
Seleksi pertama dalam kompetisi kerajaan Eartfil telah selesai dengan jumlah peserta yang masih bertahan sekitar 40 orang termasuk aku...
Sekarang ini aku sedang bersama Vira kembali ke penginapan setelah mendapatkan pengumuman mengenai pertandingan selanjutnya yang akan diadakan besok... setelah pertandingan sebelumnya selesai Vira memarahi aku habis-habisan karena khawatir terhadap keadaanku... aku masih bisa mengingat wajah marah Vira yang terkesan imut saat memarahiku barusan...
Setelah pertandingan mengambil sisik naga berwarna hitam di puncak gunung tertinggi kerajaan Eartfil, Yugi langsung saja mendapat sebuah kemarahan di tambah nada khawatir Vira yang terkesan imut.
“Kau sangat bodoh... kenapa begitu lama hanya untuk mengambil sisik naga itu. Kau itu memang payah...” walau Vira mengatakan hal itu dengan nada marah, tetap saja di dalam kata-katanya itu masih terkandung akan nada khawatir.
Yugi juga tau, Vira begitu mengkhawatirkannya sampai di matanya itu dia bisa melihat air mata yang tertampung di kelopak matanya yang menatap dirinya penuh kekhawatiran. Dengan refleks Yugi mengelus pucuk kepala Vira dengan lembut penuh kasih sayang seorang guru pada muridnya.
“Maaf membuatmu khawatir Vira...” ucap Yugi dengan nada lembut.
“S-siapa juga yang khawatir padamu...” ambek Vira sambil memalingkan wajahnya kearah kanan.
Yugi hanya mampu tersenyum lembut mendengar hal itu dari Vira, sementara Maruya dan Maria yang menyaksikannya hanya mampu tersenyum hangat melihat begitu besarnya kasih sayang diantara keduanya. Kebersamaan mereka begitu terasa hangat dan penuh kegembiraan, disaat yang sama tanpa disadari kedua pemuda ini, seorang pemuda bersurai jingga sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, atau lebih tepatnya dia memperhatikan Yugi dengan senyuman menantangnya.
“Kita pasti akan bertemu kembali Yugi...” pemuda surai jingga itu pun berjalan menjauh dan menghilang di kerumunan orang-orang.
Setelah pemuda itu menghilang barulah Yugi menatap kearah tempat menghilangnya pemuda itu. Yugi baru menyadari akan hawa keberadaan ini, dia merasa nostalgia akan orang ini. Sesuatu yang sudah lama dia rasakan kini kembali dirasakannya, rasa keinginan akan bertarung ini tidak mungkin Yugi lupakan.
Beberapa jam berlalu di saat malam tiba, akhirnya Yugi dan Vira berada didalam penginapan setelah makan malam bersama dengan Maruya dan Maria di sebuah kedai untuk merayakan keberhasilan mereka dalam tahap pertama kompetisi kerajaan. Yugi langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi telungkup dimana kepalanya dia tenggelamkan di atas bantal, rasa nyaman dia rasakan setelah pertandingan itu. Kedamaian ini sangatlah Yugi butuhkan untuk mengistirahatkan seluruh otot-ototnya yang kaku, dan perasaan itu kian bertambah saat seseorang menginjak punggung Yugi secara berirama. Menyadari hal itu Yugi melihat ke atasnya dan disana sudah ada Vira yang tersenyum sambil menginjak punggungnya. Yugi merasa nikmat saat merasakan setiap injakan kaki mungil Vira menempel pada punggungnya, hal itu menimbulkan sensasi nyaman yang membuat Yugi merasa damai.
“Dari mana kamu belajar hal ini?” tanya Yugi sambil memejamkan matanya.
Disela kegiatannya, Vira menjawab dengan senyuman berseri diwajahnya. “Maria yang mengatakannya padaku, katanya kalau melakukan ini akan membuatmu terasa nyaman. Apalagi setelah pertandingan yang melelahkan itu. Maria berkata kalau dia sering melakukannya pada kakaknya.” Jawab Vira panjang lebar.
“Begitu ya, kamu sudah dapat teman Vira.”
Perkataan Yugi yang terdengar senang itu membuat Vira sedikit malu. Selama hidupnya dia tidak pernah mendapatkan seorang teman perempuan, itu karena dia tinggal di pedalaman hutan dimana tidak ada seorang pun disana. Yugi juga tau akan perasaan itu, karena dia pernah mengalaminya, tapi sekarang dia memiliki banyak teman. Mereka yang membuat Yugi bisa sejauh ini, bahkan Yui sang dewa naga tersenyum senang saat merasakan kehangatan hati Yugi yang kian menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Seolah-olah kegelapan yang terpendam didalam dirinya menghilang entah kemana. Itu pasti dikarenakan orang-orang yang sangat tulus menyayangi Yugi. Dia pemuda yang beruntung, ditambah Vira yang mulai merasakan sebuah kehangatan didadanya saat bersama Yugi, dia pun menyalurkan rasa kasih sayangnya hanya pada Yugi seorang. Tanpa disadari Yugi, dia sudah menjadi sosok yang spesial bagi mereka yang sudah diselamatkan olehnya. Dan hal itu akan membawa sebuah kebahagiaan untuknya, tapi hal itu juga akan menjadi sebuah kelemahan baginya, atau bahkan ketakutan terbesarnya.
Disebuah penginapan yang begitu mewah, terlihat seorang pemuda surai jingga api tengah menikmati pemandangan di balkon kamarnya. Angin malam menerpa wajah tampannya ditambah sebuah simbol burung api di dahinya yang terlihat saat poni rambutnya tertiup angin. Kedua matanya dia pejamkan sambil menikmati semilir angin itu. Kedua tangannya dia letakan di pinggiran pembatas balkon, perlahan matanya mulai terbuka dengan senyuman menenangkan diwajahnya. Sebuah gumaman dia katakan dengan senyuman nostalgia.
“Akhirnya... kita akan bertemu lagi, Yugi.”
Sekian lama latihan yang aku lakukan hanya untuk momen ini... dimana aku akan bertemu dengannya, di arena itu, aku akan menunjukkan semua hasil jerih payahku... latihan bagai neraka itu, aku akan menunjukkannya padamu. Aku pasti, akan mengalahkanmu... Yugi...
Pintu kamar pemuda surai jingga itu terbuka dan memperlihatkan seorang pelayan berjas hitam rapih sambil menunduk hormat. “Pangeran Rexas, makan malam Anda sudah siap...” ucap sang pelayan sambil melihat Rexas dengan senyuman ramah.
“Baik, aku akan kesana...” Rexas membalikkan badannya sambil tersenyum kearah pelayannya. ‘Yugi, kita pasti akan bertemu...’ batin Rexas sambil berjalan menuju arah pintu keluar. ‘...Saat itu tiba, kekalahanmu sudah dipastikan...’ lanjutnya.
Sementara disebuah penginapan, didalam kamar sederhana terdapat dua tempat tidur, disana terlihat satu pemuda dan satu perempuan yang tengah berbaring ditemani gelapnya malam dimana lampu penerangan sudah mereka matikan. Disebalah kiri pemuda itu terlihat perempuan yang sudah tidur nyenyak ditempat tidurnya, sementara pemuda laki-laki itu masih terjaga sambil menatap atap penginapan. Wajahnya menerawang jauh, dia memikirkan satu orang, pemuda bersurai putih salju itu telah menarik perhatiannya. Entah bagaimana perasaannya selalu menunjuk padanya, seolah gejolak pertarungan selalu tertuju padanya.
“Perasaan ini sama saat aku bertarung dengan ayah, aku tau Yugi memiliki sesuatu didalam tubuhnya. Sesuatu yang hampir sama dengan milikku... aku, ingin bertarung dengannya.” Gumam Maruya, seorang pemuda yang merupakan seorang penyihir yang mengikuti kompetisi kerajaan tahun ini.
Untuk Yugi, dia sekarang tengah tertidur pulas setelah melalui banyak pertarungan sebelumnya. Wajah damainya terlihat begitu tampan dengan poni putihnya yang menutupi sebelah mata kirinya. Kedua tangannya terjulur bebas disamping kanan dan kirinya, selimut putih menyelimuti badannya sampai kaki. Terlihat begitu nyaman dan hangat didalamnya, tapi hal itu tidak berlangsung lama saat sebuah pergerakan terjadi didalam selimut Yugi. Jika dilihat baik-baik ada satu perempuan yang menghilang disebalah kiri Yugi, selimut yang sebelumnya terlihat rata oleh badan Yugi tiba-tiba menjulang tinggi dan memperlihatkan seorang wanita bersurai putih perak dengan mata merah menyala seperti darah. Dia menduduki Yugi dengan nafas yang memburu, taring di mulutnya terlihat dengan air liur yang menetes melalui taringnya. Wajahnya terlihat merah merona seolah terkena demam, dia menatap Yugi dengan pandangan penuh nafsu yang membara. Wanita ini merupakan murid dari Yugi yang dia temui di sebuah padang gurun, dan dia juga merupakan seorang manusia setengah vampir.
Bulan purnama yang bersinar terang menerangi kamar yang dihuni oleh dua orang. Mereka tidur ditempat tidur yang sama, tapi hubungan mereka hanyalah sekedar guru dan murid. Yugi yang menganggap Vira hanya sebagai murid dan adik baginya, sementara Vira menatap Yugi lebih dari sekedar guru... baginya Yugi merupakan orang yang pertama kali yang telah menarik perhatiannya. Bulan malam itu semakin terang, sehingga terlihatlah dua sejoli yang sedang tumpang tindih, wanita yang merupakan setengah vampir menatap penuh nafsu kearah Yugi yang masih tertidur. Karena suatu alasan bahkan Yui sendiri tidak bisa menyadari hal tersebut, walaupun Yui dekat dengan Yugi sampai pikiran merekan pun bisa terhubung, tapi tetap saja sesuatu yang tidak bisa mereka sadari akan terasa terlihat biasa saja. Jadinya kejadian seperti ini bisa saja terlewat dari pengawasan Yui. Angin yang berhembus tidak bisa melewati kaca jendela kamar, tatapan sayu dari Vira semakin menjadi liar tatkala nafasnya yang kian memburu. Sedikit demi sedikit pakaian atas Yugi mulai di singkap olehnya.
Wajahnya tersenyum senang, dia meraba dada bidang Yugi yang terlihat kokoh itu dengan lembut untuk memberinya rangsangan... bahkan jika dilihat lebih baik pakaian Vira sudah tidak ada lagi, dengan kata lain dia tidak berbusana karena pakaiannya sendiri sudah berada disamping Yugi dan berserakan dimana-mana...
Didalam pikiran Yugi, dia merasakan sebuah sensasi yang baru pertama dia rasakan, atau bahkan pernah dia rasakan. Karena sensasi ini pernah terjadi saat dia berada di wilayah kerajaan Northern Esla. Yup, sensasi yang pernah Yugi rasakan adalah saat dimana Elna yang begitu nekat masuk kedalam pemandian air panas laki-laki dimana hanya ada Yugi seorang.
‘A-apa ini... aku merasakan sesuatu, semakin lama semakin panas...’ batin Yugi yang dimana dia masih memejamkan matanya.
“G-guru, aku... menginginkanmu...” suara halus Vira begitu merdu dan menggoda. Suara khas anak kecil yang begitu manis, tapi bagi mereka yang lolicon suara merdu itu sudah cukup meningkatkan hawa birahi mereka.
“E-eemmhhh...” Yugi mengerang sedikit saat sebuah lidah menjilati lehernya. Lidah kecil itu bermain pelan di sekitar leher Yugi, seolah tengah membuat sebuah tanda disana.
“Guru... hap...” Vira menggigit pelan leher Yugi sambil menikmati sensasi lembut dan manis dari sebuah cairan merah yang sedikit menetes saat dia gigit.
__ADS_1
“Ah...” Yugi membuka kedua matanya saat dia merasakan sebuah gigitan kecil yang menyengat tubuhnya. Dia pun berusaha mencari sumbernya, saat Yugi meraba bagian lehernya, disana sudah terdapat kepala seorang gadis dengan rambut perak panjangnya yang terlihat halus dan lembut. Yugi yang mengetahui siapa pemilik rambut ini dengan segera menjauhkan kepalanya dari leher miliknya. “V-vira...” kedua tangan Yugi memegang bahu Vira untuk menghentikannya mendekat kearah dirinya. “A-apa yang kau lakukan?”
Pertanyaan Yugi hanya dibalas desahan pelan dan nafas memburu yang begitu hebat. Wajah memerah Vira begitu menggoda dengan lidahnya yang terjulur ke depan seperti tengah kehausan.
“G-guru... aku menyukaimu.”
Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Vira tanpa rasa ragu sedikit pun. Kesadaran Vira benar-benar sudah dikendalikan oleh hawa nafsunya sendiri. Yugi yang bingung langsung saja menatap kearah jendelanya dimana bulan purnama bersinar terang. Beberapa saat Yugi akhirnya sadar kenapa Vira menjadi seperti ini.
“Ternyata malam ini merupakan malam bulan purnama. Cahaya bulan yang begitu terang itu pastilah telah membuat darah vampir Vira bergejolak... dia menginginkan darah dari manusia. Walaupun setengah vampir tetap saja insting vampirnya pasti cepat atau lambat akan menguasainya.” Jelas Yugi yang melihat keadaan Vira.
“Guru... hiks hiks hiks...” Vira menangis sesenggukan dengan mata sayu seolah memohon pada Yugi untuk menerimanya.
V-vira begitu terlihat cantik... kenapa dadaku bergetar, aku tidak memiliki insting vampir seperti miliknya. Tapi seolah aku ini tidak bisa mengendalikan diriku... aku seperti memiliki insting lain didalam tubuhku...
Vira... aku...
Yugi memeluk Vira dengan lembut untuk meredam keinginan Vira yang begitu kuat. Dan juga untuk meredam instingnya yang tiba-tiba muncul. Baik Vira maupun Yugi memiliki insting yang berkaitan dengan lawan jenisnya. Jika saja Yugi tidak bisa mengendalikan dirinya, saat itu juga dia pasti sudah menerkam Vira tanpa ampun.
“Untuk sekarang, kau bisa meredam nafsumu dengan meminum darah gurumu ini. Ayolah, ini hadiah untukmu muridku...” ucap Yugi lembut sambil membelai surai perak itu.
Vira yang merasakan insting vampirnya semakin kuat dan keinginannya yang ingin menghisap darah, langsung saja leher Yugi dia gigit pelan dan menghisap darah yang keluar secara perlahan. Yugi hanya tersenyum lembut seolah hal itu tidaklah menyakitkan menurutnya.
‘Vira sekarang sudah berusia sepuluh tahun, insting vampirnya akan semakin kuat setelah dia bertambah usia. Aku tidak tau sampai kapan dia bisa menahan dirinya sebagai seorang vampir... Vira...’ batin Yugi sambil menerawang jauh ke depan.
Malam itu merupakan malam yang panjang bagi mereka... dan esok hari pun tiba, tapi kedua orang yang berbeda gender ini... masih belum terbangun dari tidurnya...
“Emnhh...” Vira menatap kearah bawahnya dimana dia menindih seorang laki-laki bersurai putih salju dengan wajah damainya yang disinari mentari pagi. Wajah tidur itu masih terlelap dalam mimpinya seolah tidak terjadi apa-apa. “Guru...” Vira bingung ketika melihat gurunya tidur dibawahnya. Saat itu juga Vira kembali menatap dirinya dimana tubuh mungilnya tidak terbalut sehelai benang pun. “Eh...”
Wajah yang kebingungan itu mulai memerah merona seperti tomat matang dengan ekspresi yang terkesan imut dimana kekagetannya terlihat begitu jelas.
“KYAAAAAAAAAA...”
“Selamat pagi Vira, bagaimana keadaanmu...?” pertanyaan polos Yugi membuat Vira tambah merona dan marah disaat bersamaan.
Tanpa peringatan sebuah bantal yang diselimuti energi dia lempar tepat ke wajah Yugi dan membuatnya terjungkal ke belakang.
BUkh
Gubrak
Suara gaduh dimana Yugi terjungkal dengan kepala menghadap lantai dan kaki terngangkang ke atas. Tapi dengan cepat dia berdiri dan memarahi Vira. “APA YANG KAU LAKUKAN...” teriaknya kesal.
“SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU...” balas Vira tidak mau kalah. “K-kenapa aku bisa telanjang, apa yang terjadi... apakah kita sudah melewati batas...” lanjut Vira dengan nada pelan sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Tenang saja kita tidak melakukan hal seperti yang kau pikirkan. Apa kau tidak ingat kalau semalam kaulah yang menyerangku?” Tanya Yugi memastikan.
Vira hanya terbingung atas pertanyaan Yugi. “Kenapa aku harus menyerang guru?” tanya balik Vira.
“Sudah kuduga, ternyata efek perubahan vampirmu tidak bisa kau sadari.” Yugi mendekat kearah Vira dengan ekspresi serius. Tentu saja hal itu membuat Vira sedikit ketakutan sambil merangkak mundur sedikit. “Vira... kau telah menghisap darahku.”
Perkataan dari Yugi membuat wajah Vira kembali merona hebat. Yugi tidak mengetahui apa pun mengenai tradisi bagi bangsa vampir, sementara Vira yang mengetahuinya langsung saja kebingungan, malu, senang dan kesal yang bercampur aduk didalam hatinya. Jika benar apa yang dikatakan oleh Yugi, hal itu sudah cukup membuat Vira tidak sanggup untuk menatap mata gurunya.
‘T-tidak mungkin... aku melakukannya. Ibu juga pernah bilang pada saat usia ku semakin bertambah insting vampirku pasti akan muncul cepat atau lambat. Dan hal itu akan merespon pada seseorang yang bagiku sangat kusukai. Bagi para bangsa vampir mereka mengungkapkan rasa cintanya dengan menghisap darah orang tersebut. Jadi semalam tanpa sadar aku...’ batin Vira bergejolak dan saling berdebat yang mengakibatkan dirinya dalam dilema.
“Vira... vira...”
Sementara sedari tadi Yugi memanggil muridnya itu tapi sayang tidak ada respon darinya karena telah asyik dengan dunianya sendiri, atau lebih tepatnya sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
‘Bohongkan, jika saja guru Yugi tau tentang ini... masalah ini mungkin saja... aahhhh... aku tidak tau harus bagaimana lagi. Jika begitu aku sudah...’ Vira menatap kearah Yugi sebentar dan langsung menunduk lagi dan menyembunyikan wajahnya yang merona dengan selimut.
__ADS_1
“Ya sudahlah, aku pergi ke kamar mandi dulu...” dengan begitu Yugi pun beranjak meninggalkan Vira yang bergelayut dalam pikirannya.
“Aku, sudah memberikannya pada Yugi... sekarang hubungan kami bukan hanya sekedar murid dan guru. Jadi, aku sekarang ini adalah... pasangan masa depannya. Akhirnya aku telah menemukannya.... ibu...” Vira tersenyum senang menatap mentari pagi yang begitu cerah, disaat itu juga sebuah lembaran baru di buka saat matahari tersenyum kearah mereka.
Semenjak kejadian tadi pagi, suasana hati Vira terlihat begitu baik... sangat baik sampai aku menjadi ketakutan saat melihat senyumannya itu. Apalagi sekarang kami begitu dekat, bahkan lebih dekat dari pada sebelumnya, apa ini efek dari perubahannya tadi malam...
“E... emm... Vira.” Panggil Yugi yang kini mereka sedang berjalan menuju tempat arena pertandingan untuk mengikuti kompetisi selanjutnya.
“Ada apa?” tanya Vira dengan senyumannya menatap sang guru yang kebingungan.
“Apa memang harus sedekat ini?” tanya kembali Yugi, pasalnya mereka berjalan begitu berdekatan dimana Vira menggenggam lengan kanannya dengan erat. Sangat erat seolah tidak mau berpisah walau hanya sedetik saja.
“Ya...” jawab riang Vira yang tidak memperdulikan tatapan semua orang yang mengarah pada mereka.
Sementara Yugi hanya mampu menundukkan kepalanya malu saat mendengar banyak sekali orang yang membicarakannya.
“Hey lihat, mereka begitu dekat.” Ucap seorang wanita dengan tawa khas nya.
“Mungkin mereka hanya kakak beradik.” Balas wanita disebelah nya.
“Kakak beradik tidak mungkin sedekat itu kan.” Ucap wanita yang ketiga.
“Tidak mungkinkan mereka pacaran, umur mereka terpaut terlalu jauh.” Balas wanita yang sebelumnya.
“Laki-laki itu sungguh memalukan.” Balas wanita satu lagi.
Begitulah perkataan orang-orang yang menatap kearah Yugi dan Vira yang layaknya seperti seorang sepasang kekasih yang baru saja dimabuk cinta, atau mungkin itu hanya berlaku untuk Vira yang tidak merasa malu sama sekali.
‘Apa yang terjadi sebenarnya...’ batin Yugi dengan nafas lelah.
Sementara didimensi buatan milik Yui, dia sedang memantau pergerakan Yugi yang menurutnya sangat mengesalkan. Melihat kedekatan Vira dan Yugi yang tidak wajar membuat Yui merasa sangat curiga, dia berpikir pasti telah terjadi sesuatu saat dia tidak menyadarinya. Dan hal itu akan dia tanyakan pada Yugi pada saat waktu yang tepat. Ya mungkin saja ini akan menjadi percakapan yang intens antara tuan dan majikannya nanti.
Sedangkan Yugi merasa sedikit merinding dipunggungnya saat merasakan intimidasi dari Yui yang begitu menusuk dirinya. Tidak lama kakak beradik yang merupakan teman Yugi dan Vira datang menghampiri mereka. Saat mereka ingin menyapa guru dan murid itu, Maruya menghentikan niatnya dan menatap mereka berdua dengan senyuman misterius.
“Woy jangan menatapku seperti itu.” Teriak Yugi yang tau arti dari tatapan Maruya yang membuatnya kesal.
“Wah wah pasangan muda terlihat begitu mesra pagi ini.” Goda Maruya yang membuat wajah Yugi memerah malu dan marah kearahnya.
Sementara Vira langsung bersembunyi dibalik punggung Yugi dengan wajahnya yang memerah malu karena digoda seperti itu oleh Maruya. Maria yang merupakan teman pertama Vira langsung saja menghampirinya dan berbisik pelan.
“Nee... apa kalian berpacaran?” pertanyaan dari Maria sudah mampu membuat kepala Vira mengeluarkan asap yang begitu tebal. Wajahnya yang memerah kian menjadi lebih panas sampai ke telinganya. “Aya... sepertinya aku sudah keterlaluan menggodanya.” Ucap Maria yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Sudah cukup kalian berdua menggoda kami, sebaiknya kita segera bergegas menuju arena kalau tidak mau didiskualifikasi.” Ucap dingin Yugi yang langsung saja melewati kakak beradik itu.
“Wah wah aku kena marah...” Maruya tertawa pelan saat melihat gelagat Yugi yang begitu lucu bagi mereka.
Diriku yang menjadi sekarang karena satu orang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa aku lakukan, hanya untuk membalasnya...
“Pangeran, sudah waktunya...” ucap seorang pelayan yang mengetuk pintu sebuah kamar yang begitu megah disebuah hotel.
Didalam kamar itu terdapat satu laki-laki bersurai jingga dengan wajah tampan dan mata merah membaranya menatap ke sebuah pintu yang diketuk oleh pelayannya. Dengan tenangnya pemuda itu berucap kepada pelayannya itu. “Aku segera kesana...”
Dengan begitu pelayan itu pun pergi meninggalkan sang pangeran sendirian, untuk pemuda tadi, dia kini sedang menatap dirinya dicermin dimana disana terlihat wajah yang begitu senang atau lebih tepatnya menyeringai.
“Aku tidak menyangka pertemuan kita akan secepat ini, Yugi... ini adalah hari dimana penentuan bagi kita. Latihanku selama ini hanya untuk mengalahkanmu, bersiaplah. Karena Rexas Vouleftis yang dulu sudah berubah... sekarang aku sudah berbeda dari yang dulu. Bukan begitu, Pheonex...” perkataan terakhir Rexas ia arahkan pada pedang yang berada di pinggangnya, seolah merespon sang pemilik pedang itu bersinar layaknya api untuk sebentar dan meredup kembali.
Kompetisi tahun ini merupakan kompetisi yang akan mengguncang kerajaan Eartfil untuk pertama kalinya. Karena mereka yang merupakan perubah takdir sudah mulai berkumpul... tanpa disadari hari itu semakin dekat... kompetisi kerajaan, akan sangat meriah dibanding tahun lalu...
Dan itu dikarenakan, pertemuan mereka yang akan membuat semua orang takjub saat melihatnya...
__ADS_1
Bersambung