KAISAR ES

KAISAR ES
MENGAMBIL MISI DIKERAJAAN EARTFIL


__ADS_3

Pagi hari yang cerah disebuah kota Eartfil, fajar yang begitu menghangatkan itu membuat semua orang bersemangat dalam menjalani aktivitas mereka. Semua toko mulai dibuka, beberapa orang sudah pergi untuk sekedar melakukan pekerjaan mereka. Tapi masih ada juga yang tertidur lelap karena habis begadang semalaman. Disebuah penginapan, terdapat satu pemuda bersurai putih salju tengah menyiapkan sarapan pagi, sementara satu gadis kecil dengan rambut putih perak tengah asyiknya tidur sampai iler menetes di mulutnya. Pemuda yang diyakini adalah Yugi hanya mampu tersenyum lembut pada muridnya yang masih tidur walau pagi sudah tiba. Bahkan matahari pun sudah menyinari kamar mereka, tapi hal itu tidak mampu membuat gadis kecil itu terusik sedikit pun.


“Bangun Vira, waktunya sarapan.” Yugi berusaha membangunkannya dengan lembut dengan cara menggoyangkan tubuh Vira. Tapi yang didapat hanya sebuah lenguhan kecil pertanda kalau dia masih mengantuk. “Astaga...” karena merasa agak kesal pada Vira, Yugi berpikir ingin mengerjainya sedikit, di telapak tangan kanannya sudah terbentuk bola air yang siap dia layangkan kearah Vira.


Spalsh...


“Banjir banjir...”


Bola air yang Yugi arahkan kepada Vira sukses membuatnya terbangun dengan konyolnya, karena Vira mengira air yang mengenai wajahnya disebabkan oleh banjir. Mendengar itu Yugi sempat berpikir mimpi apa Vira sampai mengira terjadi banjir seperti itu.


“Hei berhentilah berteriak dan bangun dari kasurmu, waktunya sarapan.” Ucap Yugi.


Akhirnya pagi itu mereka sarapan dengan tenang walau Vira masih merasa kesal karena dibangunkan dengan cara yang menurutnya menyebalkan. Tapi dia tetap menikmati sarapannya walau moodnya sedang tidak bagus.


“Untuk hari ini kita akan sarapan dengan roti panggang dan telur ceplok, aky membuatnya sendiri, pemilik penginapan ini sangat baik membiarkanku meminjam dapur mereka. Cepatlah dimakan sebelum dingin.” Yugi dengan perlahan memakan sarapannya dengan tenang.


“Ngomong-ngomong guru... gluk...” Vira menelan makanannya dan melanjutkan perkataannya. “Apa yang akan kita lakukan hari ini?”


“Kita akan masuk kedalam sebuah pertambangan emas milik seorang klien, aku sudah mengambil quest di sebuah guild dan permintaannya adalah untuk membasmi monster yang sedang membuat kerusuhan di pertambangan tersebut.” Ucap Yugi sambil menunjukkan sebuah kertas permintaan.


“Eh, bukankah guru seharusnya mengajariku sihir serangan hari ini?” tanya Vira yang bingung kenapa gurunya mengambil pekerjaan dari guild.


“Ini juga merupakan latihan untukmu, kita bisa berlatih dan mendapatkan uang disaat bersamaan. Bukankah ini hebat, satu tembakan dua burung pun dapat.” Yugi tersenyum senang karena idenya yang menurutnya hebat.


“Kenapa pribahasanya jadi berbeda begitu, ya sudahlah...” Vira hanya bisa pasrah akan keinginan gurunya itu, baginya apapun tidak masalah selama dia masih bisa berlatih.


Peraturan di setiap kerajaan dimana setiap petualang di izinkan mengambil quest walaupun mereka bukan berasal dari kerajaan tersebut. Karena perang di zaman dulu yang memakan banyak korban membuat semua kerajaan berdamai tanpa terkecuali, hal itulah yang membuat dunia ini sekarang menjadi begitu damai dan tentram tanpa perselisihan, mereka mengizinkan setiap petualang dari penjuru dunia bebas mengambil quest dari kerajaan mana pun selama mengikuti prosedur yang berlaku. Oleh karena itu Yugi masih bisa mengambil quest dari guild kerajaan Eartfil walaupun dia bukan berasal dari kerajaan tersebut.


Kini Yugi dan Vira berdiri tepat didepan mulut gua tempat penambang biasanya mengambil emas. Dan disinilah mereka akan membasmi para monster yang telah mengusik para pekerja sehingga tambang ini di tutup untuk sementara waktu.


“Tidak ada yang mau mengambil quest ini karena mereka menganggap kalau permintaan ini sangat merepotkan.” Ucap Yugi dengan santainya.


“Memangnya ada apa, bukankah hanya tinggal membasmi monsternya saja?” tanya Vira yang bingung.


“Ya kau akan tau sendiri saat masuk...” Yugi berjalan duluan diikuti oleh Vira yang masih memasang wajah bingung akan perkataan gurunya itu.


“Gelap sekali...” gumam Vira yang masih terdengar oleh Yugi karena gua yang mengakibatkan gema suara.


“Kalau ingin cahaya...” Yugi menjentikkan jari kanannya dan tiba-tiba terbentuk bola cahaya biru yang melayang diatas mereka. “Kau tinggal membuatnya, ini bergantung pada kontrol mana. Nah sekarang kita mulai saja latihannya, guru mau kamu membuat bola seperti ini.” Ucap Yugi sambil menunjukkan bola cahaya yang baru saja dia buat.


“Itu sangat mudah...” Vira pun membuat sebuah bola cahaya berwarna merah terang walau tidak seterang milik Yugi. “Kenapa bisa begini?” Bingung Vira yang melihat bola cahayanya tidak seterang milik Yugi walau ukurannya sama.


“Sudahku bilang kan, itu tergantung kontrol manamu, itu berarti kau harus lebih banyak berlatih kontrol mana. Mengerti...”


‘Entah kenapa mendengar ceramah dari guru membuatku tambah kesal.’ Batin Vira yang ngambek.


“Tapi menurutku itu sudah bagus, kau baru belajar seminggu yang lalu, jadi wajar saja kalau kontrol manamu masih kurang. Kau sangat berbakat Vira...” puji Yugi sambil mengelus kepala muridnya yang imut ini.


‘Kenapa aku senang begini, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Apa-apaan ini...’ batin Vira dengan kedua pipi yang sudah merona merah sambil menundukkan kepalanya agar Yugi tidak bisa melihat raut wajahnya. “Sudahlah ayo cepat, kita harus selesaikan memburu monsternya.” Ucap Vira dengan nada imut nya dan langsung berjalan mendahului Yugi.


Mereka terus berjalan lebih dalam kedalam perut gua, udara semakin dingin saat mereka semakin dalam memasuki gua. Beberapa tetes air menetes dari langit-langit gua, ditambah beberapa kelelawar yang terbang membuat Vira sedikit ketakutan. Yugi jadi bingung sendiri, bukankah Vira itu setengah vampir ya, mungkin saja dia ini beda dengan vampir yang lainnya. Vampir takut dengan kelelawar, itu tidak lucu, Yugi pun menahan tawanya dengan tangan kanannya dengan suara cekikikan. Mendengar itu membuat Vira kesal dan menginjak kaki Yugi tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Sakit... kenapa kau menginjak kaki gurumu sendiri?” Kesal Yugi dengan teriakannya yang membahana di dalam gua.


“Itu salahmu sendiri, dasar guru menyebalkan.” Ambek Vira sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Tidak lama mereka merasakan sebuah getaran tanah yang bergerak dari bawah kaki mereka. Yugi secara reflek melompat menjauh sedangkan Vira tidak sempat untuk menghindar.


Duuuaaarrrr


Seekor monster yang mirip tikus muncul di dalam tanah dengan ukurannya yang terbilang besar, tingginya mencapai tiga meter dengan cakar yang begitu tajam, mata hitamnya tanpa pupil melihat ke segala arah dan menemukan seorang gadis kecil yang terdiam di hadapannya dengan tubuh bergetar. Makhluk yang menganggap Vira adalah musuhnya dengan cepat mengayunkan tangan kanannya untuk menyerang Vira.


“Gawat...” dengan cepat Yugi langsung menempelkan telapak tangan kanannya ketanah dan membuat sebuah tembok yang menjalar tepat di hadapan Vira untuk melindunginya.

__ADS_1


Blaaaaaaarrrr craaaayyyy


Tembok es itu hancur berkeping-keping tapi untungnya Vira selamat dan sempat melompat mundur setelah sadar dari keterkejutannya karena kemunculan monster yang secara tiba-tiba itu.


“Kau tidak apa-apa Vira?” tanya Yugi yang khawatir pada muridnya.


“Aku tidak apa-apa.” Jawab Vira cepat.


“Cciiitt ciittt...” suara cicitan tikus yang begitu keras menggema di gua itu membuat Yugi dan Vira siaga akan serangan berikutnya.


“Jadi ini monster yang mengganggu para penambang.” Tebak Vira.


“Berhati-hatilah, walau dia kelihatan lemah tapi dia memiliki kemampuan yang unik. Monster Tikus Tanah Hitam... mata hitam mereka bisa melihat didalam kegelapan, dan lagi dia bisa menggali tanah sedalam apapun, sepertinya kita sudah terjebak didalam rumahnya.” Ucap Yugi yang menganalisa kemampuan monster yang ada didepannya.


“Guru tau banyak soal monster ya...” kagum Vira.


“Itu adalah pengetahuan umum bagi kami para petualang, mengetahui kemampuan dan kelemahan musuh adalah hal terpenting. Kau juga harus belajar Vira...” Yugi memasang pose santai di samping Vira seolah monster itu bukan apa-apa baginya.


“Iya ya aku tau... sekarang bagaimana?” tanya Vira.


Yugi tersenyum misterius sambil menatap muridnya. “Aku serahkan sisanya padamu...” Yugi berjalan mundur membiarkan Vira yang menghadapi monster itu.


“Heeeeee...” kejut Vira yang baru sadar akan perkataan gurunya itu.


Monster tadi yang merasa diabaikan langsung saja menyerang Vira lagi dengan menghantamkan tangan kirinya. Vira yang sadar langsung saja menghindar kearah kanannya dan mendarat tepat disamping monster itu dengan tatapan tajam yang begitu serius. Monster tikus tanah yang melihat serangannya tidak berhasil dengan cepat bersembunyi kedalam tanah.


“Jadi ini yang membuat semua petualang merasa kerepotan membasminya. Memang kemampuannya itu sangat merepotkan...” gumam Vira.


Tiba-tiba di bawah Vira terdapat tanah yang mencuat ke atasnya, menyadari akan keanehan dibawah kakinya dengan cepat Vira menghindar dari sana. Dan benar saja Tikus tadi muncul di tempat Vira menginjak sebelumnya.


“Diam disana dan biarkan aku membasmimu...” teriak Vira yang meninju tikus tanah itu dengan tangan kanannya.


“Ciiittttt...”


“Dimana letak kelemahan monster ini?” tanya Vira yang mulai kesal akan kemampuan tikus tanah itu.


“Entahlah, kau cari tau saja sendiri...” jawab Yugi dengan entengnya.


“Hah...” Vira tidak sempat protes karena monster tadi muncul disampingnya kemudian menyerangnya lagi dan hal itu membuatnya terlempar beberapa meter ke belakang tapi masih bisa menyeimbangkan tubuhnya. “Baiklah, akan aku kalahkan dia dengan sekali serangan.” Vira membuat sebuah lingkaran merah didepannya dengan kobaran di setiap sisi lingkaran sihirnya. “Fire Ball...” bola api yang cukup besar meluncur kearah monster itu.


Duuaarr


“Ciiiitttttt...”


Monster Tikus Tanah Hitam itu terlihat baik-baik saja walau sudah di serang oleh bola api milik Vira.


“Heemmm lumayan juga, tapi itu tidak cukup untuk mengalahkannya, jika tidak salah aku ingat monster yang seperti ini kira-kira levelnya diatas 27. Kupikir kau butuh usaha lebih keras untuk mengalahkannya.” Ucap Yugi.


“Bukankah itu terlalu jauh dengan levelku yang sekarang.” Protes Vira.


“Tidak-tidak... ingat baik-baik Vira, semakin kuat lawanmu maka perkembanganmu akan semakin pesat.” Sanggah Yugi.


Duar duar duar...


Monster itu terus saja mencabik-cabik Vira dengan membabi buta, tapi Vira masih bisa menghindari itu semua dengan insting vampirnya. Walau sedikit kewalahan karena gerakan monster itu semakin lama semakin cepat dari sebelumnya.


“Aku tidak akan bisa berkembang lagi jika aku mati ditangan monster ini.” Teriak Vira pada gurunya yang masih tetap santai sambil menganalisa dengan tenang.


Mendengar keluhan Vira yang kesekian kalinya membuat Yugi merasa agak kasihan pada muridnya itu. Dengan helaan nafasnya dia tersenyum kearah Vira. “Baiklah, akan kuberitahu apa kelemahannya.”


“Cepat...” pinta Vira yang sekarang masih menghindari setiap serangan monster tikus itu.


“Iya ya sabar, kelemahan Tikus Tanah Hitam ada pada matanya. Kalau kau memberikan sebuah cahaya yang terang pada matanya, itu akan membuatnya buta sesaat dan kau bisa menyerangnya tepat di kepala untuk membunuhnya.” Jelas Yugi.

__ADS_1


“Baiklah...” tanpa membuang waktu lagi Vira membuat bola api yang berukuran dua kali tubuhnya dengan kepadatan tinggi. “Rasakan ini... Firelight.”


Bola api yang bersinar terang itu langsung meledak di atas kepala monster tikus dan membuat sebuah cahaya yang sangat menyilaukan. Monster tikus tanah itu menggeliat menutup matanya dengan kedua tangan karena silaunya.


“Monster Tikus Tanah Hitam peka terhadap cahaya, oleh karena itu mereka hidup didalam tanah untuk menghindari cahaya yang terlalu terang. Mereka bisa melihat walau ditempat gelap sekali pun, hal itu membuat mereka lebih suka hidup didalam tanah. Bagi mereka tanah merupakan tempat yang cocok untuk menghindari cahaya matahari yang membuat mata mereka kesakitan karena silaunya. Bagi mereka cahaya adalah musuh abadi Tikus Tanah Hitam. Sekarang tinggal menyelesaikannya saja... kau pasti bisa muridku.” Gumam Yugi sambil memperhatikan dari jarak aman.


“Hiyyyaaaaaa...” Vira melayang tepat diatas monster itu dengan sebuah tombak api yang siap dia layangkan ke kepalanya. “Rasakan ini... Spear of Fire.”


Jleb


Vira menancapkan tombak itu tepat dikepala monster Tikus Tanah Hitam dan segera melompat mundur menjauhinya.


“Ciiiiiitttttt...”


Bruk


Monster itu ambruk tidak jauh dari Vira yang sudah terengah-engah dengan keringat yang bercucuran di setiap wajahnya. Pakaiannya sudah basah kuyup akibat keringatnya sendiri. Yugi yang tidak jauh dari Vira langsung menghampirinya sambil tersenyum senang melihat muridnya berhasil mengalahkan monster itu.


“Lumayan juga untuk pemula.” Puji Yugi.


“Hemph... itu mudah untukku.” Ucap Vira dengan bangganya.


“Tapi sepertinya ada yang kurang, aku tau masih ada sesuatu tentang monster itu. Tapi apa ya...” pikir Yugi yang sedikit lupa tentang informasi monster yang baru saja Vira kalahkan.


“Sudahlah tidak usah dipikirkan, bagaimana kalau kita keluar saja dari sini dan bersantai. Aku harus mandi, semua anggota badanku jadi bau akibat keringat ini.” Ucap Vira yang lebih dulu meninggalkan Yugi dibelakangnya.


Yugi yang masih berpikir keras tidak menyadari bahwa didepan Vira muncul monster yang seperti tadi yang langsung menghadangnya. Bukan hanya itu, monster itu muncul lebih banyak dan mengepung mereka.


“GUURRRUUUUU...” teriak Vira yang langsung berlari kearah gurunya.


“Ah aku baru ingat, biasanya Tikus Iblis Hitam selalu muncul secara berkelompok, kenapa dia tadi menyerang sendiri ya.” Ucap Yugi yang dengan santainya masih berpikir tanpa menghiraukan keadaannya yang sudah terkepung.


“Lupakan dulu yang itu, sekarang kita harus bagaimana?” Tanya Vira yang panik melihat sekumpulan monster tikus itu yang terlihat marah karena melihat salah satu rekannya mati.


“Jadi karena ini semua petualang tidak mau mengambil questnya. Sepertinya mereka memiliki sedikit akal untuk memanfaatkan kemampuan uniknya.” Kagum Yugi.


“Ini bukan saatnya untuk kagum guru.” Ucap Vira yang sudah bersembunyi di belakang gurunya.


“Tenang saja, kita hanya perlu memusnahkan mereka bukan. Lihat dan pelajari bagaimana cara memanfaatkan mana yang berlimpah didalam tubuh.” Yugi menghentakkan kedua tangannya ke tanah dengan konsentrasi penuh dan wajah yang sudah berubah serius. “Ice Cube Needles.”


Seketika jarum es mencuat dibawah para monster dan menusuk mereka semua, raungan mereka terdengar menderita dengan darah berwarna ungu yang muncrat di sana sini sampai mengenai Yugi dan Vira yang membuat mereka tertutupi secara penuh oleh darah itu.


“Kya... menjijikkan, apakah guru tidak bisa mengalahkannya dengan lebih elegan sedikit.” Protes Vira dengan tubuh yang sudah tertutupi darah ungu.


“Kau ini terlalu banyak mengeluh, sini biar aku bersihkan.” Dengan jentikan jarinya, seketika air menghujani mereka dan membuat semua darahnya menghilang, walau begitu pakaian mereka menjadi lebih basah kuyup. “Nah sekarang bereskan.” Ucap Yugi dengan cengiran di wajahnya.


“Setidaknya tubuhku tidak kotor... sebaiknya aku keringkan sedikit.” Vira membuat sebuah bola api melayang di antara mereka. Hangatnya api yang dibuat oleh Vira terasa sangat pas dan membuat pakaian mereka kering seketika. “Sekarang jadi lebih baik.”


“Kamu sangat pintar, tidak sia-sia aku jadikan kau muridku.” Puji Yugi sambil mengacak-acak rambut Vira.


“Eemmhh... kau membuat rambutku berantakan.” Protes Vira, tapi didalam hatinya dia merasa senang karena di puji oleh gurunya.


Setelah menyelesaikan misi, mereka melapor ke guild dan mendapat imbalan atas kerja keras mereka. Banyak yang tidak percaya bahwa ada yang mau melakukan pekerjaan itu, bagi Yugi sendiri dia tidak peduli di tatap seperti apa oleh mereka semua, yang penting sekarang mereka bisa kembali ke penginapan dan beristirahat. Itulah yang seharusnya dia lakukan, sampai dimana Vira menuntut untuk pergi ke pemandian air panas untuk merilekskan tubuhnya. Ya mau bagaimanapun Vira juga berjasa dalam misi, jadi Yugi harus menuruti kemauannya.


“Sungguh hari yang panjang, entah bagaimana aku bisa melalui itu semua. Beberapa bulan yang lalu aku menjadi seorang murid dari sang Dewa Naga, Jendral Penyihir dan Raja Naga. Sekarang aku yang menjadi guru dari murid setengah vampir. Benar-benar... kita tidak tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Aku merasa sudah melalui banyak hal untuk sampai disini.” Gumam Yugi sambil menyelamkan kepalanya kedalam kolam pemandian air panas tersebut. Sekitar beberapa detik kepalanya kembali ke permukaan sambil menengadahkannya ke langit, dimana bintang-bintang bersinar disana. “Tapi aku tidak bisa menyangkal kalau darah sang Raja Vampir dan Penyihir Mata Iblis telah mengalir didalam tubuhnya. Oleh karena itu perkembangannya begitu pesat untuk ukuran bocah seumurannya. Bagiku itu sudah terlalu Over Power, ditambah dia mengalahkan monster Tikus Tanah Hitam yang levelnya lebih tinggi darinya. Sungguh anak itu penuh kejutan... aku pikir akan semakin menarik kedepannya. Mau seperti apapun dia nantinya, aku akan bertanggung jawab atas hidupnya, karena dia adalah muridku.” Lanjut Yugi dengan senyuman tipis yang terbentuk di wajahnya.


Entah kenapa sekarang, aku malah merindukannya... aku ingin tau apa yang sedang dia lakukan sekarang. Di malam ini, dilangit penuh bintang... bulan pun bersembunyi di balik awan. Sinarnya yang terhalang membuat malam menjadi sedikit gelap... tapi aku masih yakin jika sekarang ini dia masih menungguku. Sara aku mohon... tunggulah aku sebentar lagi...


Sementara dengan Vira, dia menikmati pemandian air panas itu dengan tenang, senyuman yang terlihat menyiratkan akan kerinduan itu menatap sebuah langit berbintang dengan bulan yang sedikit demi sedikit mulai muncul saat awan mulai menyingkir dari pandangannya. Wajahnya tersenyum sendu dengan kerinduan yang mendalam.


Ibu, sekarang aku sudah menemukan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Aku berjanji akan selalu bersamanya, berada disisinya, dan melindunginya apapun yang terjadi... aku ingin menunjukkan perasaanku ini padanya. Sedikit lagi... aku ingin lebih dekat dengannya, bukan sekedar seorang murid dan guru... tapi aku ingin dia melihatku sebagai seorang wanita... dan aku memiliki tujuan baru, aku ingin bertemu dengan kakakku... apa yang sedang dia lakukan sekarang, seharusnya dia juga sudah sumuran denganku. Aku ingin bertemu dengannya... walaupun kami nantinya tidak saling kenal... entah kenapa aku menertawakan takdir yang sudah diberikan padaku. Kenapa Tuhan sampai memisahkan kami... aku diberikan ayah yang sangat kejam, ibuku meninggal gara-gara dia... dan juga aku terpisah dengan saudara kandungku... benar-benar takdir yang ironis, tapi... aku masih bisa bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengannya... laki-laki yang sangat hebat, kuat, lucu, baik, selalu tersenyum dan juga tampan... kadang kala dia bisa ceroboh, juga tegas... tapi dibalik itu semua, kasih sayangnyalah yang membuatku melupakan semua dendam itu. Sekarang aku punya tujuan baru... terus hidup dan bertemu dengan kakakku...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2