
Pagi cerah seperti biasanya di kota Eartfil, semua melakukan aktivitasnya dengan lancar. Begitu pula Yugi dan Vira yang kini berada disebuah hutan terdalam kerajaan Eartfil. Disana mereka sedang melakukan latihan khusus yang di ajarkan oleh Yugi.
“Fire Ball...”
Duuuuaaarrrrr
Sebuah ledakan terjadi saat seorang gadis kecil berambut perak dengan mata semerah api yang baru saja melancarkan sebuah jurus. Tatapan tajamnya tidak hentinya melihat seorang pemuda yang baru saja dia serang. Pemuda yang diserang itu tertutupi debu tebal akibat serangan gadis tadi.
“Bagaimana guru...?” tanya gadis itu pada gurunya.
Tidak lama kepulan asap tadi mulai menghilang dan memperlihatkan seorang pemuda bersurai putih salju dengan mata biru seindah langit. Senyuman terbentuk di wajahnya tatkala melihat muridnya yang sudah berlatih dengan keras.
“Lumayan, kau sudah berkembang Vira.” Pujinya dengan senyuman bangga pada muridnya.
“A-aku tau itu... terima kasih guru Yugi.” Ucap Vira dengan sifat malu-malu kucingnya.
“Mungkin sudah saatnya untukmu menguasai Mata Iblis itu.”
Pernyataan Yugi membuat Vira sedikit terkejut, karena sejak awal gurunya tidak berniat mengajarinya soal mata iblis sebelum pada waktunya. Mendengar bahwa gurunya mau mengajarinya soal mata iblis dia berpikir apa sekarang sudah waktunya untuk menguasai kemampuan itu.
“Apa maksudmu guru?” tanya Vira.
“Kemampuanmu yang sekarang sudah cukup untuk menguasai mata iblis itu. Aku memang melarangmu untuk menggunakan mata itu, tapi sekarang aku yakin kau bisa menguasainya. Karena kau adalah muridku...” jelas Yugi yang membuat Vira senang mendengarnya.
“Aku tidak akan mengecewakanmu guru...” balas Vira dengan tegas.
“Sekarang mari kita mulai dengan kontrol mana...” ucap Yugi.
“Siap...” balas Vira.
Kerajaan Eartfil, merupakan kerajaan yang terkenal dengan pertahanannya yang sangat sulit untuk di tembus. Rajanya yang merupakan seorang Kaisar Tanah telah memimpin kerajaan ini selama 80 tahun lamanya. Sampai sekarang kerajaan ini masih hidup makmur tanpa ada kendala sedikit pun. Tapi ada satu hal mengenai kerajaan ini, dimana tradisi yang turun temurun terjadi di kerajaan ini. Tradisi mengenai pasangan untuk anak seorang raja yang ditentukan melalui sebuah kompetisi, dimana semua orang bertarung untuk memperebutkan seorang tuan putri dari kerajaan Eartfil ini. Baik itu dari dalam kerajaan, para petualang, dan pangeran dari kerajaan lain berhak mengikutinya. Hal ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun, yang akan menilainya adalah raja itu sendiri dimana dia menentukan bahwa cocok atau tidaknya seseorang itu untuk menikahi tuan putri. Dan sekarang kompetisi itu sudah di buka kembali setelah menunggu sang tuan putri beranjak dewasa. Di kota sudah banyak orang yang melihat sebuah selembaran yang baru saja di pasang oleh para prajurit Eartfil di segala penjuru kota, bahkan ada juga kerajaan yang sudah menerima surat tentang kompetisi itu.
“Hey lihat... kompetisi untuk menikahi putri raja sudah kembali dibuka.” Ucap seorang pria yang melihat poster di dinding.
“Aku harus ikut kompetisi itu dan memenangkannya...” ucap seorang pemuda berbadan besar dengan kapak di punggungnya.
“Pasti akan banyak orang kuat yang berkumpul, aku harus menyaksikan kompetisi ini.” Ucap seorang pedagang.
Sementara di istana Eartfil, seorang raja yang dengan tenangnya berdiri di balkon istana dengan santainya sambil memperhatikan kotanya yang begitu indah, semilir angin menerpa rambut dan jenggotnya yang tidak terlalu tebal berwarna cokelat dan mata cokelat itu terus menatap lurus ke depan dengan pandangan datar. Tidak lama datanglah seorang perempuan bersurai merah terang dengan mata hitamnya, dia memperhatikan sang raja yang membelakanginya. Wajah cantiknya terlihat begitu indah di pandang mata, langkahnya yang anggun sedikit demi sedikit mulai mendekati raja.
“Anda sedang apa suamiku, Tenruo?” Tanya wanita itu yang diperkirakan adalah istrinya.
“Aku hanya sedang memperhatikan kerajaanku ini istriku, Leuna.” Ucap Tenruo yang berbalik menatap istrinya yang tersenyum manis kearahnya.
“Kompetisi untuk mendapatkan calon suami sudah disebar ke seluruh kota dan luar kerajaan. Bahkan sudah ada beberapa dari kerajaan lain yang merespon baik undangan kita.” Ucap Leuna yang bersender ke dada bidang Tenruo.
“Kabar yang bagus, kita hanya perlu menyiapkan segala sesuatunya untuk kompetisi seminggu lagi.” Balas Tenruo.
“Tapi sayangku, sepertinya putri kita tidak akan tinggal diam. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan kita?” tanya Leuna yang khawatir.
__ADS_1
“Tenang saja, dia itu putri kita... kupikir tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.” Jawab Ternuo dengan senyumannya.
“Semoga saja perkataanmu benar.” Balas Leuna.
Gunung tertinggi milik Eartfil sangatlah terkenal akan tingginya yang melebihi gunung yang lain. Bahkan dikatakan kalau gunung ini merupakan gunung tertinggi di seluruh kerajaan. Di puncaknya terdapat seorang perempuan yang menatap tajam kearah depan dengan mata hitamnya. Surai cokelat terang yang begitu indah terurai lembut tertiup angin. Wajah yang begitu cantik rupawan layaknya bidadari yang baru turun dari kayangan. Di sebelah kanan pipinya terdapat tanda sebuah lambang naga cokelat yang begitu unik. Ditangan kanannya terdapat sebuah pedang dengan gagangnya berwarna cokelat ditambah lambang naga dengan sedikit ukiran berbentuk rantai yang mengelilingi lambang naga tersebut. Pakaian ksatria berwarna cokelat begitu cocok di pakainya dengan kristal hijau di dadanya. Dengan pelan dia menyarungkan kembali pedang itu ke sarung pedang coklatnya yang memiliki lambang rantai dimana-mana.
“Aku bisa merasakannya, kehadiran yang sama sepertiku. Kekuatan yang sama, takdir akan mempertemukan kami, karena itu sudah ditentukan.” Gumam gadis itu dengan nada tegas di setiap kalimatnya.
“Hooaaammm...” Yugi menguap lelah yang tengah berbaring di atas ayunan yang diikat di dua pohon. Dia sedang menunggu muridnya yang masih berlatih untuk menguasai mata iblis. “Kelihatannya masih belum ada perubahan.” Gumam Yugi.
Sementara dengan Vira, dia sedang bersemedi dan berfokus pada aliran mananya. Latihan kali ini adalah untuk memunculkan mata iblis yang mengalir dalam tubuhnya. Cara pertama yang di ajarkan oleh Yugi adalah dengan mengalirkan mana kedalam matanya. Dia mengatakan cara itu yang teraman untuk Vira, karena menguasai mata iblis tidak semudah mengontrol aliran mana dalam tubuh.
‘Aku mungkin mengatakannya terlalu cepat, jika cara ini tidak berhasil maka harus menggunakan cara itu. Tapi resikonya terlalu besar, lebih baik aku tidak mengatakannya.’ Batin Yugi.
“Emmmhhh...” Vira begitu keras mengalirkan mananya kedalam matanya, keringat terus bercucuran di setiap pelipisnya, raut wajahnya berubah sangat serius dengan beberapa urat di keningnya.
“Oi oi... bukankah dia terlalu memaksakan diri.” Ucap Yugi yang mulai khawatir melihat betapa kerasnya Vira dalam berlatih.
“Eemmhh... Aaaahhhhh...” Vira mulai berteriak dengan keras dengan aliran mana yang mulai berantakan. Kedua matanya terbuka dengan sinar merah yang keluar dari bola matanya. Mata yang sebelumnya merah api kini berubah menjadi merah darah yang begitu kental. Kekuatan yang tidak terkontrol itu mulai mengamuk dan menghancurkan lingkungan sekitarnya.
“Sudah kuduga ini akan terjadi...” Yugi dengan cepat menempelkan telapak tangan kanannya dan mulai mengeluarkan mana dalam jumlah besar. “Bertahanlah Vira.” Sebuah lingkaran sihir berwarna biru dengan lambang salju terbentuk di bawah Vira. Sihir itu mulai menetralkan kekuatan Vira yang sebelumnya tidak terkontrol. Sedikit demi sedikit kekuatan yang keluar dari tubuh Vira mulai mereda dan dia pun pingsan di tempatnya berlatih. “Untung masih sempat...” gumam Yugi dengan leganya melihat muridnya itu baik-baik saja. Yugi menghampiri tubuh Vira yang sudah tidak berdaya, dengan pelan dia menggendongnya ala bridal style. “Aku tidak tau sampai kapan dia akan terus berkembang sepesat ini. Aku jadi khawatir pada masa depannya...” gumam Yugi sambil membawa Vira ke tempat ayunan yang sebelumnya dia pakai dan membaringkannya disana secara perlahan.
[“Apa kau khawatir?”] tanya Yui dalam pikiran Yugi.
“Begitulah, mau bagaimanapun dia adalah penyihir mata iblis dan setengah vampir. Kekuatan yang besar di dalam tubuhnya pastilah karena kedua darah itu yang sudah tercampur dalam satu tubuh. Jika dia tidak bisa mengendalikannya, maka...”
[“Sudah di pastikan dia akan mati...”]
Setelah itu percakapan Yui dan Yugi terhenti sambil memperhatikan Vira yang tertidur pulas di atas ayunan itu. Bagi Yugi sendiri Vira seperti seorang adik yang harus dia lindungi, mengingat akan masa lalunya yang kelam tanpa kasih sayang seorang ayah, membuat Yugi semakin ingin melindunginya dan memberikannya tempat yang aman untuk hidup.
“Aku akan menjadi tempatnya untuk pulang...” gumam Yugi.
Hari sudah menjelang sore, namun kepadatan penduduk yang masih melakukan aktivitasnya tidak berkurang sedikit pun, Yugi yang berjalan bersama Vira hanya dapat bingung saat melihat banyak orang yang berkumpul di satu titik. Kota Eartfil begitu ramai seperti sedang ada karnaval di tengah kota, Yugi yang merasa penasaran ikut menerobos lautan manusia dengan susah payah. Saat sampai pada sumbernya, dia terkejut melihat sebuah selembaran mengenai kompetisi pertarungan antar penyihir. Tapi yang membuatnya semakin terkejut adalah hadiahnya dimana mereka bisa menikahi tuan putri kerjaan Eartfil. Sudah cukup puas melihat sumber dari kerumunan itu, Yugi dengan segera pergi dari sana dan kembali ke tempat Vira berada.
“Bagaimana?” tanya Vira.
“Ternyata sebuah pengumuman mengenai sebuah kompetisi...” jawab Yugi.
“Kompetisi?” ulang Vira dengan tanda tanya besar dikepalanya.
“Yah, sebuah tradisi turun temurun semenjak raja pertama mendirikan kerajaan ini.” Ucap seorang kakek yang terlihat begitu tua.
Yugi yang mendengar itu merasa bingung soal tradisi yang ada di kerajaan ini. “Apa maksudmu kakek?”
“Dulu sekali setiap pangeran ataupun putri yang sudah beranjak dewasa akan dinikahkan pada orang yang sudah memenangkan kompetisi. Dan kompetisi ini selalu berbeda-beda setiap penerusnya, tapi sepertinya kompetisi kali ini tidak beda jauh dengan beberapa tahun yang lalu sejak Raja Tenruo menikahi seorang wanita melalui kompetisi pertarungan antar penyihir. Jika itu benar maka kompetisi tahun ini akan sangat meriah karena dari setiap kerajaan juga akan ikut berpartisipasi. Mereka pasti menginginkan tuan putri yang dikabarkan kecantikannya tiada tanding. Tidak kalah dengan dua tuan putri dari kerajaan Northern Esla yang dikatakan merupakan bidadari yang di inginkan setiap pria.” Jelas kakek itu sambil memegangi janggut panjangnya.
Entah kenapa mendengar dua tuan putri kerajaan Northern Esla membuat Yugi sedikit rindu dengan mereka. Asalkan dia tidak menerima pukulan keras dari guru Yuko dan juga Elsa. Tapi untuk Elna dia bisa membayangkan betapa rindunya dia saat tidak bisa bertemu dengannya sudah hampir sebulan ini. Memikirkannya saja membuat Yugi ingin kembali kesana, tapi untuk sekarang dia merasa harus mengikuti kompetisi itu.
“Oh ya, katanya tahun ini akan ada sebuah hadiah tambahan berupa benda langka yang sangat diinginkan banyak orang. Tapi tidak ada yang tau benda apa yang dimaksud dalam pengumuman sebelumnya yang dikatakan oleh prajurit Eartfil.” Tambah kakek itu yang langsung melangkah meninggalkan Yugi.
__ADS_1
“Mendengar itu membuatku memiliki alasan kuat untuk mengikuti kompetisinya.” Ucap Yugi.
“Apa kau mengincar tuan putrinya?” tanya Vira yang sudah mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kental.
“B-bukan begitu... bukankah kau juga penasaran dengan hadiah misteriusnya. Jika itu memang benda langka kita harus mendapatkannya.” Jawab Yugi dengan semangat membara.
“Terserah kau saja guru.” Balas Vira dengan nada lelah meladeni gurunya yang selalu penasaran dengan hal baru.
Malam pun menyelimuti kerajaan Eartfil, disebuah penginapan tempat Yugi bermalam, disana terlihat lampu yang masih terang. Ternyata Yugi masih terjaga sedangkan Vira sudah tidur dari tadi. Dia sedang membuat sebuah surat tentang perjalanannya sampai saat ini. Surat itu di tunjukkan untuk tuan putri kerajaan Northern Esla. Dengan senyuman senangnya, Yugi menulis setiap kata kedalam kertas dengan setiap perasaan akan kerinduannya pada seseorang yang telah membuatnya jatuh hati. Dia tidak berpikir bahwa hatinya akan di dapatkan oleh dua orang sekaligus, hal itu juga membuat perasaan bersalah hinggap di hati Yugi, mungkin saja itu adalah hukuman untuknya karna telah mencintai dua orang sekaligus.
“Selesai...” setelah menyelesaikan suratnya, Yugi memasukkannya kedalam amplop dan berdiri kemudian berjalan kearah pintu keluar. Sebelum keluar dia sempat menatap Vira dengan senyuman hangat diwajahnya. “Aku pergi dulu Vira...” setelah itu pintu pun tertutup dengan pelan supaya tidak membangunkan muridnya yang tengah tidur.
Di perjalanan menuju kantor pengiriman surat Yugi melihat beberapa orang yang masih bekerja dan para petualang yang mabuk setelah keluar dari bar. Melihat orang yang mabuk itu mengingatkannya pada dirinya yang dulu pernah meminum bir di kerajaan Northern Esla, walau untuk beberapa alasan dia tidak terlalu mengingat kejadiannya, tapi Yui menceritakan semuanya secara detail saat Yugi mabuk setelah minum bir. Saat itu Yugi berpikir untuk tidak lagi meminum minuman yang bisa membuatnya mabuk. Setibanya dia di kantor pengiriman surat, Yugi menyerahkan suratnya untuk di kirim menuju kerajaan Northern Esla pada seorang wanita yang bertugas untuk menerima kiriman tersebut.
‘Di setiap kerajaan memiliki tempat pengiriman surat yang bertugas untuk mengirim surat dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Mereka memiliki sebuah pedoman dimana surat itu bagaikan nyawa yang harus dilindungi sampai ketangan sang penerima. Aku sedikit salut pada mereka yang loyal akan pekerjaannya. Dan menurutku sendiri mereka bagaikan pahlawan yang menyambungkan pesan dari satu orang ke orang lain. Menjadi seorang pahlawan bukan hanya harus membunuh monster terus mendapat pengakuan, tapi pahlawan adalah mereka yang mengerjakan sesuatu hal yang baik dengan sepenuh hati dan membuat orang-orang merasa bahagia. Saat kau melihat kebahagiaan orang lain entah kenapa kau juga ikut bahagia saat melihatnya. Mungkin seperti itu...’ batin Yugi.
Yugi keluar dari tempat kantor pengiriman surat setelah menyerahkan suratnya untuk di kirim. Sekarang dia sedang berjalan menuju penginapan sebelumnya sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Hei kau tau, kompetisi kali ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya.” Ucap seorang pria paru baya pada seorang pemuda yang berada di hadapannya.
“Aku tau, katanya ada hadiah yang sangat misterius. Dikatakan kalau benda itu sangat langka tapi aku tidak tau apa itu...” ucap sang pemuda.
“Aku mendengar kabar kalau benda itu berhubungan dengan sebuah jurus yang hebat.” Balas pria paruh baya.
“Aku jadi penasaran benda apa yang di maksud...”
“Aku juga...”
Mendengar percakapan itu membuat Yugi semakin ingin tau apa yang dimaksud benda yang berhubungan dengan sebuah jurus itu. Jika itu sebuah pusaka atau semacamnya mungkin saja dia harus mendapatkannya.
“Semakin menarik saja, apakah itu gulungan rahasia atau sebuah senjata pusaka. Aku semakin penasaran...” gumam Yugi.
[“Aku merasakan firasat buruk saat kau mengatakan hal seperti itu.”] ucap Yui.
‘Ayolah... kita kan tidak tau, lagi pula mungkin ini hal yang bagus untuk menguji hasil latihanku.’ Balas Yugi.
[“Baiklah...”]
Di atas pegunungan tertinggi Eartfil, seorang wanita yang sebelumnya berada di atas puncak kini sedang duduk termenung di depan api unggun. Sebuah tenda tidak jauh dari perapian, beberapa prajurit sedang berjaga di pos masing-masing. Pandangan gadis itu tidak lepas dari pedang di kedua tangannya ini. Pedang cokelat tanah yang begitu tajam dan kuat, dari pedang itu terpancar akan kekuatan yang luar biasa. Malam itu terasa dingin walau sudah ada api unggun untuk menghangatkan, di depan wanita itu terdapat seorang pria paruh baya berambut hitam, mata cokelat dengan beberapa helai kumis dan janggut yang tipis. Tatapannya tidak lepas pada perempuan yang ada di hadapannya.
“Kenapa kau terlihat gelisah begitu, apa yang kau pikirkan... Lani?” tanya pria paruh baya itu.
“Guru Tio... aku merasakan ada sesuatu, dia berada sangat dekat. Tapi aku tidak tau siapa...” jawab Lani dengan wajah sedikit khawatir.
“Tenang saja, guru akan selalu melindungimu.” Ucap Tio dengan senyuman hangat di wajahnya.
“Terima kasih guru...” ucap Lani dengan nada lega.
“Sudah sewajarnya seorang guru mencemaskan muridnya.” Balas Tio.
__ADS_1
Perasaan gelisah yang menghampiriku ini apakah berhubungan dengan takdirku. Pedang yang aku genggam memberikanku sebuah kehangatan, rasa cemas sebelumnya mulai menghilang... di bawah langit malam penuh bintang ini aku merasakannya. Jika itu benar... biarlah bulan menyinari jalanku menuju takdir yang menungguku...
Bersambung