang dari kerajaan Eartfil, Lugi.”
Peserta yang mengenakan topeng berjalan menuju arena di sudut pintu arena. Aura yang misterius itu membuat semua orang penasaran siapa sebenarnya petualang Lugi tersebut.
“Dari sekian banyak orang, hanya dia seorang yang memakai topeng. Aku jadi penasaran...” ucap Maruya.
‘Ya, aku juga penasaran dengannya. Atau lebih tepatnya aura yang dipancarkannya, serasa tidak asing bagiku.’ Batin Yugi curiga.
“Peserta ke lima, pangeran dari kerajaan Boltendra, Reiga Boltendra.”
Bzziittt
Dengan secepat kilat pangeran Boltendra muncul di tengah arena dibarengi listrik kuning keemasan yang memukau. Semua penonton wanita merasa terpesona pada sang pangeran, tapi mungkin mereka juga tidak melupakan akan sikap pangeran yang satu ini, seseorang yang begitu bersemangat, tidak jauh beda dengan Maruya. Itu juga yang mungkin Yugi pikirkan tentang pangeran yang satu ini.
“Peserta ke enam, petualang dari kerajaan Legia, Redios.”
Seorang berpakaian serba hitam mengenakan jubah hitam sampai menutupi kepalanya berjalan menuju para peserta berbaris.
‘Kenapa mereka suka sekali menutupi kepalanya.’ Batin Yugi yang menatap kearah Lugi dan Redios.
“Peserta ketujuh, petualang dari kerajaan Kurosido, Rugia.”
“Kerajaan Kurosido, ternyata ada juga yang mengikuti kompetisi ini dari kerajaan yang tertutup itu. Sangat jarang melihat mereka menampakkan diri ke dunia luar.” Ucap Yugi yang dapat didengar oleh Rexas disampingnya.
“Itu karena kau menghilang begitu saja tanpa melihat pertarungannya. Asal kau tahu saja bukan hanya dia yang mengikuti kompetisi ini, salah satu petualang dari kerajaan Kurosido juga pernah bertarung sebelumnya dan kalah. Dia adalah Ruze, kau tahu kan...” gantung Pangeran Rexas.
“Lawan Maruya sebelumnya.” Lanjut Yugi sambil melihat kearah Rexas.
“Benar...” ucap Rexas membenarkan.
Petualang yang dibicarakan sudah berbaris di bagian belakang dengan pakaian serba abu-abu dengan wajah yang terlihat malas. Bahkan warnanya sendiri melambangkan kemalasan bagi sang pemakai.
“Merepotkan.” Gumam Rugia.
“Peserta kedelapan, petualang dari kerajaan Northern Esla, Eduardo.”
Mendengar kerajaan yang pernah dia singgahi membuat Yugi menatap kearah orang tersebut. Orang yang merupakan petualang Northern Esla itu memakai pakaian khas petualang Northern Esla dengan pakaian serba putih kebiruan dengan beberapa garis biru tua di setiap pinggirannya.
‘Petualang dari kerajaan Northern Esla, ternyata ada juga yang mengikutinya. Terlebih lagi dia berhasil sampai disini, petualang dari kerajaan itu memang hebat.’ Batin Yugi dengan senyuman senang.
“Peserta ke sembilan dari kerajaan Swordia, pangeran Seiga Swordia.”
Sang pemuda dari klan pedang melayang menggunakan pedangnya sebagai perantara terbang dengan gagahnya berdiri diatas bilah pedang dan mendarat tepat dimana para peserta berkumpul. Semua wanita terpesona oleh sang pangeran yang begitu kerennya masuk kedalam arena.
“Dasar tukang pamer.” Ucap Redios.
“Peserta kesepuluh dari kerajaan Fostias, Ksatria Fostias, Leon Sourya.”
Dengan cahaya yang menyilaukan di tengah para peserta, Leon muncul dengan elegannya di dalam arena pertarungan. Tanpa berkomentar apapun semuanya hanya terdiam saat kemunculan Leon yang secara tiba-tiba itu.
‘Apa ini kompetisi bergaya atau semacamnya, kenapa mereka muncul dengan begitu gagahnya. Apa seharusnya aku juga melakukan hal yang sama ya.’ Batin Yugi yang merasa nerfeus melihat begitu banyaknya peserta yang antusias dengan gayanya masing-masing.
Rud melanjutkan kalimatnya saat kesepuluh peserta sudah berkumpul didalam arena. “Ini adalah para peserta yang berhasil lolos ke tahap selanjutnya. Kompetisi akan dilanjutkan dua hari lagi, sementara itu para peserta bisa beristirahat untuk menyiapkan persiapan ke babak selanjutnya. Sekian pertarungan hari ini ditutup dengan kemenangan atas kesepuluh peserta yang lolos ke babak selanjutnya.” Ucap Rud.
Dengan pengumuman itu kompetisi hari ini pun telah selesai, dengan beberapa orang yang lolos ke tahap selanjutnya, perjalanan mereka untuk memenangkan kompetisi ini semakin dekat. Matahari pun tenggelam bersamaan dengan gelapnya malam yang menghampiri, semua orang pergi dari dalam arena, begitu pula Yugi yang berjalan bersama Vira menuju penginapan...
Bersambung
__ADS_1