
Hari ini aku akan pergi dari kerajaan Northern Esla... aku sudah merencanakannya dengan Yui, sudah cukup lama bagiku menetap disini. Karena aku seorang petualang, aku tidak bisa terus-terusan berada dilingkungan kerajaan... semua orang berdiri menghadapku dengan senyuman mereka, gerbang yang berada didepanku ini merupakan langkah awalku untuk pergi ke dunia yang baru. Tatapanku tidak hentinya menatap mereka semua, bahkan para tetua pun mengantarkan kepergianku...
“Kak Yugi... hiks hiks hiks...”
Elna menangis, memelukku begitu erat seolah tidak membiarkanku untuk pergi. Elsa yang hanya memandangku dengan mata tersedu... Risa yang hanya tersenyum sayu... Yuko yang terlihat begitu tegar... hanya satu orang yang terus menangis didalam pelukanku... dia Elna... aku bisa merasakan begitu banyak kasih sayang darinya. Maafkan aku... maafkan kakakmu ini... kamu adalah adik yang sangat aku sayangi... untuk pertama kalinya... walau hanya sebagai adik angkat, tapi aku sangat menyayanginya.
Aku pun membalas pelukan Elna dengan lembut, berusaha menenangkannya... tangisannya yang begitu memilukan membuat hatiku tidak tega meninggalkannya... tapi ini harus aku lakukan, jika tidak... aku tidak mungkin bisa melangkah ke depan. Aku mensejajarkan tinggiku dengannya, senyuman hangat seorang kakak aku layangkan padanya...
“Elna...” panggil Yugi dengan suara lembut.
“Tidak tidak tidak... aku tidak mau kak Yugi pergi. Kalau kak Yugi pergi, bawa Elna bersamamu... Elna janji tidak akan merepotkan kak Yugi, hiks hiks hiks...” tangisan Elna membuat semua orang hanya mampu menundukkan kepalanya. Mereka tidak menyangka akan datang dimana seseorang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita.
Aku tidak mempunyai keberanian seperti adikku... aku hanya mampu melihat Yugi dari kejauhan, walau dalam hati aku merasakan sakit yang teramat. Melihat orang yang kita cintai, pergi begitu saja... tentu saja aku tidak rela, tapi mungkin ini yang terbaik.
Yugi... dia membawa beban harapan semua orang, aku tau persis seperti apa rasanya... aku hanya mampu mendoakannya.
Yugi... aku mencintaimu, aku akan tetap menunggumu...
“Elna... dengarkan kakak...” Yugi mengelus pelan surai biru yang begitu lembut itu. Tatapan mereka saling bertemu menyiratkan akan kehangatan dibalik matanya. “Suatu hari nanti kakak akan kembali... Elna percaya sama kakak kan?” Yugi berusaha meyakinkan Elna yang masih tersedu-sedu dalam tangisannya.
“Kakak janji...”
Mendengar perkataan Elna membuat Yugi tersenyum dengan jari kelingking kanannya yang diarahkan kearah Elna. “Kakak janji...”
Kelingking Elna dan Yugi saling bertautan dengan senyuman mereka yang kembali seperti semula, tangisan Elna mereda digantikan dengan senyuman cerianya. Semua orang yang melihat itu hanya mampu tersenyum senang, Elsa tersenyum hangat kearah mereka dengan kedua tangan saling bertautan didepan dada. Begitu juga Yuko yang memegang tangan kanannya didekat dada.
“Kak Yugi...” Elna mengalungkan kedua tangannya ke leher Yugi dengan menyalurkan rasa hangat di setiap pelukannya. “Aku akan menunggumu...”
Tidak lama mereka mengakhiri pelukan itu dan saling menatap kembali, Yugi yang baru sadar akan sesuatu segera saja mengambilnya disaku kanan celananya. Saat dikeluarkan, terdapat sebuah kalung dengan kristal es yang menggantung cantik. Kristal itu berkilauan layaknya permata biru yang begitu indah.
“Jaga baik-baik kristal ini, selama kristal ini masih ada kakak akan selalu ada disampingmu...” Yugi mengalungkan kristal biru itu di leher Elna dengan senyuman yang begitu tampan diwajahnya.
“Eemmhh...” Elna memegang kristal yang menggantung di lehernya itu dengan erat. Senyuman dia berikan pada Yugi seraya berkata. “Aku akan selalu menjaganya...”
Aku senang, akhirnya Elna tersenyum kembali, dengan langkah pelan aku mulai menjauh dari mereka... dengan sayap naga yang membentang dibelakang punggungku. Aku terbang dengan kilauan cahaya biru meninggalkan mereka semua... kehidupan yang baru akan menyambutku dibalik gunung sana...
Sebelum kejadian ini dimulai... semuanya berawal saat aku mengatakan akan pergi dari kerajaan ini pada Yuko...
Kemarin merupakan hari dimana aku mengatakan sebuah perpisahan pada orang-orang yang berharga dalam hidupku...
“Aku akan pergi dari kerajaan ini...”
“Apa maksudmu Yugi?” tanya Yuko yang tidak percaya apa yang dia dengar darinya.
“Aku sudah merencanakan ini setelah lama aku berdiam diri di kerajaan ini. Aku mulai berpikir harus menjelajahi dunia ini... itu bisa membuatku mendapatkan berbagai pengalaman didunia luar sana. Oleh karena itu aku harus pergi...” ucap Yugi dengan tegas tanpa ada keraguan di setiap perkataannya. “Dan juga, mungkin aku akan bertemu dengan Dewa Naga lainnya...” tambah Yugi dengan senyuman diwajahnya.
“...” Yuko mengerti apa yang dikatakan oleh Yugi, tapi perasaannya yang akan ditinggalkan begitu saja membuatnya ingin menahan Yugi agar tetap disini. Tapi sebagai seorang guru dia tidak bisa egois seperti itu, ini adalah keputusannya. Dia tidak bisa mengganggu apapun yang diinginkan oleh muridnya, karena guru harus mendukung apapun pilihan yang diambil oleh muridnya itu. “Aku mengerti, apa kamu sudah memberitahu yang lainnya...”
Yang dimaksud Yuko pastilah Elna dan Elsa, Yugi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kaulah yang pertama guru...”
Mendengar perkataan Yugi membuat Yuko jadi salah tingkah. ‘J-jangan terbawa perasaan dulu... yang dimaksud pertama itu pasti hanya untuk menghormatiku sebagai gurunya... ya pasti itu.’ Batin Yuko yang meluruskan kesalahpahaman dihatinya.
“Oh ya, aku punya sesuatu untukmu...” Yugi menyerahkan sebuah kotak kecil dengan corak salju putih dengan warna biru muda di setiap sisinya.
“Apa ini?” tanya Yuko yang mengambil kotak itu.
“Emmhh... bukalah.” Balas Yugi dengan jari telunjuk kanannya yang menggaruk pipinya grogi.
Saat Yuko membuka kotak itu betapa terkejutnya dia melihat sepasang anting kristal es yang begitu indah. “Ini...” Yuko menatap anting kristal itu dengan pandangan bingung, senang plus pipi yang merona, perasaan yang campur aduk membuat Yuko tidak bisa berkata apapun lagi.
“Itu anting yang kubuat menggunakan teknik es abadi. Selama aku masih hidup didunia ini kristal es itu akan tetap abadi. Apa kamu menyukainya?” Yugi hanya mampu memalingkan wajahnya kearah lain karena malu, ini merupakan kala pertama dia memberikan hadiah sebuah anting pada seorang gadis. Walaupun dia menganggap Yuko sebagai gurunya tapi dia tetaplah seorang perempuan. Mau bagaimanapun hal itu sangat memalukan baginya.
Yuko yang melihat anting prisma segi enam itu hanya mampu menatap dengan senyuman yang begitu cantik diwajahnya. Entah apa yang dirasakannya saat ini, detak jantungnya sedari tadi tidak berhenti memacu dengan cepatnya. Dengan nada yang begitu ceria, Yuko menjawab pertanyaan Yugi dengan senyuman terbaik miliknya. “Ya, aku sangat menyukainya...terima kasih.” Tatapannya tidak pernah luput dari wajah Yugi, secara perlahan dia mendekat kearah Yugi dan memeluknya penuh kasih sayang.
Aku tidak peduli lagi, yang ingin kulakukan sekarang hanya memeluknya. Membiarkan diriku dalam kenyamanan, kehangatan dan rasa aman darinya. Yugi... aku ingin sekali mengatakan kalau aku tidak mau kau pergi. Aku ingin terus bersamamu... perasaanku ini bukan hanya sekedar kasih sayang seorang guru pada muridnya.
Tapi rasa cinta yang teramat besar untukmu, untuk pertama kalinya aku merasakan ini.
Aku mencintaimu Yugi...
Sebuah air mata kesedihan dan kesenangan yang bercampur dalam rasa sakit itu menetes melewati kedua pipi Yuko. Rasa senang karena mendapatkan sebuah hadiah yang begitu berarti dalam hidupnya, dan juga sebuah cinta pertama dalam hidupnya, untuk pertama kalinya bagi Yuko mencintai orang lain selain keluarganya. Rasa sedih karena akan perasaan yang belum tersampaikan, perasaan yang masih terpendam dalam dirinya. Kesedihan akan perpisahan yang akan datang, sakit... sungguh sakit hati Yuko membayangkan jika Yugi pergi meninggalkannya. Yuko selalu berpikir kenapa perasaan ini muncul yang pada akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri. Kenapa semua ini terjadi saat dia mendapatkan sebuah kebahagiaan. Yuko tidak tau kenapa hal ini bisa terjadi... apa Tuhan sedang mempermainkan perasaannya. Tapi Yuko percaya akan satu hal, dia yakin bahwa semua ini akan berakhir bahagia untuknya.
Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar saat memelukku, tubuh yang begitu rapuh. Aku juga bisa merasakan air mata dibalik punggungku, kenapa aku membuat seseorang menangis lagi...
Kenapa harus aku yang membuat orang lain tersakiti, aku hanya mampu terdiam sambil membalas pelukan hangatnya. Pelukan seorang Yuko yang begitu lembut, aku bisa merasakan betapa dia tidak mau melepaskan pelukan ini... merasakan kelemahan Yuko yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya, membuat aku sadar kalau semua ini adalah kesalahanku... tapi ini juga berat bagiku, memilih sebuah jalan yang terjal... aku harus melakukannya.
Karena tanggung jawabku sangatlah besar...
Siang hari yang begitu cerah, tapi rasa dingin tidak pernah meninggalkan kerajaan Northern Esla. Karena kerajaan ini terkenal dengan salju abadinya, disebuah taman kerajaan terlihat Yugi yang tengah duduk sendirian ditemani semilir angin yang meniup rambutnya. Tatapannya tidak lepas dari air mancur yang berada di hadapannya. Saat melihat air mancur itu, dia teringat akan permintaan pertama dari Elsa. Sebuah permintaan yang tidak bisa dia penuhi karena keinginan seorang ibu dan adik. Rasanya itu sudah berlalu cukup lama, mengingat hal itu membuat Yugi tersenyum penuh arti. Tidak lama sebuah langkah kaki mendekati kearah Yugi, disana terlihat Elsa yang tersenyum hangat kearah Yugi.
“Sendirian?” tanya Elsa.
“Kurasa sekarang tidak lagi...” balas Yugi.
“Mouuu... kau mengulang kalimatku yang sudah lama.” Ambek Elsa dengan imut nya.
‘Sekarang dia terlihat seperti adiknya...’ batin Yugi. “Ada apa menemuiku?” tanya Yugi sambil tetap menghadap air mancur.
“Memangnya tidak boleh kalau aku menemuimu.” Elsa duduk disamping Yugi dengan perasaan badmood karena Yugi baru saja menghancurkan moodnya.
“Bukan begitu...” panik Yugi yang menyadari kalau Elsa sedang marah sekarang.
__ADS_1
“Aku cuma bercanda...” ucap Elsa dengan senyuman jahil.
“Jangan bercanda dengan wajah serius seperti itu dong.” Yugi menundukkan kepalanya lelah.
Tidak lama suasana menjadi hening, ditambah rasa canggung yang tiba-tiba menghampiri. Mereka sedang asyik dengan dunianya masing-masing, sampai sebuah suara memecah keheningan.
“Elsa..” Yugi menatap kearah Elsa dengan wajah serius, hal itu membuat Elsa sedikit gugup. “Aku... akan pergi.”
Pernyataan Yugi membuat Elsa terdiam seribu bahasa, perkataannya itu bagaikan sebuah jarum es yang membuat hatinya menjadi dingin dalam sekejap. Karena ketidak percayaannya terhadap kata-kata Yugi, Elsa menatap mata Yugi itu dengan lekat. Dia tidak menemukan kebohongan sedikit pun dari kata-kata Yugi, hal itu membuat Elsa menatap dengan bola mata yang sudah membulat sempurna karena tidak percaya akan kenyataan saat ini.
“Hiks hiks hiks...” sebuah air mata meluncur meninggalkan sang empunya, Elsa menangis dengan suara yang tertahan. Menatap tidak percaya kearah Yugi yang mengatakan sebuah kata yang tidak pernah mau didengar oleh Elsa.
Lagi, aku membuat orang yang berharga dalam hidupku menangis lagi, kenapa aku selalu saja...
Yugi hanya mampu menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah. Mau bagaimanapun dia juga tau perasaan ini, perasaan dimana seseorang yang kau percayai, sayangi dan membuatmu merasa nyaman tiba-tiba mengucapkan sebuah kata perpisahan. Seharusnya sedari awal Yugi tidak pernah memberikan sebuah perasaan yang menyakitkan ini. Dia selalu saja menyesali akan perbuatannya yang membuat orang lain tersakiti. Tapi mau bagaimanapun, dia tau ini akan terjadi. Oleh karena itu dia sudah siap menanggung semuanya.
“Maafkan aku, tapi aku senang bisa bersamamu, bersama dengan kalian semua... aku belum pernah merasakan perasaan senang semenjak pengkhianatan itu, maaf mengatakannya secara tiba-tiba begini. Sejak awal aku sudah ingin memberitahu kalian semua... tapi aku tidak berani mengatakannya. Makanya...” Yugi tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia berpikir mungkin Elsa sudah membencinya sekarang, tapi secara tidak terduga Elsa... memeluknya. “Elsa...”
“Aku tau suatu saat nanti kau pasti akan mengatakan hal itu. Tapi mungkin yang paling tersakiti bukanlah aku... aku harap Elna mau menerima semua ini.” Ucap Elsa dengan nada pelan tersirat akan kesedihan, tapi dia terus bersikap tegar pada dirinya sendiri. Walaupun berat, tapi ini sudah menjadi keputusan Yugi. Tidak lama mereka menyudahi pelukan itu, membuat mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Cup
Aku merasakannya lagi, sebuah sensasi yang begitu lembut dibibirku, terasa lembab dan kenyal. Kejadian itu terjadi secara tiba-tiba... Elsa menciumku. Dan lagi ciuman ini tidak terlalu kasar, begitu lembut akan kasih sayang... saking lembutnya aku hampir terbawa suasana. Tapi aku tau sampai mana batasanku...
“Sudah cukup tuan putri Elsa.” Yugi menghentikan ciuman itu setelah berlangsung cukup lama. Kini wajahnya sudah memerah sempurna dengan mata yang dia alihkan dari tatapan Elsa.
“Maaf aku melakukannya secara mendadak. Hanya saja aku ingin melakukannya sebelum kita berpisah... tapi aku yakin suatu saat nanti kamu pasti kembali, Yugi aku... aku...” Elsa menundukkan kepalanya dengan rona merah yang sudah menyelimuti wajahnya. Begitu merah dengan asap yang mengepul diatas kepalanya. “Aku...”
Sebelum Elsa menyelesaikan perkataannya, mulutnya sudah disumbat terlebih dulu oleh jari kanan Yugi. Senyumannya membuat Elsa tau apa arti dari itu semua. Elsa hanya mampu membalasnya dengan senyuman hangat seolah sudah kalah dalam pertempuran. Tapi dia tidak akan menyerah, karena baginya ini hanya masalah waktu sampai Yugi mau menerima perasaannya.
“Jika kau mengatakannya, aku tidak akan sanggup lagi pergi dari sini. Oleh karena itu...”
Elsa memegang telunjuk kanan Yugi yang masih berada dimulutnya, dengan senyuman cantiknya. Elsa menggelengkan kepalanya seraya berkata. “Aku akan terus menunggumu... Yugi.”
“Terima kasih...” Yugi hanya mampu menunduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Tapi semuanya hilang tatkala dia melihat senyuman tulus dari Elsa, seolah dia berkata kalau ini bukanlah salahnya. “Elsa, aku memiliki sesuatu untukmu.” Yugi menyerahkan sebuah benda berbentuk bulat dengan lambang salju yang menyembunyikan sesuatu didalamnya.
“Apa ini?” tanya Elsa yang memegang benda tersebut.
“Bukalah.” Balas Yugi.
Saat Elsa membukanya terdapat sebuah gelang berwarna putih salju dengan kristal biru diatasnya. Gelang itu terlihat begitu indah, Elsa memegangnya dengan pandangan berbinar melihat gelang itu. “Apa ini untukku?” tanya Elsa.
“Ya... aku membuatnya sendiri. Apa terlihat aneh?” Yugi menggaruk belakang kepalanya grogi.
“Tidak... ini sangat cantik.” Elsa memakai gelang itu ditangan kanannya. “Bagaimana menurutmu?” tanya Elsa sambil memamerkan gelang pemberian Yugi yang terpasang pas di tangan kanannya.
“Sangat cocok untukmu.” Jawab Yugi tulus.
Aku juga membuatnya menggunakan teknik es abadiku. Aku senang melihat wajahnya sebahagia itu, walau aku tau bahwa senyuman itu merupakan... senyuman yang tercampur dengan kesedihan yang menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya... Elsa ingin mengantarkan kepergianku dengan senyuman. Dan aku tau sifatnya yang seperti itu...
Gunung Northern Esla merupakan tempat dimana sarung pedang Eternal Snow di segel, tapi sekarang sarung pedang itu sudah berada ditangan Yugi. Dengan begitu pedang Eternal Snow sudah lengkap dan kekuatannya sudah bertambah. Seorang pemuda yang merupakan pemilik pedang Eternal Snow sedang berjalan ke sebuah tempat dimana sang Raja Naga Freez atau biasa dipanggil Risa dalam wujud manusia tinggal disana.
“Hai master...”
Sebuah sapaan yang begitu ramah dilayangkan oleh Risa yang sekarang sedang duduk tenang diatas batu bersalju. Suasana begitu tenang dengan angin yang berhembus mengibarkan rambut mereka. Yugi mendekatkan dirinya pada Risa seraya berucap dengan nada penuh rasa rindu akan kenangan tempat ini.
“Jadi ingat waktu itu ya, tempat ini merupakan tempat dimana aku pertama kali bertemu denganmu bukan...” ucap Yugi sambil pandangannya menatap kearah depan.
“Itu merupakan pertemuan yang tidak terduga.” Balas Elsa dengan senyuman geli mengingat kejadian itu.
“Ya, kesan pertamaku padamu waktu itu adalah seekor naga yang begitu menakutkan.” Sindir Yugi.
“Jangan mengingatkanku akan kejadian itu, dan juga bukankah perkataanmu terlalu menyakitkan untukku.” Ucap Risa dengan cemberut yang sudah mencapai puncak.
“Aku cuma berusaha untuk jujur...” balas Yugi.
“Tapi kejujuranmu itu sangat menjengkelkan.” Ucap Risa dengan nada kesal.
Tapi tidak lama mereka tertawa bersama seolah semua itu hanya sebuah lelucon belaka. Tidak lama suasana menjadi berubah, langit masih terlihat cerah dengan beberapa awan yang bergerak tertiup angin.
“Risa...”
“Aku tau.”
Sebelum Yugi menyelesaikan perkataannya, Risa dengan cepat memotong perkataan Yugi dengan wajah mereka yang saling bertemu.
“Sudah waktunya ya, tenang saja... sejauh manapun kau pergi. Aku akan selalu bersamamu...” ucap Risa sambil memegang tangan kanan Yugi yang terdapat lambang naga tanda bukti kontrak mereka.
“Begitu ya, tapi aku ingin kau tetap disini dan melindungi kerajaan ini. Jika aku dalam keadaan terdesak aku akan memanggilmu.” Ucap Yugi sambil tersenyum simpul.
“Saya mengerti, master Yugi...” balas Risa dengan senyuman cantiknya.
“Ini...” Yugi menyerahkan sebuah jepit rambut berbentuk salju biru yang begitu cantik.
“Ini?” tanya Risa yang bingung.
“Hadiah dariku untukmu...” Yugi memasangkan jepit rambut itu tepat diatas kepala Risa dengan sedikit miring ke arah kanan. “Terlihat cocok untukmu.”
“Terima kasih... master.”
Saat itu aku melihat senyumannya, senyuman dari seorang raja naga. Benar-benar terlihat menawan... dan terkandung kehangatan yang mendalam, senyuman tulus aku berikan padanya untuk membalas senyumannya yang cantik dan tulus...
__ADS_1
Hari sudah berlalu, senja pun datang menemani Yugi yang tengah berjalan ke sebuah danau. Tempat di belakang istana dekat dengan pegunungan, danau ini merupakan tempat favorit Elna, pernah sekali Yugi dibawa kesini olehnya.
Sore itu, aku melihat pemandangan yang begitu indah didanau itu. Terlihat jelas olehku seorang perempuan bersurai biru tengah duduk menghadap danau. Dengan senyuman diwajahku, aku mendekati perempuan itu...
“Sedang menikmati pemandangan.” Ucap Yugi.
“Kak Yugi...” dengan cepat Elna berbalik dan memeluk Yugi dengan manjanya. “Aku tau kak Yugi pasti datang.”
“Maaf kakak baru datang.” Yugi mengelus rambut Elna dengan pelan sambil sesekali merasakan harumnya bunga yang menguar dari rambutnya. Khas wangi tuan putri, baik Elna maupun Elsa mereka memiliki wangi yang sama.
“Aku maafkan, tapi gendong aku.” Manja Elna layaknya anak kecil yang minta digendong pada ibunya.
“Dasar manja...” Yugi menggendong Elna di punggungnya dengan senyuman hangat.
“Biarin...” Elna memeluk punggung Yugi sambil menyamankan kepalanya.
Yugi mulai berjalan di tepian danau dengan semilir angin yang menyejukkan, senja itu bagaikan cahaya penghangat bagi mereka.
Nyaman, aku ingin terus merasakan ini... aku ingin terus bersama kak Yugi. Aku menyayanginya... bahkan senja pun tersenyum melihat kami. Aku ingin terus merasakan ini untuk selamanya...
Aku tau kalau aku ini tuan putri yang egois, tapi untuk satu ini... biarlah aku egois.
Pelukan Elna semakin erat, jari-jarinya saling mencengkram baju lengannya. Menyalurkan rasa nyaman disana, Yugi yang menyadarinya hanya tersenyum sedih. Didalam hati dia tidak tega memberitahu Elna kalau dia akan pergi. Membayangkan wajahnya yang menangis membuat rasa bersalah dihatinya semakin besar.
‘Aku akan mengatakannya...’ batin Yugi yang sudah siap menerima konsekuensinya. “Elna...”
“Hmmm... ada apa Kak Yugi?” tanya Elna.
Langkah Yugi terhenti, kepalanya dia tundukkan sehingga Elna tidak bisa melihat raut wajahnya yang tertutupi poni rambutnya. Perasaan yang campur aduk membuat Yugi tidak bisa berkata apapun, tapi jika seperti ini dia tidak akan bisa melangkah ke depan. Dengan perasaan yang sudah siap, wajah yang sudah serius itu memandang ke depan.
“Elna... aku akan pergi.”
Suasana tiba-tiba terasa hening, hembusan angin meniup dedaunan melewati mereka. Tidak ada jawaban sama sekali dari Elna. Tapi Yugi bisa merasakan tubuh Elna yang bergetar hebat setelah mendengar perkataan Yugi yang menurutnya sebuah kata yang sangat dia benci.
“Elna...”
“Iya, tidak apa-apa...” jawab Elna dengan suara menahan tangis. “K-kalau itu keputusan kak Yugi... aku akan menerimanya...” suara yang begitu terkandung akan rasa sakit hati yang mendalam. Sebuah kata yang membuat Yugi juga merasakan sakit yang teramat didadanya. Dibanding mendengar suara Elna yang menahan sakit, Yugi lebih memilih dibenci dan dimaki olehnya. Karena menurutnya itu akan sedikit mengurangi bebannya, tapi mendengar nada yang terdengar pasrah itu membuat Yugi menjadi lemah. Baginya kata itu lebih menyakitkan dibanding sebuah senjata.
Elna melompat turun dari punggung Yugi dan membelakanginya. Sebuah senyuman yang bercampur tangis itu ditahan oleh Elna, dia berusaha tegar seperti kakaknya. Bagaimanapun dia sendiri adalah seorang tuan putri. Baginya bertindak egois disaat seperti ini tidaklah benar, jadi dia berpikir lebih baik menghormati keputusan yang dibuat oleh Yugi, walau itu akan menyakiti hatinya.
“Aku tidak apa-apa... jadi kak Yugi tidak usah khawatir.” Tubuh Elna sudah tidak kuat lagi menahan semua ini, rasanya dia ingin berlari dan menangis meninggalkan Yugi. Tapi tubuhnya mengkhianati keinginannya, dia tidak bisa menggerakkan satu kaki pun.
Aku tau ini akan terjadi... aku tau suatu saat kata itu akan meluncur dari kak Yugi... tapi kenapa bisa sesakit ini. Aku sudah tidak bisa berpisah dengannya, aku tidak mau kak Yugi pergi. Kenapa... kenapa... kenapa...
Tangisan diam Elna membuat seluruh hewan yang disana merasakan hal yang sama dengannya. Bahkan pohon-pohon yang menyaksikan itu mulai menggugurkan daunnya dan tertiup angin melewati Elna. Sebuah kisah cinta yang tak terbalas ditambah orang itu akan meninggalkannya sudah cukup membuat hatinya merasakan sebuah tusukan ribuan jarum es yang begitu dingin dan membekukannya.
Kenapa... aku... kenapa... aku... menyakitinya... rasa sakit ini bisa aku rasakan... begitu sakit. Dadaku sesak... kenapa bisa begini... apa aku sudah mulai mencintainya. Aku... brengsek... aku mencintaimu... Elna...
Sebuah air mata menetes melewati Yugi tanpa suara, dia terdiam melihat punggung Elna yang terus saja bergetar. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, tubuhnya hanya diam menatap punggung Elna.
“A-aku sangat senang... w-walau hanya sesaat... aku sangat senang. Bisa merasakan kebahagiaan yang begitu berbeda... waktu yang aku habiskan bersama dengan kakak... sungguh menyenangkan.”
Hentikan... jangan katakan itu, jangan katakan dengan suara yang menyedihkan seperti itu. Kenapa aku baru menyadarinya... kalau Elna lah yang paling tersakiti disini... aku...
Tubuh Yugi mulai tergerak sedikit demi sedikit, dia ingin mendekati Elna dan memeluknya erat. Menyalurkan rasa sayang dihatinya, ingin rasanya dia menghilangkan semua rasa sakit dihati Elna. Tapi apa daya dia hanya bisa berdiri dengan tangan yang terus menggenggam erat, tubuh Yugi bergetar setiap mendengar kalimat yang begitu menyayat hati.
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja...”
Tidak... aku tau kau yang paling tersakiti. Pernyataan cintamu waktu itu merupakan ketulusan hati dari gadis yang sangat polos. Mencintai orang sepertiku... aku harusnya bersyukur bisa dicintai olehmu.
“Makanya... Kak Yugi bisa pergi...” Elna berbalik dengan senyuman rasa sakit ditambah air mata yang begitu menyayat hati siapa pun yang melihatnya.
Cup
Sebuah ciuman yang begitu mendadak dilakukan oleh Yugi tanpa disadari oleh Elna. Tentu saja wajah terkejut Elna begitu terlihat dengan air mata yang masih mengalir. Tapi Elna menikmati ciuman itu, dia memeluk Yugi dengan erat untuk menyalurkan perasannya yang terdalam.
Aku tidak tahan... saat melihat dia tersenyum dengan air mata kesedihan itu. Membuat tubuhku bergerak untuk menenangkannya. Tapi tidak aku sangka tubuhku bergerak untuk memberikannya sebuah ciuman... ciuman ini merupakan balasan dari pernyataan cinta Elna. Akhirnya aku mengerti... aku... sudah jatuh cinta padanya... Elna...
Semua burung terbang untuk merayakan dua hati yang saling terhubung. Dedaunan seputih salju berterbangan diatas mereka, ditambah sinar senja yang menyinari mereka seolah bahagia melihat kedua insan saling mengungkapkan perasaannya. Pepohonan saling bergoyang seperti merayakan kebahagiaan mereka. Walau sebuah jarak memisahkan mereka, tapi hati mereka saling terhubung. Dengan berbagai rintangan yang ada, pernyataan cinta Elna tidaklah sia-sia. Pernyataannya itulah yang membuka hati Yugi dan mulai menerimanya setulus hati.
Senja saat itu merupakan yang paling terindah sepanjang masa. Langit yang begitu mendukung hubungan kami seolah tersenyum dengan perasaan kedua insan yang saling terhubung. Aku mengerti... dia, Elna sudah menaklukkan hatiku sejak pertama kali kami bertemu. Dan sekarang aku baru menyadarinya... aku, memang yang terburuk...
Sejak kejadian itu, Yugi mulai menghabiskan waktu terakhirnya bersama Elna. Mereka juga tidur bersama sampai pagi itu sebuah perpisahan dua hati terjadi. Tapi mereka saling percaya satu sama lain, walau jarak memisahkan tapi kedua hati mereka saling terhubung. Dan itu sudah cukup bagi mereka... karena suatu saat nanti takdir pasti akan mempertemukan mereka kembali.
Awalnya semua itu berjalan lancar, sampai dimana Elna ingin menghentikan kepergianku. Tapi dengan senyuman hangat aku meyakinkannya dan hal itu berhasil... aku pun memberikan sebuah kalung sebagai hadiah perpisahan yang sebelumnya aku lupa memberikannya, rencananya aku akan memberikannya kemarin saat sore itu. Tapi karena terlena akan kebersamaanku dengan Elna, hal itu membuatku lupa. Untungnya aku masih ingat sebelum meninggalkannya... dan sekarang aku sedang terbang menggunakan sayap nagaku meninggalkan kerajaan Northern Esla...
“Aku pasti akan kembali...”
Yugi merentangkan tangan kanannya ke atas istana Northern Esla, disana mereka masih melihat Yugi yang mulai menjauh dari kerajaan.
“Ini bukan salam perpisahan... tapi salam sampai berjumpa kembali.” Dengan senyuman Yugi melesatkan tiga bola es ke atas istana dan saling berbenturan yang menciptakan sebuah ledakan layaknya kembang api berbentuk salju.
‘Ini bukanlah sebuah perpisahan...’ batin Elna dengan senyuman sambil menggenggam kalung dilehernya.
‘Semua ini hanyalah sebuah rintangan yang harus dihadapi...’ batin Elsa sambil memegang gelang ditangan kanannya.
‘Hanya masalah waktu sampai kami bertemu kembali.’ Batin Yuko dengan senyuman manis dan anting yang menggantung cantik di daun telinganya.
‘Master... berjuanglah.’ Batin Risa dengan senyuman hangat, sebuah jepitan rambut terpasang indah dirambut halusnya.
Ledakan dilangit itu begitu indah... mereka melihatnya dengan senyuman hangat yang bercampur dengan perasaan sedih. Perasaan yang saling bercampur aduk itu mulai menghilang layaknya kembang api yang lenyap di langit penuh awan cerah... mereka yakin akan perasaan yang saling terhubung ini. Karena ini merupakan awal dari semuanya...
__ADS_1
Bersambung