
Kompetisi kerajaan di mulai kembali, peserta yang tersisa tinggal sepuluh orang... pertarungan di hari pertama dilakukan oleh Yugi melawan Eduardo. Di detik terakhir Yugi mengeluarkan sihir naganya dan membuat semua orang terkejut, dengan di hebohkannya dua Dragon Slayer dalam kompetisi kali ini, membuat mereka jadi bahan perbincangan yang hangat di kerajaan Eartfil. Kemenangan pun di raih oleh Yugi dan melaju ke babak selanjutnya. Peserta yang tersisa adalah sembilan orang, dan pertarungan kedua pun akan segera dimulai...
Pertarungan kedua antara pangeran dari kerajaan Vouleftis melawan pangeran kerajaan Boltendra. Ya sekarang giliran Rexas melawan Reiga. Pertarungan antara dua pangeran ini akan menjadi sorotan para penonton, hari ini akan jadi sejarah karena kedua pangeran dari kerajaan besar akan bertarung, hal ini akan menjadi ajang kekuatan antar kerajaan yang diwakilkan oleh pangeran mereka. Atmosfer yang begitu berat dari mereka membuat seisi arena menjadi mencekam. Kobaran api dari Rexas membuat arena menjadi panas, sambaran petir dari Reiga menjadikan arena berbahaya untuk di tempati. Kedua kekuatan besar saling mendominasi, dan itu bisa dilihat dari aura yang terus menguar tanpa henti. Padahal pertarungan belum dimulai, tapi arena sudah serasa jadi medan perang bagi mereka.
“Pertarungan kedua, Rexas Vouleftis melawan Reiga Boltendra... DIMULAI.”
Mendengar sinyal dimulainya pertarungan, kedua pangeran itu hanya diam di tempat sambil menatap satu sama lain dengan intens. Untuk para penonton biasa pasti menganggap mereka hanya sedang menatap saja, tapi beda bagi para petualang, bahkan raja pun bisa melihat aura yang sedang mengamuk dan menerjang lawannya satu sama lain. Aura merah membara dan kuning menyambar terlihat sedang beradu di langit. Itu hanya aura tapi sudah membuat ketegangan di dalam arena sampai merembes keluar dari penghalang sihir. Pandangan semua orang berfokus pada dua peserta itu, masih banyak yang bingung kenapa mereka tidak segera bertarung, pertanyaan itu yang sering di ajukan oleh penonton biasa. Tapi para petualang dibikin terdiam oleh aura permusuhan dari dua pangeran itu.
‘Tidak bisa di percaya, aura mengerikan mereka sampai bisa aku rasakan. Insting naga ku berteriak kegirangan, ingin sekali rasanya menerjang kesana.’ Hati Yugi berteriak senang melihat aura yang begitu besar dari dua pangeran itu, mata observasinya melihat kekuatan Mana yang berkobar dari tubuh mereka. Api yang menggila, petir yang mengamuk. Entah siapa yang akan mendominasi dalam pertarungan kali ini. Ini akan menjadi sangat menarik...
“Bagaimana, mau maju duluan?”
Tantang Reiga yang tersenyum girang dengan gigi taringnya yang terlihat menyembul keluar. Badannya bergetar, rasa menggelitik di seluruh tubuhnya saat merasakan tekanan Mana dari lawannya. Dia tidak pernah menyangka akan merasakan perasaan ini lagi setelah sekian lama tidak mendapat lawan yang membuatnya senang. Dari aura saja bisa membuatnya kegirangan, apalagi saat sudah bertarung. Reiga menunggu lawannya merespon perkataannya sebelum menyerang. Itulah rasa hormatnya pada lawan yang menurutnya sepadan.
Rexas tidak langsung membalas perkataan Reiga, dia masih melihat-lihat peluang akan kemenangannya. Dalam pertarungan ini dirinya tidak mau kalah, tidak... sampai dia bisa bertarung dengan Yugi. Dia tidak akan menyerah pada siapa pun, dan akan mengerahkan segalanya demi mencapai tujuannya itu. Setelah berpikir sebentar akhirnya dia pun membalas perkataan Reiga.
“Kuterima tawaranmu.”
Setelah balasan itu, Rexas sudah tidak ada ditempatnya. Dia melesat begitu cepat kearah Reiga yang masih berdiri dengan tegaknya. Sampai beberapa meter sebelum jarak mereka menjadi nol, Rexas melapisi tangan kanannya dengan kobaran api yang begitu panas dan siap melayangkan tinju pertamanya. Reiga yang melihat posisi mereka yang begitu dekat, dengan kedua tangan yang menyilang di tengah dadanya, dia berusaha memblok serangan cepat Rexas.
Brakh
Reiga merasakan sebuah dorongan kuat yang begitu panas sampai dirinya terpaksa mundur dari tempatnya semula sejauh beberapa meter. Dorongan yang kuat itu membuat dirinya kaget sejenak dengan kedua tangannya yang menyilang itu merasakan panas yang menyakitkan. Tidak disangka serangan pembuka dari pangeran Vouleftis itu bisa sekuat ini. Dirinya terlalu naif sampai berpikir bisa menahannya hanya dengan tangan kosong, seharusnya dia melapisi tangannya itu dengan energi sihirnya. Tidak mau berbuat kesalahan yang sama, tanpa basa basi dia menyelimuti kedua tangannya dengan elemen petir yang menyambar.
Melihat lawannya yang sudah mulai serius membuat Yugi tersenyum senang sambil melemaskan kedua tangannya untuk pertarungan yang sebenarnya. “Akhirnya kau mulai serius.”
Mendengar perkataan itu, Reiga sadar akan kesalahannya, sudah cukup baginya untuk bermain-main dengan peserta yang lain, tapi yang ini berbeda, dia tidak boleh kalah disini. “Maaf membuatmu menunggu.”
“Majulah...” balas Rexas.
Bzit
Kilatan kuning yang begitu keras terdengar, menyambar dari tempat Reiga dan disaat bersamaan dia pun menghilang tanpa jejak. Lagi-lagi semua penonton dibuat terkejut, sekarang giliran pangeran Reiga yang menghilang dari tepatnya. Namun mereka tidak menyadari kalau Reiga bergerak begitu cepat sehingga yang mereka lihat hanyalah kilatan kuning saja. Terjangan cepat itu mengarah pada Rexas secara melika liku untuk mencari celah menyerang. Sampai jarak mereka begitu dekat, Reiga mengarahkan tendangan petirnya tepat lurus menuju perut lawannya.
Tapi Rexas bisa mengantisipasi hal tersebut dengan tangan kanan dan kirinya yang di silangkan didepan dada.
Blaaarrrr
Tabrakan dari tendangan kilat dan pertahanan menyilang api milik mereka membuat sebuah ledakan yang cukup kuat sampai tanah di bawah mereka retak. Pijakan Rexas tenggelam sedikit saat mendapat dorongan kuat dari Reiga. Berselang beberapa detik Rexas mendorong kaki Reiga yang menendang dirinya dengan kedua tangan yang sebelumnya menyilang. Reiga yang terdorong terpaksa ke belakang dan memangkas jarak dari Rexas sebelum melancarkan serangan lanjutan. Tapi tanpa disangkanya, Rexas terlebih dulu menyerang dengan kaki kanan terselimuti api.
Dakh
Sebuah tendangan voli yang mengarah langsung ke bagian kepala itu masih bisa ditahan oleh tangan kiri Reiga yang terselimuti petir, dua elemen itu saling mendominasi dan memperkuat serangan maupun pertahanan masing-masing. Rexas yang tahu kalau serangannya gagal langsung melompat mundur menjaga jarak kembali.
“Hahahahaha...”
Reiga tertawa, kenapa dia tertawa, ada yang lucu kah... Rexas masih waspada, walau begitu dirinya hanya menatap datar kearah Reiga. Tapi karena penasaran tentang hal yang dia ketawai, Rexas pun bertanya.
“Memang ada yang lucu?”
Pertanyaan datar itu di jawab dengan senyuman atau lebih tepatnya menyeringai.
“Ya, sudah lama sekali rasanya tidak merasakan pertarungan yang menegangkan seperti ini. Darahku mendadak mendidih dengan drastisnya, perasaan senang ini. Apa kau tidak merasakannya...”
Mendengar balasan yang tidak terduga membuat Rexas berpikir kembali, namun dia pun ikut tersenyum senang. Entah kenapa perasaan yang dirasakan oleh lawannya ini bisa dia rasakan.
“Mungkin kau benar. Tapi... aku tidak berniat bermain-main disini.”
Kobaran di sekitarnya bertambah membara mengikuti emosi tuannya, tidak jauh beda dengan Reiga dimana petirnya menari di sekitar tubuhnya.
“Tentu saja...”
Keduanya melesat satu sama lain dan beradu tinju dan tendangan yang begitu hebat. Terlihat kobaran api dan petir yang terus saja saling beradu satu sama lain. Tinju api di adu dengan tinju petir mengakibatkan ledakan setiap mereka bertemu, tidak lupa juga mereka beradu tendangan dan saling mendominasi untuk melihat siapa yang paling kuat.
Duar duar duar duar duar
Para penonton hanya terdiam dengan mata yang terus mengikuti kilatan merah dan kuning. Kecepatan dari Rexas maupun Reiga membuat lintasan seperti garis sehingga penonton tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Saking cepatnya yang terlihat hanya garis merah dan kuning yang beradu dan mengakibatkan ledakan besar.
‘Hebat, aku tidak menyangka dia akan bertarung seserius ini. Dan kekuatan itu, apa-apaan dengan kekuatan yang begitu kuat itu. Kecepatannya melebihi yang dulu... Rexas, sekeras apa latihanmu.’ Yugi hanya bisa takjub dalam hatinya karena melihat perkembangan dari lawannya yang dulu pernah dia hadapi.
__ADS_1
“Seperti yang diharapkan dari pangeran Rexas Vouleftis. Sekian lama berlatih secara isolasi membuatnya bisa sekuat ini. Aku menjadi semakin bersemangat.” Terlihat kobaran semangat Maruya yang meluap-luap saat melihat pertarungan yang begitu sengit didepannya.
Sementara dengan Vira, dia merasa bingung akan pertarungan yang begitu cepat itu, matanya tidak bisa mengikuti gerakan dari kedua peserta yang bertarung tersebut. “Hebat...” hanya satu kata itu saja yang keluar dari mulutnya. Memang benar, dari sekian banyak pertarungan, hanya ini saja yang membuat semua penonton tercengang karena kehebatan dua pangeran ini.
Menanggapi komentar dari teman seumurannya, Maria angkat bicara sambil melihat pertarungan didepannya. “Kekuatan api dan petir, sama halnya dua elemen yang hampir memiliki karakteristik yang sama.”
“Karakteristik yang sama?” tanya Vira dengan wajah bingungnya menatap kearah Maria.
“Ya... api bisa membakar, dan petir yang menyambar. Setidaknya dua elemen ini bisa mengakibatkan api menyala. Oleh karenanya karakteristik petir hampir sama dengan api.” Jawab Maria, namun penjelasan itu hanya sedikit dari keseluruhan mengenai elemen alam.
‘Memang benar, kedua elemen ini pada dasarnya kekuatan yang memiliki unsur yang hampir mirip. Dan bisa mengakibatkan kebakaran, namun...’ perkataan batin Yugi terhenti saat melihat pertarungan yang mulai berat sebelah. Ya, Rexas mulai terdorong oleh kekuatan milik Reiga.
Duar
Dua tinju beradu di tengah arena dan saling mendorong satu sama lain. Kobaran api Rexas yang menyelimuti tubuhnya dan sambaran petir Reiga yang juga menyelimuti tubuh, saling mendominasi sampai keseluruhan arena mendapat dampak dari ledakan energi tersebut. Namun dominasi itu dimenangkan oleh Reiga yang dengan kekuatan besarnya mulai mendorong mundur Rexas. Dan dengan sekali hempasan, tinju itu pun di dorong kuat oleh Reiga sehingga kekuatan tinju Rexas menjadi lemah dan membuatnya terpental sangat jauh ke belakang.
Syuuuutttt
Didetik-detik terpentalnya Rexas, dia melihat lawannya yang didepan dengan wajah keras. Dengan tangan kanannya, dia hentakan ketanah dibantu kakinya untuk menghentikan dorongan gelombang kekuatan Reiga, terlihat jejak lintasan daratnya yang cukup panjang dari jaraknya terpental. Nafasnya terdengar berat dengan keringat yang bercucuran dari wajahnya.
Tidak jauh beda dengan Reiga, dia juga terlihat kelelahan dengan wajah yang penuh akan peluh keringat sampai kedua tangannya pun berkeringat. Jubah kebanggaan kedua pangeran berkibar dengan gagahnya, walau terjadi baku hantam yang sangat hebat mereka masih bisa berdiri dengan tegak. Harga diri sebagai pangeran sangat mereka junjung dalam pertarungan ini, bahkan pangeran Reiga yang selalu berisik mulai terlihat tenang dalam menghadapi pertarungan ini. Wajah serius selalu dia tampakkan, tingkah konyolnya sudah tidak ada, yang ada di pikirannya sekarang adalah cara mengalahkan Rexas.
‘Elemen petir lebih kuat.’ Lanjutnya dalam hati, Yugi yang sedari tadi mengamati jalannya pertarungan didepan dirinya, terus menganalisa keadaan. Memang benar kedua elemen ini memiliki akibat yang sama, tapi dalam peringkatnya, elemen petir lebih unggul dari pada api. ‘Memang benar petir lebih kuat dari api, tapi dalam pertarungan ini... yang akan dilihat adalah siapa diantara mereka yang memiliki keyakinan yang lebih tinggi. Yakin akan dirinya, yakin akan kekuatannya... dan yakin akan tekadnya.’
Rexas berdiri dengan wajah datarnya yang terkesan lelah akan pertarungan yang seimbang ini. Dia pun berjalan santai tapi tetap terlihat wibawa sebagai pangeran. Reiga yang melihat itu bingung dengan tingkah pangeran didepannya. Namun kebingungannya mendapat sebuah jawaban saat Rexas berkata. “Pertarungan dengan mempertaruhkan harga diri sebagai seorang pangeran, jangan bercanda.” Jubah kebanggaan pangerannya di lepas dan dibiarkan terhempas angin yang kencang di sekitarnya. “Aku akan bertarung untuk diriku sendiri, karena ini adalah tekad apiku.” Kobaran api menyala hebat setelah Rexas mengutarakan akan perasaannya, pertarungan yang diyakininya sekarang sudah mulai berkobar hebat.
Merespon akan perasaan lawannya, Reiga pun ikut melepas jubah kebanggaannya dan di hempaskan ke samping kanannya. Sambaran petirnya pun ikut membesar di tambah daya rusak yang lebih kuat dari sebelumnya. Dia tersenyum senang, dalam pertarungan ini dia sangat bersemangat karena mendapat lawan yang memiliki semangat yang lebih besar dari lawan-lawannya sebelumnya. Rexas telah berhasil memancing emosi semangat Reiga sampai titik dimana dia akan mengerahkan kekuatannya disini. “Aku akan membalas setiap tekad milikmu, karena aku juga memiliki tekad dan keyakinanku sendiri.”
Yugi berkeringat dingin melihat kesungguhan dalam pertarungan didepannya. Bahkan menurutnya ini sudah dilevel yang berbeda. ‘Apa mereka mau menghancurkan colosseum ini.’
Yui yang sedari tadi diam mulai angkat bicara pada Yugi. [“Yugi, aku ingin mengatakan sesuatu mengenai pangeran Reiga.”]
Mendengar telepati dari Yui membuat Yugi bertanya-tanya. ‘Apa maksud dari perkataanmu itu Yui, ada apa dengan pangeran Reiga?’
[“Pangeran itu masih menyembunyikan kekuatan aslinya, sekarang ini hanyalah setengah dari keseluruhan kekuatan yang dia miliki, seolah ada sesuatu yang menghalangi kekuatannya keluar.”] Jelas Yui.
‘Tidak, bukan itu.’ Perkataan Yugi membuat Yui bingung.
‘Kekuatannya bukan di halangi, namun disegel. Sepertinya ada sesuatu yang berada di dalam dirinya, yang menyimpan kekuatan itu di tempat yang terpisah.’ Yugi melihat tubuh Reiga dengan mata sihir observasinya yang sudah aktif. Dari sana dia melihat aliran Mana Reiga yang begitu besar namun tersimpan dalam tempat yang berbeda, tempat itulah yang tidak bisa dia lihat. ‘Dengan begitu tidak ada orang yang bisa menyadari hal tersebut.’
[“Disegel, sepertinya pangeran itu tidak berniat bertarung dengan seluruh kekuatannya.”]
‘Tidak... mungkin ada alasan yang lain di balik semua itu.’
Telepati keduanya berhenti saat tidak ada yang bisa di bicarakan lagi karena fokus pada pertarungan dua pangeran didepan mereka.
Kembali kepada dua pangeran, mereka masih dalam mode siaga dan memikirkan cara mengalahkan lawannya. Tidak berselang lama, Reiga bergerak dengan kecepatan kilatnya menuju Rexas berada. Sebuah sihir berbasis petir ditangan kanannya langsung di layangkan kearah perut Rexas. Melihat serangan itu tidak membuat Rexas diam, dengan pertahanan sihir merahnya serangan petir itu bisa ditahan sebelum mengenai tubuhnya. Keduanya saling menyeringai sampai Rexas membuat lingkaran sihir lagi dibalik pertahanannya.
“Fire Ball.”
Bola api menyerang Reiga yang masih meninju pertahanan sihir milik Rexas, serangan tersebut mengenai tepat di perutnya dan membuat dirinya terpaksa mundur beberapa langkah. Tidak berhenti disana, Rexas kembali menyerang dengan kaki kiri diselimuti api. Dia melompat kearah Reiga kemudian berguling di udara dan menghantamkan tumitnya yang diselimuti api itu tepat ke kepala Reiga. Namun serangan itu meleset saat Reiga melompat mundur untuk menghindarinya, tapi serangan api itu tidak berhenti, kobarannya terus menyambar ke depan menuju Reiga. Melihat serangan itu masih berlanjut membuat Reiga mengaktifkan pertahanan sihirnya untuk menahan api tersebut.
“Teknik yang bagus pangeran Rexas.” Puji Reiga.
“Ini belum seberapa.” Sebuah lingkaran sihir kecil terbentuk didepan badannya, Rexas memasukkan tangan kanannya dan menarik keluar sebuah pedang merah yang sarungnya terbakar api.
Para penonton melihat lekat pedang itu yang terlihat berbeda dari semua pedang yang mereka lihat. Yugi sendiri tidak terlalu terkejut, karena dirinya pernah melihat dan menghadapi pedang yang panasnya minta ampun itu. Pedang yang disemayami oleh makhluk legenda yang sangat di hormati bahkan oleh dewa naga. Yui pernah berkata padanya kalau makhluk yang ada didalam pedang itu merupakan salah satu dari 5 legenda. Yugi juga terkejut saat mengetahui hal tersebut, dikatakan kekuatannya melebihi raja naga.
‘Aku tidak menyangka dia akan menggunakannya sekarang.’ Pikir Yugi, dia mungkin tidak menyangka akan jalan pikiran Rexas. Tapi dia tahu kalau rivalnya itu akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghadapi pangeran Reiga.
Berbeda dengan ekspresi kebanyakan orang, Reiga melihat datar pedang yang dikeluarkan oleh Rexas seolah tidak mempedulikannya. Mungkin karena dia belum tahu akan kekuatan pedang itu sendiri, atau tidak menyadari kalau didalam pedang itu tersembunyi kekuatan legenda.
Rexas yang sudah bersiap dengan pedangnya mulai menarik bilah itu dari sarungnya. Kobaran yang menyelimuti pedang tersebut semakin menggila saat bilahnya mulai ditarik sedikit. Kekuatan yang tertahan oleh sarung pedangnya mulai menguar ke seluruh arena, dan saat padang itu di tarik sempurna, api merah kekuningan mulai membakar bilahnya seolah menyelimuti mata tajam pedangnya.
“Akan kugunakan, buka tahap pertama.” Mengatakannya dengan pelan tanpa didengar oleh siapa pun, namun pedang yang di tangannya mengeluarkan energi sihir merah menyelimuti tuannya seolah mendengar permintaannya. Terlihat aura merah menyelubungi seluruh badannya dengan tenang, di barengi dengan api yang padam dari pedangnya. Rexas menatap tajam Reiga dari balik aura yang menyelimuti tubuhnya. Mata jingganya berubah menjadi kuning dengan pupil hitam vertikal. Perubahan yang cukup drastis terlihat dari tubuhnya, seolah Rexas berbeda dengan dirinya yang sebelumnya.
Melihat perubahan itu Reiga menjadi tambah waspada, bukan hanya perubahannya saja yang membuatnya siaga, tapi kekuatan yang tiba-tiba meluap drastis itu membuatnya menjadi sangat serius.
“Aigeto...” suara pelan Rexas hanya bisa didengar olehnya saja, bahkan Reiga sendiri tidak tahu apa yang dikatakannya, namun satu kata itu seolah membuka kekuatan aneh didalam dirinya.
__ADS_1
Melihat Rexas hanya diam saja seolah tidak ada niatan untuk menyerang, dengan inisiatif, Reiga menerjang duluan dengan petir yang sudah menyelimuti seluruh tubuhnya. “Akan kuakhiri pertarungan ini...” petir yang sebelumnya menyelimuti tubuh mulai terkumpul dalam satu titik, dan itu semua berada di tinju tangan kanannya. Sebuah energi besar yang terkonsentrasi ada di tangan kanan Reiga.
Rexas tidak gentar sama sekali, pedangnya dia posisikan di samping kanan dengan tubuh sedikit membungkuk. Kaki kiri di belakang dan kanan berada di depan sebagai tolakan. Saat Reiga sudah hampir tepat didepannya, dengan sekali dorongan dia melesat kearah Reiga.
Keduanya sudah saling melesat satu sama lain dan mulai memotong jarak sampai beberapa detik sebelum terjadi benturan mereka menyebutkan nama jurusnya.
“Destructive Lightning...” teriak Reiga sambil meninju dengan tangan kanan berlapis petir dahsyat yang berkibar liar di sekitarnya.
“Wing Flame Cutters.” Gumam Rexas sambil menebas cepat kearah Reiga.
Beberapa detik kedua serangan itu akan saling bertemu, waktu serasa lambat namun serangan itu terlihat sangat kuat. Sampai detik terakhir dimana kedua serangan itu akan bertemu. Semua berjalan dengan sangat cepat...
Sring
Keduanya membelakangi satu sama lain, tidak ada yang bergerak, Rexas yang sudah berhasil menebas dengan pedang apinya, begitu pula Reiga yang meninju dengan sambaran petirnya. Namun dampaknya belum terjadi, sampai beberapa detik daun yang tertiup angin yang berada di tengah diantara mereka jatuh ketanah, saat itu pula ledakan besar terjadi.
Duuuuuuuaaaaaarrrrrrrr
Ledakan itu berasal dari tempat Reiga berdiri, sebuah ledakan berbasis api yang begitu kuat sampai menghempaskan debu yang menghalangi pandangan, dengan begitu pangeran bersurai kuning itu tidak bisa dipastikan kalah atau menang. Sementara Rexas hanya diam saja di tempatnya sambil menyarungkan pedangnya dengan tenang. Seolah serangan berbasis petir milik Reiga tidak berpengaruh padanya, karena penasaran akan lawannya, dia pun berbalik dan melihat keadaan Reiga.
“A-apa yang terjadi?” Bahkan wasit sekali pun tidak dapat mencerna akan kejadian didepannya.
Padahal tadi kedua peserta ini hanya saling bertukar serangan, namun sebuah ledakan besar terjadi di tempat pangeran Reiga berada. Sekarang mereka tidak tahu seperti apa keadaannya, sampai angin mulai berhembus dan sedikit demi sedikit menghilangkan debu dari tempat Reiga. Semua orang menebak-nebak apa yang terjadi pada pangeran Reiga. Saat debu sudah mulai menghilang, disana sesosok manusia berdiri dengan sedikit membungkuk kesakitan. Pakaiannya juga terbakar di beberapa tempat dan nampak gosong. Serangan kuat dari Rexas sepertinya berhasil melukai Reiga. Dengan sisa tenaganya, Reiga mulai berdiri dengan sedikit sempoyongan, tangan kanannya terdapat bekas luka bakar. Sepertinya tangan itu telah beradu kontak dengan pedang api milik Rexas.
Raja yang melihat pertarungan itu lagi-lagi dibuat terkejut, pasalnya dia baru mengingat tentang pedang yang ada di pangeran Vouleftis itu. Pedang itu dulunya dimiliki oleh raja Vouleftis yang sekarang, namun pangeran Rexas memegang pedang tersebut. Dapat dia asumsikan kalau pedangnya sudah diwariskan pada anaknya. ‘Sepertinya setiap orang tua mewariskan senjata pada anaknya.’ Batin raja Eartfil saat mengingat kembali tentang pedang yang dimiliki oleh peserta lain yang sebelumnya bertarung di babak kedua.
“Kau memang kuat Rexas.” Kata Reiga, walau dalam kalimatnya tersebut terdengar lemah, namun dia masih berusaha berdiri dengan tegak.
“Kau juga Reiga. Tapi pertarungan ini masih belum selesai, ayo kita mulai kembali.” Tangan kanannya sudah siap mengambil pedang yang sebelumnya sudah dia sarungkan di pinggang kirinya.
Namun tanpa disangka, pernyataan Rexas malah bertolak belakang dengan perkataan Reiga ini. “Aku sudah kalah, sampai disini saja pertarungan ini.” Kalimat itu membuat semua penonton kaget, mereka terheran kenapa pangeran Reiga mengaku kalah.
Begitu pula dengan Rexas yang tidak menyangka kalau Reiga akan menyerah padanya. “Apa maksudmu?”
Pertanyaan itu di jawab oleh Reiga, namun dia mengeluarkan jawaban yang membuat Rexas tambah bingung. “Aku menyerah, hanya itu... aku sudah tidak memiliki kekuatan yang tersisa. Ini adalah kemenanganmu pangeran Rexas.” Setelah mengatakan hal tersebut, dia pun mulai berbalik dan berjalan menjauh dari Rexas.
Wasit yang semulanya bingung akan kejadian didepannya ini, langsung saja mengumumkan pemenangnya. “Pemenang dalam pertarungan kedua, dimenangkan oleh Rexas Vouleftis.”
Sorakan penonton memenuhi colosseum, sebuah kemenangan telak untuk Rexas. Namun orang yang memenangkan pertarungan ini hanya diam saja di dalam arena, matanya menatap punggung Reiga yang mulai menjauh dari arena, dia tidak bisa menebak akan pikiran pangeran itu, namun dirinya sendiri tahu kalau Reiga masih memiliki kekuatan didalam tubuhnya. Tapi entah mengapa dia malah berhenti bertarung dan pergi begitu saja.
Kesal? Tentu saja kesal, dalam pertarungan ini dirinya malah menang hanya dengan begini saja. Tanpa ada perlawanan balik dari Reiga, seolah dia tidak di anggap. Marah? Ya dia sangat marah, mata datar jingga dengan pupil hitam vertikalnya menatap marah kearah Reiga yang meninggalkan pertarungan ini begitu saja tanpa alasan yang jelas. Bingung? Jawaban yang ambigu itu tidak bisa di terima oleh Rexas, padahal jelas kalau Reiga masih memiliki kekuatan didalam tubuhnya, tapi dia tidak mau mengeluarkannya. Untuk mendapatkan jawaban yang jelas, Rexas mengejar Reiga untuk mendapatkan penjelasan yang lebih logis. Saat berada didalam lorong, dirinya berhasil mengejar Reiga dan menghentikan langkah kakinya dengan mencegatnya dari depan. Matanya kembali seperti semula menjadi jingga api, mata itu menatap datar namun didalamnya mengandung begitu banyak emosi yang tercampur.
Sementara yang ditatap hanya balik menatap seolah dirinya tidak bersalah. Sebuah keheningan beberapa detik tercipta, namun Reiga langsung mengajukan pertanyaan karena tidak mau berlama-lama disini. “Ada apa?”
“Jawabanmu tidak bisa kuterima, kekuatan yang ada dalam tubuhmu bisa aku rasakan. Tapi kenapa kau menyerah begitu saja. Apa kau meremehkanku?” sebuah pertanyaan yang sederhana namun mengandung arti yang dalam, dan jawaban dari pangeran Boltendra mungkin bisa saja merubah situasi sekarang ini. Itu tergantung dari lawan bicaranya.
Pertanyaan Rexas tidak membuat Reiga bergeming, namun dirinya harus menjawab pertanyaan itu atau akan terjadi hal yang merepotkan. “Aku memang memilikinya...” jujur Reiga. “Namun... aku tidak bisa mengeluarkannya.”
“Kenapa?” Rexas tidak mau langsung mengambil kesimpulan, dia mau mendengar alasan lainnya yang akan di ucapkan oleh Reiga.
“Itu adalah rahasiaku, tapi aku bisa berkata. Kalau seranganmu yang terakhir tepat mengenai tubuhku, serangan yang begitu kuat seolah membakar tubuhku dari dalam. Untungnya aku masih sempat menyelimuti diriku dengan pelindung, jika tidak maka aku akan sekarat, atau lebih buruknya... mati.” Jelas Reiga, namun perkataannya masih belum selesai. “Aku tidak meremehkanmu atau apapun, aku menghargai setiap lawanku. Tapi aku memiliki rahasiaku sendiri, dan ini adalah sesuatu yang tidak bisa kukatakan.”
Mendengar penjelasan yang mungkin saja bisa Rexas terima, akhirnya dia berhenti bertanya dan mengambil penjelasan itu sebagai jawabannya. “Baiklah aku mengerti, tapi lain kali aku ingin bertarung lagi denganmu. Dengan seluruh kekuatan yang kau miliki.” Tegas Rexas.
Reiga sendiri hanya membalas perkataan itu dengan senyumannya. Namun dia pun menerima tantangan itu. “Ya... lain kali mari bertarung dengan seluruh kekuatan yang kita miliki.”
Rexas mengulurkan tangan ke depan, begitu pula Reiga. Mereka pun mulai bersalaman sebagai tanda perdamaian setelah melalui pertarungan yang begitu sengit tadi. Setelah itu, tanpa sepatah kata, mereka berjalan berlawanan arah. Reiga yang berjalan keluar colosseum, sementara Reiga yang berjalan menuju bangku penonton.
Seandainya aku diperbolehkan menggunakan seluruh kekuatanku. Maka kita pasti akan menikmati pertarungan yang begitu mendebarkan. Tapi itu tidak bisa kulakukan, bahkan karena inilah aku bisa mengikuti kompetisi kerajaan Eartfil...
Reiga mengingat pesan dari orang tuanya sebelum dia sendiri mengikuti kompetisi kerajaan Eartfil, disebuah kamar yang dimiliki oleh pangeran Reiga, disana lah ayahnya dan dirinya berbicara empat mata sebelum Reiga berangkat menuju Eartfil.
“Kau boleh mengikuti kompetisi kerajaan Eartfil, dengan satu syarat... jangan kau gunakan kekuatan itu saat kompetisi berlangsung, apapun alasannya.”
Hanya pesan itu yang disampaikan oleh ayahnya, dia pun hanya mampu menurutinya dan berjanji tidak akan menggunakan kekuatan itu saat berada dalam kompetisi kerajaan Eartfil. Setelah itu Reiga berangkat dari kerajaannya dan mengikuti kompetisi kerajaan ini, namun tanpa di sangka dia akan kalah di babak ketiga ini. Ternyata tanpa menggunakan kekuatan itu, dia tidak berdaya menghadapi pangeran Rexas. Tapi dia tidak menyesali hal tersebut, karena dirinya sudah cukup puas walau hanya sampai disini. Pikirannya mengenai kompetisi mulai di hilangkannya, dia sekarang mau berjalan-jalan untuk menikmati jajanan lokal kerajaan ini. Selagi disini, dia tidak mau hanya berpikir tentang pertarungan, sekali-kali menikmati hiburan disini untuk menghilangkan stres patut di coba.
Pertarungan kerajaan masih akan berlanjut, kompetisi semakin memanas, teriak matahari pun mulai terasa panas, tanpa terasa hari sudah mulai menjelang siang... pertarungan apa lagi yang akan di suguhkan oleh para peserta kompetisi kerajaan...
Hal itu sangat di nantikan oleh semua penonton...
__ADS_1
Bersambung