KAISAR ES

KAISAR ES
RUMAH TUA


__ADS_3

“Hm hm hm...”


Bersenandung di tempat favoritku dan kak Yugi membuat rasa rinduku padanya sedikit teratasi. Aku Elna seorang putri dari kerajaan Northern Esla, aku merupakan anak kedua dari pasangan raja dan ratu kerajaan ini. Kakakku yang bernama Elsa merupakan penerus kerajaan Northern Esla. Kerajaan ini begitu damai, sama halnya pagi yang cerah ini. Tatapanku menghadap sebuah pohon yang tidak jauh dari pandanganku, disana lah aku pernah bermain bersama kak Yugi... sampai aku tertidur pulas di pangkuannya. Saat mengingat itu wajahku langsung memerah dengan rasa malu yang sangat terasa bahkan pipiku menjadi lebih panas... Senyuman tidak pernah lepas dari wajahku tatkala mengingat momen yang dimana kami saling mengungkapkan perasaan satu sama lain...


“Y-yah aku tidak akan menyangka kalau kak Yugi bakal mengambil inisiatif untuk menciumku untuk membalas perasaanku. Tapi caranya dalam mengungkapkan perasaannya saat itu... t-tidak terlalu buruk.” Ucap Elna yang bermonolog sendiri dengan wajah malu-malu sambil memainkan jari-jarinya dengan imut. Sungguh jika saja Yugi melihat ini, dia pasti akan langsung memeluk Elna dengan erat agar tidak lepas dari pelukannya. Tapi perlahan senyuman Elna memperlihatkan kerinduan tanpa menunjukkan rasa sedihnya, karena dia tahu jika terus menunjukkan kesedihan maka ibu, ayah dan kakaknya akan khawatir. Jika itu terjadi pasti ayahnya akan memerintahkan semua pasukan untuk membawa Yugi kembali dengan cara apapun, dan dia tidak mau sampai merepotkan kak Yuginya. Mengingat bagaimana kedua orang tuanya yang begitu overproktektif bahkan pada kakaknya juga. Sekarang Elna sudah mengklaim bahwa Yugi adalah miliknya. Tapi dia tidak berniat untuk mengambil Yugi hanya untuk dirinya sendiri, karena masih ada orang yang mencintai Yugi. Mengingat itu membuat Elna tertawa senang dengan wajah yang kembali ceria.


Kak Yugi... ah tidak, Yugi... cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu...


Rumah yang sudah tidak berpenghuni yang merupakan tempat bekas eksperimen yang belum diketahui. Ada dua orang yang tengah menyelidiki tempat tersebut sesuai permintaan klien. Dua orang itu merupakan petualang walau satu orang masih belum resmi disebut sebagai seorang petualang. Karena dia adalah manusia setengah vampir dan belum memiliki kartu member petualang. Ya dia adalah seorang gadis kecil yang masih berusia 10 tahun, bersama dengan seorang petualang muda yang sudah dianggap guru oleh gadis tersebut.


“Vira, sekarang giliranmu untuk naik level.” Ucap pemuda surai putih salju yaitu Yugi.


“Hah...?” bingung Vira yang merupakan setengah vampir. Tatapannya penuh akan pertanyaan tentang apa yang dimaksud oleh gurunya itu.


“Inilah salah satu tujuanku mengambil quest ini. Monster-monster yang ada dirumah ini merupakan bekas eksperimen seorang penyihir yang tidak diketahui namanya. Karena informasi yang kurang lengkap mereka merasa takut kalau saja ada monster kuat yang merupakan eksperimen yang bisa saja lepas kendali. Oleh karenanya quest ini bukan hanya menyelidiki rumah ini, tapi juga membasmi makhluk yang berbahaya, sama halnya monster ini.” Jelas Yugi.


“Tapi apa hubungannya denganku guru?” tanya Vira.


“Kita akan menaikkan levelmu supaya kau bisa mengendalikan darah vampir yang ada didalam tubuhmu.” Jawab Yugi.


“Hhmmm...” Vira semakin bingung akan perkataan gurunya itu. Apa dengan menaikkan level darah vampirnya bisa dikendalikan olehnya. Tapi menyerang monster ini, bahkan dia belum mengetahui informasi mengenai monster yang tengah mereka hadapi sekarang. “Jika guru bicara begitu, guru pasti tahu kan informasi terkait monster ini?” tanya Vira.


“Hanya sedikit, karena petualang yang sebelumnya pernah mengambil quest ini hanya mendapatkan sedikit informasi mengenai monster yang ada dirumah ini. Dan itu tidak menyeluruh, karena itu tidak banyak petualang yang mengambil resiko untuk menyelidiki rumah ini.” Jelas Yugi.


“Jadi kita yang akan meneruskan penyelidikan ini ya.” Sambung Vira yang sudah mengerti akan misi yang mereka jalani.


“Sebagai muridku kau sudah banyak berubah Vira.” Puji Yugi dengan senyuman hangat diwajahnya.


Karena pujian itu Vira menjadi senang walau dia sembunyikan dengan memalingkan wajahnya kearah kanan. “Karena ini bertujuan untuk menaikkan levelku, maka aku yang harus menghadapinya kan...” Vira maju sedikit membelakangi Yugi.


Yugi menatap punggung Vira yang terlihat begitu tegap tanpa keraguan. ‘Dia benar-benar sudah berubah.’ Batin Yugi senang. “Akan kuberitahu informasi mengenai monster ini, dia adalah Green Snake, kemampuannya adalah serangan cepat, dia begitu gesit dan lincah. Serangan utamanya adalah lendir asam. Berhati-hatilah kalau dia bergerak, tanpa disadari dia akan langsung menyerangmu.” Jelas Yugi.


“Hanya itu?” tanya Vira.


‘Entah kenapa caranya bertanya seperti aku sebagai bawahannya saja.’ Batin Yugi sweetdrop. “Kelemahannya adalah elemen api, serang dia dengan apimu Vira.” Ucap Yugi.


“Heee... bisa jadi kebetulan begini, padahal elemen utamaku adalah api. Sungguh menguntungkan untukku...” Vira membuat bola api di masing-masing tangannya. “Serangan pertama...” bola api ditangan kanan Vira dia lemparkan kearah monster ular itu dengan sangat kuat.


Duar


Tempat ular itu berada menjadi sebuah ledakan dengan api yang menyebar ditiang ular tadi berada. Tapi serangan itu tidak mengenai monster ular, dia terlebih dahulu menghindari serangan dari Vira kearah kanannya.


“Gesit...” gumam Vira.


“Berhati-hatilah pada serangan cepatnya.” Peringat Yugi.


Ular sebelumnya sudah berada dikiri Vira dengan mulut terbuka lebar hendak menggigit Vira. Bola api yang berada ditangan kiri Vira langsung dia arahkan pada monster itu dengan cara menghantamkannya secara langsung.


Duuaaarrrr


Hantaman kepala ular hijau dengan bola api milik Vira mengakibatkan ledakan ditempat dan sedikit menimbulkan asap. Vira berhasil menghindar dengan mundur ke belakang guna menjaga jarak dari ular tersebut. Dari asap bayangan ular masih terlihat, dengan kata lain ular itu masih hidup. Sebuah cairan hijau seperti peluru berukuran seperti bola langsung melesat kearah Vira dari asap monster itu berada. Vira yang melihatnya langsung menghindari serangan itu dengan lompat ke atas.


Ceeeeessss


Serangan monster itu meleset menuju dinding dibelakang Vira tadi, dilihat dengan teliti cairan hijau itu membuat dinding rumah itu meleleh. Benar-benar seperti asam basa yang bisa mengelupas apapun. Jika saja Vira terkena serangan itu pasti tamat sudah. Membayangkannya membuat Vira menggigil, setelah berhasil mendarat Vira langsung melompat kembali karena ular hijau itu menyerangnya kembali dengan cairan asam. Tapi Vira masih bisa menghindari serangan itu dengan mudah.


Vira menyatukan kedua tangannya diatas kepala dan membukanya selebar mungkin dan membuat sebuah bola api yang lebih besar dari sebelumnya. “Rasakan ini Fire Ball.” Bola api itu dilemparkan dengan cepat kearah ular hijau tadi.


Tapi gerakan ular itu begitu lincah sehingga serangan area milik Vira bisa dihindari dari jarak serangnya.


Duuuuuaaaaaarrrrrrr


“Daya ledak yang hebat, apa dia mau merobohkan rumah tua ini.” Gumam Yugi yang mulai khawatir kalau sampai rumah ini roboh menimpa mereka.


“Siiisssss...” desis ular hijau dengan tatapan mata merah tajamnya kearah Vira. Sepertinya dia sangat marah karena api merupakan kelemahannya. Gerakan ular itu semakin liar dan melika liku cepat kearah Vira yang baru saja mendarat tidak jauh darinya.


“Kau ingin menyerangku lagi hah...” Vira melapisi kedua tangannya dengan api sehingga membentuk bagai sarung tinju berlapis api.


Green Snake kembali meludahkan serangan asamnya kearah Vira. Dengan insting vampirnya Vira berhasil menghindari serangan itu kearah kanan dan langsung melompat kearah ular tersebut dengan tinju tangan kanannya.


“Horryyaaaaaa...”


Buakh duar


Serangan tinju itu tepat mengenai kepala ular dan membuatnya terpental kearah dinding.


“Rasakan itu...” ucap Vira dengan bangganya.


‘Aku merasa kalau fisiknya lah yang bertambah kuat.’ Batin Yugi yang sedikit takut jika saja dia menjahili Vira, mungkin saja dia akan mendapat bogem mentah yang berlapis sihir itu. “Dengan skill penguatan tubuh ditambah sihir elemen apinya dia membuat sebuah kombinasi yang hebat.” Gumam Yugi kagum.

__ADS_1


“Masih belum...” Vira mengangkat tangan kanannya ke atas dan membuat sebuah tombak dari elemen apinya. “Rasakan serangan terakhir dan terpanasku.” Tombak itu langsung dia lemparkan kearah monster ular yang masih terbaring ditembok dan tepat mengenainya.


Jleb bruuussssssttttt


Serangan itu langsung membakar hidup-hidup Green Snake sesaat setelah menancap ditubuhnya. Kobaran apinya semakin besar dan panasnya bisa Yugi rasakan walau jaraknya cukup jauh beberapa meter darinya.


“Bagaimana guru?” tanya Vira sambil membusungkan dadanya yang masih dalam masa pertumbuhan dengan bangganya.


“Kau berhasil Vira, aku bangga padamu.” Puji Yugi sambil mengelus kepala peraknya yang terasa halus.


“...” Vira yang diperlakukan seperti itu tidak dapat membalas perkataan Yugi, dia hanya mampu tertunduk senang dengan wajah merahnya seperti tomat.


“Tapi ini belum selesai, setelah ini akan ada banyak monster lainnya. Bersiaplah...” ucap Yugi tetap dengan kewaspadaannya tanpa lengah.


“Baik...” balas Vira dengan tatapan semangatnya.


Kami menyelusuri rumah itu semakin dalam. Dengan cahaya putih kebiruan milikku kami terus melangkah, melewati setiap ruangan kosong yang gelap, dan menemukan monster yang sejenis sebelumnya. Tentu saja Vira yang membasmi mereka semua... satu persatu monster Green Snake bermunculan, tentu aku sedikit membantu dengan menghentikan pergerakan para monster dengan elemen es ku... sisanya tinggal Vira ledakan dengan elemen apinya. Entah ini cuma perasaanku atau memang semakin lama muridku ini menikmati setiap detiknya membunuh para monster. Sepertinya aku telah membangkitkan jiwa sadis muridku ini...


Tap tap tap


Langkah kaki Yugi dan Vira menggema di lorong yang semakin dalam memasuki rumah yang besar itu. Tidak lama mereka berada disebuah ruangan tamu yang begitu luas, ya bisa dibilang rumah besar itu mirip sekali dengan mansion orang kaya, bahkan dari awal mereka memasuki rumah ini mereka sudah disambut oleh ruangan besar. Tidak mengherankan jika membutuhkan waktu lama hanya untuk mencapai ruang tamu. Untuk sesaat mereka melihat-lihat sekilas ruangan itu, Yugi yang dibantu penerangan cahayanya sementara Vira menggunakan mata vampirnya untuk melihat dalam gelap, sepertinya Vira sudah mulai terbiasa dengan mata vampirnya. Walau dia masih belum bisa mengendalikan sepenuhnya mata iblis penyihirnya.


“Grrrrr...”


Sebuah suara geraman mereka dengar dari ruangan itu yang menggema. Tentu saja Yugi langsung mundur ke belakang untuk memastikan muridnya tidak jauh-jauh darinya. Yugi mengangkat tangan kanannya ke atas dan bersamaan dengan itu cahaya putih kebiruan itu melayang diatas mereka dan membesar sehingga cahayanya mencakup ke sudut yang gelap dari ruangan itu.


“Groooaaaarrrrrt...”


Seekor harimau berwarna ungu dengan kedua taringnya yang begitu panjang terlihat begitu buas dan menakutkan ditambah mata merah yang menatap tajam mereka bagaikan mangsa yang sudah ditargetkan.


“Monster ini masih belum ada di daftar misi kita. Dengan kata lain, dia monster yang berbeda dengan Green Snake.” Ucap Yugi.


Vira yang berada disamping kirinya menatap sang guru dengan pandangan bertanya.


“Jika kau berpikir apa yang harus kita lakukan, sudah jelas Vira. Kita harus sebisa mungkin menghindari pertarungan yang akan merugikan kita. Tapi misi kita juga harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai monster yang ada di mansion ini.” Setelah mengatakan itu Yugi berjalan ke depan meninggalkan Vira dibelakangnya. “Sekarang sisanya serahkan pada gurumu ini.” Lanjut Yugi.


“Grooaaarrrr...” monster itu menyerang Yugi dengan mengayunkan kaki bercakar tajamnya.


Melihat serangan itu tidak membuat Yugi tinggal diam, dia membuat sebuah dinding es didepannya menggunakan tangan kiri.


Craaaayyy


Tapi itu tidak dapat menghentikan serangan harimau ungu itu. Dinding es milik Yugi hancur berkeping-keping dengan mudahnya, hal itu membuatnya terkejut dan terkena serangan harimau itu tepat di pakaiannya sampai menembus kulitnya. Disana terlihat bekas cakaran yang terbentuk tiga secara miring vertikal dari bahu kiri ke bawah kanannya. Rasa yang dirasakan oleh Yugi pastilah kesakitan dengan darah yang keluar dari cakaran itu walau tidak terlalu banyak.


“Ahk...” Yugi sedikit mundur untuk menjaga jarak dari harimau itu, dia memegangi tubuhnya yang terdapat cakaran disana. Darah dapat dia lihat di telapak tangan kanannya. Itu membuatnya sedikit merasakan perih di sekujur tubuhnya. “Monster ini mampu menghancurkan dinding es ku dengan sekali serangan hanya dengan cakarnya. Dengan kata lain dia berada di level 30 ke atas. Karena dinding yang kubuat hanya mampu menahan serangan biasa dari monster yang berada di bawah level 30. Ini bukan tandingannya Vira...” gumam Yugi di tengah rasa sakitnya.


“Guru kau tidak apa-apa?” tanya Vira dengan nada khawatir.


“Tenang saja, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil.” Jawab Yugi dengan senyuman menenangkan diwajahnya.


Melihat itu Vira sedikit lega karena gurunya tidak apa-apa. Ya dia juga percaya kalau Yugi tidak mungkin dikalahkan hanya dengan serangan itu.


“Nah karena kau telah membuat muridku khawatir, maka kau harus menerima akibatnya monster.” Ucap Yugi dengan tatapan tajamnya kearah harimau ungu itu.


“Groooaaarrr...” sebuah bola energi kebiruan terbentuk di mulut harimau itu yang siap mengarahkannya kearah Yugi.


“Ice Barrier.” Es penghalang berbentuk dinding terbentuk didepan Yugi untuk menghalau serangan dari harimau itu.


Syuuuuutttttt


Bola energi itu ditembakkan kearah Yugi dengan kecepatan tinggi sampai lantai dibawah mereka mencengkung di lintasan bola biru itu.


Blaaaarrrrrrrr


Ledakan yang cukup besar terjadi di tempat Yugi, barrier yang dia bentuk berhasil menahan serangan dari harimau ungu itu, tapi terlihat kalau barrier nya hampir hancur. Bisa dibilang serangan monster itu cukup kuat walau masih bisa ditahan oleh penghalang es milik Yugi.


“Hebat, sebaiknya aku segera menyelesaikannya.” Yugi berlari kearah harimau itu untuk membalas serangan.


Gerakan harimau ungu itu terhenti sejenak setelah meluncurkan serangannya barusan. Saat Yugi sudah berada didekat monster itu, tangan kanannya menapak ketanah dengan konsentrasi tinggi.


“Freezing.” Tanah yang dibawah harimau ungu membeku sampai merambat setengah badannya. Yugi yang berhasil mengekang monster itu langsung saja melompat ke udara sambil membentuk pedang es ditangan kanannya. “Rasakan ini...” sebuah tusukan siap menerkam sang harimau yang terperangkap dalam es.


Jleb


“Groooaaaarrrrr...” monster harimau itu berteriak ganas saat dia menerima tusukkan tepat dikepalanya.


“Bekulah... Freezing.”


Tubuh harimau ungu membeku sepenuhnya tanpa menyisakan apapun. Yugi yang masih menancapkan pedang esnya langsung dia tarik, seketika itu juga makhluk itu hancur berkeping-keping seperti kristal yang rapuh. Yugi mendarat tidak jauh dari hancurnya monster itu sambil bermandikan kristal es yang telah dia hancurkan. Vira yang melihatnya merasa kagum untuk kesekian kalinya. Gurunya itu sangat kuat itu yang dipikirkan olehnya. Yugi mengambil sebuah taring dan bulu yang tersisa ditempat monster itu dan memasukkannya kedalam kantung kecil. Kedua benda itu merupakan bekas dari monster harimau ungu yang baru saja dia kalahkan, Yugi memungutnya sebagai bukti bahwa selain monster ular hijau ternyata ada monster lain yang levelnya lebih tinggi dari itu. Biasanya hal itu akan dijadikan sebagai pertimbangan bahwa misi yang dijalani oleh sang petualang memiliki resiko yang lebih tinggi sehingga bayarannya pun bisa saja berubah.

__ADS_1


Vira yang sudah memastikan bahwa pertarungan telah usai, dia langsung menghampiri Yugi untuk melihat keadaannya.


“Guru tidak apa-apa?” tanya Vira.


“Tenang saja, lihat aku baik-baik saja kan.” Jawab Yugi dibarengi senyuman.


Tapi hal itu belum cukup meredakan kekhawatiran Vira, dia melihat tubuh Yugi yang sempat dicakar oleh monster itu. Pakaiannya terdapat bekas cakaran sampai memperlihatkan perutnya sedikit, darah yang sebelumnya mengalir sudah mulai mengering. Tapi tetap saja gurunya itu harus segera dirawat. Vira mengambil inisiatif mengambil sebuah posion ditas kecilnya dan menaburkan botol berwarna kuning kepada perut Yugi. Cairan itu langsung bekerja dengan baik dan menutup semua luka Yugi.


Yugi tersenyum hangat pada Vira, karena rasa khawatir Vira membuat Yugi sadar betapa dia sangat berarti bagi Vira. “Sudah kubilang aku tidak apa-apa... bukankah akan sangat disayangkan jika memakai penyembuh sekarang.” Ucap Yugi dengan pikiran logisnya.


“Lebih baik kugunakan sekarang dari pada menyesal nantinya.” Balas tegas Vira sambil menatap marah pada Yugi. ‘Masih saja guru ini berkata yang tidak perlu, kau mau membuat muridmu ini sekhawatir apa sih.’ Batinnya kesal.


“Ah...” Yugi sedikit kaget saat Vira membentaknya seperti seorang adik yang khawatir pada kakaknya. Mungkin saja dia sudah terlalu meremehkan Vira, dia menjadi lebih kuat sekarang, dan yang paling peduli padanya. “Maafkan gurumu ini, aku tidak tau kalau kau bisa sekhawatir itu padaku.” Ucap Yugi dengan nada menyesal.


“A-aku... s-siapa juga yang peduli.” Vira memalingkan wajahnya kearah kiri dengan wajah ngambeknya. Walau dalam hati dia sangat senang melihat gurunya baik-baik saja.


“Baiklah, lain kali aku akan lebih hati-hati.” Ucap Yugi.


“Hm... itu bagus jika kau menyesali perbuatanmu.” Balas Vira dengan nada percaya dirinya.


‘Sebaiknya aku mengajari Vira apa itu yang namanya rendah hati.’ Batin Yugi dengan keringat dingin di pelipisnya.


“Ayo kita lanjutkan.” Ucap Vira yang memimpin jalan dengan percaya dirinya.


“Padahal sebelumnya dia yang paling ketakutan.” Gumam Yugi sweetdrop.


Tidak lama berselang dalam perjalanan menuju ruang paling dalam, sebuah pintu berwarna cokelat dengan tulisan ‘Lugus’ terpampang jelas di depan mereka. Yugi merasa kalau nama itu tidak asing, dia pun membaca kembali lembaran misi sebelumnya. Disitu tertulis nama pemilik rumah besar ini sebelumnya.


“Sepertinya itu pintu ruang kerja pemilik rumah ini yang dulu.” Tebak Yugi.


“Terlihat sangat rapuh.” Ucap Vira yang mengetuk-ngetuk pintu tersebut.


“Jangan memegang sembarangan Vira.” Peringat Yugi.


Tapi peringatan itu terlambat saat pintu tersebut terbuka sendiri dan memperlihatkan ruangan kerja tua dengan rak yang dipenuhi buku-buku tua.


Vira dengan entengnya masuk kedalam walau didalam terlihat agak gelap meski di terangi oleh cahaya yang dibuat oleh Yugi. “Tidak ada yang perlu di khawatirkan guru, lihat aku baik-baik saja.” Ucapnya saat berada didalam ruang kerja itu.


Tanpa disadari oleh Vira sebuah mata merah menyala di tengah kegelapan melihat dirinya dengan tajam. Yugi yang menyadari hal itu langsung berteriak sambil berlari kearah Vira.


“Awas Vira...”


Mendengar teriakan itu sontak membuat Vira secara reflek menengok ke belakang dan betapa terkejutnya dia oleh monster bersayap dengan paruh tajam yang siap mengoyak dirinya.


“Hyeeeaaaaa...” suara melengking seperti elang membuat ruangan itu menggema dan membuat telinga Vira kesakitan yang akhirnya dia menutupinya dengan kedua tangannya. Tapi itu membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa sehingga serangan yang mulai mendatanginya tidak bisa dia hindari.


“Wall Ice...”


Brak


Serangan paruh tajam burung besar itu terhalang oleh dinding es ciptaan Yugi dengan waktu yang begitu tipis tapi berhasil menyelamatkan Vira. Yugi yang masih menempelkan kedua tangannya di tanah dimana es ciptaannya merambat dan membentuk dinding guna melindungi Vira, dengan nada keras dia memanggil Vira untuk menjauh dari sana.


“Pergi dari sana Vira.” Teriak Yugi.


Vira yang mendengar teriakan Yugi langsung saja membuka mata dan melihat kearah depannya yang terdapat burung raksasa mirip elang dengan tanduk mirip jarum yang banyak menatap dirinya tajam. Dengan susah payah dan kaki yang bergetar, Vira berdiri dan berlari dari sana. Tapi burung besar itu tidak membiarkan Vira kabur darinya. Dengan kakinya yang tajam, dinding es milik Yugi dapat dihancurkan dengan sekali injak.


Tidak membuang waktu, Yugi berlari menuju Vira dengan ekspresi wajah yang begitu mengeras. Pasalnya burung raksasa bermata merah itu sebentar lagi akan mencapai Vira.


“Hyeeeeaaaa...” serangan paruh tajam nya mulai menyerang Vira kembali.


Melihat itu tanpa ragu Yugi menghembuskan nafas panjang dan menatap tajam burung raksasa itu penuh kemarahan.


“Ice Dragon Roarrrrrrrr...”


Seketika itu pula serangan dahsyat es milik Yugi berhasil membekukan burung itu tanpa meninggalkan seinci pun tubuh yang tidak tertutupi es. Semuanya tertutupi es yang begitu tebal dan keras, sepertinya Yugi tanpa sadar menggunakan energi yang begitu besar demi menyelamatkan muridnya.


Vira yang masih membelakangi monster itu hanya meringkuk takut saat mendengar teriakan yang melengking sebelum monster itu membeku. Sedikit demi sedikit dia mulai melihat ke belakang karena tidak mendengar teriakan monster burung itu lagi. Betapa terkejutnya dia begitu melihat burung raksasa itu sudah terbalut es yang begitu tebal dan besar. Pantas saja dia merasakan hawa dingin di belakangnya, untuk memastikan sesuatu Vira pun melihat kearah samping kirinya dimana gurunya itu menatap dirinya penuh kekhawatiran. Tanpa diberitahu pun Vira sudah mengetahuinya, jika yang membekukan monster ini adalah gurunya sendiri.


“Guru...” Vira berlari kearah Yugi dengan tergesa-gesa ditambah raut wajahnya yang masih menunjukkan rasa takut.


Aku takut, aku benar-benar takut sekali...


“Vira...” Yugi hanya mampu bergumam lega melihat muridnya baik-baik saja.


Tidak lama Vira menubruk Yugi dengan kencangnya sehingga Yugi agak mundur ke belakang sedikit tapi masih bisa menahan dirinya agar tidak terjatuh. Disana Vira memeluk Yugi begitu erat dengan tubuh bergetar ketakutan, disaat itulah Yugi benar-benar bersyukur karena berhasil menyelamatkan muridnya. Gadis yang ada dipelukannya ini, masihlah membutuhkan perlindungan dari orang tuanya. Yugi pun membalas pelukan dari Vira dengan lembut untuk menenangkan dirinya.


Aku sangat ketakutan, aku berpikir akan mati saat itu juga. Tapi guru lagi-lagi menyelamatkannya, ini pertama kalinya dia benar-benar takut mati... aku tidak mau berpisah dari Yugi...


Air mata menetes ke tanah, air mata itu dikeluarkan oleh Vira dengan wajah lega bercampur syukur karena masih hidup.

__ADS_1


Aku menyadari sesuatu darinya... bahwa muridku ini masih kecil, selayaknya anak kecil yang seharusnya dimanja dan bermain dengan anak seumurannya, kini dia benar-benar membutuhkan perlindungan dari sosok yang seharusnya mendampinginya hingga besar. Tapi sosok itu tidak ada bersamanya... dan sebagai gantinya, aku akan melindungi Vira sampai datang waktunya dia bisa memilih orang yang bisa melindunginya selama sisa hidupnya...


Bersambung


__ADS_2