KAISAR ES

KAISAR ES
LEVEL


__ADS_3

“Hahahaha menyenangkan...” tawa seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahunan yang tengah bermain dengan seorang anak perempuan yang seumuran dengannya.


Tempat itu merupakan tempat favorit kami bermain... sebuah padang rumput yang dekat dengan sungai.


“Tunggu...” ucap perempuan yang mengejar anak laki-laki didepannya.


Melihatnya berlari kearahku, aku tersenyum padanya... surai hitam yang sama denganku, terurai tertiup angin sejuk di siang kala itu...


“Ayo sini Sara.” Teriak bocah laki-laki itu.


“Aku akan kesana Yugi...” balas Sara.


Yugi melihat sara dengan pandangan malas karena larinya lambat membuatnya bosan menunggu. “Lama sekali Sara...” keluh Yugi.


“Hah hah hah... aku juga sudah berusaha tahu.” Ucap Sara sedikit lelah setelah berlari mengejar Yugi.


“Hiya...” Yugi melompat kedalam air sungai yang tidak terlalu dalam sehingga menyebabkan cipratan yang mengenai Sara.


“Yugi...” marah Sara dengan wajah manisnya.


“Hahaha, kalau berani ayo sini.” Tantang Yugi.


“Awas ya kau...” Sara berlari menuju ke sungai mengejar Yugi. Tentu saja hal itu membuatnya ikut tercebur kedalam sungai. “Kau tidak bisa lari lagi.”


“Ah, kalau Sara marah terlihat menakutkan.” Canda Yugi sambil berusaha kabur dari Sara.


Yang kuingat waktu itu adalah sebuah kenangan yang menyenangkan...


“Hah hah hah...” Yugi berbaring di dekat pohon dengan pakaian yang basah. Wajahnya terlihat kelelahan dengan senyuman senangnya.


“Hah hah...” begitu pula Sara yang terbaring disamping Yugi dengan wajah berseri dan pakaian basahnya.


“Nee Yugi...” panggil Sara dengan suara pelan.


Yugi melirik kearah kanannya dimana Sara terbaring disana sambil menatap kearah awan, terlihat pandangan matanya yang menyiratkan akan kekhawatiran. Hal itu membuat Yugi sedikit bingung.


“Apa kita akan selalu bersama?” tanya Sara sambil melirik kearah Yugi.


“Kenapa bertanya begitu, tentu saja kita akan selalu bersama.” Jawab Yugi dengan mantap.


“Benarkah?” tanya Sara memastikan.


“Ya.” Jawab Yugi sambil duduk.


“Janji?” Sara pun duduk sambil menjulurkan jari kelingkingnya kearah Yugi.


“Janji.” Yugi pun melakukan hal yang sama kemudian mereka saling menautkan jari kelingkingnya dengan senyuman khas anak kecil.


Ya aku berjanji padamu, Sara...


Yugi membuka matanya dari tidur setelah melihat mimpi tentang dirinya sewaktu masih kecil. Begitu terngiang di ingatan kepalanya, seolah mimpi itu membawanya kemasa lalu. Sekarang dia berada didalam penginapan dimana dia beristirahat setelah mendapatkan pengumuman mengenai kompetisi selanjutnya. Yugi memegang kepalanya dengan wajah sedih, rasanya dia merindukan sosok itu. Hatinya terasa sakit saat diperlihatkan mimpi itu tepat disaat dirinya jauh dari sosok itu. Sosok seorang gadis yang mengisi kehidupan masa kecilnya.


“Kenapa mimpi itu muncul sekarang?” Tanya Yugi entah pada siapa.


Cklek


Pintu kamar Yugi dibuka oleh seseorang, dan wajah Yugi merasa lelah saat tahu siapa yang membuka pintunya. Ditambah mata merah darah itu menatapnya terus dengan nafas sedikit berat dan air liur disudut bibirnya. Gigi taringnya terlihat jelas layaknya vampir, tapi pada dasarnya dia memang vampir, atau lebih tepatnya setengah vampir.


“Lagi, sudah kesekian kalinya kau datang ke kamarku hanya untuk menghisap darah, bisakah kau tahan dulu walau sekarang diluar sedang bulan penuh. Asal kau tahu saja aku juga manusia yang bisa mati jika kehabisan darah. Bisakah kau menahannya Vira.” Protes Yugi, sudah kesekian kalinya Vira mendatangi kamar Yugi hanya untuk menghisap darahnya. Entah bagaimana sepertinya Vira semakin tidak terkendali, pasalnya semakin hari darah vampirnya semakin bergejolak. Dan entah bagaimana sering kali Vira menghisap darah Yugi tanpa sepengetahuannya. Seolah auranya menghilang tanpa disadari oleh Yugi. Untuk Yui sendiri tidak memperdulikan hal itu, rasanya ada hal yang membuat sang dewa naga itu kesal pada Yugi. Tapi hal itu tidak disadari oleh Yugi.


“...” Vira berjalan sempoyongan sambil menjilati bibirnya dengan erotis.


“Gluk...” Yugi menelan ludah kasar saat melihat pemandangan yang meningkatkan hasrat lelakinya. ‘Sejak kapan Vira mempelajari hal cabul seperti itu. Ayolah dia hanya anak kecil, sadarlah Yugi.’ Batin Yugi yang menahan hasratnya mati-matian.


Vira memeluk Yugi dan membuatnya terbaring dikasur, tubuh mungilnya merangkak di bagian dada bidangnya. Dengan lemah lembutnya dia menatap Yugi dengan tatapan sayu. Pandangan mereka sempat bertemu sebentar, tapi Yugi langsung mengalihkannya kearah lain.


Ini benar-benar gawat, sangat. Malah terlebih gawat, melihatnya semakin agresif seperti ini membuatku kehilangan akal... dia hanyalah gadis yang masih berumur sepuluh tahun, tapi kenapa aku malah tertarik padanya. Oi oi ini tidak lucu...


Sluuurrrpp


Aahhhh dia menjilat leherku, apa aku akan dihisap... tentu saja akan dihisap jika aku diam saja... pikirkan sesuatu, hentikan dia sekarang...


“Yugi...”


Iihhh aku merinding, dia memanggilku dengan nada menggoda begitu... apa sih yang terjadi pada Vira, kenapa kepribadiannya jadi wanita jalanan seperti ini... ayo pikirkan sesuatu...


Yugi memegang kedua pundak Vira dan mendorongnya menjauhi lehernya yang hendak digigit oleh muridnya itu.


“Aman...” ucap Yugi dengan lega.


Yugi melihat kearah wajah Vira yang memasang wajah cemberut. Jika dilihat lagi wajahnya terlihat sangat imut, bahkan om pedo pun pasti akan takluk padanya.


Kenapa dia memasang wajah seperti itu, apa dia kesal... mungkin karena tidak bisa menghisap darahku. Tapi untungnya dia tidak mengamuk, sudahlah lupakan hal itu, sekarang aku harus menyadarkannya dulu.


Yugi menutup kedua matanya dan membukanya kembali dimana mata itu kini terdapat lingkaran sihir yang memungkinkannya untuk melihat objek secara tembus pandang. Yugi menggunakan sihirnya untuk melihat aliran mana didalam tubuh Vira.

__ADS_1


“Ternyata benar, alirannya kacau saat Vira dikuasai oleh darah vampirnya. Jika aku memperbaikinya mungkin saja itu bisa menyadarkannya.” Yugi menyentuh perut Vira tepat di bagian pusarnya. Dengan sekali hentakan diperutnya, aliran energi sihir didalam tubuh Vira mulai stabil dan hal tersebut membuatnya pingsan ditempat. “Akhirnya tenang juga. Untuk sekarang lebih baik aku membawanya kembali ke kamar.”


Keesokan paginya dikamar Yugi, sinar matahari mengenai wajah tidurnya. Sejenak dia mengerjapkan matanya untuk mengambil kesadaran secara penuh. Dia pun terduduk di tempat tidurnya sambil mengingat kejadian tadi malam.


“Sungguh gawat.” Gumam Yugi.


[“Ya gawat sekali...”] ucap Yui dengan nada kesal. Tidak lama seberkas cahaya biru muda muncul didepan Yugi dan menyilaukan pandangan, secara perlahan sinar itu menghilang dan memperlihatkan Yui dalam mode ngambek.


“Mau bagaimana lagi, itu bukan kesalahanku.” Ucap Yugi yang berusaha membela diri.


“Aku tahu itu.” Ucap Yui sambil membalikkan badannya membelakangi Yugi dengan wajah kesalnya. “Tapi tetap saja kamu semalam hampir tergoda olehnya.”


“Aku tidak tahu kalau pesona vampirnya bisa seperti itu.” Ucap Yugi canggung saat mengingat dirinya yang hampir ingin menyentuh Vira.


“Itu bukanlah pesona biasa.” Balas Yui.


“Eh...” bingung Yugi yang tidak mengerti akan perkataan Yui.


“Semalam tanpa disadari olehmu, Vira menggunakan sihir pesona.” Jelas Yui.


“Sihir? Tapi, bagaimana mungkin Vira bisa melakukannya, dan aku tidak menyadarinya sama sekali.” Ucap Yugi yang kaget akan pernyataan Yui.


“Memang itulah kenyataannya, sepertinya dia menggunakannya tanpa sadar. Sihir itu sendiri merupakan milik ras vampir, sepertinya insting vampirnya tanpa sadar mengaktifkan sihirnya. Tentu saja hal itu tidak bisa kau sadari, karena sihir itu aktif saat mata kalian saling bertemu.” Yui duduk di tempat tidur tepat disamping Yugi.


“Ah...” Yugi mengingat pada saat kejadian dimana untuk sesaat dia menatap mata Vira yang menyala merah waktu itu. “Jadi begitu, pantas saja. Aku sampai belum sempat menghindarinya. Mengerikan sekali...”


“Itulah ras vampir, bahkan mereka bisa saja dengan mudah memanipulasi dan mencuci otak korbannya. Tapi untungnya Vira melakukannya tanpa dia sadari, dengan begitu kemampuannya belumlah sempurna, setidaknya hari ini kau bisa selamat Yugi.” Ucap Yui.


“Ya, mungkin aku harus mempercepat pelatihannya mengenai darah vampirnya itu.” Balas Yugi.


“Tidak usah buru-buru, masih ada jalan lain yang lebih cepat dari pada hanya sekedar mengendalikan aliran mana.” Ucap Yui.


“Apa itu?” Tanya Yugi.


“Menaikkan level...”


Di tengah kota yang ramai kerajaan Eartfil, terlihat pangeran Vouleftis tengah berjalan-jalan di tengah kerumunan orang. Semua orang tidak menyadari kalau itu adalah pangeran karena dia memakai pakaian biasa layaknya rakyat pada umumnya. Dengan pakaian serba kecokelatan khas kerajaan Eartfil ditambah syal menutupi leher dan rambut bagian belakangnya. Sepertinya sang pangeran sedang menikmati masa liburnya dari kompetisi kerajaan.


Aku Rexas Vouleftis, setelah pengumuman kemarin dimana kompetisi kerajaan akan dimulai lagi dua hari dari sekarang, dengan waktu dua hari itu aku gunakan untuk istirahat dan berwisata sebentar di kota ini. Mana mungkin aku akan berkata begitu, namun yang sebenarnya terjadi adalah...


Kejadian kemarin setelah Rexas kembali kedalam penginapan mewahnya. Dia mendapat sebuah surat dari adik tercintanya, walau dia selalu berpikir apa adiknya masih menyayanginya. Pasalnya isi surat itu...


“Kakak jangan lupa dengan oleh-olehnya, kau sudah berjanji jadi jangan sampai melupakannya. Aku akan terus mengirim surat sampai oleh-oleh ku sampai di hadapanku... MENGERTI.”


Di tengah rasa suramnya, Rexas melihat orang yang dia kenal sedang berjalan menuju sebuah gedung. Surai putih salju itu merupakan ciri khas yang bisa Rexas sadari.


“Yugi...” panggil Rexas.


Karena seperti dipanggil oleh seseorang, Yugi membalikkan badannya dan melihat seorang pangeran Vouleftis berjalan cepat kearah dirinya. Dengan tatapan bingung dia menatap Rexas dengan tanda tanya.


“Kau Rexas, pakaian model apa itu?” tanya Yugi dengan keringat dikepalanya seolah melihat Rexas aneh.


“Aku sedang menyamar, kalau tidak aku tidak bisa berjalan bebas di perkotaan yang ramai ini.” Jelas Rexas.


“Owh.” Balas Yugi tidak tertarik.


“G-guru, bukankah dia pangeran.” Ucap gugup Vira dibelakang Yugi.


“Kau tidak usah segugup itu Vira, dia itu pangeran yang baik. Mungkin...” Jawab Yugi dengan nada sedikit ragu.


“Jawabanmu terdengar meragukanku.” Balas Rexas tidak suka. “Hay adik kecil, aku Rexas Vouleftis, jangan takut aku hanya sedang berjalan-jalan dikota ini. Dan jangan memanggilku pangeran, karena akan terjadi keributan nantinya, ya...” ucap Rexas pada Vira dengan senyuman tampannya.


“Y-ya...” balas Vira dengan rona merah dipipinya saat melihat senyuman Rexas.


“Dasar pedo...” ejek Yugi asal ceplos.


Entah kenapa ejekan Yugi membuat Rexas marah dengan perempatan dikepalanya. “Kau mengajak berantem hah.”


“Siapa takut...” balas Yugi dengan senyuman menantang.


Aura merah dan biru menguar di tengah kota, semua orang berhenti dan memandangi kedua pemuda yang mengeluarkan aura menantang satu sama lain.


“Hah...” Rexas menghela nafas sebentar diikuti aura permusuhannya yang sudah menghilang. “Lupakan saja, hari ini aku sibuk tidak bisa meladenimu. Kita lanjutkan saja nanti di arena.” Ucap Rexas.


“Kebetulan sekali, aku juga sedang sibuk sekarang.” Balas Yugi yang ikut menurunkan auranya.


“Kalau begitu sampai jumpa lagi.” Rexas melambaikan tangan sambil berjalan menjauh dari sana.


“Ya...” balas Yugi singkat.


Vira yang melihat pertengkaran singkat tadi merasa bingung, dia berpikir apa gurunya ini teman atau musuhnya pangeran Vouleftis. Tapi saat dia melihat senyuman tulus Yugi hal itu sudah menunjukkan kalau mereka memiliki hubungan yang cukup dekat.


“Ayo kita pergi.” Ajak Yugi yang sudah berjalan lebih dulu.


“Emh...” angguk Vira yang mengikuti Yugi dari belakang.

__ADS_1


Gedung guild para petualang, tempat bagi semua petualang berkumpul untuk mengambil misi dan mendapatkan penghasilan. Didalam banyak beragam manusia yang berebut mencari misi yang bayarannya tinggi. Terkadang terjadi perkelahian kecil akibat saling berebut misi. Melihat itu semua membuat sang petualang bersurai putih salju ini malas meladeninya. Dia hanya main aman dengan mengambil misi yang tidak diinginkan atau memang terlalu sulit bagi mereka.


“Guru, kenapa kita ke guild?” tanya Vira.


“Kita akan mengambil misi.” Jawab Yugi.


“Di tengah latihan kita?” tanya kembali Vira.


“Ya...” jawab singkat Yugi.


Terkadang Vira tidak mengerti akan arah pikiran gurunya tersebut. Tapi setiap kali Yugi melakukan sesuatu pasti ada rencana tersendiri disana. Dan hal itu terkadang melibatkan dirinya.


“Ah ini saja...” Yugi mengambil sebuah selebaran misi yang terpajang dipapan. Disitu tertulis tentang pembasmian monster, entah kenapa Yugi menyeringai senang dan menatap kearah Vira.


“K-kenapa guru menatapku begitu?” tanya Vira dengan nada risih.


“Tidak ada.” Jawab Yugi singkat, tidak membuang waktu dia pun menghampiri resepsionis untuk melegalkan misi yang akan dia lakukan.


“Aku merasakan firasat yang tidak enak.” Gumam Vira sesaat setelah melihat seringaian gurunya itu.


Didalam hutan seorang pemuda dan seorang gadis berjalan menyelusuri dekat dengan sungai. Sang gadis masih merasa agak risih setelah mereka keluar dari guild petualang dan menjalani misi hari ini.


“Guru...” panggil sang gadis pada pemuda bersurai putih salju didepannya.


“Ada apa Vira muridku yang hebat.” Balas orang tersebut dengan pujian dan senyuman senangnya.


‘Ini pasti buruk, aku tahu kalau guru sudah berkata manis seperti itu pasti akan ada sesuatu yang melibatkanku.’ Batin Vira. “Kita akan kemana?” tanya Vira.


“Hanya menjalani misi kecil.” Jawab pemuda surai salju itu yang ternyata Yugi.


“Ya, maksudku misi apa yang akan kita jalani hari ini?” Tanya lagi Vira pada Yugi.


“Hanya membasmi monster kecil.” Jawab Yugi singkat.


‘Dari tadi guru tidak menyebutkan detail misinya. Pasti ada yang disembunyikan dariku...’ batin Vira. “Mengenai misi itu, guru kau tidak merencanakan sesuatu hal yang melibatkanku dalam bahaya kan?” tanya Vira memastikan.


“Tenang saja, ini tidak akan berbahaya kok... mungkin.” Jawab Yugi dengan nada sedikit meragukan di akhir kalimatnya.


‘Ada apa dengan nada ragu itu.’ Batin Vira mulai was-was.


Sudah cukup lama mereka berjalan di hutan tersebut. Mereka pun sampai di sebuah rumah tua yang sudah tidak terpakai. Terlihat sekilas dari luar rumah tersebut begitu angker dan bobrok disana sini. Hal itu membuat Vira sedikit takut saat merasakan hawa dingin dari rumah didepannya.


“Ayo kita masuk.” Ucap Yugi santai.


“Kedalam sana, yang benar saja. Guru beritahu aku apa misinya?” tanya Vira dengan nada sedikit memaksa.


“Hanya membasmi monster kecil yang meresahkan.” Jawab Yugi.


“Sedari tadi hanya itu yang kau katakan.” Balas Vira kesal.


“Akan kujelaskan detailnya nanti didalam.” Tanpa menoleh ke belakang Yugi terus berjalan memasuki rumah rusak tersebut.


Sesampainya didalam terlihat begitu mengerikan, jika dijadikan festival rumah hantu pasti rumah ini akan menjadi juara satu. Banyak sekali perabotan yang rusak dan beberapa sofa yang ditutupi kain putih, jaring laba-laba berserakan diatap dan dinding ruangan. Beberapa lukisan rusak yang berdebu, lantai yang bobrok, atap yang tertimbun banyak daun sehingga dalam rumah begitu gelap tanpa cahaya sedikit pun yang menyinarinya. Yugi melihat ke sekelilingnya dengan wajah tenang, jika saja dia yang dulu pasti sudah lari ketakutan. Tapi entah kenapa dia merasa biasa saja melihat bagian dalam rumah ini, berbanding terbalik dengan Vira yang sedikit ketakutan, Yugi sering berpikir apa seorang vampir takut gelap. Tidak mungkin kan, karena pada dasarnya vampir itu mirip dengan kelelawar dimana mereka beraktivitas dimalam hari dan bisa menghindari benda walau ditempat gelap dengan bantuan suara melengkingnya seperti ultrasonic dan ditangkap melalui telinganya yang tajam. Apa sangat berbeda dengan Vira yang merupakan hanya setengah vampir. Mungkin saja...


“Vira, kau bisa melihat ditempat gelap?” tanya Yugi.


“E-emmh...” Vira mengangguk sedikit atas pertanyaan Yugi. Walau anggukannya terkesan ketakutan.


‘Ya tentu saja dia pasti bisa.’ Batin Yugi yang menurutnya kemampuan milik Vira ini sangatlah berguna. “Apa yang kau lihat di ruangan ini?” tanya Yugi.


“Jika guru berkata begitu...” Vira melihat sekelilingnya yang dipenuhi oleh kelelawar diatap yang tengah bergantung dengan berkelompok. “Aku sedikit khawatir dengan tempat ini, bagaimana kalau kita pergi saja guru...” saran Vira. Walau dia sendiri pasti tahu bahwa gurunya ini tidak akan pernah berhenti di tengah jalan.


“Hmmm... aku merasakan firasat yang kurang mengenakan, tapi sepertinya kita akan menemukan sesuatu.” Balas Yugi yang tidak memperdulikan Vira yang sudah mulai gemetar ketakutan. Karena Yugi yang kurang baik dalam melihat ditempat gelap sehingga dia tidak menyadari raut wajah ketakutan Vira. “Aku akan menyalakan cahaya...” sebuah cahaya kebiruan dari tangan Yugi mulai bersinar membentuk bola cahaya biru keputihan yang menyinari ruangan tersebut.


Karena cahaya itu, para kelelawar yang sedang enaknya bergelantungan mulai menyebar ke semua arah dan mengarah pada Yugi dan Vira dengan suara yang melengking. Dengan reflek karena rasa takutnya, Vira langsung memeluk Yugi dari belakang dengan membenamkan kepalanya ke punggung Yugi agak bawah. Tentu Yugi juga merasakan ada seseorang yang memeluk dirinya, saat dia melihat ke belakang disana terdapat muridnya yang bergetar takut, Yugi tidak menyadari kalau Vira ternyata sedari tadi menahan rasa takutnya pada ruangan ini. Untuk sesaat Yugi merasa bersalah karena melibatkan Vira, tapi ini juga untuk kebaikan muridnya tersebut. Dengan wajah lembut dia berusaha memberikan keberanian pada muridnya itu.


“Vira, tidak ada yang perlu ditakutkan.” Ucap Yugi sembari mengusap kepala perak Vira dengan lembut.


Walau begitu dia hanyalah seorang gadis berusia 10 tahun, untuk dirinya ini mungkin merupakan pengalaman yang tidak mengenakan. Tapi dari rasa takut itu dia bisa belajar untuk melawan rasa takutnya dan membangun keberaniannya.


Vira yang diusap oleh Yugi sudah mulai merasa tenang, pandangan mereka saling bertemu. Mata biru yang hangat itu membuat Vira menjadi tenang walau air mata masih sedikit mengalir dipipinya.


Aku takut... ini sangat gelap... seperti halnya pada saat itu, dihutan seorang sendiri, menyelusuri jalan setapak hanya untuk mencari cahaya. Dan saat aku sadar cahaya itu sendiri yang menghampiriku dan memberikan harapan bagiku untuk tetap hidup... dengan senyuman itu membuat dunia gelapku menjadi terang benderang. Dialah yang telah menuntunku dari tempat gelap... Yugi...


Perasaan kuat dari diri Vira mulai bangkit, walau dirinya masih lah sangat kecil untuk memahami itu semua. Tapi dalam pikirannya sekarang adalah ingin selalu berada disisinya.


Gedubrak


Sebuah suara benda jatuh menarik perhatian kedua orang ini. Yugi membuat sebuah cahaya biru itu menjadi lebih terang untuk melihat benda apa itu yang jatuh. Saat cahaya itu mulai menyinari sesuatu, seekor monster ular berwarna hijau dengan mata merah melingkar di sebuah tiang penyanggah rumah yang terlihat besar. Ular raksasa itu mendesis melihat kearah Yugi dan Vira dengan hawa permusuhan.


‘Ini kesempatan yang bagus... tapi...’ perkataan batin Yugi terhenti saat dia merasakan kembali jubah pengembaranya ditarik kuat oleh Vira pertanda rasa takutnya masih belum hilang sepenuhnya. Tapi pandangan Vira begitu tajam pada sosok ular hijau bermata merah itu. ‘Aku tau dia masih merasa takut...’ batin Yugi. “Vira, sekarang giliranmu... untuk naik level.”


Rasa tegang di rumah tak berpenghuni yang merupakan bekas eksperimen yang belum diketahui itu mulai terasa panas... dengan kemunculan ular hijau bermata merah, apa yang akan dilakukan oleh Yugi...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2