KAISAR ES

KAISAR ES
PEDANG ARASHI


__ADS_3

Semua orang dibuat tercengang oleh Yugi yang mengeluarkan pedang yang tidak biasa. Itu bukan pedang legenda, tapi sebuah pedang hitam yang memiliki corak seperti pedang iblis. Setiap bilahnya berwarna hitam, begitu pula gagang pedangnya, sampai sarung pedangnya sendiri berwarna hitam. Sebuah tekanan kuat menguar dari pedang itu, mengundang kekuatan jahat untuk berkumpul. Sang ahli pedang dibuat gemetar, orang yang memiliki pedang yang didiami oleh iblis Pheonex juga ikut terdiam dengan keringat di wajahnya. Mereka menahan nafas saat melihat pedang itu, Raja pun terfokus pada pedang hitam yang digenggam oleh Yugi.


Lawannya yang melihat Yugi mengeluarkan pedang tidak merasa takut, dia malah tersenyum senang karena dengan begitu Yugi berarti mengakuinya sebagai lawan yang kuat.


“Mari kita mulai...” dengan instruksi kalimat itu, Yugi mengangkat pedangnya ke atas kemudian melakukan tebasan ringan yang meluncur lurus kedepan dimana lawannya berada.


Dari tebasan itu seketika muncul angin yang melengkung dan memotong lurus kedepan layaknya gelombang angin berbentuk bulan sabit. Maruya yang melihat serangan dari Yugi langsung bereaksi, dia dengan cepat menghindari serangan itu dengan melompat kearah kanannya. Disaat bersamaan serangan itu terus meluncur kearah tembok dan meledakkan tembok itu dalam bentuk potongan lurus yang sangat rapih.


Duuuaaaarrrrr


Semua orang melihat kearah ledakan terjadi, terlihat jelas oleh mata mereka sebuah jejak sayatan dari gelombang tadi menghantam tembok. Dan potongan di tembok itu sangat rapih seolah serangan tadi merupakan kekuatan penuh dari sang pengguna pedang. Sementara dengan Yugi, dia tidak terlalu terkejut, karena dia sendiri tahu seperti apa kekuatan pedang hitamnya ini.


“Kuat sekali...” gumam Maruya. Dia menatap tajam Yugi, lebih tepatnya pedang yang dipegang oleh lawannya itu. Dengan mata naga itu, Maruya bisa melihat aura hitam yang menyelimuti pedang yang digenggam oleh Yugi. Seolah pedang itu memiliki kehidupan didalamnya.


“Apa kau akan diam saja?” Yugi memposisikan pedangnya disamping kanan dengan santainya. Dia sangat yakin akan kemampuannya sekarang, jika dia sudah menggenggam pedang maka lawannya akan kesulitan untuk mengalahkannya. Atau mungkin Yugi akan memenangkan pertarungan ini dengan cepat. Tapi seharusnya dia tidak sepercaya diri seperti itu.


“Menarik... mari kita mulai lagi.” Maruya memasang kuda-kuda tengah, melihat posisi ini membuat Yugi teringat akan jurus yang pernah digunakan oleh Maruya saat melawan peserta dari kerajaan Kurosido.


“Mungkinkah dia...” sepertinya tebakan Yugi benar, sebuah kobaran api menyelimuti Maruya. “Tidak salah lagi, Rage of Fire.”


“Rage of Fire.” Teriak Maruya dan seketika ledakan api membuat hawa panas di sekitarnya membakar apapun.


Yugi dengan cepat menjaga jarak aman, dia merasakan hawa panas di sekitar tubuh Maruya. Sialnya hawa panas ini lebih dahsyat dari pada saat melawan Rugia, apa mungkin Maruya menggunakan seluruh energi sihirnya pada teknik ini.


“Aku mulai...” Maruya melesat cepat kearah Yugi, dengan kecepatan itu membuat tanah yang dibawahnya tiba-tiba terbakar dan membuat sebuah lintasan yang melaju kearah tempat Yugi berada.


Kecepatan yang tidak masuk akal itu belum sempat Yugi prediksi, dengan pedangnya dia posisikan didepan, berusaha memblok serangan dadakan Maruya.


Duuuuuaaaarrrrrr


Maruya menerjang Yugi dengan tinju berlapis apinya sampai dia mendorongnya menabrak tembok. Karena tubuhnya yang dilapisi zirah api yang begitu kokoh, membuatnya bisa bertahan dari goresan pedang Yugi. Dengan begitu serangannya pun bisa dia lancarkan tanpa rasa takut sedikit pun pada pedang hitam itu. Lalu bagaimana dengan Yugi, setelah menerima serangan berbasis tenaga api itu sudah dipastikan kalau dia mendapat dampak yang cukup parah. Sampai dorongannya sekuat itu, tapi tidak lama sebuah pedang teracung kedepan dan keluar dari reruntuhan tembok yang jatuh itu, Maruya yang tidak jauh dari tempat meluncurnya Yugi melihat hal itu dengan waspada. Dan disaat itu juga Yugi telah keluar dari reruntuhan yang menutupinya. Pakaiannya terlihat kotor oleh debu tembok, tidak memperdulikan hal itu, Yugi mengangkat pedangnya ke atas dan dirinya menatap Maruya dengan senyuman senang.


“Aku semakin bersemangat.”


“Itu adalah kalimatku, jangan menirunya.” Balas Maruya, dia juga ikut tersenyum. Arti dari senyuman itu menandakan kalau pertarungan akan semakin serius.


Disaat yang sama, di bangku penonton, wanita dengan rambut merah panjang terurai, mata hitamnya menatap khawatir pada pemuda rambut putih salju yang tengah bertarung itu, dia merasa takut kalau terjadi sesuatu padanya. Tapi kenapa dia merasakan hal itu, apa benar pemuda itu adalah orang yang selama ini dia tunggu.


“Yugi... berjuanglah.” Hanya kata itulah yang mampu dia ucapkan untuk menyemangati orang yang berarti dalam hidupnya, dan juga untuk meyakinkan dirinya agar tidak khawatir.


Di tengah pertarungan itu, mereka menjeda waktu serangan beberapa saat. Yugi menatap Maruya dengan pedang terangkat ke atas, sudut bibirnya melengkung, dia tersenyum. Tidak lama sebuah kalimat terucap oleh mulutnya.


“Hey Maruya... aku ingin meniru jurusmu itu. Aku harap kau tidak marah.”


Perkataan dari Yugi membuat Maruya sedikit bingung, tapi kebingungan itu mulai terjawab saat sebuah badai salju berputar di sekeliling Yugi. Pedangnya pun ikut terselimuti oleh badai salju itu, tidak lama aura es mulai menguar dari tubuhnya, prosesnya sama seperti saat Maruya mengeluarkan teknik kemarahannya. Hanya saja milik Yugi merupakan kebalikan dari itu, ini bukan amarah yang membara, tapi kemarahan dingin. Apa maksud dari itu? Kenapa kemarahan dingin? Yugi baru mempelajari teknik dari Maruya yaitu Rage of Fire, teknik itu sendiri berasal dari emosi sang pengguna, jika api dilambangkan dengan kemarahan yang membara dengan meluapkan emosi nya sampai titik tertinggi. Maka Yugi kebalikan dari itu, dimana es merupakan lambang dari ketenangan dan tanpa emosi, tapi es sendiri memiliki kemarahan, namun kemarahannya itu tidak dia luapkan, melainkan di pendam kemudian mengeluarkan kemarahannya melalui jiwa, seketika itu Yugi meluapkan semua kemarahannya tanpa menunjukkan melalui mimik wajah. Tapi dia melambangkannya melalui wajah tanpa emosi. Ini lah teknik yang ditiru oleh Yugi dan menggunakan versi miliknya sendiri.

__ADS_1


“Aku menamai ini... Rage of Ice.”


Duuuuuuuuuaaaarrrrr


Ceeeeeesssssss


Ledakan besar dari tempat Yugi mengakibatkan es yang membeku di sekitarnya. Inilah kekuatan yang meniru dari teknik Maruya, dimana tubuh Yugi diselimuti aura es yang sangat dingin, bahkan areanya sendiri sudah membeku sejauh mata memandang, tapi disaat mendekati Maruya, es itu mulai mencair. Bagai memperlihatkan batas wilayah diantara keduanya, ditempat Maruya yang gersang dan panas sementara Yugi dengan padang es yang dingin dan membeku. Pedang yang digenggam oleh Yugi diperlihatkan putaran angin yang menyatu dengan es yang memperlihatkan badai es yang memutari pedang tersebut.


Semua orang tercengang, ada lagi satu orang yang memiliki teknik yang menakjubkan. Walau mereka sendiri tidak banyak yang tahu kalau teknik itu merupakan hasil tiruan dari lawannya. Hanya beberapa dari mereka yang mengetahuinya, seperti anggota kerajaan, para peserta dan beberapa orang kuat lainnya. Lalu untuk Maruya, dia merasa sangat familiar dengan teknik itu, dan sesaat dia memikirkan perkataan Yugi sebelumnya.


“K-kau meniru teknik milikku.” Teriak Maruya.


“Harusnya kau sadar dari tadi, ya sudahlah... otakmu memang sedikit lambat dibanding adikmu.” Balas Yugi.


“Kheh... hahahahaha...” Maruya tertawa terbahak-bahak entah apa yang lucu disana.


Yugi sendiri bingung kenapa Maruya tertawa seperti itu. “Ada yang lucu?” tanya Yugi.


“Tidak... aku hanya merasa senang, ternyata ada juga orang yang bisa meniru teknikku ini. Ya tidak salah juga sih, sesama Dragon Slayer pasti bisa menirunya. Bukan begitu Yugi...”


Setelah perkataan itu, Maruya langsung melesat kearah Yugi dengan kecepatan tinggi, sebelumnya Yugi tidak bisa memprediksi kecepatan ini, tapi di mode nya yang sekarang, dia bisa melihat gerakan Maruya dengan sangat jelas. Ditambah mata observasi nya yang sudah aktif, mempermudah dirinya saat melihat lesatan Maruya kearahnya.


Duuuuuuuaaaaarrrrrr


Ledakan terjadi disaat Maruya menghantamkan tinjunya kearah Yugi, namun hal itu dapat ditahan oleh Yugi dengan menempatkan pedangnya kearah depan dan menjadikannya tameng.


Maruya pun membalasnya dengan sinis. “Ini masih belum apa-apa...”


“Harusnya aku yang berkata seperti itu.” Dengan kuat, Yugi menebaskan pedang itu dan membuat Maruya terpukul mundur beberapa meter. “Sekarang giliranku... Mode Rage of Ice: Ice Storm Sword.”


Badai es besar menerjang kearah Maruya, dengan serangan area yang sangat luas itu membuat Maruya tidak dapat menghindarinya. Bagai badai yang menghancurkan apapun di sekitarnya, angin yang diselimuti es itu terlihat sangat mematikan. Pertahanan api milik Maruya, apa mungkin bisa menahan serangan itu, tapi dia yakin akan tekniknya sendiri.


“Aku tidak akan kalah... Mode Rage of Fire: Dragon Fire Roar.”


Maruya membalas serangan Yugi dengan semburan naga yang ditambah mode kemarahannya, diantara kedua serangan berbasis es dan api itu, akan segera berbenturan yang pastinya mengakibatkan debu berterbangan. Namun Yugi tidak berhenti disana, karena dia tahu sendiri serangan itu pasti akan di hentikan.


“Rage of Ice: Ice Sword Incision.” Yugi menebaskan pedangnya dengan sekuat tenaga dan seketika menciptakan sayatan badai es.


Duuuuuuuaaaaarrrrr


Serangan pertama berbenturan kemudian mengakibatkan ledakan dan debu yang menghalangi pandangan, sementara itu Maruya belum menyadari akan datangnya serangan gelombang kedua dari Yugi. Dan saat dia menyadari itu, semua sudah terlambat. Kepulan debu itu tersapu habis saat sebuah sayatan angin ditambah es menerjang kearah Maruya berada.


“Ah...” kaget Maruya. Seketika itu juga dia dikaburkan oleh serangan itu yang secara tiba-tiba menerjangnya dengan kuat.


Duuuuuuaaaaaaarrrrrr

__ADS_1


Maruya terpelanting dengan keras sampai menabrak tembok pembatas arena. Tembok itu pun retak terkena hantaman tubuh Maruya, seperti sebuah jaring laba-laba besar disana, Maruya tertempel di tembok itu dan tidak bergerak. Mode Rage of Fire milik Maruya sudah menghilang, dilihat dari situasi ini sudah dipastikan kalau Maruya terkena dampak yang sangat parah dari serangan kedua milik Yugi.


Sementara dengan si penyerang itu, dia mengibaskan pedangnya sedikit sambil menonaktifkan modenya, karena menggunakan teknik itu cukup menguras banyak Mana.


“Aku harap dia tidak terbunuh dengan jurus itu... ya lagi pula itu tidak akan berpengaruh besar baginya.” Gumam Yugi.


Sedangkan para penonton yang melihatnya merasa terkesima, serangan kuat yang dilancarkan secara beruntun oleh pemuda bersurai putih salju itu membuat efek yang sangat signifikan terhadap kerusakan arena. Tapi itu tidak jadi masalah, karena arena itu dapat diperbaiki dalam sekejap dengan sihir, namun mereka menebak-nebak bagaimana kondisi dari petualang dari kerajaan Vouleftis itu saat mendapat dampak serangan secara langsung.


Seorang penonton pria paruh baya yang terlihat cukup tua tersenyum melihat pertarungan didepannya. Atau lebih tepatnya dia tersenyum kearah pemuda berambut putih salju yang membawa pedang hitam itu. Matanya menyiratkan rasa kagum saat Yugi menunjukkan keahlian pedangnya yang hebat.


“Sepertinya aku tidak salah memberikan pedang itu padanya.” Gumam pria paruh baya itu, dia sebenarnya pria pemilik pandai besi yang dulu memberikan pedang hitam itu pada Yugi. Benar, dia adalah Jigar, paman pemilik toko pandai besi. Orang ini lah yang memperkenalkan pedang hitam itu pada Yugi, sampai akhirnya pedang itu memilih Tuannya. Lalu Jigar pun memberikan itu pada Yugi secara gratis dengan syarat dia harus mengikuti kompetisi kerajaan. “Arashi, itu adalah nama pedangnya. Pedang itu memiliki elemen sendiri yaitu elemen angin. Entah apa yang terjadi saat aku menyaksikan sendiri pembuatan dari pedang itu oleh seorang pemuda misterius waktu itu. Aku melihat sebuah kemampuan yang sangat langka, Crafting Magic, sebuah sihir yang dapat membentuk benda apapun menjadi sesuai keinginan sang pengguna. Entah memang pedang itu sudah memiliki elemen tersendiri atau memang sang pembuatnya yang memasukkan elemen angin itu pada pedangnya, tapi aku tidak pernah mendengar kalau seorang Crafting Magic bisa memasukkan elemen pada senjata. Jadi mungkin saja asumsiku yang pertama merupakan kebenarannya.” Jelas Jigar dengan gumaman kecilnya.


Kembali kedalam arena, ditempat Maruya berada. Dia masih setia menempel pada tembok itu tanpa bergerak sedikit pun, wajahnya menunduk, tubuhnya terlihat lemas. Dampak dari serangan dari Yugi lumayan membekas sangat dalam. Beberapa luka sayatan terlihat di lengan kanan dan kaki, pakaiannya juga ikut terobek sedikit. Pipi kanannya tergores kecil disana, dengan darah yang mengalir sedikit. Serangan itu membuat dirinya kacau dan terlihat kumuh dengan debu yang menempel pada pakaiannya.


“Kenapa kau diam saja Maruya? Kau sudah menyerah?” tanya Yugi dengan nada sedikit meledek untuk memprovokasi nya, baginya memancing emosi Maruya itu sangatlah mudah, karena pemuda itu rata-rata otaknya dibawah adiknya sendiri. Bahkan adiknya lebih pintar di banding kakaknya itu.


“Jangan bercanda...” suara terdengar dari tempat Maruya berada. Tangan kanannya mulai bergerak dan melepaskan diri dari tembok, diikuti tangan kiri kemudian badannya mulai menunduk, secara serentak kedua kakinya dia tekan ke tembok itu kemudian melompat sedikit dan mendarat ke tanah. Dengan tubuh yang oleng sedikit, Maruya berdiri secara perlahan dengan tegap dan menatap kearah Yugi berada. “Serangan yang sangat kuat Yugi... kau memang hebat.”


‘Entah kenapa mendengar kalimat itu aku mendapatkan firasat yang buruk.’ Batin Yugi dengan keringat dingin di pelipisnya, tapi dia memasang wajah tersenyum agar terlihat biasa saja. “Terima kasih atas pujiannya.”


“Karena itulah, aku juga ingin menjawab tekad kuatmu itu. Yugi...” Maruya tersenyum menyeringai, senyumannya itu seperti binatang buas, mungkin lebih tepatnya senyuman naga dengan dua taringnya yang terlihat.


‘Oy oy jangan melihatku dengan tatapan haus darah begitu. Apa kau ini predator, tunggu dia sih memang predator yang menggunakan sihir naga, tapi tidak usah menghayati dirimu sebagai naganya.’ Pikir Yugi dengan rasa merinding di tubuhnya.


“Yugi, apa kau tahu mode terkuat naga?” Tanya Maruya.


Pertanyaan itu membuat Yugi kebingungan, dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Maruya. Tapi adiknya yaitu Maria, mengerti akan ekspresi kakaknya itu. Dia sudah menebak kalau kakaknya akan menggunakan kekuatan itu.


“Mode terkuat naga?” ulang Yugi dengan tanda tanya besar di kepalanya.


“Benar, mungkin lebih tepatnya mode sang pengguna sihir naga. Hanya mereka yang menguasai Dragon Slayer yang bisa menggunakan teknik ini.” Jawab Maruya.


Namun jawabannya itu masih terkesan samar dan belum bisa menjawab tanda tanya dikepala Yugi. Melihat lawannya itu masih kebingungan, Maruya pun kembali berkata.


“Akan lebih mudah menunjukkannya dari pada menjelaskannya bukan...”


Maruya memasang kuda-kuda tengah, kedua tangan diselingkan didepan wajah. Dengan konsentrasi penuh, sebuah hawa panas mengepul dari tubuh Maruya. Kemudian hawa itu melelehkan tanah dibawahnya sampai terbakar mengelilinginya. Bahkan hawa panas itu sendiri bisa Yugi rasakan walau jarak mereka cukup jauh.


“Apa-apaan dengan panas ini, aku bisa merasakannya walau sudah sejauh ini.” Gumam Yugi.


Semua penonton dibuat terbingung akan tindakan Maruya, tapi hal itu dibarengi dengan wajah terkejut saat melihat tanah dibawah kaki Maruya mulai terbakar dan meleleh seperti lava. Tidak lama para penonton mulai berkeringat kepanasan, mereka berpikir mungkin ini akibat matahari terik, tapi yang sebenarnya terjadi adalah karena ulah Maruya yang menjadikan dirinya sebagai matahari kedua.


Raja yang berada di tempat duduk VIP langsung memerintahkan pada bawahannya untuk memberitahu para penyihir pembuat pelindung sihir untuk segera memperkuat pelindungnya. Wajahnya sudah memperlihatkan rasa khawatir kalau saja kekuatan ini akan berdampak sampai keluar dari sihir pelindung. Akhirnya semua penyihir pembuat pelindung sihir dengan cepat mempertebal dinding sihirnya sehingga hawa panas yang ada didalam arena tidak sampai merembes keluar.


“Lihat ini baik-baik Yugi... Dragon Force.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2